• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asal Mula Teori dan Perilaku Arsitektur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asal Mula Teori dan Perilaku Arsitektur"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

ASAL MULA, TEORI DAN PERILAKU

Kebanyakan orang, bila ditanya, barangkali akan berkata bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Memang, bangunan-bangunan yang pertama adalah tempat tinggal, dan orang memrlukan tempat bernaung agar dapat bertahan hidup. Namun tempat bernaung bukanlah merupakan satu-satunya fungsi atau bahkan bukan fungsi pokok dari perumahan. Di daerah-daerah beriklim dingin – yang menyebabkan kebutuhan yang sangat akan tempat bernaung dan berlindung – banyak ragam ditemukan, mulai dari tempat bernaung yang paling sederhana di Tierra de Fuego melalui tingkat-tingkat perlindungan yang agak rendah di antara beberapa tempat tinggal orang Indian Amerika di Wincon dan Minnesota sampai kepada tempat bernaung orang Eskimo yang telah sangat maju.

Lingkungan buatan (built environment) mempunyai bermacam-macam kegunaan : melindungi manusia dan kegiatan-kegiatannya serta harata miliknya dari elemen-elemen, dari musuh-musuh berupa manusia dan hewan, dan dari kekuatan-kekuatan adi kodrati, membuat tempat, menciptakan suatu kawasan aman yang berpenduduk dalam suatu dunia fana dan cukup berbahaya; menekankan identitas sosial menunjukanstatus; dan sebagainya. Dengan demikian asal mula arsitektur dapat dipahami dengan sebaik-baiknya bila orang memilih pandangan yang lebih luas dan meninjau faktor-faktor sosio-budaya, dalam arti seluas-luasnya, lebih penting dari iklim, teknologi, bahan-bahan, dan ekonomi.

Dalam keadaan apapun, interaksi diantara faktor-faktor inilah yang peling tepat untuk menjelaskan bentuk bangunan. Satu penjelasan saja tidak memadai, karena bangunan- bahkan rumah yang tampaknya sederhana- adalah lebih dari sekedar objek kebendaan atau struktur. Mereka adalah lembaga gejala budaya dasar.

PEMBEDAAN RUANG

(2)

kebiasaan-kebiasaan ini adalah karena kita jarang mengenal hewan liar, sedangkan hewan piaraan telah banyak kehilangan sifat-sifatnya untuk bersarang, menandai tempat, mengamati ritual, mengatur waktu–bahkan membangun. Hewan juga menata lingkungan dengan membuat abstraksi dan menciptakan bagian-bagian.

Bila demikian halnya, dapatlah kita harapkan bahwa manusia, lebih daripada hewan, seharusnya mengadakan pembedaan antara ruang-ruang dan tempat-tempat sejak zaman purbakala. Hominid dan menusia memerlukan tempat untuk saling bertemu, untuk membagi-bagikan makanan dan untuk digunakan sebagai daerah kekuasaan pribadi. Jadi hubungan ruangdan sosial tidaklah acak tetai teratur. Perbedaan yang yang pertama kali diketahui, kemudian manusia melukiskannya melalui bahasa dan menyatakan nya melalui bangunan. Dalam pengertian ini, bahasa dan arsitektur bertalian , kedua mengekspresikan proses kognitif untuk membedakan tempat.

Menandai tempat menjadi lebih penting ketika hominid-hominid pertama meninggalkan pohon-pohon mereka dan mulai pindah melintasi padang rumput terbuka, dan pada waktu berikutnya ketika kebutuhan-kebutuhan kognitif dan simbolik serta kemampuan mereka bertambah. Sementara peranan alat dan bahasa dalam proses ini telah dipelajari, peranan bangunan sebagai cara mengkiaskan bagan dan tempat kognitif dalam bentuk fisik nyaris tidak mendapatkan perhatian sama sekali.

(3)

Penduduk pribumi Australia juga menggunakan sarana-sarana lain; umpamanya disekeliling hunian wanita seringkali menyapu tanah dalam suatu lingkaran nergaris tengah 30 kaki. Perubahan cirri tanah ini menandai suatu batas penting diantara berbagai tempat berbeda, yang dalam hal ini adalah antara perkampungan umum dan ruang pribadi keluarga. Dalam perpindahan dari gurun pasir “bagian luar” (dan berbagai bagian dari gurun pasir “ yang dimiliki” oleh kelompok-kelompok tertentu), ke tempat “ agak di dalam” perkampungan dan kemudian ke ruangan “di dalam” unit keluarga, tidak terdapat diding atau penghalang. Walaupun demikian transisi-transisi ini penting, dan penghalang yang tak kelihatan itu tak mudah untuk dilalui. Ada berbagai aturan lewat yang berlaku.

Janganlah kita berfikir bahwa sarana-sarana demikian hanya digunakan oleh orang pribumi. Di Amerika Latin (Kolumbia), di hunian-hunian pemukiman liar, terdapat ketentuan-ketentuan yang jelas mengenai siapa yang boleh masuk dan sampai kemana. Batas-batas ini tidak selalu dinyatakan oleh tembok-tembok kokoh, ada kalanya hanya oleh tirai manic-manik atau perubahan-perubahan di tingkat lantai. Di rumah-rumah pertanian yanglebih tua di Norwegia dan Swedia orang sering menjumpai balok tertentu di langit-langit, yang menandakan bataas pengunjung harus berhenti dan dipersilahkan masuk. Sampai bats itu, walaupun sesungguhnya berada dalam ruangan, pengunjung dianggap berada di luar. “Menanti untuk dipersilahkan” seperti mirip sekali dengan apa yang terjadi pada suatu perkampungan orang pribumi, atau suatu perkemahan orang badui, atau bahkan di antara kera babon.

(4)

transisi sosial, dan seringkali hal ini memiliki padanan ruang. Arsitektur memperjelas transisi ruang, yang tentunya mempunyai arti sosial dan konseptual. Jadi tembok, gerbang, pintu, ambang, dan sebagainya sering menandai peralihan antara di dalam/ di luar, suci duniawi, pria/ wanita, umum/pribadi, dan jenis-jenis domain lainnya. Demikian pentingnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah fakta mengenai pembedaan itu.

(5)
(6)

Sejak kapankah dalam sejarah umat manusia dapat ditemukan bukti adanya bangunan? Sedini mana dapat ditemukan bukti-bukti adanya pembedaan?

Jelas bahwa sistem seperti yang digunakan oleh orang pribumi Australia hanya akan meninggalkan sedikit jejak, walaupun para arkeolog dapat menentukan tempat-tempat permukiman yang digunakan sepnajang kurun waktu yang sangat lama dan ada kalanya bahkan lokasi masing-masing gubuk. Dengan menggunakan suatu kebudayaan yang sangat berbeda sebagai contoh, orang Eskimo juga mengadakan pembedaan tempat tanpa bangunan dan dengan cara –cara yang tidak meninggalkan bekas. Sistempembedaanya didasarkan atas suatu kepercayaan akan berbagai bentukroh jahat dan hantu, yang membedakan tanah ke dalam daerah-daerah dengan berbagai ketentuan penggunaan, penyingkiran, perjalanan, permukiman, dan sebagainya. Secara lebih umum, dapat ditunjukan bahwa alam pikiran manusia mempunyai kebutuhan untuk mengadakan pembedaan – menggolongkan, member nama, dan membedakan – diantara tempat-tempat; taksonomi dan domain merupakan dasar bagi pengingatan dan untuk menjadikan dunia bermakna.

