Perspektif Manajerial Pemerintah Daerah. dcox

Teks penuh

(1)

Perspektif Manajerial Pemerintah Daerah dalam

Wawasan Kebangsaan

Nama

: ROMY DANAN HERMAWAN

NPP

: 23.0953

Kelas

: Madya A-2

Mata Kuliah

: Manajemen Pemerintahan Daerah

Dosen

: DR. Drs. H. Maskana Sumitra, S.H, M.Si

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI

KAMPUS KALIMANTAN BARAT

(2)

Pemantapan Wawasan Kebangsaan dengan Sistem Pemerintahan yang

Efesein dan Efektif

Wawasan sering dimaknai dengan konsepsi dan cara pandang seseorang terhadap apa yang diketahui tentang satu hal. Kaitannya dengan negara, wawasan kebangsaan bermakna cara pandang seseorang sebagai warga negara terhadap identitas diri bangsa yang melekat pada dirinya.

Secara tidak langsung, wawasan kebangsaan menekankan adanya pengetahuan mendalam tentang identitas nasional untuk menjelaskan ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat dengan diri seseorang yang diikat oleh kesamaan fisik (seperti budaya, agama, dan bahasa) atau non-fisik (seperti keinginan, cita-cita dan tujuan).

Adalah prestasi para pendiri bangsa yang mampu menyatukan ribuan perbedaan dalam satu tujuan bernama negara Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari proses sejarah munculnya perjuangan “Boedi Oetomo” pada tahun 1908 dan hasil kongres kepemudaan tanggal 28 Oktober 1928 yaitu “Soempah Pemuda” yang dikenal dengan “Kebangkitan Nasional” klimaksnya adalah hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Kejadian tersebut menggambarkan tentang dalamnya pemahaman wawasan kebangsaaan oleh para pendiri negeri ini.

Pada saat ini tingkat wawasan kebangsaan dapat dinilai dari hasil pencapaian cita-cita bangsa untuk pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia yang melidungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

(3)

responsif terhadap kebutuhan masyarakat dalam suasana demokratis, akuntabel dan transparan.

Efektif dan efisien dalam arti bahwa pelaksanaan roda pemerintahan berjalan taktis, berhasil guna serta mampu menggunakan sumber daya secara maksimal.

Responsif mengharuskan para pemangku amanat yang diberi kepercayaan menjalankan kewajibannya dengan bertungku pada tujuan kesejahteraan rakyatnya dan bersandar pada aspirasi warga yang memercayakan tugas kepadanya. Dalam hal ini, pemerintah secara aktif mempelajari dan menganalisa kebutuhan masyarakat dan kemudian melahirkan kebijakan strategsi untuk kepentingan umum.

Akuntabel berarti dalam pelaksanaannya selalu mengedepankan asas kepercayaan dan mampu memberikan tanggung jawab secara penuh. Pengembangan asas akuntabilitas dalam kerangka good governance tidak lain agar para pejabat dan unsur-unsur yang diberi kewenangan mengelola urusan publik senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk kepentingan pribadi.

Sementara transparan mensyaratkan keterbukaan dalam proses pelaksanaan kebijakan publik. Transparansi dalam prinsip good governance menjadi syarat mutlak dalam rangka menghilangkan budaya korupsi.

Perubahan lingkungan internal dan eksternal yang dihadapi suuatu bangsa senantiasa memiliki aspek positif dan negative, ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan oleh perubahan tersebut. Tanpa pemahaman wawasan kebangsaan yang benar, perubahan lingkungan tersebub akan sulit dikelola dan dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.

Pertubahan merupakan suatu keniscayaan bagi suatu bangsa, namun bagaimana bangsa tersebut menyikapi perubahan, di sanalah perbedaan bangsa yang maju dengan bangsa yang terus tertinggal dan terbelakang.

Rasa kebangsaan atau nasionalisme pada masyarakat Indonesia saat ini menunjukkan indikasi yang semakin pudar.

