• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya Kepemimpinan dan Kepemimpinan Efekt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gaya Kepemimpinan dan Kepemimpinan Efekt"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan. Banyak orang mengatakan bahwa pada zaman sekarang sangat sulit mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada zaman sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang perduli pada kepentingan orang lain, dan kepentingan lingkungannya. Krisis kepemimpinan ini disebabkan karena makin langkanya keperdulian pada kepentingan orang banyak, dan kepentingan lingkungannya.

Sekurang-kurangnya terlihat ada tiga masalah mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen. Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memikirkan dan mencari pemecahan masalah kemaslahatan bersama, masalah harmoni dalam kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya dengan kemampuan untukmenegakkan etika memikul amanah, setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam memikul tugas dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam menolak godaan dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin kompleks dan rumit.

Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang harus belajar, harus membaca, harus mempunyai pengetahuan mutakhir dan pemahamannya mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpin. Juga pemimpin itu harus memiliki kredibilitas dan integritas, dapat bertahan, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Kalau tidak, pemimpin itu hanya akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau bahan tertawaan dikemudian hari.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang dapat penulis jabarkan adalah sebagai berikut :

1. Apa dan bagaimana gaya kepemimpinan? 2. Apa arti kepemimpinan efektif?

(2)

4. Bagaimana perilaku pemimpin?

5. Bagaiman cara mengambil keputusan seorang pemimpin?

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui gaya kepemimpinan yang efektif. 2. Untuk mengetahui arti kepemimpinan efektif.

3. Untuk mengetahui apa saja kriteria seorang pemimpin. 4. Untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI KEPEMIMPINAN

Secara umum, kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang akan dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan (Power). Pemimpin mempunyai power yang lebih besar dibandingkan dengan yang dipimpin.

Kepemimpinan memainkan peranan penting dalam organisasi, berhasil tidaknya suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut. Di samping itu faktor yang sangat berperan penting adalah faktor kepemimpinan. Peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan. Seorang pemimpin itu adalah berfungsi untuk memastikan seluruh tugas dan kewajiban dilaksanakan di dalam suatu organisasi. Seseorang yang secara resmi diangkat menjadi kepala suatu group I kelompok bisa saja ia berfungsi atau mungkin tidak berfungsi sebagai pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang unik dan tidak di wariskan secara otomatis tetapi seorang pemimpin haruslah memiliki karekteristik tertentu yang timbul pada situasi -situasi yang berbeda.

Menurut Edwin A. Locke (1991) terdapat empat kunci untuk memimpin dengan sukses yang ditunjukkan dalam model kepemimpinan, empat kunci ini adalah

1. Alasan dan sifat-sifat pemimpin

2. Pengetahuan, keahlian, dan kemampuan 3. visi

4. implementasi dari visi

Robbins dan Judge (2009) Mendefinisikan Kepemimpinan sebagai " ...The Ability To Influence a Group Toward The Achievement Of A Vision Or Set of Goals". Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran.

(4)

B. GAYA KEPEMIMPINAN

Pemimpin itu memepunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian yang unik, khas sehingga tingkah laku dan gayanya yang membedakan diriya dari orang lain. Sehingga muncullah beberapa tipe kepemimpinan. Misalnya tipe karismatis, paternalistis, militeristis, otokratis, laissez faire, populis, administratif, dan demokratis.

W.J Reddin (Kartini Kartono, 2011) dalam artikelnya What Kind of Manager, menentukan watak dan tipe pemimpin atas tiga pola dasar, yaitu:

• - Berorientasikan tugas (task orientation),

• - Berorientasikan hubungan kerja (relationship orientation), • - Berorientasikan hasil yang efektif (effectivess orientation.

Berdasarkan hasil penonjolan ketiga orientasi tersebut, dapat ditentukan delapan tipe kepemimpinan, yaitu:

1. Tipe deserter (pembelot)

Sifatnya bermoral rendah, tidak memiliki rasa keterlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas dan ketaatan, sukar diramalkan.

