BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LilinLilin atau malam, awalnya terbuat dari sarang lebah dengan penghuni ± 30000 ekor lebah, oleh karena itu disebut lilin lebah. Lilin lebah dibentuk melalui proses kimia dengan madu sebagai bahan baku dan bahan perekat yang disebut propolis. Untuk membuat satu kilogram malam diperlukan empat kilogram madu. (Rismunandar, 1990).
Perkembangan selanjutnya, lilin sudah dapat dibuat dengan mengkombinasi stearin dan parafin. Hal ini untuk mengurangi biaya yang terlalu mahal bila menggunakan stearin saja ataupun dengan lilin lebah (beeswax) (Saraswati, 1985).
Lilin adalah padatan parafin yang tengahnya diberi sumbu tali yang berfungsi sebagai alat penerang. Sebagai bahan baku untuk pembuatan lilin adalah parafin padat, yaitu suatu campuran hidrokarbon padat yang diperoleh dari minyak mineral (bumi). Pada tahun 1970-1971, ekspor parafin padat sebanyak 28.000 ton, sedangkan tahun 1976 berjumlah 32.860 ton. Berdasarkan hasil percobaan, sebatang lilin dengan diameter 1,5 cm dan panjang 17 cm (berat 30 g) punya kekuatan menyala aelama rata-rata lima jam. Karakteristik lilin adalah sebagai berikut:
a. Ciri umum : Tidak berbau, tidak memiliki rasa,warna putih sampai kuning, bila dirabah sedikit licin, terbakar dengan nyala terang, jika dilebur menghasilkan cairan yang tidak berfluorosensi.
b. Titik cair : 42-60◦C.
c. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95%, tetapi larut dalam chloroform dan eter.
Lilin aromaterapi adalah salah satu bentuk diversifikasi dari produk lilin, yaitu aplikasi lain dari cara inhalasi atau penghirupan aromaterapi yang biasa dilakukan dengan mencampurkan beberapa tetes minyak esensial ke dalam wadah berisi air panas, kemudian menutupi kepala dengan handuk sambil menghirup uap minyak tersebut selama beberapa menit. Aroma yang muncul pada saat lilin dibakar akan memberi rasa tenang, rileks, dan nyaman. Fungsi ganda yang dimiliki lilin ini sebagai produk yang diharapkan dapat diminati dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. 2.2 Stearin
Dalam “The Merck Index” disebutkan bahwa stearin (tristearin, gliseril, tristear at) dengan rumus kimia mempunyai bentuk berupa serbuk berwarna putih dengan titik cair ±55◦c. lemak ini terdapat dalam lemak nabati atau hewani. Stearin juga dapat dibuat dengan cara mereaksikan asam stearat dengan gliserol pada kondisi tertentu (Djanaka et al, 1984).
Stearin ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan lilin, cat atau oleochemical. Minyak kelapa sawit kasar (CPO) pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu stearin (fraksi padat) dan olein (fraksi cair). Dalam proses fraksinasi dapat diperoleh minyak makan (olein) sebanyak 70% dan stearin sebanyak 30%. Stearin Indonesia yang berbentuk pasta menunjukkan kandungan oleinnya masih tinggi (sekitar 40%) (Somaatmadja, 1981).
Stearin hasil fraksinasi bersifat tidak murni, melainkan campuran dari berbagai asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh, dengan komponen terbanyak adalah asam palmitat (Djanaka dan Ressytustra, 1985). Komposisi berbagai asam lemak di dalam stearin terlihat pada tabel 1.
Tabel 2.1. Komposisi Berbagai Asam Lemak Dalam Stearin.
