PROSES ADOPSI UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST
CORRUPTION TERKAIT REGULASI KORUPSI DI INDONESIA TAHUN
2009-2013
Intandri Swarga Ahinta Ikatami / 105120403111003
Prodi Hubungan Internasional
FISIP Universitas Brawijaya
ABSTRACT
Current problems of corruption in the global attention it is caused from the magnitude of the impact of corruption to be borne by each country. Along with the development of a more advanced age, the types of corruption are increasingly diverse not only national in scope but internationally. Based on the urgency that the United Nations (UN) to form the United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) as the first global efforts in eradicating corruption. The problem of corruption is in the experience of developing countries, especially Indonesia.
Indonesia has ratified the United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) in 2006. As one of the countries participants of the UNCAC Indonesia has the obligation and responsibility to adopt domestic policies into the UNCAC. To be able to know the process of the adoption of the UNCAC in Indonesia it can be seen from an operating system that is in the concept of international law which is a source of international law, actor, jurisdiction, and court/institution.
Keywords: Convention, corruption, UNCAC ratification, international law, international legal sources, actor, jurisdiction, court/institution
A. PENDAHULUAN
Permasalahan korupsi mulai diangkat menjadi isu penting dalam
dunia Internasional. Hal ini
dikarenakan korupsi memiliki dampak yang sangat buruk tidak hanya bagi negara-negara berkembang melainkan masalah bagi negara-negara maju. Secara tidak langsung dampak dari korupsi bagi negara adalah
melemahkan sistem demokrasi dan
supremasi hukum. 1 Besarnya dampak
negatif yang ditimbulkan dari korupsi maka pada saat ini korupsi merupakan masalah krusial yang mengancam perkembangan kemajuan suatu negara.
1 United Nation Convention Against
Perubahan fokus internasional terhadap isu korupsi awalnya dipicu oleh beberapa tindak korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin negara. Tindak korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin negara seringkali
menimbulkan dampak buruk
khususnya bagi negara berkembang. Hal ini dikarenakan tindak kejahatan korupsi yang dilakukan pemerintah melebihi kekayaan negara yang telah
disalahgunakan untuk kepentingan
pribadi.2
Diawali dengan terungkapnya beberapa kasus tindakan korupsi oleh Transparency International yang
dilakukan oleh Presiden Filipina
Ferdinan Marcos pada tahun 1986 yang menyalahgunakan kekuasaannya sebagai seorang presiden dengan
melakukan pencurian penerimaan
negara dan sebagian diinvestasikan
dalam bentuk emas batangan.
Terhitung mulai awal Ferdinan Marcos menjabat sebagai Presiden Filipina pada tahun 1965 hingga 1986 Ferdinan Marcos telah mengkorupsi kekayaan negaranya sebesar US$5 miliar hingga 10 miliar. Dikarenakan besarnya
jumlah kekayaan negara yang
dikorupsi oleh Ferdinan Marcos, Guinnes book of records memasukkannya sebagai salah satu pencuri kekayaan negara terbesar
sepanjang sejarah.3
Tindak korupsi yang dilakukan oleh pemerintah tidak hanya dilakukan oleh Ferdinan Marcos, Mobutu sese
2
Prof.Drs. Budi Winarno, MA,PhD.2011.”Isu-isu global kontemporer”.Caps: Yogyakarta.