(7)

pliosen Atas memiliki bebrapa tempat bernaung. Unsur-unsur batu berbentuk setengah lingkaran yang mungkin menjadi penahan angina tau pondasi untuk gubuk selebar 2 meter terdapat di Olduval Gorge, Tanzania, dan berrasal dari kira-kira 1,8 juta tahun yang lalu. Tampaknya tempat ini telah dibuat dengan baik ketika itu; hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa ‘home base behavior’ merupakan cirri pokok dari perilaku manusia yang berbeda denganperilaku hewan tegak lainnya. Fungsi bukan-tempat bernaung dari konstruksi demikian- yang menandai rumah (keluarga) – barangkali setidak-tidaknya sama pentingnya (kalau tidak lebih penting) dengan peranannya sebagai tempat bernaung.

(8)

kehidupan ritual yang cukup maju. Rumah-rumah dibangun dengan memasukan batang-batang panjang bergaris tengah 3 inci ke dalam tanah secara beraturan, membengkokannya ke bagian dalam dan mengikatkannya pada sederet tiang tengah ( tidak diketaui apakah disini digunakan balok bubungan). Batu-batu diletakan sepanjang dasar tembok. Di sebelah dalam, bagian tengah, terdapat sebuah tunggku pendiangan- dapat berupa sebuah parit dangkal atau suatu bidang tumpukan batu.

Di “Zaman Baru”, tanggal tempat tinggal, dusun, dan hasil-hasil kognitif lainnya juga bergeser mundur. Penggalian-penggalian baru-baru ini yang dilakukan Stuart Struever di loksi Koster di Illinois, 50 mil di sebelah utara St. Lois, telah mengungkapkan sebuah dusun yang berasal dari 7000 tahun sebelum masehi, dengan rumah-rumah, alat-alat, dan kuburan-kuburan untuk manusia dan anjing. Anking dikubur dikelilingi api unggun untuk upacara. Adalah penting bahwa sejak gletser menyusut dari kawasan ini kira-kira 8000 tahun sebelum masehi, rumah-rumah dan desa-desa berkembang sangat cepat. Karena masih terdapat beberapa lapisan yang tidak tergali di bawah lapisan yang diuraikan di atas, asal-usulnya disini adalah lebih dini lagi.

Sebagai contoh terakhir, perhatikanlah inggris. Sampai akhir-akhir ini, citra dininya ialah suatu kebudayaan barbar yang agak bersahaja, tapi sudah selama zaman Neolitikum, kira-kira 4000 tahun sebelum masehi, terdapat perkampungan-perkampungan berpemantang yang sangat kompleks bergaris tengah 1000 kaki. Makam sampai sepanjang 490 kaki ( yang disebut ‘ gundukan panjang’) juga terdapat, kadang –kadang berhubungan dengan “ jalan raya” dengan pinngiran jalan yang terpisah sejauh 300 kaki. Di Stonehenge, jalan raya seperti itu memiliki panjang 1 ¾ mil; yang lain, di Dorset, sampai sepanjang 6 mil. Diperlukan penggalian 1 ½ juta kaki kubik kapurdari dua parit yang sejajar guna membuat kedua tepinya terpisah sejauh 300 kaki, yang meliputi jalan raya seluas 200 acre yang mungkin digunakan untuk iring-iringan jenazah. Pada kira-kira 2500 tahun sebelum Masehi ditemukan serangkaian bangunan kayu yang hebat bergaris tengah sampai 130 kaki di dalam tutupan tanah, yang ditunjang oleh barisan pilar konsentris dan mungkin memiliki atap berbentuk kerucut dan suatu pelataran di tengahnya. Bangunan terbesar memerlukan sampai 260 ton kayu, dan hutan seluas 9 acre harus ditebang untuk satu bangunan.

(9)

membentuk sebuah parit. Akhirnya berbagai megalit, lingkaran, “kipas”, dan engsel batu dan kayu dibuat di seluruh inggris ( dan Brittany), semuanya dengan seksama dirancang dengan menggunakan “megalithic yard” yang dibakukan dan menggunakan bahan yang dibawa dari jauh. Struktur-struktur ini tampaknya dipakai untuk pengamatan matahari dan bulan dalam satu ilmu

pengetahuan yang agak rumit. Bangunan-bangunan ini dikaitkan dengan lansekap dan – dalam hal kuburan, lubang, dan sebagainya- dikaitkan dengan lalulintas utama. Jadi mereka dapat digunakan sebagai pedoman dalam bentang alam. Bersamaan dengan itu didapati dusun-dusun seperti Skara Brae di daerah Orkneys, dengan sebuah jalan raya yang menghubungkan sederetan rumah batu berbentuk lingkaran dan berisi perabot –perabot batu yang jelas jauh lebih “primitive” dari pada monument-monumen yang baru saja di uraikan. Jadi, mereka yang membangun struktur kompleks dan sangat luas ini pada umumnya hidup dalam gubuk-gubuk atau tenda-tenda yang kecil.

(10)

pekerjaan-pekerjaanpengolahan tapak yang sangat kompleks dan besar biayanya, walaupun perubahan-perubahan kecil dalam rencana kiranya dapat menghindarkan terjadinya hal seperti itu. Hasilnya adalah suatu pembangunan dengan dimensi yang sangat berbeda-bbeda dan dalam cara-cara yang sangat rumit.

Apakah Arsitektur itu?

Manusia sudah sejak lama merencanakan dan membuat bangunan. Tapi apakah itu arsitektur? Sampai beberapa waktu yang lalu, adalah biasa untuk membedakan antara arsitektur dan “bangunan biasa”, akan tetapi hal ini menjadi makin sulit. Sudah pasti bahwa asal mula arsitektur lebih dini dari arsitek pertama, yang biasanya dianggap sebagai si perancang piramida berbentuk tangga di Mesir. Bahkan sekiranya orang memasukan pembangunan rumah kepala-kepala duku dan bangunan-banguna ritual, sebagian besar dari apa yang dibangun tidak dirancang oleh kalangan professional tapi lebih merupakan dorongan ekspresi arsitektural yang sama yang mendorong rancangan gaya modern ( yang dilakukan oleh para perancang). Jadi dalam mempersoalkan asal mula arsitektur atau pemahaman tentang apakah arsitektur itu, kita harus memperhatikan tradisi rakyat atau trdisi yang disenangi yang disenangi masyarakat–bangunan-bangunan yang disebut “primitive” atau “asli” yang selalu merupakan bagian terbesar dari lingkungan buatan dan yang hakiki bagi setiap generalisasi yang abash, dan yang pasti penting untuk suatu pembahasan tentang asal mula.