2. Tipe birokrat

Sifatnya: correct, kaku, patuh pada peraturan dan norma, ia adalah mansia oragnisasi yang tepat, cermat, berdisiplin, dan keras

3. Tipe misionaris (missionary)

Sifatnya: terbuka, penolong, lembut hati, ramah-tamah. 4. Tipe developer (pembangunan)

Sifatnya: kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan terhadap bawahan.

5. Tipe otokrat

Sifatnya: keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel.

6. Benevolent autocrat (otokrat yang bijak)

Sifatnya: lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.

6. Tipe compromiser (kompromis)

Sifatnya: plintat-plintut, selalu mengikuti angin tanpa pendirian, tidak mempunyai keputusan, berpandangan pendek dan sempit.

7. Tipe eksekutif

(5)

Kepemimpinan merupakan salah satu kunci dalam menentukan terciptanya efisiensi dan efektivitas kerja, serta peningkatan kinerja bawahan. Pimpinan dapat berhasil mengelola suatu organisasi yang di kelolanya, bila pemimpin dapat berperan dengan baik dan menggunakan gaya kepemimpinan secara tepat.

Gaya kepemimpinan menurut Gibson dkk (1997:7) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu usaha menggunakan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk memotifasi individu dalam mencapai tujuan.

Secara umum, Adapun Macam - Macam Gaya Kepemimpinan adalah :

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian, adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic, adalah gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire, adalah suatu gaya yang pemimpinnya hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.

Ada 4 gaya kepemimpinan berdasarkan kepribadian. Adapun gaya kepemimpinan tersebut adalah:

1. Gaya Kepemimpinan Karismatis

2. Gaya Kepemimpinan Diplomatis

3. Gaya Kepemimpinan Otoriter

4. Gaya Kepemimpinan Moralis

1. GAYA KEPEMIMPINAN KARISMATIS

(6)

Biasanya pemimpin dengan gaya kepribadian ini visionaris. Mereka sangat menyenangi perubahan dan tantangan.

Mungkin, kelemahan terbesar tipe kepemimpinan model ini bisa di analogikan dengan peribahasa Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Mereka mampu menarik orang untuk datang kepada mereka. Setelah beberapa lama, orang – orang yang datang ini akan kecewa karena ketidak-konsisten-an. Apa yang diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta pertanggungjawabannya, si pemimpin akan memberikan alasan, permintaan maaf, dan janji.

2. GAYA KEPEMIPINAN DIPLOMATIS

Kelebihan gaya kepemimpinan diplomatis ini ada di penempatan perspektifnya. Banyak orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu sisi keuntungan dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya pemimpin dengan kepribadian putih ini yang bisa melihat kedua sisi, dengan jelas! Apa yang menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya.

Kesabaran dan kepasifan adalah kelemahan pemimpin dengan gaya diplomatis ini. Umumnya, mereka sangat sabar dan sanggup menerima tekanan. Namun kesabarannya ini bisa sangat keterlaluan. Mereka bisa menerima perlakuan yang tidak menyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Dan seringkali hal inilah yang membuat para pengikutnya meninggalkan si pemimpin.

3. GAYA KEPEMIMPINAN OTORITER

Kelebihan model kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu adalah harga mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Langkah – langkahnya penuh perhitungan dan sistematis.

Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan pemimpin dengan kepribadian merah ini. Mereka sangat mementingkan tujuan sehingga tidak pernah peduli dengan cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya.

4. GAYA KEPEMIMPINAN MORALIS

(7)

Kelemahan dari pemimpinan seperti ini adalah emosinya. Rata orang seperti ini sangat tidak stabil, kadang bisa tampak sedih dan mengerikan, kadang pula bisa sangat menyenangkan dan bersahabat.

Dari macam – macam gaya kepemimpinan di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki 3 pola dasar, yaitu :

• Mementingkan pelaksanaan tugas; • Mementingkan hubungan kerjasama; • Mementingkan hasil yang dicapai.