3
Beberapa Pemimpin Terkorup di Dunia, oleh: Figur, Vol XXVII/TH.2008, Hal 22
seko yang merupakan presiden dari Zaire telah mengkorupsi kekayaan negaranya sebesar US$5 miliar. Selain itu ada Presiden Nigeria yakni Sani Abacha yang mengkorupsi sebesar US$2 hingga 5 miliar, Presiden
Yugoslavia Slobodan yang
mengkorupsi sebesar US$1 miliar, Presiden Haiti J-C Duvailer yang melakukan korupsi sebesar US$300 hingga 800 juta, Presiden Peru Alberto
Fujimori sebesar US$600 juta,
Presiden Ukraina Pavlo Lazarenko yang mengkorupsi sebesar US$114
hingga 200 juta, dan Presiden
Nikaragua Arnoldo Aleman yang melakukan korupsi sebesar US$100 juta.4
Adapun dampak yang
ditimbulkan dari korupsi yang pertama adalah the capture state, yang mana korupsi menjadi penghambat dari proses demokrasi dan dapat menjadi
penghambat tercapainya good
governance karena korupsi dapat
melemahkan birokrasi sebuah
pemerintahan suatu negara, dampak korupsi berikutnya adalah pada sektor perekonomian. Dalam segi ekonomi
negara akan merasakan secara
langsung dampak buruk dari korupsi seperti perkembangan laju ekonomi negara menjadi terhambat dalam upaya memulihkan perekonomian negaranya dan jika semua negara memiliki tingkat korupsi yang tinggi maka dapat mengganggu pemulihan perekonomian
global pasca krisis. Selanjutnya
dampak dari tindak korupsi yang dilakukan para pejabat publik seperti
pemerintah berpengaruh terhadap
kesejahteraan warganya. Akibat tindak korupsi yang dilakukan oleh para pejabat publik dapat menggagalkan program pembangunan yang ditujukan
untuk mensejahterakan rakyatnya.
Besarnya dana yang dikeluarkan untuk sebuah program pembangunan pada kenyataannya tidak sesuai dengan
wujud dari program tersebut. 5
Berdasarkan dari beberapa
penjelasan diatas mengenai besarnya dampak korupsi yang dilakukan oleh
pejabat publik diberbagai aspek
membuktikan jika korupsi merupakan
permasalahan yang sangat
menghambat bagi kemajuan negara. Korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik negara dapat menghambat proses demokrasi suatu negara, dalam segi ekonomi korupsi dapat membuat
negara terjebak dalam krisis,
sedangkan dalam segi kesejahteraan
warganegara korupsi dapat
menyengsarakan rakyat akibat dari gagalnya program pembangunan yang tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Dalam kaitannya dengan
besarnya dampak negatif korupsi dan permasalahan korupsi, maka dari itu untuk dapat menanggapi permasalahan korupsi pada saat ini yang masuk dalam kategori isu kontemporer dipicu dari tindak korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik, pada akhirnya untuk pertama kali isu korupsi di angkat kedalam ranah internasional dengan mendapat perhatian dunia
5
Prof.Drs. Budi Winarno, MA,PhD.2011.”Isu-isu global kontemporer”.Caps: Yogyakarta.
sebagai dari salah satu jenis crime
pada tahun 2000.6
Masuknya korupsi kedalam ranah internasional dibuktikan dengan dikeluarkannya resolusi pada tanggal 4 desember 2000 oleh majelis umum
PBB yang menyatakan perlunya
peraturan dalam menanggulangi
permasalahan korupsi dalam taraf internasional. Sehingga pada akhirnya
berdasarkan usulan tersebut
didirikanlah sebuah panitia ad hoc untuk melakukan negosiasi instrumen against corruption di Wina markas kantor Organisasi Internasional United Nations Office On Drug and Crime
(UNODC).7
Naskah Konvensi UN
Convention Against Corruption (UNCAC) telah dinegosiasikan selama tujuh sesi oleh Komite Ad Hoc yang diselenggarakan antara 21 Januari 2002 dan 1 Oktober 2003 dan pada akhirnya setelah melewati negosiasi yang cukup panjang UN Convention Against Corruption (UNCAC) mulai
diberlakukan oleh organisasi
internasional UNODC pada tanggal 14
Desember 2005.8
UNCAC disini sebagai
perjanjian internasional yang berfungsi untuk memperkuat hukum nasional masing-masing negara dalam hal pemberantasan korupsi.