Semua lingkungan tersebut, maupun semua artifak manusia, dirancang dalam arti bahwa meraka melibatkan keputusan dan pilihan serta cara tertentu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang yang membuka hutan, mendirikan perhentian di tepi jalan, atau membuka suatu perkampungan adalah seorang perancang seperti juga seorang arsitek – kegiatan-kegiatan seperti itu mengubah wajah bumi dan menciptakan lingkungan buatan.

(11)

manusia berinteraksi serta menyusun ruang dan waktu. Pilihan-pilihan yang tetap inimenghasilkan gaya –baik pada lingkungan buatan ataupun pada kehidupan.

Dalam membuat pilihan ini diperlukan nilai-nilai, norma-norma, criteria, dan anggapan-anggapan tertentu. Semuanya ini sering terwujud dalam bagan yang ideal. Lingkungan, sedikit banyak, mencerminkan dan mengkiaskan schemata-skemata serta tatanan yang mereka cirikan. Tatanan yang diekspresikan melalui proses pemilihan, citra yang terkandung, dan bentuk yang diberikan merupakansuatu pendangan dari lingkungan ideal yang dikemukakan oleh lingkungan buatan betapapun tidak sempurnanya. Leingkungan-lingkungan demikian diartikan sebagai rona bagi jenis manusia yang menganggap suatu kebudayaan tertentu sebagai normatif, dan bagi jenis gaya hidup yang dianggap penting dank has dari kelompok tersebut dan yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Sesungguhnya apa yang kita sebut kebudayaan dapat dilihat dalam tiga cara utama (dua yang pertama dari padanya tercakup dalam pembahasan diatas); sebagaisuatu cara hidup yang mencirikan suatu kelompok; sebagai suatu sistem lambing, arti, dan schemata kognitif, dan sebagai suatu perangkat strategi penyesuaian diri guna kelangsungan hidup, dalam kaitannya dengan ekologi dan sumber daya.

Dengan demikian, kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki seperangkat nilai dan keyakinan dan suatu pandangan terhadap dunia yang mewujudkan suatu cita-cita. Ketentuan ini juga menimbulkan pilihan-pilihan yang sistematik dan mantap. Denganpernyataan kita kita terdahulu bahwa arsitektur terutama sekali merupakan hasil dari faktor-faktor sosiobudaya, dan dengan definisi kita tentang perancangan yang mencakup pengubahan-pengubahan yang paling berguna terhadap lingkungan fisik, arsitektur dapat dianggap sebagai suatu konstruksi yang dengan sengaja mengubah lingkungan fisik menurut suatu bagan pengaturan. Perbedaan antara bangunan dan pemukiman adalah perbedaan dalam skala. Seperti pernah dikatakan Also Van Eyck : ‘ sebuah bangunan adalah suatu kota kecil, sebuah kota adalah suatu bangunan yang besar.”

(12)

Dapat kita katakana, bahwa penataan dipikirkan sebelum dibangun. Pemukiman, bangunan, dan pemandangan adalah bagian dari kegiatan ini, yang seperti telah kita lihat, telah berlangsung lama. Ketika manusia Neanderthal mengubur mayat dengan bunga-bunga, mereka berusaha mengadakan suatu tatanan untuk mempertemukan kehidupan dan kematian. Lukisan-lukisan gua di Eropa menandakan sistem tatanan yang rumit dan menetapkan gua-gua sebagai ruang suci, berbeda dari ruang-ruang lain seperti gua-gua-gua-gua hunian yang tidak dilukis. Sistem pencatatan simbolis, dalam hal ini tentang pengamatan bulan, ditemukan sangat dini dan jelas merupakan usaha untuk menentukan suatu tatanan tentang waktu dan gejala alam.

Manusia memikirkan lingkungan sebelum mereka membangunnya. Alam pikiran menata ruang, waktu, kegiatan, status, peranan, dan perilaku. Tapi adalah berharga untuk memberikan penampilan fisik pada gagasan. Mengkiaskan menjadikannya bantuan ingatan yang bermanfaat; gagasan membantu perilaku dengan mengingatkan manusia tentang bagaimana bertindak, bagaimana berperilaku, dan apa yang diharapkan dari mereka. Penting untuk ditekankan bahwa semua lingkungan buatan –bangunan, pemukiman, dan lansekap-merupakan satu cara untuk menata dunia dengan memuat sistem tatanan yang dapat dilihat. Karena itu, langkah yang amat penting adalah penataan atau pengaturan lingkungan.

PENATAAN LINGKUNGAN

Diatas telah kita lihat bahwa hewan menyusun ruang; mereka juga mengatur waktu. Kucing umpamanya, yang tergolong tidak mempunyai daerah kekuasaan menghindar satu sam lain dengan menjadwalkan gerakan –gerakannya. Tujuan penyusunan ruang dan waktu adalah untuk mengatur dan menyusun komunikasi (interaksi, penghindaran, doinasi, dan sebagainya). Melalui perilaku yang suci dan berbagai cara menandai wilayah kekuasaan, makna diberikan pada tempat dan perilaku. Makna dengan demikian juga ditata.

(13)

Lingkungan bukanlah sutau kumpulan benda acak. Hubungan terutama (tapi tidak hanya) adalah mengenai ruang; obyek dan manusia dihubungkan melalui berbagai tingkat pemisahan dalam dan oleh ruang.

Pengaturan seperti ini juga dapat dilihat sebagai penampilan fisik dari wilayah-wilayah. Sesungguhnya perencanaan dan perancangan pada semua skala, mulai dari daerah yang sangat luas sampai pengaturan parabot rumah dapat dianggap sebagai pengaturan ruang untuk berbagai kegunaan, menurut ketentuan yang mencerminkan kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai dan hasrat-hasrat kelompok atau pribadi yang melakukan pengaturan tersebut. Ketentuan-ketentuan juga mewujudkan citra ideal yang menunjukan kesesuaian(atau kekurangsesuaian) antara ruang fisik dan ruang sosial, konseptual, dan jenis-jennis ruang lainnya.

Ini juga merupakan contoh dari penataan makna, dan keduanya dapat dipisahkan secara konseptual. Sementara pengaturan ruang itu sendiri mengekspresikan makna dan mempunyai sifat-sifat komunikatif, makna sering terwujud dalam tanda, bahan, bentuk ukuran, perlengkapan perabot, pertamanan dan sebagainya. Jadi makna bisa saling berkaitan dengan pengaturan ruang dan biasanya memang deikianlah dalam kebanyakan rona tradisional umumnya. Tetapi ia dapat pula merupakan suatu sistem lambing tersendiri yang tidak aling berkaitan dan melalui hal ini berbagai rona menjadi indicator kedudukan sosial-cara-cara untuk menerapkan identitas sosial pada diri sendiri dan orang lain, atau untuk menunjukan perilakuyang diharapkan dan seterusnya. Tentu saja makna akan palin jelas dan paling kuat bila dinyatakan berlebihan, bila sistem-sistem ruang, makna, dan kegiatan bersesuaian dan karenanya saling memperkuat satu sama lain.