Ada beberapa gaya dalam kepemimpinan yang dibahas menurut Owens (dalam Kartini; 1983:18), sebagai berikut :

1. Gaya kepemimpinan autokratis

Gaya autokratis memiliki wewenang (authority), dari sesuatu sumber (misalnya, karena posisinya), pengetahuan, kekuatan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan ataupun menghukum. Pengunaan authority ini sebagai pegangan atau hanya sebagai alat/metoda agar sesuatunya dapat dijalankan. Apa yang dilakukan oleh pemimpin dengan gaya ini hanyalah memberitahukan apa tugas-tugas karyawan. Setiap gaya kepemimpinan pada hakekatnya bersifat netral, artinya bahwa kekuatan maupun kelemahan dari setiap gaya kepemimpinan itu banyak ditentukan oleh kapan dan bagaimana seorang Pemimpin menerapkannya setelah memahami personalitas dirinya sendiri serta situasi yang sedang dihadapi.

a) Kelemahan gaya kepemimpinan autokratis

Efisiensi yang tampak, adanya komunikasi satu arah sering hanya merupakan efisiensi yang semu (a false effeciency). Komunikasi satu arah tanpa adanya umpan balik akan menimbulkan kesenjangan dalam proses.

Kelemahan yang paling kritis bagi kepemimpinan ini terletak pada dampaknya terhadap para anggota (bawahan) nya. Bila pimpinan atau manager kurang mampu membaca situasi yang sedang dihadapinya, para pekerja (karyawan) yang telah terdidik dan terlatih akan menentangnya, baik secara terbuka ataupun diam-diam, gaya kepemimpinan ini dirasakan sesuatu yang mengabaikan harga diri dan perasaan orang lain. Akibatnya, gaya ini hanya akan menghasilkan moral karyawan yang rendah serta dengan sendirinya produktifitasnya menjadi rendah pula.

(8)

Menjamin terjaganya kekonsistensian kebijakan dan prosedur-prosedur kegiatan yang memang dapat menjadi faktor-faktor yang kritis dalam industri- industri, misalnya urusan personalia demi keadilan dan pemerataan maka aplikasi yang konsisten dari peraturan-perturan karyawan tidak dapat dihindarkan oleh si pemimpin atau manager.

2. Gaya kepemimpinan birokratis

Gaya kepemimpinan birokratis ini yang sama dengan autokratis, yaitu dengan sistem transparansi dengan karyawan (bawahan) apa dan bagaimana sesuatu itu dijalannkan atau dilaksanakan. Ciri khusus gaya ini adalah pada pandangannya bahwa semua aturan/ketentuan organisasi adalah absolut, artinya si pemimpin memanej bawahannya dengan berpegang penuh pada aturan-aturan yang telah ditetapkan dan tidak diperkenankan adanya pengecualian sedikitpun, termasuk hal-hal yang menyangkut aspek-aspek teknis.

a) Kelemahan gaya birokratis

Gaya ini sangat mengandung kekuatan (inflekxiliti) dalam situasi-situasi di mana diperlakukan adanya pengecualian terhadap aturan permainan tadi,. Demikian pula akan terjadi semacam kelumpuhan (paralysis) kebijakan dan operasional dalam situasi yang tidak ditetapkan ataupun ketentuan yang ada bernada ambigous. Dalam situasi seperti ini, biasanya, para pimpinan atau manager kurang mampu mengambil keputusan (judgement) mereka atas situasi khusus tadi. Sehingga orang-orang (bawahan) yang bekerja dalam situasi seperti itu akan merosot moralnya, menentang dengan terang-terangan ataupun diam- diam atas kebijakan gaya kepemimpinan birokratis tadi, dan dengan sendirinya produktivitas kerjanya menurun.

b) Keuntungan gaya birokratis

Menjamin terjaganya segala pelaksanaan peraturan-peraturan yang ada. Apabila ini berjalan dengan baik maka para anggota atau karyawan tahu benar di mana posisi mereka harapkan dan ramalkan, serta akan merasa aman, tentram dan diperlakukan secara obyektif.

3. Gaya kepemimpinan diplomatis

Gaya kepemimpinan ini, adalah wewenang atau kekuasaan yang jelas tetapi kurang suka mempergunakan kekuasaannya itu. Pada prakteknya lebih suka memotivasi bawahannya secara persuasif. Artinya bahwa alat utamanya untuk menggerakkan orang lain adalah melalui persuasif dan motivasi akan terpaksa memakai gaya autokratis walaupun sebenarnya ingin dihindari.