6 Background of United Nation Convention Against Corruption, diakses dari
http://www.unodc.org/unodc/en/treaties/CAC/i ndex.html, pada tanggal 21 desember 2013
7
Background of United Nation Convention Against Corruption, diakses dari
http://www.unodc.org/unodc/en/treaties/CAC/i ndex.html, pada tanggal 21 desember 2013
8
Dalam hal keikutsertaan negara dalam konvensi yang dapat menjadi anggota dari UNCAC tidak harus
berasal dari anggota organisasi
internasional UNODC itu sendiri,
melainkan negara-negara didunia
boleh ikut serta dalam konvensi ini. Hingga saat ini, telah terdapat 169 negara yang telah meratifikasi UN Convention Against Corruption
(UNCAC).9 Secara langsung
konsekuensi bagi negara-negara yang
telah meratifikasi UNCAC yang
merupakan perjanjian internasional terkait anti korupsi yang dikeluarkan UNODC adalah dengan melaksanakan pasal-pasal yang telah disepakati.
Seperti yang disebutkan dalam United Nations Conference on The Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations pasal dan 12 menyebutkan bahwa dengan negara menandatangani sebuah perjanjian maka negara sudah terikat
dengan perjanjian.10 Oleh karena itu
menjadi sebuah kewajiban
negara-negara seperti Indonesia untuk
mengadopsi hasil dari UN Convention Against Corruption ini.
Untuk permasalahan korupsi di
kawasan Asia Tenggara sendiri
khususnya Indonesia hingga saat ini
9UNCAC: Signature and Ratification Status as of 29 November 2013, diakses dari http://www.unodc.org/unodc/en/treaties/CAC/ signatories.html, pada tanggal 21 desember 2013
10 United Nation.2005. Vienna Convention on
The Law of Treaties between States and
International Organizations or between
International Organization 1986. Oleh: United
Nations Publication, Sales No. E.94. V.5
masih berada dalam tingkat korupsi yang cukup tinggi diantara negara-negara dikawasan Asia Tenggara lainnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei yang telah dilaksanakan oleh World Justice Project tahun 2011. Dalam survey ini melibatkan lebih dari 66.000 responden dan 2.000 tenaga ahli mengenai penegakan hukum dan
korupsi di 65 negara didunia
menyatakan bahwa Indonesia
mendapatkan skor korupsi 0,46 atau berada pada urutan ke 47 dari 65 negara tersurvei. Untuk dikawasan Asia Tenggara sendiri, Indonesia merupakan negara dengan tingkat korupsi yang paling tinggi yang mana Vietnam berada satu peringkat di atas Indonesia dengan skor 0,5 dan Negara terbersih di Asia Tenggara adalah
Singapura, Malaysia dan Thailand.11
Sedangkan menurut transparency
international tahun 2012 dikawasan Asia Tenggara peringkat Indonesia tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Indonesia masih berada didalam jajaran terbawah jika dilihat
dari skor CPI-nya.12
Korupsi di Indonesia dapat dikatakan telah menjadi sebuah kebudayaan yang telah berlangsung lama. Apabila korupsi terus dibiarkan dan tidak segera ditangani maka Indonesia tidak hanya akan kehilangan
11
RI Juara Korupsi Asia Tenggara. oleh: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/ce tak/2011/06/15/149667/RI-Juara-Korupsi-Asia-Tenggara, pada tanggal 21 Desember 2013
12
kepercayaan masyarakatnya melainkan
hilangnya kepercayaan dunia
internasional.
Indonesia telah
menandatangani UNCAC pada tanggal 18 desember 2003 dan meratifikasi pada tanggal 19 september 2006.
Dengan adanya UN Convention
Against Corruption ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam menanggulangi permasalahan korupsi yang pada saat ini merupakan salah satu permasalahan yang krusial dan sedang ramai di perbincangkan oleh media massa, para elit politik maupun
masyarakat umum. 13 Pada saat ini
permasalahan mengenai korupsi
pejabat publik dapat di saksikan setiap harinya pada media elektronik seperti televisi yang secara tidak langsung membuktikan bahwa permasalahan korupsi di Indonesia saat ini memang sedang menjadi masalah utama.
Dengan telah di ratifikasinya UNCAC oleh Indonesia tentunya dalam segi adopsi dari aturan-aturan yang telah diterapkan dalam UNCAC setiap negara memiliki mekanisme yang berbeda-beda tidak terkecuali dengan Indonesia hal ini dapat dilihat dari munculnya UU No 7 tahun 2006
mengenai pengesahan perjanjian
internasional UNCAC yang dilakukan
oleh Indonesia yang kemudian
memunculkan kebijakan-kebijakan
baru terkait pemberantasan korupsi di Indonesia.