Jenis asam lemak Stearin
1 2 Asam laurat % 0,1 0,1 Asam miristat 1,3 1,1 Asam palmitat 55,2 47,5 Asam stearat 5,3 5,2 Asam oleat 29,5 35,8 Asam linoleat 8,0 9,5 Asam linileat 0,2 0,2 Asam arakhidat 0,3 0,3
Stearin yang digunakan juga harus sesuai standar Refined Bleached Deodorized (RBD) palm stearin yang tercantum dalam SP-159-1984a, seperti yang terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2.2. Standar RBD palm stearin menurut SP-159-1984
Karakteristik Syarat
Asam lemak bebas (sebagai palmitat), % (b/b) maksimal 0,2 Kadar air dan kotoran, % (b/b) maksimal 0,15
Bilangan iodine (Wijs), maksimal 40
Titik lunak, oC minimal 48
Warna, merah / R, maksimal Kuning / Y, maksimal
3 30
Rasa Normal b
a
Direktorat standarisasi dan pengendalian mutu (1986)
b
Rasa khas untuk minyak kelapa sawit (bland)
Crude palm stearin (CPS) di definisikan di dalam SP-157-1984 sebagai lemak
minyak daging buah tanaman Ellais guinensis JACQ. Karakteristik CPS menurut SP-157-1984 disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2.3. Karakteristik CPS menurut SP-157-1984
Karakteristik Syarat
Asam lemak bebas (sebagai palmitat) Maks. 5.0 % (b/b)
Kadar air dan kotoran Maks. 5.0 % (b/b)
Bilangan iodine (wijs) 40
Titik lunak Minimum 48oC
Menurut pantzariz (1997), stearin memiliki slep melting point pada kisaran 46oC - 56oC. Titik ini lebih tinggi dibandingkan fraksi olein, yang hanya 13oC – 23oC. untuk indekks bilangan iod Wijs stearin adalah 21,6 – 46,0, sedangkan untuk olein adalah 58,1 – 60,8.), Stearin merupakan gliserida yang memiliki titik cair tinggi. Kandungan yang tinggi ini menyebabkan stearin berada pada kondisi pasta-padat pada suhu kamar.
Residu RBDPS didapat saat menetralisasi stearin , menetralisasi stearin bertujuan untuk menurunkan ALB,NaOH Yang tidak bereaksi sempurna dan karena formulasi percampuran NaOH yang tidak tepat akan mengakibatkan menumpuk nya residu dan karna tidak sering dilakukannya penyaringan maka semakin menumpuknya residu, pada proses ini residu tidak diinginkan dan belum di manfaatkan keberadaannya.
2.3 Minyak Atsiri
Secara alamiah, minyak atsiri yang masi murni mempunyai nilai sifat-sifat fisik dan kimia tertentu . Sifat-sifat akan berubah akibat pengaruh dariberbagai faktor terutama karena kerusakan akibat oksidasi, hidrolisa, polimerisasi, dan pencampuran (adulteration). Khusus pencampuran minyak atsiri dengan persenyawaan kimia
tertentu sukar dideteksi secara organoleptik dan analisa fisik, namun persenyawaan tersebut dapat dideteksi dengan analisa secara kimia-fisik.
Mutu minyak atsiri yang baik dan buruk ditentukan olehsuatu kriteria atau batasan-batasan yang terdapat dalam standar mutu. Di dalam standar mutu dinyatakan sifat minyak yang umum terdapat dalam suatu komoditi baik sifat fisik maupun kimianya. Dari sifat fisik biasanya diketahui keaslian dari komoditi itu. Sedangkan sifat-sifat kimia akan diketahui secara umum kandungan yang terdapat di dalam suatu komoditif (Gusmalini, 1987).
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak atsiri secara skematis dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak atsirih
Pada skema diatas terlihat bahwa mutu minyak dipengaruhi oleh mutu bahan olah dan cara pengolahan serta penanganan minyak atsiri yang dihasilkan. Tetapi faktor yang berpengaruh langsung adalah faktor pengolahan dan penanganan minyak atsiri setelah di ekstraksi (Gusmalini, 1987). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan penurunan mutu minyak atsiri hasil ekstraksi adalah :
Tanaman Penanganan bahan olah
Penanganan hasil olah Pengolahan (ekstraksi)
1. Kerusakan Komponen Kimia
Kerusakan komponen kimia ini bisa saja terjadi waktu minyak atsiri berada dalam bahan, maupun selama proses ekstraksi dan penyimpanan. Berdasarkan sifat kimia minyak atsiri, kerusakan karena proses hidrolisa minyak terutama terjadi pada minyak atsiri yang mengandung senyawa ester. Proses oksidasi dan resinifikasi pada komponen minyak yang mengandung ikatan tidak jenuh, biasanya terjadi secara serentak yang akan menurunkan mutu, terutama bau khas alamiah minyak.
2.Pencampuran
Minyak atsiri bermutu tinggi sering dicampur dengan minyak atsiri bermutu rendah atau persenyawaan sintetis yang lebih murah dengan tujuan penambahan bobot atau volume minyak atsiri yang dihasilkan.secara uji organoleptik, perubahan mutu akibat penambahan bahan asing tersebut sulit diketahui. Adapun pencampuran bahan lain dalam minyak atsiri asli selain menurunkan mutu minyak juga menyulitkan dalam penggunaannya.
