Aspek spiritual dalam proses keperawatan

10 

Teks penuh

(1)

Aspek spiritual dalam proses keperawatan

PERSEPSI PERAWAT TENTANG KONSEP SPIRITUALITAS DAN ASUHAN SPIRITUAL,

SEBUAH RENUNGAN

Oleh Rohman Azzam (PSIK FKK UMJ, rohman.azzam@yaho.co.id)

Indonesia adalah negara yang menganut dan mengakui faham Ketuhanan

.

Sikap ini tercermin

dari rumusan konstitusi dasar negara Pancasila, dalam pernyataan sila pertamanya, Ketuhanan

yang Maha Esa. Telah dipahami bersama bahwa Dasar Negara Pancasila merupakan sumber dari

segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Pernyataan tersebut mengandung arti, semua

peraturan perundangan yang ada di Indonesia harus merujuk dan tidak boleh bertentangan

dengannya. Konsekwensi dari sikap konstitusional itu diantaranya adalah semua penduduk di

Indonesia wajib berketuhanan dan dilarang berkembangnya ateisme. Klien adalah anggota

masyarakat yang merupakan bagian dari penduduk baik dalam skala nasional (klien sebagai

bagian dari penduduk suatu negara) maupun dalam skala global (klien sebagai bagian dari

penduduk dunia).

Klien dalam perspektif keperawatan seperti dikemukakan Henderson (2006) merupakan

individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah kesehatan dan membutuhkan bantuan

untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya. Sebagai

manusia, klien selain sebagai mahluk individu, juga merupakan mahkuk sosial dan mahluk

Tuhan. Berdasarkan hakikat manusia itu, maka keperawatan memandang manusia sebagai

mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek biologis (fisiologis), psikologis, sosiologis, kultural

dan spiritual. Hal ini seperti di nyatakan Xiaohan (2005) bahwa manusia merupakan satu

kesatuan yang utuh yang terdiri atas fisiologis (

physiological

), psikologis (

psychological

), sosial

(social), spiritual (

spiritual

), dan kultural (

cultural

). Hal serupa dikemukakan Dossey & Dossey

(1998), Govier (2000), dan Stoter (1995) dalam Govier (2000) yang menyatakan bahwa manusia

merupakan mahluk unik dan kompleks yang terdiri atas berbagai dimensi. Dimensi yang

komprehensif pada manusia itu meliputi dimensi biologis (fisik), psikologis, sosial, kultural dan

spiritual. Dalam kata lain, Makhija (2002) mendeskripsikan bahwa tiap individu manusia adalah

mahluk yang holistik yang tersusun atas

body, main

dan

spirit.

Beberapa pandangan pakar di

atas, sesungguhnya memiliki esensi yang sama bahwa manusia adalah mahluk unik yang utuh

menyeluruh, yang tidak saja terdiri atas aspek fisik, melainkan juga psikologis, sosial, kultural

dan spiritual.

(2)

Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat

dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan, Makhija (2002)

menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan

personal individu. Lebih lanjut dikatakannya, keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang

sangat kuat (

powerful

) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Mengingat pentingnya peranan

spiritual dalam penyembuhan dan pemulihan kesehatan maka penting bagi perawat untuk

meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual

dengan baik kepada semua klien.

Sementara itu, jika kita lakukan analisis situasi saat ini, termasuk di Indonesia, kenyataannya

menunjukan bahwa asuhan spiritual (

spiritual care

) belum diberikan oleh perawat secara

kompeten. Setidaknya fakta tersebut, didasarkan oleh beberapa data yang didapat penulis dari

hasil penelusuran terhadap berbagai sumber di beberapa negara maupun pengalaman dan

observasi klinis penulis di beberapa institusi atau lembaga pelayanan kesehatan dimana penulis

pernah melaksanakan praktik klinik. Fakta tersebut antara lain seperti yang di kemukakan oleh:

1) Rankin dan DeLashmutt (2006) dalam penelitiannya yang menemukan bahwa banyak perawat

mengakui belum memahami secara jelas dan mengalami kebingungan antara konsep spiritualitas

dan religius, 2) kesimpulan Rieg, Mason dan Preston, (2006) dalam studinya juga

memperlihatkan terdapat banyak perawat yang mengakui bahwa mereka tidak dapat memberikan

asuhan spiritual secara kompeten karena selama masa pendidikannya mereka kurang

mendapatkan panduan tentang bagaimana memberikan asuhan spiritual secara kompeten, 3)

Makhija (2002) melihat bahwa praktik asuhan spiritual menjadi sulit ditemukan akibat terjadinya

pergeseran budaya dalam pelayanan kesehatan dan kedokteran yang lebih berespon terhadap

kepentingan bisnis yang berorientasi material, dan 4) kesimpulan sementara penulis dari hasil

observasi penulis selama melaksanakan praktik di tatanan pelayanan kesehatan yang

menyimpulkan bahwa asuhan spiritual belum dilakukan oleh perawat dalam praktik

profesionalnya sehari-hari dengan dibuktikan oleh sulitnya menemukan dokumen dalam catatan

keperawatan yang memperlihatkan bukti bahwa asuhan spiritual telah dilakukan dengan baik.

Disamping itu merujuk pada hasil riset yang dilakukan di negara lain seperti oleh Oswald (2004)

dalam disertasinya berjudul

Nurses’s Perception of Spirituality and Spiritual Care

di Drake

University Amerika, yang merekomendasikan empat hal untuk dilakukakn penelitian lebih lanjut

meliputi 1) perlunya penelitian lanjutan yang serupa pada populasi dan lokasi (termasuk negara)

berbeda, yang mempunyai latar belakang sosiobudaya berbeda, 2) penelitian dilakukan dalam

kerangka waktu yang lebih panjang, 3) perlunya memperluas data demografi meliputi tiga area

antara lain lokasi dimana perawat melakukan praktik profesionalnya (

location of practice

),

tingkat pendidikan perawat (

educational level of the nurse

), dan lamanya bekerja (

years of

service in the profession

); dan 4) penelitian spiritualitas dan asuhan spiritual dalam kurikulum

pendidikan keperawatan. Hasil studi tersebut kiranya menjadi fenomena penting yang perlu

dilakukan studi lebih lanjut.

(3)

http://liutamimakharela.blogspot.com/p/aspek-spiritual-dalam-proses.html

KEBUTUHAN SPIRITUAL PASIEN

PENDAHULUAN Penting bagi perawat untuk memahami konsep yang mendasari kesehatan spiritual. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang di sebut kecerdesan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup seseorang. Perawat atau ners memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.

Kompetensi standar yang di capai adalah perawat mampu mengidentifikasi aspek spiritual yang terjadi pada pasien. Dengan kompetensi dasar sebagai berikut.

1. Perawat mampu mendifinisikan aspek spiritual pada manusia atau pasien.

2. Perawat mampu mengidentifikasi kebutuhan spiritual pada pasien yang sakit.

3. Perawat mampu memberikan alternatif cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

PENGERTIAN SPIRITUAL

Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :

1) berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, 2) menemukan arti dan tujuan hidup,

3) menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, 4) mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.

Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang.Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama, kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action). Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa

memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai sutau prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang

terorganisasi atau teratur.

(4)

kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang

berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan spiritual. Kata “spiritual” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran dan perasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan bertingkah laku seseorang .

Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan

transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).

Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang menyatu dan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.

KETERKAITAN ANTARA SPIRITUAL, KESEHATAN DAN SAKIT

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu di pahami antara lain

1. menuntun kebiasaan hidup sehari-hari

Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet.

1. sumber dukungan

Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.

1. sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.

(5)

Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan, seperti pandangan penyakit.

Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf .

KARAKTERISTIK SPIRITUAL

Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara lain

1. hubungan dengan diri sendiri

1) Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya).

2) Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri).

1. hubungan dengan alam

1) Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.

2) Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi alam.

1. hubungan dengan orang lain

Harmonis

1) Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik. 2) Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.

3) Menyakini kehidupan dan kematian.

Tidak harmonis

1) Konflik dengan orang lain.

2) Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi.

1. hubungan dengan Ketuhanan

Agamis atau tidak agamis

1) Sembahyang/berdo’a/meditasi. 2) Perlengkapan keagamaaan. 3) Bersatu dengan alam.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu : 1) merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan, 2) mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan, 3) menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta,

4) membina integritas personal dan merasa diri berharga,

(6)

KONSEP-KONSEP YANG TERKAIT DENGAN SPIRITUAL

Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah kesulitan dalam membedakan antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam diri manusia, khususnya membedakan spiritual dari religi. Selain itu perawat juga perlu memahami perbedaan dimensi spiritual dengan dimensi psikologi, dan memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling berhubungan.

1. Religi

Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau persembahan. Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna hidup melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed, 1992). Jadi dapat dikatakan religi merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku serta membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara individu mengekspresikan spiritualnya .

1. Dimensi Psikologi

Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait, sangat sulit membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi sebagai perawat harus mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) membedakan dua dimensi ini dengan mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia seperti : berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilai-nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

1. Kebudayaan

Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh sekelompok orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri dari nilai, kepercayaan, tingkah laku

sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi perilaku, peran, dan praktek keagamaan yang diwariskan turun-temurun. Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh kebudayaan, spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan.

MANIFESTASI SPIRITUAL

Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami spiritual secara nyata. Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha Kuasa, serta bagaimana sekelompok orang berhubungan dengan anggota kelompok tersebut (Koenig & Pritchett, 1998).

(7)

mengekspresikan perasaan kesedihan maupun kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang dalam hidup. Kebutuhan spiritual menyangkut individu dengan orang lain meliputi keinginan memaafkan dan dimaafkan serta mencintai dan dicintai. Menurut Nolan & Crawford (1997) kebutuhan spiritual sekelompok orang meliputi keinginan kelompok tersebut untuk dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya.

Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual, semua klien akan mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka kepada perawat. Karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual, seringkali perawat gagal dalam mengenali ekspresi kebutuhan spiritual klien, sehingga perawat gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Kesejahteraan Spiritual,merupakan suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan hidup, kedamaian, keharmonisan, adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan sehingga menunjukkan adanya suatu kesatuan (Greer & Moberg, 1998). Dalam hierarki kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual termasuk dalam tingkat kebutuhan aktualisasi diri .

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPIRITUAL

Menurut Taylor & Craven (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual seseorang adalah

1. tahap perkembangan seseorang

Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat negara berbeda, ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.

1. keluarga

Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua.

1. latar belakang etnik dan budaya

Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari hubungan keluarga. Akan tetapi perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual unik bagi setiap individu.

(8)

Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritual

seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan seperti pernikahan, kelulusan, atau kenaikan pangkat menimbulkan syukur pada Tuhan. Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan pada manusia untuk menguji imannya.

1. krisis dan perubahan

Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembahyang atau berdoa lebih meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak terminal.

1. terpisah dari ikatan spiritual

Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu terpisah atau kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara sosial, mengikuti kegiatan agama dan tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat diinginkan. Terpisahnya klien dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual.

1. isu moral terkait dengan terapi

Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya walaupun ada juga agama yang menolak intervensi pengobatan. Prosedur medis seringkali dapat dipengaruhi oleh ajaran agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ, sterilisasi,dll. Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan tenaga kesehatan.

CARA PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PERAWAT

Perawat diharapkan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan spiritualnya, sebelum membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan spiritual klien. Dengan hal ini diharapkan perawat dapat lebih memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan spiritual perawat antara lain sebagai berikut.