(9)

Gaya kepemimpinan diplomatis ini,memungkinkan seorang pemimpin atau manager kurang dihargai (lose respect) oleh bawahannya, sebab pemimpin terlalu terbuka dengan bawahan dan dapat memastikan semua orang, akan menyetujui sikap, keyakinan, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai yang dianutnya.

b. Keuntungannya

Gaya ini menggunakan pendekatan yang sifatnya persuasif serta dengan adanya kebebasan, sekalipun terbatas, pada karyawan ataupun orang yang diajak bekerja sama dan melaksanakan tugasnya lebih bergairah lagi. Bagaimana seorang Pimpinan dapat memberikan penghargaan atas eksistensi bawahan, sehingga bawahan meresponsnya secara positif serta mau bekerja secara antusias.

4. Gaya kepemimpinan partisipatif

Gaya ini (participative leader) selalu mengajak, secara terbuka, para anggota atau bawahannya untuk berpartisipasi atau ambil bagian, baik secara luas ataupun dalam batas-batas tertentu, dalam pengambilan keputusan, perumusan kebijakan, dan metode-metode operasionalnya.

a. Kelemahannya

Gaya kepemimpinan ini menggunakan waktu yang kurang efisien, sehingga dapat mengakibatkan kehilangan kendali managerial. Misalnya, orang akan cenderung merespons negatif atas ajakan memberikan saran bilamana saran-saran yang telah diberikan selalu diabaikan atau ditolak oleh pimpinan.

b. Keuntungannya

Pada gaya ini seorang pemimpin dapat menciptakan suatu iklim (suasana) bagi karyawan yang dengan mudah mengeluarkan semua kemampuannya (their power) yang telah dimotivasi, serta berjuang untuk, tujuan yang telah di ciptakan sendiri (melalui keputusan bersama).

5. Gaya free rein leader

Gaya seorang pemimpin yang memberikan kebebasan pada bawahan, bertindak tanpa pengarahan ataupun kontrol lebih lanjut, kecuali bila mereka sendiri memintanya.

a. Kelemahannya

(10)

b. Keuntungannya

Keuntungan gaya kepemimpinan ini, adalah kerena lebih menitik beratkan pada pendayagunaan waktu dan resources secara optimal.

C. FUNGSI KEPEMIMPINAN

Organisasi hanya dapat dilaksanakan secara baik bila seorang pemimpin menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Adapun fungsi-fungsi kepemimpinan itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Fungsi perencanaan

Seorang pemimpin perlu membuat perencanaan yang menyeluruh bagi organisasi dan bagi diri sendiri selaku penanggung jawab tercapainya tujuan organisasinya.

2. Fungsi memandang ke depan

Seorang pemimpin senantiasa memandang ke depan berarti akan mampu meneropong apa yang akan terjadi serta selalu waspada terhadap segala kemungkinan.

3. Fungsi pengembangan loyalitas

Pengembangan kesetiaan ini tidak saja diantara pengikut, tetapi juga untuk para pemimpin tingkat rendah dan menengah dalam organisasi.

4. Fungsi Pengawasan

Fungsi pengawasan merupakan fungsi pemimpin untuk senantiasa meneliti kemajuan pelaksanaan rencana.

5. Fungsi mengambil keputusan

Pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang tidak mudah dilakukan. Oleh sebab itu banyak pemimpin yang menunda untuk melakukan pengambilan keputusan, bahkan ada pemimpin yang tidak berani mengambil keputusan.

6. Fungsi pemeliharaan

Fungsi ini mengusahakan kepuasan batin bagi pemeliharaan dan pengembangan kelompok untuk kelangsungannya.