3.Pencemaran oleh wadah kemasan
Wadah kemasan harus memenuhi persyaratan agar tidak menurunkan mutu minyak yang dihasilkan. Misalnya jenis bahan pengemas tertentu dapat bereaksi dengan minyak atsiri atau bahan kemasan itu mengandung kotoran. Kotoran ini dapat berasal dari bahan yang dikemas sebelumnya dalam drum seperti bahan kimia, minyak tanah, atau minyak goreng.
Setiap jenis minyak atsiri merupakan campuran dari beberapa senyawa kimia, dimana antar senyawa yang berbeda sifat dapat saling melarutkan dan memiliki bau wangi yang khas. Komposisi kimia minyak atsiri berhubungan erat dengan jenis tanaman penghasil, iklim, tanah, umur panen, metode pengolahan serta cara penyimpanannya.
Bau wangi yang terdeteksi merupakan resultan pewangi yang ada didalamnya. Bau wangi yang menonjol dank has dari minyak ditentukan oleh satu atau beberapa komponen terbesar dari minyak tersebut dan komponen lain hanya komponen pengharmonis dari minyak tersebut (Ketaren,1985).
Minyak atsiri hanya mengandung senyawa-senyawa yang mudah menguap (volatile
oil) yang berasal dari bahan yang banyak mengandung zat volatile dan mempunyai
aroma yang kuat. Tetapi aroma yang dihasilkan kurang lengkap karena hanya mengandung senyawa-senyawa yang mudah menguap, sehingga aroma yang dimiliki minyak atsiri sering berbeda dengan aroma aslinya (Heath, 1978).
Pada umumnya komponen kimia dalam minyak atsiri dibagi dua golongan yaitu hidrokarbon yang terdiri dari persenyawaan terpen (hidrokarbon) dan oxygenated
hydrocarbon (hidrokarbon-o). menurut Heath (1990), golongan hidrokarbon terdiri
dari monoterpen, seskuiterpen, diterpen, politerpen, parafin, olein dan hidrokarbon aromatic. Walaupun golongan terpen hidrokarbon sangat besar jumlahnya dalam minyak atsiri, akan tetapi sangat kecil nilai aromanya, mungkin hampir tidak ada nilai aromanya. Komponen kimia yang menyebabkan bau wangi dalam minyak atsiri berasal dari golongan oxygenated hydrocarbon (hidrokarbon-o) yang terdiri dari senyawa alcohol, aldehida, keton, oksida, ester dan eter.
Minyak bunga atau floral oil merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang diperoleh dari bunga tanaman dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut atau adsorbs dengan menggunakan lemak (enfleurasi dan maserasi). Produk minyak tersebut biasanya diperdagangkan dengan menggunakan nama absolut atau bahan parfum alamiah. Mutu minyak yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan minyak hasil sulingan karena penggunaan panas dalam penyulingan akan merusak sebagian komponen minyak sehingga mengubah sifat-sifat dan bau wangi alamiah (Ketaren, 1985).
Sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat. Hasil penyulingan daun dan batang sereh wangi diperoleh minyak atsiri yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil. Menurut Burdock (2002) komponen senyawa utama minyak sereh wangi ini terdiri dari sitronelal, sitronellol, dan geraniol ,senyawa tersebut mampu menghambat aktivitas bakteri. Putriningtyas (2014) dalam studinya melaporkan bahwa minyak atsiri daun sereh wangi asal Tawangmangu mampu menghasilkan zona hambat terhadap S.
aureus dan E. coli. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri minyak atsiri daun
sereh wangi lebih besar terhadap bakteri S. aureus. Penelitian lain yang dilakukan oleh Brugnera et al. (2011), minyak atsiri daun sereh wangi asal Brazil yang memiliki komponen kimia sitronellal (34,6%), geraniol (23,17%), dan sitronellol (12,09%) juga mampu menghambat aktivitas bakteri S. aureus serta mampu menghambat aktivitas bakteri Gram negatif yaitu E. coli dan P. aeruginosa . Minyak sereh wangi diketahui memiliki potensi senyawa untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang berdampak pada penyakit-penyakit infeksi bakteri. Menurut Burdock (2002) senyawa utama minyak sereh wangi adalah sitronellal, geraniol dan sitronellol. Dalam fraksi minyak atsiri dari tanaman C. winterianus/nardus terdapat senyawa sitronelal,sitronelol, limonene, linalool (Lorenzo et al., 2000). Hasil identifikasi dari Delespaul et al. (2000) dilaporkan bahwa dalam tanaman Cymbopogon nardus terdapat senyawa sitronellal, geraniol, sitronellol, sedangkan minyak atsiri dari C.
