Peran Satelit dalam Perkembangan Ekosistem Jaringan 5G di Indonesia
Luthfijamil Setiawan Sastrawidjaja/1706083655 Management dan keekonomian proyek teknik
Dosen : DR Ir Iwan Krisnadi MBA
Abstract
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebentar lagi akan melangkah ke dalam teknologi 5G, yang digadang akan memberikan banyak perubahan terhadap pola hidup masyarakat. Kehadiran teknologi 5G juga diprediksi akan semakin
mengembangkan teknologi Internet of Things (IOT) ke level yang lebih tinggi lagi. 5G juga dinilai akan membuat suatu value baru yang akan semakin mengembangkan perkonomian. Dalam pengimplementasianya terdapat issue seperti akan dialokasikan dimana spektrum frekuensi 5G, yang kita ketahui sendiri bahwa spektrum frekuensi merupakan salah satu resource dalam teknologi informasi dan komunikasi yang terbatas.Oleh karena itu konvergensi antar jaringan menjadi solusi dari keterbatasan spektrum frekuensi ini. Di dalam jurnal ini akan dibahas tentang bagaimana peran yang bisa di dapatkan satelit dengan teknologi high throughput satellitenya di dalam ekosistem jaringan 5G, sebagai salah satu solusi dalam terbatasnya spektrum frekuensi. Pada jurnal ini juga akan dibahas bagaimana keuntungan dan tantangan dengan menerapkan satelit dalam ekosistem jaringan 4G.
Keywords : Satelit HTS, Teknologi 5G, Spektrum Frekuensi, Konvergensi Network 1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada abad ke 20 ini berkembang dengan pesat. Perkembangan yang pesat ini di dorong dari perubahan gaya hidup yang terjadi pada masyarakat secara umumnya Dimana gaya hidup masyarakat berkembang menjadi serba praktis dan serba cepat. Perubahan tersebut mendorong lahirnya teknologi seperti 4G yang memiliki kapasitas yang besar, kecepatan transfer data yang cepat dan latency yang rendah. Bahkan tak puas dengan 4G sebentar lagi di prediksi mulai bermunculan teknologi berbasis 5G yang memiliki latency lebih rendah lagi, kapasitas lebih besar dan kecepatan transfer data lebih tinggi lagi.
Dengan hadirnya teknologi 5G jaringan infrastruktur telekomunikasi dituntut untuk memiliki jaringan yang lebih efisien dari sekarang. Selain itu terbatasnya spektrum frekuensi juga menjadi tantangan sendiri dalam pengimplementasian 5G nantinya. Oleh karena itu konvergensi jaringan mau tidak mau harus dilakukan dalam mendukung pengimplementasian teknologi 5G. Pada jurnal ini akan dibagi menjadi 5 bagian yaitu metodologi penelitian syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi untuk menjalankan teknologi 5G, Bagaimana konvergensi antara satelit dan mobile seluler bisa berjalan, Analisis SWOT dari konvergensi satelit dan mobile seluler di Indonesia dan kesimpulanya.
2. Metodologi Penelitian
2.1 Metode Kualitatif deskriptif
membandingkan dari literatur literatur yang ada lalu menghubungkan literatur tersebut untuk menjawab permasalahan dalam jurnal ini.
2.2 Analisis SWOT
Adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam suatu spekulasi bisnis dalam hal ini adalah bagaiamana evaluasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat ditimbulkan dari integrasi satelit dalam ekosistem jaringan 5G di Indonesisa.