(4)

dilakukan oleh Media Group dilatarbelakangi oleh keadaan dan situasi yang berkembang dalam masyarakat di sebagian besar wilayah Republik Indonesia yang memberikan reaksi terhadap sikap Malaysia yang mengklaim beberapa karya budaya masyarakat Indonesia sebagai karya budaya Malaysia, seperti batik dan tarian reog.

2. Penelitian oleh Lemhannas tahun 2007 mengungkapkan tentang bagaimana sikap dan perilaku masyarakat di daerah penelitian berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ideologi dalam kehidupan bermasyarakat rendah, dalam kehidupan berpolitik cukup dan tinggi dalam kehidupan bernegara. Selanjutnya diungkapkan bahwa peran agama dalam kehidupan bermasyarakat tinggi, dalam kehidupan berpolitik cukup dan dalam kehidupan bernegara peran rendah.

Hasil penelitian di atas, mengindikasikan bahwa terjadi perbedaan yang signifikan antara peran agama dibandingkan dengan peran ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara, yang seharusnya berjalan paralel, karena ideologi dan agama dalam falsafah Ideologi Pancasila tidak dapat dipisahkan. Agama dalam Ideologi Pancasila adalah merupakan roh (sila I Ketuhanan Yang Maha Esa) untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Hal yang serupa juga ditunjukkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Media Group, juga menunjukkan sesuatu yang tidak sama antara persepsi tentang ancaman dengan perasaan tidak suka terhadap Malaysia. Adanya ketidaksamaan peran agama dan ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara dan antara persepsi sebagai ancaman dengan perasaan tidak suka terhadap Malaysia sebagaimana yang diungkapkan di atas, jelas memberikan indikasi kuat bahwa pada masyarakat kita terjadi apa yang disebutkan sebagai pudarnya rasa nasionalisme sebagai bangsa.

(5)

terkikisnye nasionalisme adalah enggan memakai produksi dalam negeri, baik dalam bentuk makanan, pakaian, dan teknologi.

Indonesia sejatinya adalah bangsa dan negara besar, negara kepulauan terbesar di dunia, jumlah umat muslim terbesar di dunia, bangsa multi etnik dan bahasa namun bersatu, memiliki warisan sejarah yang menakjubkan dan kreatifitas anak negeri seperti batik, aneka makanan dan kerajinan yang eksotik, kekayaan serta keindahan alam yang luar biasa. Predikat sebagai bangsa dan negara yang positip itu seakan sirna karena mendapat predikat baru yang negatip seperti terkorup, bangsa yang soft nation, malas, sarang teroris, bangsa yang hilang keramah tamahannya, banyak kerusuhan, banyak bencana dan lain sebagainya.

Indonesia memiliki modal atau kekuatan yang memadai untuk menjadi bangsa besar dan negara yang kuat. Modal itu antara lain : luas wilayah, jumlah penduduk, kekayaan alam, kekayaan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintahan republik yang demokratis. Akan tetapi modal yang besar itu seakan tidak banyak berarti apabila mentalitas bangsa ini belum terbangun atau belum berubah ke arah yang lebih baik. Mentalitas bangsa Indonesia yang kurang kondusif atau menjadi penghambat kejayaan bangsa Indonesia menjadi bangsa maju antara lain: malas, tidak disiplin, suka melanggar aturan, ngaji pumpung, suka menerabas, dan nepotisme. Selama mental sebuah bangsa tersebut tidak berubah, maka bangsa tersebut juga tidak akan mengalami perubahan dan akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, meskipun bangsa tersebut sesungguhnya memiliki potensi dan modal yang besar

Pada masa Presiden Sokarno, agenda kebangsaan dan wawasan kebangsaan terus berkembang, dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa pada waktu itu, agenda kebangsaan dan wawasan kebangsaan yang menonjol, disamping nilai dasar yang sudah ada adalah persatuan, kedaulatan dan pembentukan karakter bangsa (nation and character building) Bung karno berhasil mengangkat tinggi kehidupan kebangsaan yang terus hidup hingga saat sekarang.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, didorong oleh kebutuhan zaman maka agenda kebangsaan yg mengemuka pada waktu itu adalah pentingnya stabilitas, tatanan, pembangunan ekonomi dan pembangunan system (system building).