Maka, berdasarkan latar
belakang masalah tersebut penulis
ingin menggambarkan bagaimana
13
United Nation Convention Against Corruption(UNCAC) Treaties. Pdf
proses adopsi kebijakan terkait
B. METODE PENELITIAN
Untuk dapat menjelaskan
fenomena maka penulis menggunakan konsep hukum internasional dalam
perspektif hubungan internasional
Charllote Ku dan Paul F. Dheil.
Charllote Ku dan Paul F.Dheil
menjelaskan bahwa terdapat dua
karakter yang berbeda didalam hukum internasional yaitu sistem operasi dan sistem normatif. Dalam pandangan ahli konseptual hukum internasional dianggap sebagai sistem operasi yang dapat menetapkan prosedur umum dan institusi. Maksudnya adalah hukum internasional menyediakan kerangka kerja untuk dapat menetapkan aturan dan norma, parameter interaksi, dan menyediakan prosedur maupun forum untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan. Secara umum, sistem operasi dapat memberikan klasifikasi yang mana hukum internasional dibuat dan di adopsi kedalam regulasi
domestik.14
Dalam sistem operasi terdapat beberapa komponen utama untuk menjelaskan hukum internasional sebagai sistem operasi yang dapat 2003.“International Law: Classic and Contemporary Readings.Liynne Rienner.hal
12 15 Ibid
Perjanjian internasional
memainkan peranan penting dalam mengatur hubungan antar negara dalam dunia yang ditandai saling ketergantungan pada era ini. Saat ini hampir semua negara menjadi anggota dalam perjanjian internasional.
Dalam komponen ini
menjelaskan sumber hukum dalam arti formal yang mana sumber hukum adalah sumber dari mana aktor
memperoleh maupun menemukan
ketentuan-ketentuan yang ada
didalam hukum internasional. Hal ini dikarenakan untuk dapat menentukan sesuatu yang dapat dikatakan menjadi sumber hukum internasional tidaklah mudah disebabkan karena sumber hukum tidak memiliki wujud yang nyata seperti lembaga. Oleh karena itu untuk menentukan sumber hukum mana yang akan dijelaskan maka yang harus ditentukan adalah instrumen yang memiliki kekuatan hukum yang mengikat dan telah menjadi subyek hukum internasional. Hal ini dapat dilihat dari beberapa macam sumber hukum yang ada, apakah merupakan
perjanjian internasional, kebiasaan
internasional, atau prinsip hukum
internasional sehingga dapat
menimbulkan kewajiban hukum yang ada bagi aktor, dan dapat diketahui siapa aktor yang terikat maupun tidak terikat dalam perjanjian tersebut.
b. Aktor :
Aktor memainkan peranan
tersebut dikarenakan tanpa adanya aktor maka hukum tidak dapat berjalan. Maka dalam komponen ini harus diidentifikasi terlebih dahulu aktor yang memenuhi syarat untuk
melaksanakan tanggungjawabnya
pasca meratifikasi hukum internasional apakah negara, NGO ataukah MNC.
Selain itu untuk mengetahui
kepentingan apa yang dibawa dalam meratifikasi. Sistem operasi juga menentukan bagaimana dan sejauh mana para aktor tersebut menggunakan hak dan kewajibannya.
c. Jurisdiksi :
Yurisdiksi disini berarti
kewenangan negara untuk
melaksanakan hukum nasional.
Maksudnya, hak suatu negara
berdaulat untuk mengatur dan
menyelesaikan permasalahan tertentu dalam wilayahnya dengan caranya sendiri yang dapat berupa langkah-langkah yang telah ditentukan dan dilakukan oleh pemerintah dalam negeri (legislatif, eksekutif). Dalam poin ini akan mulai terlihat inti dari
proses bagaimana adopsi hukum
internasional menjadi hukum nasional. Dalam komponen ini juga menjelaskan bahwa hukum nasional
memiliki peranan penting dalam
mengatasi permasalahan yang terjadi didalam wilayah domestiknya tanpa campur tangan pihak diluar territorial. Dalam komponen ini yurisdiksi dapat digunakan untuk melihat sejauh mana hukum internasional telah diterapkan kedalam suatu negara.
d. Court atau Institution:
Komponen terakhir dalam
hukum internasional ini menjelaskan bahwa untuk dapat menyelesaikan
permasalahan maka dibentuklah forum dan aturan yang berfungsi untuk mengontrol yang akan ditanggapi oleh badan atau institusi yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dihadapi.
