• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH CIRC TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS V GUGUS XI KEC. BULELENG TAHUN 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH CIRC TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS V GUGUS XI KEC. BULELENG TAHUN 2013"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH CIRC TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA

PEMAHAMAN SISWA KELAS V GUGUS XI

KEC. BULELENG TAHUN 2013

Ni Made Putri Sulistiantini, I Ketut Dibia, I Wayan Widiana3

1, 2, 3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: {[email protected], [email protected], [email protected]}@undiksha.ac.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan membaca pemahaman antara siswa yang belajar dengan menggunakan model CIRC (Cooperative

Integrated Reading And Composition) dan siswa yang belajar dengan menggunakan

pembelajaraan konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimen), dengan desain post test only group desain. Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD segugus XI Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014. Sampel ditentukan dengan teknik cluster sampling dan diperolah SD No. 3 Kampung Anyar sebagai kelompok eksperimen yang berjumlah 20 orang siswa dan SD No. 1 Kampung Bugis sebagai kelompok kontrol yang berjumlah 23 orang siswa. Data hasil keterampilan membaca pemahaman siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes uraian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial uji-t. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan mengenai hasil keterampilan membaca pemahaman antara siswa yang belajar dengan menggunakan model CIRC (Cooperative Integrated Reading

And Composition) dan siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaraan

konvensional. Hasil analisisnya menunjukkan t hitung = 6,45 dan t tabel = 2,02 untuk db =

n1 + n2 = 20 + 23 = 43 dengan taraf signifikasi 5%. Berdasarkan kriteria pengujian, karena t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti model CIRC

(Cooperative Integrated Reading And Composition) berpengaruh terhadap hasil keterampilan membaca pemahaman.

Kata kunci: model pembelajaran CIRC, keterampilan membaca pemahaman

Abstract

This study aims to determine the differenced of reading skills comprehension between wich student by used CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) method and student wich studied by used convensional learning. This research as an actual (quasi experimental) with the design of post-test only control group design. The population of research is elementary school of five grade the Buleleng District in the academic year 2013/2014. The sample used by cluster sampling technique and geted by elementary school of number three of Kampung Anyar as experiment groups has amounts to twenty students from elementary number one of Kampung Bugis as a control group has twenty three of students. The proceeds of reading control the student together by use the easy test. The data to be analyzed using by technique statistics of descriptive

(2)

and inferential statistics (t-test). The pruits of research to be find the significantly different about CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) method and student use learning by convensional. That analyzed have pattern of tarithematic = 6,45 and ttable = 2,02

for db = n1 + n2 = 20 +23 = 43 by significant 5%. By according examine cratiria, because tarithematic > ttable so H0 refused and Ha accived. In this case CIRC (Cooperative Integrated

Reading And Composition) method has an influence toward the result of reading skills

comprehension.

Key words: CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) method, reading

skills comprehension PENDAHULUAN

Menurut Mulyasa, (2008:3) Pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk karakter, perkembangan ilmu dan mental seorang anak, yang nantinya akan tumbuh menjadi seorang manusia dewasa yang akan berinteraksi dan melakukan banyak hal terhadap lingkungan, baik secara individu maupun kelompok. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu bersaing di era globalisasi.

Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Melalui membaca siswa akan memperoleh berbagai informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa lampau, sekarang, bahkan yang akan datang.

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca sudah semestinya siswa harus melakukan kegiatan membaca atas dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa membaca atas dasar kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia inginkan. Namun sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi yang ia peroleh tidak akan maksimal. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang yang tertulis semata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca, agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya agar lambang-lambang

yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Kegiatan membaca juga merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Dikatakan aktif, karena di dalam kegiatan membaca sesungguhnya terjadi interaksi antara pembaca dan penulisnya, dan dikatakan reseptif, karena si pembaca bertindak selaku penerima pesan dalam suatu korelasi komunikasi antara penulis dan pembaca yang bersifat langsung.

Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Melalui membaca, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan dipahami sebelum dapat diaplikasikan. Membaca merupakan satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan. Adapun kemampuan bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi, yaitu: (1) Keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills), (2) Keterampilan berbicara (Speaking Skills), (3) Keterampilan membaca (Reading Skills), dan (4) Keterampilan Menulis (Writing Skills).

