Inkonsisitensi Kebijakan Luar Negeri Cina Terhadap Korea Utara Terkait Program Pengembangan Nuklir
Andhiko Satria Yusticia / 201410360311166 / TAPLN D
Abstrak
Hubungan bilateral antara Cina dan Korea Utara telah berlangsung sejak lama. Cina merupakan salah satu sekutu terdekat dan satu-satunya mitra dagang yang dimiliki oleh Korea Utara. Cina menempatkan Korea Utara sebagai Buffer State
yang cukup penting bagi kepentingan China. Hubungan bilateral kedua negara ini telah memasuki babak baru semenjak rencana pengembangan nuklir yang dimiliki
Korea Utara mulai mengancam stabilitas keamanan kawasan. Cina yang merupakan sekutu terdekat Korea Utara sekaligus merupakan salah satu negara
inti di kawasan Asia timur mengalami dilemma keamanan. Sikap dari kedua negara akhirnya menimbulkan kerenggangan dalam hubungan yang sebelumnya telah terjalin selama lebih dari setengah abad. Keputusan yang dipertimbangkan oleh kedua negara tersebut melalui perhitungan yang strategis yang didasari oleh
factor-faktor internal maupun eksternal masing-masing negara. Sikap Cina yang akhirnya tidak lagi sepenuhnya mengutamakan hubungannya dengan Korea Utara
mengindikasikan bahwa terjadi kerenggangan diantara kedua negara tersebut dan merupakan langkah awal bagi Cina untuk meningkatkan keamanan internasional
yang bebas dari penyalahgunaan nuklir.
Pendahuluan
Hubungan di negara kawasan Asia Timur seringkali mengalami dinamika perpolitikan yang mana hal ini tentu saja merupakan pengaruh dari kepentingan masing-masing negara yang selalu menyesuaikan perkembangan waktu. Selain itu terdapat beberapa negara di kawasan Asia Timur yang saling terlibat suatu konflik satu sama lainnya, seperti perseteruan di semenanjung Korea, maupun perselisihan antara Cina dengan Jepang dan beberapa negara lainnya.
Dari setiap konflik yang terjadi di suatu kawasan akan menimbulkan perubahan pola hubungan antara satu negara dengan negara lainnya. Tidak hanya mempengaruhi hubungan diantara negara yang berkonflik tetapi juga dengan negara yang berada diluar konflik yang bisa dikatakan terlibat secara tidak langsung.
Salah satu tindakan yang menyebabkan hilangnya kepercayaan suatu negara terhadap negara sekutunya adalah bahwa tindakan yang diambil negara tersebut dalam menyelesaikan konflik eksternal maupun internal-nya dianggap mampu menimbulkan ancaman yang dapat mempengaruhi kepentingan negara lainnya. Hal ini merupakan salah satu contoh dimana suatu kebijakan yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingannya bisa menjadi pemicu terjadinya kerenggangan suatu hubungan.
Membahas mengenai konflik yang terjadi di kawasan Asia Timur, maka salah satu konflik yang paling umum adalah mengenai perkembanga nuklir Korea Utara yang menyebabkan banyak perselisihan diantara negara kawasan maupun dengan negara yang berada di luar kawasan tersebut. Salah satu negara yang masih memiliki hubungan diplomatic yang cukup baik terhadap Korea Utara adalah China, dimana Cina merupakan satu-satunya mitra dagang yang dimiliki oleh Korea Utara.1
Cina yang merupakan sekutu terdekat dan mitra dagang terbesar Korea Utara utara pada periode 2009-2016 mengalami kerenggangan didalam hubungan bilateral dari perspektif strategisnya. Penyebab kerenggangan ini tidak lain disebabkan oleh sikap dari tindakan Pyongyang terhadap sanksi yang diberikan oleh PBB terkait mengenai perkembangan nuklir Korea Utara. Sikap Korea Utara
1 BBC, “Cina dan AS kerjasama tangani uji coba nuklir Korea Utara”, diakses dalam,
yang seolah mengabaikan dan tidak bertanggung jawab terhadap sanksi tersebut dinilai oleh Cina bahwa “Pyongyang berkelakuan seperti anak kecil yang manja ketika mereka mencoba mendapatkan perhatian Washington dengan mengadakan ujicoba nuklir April 2009”.2
Cina sebagai sekutu Korea Utara telah berlangsung selama lebih dari setengah abad. Cina menempatkan Korea Utara sebagai Buffer State yang cukup penting bagi kepentingan China, selain itu Cina pula telah banyak memberikan konstribusi terhadap Korea Utara disaat-saat mereka terdesak. Akan tetapi inkonsistensi luar negeri Cina menanggapi Korea Utara terkait pengembangan nuklir dan sebagai sekutu terdekat menimbulkan ketidaksenangan dari pihak Pyongyang.3 Salah satu tindakan Cina yang memancing ketidaksenangan Korea
utara adalah dimana Cina bersama AS bekerja sama mendukung sanksi dan membahas draf resolusi PBB terkait pelanggaran yang dilakukan di Korea Utara pasca peluncuran roket yang diklaim oleh Pyongyang hanya membawa satelit dan program antariksa, akan tetapi Cina yang selama ini diandalkan oleh Korea Utara untuk mencapai kepentingan stabilitas negara Korea Utara di ranah Internasional mengatakan bahwa roket tersebut adalah bagian dari pengenmbangan nuklir Korea Utara.4 Hal ini mengindikasikan bahwa Cina yang selama ini menjadi
andalan Korea Utara kini berbalik mengecam perkembangan nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara.