3. Konsep 5G
Menurut para ahli telekomunikasi dalam dekade ini akan muncul teknologi baru dalam teknologi seluler yaitu teknologi 5G. Teknologi ini merupakan generasi penerus dari teknologi 4G, dimana hadirnya teknologi ini diharapkan akan semakin memajukan kehidupan masyarakat baik pada sisi pola hidup di rumah, di tempat kerja, saran transportasi, pada bidang kesehatan dsb. Keunggulan teknologi ini juga diharapkan mendorong berkembangnya teknologi baru seperti internet of things (IOT). Bahkan di prediksi pada tahun 2020 teknologi 5G akan mulai di komersialkan dan menjadi point
utama dalam perkembangan dan penelitian riset di dunia [1]. Oleh karena itu para peneliti dan juga para pemain industri telekomunikasi sudah mulai mengembangkan dan menginisiasi standard apa yang akan digunakan dalam teknologi 5G itu nantinya.
Di bawah ini adalah tabel mengenai skenario dan tantangan utama dalam 5G [1] :
Scenario Key Challenges
Seamless wide-area coverage 100 Mbps user experienced data rate High capacity hot spot User experienced data rate : 1 Gbps
Peak data rate : Tens of Gbps
Traffic volume density : Tens of Tbps/km3 Low power massive connection Connection density 106 / km2
Low power consumption& low cost Low latency high reliability Air interface latency : 1ms
End to end latency : ms level Reliabiliy : nearly 100 % Tabel-1. Skenario dan tantangan utama dalam 5G
Berdasarkan tabel diatas teknologi 5G memiliki beberapa standard performansi jaringan yang harus dicapai untuk bisa menjalankan teknologi 5G. Beberapa yang bisa kita garis bawahi adalah kecepatran transfer data mencapai 1 Gbps minimum dan diharapkan bisa menembus kecepatan transfer data hingga 10 Gbps. Dengan kerapatan hinga Tbps/km3 untuk skenario hot spot dengan kapasitas yang cukup tinggi. Sedangkan untuk cakupan yang lebih luas lagi jaringan teknologi 5G harus bisa mendukung kecepatan data trasnfer sebesar 100 Mbps dimanapun dia berada dan kapanpun user mengakses, bahkan ketika user bergerak dengan kecepatan tinggi dalam suatu sarana transportasi.
mendukung minimal 1 juta koneksi dalam satu kilo meter kuadrat, yang tentunya memiliki konsumsi power yang rendah dan dengan biaya yang rendah juga. Selain itu di dalam teknologi 5G juga harus memiliki latency sebesar 1 ms, dan dapat mendukung kecepatan latency dari suatu perangkat ke perangkat lain dalam waktu ms saja.
Menurut IMT-2020 dalam white papernya untuk mendukung persyaratan seperti yang telah disebutkan diatas, maka jaringan teknologi 5G akan membutuhkan SDN, NFV dan cloud computing, dimana pada arsitektur jaringan 5G akan terdiri dari Akses cloud, control cloud dan forwarding cloud [1]. Apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting maka diperlukan beberapa tambahan dan perubahan teknologi yang akan dilakukan.
4. Konvergensi Satelit dan Mobile Seluler
Untuk alokasi spektrum frekuensi 5G sendiri di dalam penelitianya beberapa negara menggunakan frekuensi KA-band yang kita ketahui bahwa alokasi frekuensi tersebut dipergunakan juga oleh satelit high throughput satellite (HTS). Oleh karena itu agar dalam pengimplementasinya lebih efisien konvergensi dalam teknologi informasi dan komunikasi pun harus terjadi untuk mempercepat proses perubahan dan transformasi jaringan yang ada menjadi jaringan yang berkemampuan untuk mendukung jaringan 5G sekaligus menjadi jawaban dari terbatasnya spektrum frekuensi.
