• Tidak ada hasil yang ditemukan

RELEVANSI PENGUASAAN BAHASA BALI DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RELEVANSI PENGUASAAN BAHASA BALI DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN: 2722-6638 RELEVANSI PENGUASAAN BAHASA BALI DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN

IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

I Gusti Agung Rai Jayawangsa, A.A Pt. Suari

Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Indonesia e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran apakah relevansi antara penguasaan Bahasa Bali dengan pendidikan karakter dan implementasinya dalam pendidikan. Ditengah laju globalisasi dan semakin terpinggirkannya dan berkurangnya penutur Bahasa Bali oleh Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Asing peran Bahasa Bali keberadaanya masih sangat penting, terutama dalam pembentukan karakter. Keberadaan anggah-ungguh atau tingkatan-tingkatan dalam Bahasa Bali mengajrakan kepada penuturnnya untuk menghormati lawan bicaranya. Sebagai sumber pendidikan karakter Bahasa Bali memiliki tiga fungsi yaitu komunikasi, edukasi dan kultural. Sebagai bahan pembelajaran Bahasa Bali, hendaknya dapat berlangsung melalui proses meaning making (membuat bermakna)

Kata Kunci : Relevansi, Penguasaan Bahasa Bali, Pendidikan Karakter, Implementasi PENDAHULUAN

Laju globalisasi dewasa ini,

membuat dunia bergerak sedemikian cepat meninggalkan batas-batas tradisi. Bahasa

Indonesia juga mengalami dinamika

perkembangan sesuai pergerakan roda jaman. Banyak pengkayaan kosa kata dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari

bahasa lokal maupun internasional.

Pergaulan dan pembauran diantara anak bangsa yang berasal dari beragam suku dan bahasa turut memperkaya khasanah kosa kata maupun ideom dalam Bahasa Indonesia.

Di kalangan masyarakat urban atau

perkotaan, termasuk di kalangan

intelektual, bahasa Indonesia sudah

menjadi bahasa komunikasi keseharian. Bahkan di tengah masyarakat perkotaan yang relatif lebih heterogen kompisisi penduduknya, Bahasa Indonesia memiliki peran sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Tidak hanya di lingkungan formal, di

dalam rumah tangga generasi terpelajar masa kini bahkan Bahasa Indonesia sudah

menjadi bahasa ibu. Anak-anak di

perkotaan lebih banyak diajari berbahasa Indonesia semenjak usia bayi. Anak kota, terlebih di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar seakan sudah tidak lagi mengenal bahasa daerah yang pernah digunakan oleh bapak-ibu, kakek-nenek, dan moyang mereka di masa lalu. Bahasa daerah menjadi semakin terpinggirkan dan hanya menjadi nomor sekian setelah bahasa Indonesia. Apakah hal ini sudah tepat?

Keberadaan sebuah bahasa lokal atau bahasa daerah sangat erat dengan eksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menggunakan bahasa tersebut. Bahasa menjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsur pembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa.

(2)

percakapan sehari-hari. Seperti apakah sebenarnya kedudukan bahasa daerah kita terhadap bahasa Indonesia?

Sebagaimana telah ditetapkan di dalam Pasal 36 UUD Tahun 1945, Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional. Namun demikian di penjelasan dirumuskan bahwa di daerah-daerah yang memiliki bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Bali, Sunda, Madura, Bali dsb.) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa

daerah itupun merupakan bagian

pembentuk kebudayaan Indonesia yang hidup dengan dinamis.

Bahasa daerah adalah unsur

pembentuk budaya daerah dan sekaligus budaya nasional. Apabila satu per satu

bahasa pendukung budaya nasional

musnah, maka lambat laun pilar penyangga budaya nasionalpun akan roboh dan hal ini

berarti kebudayaan nasional juga

mengalami ancaman yang sangat serius. Apakah jadinya sebuah bangsa yang tidak lagi memiliki kebudayaannya? Bangsa kita akan terjebak menjadi bangsa tanpa

kepribadian. Hal ini jelas akan

memperlemah tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ini akan menjadi negara yang gagal (the fail state). Dengan demikian bahasa daerah maupun bahasa nasional memiliki peran yang sangat penting bagi tegak berdirinya negara kita. Oleh karena itu, di samping penguasaan bahasa nasional maupun internasional dalam rangka menghadapi globalisasi percaturan global, maka setiap anak bangsa harus sadar untuk turut melestarikan bahasa lokal alias bahasa daerah. Selain itu keberadaan bahasa daerah sangat penting untuk memperkuat pendidikan karakter anak bangsa. Salah

dalam segi kuantitas masih cukup banyak penuturnya.

Keberadaan Bahasa Bali sebagai pembentuk kebudayaan Bali baik dari segi bahasa, aksara, sastra maupun pandangan

hidup masyarakat Bali terbukti

memberikan dampak positif. Dampaknya yang sangat fital yang dapat dilihat adalah

ekses pariwisata yang begitu kuat.

Perekonomian Bali yang bahan bakar utamnya adalah pariwisata, masyaraktnya bergantung pada sector tersebut, namun disamping itu benih-benih negative mulai muncul, terkikisnya penggunaan Bahasa daerah yang berbanding lurus dengan terkikisnya karakter orang orang Bali.

Tentu saja keberadaan Bahasa Bali

berhubungan kuat dengan Pendidikan Karakter.

Membicarakan mengenai

pendidikan karater tentu saja harus dibahas mulai apa yang dimaksud dengan pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seorang dewasa terhadap pihak lain yang belum dewasa

agar mencapai kedewasaan

(M.I.Soelaiman,1985). Artinya bahwa

pendidikan merupakan suatu cara dimana

lebih menekankan terhadap

keterkaitannya antara peserta didik dan

pendidik. Peserta didik dianalogikan

sebagai orang yang belum dewasa,

sedangkan pendidik sendiri dianalogikan sebagai orang yang lebih dewasa. Dengan demikian pendidikan tidak akan berdiri tanpa adanya dua aspek tersebut.

Karakter menurut Kamisa (1997) , yakni sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang dimiliki oleh seseorang yang mana dengan ada hal tersebut dapat

membuatnya berbeda apabila

dibandingkan dengan orang lainnya.

(3)

memiliki sebuah watak dan kepribadian. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, karakter ialah bawaan yang ada pada hati, jiwa, kepribadian, sifat, tabiat, budi pekerti, personalitas, temperamen, dan juga watak. Berkarakter bisa juga diartikan sebagai

kepribadian, berperilaku, bersifat,

berwatak, dan bertabiat. Berdasarkan

pengertian diatas, karakter adalah

kepribadian, tabiat, budi pekerti yang dimiliki oleh seseorang.

Elkind dan Sweet (2014)

Pendidikan karater adalah suatu metode pendidikan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mempengaruhi karakter murid. dalam hal ini terlihat bahwa guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mampu menjadi seorang

teladan. Secara konsep, pendidikan

karakter pada dasarnya adalah pendidikan budi pekerti dengan cara menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik. Nilai adalah sesuatu yang kita iakan. Nilai moral merupakan nilai tertinggi, yang memiliki ciri-ciri (1) berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab, (2)

berkaitan dengan hati nurani, (3).

mewajibkan manusia secara absulut yang tidak bisa ditawar- tawar, dan (4). bersifat formal. Nilai moral berkaitan juga

dengan apa yang seyogianya tidak

dilakukan karena berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan. Nilai moral

terdiri dari ajaran-ajaran,

wejangan-wejangan, , patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan entah lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik Berdasarkan penjelasan diatas apakah hubungan Bahasa Daerah Bali dengan Pendidikan Karakter? Penulis

akan menjelaskannya pada Bab

pembahasan berikut.

PEMBAHASAN

2.1 Bahasa Bali dengan Anggah angguhnya

Anggah-ungguh Bahasa Bali adalah istilah untuk tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali, yang pemakaiannya telah diresmikan dalam Pesamuhan Agung (Loka Karya) Bahasa Bali III tahun 1974 di Singaraja. Sebelumnya ada beberapa istilah untuk menyebutkan tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali, antara lain : Masor Singgih atau Sor Singgih Basa, Kasar-Alus, Undag-undagan Basa, dan Warna-warna Bahasa (Suasta: 14). Dari beberapa istilah trsebut, yang paling sering kita dengarkan dan sering diucapkan masyarakat suku Bali sampai sekarang adalah anggah-ungguh basa.

Tingkatan-tikatan dalam berbahsa Bali yang

dimaksud diatas adalah bagaimana, dalam

berkomunikasi komunikator dengan

komunikan memiliki aturan-aturan

misalnya yang disesuaikan dengan

tingkatan-tingkatan pada anggah-ungguh Bahasa Bali. Anggah-ungguh Bali.

Bahasa Bali mengenal berbagai tingkatan Bahasa, menyesuaikan dengan siapa lawan biacaranya diantaranya.

a. Bahasa Bali Alus

(1) Bahasa Bali Alus Singgih (ASI)

Bahasa Bali ASI adalah Bahasa

Bali yang tergolong halus,

digunakan untuk menghormati orang yang kedudukannya lebih tinggi, ataupun orang yang

dihormati (seperti pejabat,

orang yang lebih tua, maupun orang yang belum dikenal). Kata – kata yang tergolong Bahasa Bali ASI adalah : Ida (dia), makolem (tidur), cokor (kaki),

(4)

sebagainya

(2) Bahasa Bali Alus Sor (ASO) Bahasa Bali ASO adalah Bahasa

Bali yang fungsinya untuk

merendah diri sendiri, maupun orang lain yang patut untuk direndahkan. Misalnya contoh pada kata-kata ASO adalah: Ipun (dia), titiang (saya), masare (tidur), buntut (kaki), wasta (nama), dan lain sebagainya (3) Bahasa Bali Alus Mider (AMI) Bahasa Bali AMI adalah Bahasa Bali yang rasa bahasanya halus,

boleh digunakan untuk

menghormati/meninggikan

orang lain maupun boleh

digunakan untuk merendah diri. Misalnya kata-kata AMI adalah : Lunga (pergi), jagi (akan), rauh (dating), nenten (tidak), dan lain sebagainya.

b. Basa Bali Andap

Basa Andap adalah tingkatan bahasa bali yang digunakan

dalam suasana bersahaja (

dalam pergaulan akrab dan

memiliki nilai kesopanan).

Sehingga sering disebut dengan istilah basa kasar sopan / basa

lumrah dipakai dalam

kehidupan sehari-hari

bermasyarakat/ kapara. Bahasa

ini sering digunakan pada

masyarakat hindu di bali yang memiliki wangsa jaba. Disini, bahasa bali sebagai bahasa

sopan, digunakan apabila

konteks bergaulnya memiliki sikap keakraban / kekeluargaan yang terjalin erat, misalnya

kedudukannya , sama umur, sama pendidikan, sama jabatan, kawan sederajat dan merupakan bahasa kekeluargaan.

Contoh kalimatnya: Wayan da negak ditu

(Wayan jangan duduk disitu) Luh suba peteng, masare malu (Luh sudah malam, tidur dulu) c. Basa Bali Madia

Basa Madia adalah tingkatan bahasa bali yang tergolong

menengah, yang nilai rasa

bahasanya berada diantara

bahasa bali andap dan bahasa

bali alus. Artinya bahwa

konotasi bahasa madia tidak kasar, dan juga tidak halus, karena itulah sering juga disebut dengan bahasa antara (tidak halus dan juga tidak kasar). Basa Madia itu digunakan apa bila wangsa atau status sosialnya dalam masyarakat lebih tinggi berbicara dengan wangsa yang status sosialnya lebih rendah, tetapi lebih tua atau lebih disegani yang mendududki suatu

jabatan tertentu dalam

masyarakat / adat misalnya “

klian banjar dinas/ adat”

maupun pejabat / instansi

pemerintahan atau swasta,

dalam situasi percakapan

tersebut tentunya akan

menggunakan Basa Madia. Contoh :

(5)

Tiang lakar majalan masuk (Saya akan berjalan sekolah) Ampunang majujuk derika (Jangan berdiri disana) d. Bahasa Mider

Bahasa Bali Mider adalah Bahasa Bali yang tidak memiliki rasa bahasa halus maupun tidak

halus, misalnya pada kata,

Nyongkok (jongkok), komputer, motor, dan lain sebagainya. e. Bahasa Kasar

Bahasa Bali yang tingkatanya kasar, dan kurang baik. Adapun bahasa kasar ada dua. Yaitu :

1) Bahasa Kasar Jabag

Bahasa Kasar Jabag adalah Bahasa Bali yang kurang baik, ketika komunikator

tidak tepat dalam

penggunaan bahasa,

misalnya kepada orang

yang dihormati harusnya menggunakan bahasa halus,

namun yang digunakan

adalah bahasa andap. 2) Bahasa Kasar Pisan

Bahaa kasar pisan adalah

Bahasa Bali yang rasa

bahasanya tidak baik,

biasanya digunakan saat komunikator marah. Maka keluarlah kata-kata yang kurang baik.

2.2 Bahasa Bali Sumber Pendidikan Karakter

Pendidikan Bahasa Bali

memiliki tiga fungsi sebagai sumber

pendidikan yaitu sebagai alat

komunikasi, edukasi, dan kultural. Sebagai alat komunikasi agar siswa dapat menggunakan Bahasa Bali secara baik dan benar untuk keperluan alat komunikasi dengan keluarga dan masyarakat. Fungsi edukasi diarahkan agar siswa dapat memperoleh nilai-nilai etika budaya Bali untuk keperluan pembentukan kepribadian bangsa. Fungsi kultural agar dapat digali dan ditanamkan kembali nilai-nilai dan pelestarian akar budaya Bali sebagai upaya untuk membangun identitas bangsa. Ketiga fungsi pokok diatas

sebenar-benarnya merupakan

langkah penanaman nilai-nilai etika. Bahasa sebgai alat komunikasi mengarahkan siswa agar dapat mengguanakn Bahasa Bali dengan baik dan benar, yang mengandung nilai sopan santun. Seperti pada penjelasan diatas pada poin anggah-ungguh Bahasa Bali terdapat

aturan-aturan yang mengikat antara

komunikator dengan komunikan misalnya orang yang berbicara (O1) dengan orang yang diajak bicara (O2) dan orang yang dibicarakan (O3) memulai sebuah pembicaraan. Sebagai contoh (O1) adalah anak

yang sedang membicarakan

bapaknya (O2) yang sedang makan, maka (O1) akan mengatakan “Bapa sedek ngajeng”(Bapak sedang makan), namun jika (O1) sedang membicarakan dirinya sendiri maka (O1) akan mengatakan “Titiang sedek nunas” (saya sedang makan). Kedua contoh tersebut memiliki

(6)

namun dalam penggunaan Bahasa bali menggunakan kosakata yang berbeda dikarenakan realisasi dari penghormatan anak kepada bapak yang dihormati.

Fungsi edukatif diarahkan agar siswa dapat memperoleh nilai-nilai edukasi budaya Bali untuk

keperluan pembentukan

kepribadian dan identitas bangsa. Pengajaran unggah-ungguh bahasa Bali seperti diuraikan di depan,

selain untuk keperluan alat

komunikasi juga dapat

mengembangkan fungsi edukatif.

Melalui anggah-ungguh bahasa,

siswa dapat ditanamkan nilai-nilai sopan santun. Upaya yang lain adalah melalui produk Bahasa Bali yang lain yaitu berbagai karya sastra Bali. Salah satu karya sastra bali adalah sastra satua (folklore) misalnya, selain berfungsi sebagai dongeng hiburan bagi masyarakat,

khususnya anak-anak, juga

berfungsi sebagai tuntunan

pendidikan karakter. Melalui sastra satua, para siswa dapat ditanamkan nilai-nilai etika, estetika, sekaligus logika. Seperti satua I Siap Selem (Ayam Hitam) yang mengajarkan kecerdikan, satua I Belog (Si Bodoh)

yang mengajarkan negatifnya

menjadi orang bodoh, satua I Cicing ( Si Anjing ) yang mengajarkan tentang hidup bersyukur.

Fungsi kultural diarahkan untuk menggali dan menanamkan kembali nilai-nilai budaya Bali sebagai upaya untuk membangun identitas bangsa. Jika fungsi sebagai alat komunikasi dan edukatif telah terlaksana dengan baik, sebenarnya

karena fungsi kultural

sesungguhnya terkait langsung

dengan kedua fungsi itu.

Keterkaitannya adalah, Bahasa

merupakan dasar dari kebudayaan itu sendiri, seni sastra lahir dari proses komunikasi Bahasa, begitu pula seni tari, seni rupa dan seni tari

yang menjadi kekhasan dari

kebudayaan Bali. Melalui fungsi alat

komunikasi dan edukatif,

diharapkan telah ditanamkan nilai-nilai kepribadian luhur sebagai bagian dari dari tata nilai dan budaya Bali. Jika penanaman nilai-nilai budaya Bali telah berhasil, maka akan terbangun kepribadian yang kuat, dan pada akhirnya akan membentuk karakter yang kuat pula.

2.3 Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Bali

Pembelajaran bahasa Bali

hendaknya berlangsung tidak

sekedar meaning getting, tetapi berupa proses meaning making, sehingga akan terjadi internalisasi nilai-nilai dalam diri siswa. Dengan pola itu, siswa tidak dijejali dengan

seperangkat kaidah untuk

dimengerti secara kognitif, tetapi diarahkan untuk pengembangan aspek afektif, sesuai dengan sifat bahasa Bali itu sendiri yang penuh

akan muatan afektif. Pola

pembelajaran bahasa, sastra, dan aksara Bali dengan Kurikulum K13 (E. Mulyasa, 2013: 7) Kurikulum

2013 lebih ditekankan pada

pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar, yang akan menjadi pondasi bagi tingkat berikutnya.

(7)

Dalam implementasi kurikulum 2013, pendidikan karakter dapat di

integrasikan dalam seluruh

pembelajaran pada setiap bidang

studi yang teradapat dalam

kurikulum. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi

perlu dikembangkan, di

eksplisitkan, dihubungkan dengan

konteks kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pendidikan nilai, dan pembentuknan karakter tidak

hanya dilakukan pada tataran

kognitif, tetapi menyentuh

internalisasi, dan pengamalan nyata

dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidiak karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada

pembentukan budaya

sekolah/madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbul-simbul yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah/madrasah, dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah/madrasah merupkan ciri khas, karakter/watak, dan citra sekolah/madrasah tersebut di mata masyarakat luas.

Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Bali harus diarahkan ke

pendidikan afektif. Dalam

mengajarkan Bahasa Bali sebaiknya digunakan pendekatan langsung. Implementasi dari pendekatan ini, dalam pembelajaran bahasa dan sastra Bali, siswa harus dibawa

secara langsung dengan cara

mencelupkan diri ke dalamnya

secara utuh. Siswa diajak

menggunakan bahasa dan sastra Bali secara langsung untuk menulis,

berbicara, membaca, dan menyimak. Kebiasaan guru berceramah secara panjang lebar tentang substansi bahasa dan sastra Bali perlu dihindari, yang diperlukan hanyalah

penjelasan seperlunya untuk

menggunakan bahasa dan sastra.

Ketika pembelajaran berbicara

misalnya, siswa secara langsung belajar berbicara (berkomunikasi

dengan orang lain, berpidato,

bercerita, dan sebaginya), guru

tinggal membetulkan jika ada

kesalahan penggunaan.

Pembelajaran menulis juga

demikian, siswa diajak menulis secara langsung (mengarang puisi, cerita pendek, cerita bebas, atau lainnya).

Pembelajaran Bahasa Bali

seyogyanya juga harus sesuai

dengan perkembangan zaman,

memanfaatkan teknologi dimana para siswa sangat fasih dalam penggunaanya. Melalui perhatian tersebut, maka sebagai seorang guru sangat penting dan harus

tanggap dalam menciptakan

pembelajaran bahasa dan sastra Bali

yang inovatif sehingga mata

pelajaran ini tidak lagi menjadi matapelajaran membosankan dan menjadi momok ketakutan siswa yang enggan untuk mengenali,

mempelajari dan memahami

identitas daerahnya sendiri.

Misalnya dalam mata pelajaran

keterampilan berbicara, siswa

diarahkan untuk membuat sebuah

ertunjukan drama, namun

pertunjukannya dalam bentuk

video. Para siswa dibebaskan untuk melakukan shooting sebelumnya

(8)

dengan indicator dari materi tersebut. Hal ini menjadi menarik bagi siswa karena selain siswa belajar terampil berbicara Bahasa Bali, siswa juga terampil dalam bekerja kelompok, terampil dalam memanfaatkan teknologi, dan tentu saja ketika hari ini siswa sedang keranjingan sosial media, siswa bersangkutan dapat membagikan materi videonya kepada public. Tentu saja ketika membagikan video tersebut terlebih dahulu telah melalui proses pengecekan oleh guru Bahasa Bali itu sediri.

Selain implementasi dalam

pembelajaran, pendidikan karakter

dapat dilaksanakan dengan

mengembangkan kultur sekolah. Pertama, membangun keteladanan.

Sudah bertahun-tahun lamanya,

negeri ini telah kehilangan sosok

negarawan yang bisa menjadi

teladan dan panutan sosial dalam perilaku hidup sehari-hari. Kaum elite kita, diakui atau tidak, hanya pintar ngomong di atas mimbar

pidato, tetapi implementasi

tindakannya hanya sebatas

seremonial belaka. Langkah baik

dari Pemerintah Provinsi Bali

adalah dengan terbitnya Pergub

No.80 tentang Perlindungan,

Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahsa Bali setiap bulan februari. Selain itu setiap hari kamis, purnama dan

tilem instansi pemerintah

diharapkan mengguanakn Bahasa

Bali. Serta papan-papan nama

institusi pemerintah wajib memakai aksara bali dan huruf latin, serta papan-papan nama institusi swasta

akasara bali dan akasara latin. Hal ini memberikan dampak positif bagi kelangsungan Bahasa Bali. Namun sebaiknya aturan-atuaran tersebut tidak hanya sebagi pemanis belaka,

namun sebaiknya dilaksanakan

secara jujur dan ikhlas. Kedua, memberdayakan guru. Secara jujur harus diakui, profesi guru, semenjak disahkannya UU Guru dan Dosen,

menjadi lebih “bergengsi” dan

bermartabat. Empat kompetensi – profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial yang menjadi syarat wajib bagi guru profesional belum sepenuhnya bisa diimplementasikan dalam perilaku dan kinerja guru sehari-hari. Belum lagi persoalan

perlindungan dan advokasi

terhadap kinerja guru yang

dianggap masih lemah, sehingga guru belum sepenuhnya mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Yang tidak kalah penting, guru juga perlu terus

diberdayakan dalam soal

pengembangan pendidikan karakter

lintas-mata pelajaran. Artinya,

pendidikan karakter bukan hanya

semata-mata menjadi tanggung

jawab guru PKn atau Agama saja, melainkan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kinerja guru secara menyeluruh dan terpadu. Pelatihan-pelatiah terhadap guru Bahasa Bali sangat perlu dilakukan

untuk menyesuaikan dengan

perkembagan zaman. Metode

mengajar, materi ajar Bahasa Bali harus terus di cek kembali. Agar jangan sampai tidak lagi relefan dengan kekinian. Misalnya materi-materi benda agraris diberikan

(9)

kepada siswa yang hidup di

lingkugan industry yang

mengakibatkan siswa menjadi tidak mengerti dan berujung pada ketidak tertarikan pada Bahasa Bali.

Ketiga, dukungan lingkungan sosial,

kultural, dan religi terhadap

keberlangsungan pendidikan

karakter dalam dunia pendidikan. Di tengah situasi peradaban yang makin abai terhadap nilai-nilai akhlak dan budi pekerti, institusi pendidikan tak bisa sepenuhnya “otonom” dan berjalan sendiri tanpa “intervensi” lingkungan. Segenap

elemen bangsa, mulai tokoh

masyarakat, agama, hingga media, perlu memberikan dukungan penuh dan optimal terhadap implementasi pendidikan karakter. Tri Pusat

Pendidikan yakni, keluarga,

masyarakat dan sekolah haruslah

bersinergi dalam membangun

karakter anak. Jangan sampai ketiga

komponen tersebut saling

menyalahkan karena sesungguhnya

mereka adalah satu kesatuan.

Terlebih lagi dalam perkembangan teknologi seperti hari ini. Anak-anak lebih banyak bermain didunia maya yang bebas, tentu ini menjadi perhatian kita bersama.

PENUTUP

Bahasa Bali yang terdiri memiliki tingkatan-tingkatan atau anggah-ungguh

Bahasa Bali sangat relevan dengan

pendidikan karakter. Sebagai sumber pendidikan karakter, Bahasa Bali memiliki tiga fungsi yaitu komunikasi, edukasi dan kultural. Pendidikan karakter pada dasarnya adalah pendidikan budi pekerti dengan cara menanamkan nilai-nilai moral

kepada peserta didik. Nilai adalah sesuatu yang kita iakan. Nilai moral merupakan nilai tertinggi, yang memiliki ciri-ciri (1) berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab, (2) berkaitan dengan hati nurani, (3). mewajibkan manusia secara absulut yang tidak bisa ditawar- tawar, dan (4). bersifat formal. Nilai moral berkaitan juga dengan apa yang seyogianya tidak dilakukan karena berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan. Nilai moral terdiri dari ajaran-ajaran,

wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan

peraturan dan ketetapan entah lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Nilai moral yang terkandung dalam bahasa Bali yang berwujud tata nilai kehidupan Bali, seperti norma, keyakinan, kebiasaan, konsepsi,

dan simbol-simbol yang hidup dan

berkembang dalam masyarakat Bali,

toleransi, kasih sayang, gotong royong, , kemanusiaan, nilai hormat, tahu berterima kasih, yang tercermin dalam anggah-ungguh Bahasa Bali dan Keusastraan Bali dan lainnya dapat digunakan sebagai sumber pendidikan karakter.

Pembelajaran Bahasa Bali,

hendaknya dapat berlangsung melalui

proses meaning making (membuat

bermakna), sehingga akan terjadi

internalisasi nilai-nilai dalam diri siswa. Dibarengi juga dengam materi-materi yang relevan dengan kekinian dan juga para pendidik menyampaikan materi dengan menyenangkan memanfaatkan teknologi yang tepat guna. Dalam Pengembangkan kultur sekolah dapat dilakukan dengan cara memberi keteladanan secara langsung sesuai dengan nilai-nilai kultural bahasa dan sastra Bali.

(10)

Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: Gramedia Pustidaka Utam Departemen Pendidikan Nasional RI, 2006.

Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP): Bahan

Sosialaisasi.

Budha Gautma, Wayan. 2007. Kesusastraan Bali. Surabaya: Paramita.

Elkind, D & Sweet, F. (2004). Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass.

Kamisa.1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kartika.

Kementerian Pendidikan Nasional, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006.

Mulyasa. ( 2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Pergub Provinsi Bali No. 80. Tentang

Bahasa, Aksara dan Sastra, serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Sempen AB, I Wayan. 1974. "Bahasa Bali".

Dalam Pasamuan Agung Basa Bali. Singaraja .

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui neraca massa dari proses pengomposan TKKS dengan penambahan ALPKS pada skala pilot agroindustri kelapa sawit dan menghitung

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20

(2) Kegiatan inti, meliputi: (a) Guru menjelaskan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai; (b) Guru mengeluarkan gambar dan kartu kata; (c) Guru menempel- kan

Faktor- faktor yang tidak terbukti sebagai faktor risiko terhadap kejadian campak pada balita yaitu gizi kurang, pemberian vitamin A kurang, tidak pernah menderita

diketahui bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara lama waktu stimulasi listrik dengan jenis otot sapi Pesisir (P>0,05) terhadap nilai. cooking loss daging sapi

Berikut rincian hasil investigasi empiris dengan 9 atribut tata kelola perusahaan; (1) Kepemilikan manajerial, dewan komisaris, komite audit, komite nominasi dan remunerasi,

- Metode Luff Schoorl adalah analisa kualitatif karhohidrat dalam suatu bahan pangan. - Kadar karhohidrat yang didapatkan

[r]