(14)

diperisapkan untuk bertindak wajar, tapi bila isyarat-isyarat tidak diperhatikan atau dipahami, perilaku yang wajar menjadi tidak mungkin.

Akhirnya manusia hidup dalam waktu maupun dalam ruang; lingkungan bersifat temporal dan dapat dianggap sebagai pengaturan waktu atu yang mencerminkan dan mempengaruhi perilaku dalam waktu. Ini dapat dipahami dalam dua cara. Yang pertama menunjukan pada penstrukturan waktu kognitif dalam skala besar, seperti arus linear tehadap waktu daur, orientasi masa depan terhadap orientasi masa lampau, masa depan sebagai peningkatan atas masa sekarang terhadap masa depan sebgai waktu yang lebih buruk, bagaimana waktu dinilai, dank arena itu bagaiman halusnya ia dibagi lagi dalam unit-unit. Pertimbangan akhir ini mempengaruhi cara kedua, dimana pengaturan waktu dapat ditinjau; tempo, atau jumlah peristiwa persatuan waktu, dan ritme, atau ditribusi kegiatan dalam waktu, umpamanya siang dan malam. Tempo dan ritme bisa jadi bersesuaian atau tidak bersesuaian satu sam alain, sehingga orang dapat dipisahkan dalam waktu/atau dalam ruang. Jadi kelompok-kelompok dengan ritme berbeda-beda yang menempati ruang yang sama tak mungkin pernah berkomunikasi. Jelaslah aspek ruang dan waktu saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain- manusia hidup dalam ruang-waktu.

Dalam keadaan-keadaan tradisional , keempat pengaturan ini –yaitu ruang, makna, komunikasi dan waktu– lebih seragam dan lebih berkaitan. Umpamanya, pengaturan waktu lebih seragam, karena didasarkan atas daur harian atau musiman alamiah. Bersamaan dengan kebanyakan orang menerima penanggalan ritual/religious. Pengaturan waktu dan ruang juga bekerja bersama-sama. Di kalangan aborigin Australia umpamanya, kegelapan dan lokasi api di depan masing-masing daerah hunian keluargamenyebabkan orang tidak mungkin melihat satu sama lain pada malam hari. Hal ini menciptakan suatu sistem tertentu untuk penyelesaian konflik melalui cara-cara verbal, yang menjadi rusak dengan diperkenalkannya penerangan, dengan akibat bertambahnya ketegangan dan kekerasan.

Dari segi makna, terdapat kebersamaan yang lebih besar dalam pemakaian lambing dan isyarat yang menghubungkan mereka. Kebanyakan orang sependapat tentang ini, dan penyelesaian dari lingkungan/makna kuat dan jelas. Pengaturan ruang juga secara jelasberkaitan dengan makna. Komunikasi jauh lebih dapat diperkirakan, ditetapkan, dan ditentukan, dan dalam hal ini dikaitkan dengan keanggotaan dalam berbagai kelompok.

(15)

pada tingkat yang lebih besar daripada yang mungkin terjadi sekarang. Ini menguntungkan, karena banyak dari pembuktian kita tentang bangunan-bangunan kuno bersifat arkeologis dan sebagian besar menunjukan bahwa pengaturan ruang merupakan pengungkapan sistem penataan.

Sistem penataan

Tata lingkungan merupakan penampilan fisik dari sistem dan bagan penataan. Suatu sifat dasar dari alam pikiran manusia. Proses ini selalu sama, walaupun bentuk khas penataan dan cara yang digunakan untuk menampilkannya secara fisik secara budaya adalah khas.

Dalam segala keadaan tradisional, dan khususnya keadaa pada awal mula arsitektur, bagan penataan sering didasarkan atas hal yang suci, karena religi dan ritual menjadi pusat (walaupun bagan-bagan yang lain juga memainkan peranan). Bila lingkungan buatan merupakan lingkungan yang dimanusiawikan, yaitu tempat yang dapat didiami, maka bagi sebagian besar bangsa tradisional, lingkungan ini berdasarkan definisi haruslah suci atau disucikan. Karena pandangan dunia masyarakat tradisional adalah religious, maka lingkungan buatan – yang mengkiaskan cita rasa – harus mengkiaskan yang suci, karena hal itulah yang menunjukan makna yang paling berarti.

Demikianlah rumah bangsa Temne di Afrika tidak dapat dilukiskan seluruhnya dari segi fisik dan geometri. Keputusan untuk membangun sebuah rumah Temne tidak diikuti dengan pembuatan suatu rencana, tapi melelui suatu kebersamaan dengan para arwah leluhur masing-masing untuk memperoleh restu mereka. Ruangan yang tercipta adalah lingkaran dank anta (tertutup), yang sangat berbeda dari sistem-sistem tatanan barat modern. Ruang Temne diartikulasikan tidak melalui ilmu ukur dan ilmu hitung tetapi melalui makna. Ruang tertutup dipisahkan, dimanusiawikan, dan dipagari dari tukang-tukang sihir dan setan-setan. Arah-arah pokok (terutama tinggal tradisional dan bangunan-bangunan lain hanya dapat dipahami dengan cara ini – sebagai bagian dari proses umum untuk memisahkan yang suci dari yang duniawi.

(16)

Sebagai bagian dari proses ini, upacara-upacara ritual yang rumit menyertai awal, pembangunan, dan penyelesaian bangunan, yang mirip sekali dengan upacara –upacara yang dilakukan dalam membangun permukiman. Sesungguhnya, semua cirri yang baru diuraikan menyerupai ciri-ciri pembangunan kota. Dalam semua kasus diatas, bangunan dan pemukiman menjadi kenyataa melalui bagan-bagan dan ritus-ritus. Umpamanya, rumah-rumah di Lepenski Vir, sebuah pemukiman Yugoslavia 7.000 tahun sebelum Masehi, didasarkan atas bentuk trapezium yang sama dengan pemukiman tersebut. Permukiman itu dianggap sebagai sebuah rumah raksasa, dan denah rumah itu sebenarnya disesuaikan dengan suatu kerangka menusia dalam posisi tertentu yang digunakan dalam penguburan. Dengan cara ini, rumah mengekprasikan makna berdasrkan tubuh manusia.

Telah dikemukakan bahwa semua lambing didasarkan atas tubuh manusia, dank arena itu arsitektur mungkin merupakan kiasan untuk tubuh manusia, dan karena itu arsitektur mungkin merupakan kiasan untuk tubuh manusia, jadi sekali lagi menghubungkan arsitektur dengan asal mula hewani kita.

Dalam kasus apapun , bangunan pasti merupakan kiasan bagi keadaan, konteks, dan bagan sosial. Jadi rumah orang Berber di Afrika Utara adalah persegi panjang dalam perencanaan dan tampaknya sederhana sekali. Tapi penjelasan serta analisisnya paling rumit. Rumah tersebut adalah suatu mikro kosmos yang diatur dengan cara yang sama seperti alam semesta dan merupakan ciptaan yang luar biasa rumitnya. Untuk memahami ini, kita perlu mengetahui banyak tentang pengaturan religi, lambing, bagan-tentang kebudayaan. Orientasinya, pemisahan pria dan wanita, serta pentingnya ambang, semuanya menjadikannya suatu tempat yang padat dengan hal-hal yang penting.