Di tingkat internasional,
pengembangan sistem operasi adalah pembentukan pengadilan internasional untuk menerapkan hukum. Pengadilan yang dibentuk permanen memiliki hakim yang tidak memihak merupakan salah satu langkah penting dalam sistem hukum sebagai sarana untuk
menyelesaikan sengketa. Seperti
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan penyelesaian sengketa proses dan
Mahkamah Pidana Internasional
(ICC).16
Secara keseluruhan hukum
internasional sebagai sistem operasi
untuk menjelaskan bagaimana
menetapkan prosedur umum untuk melakukan hubungan internasional.
Sebagai sistem operasi hukum
internasional menyediakan kerangka kerja dimana hukum internasional dibuat dan sejauh mana diterpakan kedalam lingkup domestic untuk
menyelesaikan suatu permasalahan.17
Meskipun keempat komponen tersebut menjelaskan secara terpisah namun keempat komponen tersebut dapat dijadikan sebagai satu prosedur dari proses adopsi UNCAC dalam regulasi terkait korupsi di Indonesia yang mana ketentuan ini telah di sebutkan dalam
16
Charlotte Ku dan Paul F.Dhiel. 2003.International Law: Classic and Contemporary Readings.Liynne Rienner. 17
fungsi dari hukum internasional sebagai sistem operasi.
Sedangkan, didalam karakter
kedua dalam sistem normatif
menjelaskan bahwa fungsi hukum adalah untuk menciptakan norma-norma dari nilai-nilai atau kebijakan tertentu sehingga negara akan dapat merubah sikapnya dengan sendirinya
dan menerapkan perjanjian
internasional sebagai wujud dari
bentuk jika suatu negara telah tunduk
dalam hukum internasional.18
C. PEMBAHASAN/HASIL PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini UNCAC
merupakan sumber hukum
internasional yang merupakan hasil
perjanjian yang dinaungi oleh
organisasi internasional dibidang
kejahatan internasional dan obat-obatan terlarang yaitu United Nation Office On Drug and Crime (UNODC)
yang menjadi subyek hukum
internasional dan menjadi anggota dari
masyarakat internasional.19 UNCAC
sebagai sumber hukum internasional UNODC di gunakan sebagai perjanjian internasional yang menjadi sebuah landasan dari upaya-upaya negara dalam melakukan pemberantasan korupsi ditingkat domestik maupun global.
Perjanjian Internasional
UNCAC ini lebih menyoroti kepada permasalahan korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik suatu negara maupun pejabat asing yang melakukan korupsi di negara lain. UNCAC melihat bahwa korupsi merupakan sebuah wabah yang sangat berbahaya bagi negara dan masyarakat khususnya
didalam negara yang bersistem
demokrasi karena korupsi yang
dilakukan oleh pejabat publik negara dapat memberikan efek buruk yang sangat besar bagi beberapa aspek seperti pelanggaran hak asasi manusia,
mengacaukan program-program
pembangunan dengan mengalihkan
19 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes. 2010. Pengantar Hukum Internasional. PT Alumni: Bandung
dana-dana yang bertujuan untuk
pembangunan, korupsi juga dapat melemahkan pemerintahan sehingga
menyebabkan kesenjangan,
mengurangi bantuan luar negeri dan berpengaruh kepada beberapa aspek
lainnya.20
Adapun kewajiban negara
dalam meratifikasi UNCAC adalah tidak hanya terbatas pada negara yang
menjadi anggota dari organisasi
UNODC yang mana UNODC sebagai
organisasi dibawah PBB yang
menaungi UNCAC. Negara yang
meratifikasi UNCAC selanjutnya
wajib mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah tertera didalam pasal UNCAC. Ketentuan tersebut secara jelas telah di cantumkan dalam Bab I mengenai ketentuan-ketentuan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi UNCAC dan juga merupakan anggota dari organisasi UNODC. Namun
sebelum diratifikasinya UNCAC,
berdasarkan laporan anti corruption clearing house (ACCH) sebenarnya terdapat 25 pasal didalam UNCAC yang sebelumnya telah ada didalam
beberapa kebijakan Indonesia.21
Sedangkan jika di bedah lagi secara garis besar beberapa pasal UNCAC yang menjadi landasan perubahan kebijakan Indonesia terkait korupsi
20 Kofi A. Nan. Kata Pengantar UNCAC. Pdf
21
tahun 2009-2013 pasca UNCAC adalah bab II dan bab III.