nardus asal India mengandung sitronellal, geraniol, α-terpineol, cis-sabinene hidrat,
nerolidol, β-caryophyllene, dan germacren-4-ol (Mahalwal, 2002).
Sitronellal dengan rumus kimia C10H16O yang memiliki nama kimia
3,7-dimetyl-6-octenal merupakan cairan yang tak berwarna yang memiliki bau seperti minyak tawon dari golongan senyawa monoterpen. Sitronellal bersifat optik karena mempunyai pusat khiral pada atom C3 (Hardjono, 2004). Geraniol (C10H18O) yang
memiliki nama kimia 3,7-Dimethylocta-2,6-die-1-ol merupa-kan persenyawaan yang terdiri dari 2 molekul isoprene dan 1 molekul air. Geraniol dapat dioksidasi menjadi
sitral. Sitronellol, 3,7-dimethyloct-6-en-1-ol, atau sering disebut juga dihydrogeraniol adalah suatu monoterpenoid alami dengan formula C10H20O yang diperoleh dari
minyak sereh wangi.
Senyawa dalam minyak sereh wangi ini tidak hanya memberikan aromatik (bau menyenangkan), tetapi juga merupakan senyawa dengan sifat terapi, dan memberikan perlindungan dari proses oksidasi dan pembusukan oleh mikroorganisme (Bakkali et al, 2007) . Sebagai obat tradisional ekstrak sereh wangi sering diminum untuk mengobati radang tenggorokan, radang usus, radang lambung, diare, obat kumur, sakit perut (Wijayakusumah 2008), batuk, pilek dan sakit kepala (Leung dan Foster 1996), juga digunakan sebagai obat gosok, untuk mengobati eksema dan rematik (Oyen, 1999).
Sitronellal, geraniol, dan sitronellol yang merupakan senyawa utama dalam minyak sereh wangi dibentuk oleh unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) dengan formula unsur C10, H16,18,20 dan O merupakan senyawa terpenoid golongan
monoterpen (C10). Menurut Harborne (1987), sebagian besar antibakteri asal
tumbuhan diketahui merupakan metabolit sekunder yang teridentifikasi sebagai golongan fenolik dan terpenoid dalam fraksi minyak atsiri.
Mekanisme antibakteri senyawa fenolik dan terpenoid adalah merusak struktur dinding sel, mengganggu kerja transport aktif dan kekuatan proton di dalam membran sitoplasma bakteri. Selanjutnya disampaikan Adisoemarto (1998) bahwa senyawa tersebut akan mendenaturasi dan menginaktifkan protein seperti enzim. Oleh karena itu, dinding sel bakteri akan mengalami kerusakan karena terjadinya penurunan permeabilitas yang memungkinkan terganggunya transport ion-ion organik penting yang akan masuk ke sel bakteri, sehingga dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel bakteri.
Fungsi minyak sereh wangi sebagai agen antibakteri ditentukan oleh komponen senyawanya, seperti yang dijelaskan oleh (Miftakhurohmah et al., 2008) bahwa komponen utama minyak serai wangi adalah sitronellal dan geraniol memiliki sifat antibakteri. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengujikan senyawa minyak sereh wangi dalam mengatasi dan menghambat pertumbuhan bakteri yang berdampak pada timbulnya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Hasil studi dari Simic et al. (2004) membuktikan bahwa senyawa sitronellal, trans-geraniol dan sitronellol yang dominan pada minyak sereh wangi memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri. Minyak atsiri dari C. winterianus / C. nardus menunjuk-kan aktivitas terhadap B. cereus, M. luteus dan S. aureus tetapi tidak aktif terhadap bakteri gram-negatif seperti bakteri E. coli, P. mirabilis, dan P. tolasi pada konsentrasi diuji. Secara umum, Gram-positif bakteri lebih sensitif dibandingkan adalah Gram-negatif. (Lertsatitthanakorn, 2010) melaporkan bahwa hasil KG-SM menunjukkan bahwa konstituen utama minyak sereh wangi tersebut adalah sitronelal, geraniol dan sitronelol, senyawa monoterpen tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang kuat. Pada semua konsentrasi di atas minimum minyak ini mampu membunuh
Propioni-bacterium acnes. Sasaran utama dari minyak sereh wangi dalam membunuh
bakteri ini adalah menghancurkan dinding sel bakteri dan merusak bahan intraseluler bakteri sehingga dapat mengakibatkan kematian pada bakteri.