(17)
(18)

tanah asal perserikatan rumah panjang (dengan luas dasar dtaran 200 mil panjang), rumah panjang tempat orang-orang berdiam, dan semangat menyatu yang mengikat para anggota perserikatan bagaikan sanak keluarga dalam rumah panjang mereka. Kelima Bangsa dari perserikatan sekarang mengambil tempat dalam dewan rumah panjang dengan cara ini. Dewasa ini, banyak keluarga telah pindah ke rumah-rumah keluarga-tunggal, akan tetapi dengan tetap mempertahankan rumah panjang untuk upacara-upacara . fungsi upacara yang sangt mirip juga bertahan dalam Hogan orang Navaho, dan ada kalanya bangunan-bangunan baru sesungguhnya dirancang dan dibangun guna membantu agar kebudayaan tetap bertahan hidup. Dala kasus suku Fang di Afrika, suatu bangunan baru dan upacara-upacara ritual yang menyertainya merupakan ujud kecil dari bagan-bagan kognitif kelompok, yang lingkungan tradisionalnya untuk mengekspresikan bagan-bagan ini telah berangsur-angsur lenyap.

Lama kelamaan simbolisme demikian makin terbatas pada bangunan-bangunan bukan hunian, dan cenderung menghilang atau melemah di bangunan hunian. Walaupun demikian, bahkan di kemudian hari, bagan-bagan dan sistem-sistem penataan baru yang ditampilkan masih dapat dilihat. Jadi kita dapat mengemukakan bahwa matahari, pemandangan, ruang, dan kesehatan menggantikan arah-aah suci untuk tempat tinggal di Amerika serikat. Selanjutnya marilah kita berpindah pada beberapa contoh bangunan bukan tempat tinggal.

Di Mesir purba kehidupan dianggap sebagai mikrokosmos yang mencerminkan proses-proses makrokosmis. Dunia fisis mencerminkan alam baka. Unit-unit ruang dan waktu merupakan miniature dari ruang dan waktu yang lebih penting. Kuil adalah “ rumah agung dewa”, suatu replica di bumi dari tempat kediaman dewa yang kekal. Kuil makam para raja disebut “rumah agung jutaan tahun” dan kerena itu dibuat dari batu alam, sementara bangunan-banguan lain –termasuk istana-istana- dibuat dari batu bata. Altar setiap kuil utama secara konseptual terletak pada poros alam semesta, pada pulau yang paling tua tempat terjadinya penciptaan. Kuil adalah persemayaman si pencipta.

(19)

menekankan pusat , dan keterpusatan adalah hal terpenting secara sosial dan secara arsitektur. Ketiga ruang ideasional hanya dapat dimanifestasikan melalui lambang. Ruang diubah oleh lambang dan ritual sehingga sifat kedewasaan jadi terlihat, dan arsitektur disebut Vastu-Vidya, “ilmu persemayaman para dewa”. Untuk memahami arsitektur, kita harus memahami model kosmologis kedewasaan yang mendasari bentang alam, kota, dusun, kuil, dan rumah.

Kalu begitu, dalam hal apa bangunan bukan tempat tinggal berbeda dari tempat tinggal? Dalam dua hal ; bangunan bukan- tempat-tinggallebih permanen dan langgeng, dan kesesuaiannya dengan model yang dicita-citakan lebih tajam. Elemen-elemen kecil dari rancangan kuil tidaklah sepenting kenyataan bahwa arsitektur adalah “ teknologi simbolik”, lebih sedikit memperhatikan keindahan atau perilaku yang sesuai dari pada menyelaraskan bentuk dengan model-model kedewaan.

(20)

Bangunan-bangunan Suci dan Duniawi

Bila semua bangunan dan lingkungan buatan dalam masyarakat trdisional adalah suci, mengapa banyak atau sebagian besar kebudayaan memiliki bangunan-bangunan kesucian yang khusus? Jawabannya telah dikemukakan : perbedaanya adalah perbedaan kadar (tingkat). Struktur-struktur ini berbeda dan mencoba memperkirakan skema yang dicita-citakan secara lebih dekat.

Aborigin, misalnya, memiliki tempat-tempat suci tertentu, yang lebih dilindungi dan jalan masuk kedalamnya lebih terbatas dibandingkan dengan ke tempat-tempat biasa (tempat-tempat yang mengandung sumber-sumber daya alam). Proses penataan dan pembedaan mengandung arti bahwa terhadap suatu hirarki kesucian; inimmerupakan cara yang jelas untuk melakukan pembedaa antara tempat-tempat. Suatu Hogan Navaho adalah suci, tetapi sebuah Hogan khusus dibangun untuk upcara penobatan dan disucikan dengan ritual khusus, lukisan pasir dan sebagainya. Sebuah permukiman maya disucikan keseluruhannya melalui ritual, tetapi ritual ini tergantung pada hubungan permukiman tersebut dengan tempat, bangunan, dan monument yang secara khusus disucikan. Seperti kita lihat, kekhususan demikian juga terdapat dalam rancangan gaya tinggi.

(21)

Cekoslowakia, bangunan suci terletak di luar batas permukiman. Cara-cara dalam kedua kasus inibertolak belakang, tapi keduanya menekankan perbedaan antara tempat-tempat tersebut.

Dalam banyak keadaan asli di dusun-dusun di yunani, Peru, dan sebagainya, bangunan-bangunan khusus ini bisa dibedakan menurut ukuran (lebih besar atau lebih kecil), warna, bentuk, bahan, adanya sebuah salib atau menara dan sebagainya. Ciri khasnya mungkin merupakan kombinasi dari beberapa unsur, seperti lokasi, ukuran, warna, dan hiasan, seperti di Haus Tambaran, yang dihias dengan seksama dan tinginya 60 kaki, tempat ritual pria, yang menjualang tinggi diatas rumah-rumah yang dibuat dari jerami di sebuah dusun sungai Sepik di Irian. Ciri khas tersebut mungkin berupa bentu, seperti di Pueblo di Amerika Serikat barat-daya, dimana kiva pada umumnya lebih rendah dari permukaan tanah dan bundar, yang berbeda dari rumah tinggal diatas tanah yang berbentuk persegi panjang. Mungkin pembedaan ini hanya berupa lokasi dalam ruang yang hamper tidak dinyatakan oleh tanda-tanda fisik, seperti dalam Marae Maori di Selandia Baru. Dapat pula ukuran, kerumitan, dan bahan, seperti terdapat di gereja di dusun Rumania. Dalam kasus ini, bahan adalah paling penting, gereja menggunakan bahan-bahan baru, rumah kediaman menggunakan bahan-bahan tradisional. Jadi moderenitas digunakan untuk memberikan tekanan pada bangunan suci. Bangunan seperti ini lebih cepat berubah, dengan menggunakan bahan-bahan dan teknik-teknik baru. Sebaliknya kiva tidak secepat itu berubah; ia merupakan bentuk tempat tinggal yang kuno. Caranya berbeda, tapi tujuannya sama – tempat-tempat ini berbeda. Jadi dalam tiap kasusu, yang penting adalah penonjolan yang diciptakan, yaitu pembedaan itu sendiri.