Indonesia sebagai aktor yang telah meratifikasi UNCAC memiliki hak yang mana juga hak tersebut telah sesuai dengan ketentuan dalam pasal-pasal didalam UNCAC. Indonesia menyatakan reservation (pensyaratan) terhadap Pasal 66 ayat (2) UNCAC
yang mengatur mengenai upaya
penyelesaian sengketa, seandainya jika diperlukan, mengenai penjelasan dan
pelaksanaan konvensi UNCAC
melalui Mahkamah Internasional.
Keputusan ini diambil sebagai sebuah pertimbangan bahwa Indonesia tidak
mau mengakui jurisdiksi yang
mengikat secara clematis (compulsory jurisdiction) dari Mahkamah
Internasional. Pensyaratan yang
diajukan oleh Indonesia telah sesuai dengan ketentuan internasional yang
berlaku.22 Persyartan yang diajukan
oleh Indonesia ini merupakan hak bagi
setiap negara berdaulat dalam
perjanjian internasional.
Selain telah menggunakan hak nya adapun kewajiban Indonesia untuk menerapkan UNCAC kedalam ranah domestik. Hal ini disebutkan dalam Legislative guide for the implementation of the United Nations Convention against Corruption Second revised edition 2012 pada bab Convention against Corruption yang menjelaskan mengenai tujuan dari
terbentuknya konvensi UNCAC,
kewajiban negara peserta, dan prinsip perlindungan kedaulatan yang sangat di utamakan dalam UNCAC.
Untuk mengadopsi perjanjian internasional kedalam regulasi suatu negara maka Indonesia sebagai negara
berdaulat tentunya memiliki
mekanisme yang berbeda.
Dalam prosesnya untuk dapat
menerapkan pasal-pasal UNCAC
kedalam regulasi domestik maka Indonesia harus membuat undang-undang yang menyatakan telah diratifikasinya UNCAC di Indonesia dengan alasan yang jelas. Sebagai mana yang telah di atur dalam UU No. 24 Tahun 2000 mengenai perjanjian internasional. Dalam prosesnya, adopsi UNCAC kedalam regulasi korupsi
Indonesia ini di awali dengan
ditandatanganinya naskah perjanjian internasional UNCAC pada tanggal 18
desember 2003 yang kemudian
diratifikasi pada tanggal 19 september
2006. 23
Menurut UU No. 24 Tahun
2000 dalam mekanisme hukum
internasional menjadi hukum nasional terdapat dua macam cara yaitu dengan undang-undang atau dengan keputusan
Presiden. 24
23
Ibid
24
Adapun Pengesahan perjanjian
internasional dilakukan melalui
undang-undang jika perjanjian
internasional mengenai :25
a. Masalah politik, perdamaian,
pertahanan, dan keamanan negara;
b. Perubahan wilayah atau penetapan
batas wilayah negara Republik
Indonesia;
c. Kedaulatan atau hak berdaulat negara;
d. Hak asasi manusia dan lingkungan
hidup;
e. Pembentukan kaidah hukum baru;
f. Pinjaman dan/atau hibah luar negeri.26
Perjanjian internasional yang tidak di sahkan melalui UU merupakan perjanjian yang tidak berkaitan dengan ke enam permasalahan tersebut. Proses adopsi dari UNCAC ini mulai di laksanakan pada tanggal 20 maret
2006 oleh parlemen Republik
Indonesia melalui sidang pleno
mengesahkan UU. No. 7 tahun 2006
mengenai pengesahan ratifikasi
UNCAC 2003 yang dilaksanakan pada
rapat paripurna DPR RI.27 Hal ini
http://prokum.esdm.go.id/uu/2000/uu-24-2000.pdf , pada tanggal 1 Febuari 2014
25
UU Republik Indonesia No. 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional, diakses dari http://prokum.esdm.go.id/uu/2000/uu-24-2000.pdf , pada tanggal 1 Febuari 2014
26
UU Republik Indonesia No. 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional, diakses dari http://prokum.esdm.go.id/uu/2000/uu-24-2000.pdf , pada tanggal 1 Febuari 2014