(6)

kita bersepakat bahwa agenda kebangsaan yang utama adalah reformasi dan rekonstruksi menuju kebangkitan kembali Indonesia sebagai negara kebangsaan.

Kesalahan berpikir kita adalah memberi makna reformasi itu hanya sebagai perubahan (change), kita lupa bahwa sesungguhnya reformasi itu suatu proses yang dlm perubahan (change) itu juga harus dipertahankan suatu keberlanjutan yang kita sebut dengan kesinambungan (continuity). Rasa kebencian pada masa lalu tidak jarang menumbuhkan pemikiran ekstrim bahwa segala sesuatu dimasa lalu adalah sudah pasti usiang, misalnya periode 1966-1998 memandang segala yang berbau orde lama dianggap perlu ditinggalkan demikian juga pada kurun waktu 1998-sekarang, segala yang berbau orde baru dianggap tidak baik, jarang sekarang kita mendengar istilah-istilah, ketahanan nasional, wawasan kebangsaan, dll, padahal jika kita beranggapan reformasi sebagai suatu perubahan yang berkelanjutan yang perlu kita lakukan sekarang adalah pemantapan pembentukan karakter bangsa (nation and character building)

sebagaimana yg digagas oleh Presiden RI yg pertama dan Pemantapan pembangunan system (system building) sebagaimana yg digagas oleh Presiden RI yg kedua.

(7)

KESIMPULAN

Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dan sikap bangsa Indonesia diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang tujuannya mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala bidang dari rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan orang perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa/daerah. Wawasan NKRI di bentuk dan terlihat dari masyarakat yang adil beradab yang di dasarkan pada pancasila dan UUN 1945.

Wawasan kebangsaan diperlukan menjadi identitas isi pembangunan yang sedang dilaksanakan. Dengan wawasan kebangsaan ini, ciri utama ke-Indonesiaan menjadi garis tebal kebijakan dan arah orientasi pembangunan ke depan demi tercapainya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945.

Sebagai sebuah paradigma pengelolaan lembaga negara, clean and good governance dapat terwujud secara maksimal jika ditopang oleh dua unsur yang saling terkait; negara dan masyarakat madani yang di dalamnya terdapat sektor swasta.

Berpemerintahan yang baik (Good Local Government) dalam mewujudkan paham wawasan kebangsaan yang baik dapat dilakukan dengan cara seperti ini :

(8)

konteks wawasan kebangsaan. Dengan landasan pemikiran yang sama tentang wawasan kebangsaan, seluruh komponen bangsa diharapkan pemerintah ke depan mampu mencapai visinya dengan baik.

Sesuai dengan Permendagri No. 71 tahun 2012 disebutkan bahwa dalam mewujudkan wawasan kebangsaan bagi setiap elemen masyarakat termasuk pemerintah daerah, maka pemerintah daerah wajib menyelenggarakan pendidikan wawasan kebangsaan (PWK). PWK adalah pendidikan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya agar mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah yang dilandasi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam pasal 3 disebutkan bahwa, penyelenggaraan PWK bertujuan untuk : a. mengoptimalkan pengembangan dan pelaksanaan nilai kebangsaan guna

pemberdayaan dan penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. mengoptimalkan pengembangan dan perbaikan kinerja demokrasi daerah yang berdasarkan pada Indeks Demokrasi Indonesia;

c. mengembangkan dan melaksanakan model PWK yang tidak indoktrinatif dan sesuai dengan kearifan lokal;

d. memfasilitasi proses pembentukan simpul PWK;

e. memberikan usulan perubahan kebijakan yang terkait dengan masalah kebangsaan; dan

f. membangun jaringan kerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan PWK tingkat lokal, nasional, dan regional sesuai peraturan perundangan.

(9)

REFERENSI

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : bangsa-bangsa lain