Inkonsistensi kebijakan luar negeri Cina terhadap pengembangan nuklir Korea Utara dan rezim yang diterapkan oleh Kim Jong Un memiliki beberapa alasan yang diantaranya adalah karena Beijing merasa gerah terhadap Pyongyang yang enggan menahan diri terkait pengembangan nuklirnya, selain itu tindakan Korea Utara terhadap dunia internasional menjadikan Korea Utara tidak lagi sebagai sekutu yang penting bagi China.
Hal yang menarik dari kasus yang akan penulis angkat adalah dinamika hubungan kedua negara di kawasan Asia Timur tersebut yang seiring waktu mengalami perubahan dan tidak pernah diduga sebelumnya, lalu apa yang
2 Devi Fitria, “Persepsi Cina Tentang Korea Utara”, diakses dalam,
http://historia.id/mondial/persepsi-china-tentang-korea-utara (16/06/2016, 19:14 WIB) 3 ibid
4 BBC, “AS dan Cina 'capai kemajuan' soal sanksi untuk Korea Utara”, diakses dalam
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160224_dunia_as_China_koreautara
melatarbelakangi sikap Cina yang akhirnya mulai mendukung penetapan sanksi terhadap negara sekutunya yang juga mengindikasikan bahwa terjadi kerenggangan dalam hubungan diantara kedua negara tersebut?. Selain itu sikap Cina yang diterima dengan baik oleh AS menjadikannya sebagai langkah awal yang baik untuk terus meningkatkan keamanan Internasional yang bebas dari penyalahgunaan nuklir atau denuklirisasi.
Tinjauan Konseptual Realisme Strategis
Ide dan asumsi dasar kaum realis adalah: (1) pandangan pesimis atas sifat manusia; (2) keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui prrang; (3) menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan klenagsungan hidup negara; (4) skeptisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang yang terjadi dalam kehidupan politik domestic.5 Pemikiran dan asumsi dasar
realis ini memberikan pengaruh terhadap pemikiran para teoritis realis klasik dan kontemporer hingga saat ini.
Dalam pemikiran kaum realis manusia diumpamakan sebagai makhluk yang pesimis, selalu merasa ternacam dan tidak ingin kepentingannya diambil oleh orang lain sehingga mereka akan terus berjuang untuk berada dalam posisi terkuat dari yang lainnya. Manusia menurut Morgenthau adalah mahluk yang haus akan kekuasaan dan politik adalah perjuangan untuk memperoleh kekuasaan tersebut dan apapun tujuan akhirnya kekuasaan adalah tujuan terpentingnya.
Kaum realis berjalan dengan asumsi dasar bahwa politik dunia berkembang dalam anarki internasional yaitu sistem tanpa adanya pemerintahan dunia. Kaum realis berpendapat bahwa negara adalah actor utama dalam politik Internasional, akan tetapi negara-negara didunia tidaklah sama melainkan dibedakan oleh seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh negara tersebut, semakin besar kekuatan atau power suatu negara maka semakin penting negara tersebut dalam politik internasional.
Dasar normative yang menggerakkan doktrin dan kebijakan luar negeri kaum realis adalah keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara. Sedangkan neorealis pada dasarnya adalah realisme konemporer yang merupakan pendekatan ilmiah dan memfokuskan pada struktur atau sistem internasional.6
Realisme strategis yang dikemukakan oleh Schellin pada dasarnya memfokuskan perhatian pada pembuatan keputusan kebijakan luar negeri. Ketika para pemimpin negara menghadapi iss-isu mendasar diplomatic dan militer mereka wajib berpikir secara strategis sebagai upaya untuk mencapai keberhasilan.