Di dalam sesi ini akan dibagi menjadi dua pembahasan yaitu :
4.1 Generasi Satelit Masa Depan
Sempat berjaya pada abad ke-19, satelit yang memiliki keunggulan memiliki daerah cakupan yang luas dan berfungsi sebagai repeater yang terletak di angkasa ini mulai menunjukan penurunan perkembanganya pada abad ke-20 bila dibandingkan dengan abad sebelumnya. Hal ini tidak lain disebabkan oleh terbatasnya spektrum frekuensi dan slot orbit yang ada, kemudian semakin besarnya tuntutan kapasitas yang tidak bisa di sediakan oleh satelit konvensional, besarnya resiko dan anggaran yang harus dikeluarkan dalam membentuk satelit pun membuat para pemain industri telekomunikasi beralih menggunakan fiber optik dan teknologi seluler yang bisa memberikan kapasitas yang lebih besar dengan biaya operasional yang rendah bila dibandingkan dengan satelit. Lalu apakah ini pertanda akhir dari teknologi satelit? Tentunya tidak. Terutama di negara yang berdemografi seperti di indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang dibatasi oleh laut dan memiliki banyak gunung. Satelit akan tetap diminati untuk memberikan layanan broadband pada negara seperti indonesia. Namun satelit memiliki pekerjaan rumah yang harus segera diatasi yaitu bagaimana satelit bisa memberikan layanan dengan kapasitas yang besar dan latency yang rendah.
membuat teknologi satelit mampu memberikan layanan broadband berkecepatan tinggi untuk daerah rural yang belum terjangkau oleh kabel optik. Lebih jauh dari itu bahkan teknologi satelit HTS mulai bisa berperan sebagai backhaul untuk layanan seperti Internet di rumah, smart city, penyedia internet di sarana transportasi terutama pesawat, kapal laut dan kereta, dan juga bisa mendukung backhaul mobile seluler yang sudah memiliki standard 4G yang akan berkembang menjadi teknologi 5G ke depanya.
4.2 Satelit dalam arsitektur jaringan 5G
Di dalam perkembanganya terdapat beberapa contoh kasus dimana integrasi penggunaan satelit dapat menjadi solusi untuk pengimplementasian teknologi 5G yaitu[4] :
1. Trunking dan Head-end Feed
Gambar 1. Arsitektur trunking dan head-end feed pada satelit di dalam ekosistem 5G
Dengan Satelit yang memiliki kecepatan transfer data yang sangat tinggi atau lebih dari 1 Gbps, satelit akan mampu mendukung layanan konektifitas yang sudah ada dalam jaringan seluler seperti video dengan trunk
berkecepatan tinggi, IOT, dan penyebaran data lainya ke central site yang nantinya akan terdistribusi ke jaringan cell site local (3G/4G/5G)
2. Backhauling dan Tower Feed
Gambar 2. Arsitektur backhauling dan tower feed pada satelit di dalam ekosistem 5G
lainya dalam daerah cakupan yang luas. Selain itu satelit juga memberikan efisiensi pada backhaul dalam penerapan traffic IOT ke beberapa site.
3. Komunikasi untuk sarana transportasi
Gambar 3. Arsitektur communication on the move pada satelit di dalam ekosistem 5G
Satelit juga merupakan teknologi yang paling cocok dalam penerapan konektifitas backhaul dan multicast konten seperti video, HD/UHD TV, dan juga paket data lainya dalam sarana transportasi khusunya pesawat, kapal laut dan kereta. Satelit juga bisa secara langsung memberikan konektifisat ynag lebih efisien pada pada backhaul dalam penerapan traffic IOT di dalam sarana transportasi tersebut yang terus bergerak dari satu cell ke cell lainya.
4. Hybrid multiplay
Gambar 4. Arsitektur hybrid multiplay pada satelit di dalam ekosistem 5G
Satelit berkecapatan transfer data tinggi juga cocok dalam penerapan konektifitas pada setiap rumah, dan kantor. Selain itu satelit juga dapat melakukan multicast konten yang sama seperti video, HD/UHD TV, dan juga paket data lainya dalam daerah cakupan yang luas seperti untuk tempat penyimpanan pribadi. Hal ini juga mendukung untuk diterapkanya IOT pada setiap rumah dan kantor. Yang di dalamnya nanti juga bisa di distribusikan lagi dengan menggunakan wifi atau nano cell (3G/4G/5G).
melakukan multi casting pada kontent untuk mengetahui keberadaan cell individu tanpa menggunakan jaringan kabel fiber [4].