27 Support to fight against corruption. 2013.
Kerangka Acuan Seminar Sehari Sensitisasi Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC) ,
menunjukkan bahwa dalam
mekanismenya UNCAC di sahkan melalui UU yang harus disetujui DPR RI.
Urusan mengenai korupsi ini di serahkan pada komisi III DPR RI yang
menangani masalah:28
• Hukum,
• Ham, dan
• Keamanan.29
Secara lebih spesifik lagi dalam
mekanisme pengadopsian hukum
internasional ke dalam hukum nasional di Indonesia terdapat beberapa rapat paripurna yang harus dilakukan sampai pada akhirnya ratifikasi UNCAC di
sahkan oleh Indonesia. Adapun
tahapan tersebut antara lain diawali dengan di usulkan rancangnya UU
yang berisi mengenai
penjelasan/keterangan maupun naskah akademis yang berasal dari Presiden dan kemudian disampaikan secara tertulis kepada pimpinan DPR melalui
surat pengantar Presiden yang
selanjutnya di sampaikan dalam
bentuk tertulis kepada pimpinan DPR dengan surat pengantar Presiden serta Menteri yang mewakili presiden dalam
mengkaji RUU. 30
Dalam rapat paripurna
selanjutnya yang mana RUU diterima oleh pimpinan DPR ditindak lanjuti
28
Komisi III, diakses dari
http://www.dpr.go.id/id/Komisi/Komisi-III, pada tanggal 10 April 2014
29
Ibid
30
Pembuatan Undang-Undang, diakses dari
dengan mempublikasikan kepada
seluruh anggota. Publikasi RUU
dilakukan oleh instansi yang membuat,
dan ditindaklanjuti dengan RUU
dibahas dalam tingkat dua
pembicaraan DPR oleh Menteri yang
mewakili Presiden.31
Kemudian hasil dari adopsi regulasi pasca ratifikasi UNCAC yaitu UU No. 7 tahun 2006 di tugaskan kepada lembaga milik negara yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam penerapan UNCAC.
Hal tersebut dikarenakan KPK
merupakan salah satu lembaga yang
berhubungan langsung dengan
pemberantasan korupsi. Pemilihan
Indonesia memberikan tugas dan
tanggung jawab kepada KPK
berdasarkan UU No. 30 tahun 2000 yaitu KPK sebagai state auxiliary body yaitu lembaga khusus menangani korupsi. Selain itu latar belakang dibentuknya KPK adalah sebagai salah satu dari solusi untuk dapat menangani
dan meningkatkan pemberantasan
korupsi yang selama ini masih menjadi
permasalahan krusial bagi Indonesia.32
Namun, dalam menyelesaikan
permasalahan tindak pidana korupsi, KPK tetap melakukan kerjasama dengan institusi dalam negeri.