Bagi Schelling aktivitas kebijakan luar negeri secara teknis merupakan instrumental dan karenanya bebas dari pilihan moral. Hal ini bukanlah yang paling diperhatikan tentang apa yang lebih baik atau lebih buruk.
Konsep Kepentingan Nasional
Kepentingan nasional adalah prioritas sebuah negara yang ingin dicapai demi untuk memenuhi kebutuhan suatu negara yang akan dicapai/dipenuhi. Dalam hal ini kepentingan nasional yang relative tetap dan sama diantara semua negara adalah keamanan (security). Kepentingan nasional merupakan tujuan mendasar serta faktor paling menentukan yang memandu para pembuat keputusan dalam merumuskan politik luar negeri dalam mencapai Nasional Interest.7
Thomas W. Robinson menjelaskan konsep kepentingan yang dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
a. Primary Interest atau kepentingan primer, yaitu meliputi perlindungan atas identitas politik, fisik dan budaya suatu bangsa terhadap ancaman dari luar. Kepentingan primer ini tidak dikompromikan atau ditukar dengan apapun. Semua negara mempunyai satu kepentingan yang serupa dan sering dipertahankan dengan pengorbanan yang lebih besar.
b. Secondary Interest atau kepentingan sekunder, yaitu kepentingan yang berada diluar kepentingan primer, tetapi cukup memberikan kontribusi yang penting, misalnya perlindungan warga negara yang berada diluar negeri.
6 Ibid, hal 89
c. Permanent Interest atau kepentingan permanen, kepentingan yang relatif konstan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Kepentingan ini dapat berubah menurut waktu, tetapi dengan sangat lamban. d. Variabel Interest atau kepentingan variabel yaitu kepentingan yang
dipilih suatu negara pada masa tertentu sebagai kepentingan nasionalnya, atau dengan kata lain kepentingan ini dipilih berdasarkan kebutuhan.
e. General Interest atau kepentingan umum yaitu kepentingan yang dapat diterapkan oleh suatu bangsa secara positif atau suatu area geografis yang luas. Atau sejumlah besar bangsa, atau atas sejumlah bidang yang spesifik seperti ekonomi, perdagangan, campur tangan diplomatik dan hukum internasional.
f. Spesific Interest atau kepentingan khusus yaitu kepentinga-kepentingan positif yang tidak termasuk kepentinga-kepentingan umum, namun biasanya ditentukan dari sana dan lebih berkaitan dengan satu daerah tertentu.8
Analisis
Pola Kebijakan Luar Negeri terhadap Korea Utara
Sikap yang diambil oleh Cina untuk Menghadapi Korea Utara mengalami dilemma dimana di satu sisi Cina merupakan sekutu terdekat yang dimiliki oleh Korea Utara tetapi disisi lain Cina sudah tidak lagi menganggap Korea memiliki arti penting bagi Cina di karenakan sikap Korea Utara yang mengancam kedamaian di kawasan asia timur. Berbagai macam tindakan yang telah diambil oleh Cina terkait perkembangan nuklir Korea Utara yang menentang perdamaian internasional, namun sikap Cina di nilai oleh Korea Utara tidak konsisten terhadap kebijakan-kebijakan sebelumnya yang cenderung memihak kepada Korea Utara.
Selain itu kedekatan yang terlihat antara Cina dengan AS membuat Korea Utara semakin enggan untuk menormalisasikan hubungannya dengan China. Maka dari itu bisa dilihat bahwa kerenggangan hubungan antara Cina dan Korea Utara tidaklah berasal dari satu pihak tetapi juga berakar kepada pihak lainnya
sehingga kerenggangan yang terlihat mungkin akan semakin melebar tergantung bagaimana tanggapan kedua negara tersebut menghadapi permasalahan yang timbul akibat renggangnya hubungan ini.
Saat Cina mengatakan bahwa Korea Utara tidak lagi menjadi sekutu terpentingnya maka kedudukan Cina sebagai sekutu Korea Utara berada pada posisi ketiga setelah Russia dan Kuba. Walaupun begitu bukan berarti Cina tidak lagi membutuhkan posisi Korea Utara bagi kepentingan negaranya sepenuhnya akan tetapi masih terdapat beberapa kepentingan yang tetap ingin dioptimalkan oleh Cina yaitu seperti posisi Korea Utara sebagai Buffer State dan didalam hubungan bilateral dari perspektif strategis China.