5. Analisis SWOT dari konvergensi satelit dan mobile seluler
Strength Weakness
-Efisiensi alokasi spektrum frekuensi - Redaman Propagasi yang
- Perkembangan layanan broadband besar untuk daerah tropis
hingga daerah rural Karena cakupan seperti indonesia satelit yang luas - Biaya yang cukup tinggi
- Layanan multimedia
yang lebih bervariasi - Penggunaan teknologi untuk dengan kecepatan - Perkembangan yang signifikan mengurangi redaman propagasi
Opportunity data rate yang tinggi dalam industri telekomunikasi di seperti site diversity,
- Mengembangkan indonesia terutama pada bidang penggunaan ALC pada satelit,
Layanan M2M dengan satelit dan mobile seluler dan penggunaan AUPC pada
berkembanganya ground segment
layanan IOT
- Minimnya filing - Mulai melakukan kordinasi untuk -Menerapkan network sharing mendapatkan filing spektrum KA baik dalam konvergensi network
Threat spektrum KA untuk
dengan yang sudah memiliki atau sehingga efisien dalam
satelit di Indonesia
mengajukan filing baru penerapanya
Tabel 2. Analisis SWOT integrasi satelit dalam ekosistem 5G
Dalam penerapan konvergensi satelit dan mobile seluler terdapat beberapa yang bisa di garis bawahi yaitu :
Strength-Opportunity strategi: Perkembangan yang signifikan dalam industri telekomunikasi di indonesia terutama pada bidang setelit dan seluler. Karena akan semakin banyak peluang yang timbul dengan terintegrasinya satelit dengan seluler.
Weak-Opportunity strategi : Strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi redaman propagasi yang tinggi adlah dengan penerapan site diversity dan penggunaan teknologi seperti attenuation level control pada space segment, dan penerapan automatic uplink power converter pada ground segment.
Strength-Weakness strategi : Strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi minimnya filing KA untuk satelit di Indonesia adalah dengan mulai berkordinasi dengan satelit yang sudah mengorbit dan memiliki coverage indonesia, atau dengan mengajukan filing baru.
6. Kesimpulan
1. Terdapat banyak keuntungan dalam penerapan satelit pada perkembangan jaringan ekosistem 5G di Indonesia terutama dalam hal efisiensi spektrum frekuensi yang menjadi permasalahan selama ini.
2. Selain itu dalam penerapan satelit pada perkembangan jaringan ekosistem 5G di Indonesia juga akan mengembangkan layanan broadband hingga daerah rural dikarenakan daerah cakupan yang luas dari satelit dan tentunya akan mengembangkan kembali indsutri telekomunikasi khususnya industri satelit di Indonesia.
3. Dalam penerapan penerapan satelit pada perkembangan jaringan ekosistem terutama di Indonesia akan terdapat masalah yakni redaman propagasi yang besar, hal ini bisa diatasi dengan pembelajaran lebih jauh tentang penggunaan site diversity, AUPC pada ground segment dan ALC pada space segment.
4. Secara regulasi minimnya filing KA band pada satelit di Indonesia juga akan menjadi tantangan tersendiri, namun hal ini bisa diatasi dengan kordinasi dengan satelit yang berada di Indonesia dan memiliki filing KA band.
7. Daftar pustaka
[1]IMT-2020(5G) promotion group, 5G Concept, White Paper, 2015.
[2]D. G. Dani Indra Wijanarko, A hybrid c/ku band High Throughput Satellite Systems as an optimal design for indonesia, Bali: IEEE, 2017.
[3]K. Singarajah, Role of satellite systems in the future 5G Ecosystem, Berlin: Avanti, 2017.
[4]D. C. H. Mah, The role of satellite in 5G, FIJI: Satellite Connectivity Workshop, 2017.