Jelas, tidak semua penonjolan dibuat dalam penegrtian suci, walaupun, untuk mengulanginya, pada asal mulanya hal ini masih dasar. Meninjau tentang bahan-bahan sekali lagi, kita dapati bahwa di desa Amerika bagian tengah dahulu, adobe (baja jemuran) pertama-tama digunakan untuk bangunan-bangunan umum, kemudian untuk perumahan orang-orang yang berstatus tinggi, lalu untuk semua perumahan. Telah kita lihat bahwa bahan-bahan digunakan untuk membedakan antara depan dan belakang. Di Amerika Latin Umumnya (dan di tempat lain), bahan-bahan dan sistem-sistem tatanan berkaitan dengan status dan bahkan kesukuan.

(22)

menunjukan status yang tinggi dan tanda bukan-orang Indian, sedangkan penyusunan yang tak teratur dan bahan-bahan alamiah seperti jerami, tanah anyaman dahan, dan ranting dan sebagainya, menunjukan status rendah dan tanda ke-indian-an. Pembedaan yang serupa dinyatakan oleh perbedaan antara bangunan-bangunan dua tingkat dan satu tingkat.

TUJUAN ARSITEKTUR

Kembali kepada pertanyaan : mengapa manusia menciptakan lingkungan buatan demikian pelik? Apakah kiranya tujuan arsitektur? Bahkan analisis singkat yang kita lakukan hingga kini mengemukakan bahwa tujuannya lebih dari sekedar fungsi tempat bernaung guna mengubah cuaca. Arsitektur dapat memberikon rona bagi kegiatan-kegiatan tertentu; mengingatkan orang tentang kegiatan-kegiatan apakah ini; menyatakan kekuasaan, status atau hal pribadi; menampilkan dan mendukung keyakinan-keyakinan kosmologis; menyampaikan informasi; membantu menetapkan identitas pribadi ataukelompok ; dan mengkiaskan sistem-sistem nilai. Arsitektur juga dapat memisahkan wilayah dn membedakan antara sini dan sana, suci dan duniawi, pria dan wanita, depan dan belakang, pribadi dan umum, yang dapat dan tak dapat dialami, dan sebagainya. Walaupun pembedaan antara tempat-tempat merupakan pusat masalah, tujuan dilakukannya hal itu dan cara-cara yang digunakan untuk melakukannya mungkin sangat berbeda.

(23)

Juga, bila tempat bernaung merupakan fungsi arsitektur satu-satunya, atau bahkan yang pokok, kita akan mendapati lebih sedikit ragam dalam bentuk. Kita bisa mengharapkan peningkatan teratur dengan dahsyatnya iklim – yang nyatanya tidak akan kita dapatkan walaupun kita msukan ujung terdingin dari skala. Selanjutnya kita menemukan rumah-rumah yang sama dalam wilayah iklim yang berbeda-beda, demikian pula perbedaan-perbedaan dalam bentuk dan bahan dalam wilayah-wilayah iklim yang sama. Perbedaan-perbedaan demikian sering berkaitan dengan status dan tingkat keterbukaan untuk umum.

Lagi pula, apabila tempat bernaung memang merupakan fungsi pokok arsitektur, kita tidak dapat mengaharapkan mengharapkan kemajuan banguan-bangunan pun telah melihat bahwa kasusnya justru bertolak belakang dan satu hal yang sepanjang waktu berubah adalah pembedaan jenis-jenis bangunan cenderung meningkat. Jadi di Olduva gubuk-gubuk adalah serupa; di Terra Amata, ukuran-ukurannya berbeda tapi tak terdapat petunjuk tentang adanya kegunna yang berbeda. Di Dalni Vestonice dan Nea Nokomedia, akan kita dapati bangunan-bangunan suci yang di Catal Huyuk jelas dibedakan. Kemudian lagi, kita temukan perbedaan-perbedaan yang lebih banyak dan lebih besar – dari satu ruang menjadi banyak ruang untuk tujuan yang berbeda-beda, mulai dari tempat tinggal dan kerja, mulai dari rumah dan bengkel yang digabung sampai pemisahan keduanya dan kemudian sampai kepada pelataran kerja dan bengkel yang dikhususkan, dan sebagainya. Demikian pula, kita bisa mengharapkan adanya suatu kecenderungan penggunaan bahan dari kemudahan untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut, tetapi tidak demikian halnya. Telah kita lihat pula bahwa bahan-bahan-bahan-bahan rupanya memiliki makna; mereka memiliki fungsi-fungsi komunikatif.

(24)

Bila kita menggunakan wawasan perilaku sebagai drama, maka ini berarti bahwa rona-rona yang tepat dan alat-alat perlengkapan membuat lebih mudah untuk memainkan peranan yang cocok. Oleh karenanya, adalah bermanfaat untuk menampilkan rona-rona secara fisik guna mengingatkan manusia bagaiman berperilaku. Perhatikanlah suatu pertunjukan, apakah ritual atu dramatic. Jelaas hal ini bisa terjadi di mana saja, dimana terdapat ruang yang cukup untuk para penonton dan para pelaku. Bagaimanapun adalah bermanfaat untuk menandai tempat itu dengan cara tertentu. Demikianlah penduduk pribumi di Australia menyediakan tanah-tanah ritual, mempersiapkannya, mendirikan unsur-unsur yang berlaku sebagai dekor, dan menghiasi tubuh mereka sebagai “arssitektur yang bergerak”. Langkah berikutnya ialah menyisihkan suatu tempat tetap dengan hubungan yang tepat antara penonton dan para pelaku, dengan mencerminkan gagasan tentang bagaimana pertunjukan seharusnya diberikan dan bagaimana orang seharusnya berperilaku.

Jadi bangunan adalah cara menata perilaku dengan menempatkannya kedalam tempat-tempat dan rona-rona yang tersendiri yang dapat dibedakan, masing-masing menuntut perilaku, peranan yang diketahui dan diharapkan dan sebaginya. Jadi para pendeta, pedagang, aktor, dan penguasamemerlukan bangunan-bangunan religious, pasar atau bengkel, teater atau istana. Keluarga-keluarga membutuhkan tempat tinggal.

Di Mesir purba, rancangan istana kerajaan hanya dapat dipahami bila kita memikirkannya dalam pengertian bangunan Barat. Istana bukanlah suatu rumah yang besar, seperti Vatikan, Hampton Court, atu Versailes (walaupun bangunan-bangunan ini juga mempunyai makna yang jelas-jelas bukan tempat tinggal). Istana di Mesir purba terutama sekali adalah sarana untuk menekankan kekuatan penguasa, untuk menambah kekuatan dengan menciptakan perasaan kagum di dalam pikiran para subjek. Hal ini dilakukan melalui bahan-bahan serta penggarapan kedaan; kedatangan, dilakukan melalui bahan-bahan serta penggarapan kedaan; kedatngan, masuk, dan pergerakan berlangsung di dalam ruang dan rona yang tertata.