(Poeloengan, 2009) memaparkan bahwa minyak atsiri sereh wangi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylo-coccus aureus, Staphylococcus
epidermidis, Streptococcus agalactiae, dan Escherichia coli yang diisolasi dari sapi
yang menderita mastitis subklinis. Penelitian lain juga dilakukan oleh Suprianto (2008), membukti-kan bahwa ekstrak etanol dan ekstrak air batang dan daun sereh wangi memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans. Aktivitas ekstrak etanol batang dan daun sereh wangi lebih besar dari ekstrak air dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans. Selain senyawa sitronellal, geraniol dan
sitronellol, senyawa sitral merupakan kelompok senyawa terpen yang terdiri dari campuran isomer bioaktif nerol dan geraniol yang merupakan salah satu komponen penyusun dalam minyak atsiri sereh.senyawa tersebut memiliki sifat bakterisidal terhadap beberapa spesies bakteri.
Simic et al. (2008) membuktikan bahwa minyak sereh wangi juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri seperti yang dicantumkan dalam
Tabel 2.4.Bakteri Minyak Atsiri
NO NAMA BAKTERI MINYAK ATSIRI Cymbopogon winteriaunus/nardus L. MIC (μL/mL) MBC (μL/mL) 1 B.cereus 2.0 4.0 2 E. coli 6.0 - 3 M. luteus 2.0 4.0 4 P. mirabilis 6.0 - 5 P. tolaasii - - 6 S. enteritidis 4.0 6.0 7 S. aureus 2.0 4.0
Hasil uji antibakteri yang dilakukan oleh Simic et al. (2008) ditunjukkan pada Tabel 1, dilaporkan bahwa minyak atsiri dari tanaman C. winterianus/nardus memiliki aktivitas antibakteri dalam kisaran 0,5-6 mL / mL. Minyak atsiri dari C.
winterianus/nardus menunjukkan aktivitas terhadap B. cereus, M. luteus dan S.
aureus, tetapi tidak aktif terhadap bakteri Gram-negatif seperti: bakteri E. coli, P.
mirabilis, dan P. tolasii pada konsentrasi yang diuji. Secara umum, Gram-positif
bakteri lebih sensitif dibanding bakteri Gram-negatif.
Janssen et al. (1988) menemukan sitronellol mungkin dapat digunakan sebagai antimikroba jika berinteraksi dengan sitronelal. Griffin et al. (1999) menunjukkan sitronellol tidak aktif terhadap E. coli, sedang-kan geraniol, nerol, dan linallol aktif. Tidak adanya ikatan ganda pada struktur sitronellol inilah yang mendukung sehingga
sitronellol tidak dapat menghambat E. coli. Ketika dilakukan perbandingan dengan alkohol aldehida, maka sitronellol menunjukkan aktivitas yang lebih besar terhadap S. aureus daripada sitronellal. Efisien dan tidaknya aktivitas minyak atsiri C. nardus sebagai agen antibakteri ditandai oleh asosiasi sitronelol dan sitronelal (Delespaul et al., 2000).
2.5. Asam Stearat (Stearic Acid)
Stearic acid (asam stearin) adalah asam lemak jenuh yang mudah diperoleh dari
lemak hewani serta minyak masak. Wujudnya padat pada suhu ruang. Asam stearat diproses dengan memperlakukan lemak hewan dengan air pada suhu dan tekanan tinggi. Asam ini dapat pula diperoleh dari hidrogenasi minyak nabati. Dalam bidang industri asam stearat dipakai sebagai bahan pembuatan lilin, sabun, plastik, kosmetika, dan untuk melunakkan karet. Titik lebur asam stearat 69.6 °C dan titik didihnya 361 °C. Reduksi asam stearat menghasilkan stearil alcohol (Thomas, 1985).