Seorang pemimpin perlu selalu bersikap penuh perhatian terhadap anak buahnya. Pemimpin harus memberi semangat, membesarkan hati,

(11)

7. Fungsi menjalankan tugas

Fungsi ini harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya Sudirman (1999:121), mengemukakan bahwa kepemimpinan memiliki fungsi-fungsi, sebagai berikut :

1. Kepala sebagai pengambil keputusan; 2. Pengembangan imajinasi;

3. Pendelegasian wewenang kepada bawahan; 4. Pengembangan kesetian kepada bawahan;

5. Pemrakarsaan, penggiatan dan pengendalian rencana-rencana; 6. Pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya; 7. Pelaksanaan keputusan dan pemberian motivasi para pelaksana; 8. Pelaksanaan kontrol dan perbaikan kesalahan-kesalahan;

9. Pemberian tanda penghargaan kepada bawahan yang berprestasi; 10.Pertanggung jawaban semua tindakan.

Defenisi tersebut menyiratkan bahwa fungsi kepemimpinan lebih dititikberatkan pada tugas-tugas seorang pemimpin. Setiap pemimpin dalam menyelenggarakan fungsi serta peran yang diemban sudah dipastikan memiliki sejumlah kompetensi ataupun kemampuan dalam mengendalikan semua pihak/komponen yang menjadi bawahannya. Pemimpin dituntut pula dapat memberikan apresiasi kepada semua pihak/bawahan yang berdedikasi dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Kaitannya dengan penelitian ini, maka kepemimpinan kepala desa menyangkut usaha-usaha kepala desa dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan dan pemerintahan desa, dengan melibatkan aparat desa serta komponen masyarakat lainnya (BPD).

Pembahasan lebih lanjut mengenai kepemimpinan dikemukakan oleh Tirayoh (2005:133-134), yang mengemukakan bahwa indikator yang dapat digunakan sebagai alat ukur dalam keberhasilan pemimpin dalam suatu organisasi publik, sebagai

berikut :

1. Meningkatnya hasil-hasil produksi dan pemberian pelayanan oleh organisasi (baik aspek ekonomis maupun sosial);

2. Semakin rapihnya sistem administrasi dan semakin efektifnya manajemen, yang meliputi :

1. a) Pengelolaan SDM, alam, dana, sarana dan prasarana dan waktu yang makin efektif dan efisien;

(12)

3. c) Struktur organisasi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan ada integrasi dari semua bagian;

4. d) Organisasi dengan cepat dan tepat menyesuaikan diri pada tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi (masyarakat, situasi, dan kondisi sosial politik dan ekonomis)

3. Semakin meningkatnya aktivitas-aktivitas manusiawi atau aspek sosial yang lebih ’human’ sifatnya, antara lain berupa :

1. a) Terdapat iklim psikis yang mantap sehingga orang merasa aman, dan senang bekerja;

2. b) Ada disiplin kerja, disiplin diri, rasa tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi;

3. c) Terdapat suasana saling mempercayai, kerjasama kooperatif, etika kerja yang tinggi;

4. d) Komunikasi formal dan non formal yang lancar;

5. e) Ada kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi; 6. f) Tidak banyak terjadi penyelewengan dalam organisasi;

7. g) Ada jaminan-jaminan sosial yang memuaskan.

E. KEPEMIMPINAN EFEKTIF

Menjadi pemimpin yang baik bukanlah mudah. Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang keras, yang suka marah dan yang ditakuti. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memimpin pengikutnya mencapai suatu tujuan tertentu.

Untuk menjadi seorang pemimpin banyak hal yang harus diperhatikan.Adapun hal – hal tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kriteria Seorang Pemimpin

Siapa orang yang bisa diangkat atau dipilih untuk menjadi pemimpin? Untuk menjawab pertanyaan ini perlulah kita menentukan kriteria yang akan dipakai untuk memilih pimpinan tersebut. Seorang pemimpin itu haruslah paling sedikit mampu untuk memimpin para bawahan untuk mencapai tujuan organisasi dan juga mampu untuk menangani hubungan antar karyawan. Mempunyai interaksi antar personnel yang baik dan mempunyai kemampuan untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebagian sifat yang berguna bagi pemimpin yang dapat dipertimbangkan adalah :

(13)

b. Kemampuan Untuk Bisa ”Perceptive” (cepat mengerti) c. Kemampuan untuk bersikap Objektif.