Untuk mencapai tujuan pendidikan terutama dalam membaca pemahaman tersebut pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah: (1) meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, seperti penyediaan buku paket, dan bantuan operasional siswa, (2) peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui penataran dan pelatihan serta seminar, Program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),

(3)

dan program kemitraan antar sekolah dengan lembaga kependidikan, (3) perbaikan & pengembangan kurikulum, yang salah satunya adalah perubahan kurikulum dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta program-program pemerintah yang lain yang menunjang peningkatan mutu pendidikan. Usaha-usaha tersebut telah dilakukan secara berkala dan intensif, tetapi permasalahan tersebut belum sepenuhnya terpecahkan. Dengan kata lain, masih tetap diperlukan usaha-usaha yang lebih inovatif untuk pelaksanaan reformasi pendidikan.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan, guru telah mengajar dengan menggunakan perangkat pembelajaran, seperti dengan menggunakan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), menggunakan buku ajar, dan berpanduan dengan silabus. Proses pembelajaran masih bersifat teacher centered. Selain menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran. Model pembelajaran konvensional disini adalah model pembelajaran yang masih berpandangan pada paradigma lama. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

Pembelajaran konvensional sering juga disebut sebagai pembelajaran yang bersifat tradisional. Siswa menjadi penerima pengetahuan yang pasif dan kebanyakan menghafal tanpa belajar untuk berpikir. Pembelajaran konvensional umumnya hanya jawaban benar saja yang diterima oleh guru dan jawaban yang salah dilupakan begitu saja. Siswa jarang mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau bertukar pikiran dengan siswa lain di dalam kelas.

Pembelajaran Bahasa Indonesia yang terjadi lebih mengarah pada pembelajaran kompetisi atau kompetitif. Dimana dalam pembelajaran kompetitif, siswa belajar dalam suasana persaingan. Oleh karena itu pembelajaran kompetitif bisa menimbulkan rasa cemas yang justru bisa merusak motivasi dan menciptakan suasana permusuhan di kelas.

Salah satu pembelajaran yang memiliki aspek pembelajaran kolaboratif yang digunakan dalam pelajaran Bahasa

Indonesia adalah belajar kooperatif (kerja sama). Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4–6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Beberapa kelebihan belajar kooperatif diantaranya, membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untukmenumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dan dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Belajar dalam kelompok kooperatif dapat melatih siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan tersebut dalam bentuk tulisan. Selain itu, pembelajaran koperatif juga dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu model pembelajaran yang memiliki aspek pembelajaran kolaboratif yang digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia adalah model pembelajaran CIRC. Menurut Steven dan Slavin, model

pembelajaran Cooperative Integrated

Reading and Composition (CIRC) yakni model pembelajaran yang dengan cara mengelompokkan dalam 4 kelompok yang heterogen dimana pada masing-masing kelompok diberikan wacana atau kliping sehingga akan terjadi proses diskusi, selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan guru kemudian memberikan kesimpulan.

Dalam pembelajaran CIRC setiap siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran ini, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berpikir kritis, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat

(4)

Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah.

Penggunaan model membaca terutama model CIRC tentunya sangat dibutuhkan dalam pembelajaran keterampilan membaca di Sekolah Dasar. Alasan menggunakan model CIRC karena (1) model ini merupakan langkah-langkah sistematis yang harus dilakukan oleh siswa agar lebih mudah memahami isi wacana, dan (2) penggunaan model CIRC membuat siswa lebih aktif dalam proses membaca.

Pada paradigma baru pendidikan berpusat pada siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator, inovator, dan motivator. Hal itu menyebabkan guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang inovatif agar siswa tidak merasa bosan dengan model pembelajaran yang lama. Oleh sebab itu, dalam menangani siswa haruslah seirama dengan karakteristik siswa sebagai pebelajar agar mampu meningkatkan mutu pendidikan.