(25)

Wanita I Kung hanya memerlukan 45 menit untuk membangun tempat bernaung. Tapi sering kali mereka tidak merasa membuat suatu tempat bernaung sam sekali. Mereka hanya memasang tonggak untuk melambangkan jalan masuk ke tempat bernaung dan tidak membangun tempat bernaung sama sekali. Hal ini memungkinkan keluarganya untuk membawa diri serta mengetahui di sebelah mana api unggun tempat buat pria atau wanita. Ini juga memungkinkan orang-orang lain untuk mengetahui hubungan antara tempat tinggal mereka dengan perkampungan. Hal ini jelas merupakan kunci pengingat yang bahkan tidak penting, karena ada kalanya para wanita bahkan tidak peduli dengan tongkat-tongkat itu. Meskipun demikian makin banyak informasi, makin mudah terbentuk perilaku sosial, makin mencapai persesuaian bentuk fisik dengan kegiatan, dan makin mudah pila untuk mengajarkan perilaku yang tepat kepada anak-anak. Demikianlah, di perkampungan orang pigmis, gubuk-gubuk di ubah sedemikian rupa sehngga hubungan pintu-pintu (dan ada tidaknya “pagar-pagar dendam”) mengekspresikan hubungan di antara orang-orang dan ada tidakny akomunikasi di antara mereka. Kelompok tersebut cukup kecil untuk mengetahui siapa yang marah kepada siapa atau berbaik sengan siapa, tetapi lingkungan buatan mengingatkan orang akan hal-hal ini, ia berfungsi sebagai sesuatu yang mengingatkan.

Dengan demikian lingkungan buatan menyampaikan makna-makna untuk membantu melayani tujuan kemasyarakatan; mereka memberikan kerangka ruang waktu, atau sistem rona, untuk tindakan manusia dan perilaku yang tepat. Kerenanya didalam lingkungan buatan, pemisahan sangat menentukan; mereka merupakan petunjuk untuk pemahaman mengenai hal-hal yang lain. Ini membantu menjelaskan mengapa fungsi yang tak ternyata cendrung menjadi lebih penting dari pada fungsi nyata; hampir semua orang melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sama, tapi mereka artikan secara berbeda. Juga makin komplek dan terpilah-pilah suatu kelompok, makinbesar bantuan lingkungan buatan. Dalam suatu kelompok kecil yang terpisah, mengetahui rona saja sudah cukup, sedangkan di kemudian hari, rona-rona perlu ditandai dan dibedakan; akhirnya bahkan itu pun tak cukup, karena orang menemukan tanda-tanda verbal dan eikonik –sistem makna yang berbeda dari arsitektur dan yang menjadi satu dengannya

(26)

berbagai fungsi tersamanya yang lain. Kita dapati pasar, bazaar, dan took di mana terjadinya tawar-menawar. Di masing-masing tempat, perilakunya berbeda dan rona membantu menyampaikan konteks dan perilaku.

Dengan demikian arsitektur, dengan cara membuat perbedaan yang dapat terlihat di antara tempat-tempat, menyampaikan informasi tentang sarana ruang, sosial, waktu dan lain-lain dari penataan masyarakat. Ia menyampaikan hal-hal yang lebih disukai, hierarki, gaya hidup, dan sebagainya. Ia menetapkan wilayah manusiawi yang suci (kebudayaan) yang berbeda dari sifat duniawi atau kemudian, wilayah manusia duniawi yang berbeda dari sifat suci. Arsitektur menjadi begitu menyatu dengan kelompok-kelompok, kebudayaan dan gaya hidup, yang bersifat azazi agar merasa betah. Kaum pendatang membawa serta bebtuk-bentuk arsitektur dan berusaha menciptakannya kembali, keberhasilan mereka dalam lingkungan mereka yang baru mungkin tergantung pada kesanggupan mereka untuk berbuat demikian.

Semuanya ini memperkuat argument pokok – lingkungan dipikirkan terlebih dahulu sebelum dibangun. Alat-alat juga harus dipikirkan. Aborigin mendapatkan alat-alat di alam, tapi objek-objek tersebut hanya kan menjadiperkakas bila cocok dengan suatu cetakan mental. Ketika alat-alat perkakas dibuat, mereka dibuat sesuai dengan bagan. Jadi setiap artefak apa saja, bagaimanapun seerhananya, harus muncul sebagai gagasan sebelum dapat dibuat. Sekali dibuat, artifak tersebut membantu mengingatkan kita akan gagasan itu, dan ini yang membuatnya penting.

(27)

Sistem Rumah Permukiman

Pentingnya sistem rumah permukiman juga timbul dari pembahasan kita tentang pembedaan, perkembangan berbagai rona untuk tujuan yang berbeda-beda. Ingatlah bahwa penampilan fisik dari perbedaan-perbedaan merupakan bantuan berguna yang mengingatkan orang akan banyak hal yang penting termasuk perilaku. Sistem keseluruhan mengingatkan mereka akan hubungan-hubungan yang tepat dan urutan-urutan perilaku. Hal ini juga timbul dari kenyataan bahwa orang hidup dalam ruang waktu dan memiliki sistem kegiatan yang rumit dan bertautan dengan kegiatan-kegiatan dan orang-orang lainnya.

Jadi perbedaan budaya menghasilkan gabungan kegiatan yang berbeda-beda dan karena itu memrelukan sistem rona yang berbeda pula. Di kota-kota Muslim, Kedai kopi merupakan pusat bagi pria, sedangkan sumur merupakan pusat bagi wanita. Di Korea Selatan, kedai teh merupakan unsur penting bagi kaum pria; di kalangan kelas pekerja Inggris, Kedai minuman(Pub)-lah yang penting; dan di dusun-dusun Hongaria tertentu kandanglah yang penting (tempat semua keputusan penting diambil). Tidak semua jelas apakah rona itu dan apa yang diperbuatnya, kecuali bila kita memperhatikan tempat-tempat dan rona-rona yang berhubungan. Sesungguhnya menerima pandangan-pandangan seperti itu dapat memperhatikan bahwa mendefinisikan bangunan sangatlah rumit. Ambilah contoh yang paling kita kenal –tempat tinggal– sungguh jauh dari jelas bagaimana mendefinisikannya bila kita memikirkannya dari segi kegiatan, banyak dari padanya mungkin juga terjadi di bangunan-bangunan lain, dan hal-hal yang tidak terduga, dari sistem rumah pemukiman.

Perbedaan-perbedaan damal sistem rumah-permukiman ini, hubungan antara unsur-unsur gaya tinggi dan matriks asli pribumi, dan perbedaan-perbedaan daalam bagan juga mengarah pada kesadaran bahwa sangatlah penting untuk memperhatikan segala sesuatu secara lintas budaya. Sesungguhnay, hal ini membawa kita kembali ketempat kita mulai, dengan suatu pembahasan singkat tentang mengapa pentingnya untuk memperhatikan segala sesuatu secara lintas budaya dan secara sejarah, atau mengapa kita seyogyanya memperhatikan asal mula budaya arsitektur.