d. Kemampuan Untuk Menentukan Perioritas e. Kemampuan untuk berkomunikasi

2. Perilaku Pemimpin

Pemimpin yang efektif kelihatannya tidak mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan mereka yang tidak efektif sehingga para ahli perilaku management tidak lagi meneliti tentang apa persayaratan ( kriteria ) seorang pemimpin yang efektif melainkan para ahli ini meneliti tentang hal-hal yang dilakukan oleh pemimpin yang efektif.Bagaimana mereka mendelegan tugas,bagaimana mereka mengambil keputusan, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi para bawahan Seorang pemimpin memang harus memiliki Kwalitas tertentu ( Kriteria tertentu ) namun disamping itu ada suatu cara terbaiak untuk memimpin tidak seperti kwalitas pemimpin, maka perilaku pemimpin merupakan sesuatu yang dapat dipelajari, jadi seseorang yang dilatih dengan kepemimpinan yang tepat akan bisa menjadi pemimpin yang efektif.

Pemimpin yang baik harus mempunyai karakter sebagai berikut

1. Mempunyai karisma

Pemimpin yang mempunyai karisma akan memudahkan mengarahkan staf atau pengikutnya. Pemimpin yang tidak berkarisma akan kesulitan mengarahkan staf atau pengikutnya.

2. Mempunyai integritas

Pemimpin harus mempunyai integritas dalam memimpin. Pemimpin harus setia terhadap nilai-nilai yang ditanamkan kepada pengikutnya

3. Mempunyai dedikasi

Pemimpin yang berdedikasi akan mengerjakan visinya dengan kerja keras dan penuh semangat. Dedikasi yang dia kerjakan akan ditularkan kepada stafnya 4. Bisa mengambil keputusan

Pemimpin harus bisa dan berani mengambil keputusan secara cermat. Untuk dapat mengambil keputusan secara cermat pemimpin harus memperhatikan banyak aspek dalam memutuskan.

5. Mau membantu

Pemimpin yang baik harus mau membantu memecahkan masalah yang dihadapinya

6. Bekerja tidak hanya memerintah

(14)

7. Mau mendengarkan

Pemimpin yang baik harus mau mendengarkan masukan dan keluhan dari stafnya. Pemimpin tidak harus setuju terhadap pendapat dari staf, tetapi harus menghargai setiap pendapat.

Tentu saja tidak semua pemimpin memiliki 7 karakter di atas secara penuh. Tetapi setiap pemimpin paling tidak berusaha di setiap point di atas. Kekurangan di satu point dapat ditutup oleh point yang lain. Misalnya dia tidak mempunyai karisma, tetapi jika dia mempunyai integritas dan dedikasi yang kuat maka dedikasi dan integritas ini dapat menutupi kekurangan di point karisma.

Pemimpin yang efektif dan bawahan yang termotivasi akan berdampak positif ke dalam dan luar perusahaan. Efektif diartikan memberikan dampak positif, orientasi hasil, produktif, berdaya guna dan berkeinginan kuat untuk sukses.

Pemimpin dan bawahan ibarat Yin dan Yang, dua karakter berbeda dan bertolak belakang. Jika dipadukan dengan benar akan menciptakan situasi dinamis, sinergi positif dan kekuatan besar. Maka 8 sikap kepemimpinan yang efektif dapat dipelajari berikut ini:

1. Vision

Pemimpin yang ingin sukses membutuhkan visi, agar arah dan tujuan perusahaan terlihat jelas sekarang dan mendatang. Pemimpin yang efektif selalu berupaya menanamkan visi kepada karyawannya agar pikiran dan tindakan selaras dan konsisten dengan tujuan perusahaan. Pemimpin yang visioner akan membuat karyawannya bergerak dengan semangat tinggi dan bergelora dalam bekerja.

2. Transformational

Kepemimpinan yang membangun dan servant leadership (pemimpin yang melayani) akan mengungkit motivasi bawahannya. Pemikiran yang transformasional menjadikan tim kerjanya bergerak dan berubah lebih cepat demi meraih kemajuan.

3. Balancing Between Reward and Punishment.

(15)

4. Good Listener

Pemimpin yang efektif akan meramu semua informasi yang didengar dari semua pihak tanpa kecuali. Kemudian menganalisis sesuai dengan kenyataan di lapangan dan mengambil tindakan.