Crude Palm Oil (CPO) termasuk golongan lemak dan merupakan bahan baku
pembuatan RBDPS (Refined Bleached Deodorized Palm Stearin). Secara umum pembuatan dan pemurnian RBDPS melalui tahapan pengolahan awal CPO yang mencakup tahap degumming dan pemucatan (bleaching), deodorisasi dan fraksinasi basah atau kering atas fraksi olein dan stearin (RBDPS). Pengolahan ini bertujuan untuk menekan kandungan impurities (bahan pengotor) serendah mungkin, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan asam stearat berbasis RBDPS (C
18 = 37 –
42 %) bermutu premium pada industri oleokimia. Asam stearat yang diproduksi pada industri oleokimia sangat luas pemanfaatannya dalam kehidupan manusia, khususnya asam stearat berbasis RBDPS banyak dimanfaatkan untuk pembuatan : sabun, lilin,
krayon, kosmetik, pelumas, penyetabil PVC, monogliserida, bahan pengkilat, obat – obatan, metil stearat, pengemulsi makanan (Thomas, 1985).
Salah satu route proses pembuatan dan modifikasi asam lemak yang digunakan untuk pembuatan asam stearat berbasis RBDPS (C
18 = 37 – 42 %), ditampilkan pada
diagram balok Gambar 2.1. Route proses ini juga dapat digunakan untuk pembuatan asam stearat berbasis CPO (C
18 = 50 – 56 %) dan asam stearat berbasis PKO (C18 =
62 – 70 %).
Gambar 2.2. : Pembuatan dan modifikasi asam stearat berbasis RBDPS (C
18 = 37- 42%) (PT. Flora Sawita Chemindo)
Catatan : RBDPS (Refined Bleached Deodorized Palm Stearin ); DRBDPS (Degummed RBDPS ) ;
SRBDPSFA (Spllited RBDPS Fatty Acid)
Jenis asam stearat di atas merupakan sebagian kecil dari jenis asam stearat yang dapat diroduksi sampai saat ini pada industri oleokimia dan masih banyak yang ragamnya. Asam stearat lainnya dapat dibuat dari bahan baku yang berbeda dengan mutu yang berbeda pula (Ritonga, 2004 : 2008). Perbedaan mutu tidak saja disebabkan oleh perbedaan bahan baku, tetapi juga disebabkan oleh perbedaan tahapan pengolahan yang dilakukan dan kemampuan fasilitas pemurnian. Asam stearat yang merupakan
fraksi tunggal dengan kemurnian di atas 90 % dapat dibuat melalui proses fraksinasi sebagai tahap pemurnian lanjut setelah distillasi (Ritonga, 2004)
2.6 Palm Fatty Acid Distillate
Palm fatty acid distillate (PFAD) adalah produk sampingan dari proses
pemurnian minyak sawit kasar yang banyak mengandung asam lemak bebas (ALB) yaitu sebesar 80%. PFAD juga merupakan hasil samping dari proses pemurnian minyak sawit mentah (Sukmawati, 2012)
Tabel 2.5. Karakteristik PFAD
Parameter Rata-rata
Asam lemak bebas (sebagai C16:0 berat) Kadar air ( berat)
Bahan tidak tersabunkan ( berat) Bilangan penyabunan 83,3 0,08 2,5 198 Sumber : Sukmawati (2012)
Sampai saat ini pemanfaatan PFAD masih sangat terbatas, yaitu digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun berkualitas rendah. Palm Fatty Acid
Destilate (PFAD) mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk digunakan
sebagai bahan baku pembuat produk-produk oleokimia salah satunya pembuatan sabun. Hal ini disebabkan oleh komposisi asam lemak yang terdapat dalam PFAD tidak jauh berbeda dengan komposisi asam lemak yang terdapat dalam minyak sawit (Sukmawati, 2012)
Tabel 2.6 Komposisi Palm Fatty Acid Distillate (PFAD)
Komponen Kadar (%) Asam lemak bebas
Gliserida Trigliserida Digliserida Monogliserida Sterol Stigmasterol Kampesterol ß sitosterol Hidrokarbon Squalene Lain-lain Tokoferol + tokotrienol 81,70 14,40 4,10 7,10 2,70 0,37 0,01 0,09 0,21 1,47 0,76 0,71 0,48 Lain – lain 1,60 Sumber : Christina ( 2007)