31
Pembuatan Undang-Undang, diakses dari
http://www.dpr.go.id/id/tentang-dpr/pembuatan-undang-undang, pada tanggal 8 april 2014
32
ACCH. Bab I: Pendahuluan, diakses dari http://acch.kpk.go.id/documents/10157/27925/ GAP+Analysis+Indonesia+terhadap+UNCAC. pdf, pada tanggal 2 febuari 2014
KPK Sebagai lembaga khusus berperan penting sebagai bagian dari keberhasilan adopsi regulasi korupsi ini khususnya korupsi yang dilakukan oleh para pejabat publik, maka dari itu KPK memiliki tanggung jawab serta
kewajiban untuk melaksanakan
pelaksanaan UNCAC di Indonesia.33
Didalam sistem operasi konsep hukum internasional, court/institution merupakan prosedur terakhir yang dapat menjelaskan mengenai adopsi regulasi UNCAC yang dipengaruhi dari faktor-faktor domestik. Dalam komponen ini menjelaskan mengenai upaya-upaya yang dilakukan oleh negara-negara peserta UNCAC dalam
menyelesaikan tindak kejahatan
korupsi pada tingkat internasional sebagai bentuk penerapan UNCAC.
Upaya-upaya tersebut berdasarkan
konsep hukum internasional Charllote Ku dan Paul F.Dheil dapat berbentuk forum dan aturan berfungsi untuk mengontrol yang nantinya akan diadili oleh lembaga pengadilan internasional yang dibentuk secara permanen.
UNCAC hingga saat ini hanya menggunakan International Court Of Justice atau Mahkaman Internasional dalam menyelesaikan sengketa dua atau lebih negara peserta mengenai
penerapan konvensi yang tidak
tercapai kesepakatan dalam
perundingan yang telah ditentukan. Hal tersebut diatur dalam pasal 66 ayat
dua mengenai penyelesaian sengketa.34
Namun dalam disini Indonesia tidak
33 Ibid
34
menginginkan adanya intervensi dari ICJ terhadap permasalahan korupsi jika suatu saat terjadi. Ketidak inginan Indonesia merupakan hak bagi negara yang mana negara dapat membatasi dampak dari ICJ dengan membuat
persyaratan.35
35
D. KESIMPULAN
Dalam penelitian ini perjanjian
internasional UNCAC merupakan
sumber hukum internasional UNODC yang menjadi pedoman bagi Indonesia untuk melakukan adopsi kebijakan
korupsi di Indonesia. Dengan
diratifikasinya UNCAC maka
Indonesia memiliki kewajiban untuk merubah perilakunya khususnya dalam bentuk regulasi korupsi. Adapun pasal UNCAC yang dijadikan landasan perubahan kebijakan korupsi Indonesia mulai tahun 2009 hingga 2013 secara eksplisit yaitu bab II dan bab III.
Dalam prosesnya, Indonesia merupakan aktor dalam perjanjian internasional yang telah meratifikasi. Indonesia sebagai aktor memiliki beberapa hak dan kewajiban yang
harus dilakukan terkait korupsi
sebagaimana telah disebutkan didalam aturan UNCAC.
Dalam yurisdiksi, terlihat
perubahan dari hukum internasional menjadi hukum domestik hal ini terlihat pada pengesahan UNCAC oleh badan legislatif Indonesia, meskipun jauh sebelum Indonesia meratifikasi UNCAC sebenarnya Indonesia telah
memiliki regulasi sendiri terkait
pemberantasan korupsi yang sejalan dengan pasal-pasal di dalam UNCAC
sehingga dapat disimpulkan jika
Indonesia telah mengadopsi UNCAC
hampir 80%. Sedangkan perubahan
kebijakan yang dilakukan pasca
meratifikasi UNCAC mulai pada tahun 2009 hingga 2013 antara lain UU No 46 tentang pengadilan tindak pidana korupsi, rencana aksi pencegahan dan
pemberantasan korupsi Instruksi
Presiden No 9 Tahun 2011, aksi
pencegahan dan pemberantasan
korupsi tahun 2012 Instruksi Presiden
No. 17 Tahun 2011, Peraturan
Presiden No. 5 Tahun 2012 mengenai strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi (STRANAS-PPK) jangka menengah dan jangka
panjang, aksi pencegahan dan
pemberantasan korupsi tahun 2013 berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2013, UU No 8 mengenai
pemberantasan tindak pidana
pencucian uang.
Dalam segi court/institution, UNCAC hingga saat ini menggunakan ICJ dan belum memiliki badan khusus untuk mengatasi permasalahan korupsi
pada jalur internasional seperti
pengembalian aset, maka untuk