5. Anger Management

Ketika perusahaan mengalami hambatan dan masalah, pemimpin dapat melakukan dorongan lebih keras seperti ekspresi marah. Mengelola kemarahan atau anger management memerlukan kontrol emosi yang cerdas. Artinya, ekspresi marah dituangkan sebagai bentuk shock therapy dan lecutan agar semua orang sadar akan situasi yang buruk dan bergerak melakukan pembenahan.

6. Discipline Oriented

Disiplin bisa dijadikan budaya perusahaan karena mengandung makna positif dan membangun. Disiplin akan mengangkat moral karyawan dalam pekerjaan dengan fokus kepada sasaran yang hendak dicapai.

7. Cybernetics Control

Metode kontrol ini seperti jaringan atau sibernetika yang berkesinambungan dan saling terhubung antara informasi yang satu dengan lainnya. Dengan melihat langsung ke lapangan akan mempertajam dan melengkapi intuisinya sebagai pendengar yang baik.

8. Meritocracy

Pemimpin yang efektif akan menciptakan karyawan sebagai aset bernilai tinggi dan ujung tombak perusahaan. Maka penempatan karyawan andal dapat dilakukan melalui sistem meritokrasi yaitu berdasarkan kemampuan, prestasi, dan talenta.

(16)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dan resiko yang timbul sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin harus punya pengetahuan, keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan yang bersangkutan. Untuk itu seorang pemimpin setidaknya harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa "perceptive" dan objektif. Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan dengan sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu apakah gaya autokratis, gaya partisipatif dan bahkan gaya Free Rein yang sesuai dengan situasi dan lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian pencapaian tujuan dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.

B. SARAN

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Ambarita, Biner dkk, 2014, Perilaku Organisasi, Penerbit Alfabeta, Bandung

Aun Falestian Faletehan. 2006. Dasar-dasar manajemen. Fakultas Dakwah. IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Drs. Mamduh. M Hanafi, MBA. 1987. Manajemen. Yogyakarta : Percetakan akademi manajemen perusahaan YKPN

Drs.Amin Tunggal Ak MBA. 2002 Manajemen Sutatu Pengantar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Heidjrachman Ranupandojo. Suad Husnan. 1996. Manajemen Personalia, BPFE.Yogyakarta

Drs. Ec. Alex S. Natisemito. 1989. Manajemen Statu Dasar danPengantar. Yakarta : Balai Aksara. Yudhistira. dan Pustaka Saadiyah.

Robert J. Thie Rauf, 1984. Effective Management Information Systems. E. Merril Publishing Co. Ohio. USA.

Robert Albanese, David D. Van Fleet, 1984. Organizational Behavior. A Managerial View point. Dryden Press. Texas.

M. Manulang. 1990. Manajemen Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Saul. W. Gellerman, 1983. Manajer dan bawahan, Seri Manajemen No 83, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. (LPPM).

Winardi, 1990. Manajemen Personalia, Bandung : Abardin,

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin yang “memotivasi kita untuk berbuat lebih daripada apa yang

Kepemimpinan yang efektif dapat tercipta apabila seorang pemimpin/kepala madrasah memiliki sifat, perilaku, dan keterampilan yang baik untuk memimpin organisasi

Perilaku pemimpin yang berorientasi pada hubungan akan efektif dalam. situasi yang moderat misalnya pemimpin yang menghadapi situasi

Dahlan Iskan juga menggunakan pendekatan sikap yang lebih menekankan pada sifat pemimpin-seperti kepribadian, motivasi, nilai dan keterampilan- yang menentukan efektivitas

Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik,

Tipe kepemimpinan ini menghimpun sejumlah perilaku atau gaya kepemimpinan yang bersifat terpusat pada pemimpin (sentralistik) sebagai satu-satunya penentu, penguasa

Artinya tidak ada perbedaan semangat kerja antara karyawan yang mempunyai pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang beroreintasi hubungan, dengan karyawan yang mempunyai

Dari perilaku organisasi juga terdapat kepemimpinan dalam organisasi yang berisi tentang kepercayaan bukan hanya untuk pemimpin organisasi saja, tetapi terhadap semua kalangan yang ada