(28)

Hingga kini kita telah mencoba menjelaskan makna konsep arsitektur dan dengan demikian memberikan suatu dasar yang lebih memadai untuk perancangan berdasarkan suatu pemahaman yang penuh dan utuh tentang perilaku manusia yang berinteraksi dengan lingkungan buatan. Kita boleh bertanya, mengapa kita harus mengkaji masa lampau nan jauh dan segala jenis bangsa “primitive” sementara banyak dari kita menghadapi masalah-masalah masa depan. Jawabannya adalah sederhana dan paling penting.

Kesanggupan untuk membuat analisis dan keputusan yang sahih tergantung pada terdapat tidaknya sutu teori yang sahih; begitu banyak yang telah ditulis mengenai arsitektur dari segala jenis perspektif, sehingga tanpa teori tak seorangpun, tidak juga seorang peneliti dengan keahlian khusus, dapat kira-kira membaca lebih dari sebagian kecil saja darinya. Satu-satunya jalan untuk menhadapi tumpukan bahan yang demikian banyak yang tersebar dalam banyak penerbitan dan dalam banyak bahasa, adalah dengan membuat teori tentang dengan materi dengan mencocoki unsur-unsur yang lebih besar. Teori-teori demikian cenderung berdasarkan pembuktian dari tradisi Barat, dengan mengabaikan banyak yang lain-lain –Afrika, Asia, Timur Tengah, pra Kolumbia, Amerika Latin. Mereka juga cenderung mendasarkan diri pada perkembangan-perkembangan akhir dan mengabaikan dimensi sejarah, terutama masa lampau yang jauh dan masa lampau dalam tradisi buta huruf dan bukan barat. Jadi sangat pentinglah untuk memperhatikan lingkungan buatan sepanjang zaman dan secara lintas-budaya.

Tetapi orang masih bisa bertanya; apa yang salah dengan konsep-konsep yang berdsarkan tradisi Barat gaya baru dari waktu ke waktu belakangan ini? Jawabanya - yang mendasar bagi seluruh bab ini dan titik pandang yang dikemukakannya – aadalah bahwa adalah generalisasi yang didasarkan atas sesuatu sampel yang terbatas seperti itu bisa jadi tidak sahih. Makin luas sampel kita dalam ruang dan waktu, makin mungkin kita melihat keteraturan dalam hal-hal yang jelas-jelas kacau serta memahami lebih baik perbedaan-perbedaan yang penting artinya. Dengan demikian makin mungkin kita melihat pola-pola dan hubungan-hubungan, dan inilah hal-hal terpenting yang kita cari.

(29)

bila hewan pun memperlihatkan pola-pola ini. Sungguh penting untuk memehami kesinambungan maupun perubahan, karena kebudayaan kita menekankan perubahan sampai pada tingkat yang tak terhingga. Demikian pula bila perubahan yang jelas terlihat serta kemungkinan keragaman merupakan penampilan proses-proses yang serupa, hal ini luar biasa pentingnya karena alasan untuk melakukan hal yang jelas-jelas berbeda tetaplah sama.

Bila kita dapat memahami alasanini dan proses yang digambarkannya, maka mungkin kita mendapati bahwa bentuk yang tampaknya tidak bertalian dan cara-cara melakukan segala sesuatu yang tampaknya berbeda adalah setara, dalam arti bahwa mereka mencapai tujuan yang sama, merupakan hasil dari proses mental yang serupa, atau merupakan pertukaran bentuk satu sama lain. Ini membantu mendefinisiskan apakah arsitektur itu, apakah tujuannya ynag beragam itu (dan sarana-sarana untuk mencapainya), serta bagaimana arsitektur dirancang.

Pandangan yang dikembangkan disini adalah bahwa semua lingkungan mencerminkan skema dan penataan, proses antientropi dari kelompok-kelompok. Hal ini telah cenderung menciptakan lingkungan yang sangat sesuai dengan kebudayaan – struktur keluarga, gaya hidup, hirarki atau tidak adanya hirarki, dan ritual. Namun dewasa ini, proses dasar yang sama menimbulkan pelataran yang tidak sesuai dengan variabel-variabel ini.

Kita mendapati bahwa lingkungan yang bersesuaian cenderung melibatkan para pemakai dalam penciptaannya, baik secara langsung (dengan berbagai bagan). Tidak hanya kecocokan lalu menjadi lebih baik, tetapi tekanan jiwa juga pada umumnyalebih rendah apabila lingkungan disesuaikan terhadap masyarakat dan bukannya masyarakat yang harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Ini menghasilkan wawasan yang tidak mengikat, yang diperkuata oleh argumen tujuan ganda arsitektur, dengan mengemukakan gagasan seperti definisi wilayah dan penataan makna melalui proses personalisasi.

(30)

keefektifan dapat tercapai. Bersamaan dengan itu telah kita lihat bahwa bagan dan sarana tidak harus sama (kita tidak harus meniru).

Jadi, sebenarnya, suatu pembahasan tentang asal mula arsitektur dalam masa lampau yang suram dan jauh tampaknya menerangi beberapa perubahan wawasan baru tentang apakah arsitektur itu – hubungan perilaku dengan lingkungan, proses perancangan, dan hubungan kebudayaan dengan bentuk. Bersamaan dengan itu, ia membantu kita memperdalam dan memperjelas gagasan-gagasan baru dan menempatkannya dengan kukuh dengan cara yang paling mendasar dimana pikiran manusia bekerja. Memang, hewanpunmenata lingkungan dengan menggambarkan dan menciptakan bagan.

Referensi

Dokumen terkait

• Teori susah untuk dipraktekan, sebab kita tidak mungkin memahami struktur kognitif yang ada dalam benak setiap siswa, apalagi memilah-milah menjadi bagian yang diskrit (jelas

Begitu juga cara membangun tetap dalam Qadar Allah, karena Allah telah menetapkan segala sesuatu, baik secara global maupun rinci dan tidak mungkin menusia bisa memilih sesuatu

AKU DAN KALIAN, DUHAI MANUSIA, TERPERANGKAP OLEH SESUATU YANG TAMPAK DARI PERMUKAAN LAHIRIAH KITA, TETAPI TERBUTAKAN DARI SEGALA SESUATU YANG TERSAMAR DARI HAKIKAT KITA.. BILA

2. Saya mengerti dan memahami tujuan serta resikokomplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan medisoperasi yang dilakukan terhadap pasien dan oleh karena itu bila terjadi

3).Francesco Suarez (1548-1617) merupakan sarjana asal Spanyol yang menerbitkan buku berjudul “Tractatus de Legibus as Des Regislatore” atau uraian tentang undang-undang dan

Namun strategi ini dapat membuka mata kita pada penyelesaian yang menyeluruh, yang mungkin sangat sukar bila ditempuh dengan cara formal atau tradisional.. Perlu pula

adalah proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah..

Goffman menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang