BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan manufaktur adalah badan usaha yang mengolah bahan mentah menjadi produk jadi yang bernilai jual. Perekonomian Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh industri manufaktur. Menurut Pasal 1 Ayat 6 Nomor 13 Tahun 2003, perusahaan adalah perusahaan dalam bentuk apapun, baik yang berbentuk badan hukum, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, termasuk milik perseorangan. dan pekerja yang mempekerjakan pekerja BUMN/buruh membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Persaingan dalam industri manufaktur telah memungkinkan setiap perusahaan manufaktur untuk meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat mencapai tujuannya. Salah satu tujuan perusahaan adalah untuk memastikan bahwa semua pemegang saham dapat mencapai titik kemakmuran dengan memaksimalkan nilai perusahaan (Sartono, 2011) Perkembangan industri manufaktur di Indonesia dapat memberikan kesempatan atau peluang kerja bagi masyarakat Indonesia karena industri manufaktur sangat membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM).Indonesia sendiri telah menjadi basis manufaktur terbesar di ASEAN, dengan tingkat kontribusi 20,27% dalam skala ekonomi nasional, dan nilai tambah manufaktur (MVA)-nya juga termasuk yang terdepan dalam industri manufaktur Indonesia dengan nilainya sebesar 4,5%. Perkembangan perekonomian Indonesia tidak terlepas dari tumbuh dan berkembangnya perusahaan-perusahaan Indonesia, salah satunya adalah pertumbuhan yang berkesinambungan atau yang dikenal dengan listing. Perusahaan yang sudah go public harus tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan berbagai persyaratan.
Perkembangan pasar modal dapat dilihat dari semakin banyaknya perusahaan yang go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setiap perusahaan yang sudah go public wajib menyampaikan laporan keuangan yang
2
sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan laporan keuangan tersebut sudah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang telah terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), karena kemajuan dan performa suatu perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangannya. Menurut PSAK No. 1 (2004), laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan laporan keuangan yang lengkap, mulai dari laporan laba rugi perusahaan, neraca, laporan arus kas, laporan perubahan status keuangan (yang juga dapat disampaikan dengan laporan arus dana), catatan dan laporan, serta bahan penjelasan yang merupakan bagian penting dari laporan keuangan. Sementara itu, menurut PSAK 1 (IAI 2014), laporan keuangan merupakan proses terstruktur yang menyajikan status keuangan dan kinerja keuangan perusahaan. Menurut PSAK 1 (IAI, 2014), tujuan keberadaan laporan keuangan perusahaan adalah untuk menyediakan sebagian besar pengguna laporan keuangan dan masyarakat umum dengan informasi yang berguna tentang kinerja keuangan entitas, status keuangan dan arus kas entitas. Audit delay yang mengakibatkan lamanya proses publikasi laporan keuangan, akan sangat merugikan para investor karena dapat menyebabkan meningkatnya asimetri informasi dan dapat menimbulkan rumor dari pelaku pasar yang membuat pasar menjadi tidak pasti. Berdasarkan keputusan Bapepam Nomor KEP-36/PMK/2003 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan dan laporan auditor independen paling lambat diserahkan pada akhir bulan ketiga (90) hari setelah tanggal laporan keuangan tahunan. Sesuai dengan yang tertulis pada PSAK tahun 2012 pada Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan paragraf 43, keterlambatan atas penyampaian laporan keuangan akan menyebabkan tidak terpenuhinya informasi yang dibutuhkan oleh para investor kemudian ketika laporan keuangan telah dipublikasi, maka informasi yang terkandung didalamnya kehilangan relevansinya. Berdasarkan PP No.45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal BAB XII, Bapepam telah menetapkan sanksi bagi suatu perusahaan yang terlambat atau melewati batas akhir dari penyampaian laporan keuangan berupa peringatan tertulis, denda, dan pembekuan kegiatan maupun pembatasan kegiatan perusahaan tersebut. Laporan keuangan audit untuk perusahaan go public di Indonesia yang
3
dihasilkan oleh akuntan publik memiliki tanggungjawab dan konsekuensi yang besar, hal ini bisa memicu profesionalisme para auditor yang sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Kriteria profesionalisme auditor adalah ketepatan waktu dalam penyampaian laporan auditnya dan dilihat dari peningkatan kualitas hasil auditnya.
Ketepatan waktu auditor menyelesaikan auditnya merupakan salah satu yang menjadi kendala perusahaan dalam mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat atau investor dan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), karena auditor juga memerlukan waktu yang lebih lama guna mencari pembuktian atas laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh perusahaan sehingga terjadilah audit delay. Umumnya nilai informasi yang ada dalam laporan keuangan akan menurun searah dengan semakin lamanya waktu yang diperlukan oleh auditor untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan tersebut. Hasil audit perusahaan wajib diumumkan kepada publik paling tidak melalui dua surat kabar harian berbahasa Indonesia secara periodik dan tepat waktu. Maka dari itu informasi yang terdapat pada laporan keuangan harus disajikan secara andal, relevan, dapat diperbandingkan, serta dapat dipahami. Audit delay merupakan perbedaan waktu yang terjadi antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal yang tertera pada opini audit. Menurut (Arifa, 2013) Audit delay adalah selisih tercatat antara tanggal laporan keuangan dan tanggal opini audit atas laporan keuangan, yang akan menunjukkan lamanya waktu untuk menyelesaikan audit. Sedangkan menurut (Kusumawardani, 2013) audit delay merupakan keterlambatan pelaporan laporan keuangan perusahaan dapat terjadi sejak batas waktu laporan keuangan sampai dengan laporan keuangan perusahaan dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Semakin pendek audit delay, semakin relevan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Semakin lama waktu yang dibutuhkan auditor untuk menyelesaikan audit, semakin lama audit akan tertunda. Kepatuhan terhadap standar yang dianut oleh auditor akan berdampak pada lamanya pelaporan hasil audit.
4
melaksanakan audit untuk memenuhi tujuan audit. Prinsip-prinsip seperti pelayanan kepentingan publik serta menjunjung tinggi nilai integritas, independensi, dan objektivitas merupakan hal yang harus diperhatikan oleh seorang auditor dalam melaksanakan tanggungjawab profesionalnya. Melayani suatu kepentingan publik, sikap menghargai, dan menjaga kepercayaan merupakan sikap yang harus dimiliki para auditor (Zamzami et al., 2014a). Informasi dari laporan keuangan yang dipublikasikan dengan cepat kepada masyarakat publik, maka akan semakin bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan dalam hal pengambilan keputusan. Dan jika pelaporan laporan keuangan tersebut mengalami penundaan yang tidak sewajarnya, maka informasi yang disajikan akan kehilangan relevansinya bagi pengguna laporan keuangan dalam pengambilan suatu keputusan (Subawa Putra & Dwiana Putra, 2016). Pemenuhan standar audit yang telah ditetapkan oleh auditor akan berdampak pada lamanya proses dari penyelesaian laporan audit tersebut, tetapi dari hal tersebut akan terjadi peningkatan sehingga hasil audit yang didapatkan akan lebih baik. Perusahaan pada sektor manufaktur biasanya akan memiliki jangka waktu audit delay yang lebih lama (aditya dan anisyukurillah, 2014). Hal terpenting bagi perusahaan adalah bagaimana perusahaan dapat menyajikan laporan keuangannya dengan tepat waktu dan dapat menjaga kerahasiaan informasi terhadap laporan keuangan agar tidak bocor kepada pihak lain yang bukan kompetensinya.
Karakteristik suatu perusahaan merupakan sifat spesifik atau sifat khusus yang dimiliki perusahaan, sifat tersebut dapat terdiri dari ukuran perusahaan, solvabilitas perusahaan, serta laba rugi perusahaan (Puspitasari & Sari, 2012). Sebagian aspek yang bisa pengaruhi terbentuknya audit delay ialah dimensi industri, umur industri, profitabilitas industri, tingkatan solvabilitas industri, dimensi Kantor Akuntan Publik( KAP), serta opini auditor. Aspek awal merupakan dimensi industri. Dimensi industri atau biasa disebut ukuran perusahaan merupakan sesuatu skala yang bisa dihitung dengan total assets serta penjualan dimana perihal tersebut bisa menampilkan keadaan industri, dimana industri yang lebih besar hendak memiliki kelebihan dalam sumber dana yang diperoleh buat membiayai
5
investasi guna mendapatkan laba ataupun keuntungan. Menurut (Ayu et al., 2015) Ukuran perusahaan adalah volume besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat dilihat dari total aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Perusahaan yang memiliki total aset lebih besar cenderung dapat menerbitkan laporan keuangannya kebih cepat, hal ini disebabkan karena perusahaan yang memiliki pengendalian internal yang lebih kuat dibanding dengan perusahaan yang memiliki skala yang lebih kecil. Faktor kedua adalah umur perusahaan. Umur perusahaan adalah lamanya suatu perusahaan berdiri dan beroperasi, ataukah perusahaan lama atau perusahaan baru. Hasil riset yang telah dilakukan oleh (Indra & Arisudhana, 2012) menyatakan bahwa semakin tua atau semakin lama umur dari perusahaan, maka resiko akan terjadinya audit delay semakin sedikit, hal ini dikarenakan perusahaan dengan umur perusahaan yang lebih tua (lebih lama) dinilai lebih mampu untuk mengumpulkan informasi, kemudian memprosesnya, dan mampu menghasilkan informasi yang dibutuhkan karena perusahaan tersebut telah mempunyai banyak pengalaman yang cukup dalam menangani hal tersebut. Faktor ketiga adalah tingkat profitabilitas perusahaan. Profitabilitas perusahaan menurut (Saemargani & Mustikawati, 2019) merupakan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan atau memperoleh laba (keuntungan) yang dapat dilihat melalui tingkat profitabilitasnya yaitu dengan cara membandingkan antara keuntungan dengan penjualan, total aktiva, ataupun dari modal sendiri. Semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu perusahaan maka keinginan perusahaan untuk mempublikasikan laporan keuangannya semakin cepat, karena akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan kepada investor.Faktor keempat adalah tingkat solvabilitas perusahaan. Tingkat Solvabilitas atau rasio solvabilitas menurut (Kasmir, 2015) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas pada suatu perusahaan dibiayai dengan menggunakan hutangnya. Sedangkan menurut (Fahmi, 2014) rasio solvabilitas yaitu rasio yang dapat menunjukkan bagaimana cara suatu perusahaan dapat mengelola hutangnya untuk memperoleh laba (keuntungan) dan juga memastikan bahwa perusahaan tersebut bisa melunasi hutangnya. Perusahaan yang memiliki jumlah hutang lebih banyak atau lebih besar dibanding dengan total kekayaannya (total aset) maka perusahaan tersebut dapat dikatakan tidak
6
solvabel.Faktor kelima adalah Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). Kantor Akuntan Publik( KAP) merupakan suatu perusahaan yang telah mendapatkan izin dalam pendirian badan usahanya dari Menteri Keuangan selaku tempat dari para akuntan publik buat membagikan jasanya kepada warga publik. Dimensi Kantor Akuntan Publik( KAP) digolongkan jadi 2 yaitu KAP the big four serta KAP non
the big four. (Saemargani & Mustikawati, 2019).Faktor keenam adalah Opini
Auditor. Opini auditor adalah suatu pendapat yang dikemukakan oleh seorang auditor mengenai kewajaran dari laporan keuangan auditan, meliputi seluruh hal yang bersifat material yang didasarkan pada kesesuaian dari penyusunan laporan keuangan tersebut dengan menggunakan prinsip akuntansi berterima umum (Mulyadi, 2013). Terjadinya audit delay yang semakin panjang salah satunya yaitu jika suatu perusahaan memperoleh pendapat yang wajar dan tanpa pengecualian (qualified opinion). Sedangkan perusahaan yang memperoleh pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) memiliki waktu audit yang lebih cepat (Subawa Putra & Dwiana Putra, 2016).
Beberapa penelitian mengenai audit delay antara lain penelitian yang dilakukan oleh (Arifianto & Akhmad, 2017) studi pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Variabel dependen yang digunakan adalah
audit delay, dan dengan variabel independen ukuran perusahaan, profitabilitas,
leverage, opini auditor, dan kualitas Kantor Akuntan Publik (KAP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel profitabilitas berpengaruh positif terhadap audit
delay, variabel leverage dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay, variabel opini auditor dan kualitas KAP tidak berpengaruh terhadap audit delay.Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh (Liwe, 2018) studi
empiris pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Variabel dependen yang digunakan adalah audit delay, dan variabel independennya ukuran perusahaan, profitabilitas dan solvabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan solvabilitas perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, variabel profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap audit delay, sedangkan variabel ukuran
7
perusahaan, profitabilitas dan solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap audit
delay. Penelitian yang dilakukan oleh (Saemargani & Mustikawati, 2019) studi
pada perusahaan LQ 45. Dengan variabel dependennya yaitu audit delay, dan variabel independennya ukuran perusahaan, umur perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP), dan opini auditor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, solvabilitas perusahaan, ukuran KAP, dan opini auditor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap audit
delay. Variabel umur perusahaan, dan profitabilitas berpengaruh signifikan
terhadap audit delay, sedangkan variabel ukuran perusahaan, umur perusahaan, profitabilitas perusahaan, solvabilitas perusahaan, ukuran KAP dan opini auditor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap audit delay.
Penelitian yang dilakukan oleh (Subawa Putra & Dwiana Putra, 2016) melakukan riset pada industri manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 - 2014. Dengan variabel dependen audit delay, variabel independen opini auditor, profitabilitas, debt to equity ratio ( DER), serta satu variabel moderating ialah dimensi industri. Hasil riset menghasilkan bahwa opini auditor serta profitabilitas mempunyai pengaruh negatif terhadap audit delay,
debt to equity ratio ( DER) mempunyai pengaruh positif terhadap audit delay,
dimensi industri memoderasi pengaruh opini auditor terhadap audit delay, serta dimensi industri tidak memoderasi pengaruh profitabilitas serta debt to equity ratio ( DER) terhadap audit delay.Adapun perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang sebelumnya adalah objek sampel yang diambil yaitu pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2018 sampai dengan tahun 2020. Selain itu, variabel pada penelitian ini yaitu menggabungkan atau mengkombinasikan beberapa variabel yang telah digunakan oleh peneliti-peneliti sebelumnya dari jurnal utama yang digunakan oleh penulis. Berlatar belakang hal tersebut diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2018 sampai dengan tahun 2020. Adapun variabel independen yang akan digunakan dalam
8
mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay adalah profitabilitas perusahaan, solvabilitas perusahaan, dan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). Dengan judul penelitian “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay, studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2018 sampai dengan tahun 2020”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah variabel profitabilitas berpengaruh terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020?
2. Apakah variabel solvabilitas berpengaruh terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020?
3. Apakah variabel ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) berpengaruh terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020?
4. Apakah variabel profitabilitas perusahaan, solvabilitas perusahaan, dan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) secara simultan atau bersama-sama memiliki pengaruh terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
2. Untuk mengetahui pengaruh solvabilitas terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
3. Untuk mengetahui pengaruh ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa
9
Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
4. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas, solvabilitas, dan Kantor Akuntan Publik (KAP) secara bersama-sama terhadap audit delay Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Pada Tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan
Meningkatkan ketepatan waktu dalam hal pelaporan laporan keuangan pada akhir tahun kepada masyarakat dan Bapepam yang sejak 12 Desember 2012 telah berganti nama menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
2. Bagi Kantor Akuntan Publik (KAP)
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan atau referensi dalam usaha meningkatkan ketepatan waktu dengan efektif dan efisien dalam proses penyelesaian audit report atau opini audit bagi perusahaan go public yang diaudit melalui faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay, sehingga lamanya audit delay dapat teratasi dan diminimalisasi serta dapat meningkatkan ketepatan waktu dalam mempublikasikan laporan keuangan bagi perusahaan publik.
3. Bagi Regulator (Otoritas Jasa Keuangan) dan Lembaga Keuangan (LK) Penelitian ini diharapkan agar para regulator-regulator tersebut dapat lebih memikirkan dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan terkait dengan ketepatan waktu penyampaian oleh perusahaan publik atas adanya audit delay yang cukup lama, yang dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor inilah yang akan diteliti dalam penelitian ini.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan dalam bidang audit, khususnya dalam hal faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lamanya audit delay terjadi pada perusahaan publik. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan atau menjadi referensi
10 bagi para peneliti-peneliti selanjutnya.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab 1 merupakan bab pendahuluan dari proposal skripsi yang didalamnya berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini merupakan pengembangan dari tinjauan literatur dan tinjauan teori yang diperoleh melalui buku maupun artikel yang terdapat di jurnal ilmiah yang berkaitan dengan judul yang diteliti. Dimana dalam Tinjauan Pustaka ini berisi penelitian terdahulu yang relevan, hipotesis dan model penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini mencakup pokok-pokok bahasan, antara lain: Jenis dan Desain Penelitian, Definisi Operasional dan pengukuran variabel, Populasi dan Metode Pengambilan Sampel (jika diperlukan), Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data, dan Metode Analisis.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini mencakup pokok-pokok bahasan yang akan diuraikan, antara lain: deskripsi data, analisis data dan pembahasan dari hasil penelitian.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil analisis dan pembahasan dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian, dan implikasi yang berisi saran bagi manajerial dan peneliti selanjutnya serta kebijakan bagi pengambilan suatu keputusan.