1. Beribadah dalam suatu komunitas.

Berpartisipasi dalam suatu komunitas rohani dapat meningkatkan spiritualitas. Banyak orang merasa asing dengan orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan sama. Tetapi dengan bergabung dalam suatu komunitas rohani dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat meningkatkan rasa spiritual.

1. Berdoa.

(9)

1. Meditasi.

Beberapa orang manggunakan yoga atau meditasi untuk kembali menenangkan diri dan memfokuskan pikiran kembali untuk menemukan makna dari suatu hal.

1. Pembenaran yang positif.

Pembenaran yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi stress. Salah satu cara untuk mendapat pembenaran positif adalah dengan berdiam diri, sambil merenungkan kitab suci atau nyanyian.

1. Menulis pengalaman spiritual.

Perawat dapat menulis perasaan yang sedang dirasakan, pengalaman spiritual yang dialami, atau semua inspirasi dan pikiran-pikiran yang timbul. Cara ini sangat bermanfaat bagi perawat untuk dapat keluar dari situasi stress.

1. Mencari dukungan spiritual.

Dukungan spiritual dapat datang dari mana saja. Perawat dapat mencari dukungan spiritual dari komunitas rohaninya. Selain itu dukungan spiritual juga dapat diperoleh dari teman, mentor, ataupun konselor.

Menurut Agus (2002) inti dari pemenuhan kebutuhan spiritual untuk mencapai kecerdasan spiritual

(Spiritual Quotient) adalah proses transendensi dan realisasi. Dalam proses transendensi (menyendiri),

pencerahan-pencerahan spiritual terjadi. Seseorang dapat menjalankan hubungan yang paling intim dengan hakikat diri terdalamnya atau dengan Tuhannya. Dengan memusatkan diri untuk sementara waktu dari keributan dunia, seseorang dapat mencurahkan segenap kemampuannya untuk memahami makna dari apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya kejadian itu dapat diperbaiki .

Hal serupa juga dikemukakan oleh Danah Zohar & Ian Marshall (2002). Secara umum kita dapat meningkatkan kecerdasan spiritual dengan meningkatkan proses tersier psikologi kita, yaitu kecenderungan untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu. Kita menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.

LATIHAN

1. Anda merawat pasien beragama kristen, kemudian anda melihat pasien yang sudah sakit lama sedang berdoa, sambil menangis, apa yang harus Anda lakukan sebagai perawat yang beragama islam?

2. Anda mendengar ibu pasien berkata “Kenapa anak saya sakit ya Allah, apa dosa saya”?, jelaskan bagaimana Anda memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

(10)

TEST FORMATIF

1. Jelaskan tentang kebutuhan spiritual pada pasien?

2. Cara-cara perawat memenuhi kebutuhan spiritual pada pasein bagaimana?

3. Mengapa perawat harus memperhatikan aspek spiritual?

4. Bagaimana anda mengetahui bahwa pasien mempunyai masalah spiritual?

5. Prinsip apa yang harus anda pahami dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien?

RANGKUMAN

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami ,menuntun kebiasaan hidup sehari-hari gaya hidup atau perilaku tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien seperti tentang permintaan menu diet.

Sumber dukungan, spiritual sering menjadi sumber dukungan bagi seseorang untuk menghadapi situasi stress. Dukungan ini sering menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima keadaan hidup yang harus dihadapi termasuk penyakit yang dirasakan.

Sumber kekuatan dan penyembuhan,individu bisa memahami distres fisik yang berat karena mempunyai keyakinan yang kuat. Pemenuhan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dan pembangkit semangat pasien yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan.

Sumber konflik pada situasi tertentu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan seperti tentang pandangan penyakit ataupun tindakan terapi. Pada situasi ini, perawat diharapkan mampu memberikan alternatif terapi yang dapat diterima sesuai keyakinan pasien.

http://bayu-inside.blogspot.com/2011/10/kebutuhan-spiritual-pasien.html

http://eprints.undip.ac.id/10288/1/INANIYAH.pdf

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...