Cina bersikap dualisme terhadap perkembangan nuklir Korea Utara dimana disisi lain Cina mengecam hal tersebut, namun disisi lain Cina merasa keberatan atas sanksi yang dijatuhkan oleh PBB terhadap Korea Utara. Menurut Yuliantoro dalam bukunyayang berjudul “Menuju Kekuaatan Utama Dunia” ia mengatakan bahwa ada tiga kepentingan utama Cina dalam menjalin kerjasama terhadap Korea Utara, yang pertama adalah menjaga rezim komunis di Korea Utara agar tidak runtuh karena jika hal tersebut tidak dilakukan dan reunifikasi Korea jatuh di tangan Korea Selatan maka akan mejadi sulit bagi Cina untuk mengimbangi koalisi AS dan Korea Selatan, kepentingan lainnya adalah untuk menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan terhadap Korea Selatan, lalu yang terakhir adalah mengupayakan terjadinya reunifikasi Korea yang tentunya diharapkan jatuh di tangan komunis Korea Utara
Pengambilan keputusan oleh Cina mengenai kebijakan luar negerinya bukan hanya sekedar didasari atas ketidaksenangan terhadap tindakan Korea Utara yang dinilai terlalu terburu-buru dan agresif, akan tetapi pengambilan keputusan tersebut juga didasari oleh posisi Cina dalam politik kawasan maupun dalam politik internasional. Posisi Cina yang memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Timur membuat Cina merasa harus bertanggung jawab dan turut andil dalam perdamaian yang bertaraf regional maupun internasional. Selain itu pengambilan keputusan tersebut juga tidak lepas dari pengaruh politk domestic itu sendiri yang mendapat banyak masukan dari berbagai macam pihak dan kepentingan nasional.
termasuk dalam kepentingan khusus, specific interest yang dimiliki China, dimana pemerintahan Cina mendukung Kim Jong Un memimpin Korea Utara, karena dianggap dapat membawa perubahan internal maupun eksternal di korea Utara yang secara tidak langsung meningkatkan posisi Cina di lingkukan internasional. dalam menyelesaikan permasalaha peluncuran roket Cina lebih mengutamakan mekanisme diplomasi daripada penekanan dengan sanksi yang keras ataupun agresi yang diinginkan oleh PBB dan Amerika Serikat, Cina sendiri memiliki suatu kepentingan khusus dibalik reaksinya dalam menyelesaikan ketegangan di Semenanjung Korea, sehingga Cina terus mempertahankan eksistensinya dari negara-negara yang contra terhadap Korea Utara.
Kesimpulan
Bedasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti, peneliti menyimpulkan bahwa ada sikap inkonsistensi Cina dalam menentukan sikap atau kebijakan luar negerinya terhadap Korea Utara terkait masalah pengembangan nuklirnya. Factor-faktor yang mempengaruhi sikap atau kebijakan luar negeri Cina adalah kepentingan nasional yang bertujuan untuk mempertahankan eksistensi Cina di kawasan maupun di kancah internasional, lalu factor eksternal dipengaruhi oleh adanya dukungan dari AS agar Cina dapat bekerjasama untuk menangani uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara demi menciptakan stabilitas keamanan internasional. Terdapat dualisme dalam kebijakan Cina tersebut yang mana di satu sisi Cina mencoba untuk mempertahankan hubungannya dengan Korea Utara sebagai Buffer State dengan mengutamakan mekanisme diplomasi daripada penekanan dengan sanksi yang keras ataupun agresi yang diinginkan oleh PBB dan Amerika Serikat, akan tetapi di sisi lain sikap yang ditunjukkan oleh Korea Utara dalam menghadapi sanksi yang diberikan padanya membuat Cina merasa resah karena sikap Pyongyang yang terkesan tidak bertanggungjawab sehingga membuat Cina semakin mendukung sanksi dan membahas draf resolusi PBB terkait pelanggaran yang dilakukan di Korea Utara pasca peluncuran roket yang diklaim oleh Pyongyang hanya membawa satelit dan program antariksa.
BBC, Cina dan AS kerjasama tangani uji coba nuklir Korea Utara, diakses dalam,
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160401_dunia_as_China_nuklir
BBC, AS dan Cina 'capai kemajuan' soal sanksi untuk Korea Utara, diakses dalam
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160224_dunia_as_China_koreautar a
Devi Fitria, Persepsi Cina Tentang Korea Utara, diakses dalam,
http://historia.id/mondial/persepsi-china-tentang-korea-utara
Jack C. Plano dan Roy Olton, Kamus Hubungan Internasional, Terjemahan, Wawan Juanda, Putra A. Bardin, Jakarta, 1999.
Edward, David V., The American Experience : An introduction American Political Experience Third edition, Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc, 1982.