Upaya peningkatan mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh faktor guru, peserta didik, sarana belajar, situasi belajar bahkan metode dan model yang digunakan. Guru diharapkan dapat menyiapkan pembelajaran dengan penyampaian yang baik dan tepat, sehingga peserta didik lebih mudah membangun pengetahuan yang diajarkan. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berpengaruh pada hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakteristik materi dan diduga dapat membantu siswa dalam pencapaian hasil belajar.

Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, model pembelajaran CIRC memiliki langkah-langkah pembelajaran yang berbeda dengan model pembelajaran konvensional, ini diduga akan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa. Untuk itu, peneliti ingin mengangkat masalah ini melalui suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran CIRC Terhadap Keterampilan Membaca Pemahaman Pada Siswa Kelas V SD Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014”.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan

keterampilan membaca pemahaman antara siswa yang belajar dengan menggunakan CIRC dan siswa yang belajar membaca menggunakan Pembelajaran Konvensional pada siswa kelas V di SD Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.

METODE

Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen semu (quasi experimen). Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng pada rentang waktu semester II (genap) tahun pelajaran 2013/2014. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di Gugus XI Kecamatan Buleleng. Jumlah SD keseluruhannya sebanyak 5 SD dengan jumlah seluruh siswa adalah 127 siswa.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cluster sampling. Teknik ini dipilih karena objek sasaran dari sampling penelitian ini adalah kelas-kelas dalam Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, bukan individu-individu (siswa) dalam gugus tersebut. Sampel yang dirandom dalam penelitian ini adalah kelas, karena dalam eksperimen tidak memungkinkan untuk merubah kelas yang ada. Kelas yang dirandom merupakan kelas dalam jenjang yang sama. Kelas-kelas tersebut adalah kelas V dari masing-masing sekolah dasar di Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Dari lima sekolah dasar yang ada di Gugus XI Kecamatan Buleleng, kemudian diacak secara sederhana untuk diambil dua kelas yang dijadikan sampel penelitian. Untuk menentukan sampel pasangan kelas terlebih dahulu pasangan kelas harus setara. Agar setara maka diperlukan uji kesetaraan pasangan kelas menggunakan uji t dengan rumus separated varians dimana nilai t pengganti t tabel dihitung selisih dari harga t tabel; dengan db = (n1-1) dan db (n2-1), dibagi dua, kemudian ditambah dengan harga t yang terkecil. Adapun pasangan kelas dianggap tidak setara apabila thitung > ttabel. Dari total 10 pasang kelas didapatkan sebanyak 3 pasang kelas dinilai tidak setara dan 7 pasang kelas dinilai setara. Dari 7 pasang kelas yang dinilai

(5)

setara secara statistik tersebut kemudian diacak secara sederhana untuk menentukan 1 pasang kelas sebagai sampel. Berdasarkan hasil acak didapatkan 1 pasang kelas, yaitu siswa kelas V SD No. 1 Kampung Bugis yang berjumlah 23 orang dan siswa kelas V SD No. 3 Kampung Anyar yang berjumlah 20 orang sebagai sampel penelitian. Untuk menentukan kelas eksperimen dan kontrol dilakukan dengan sistem acak, sehingga diperoleh siswa kelas V SD No. 3 Kampung Anyar sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas V SD No. 1 Kampung Bugis sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran CIRC dan kelas kontrol diberikan pembelajaran konvensional terhadap keterampilan membaca pemahaman.

Rancangan eksperimen yang digunakan adalah rancangan post-test only control design. Menurut Sugiyono (2009: 38) menyatakan bahwa “variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Dalam penelitian ini melibatkan variabel bebas dan variabel terikat yang dijelaskan sebagai berikut. Sugiyono (2009) menyatakan bahwa variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dependen (terikat). Variabel tergantung yaitu “variabel yang keberadaannya atau munculnya bergantung pada variabel bebas” (Agung, 2011:43). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. Adapun nilai atau variasi model pembelajaran yang diteliti dalam penelitian sebanyak 2 macam, yaitu model pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) dan model pembelajaran konvensional. Sedangkan Variabel terikat/tergantung dalam penelitian ini adalah keterampilan membaca pemahaman. Keterampilan membaca pemahaman yang dimaksud adalah Keterampilan membaca pemahaman pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes. Tes adalah alat yang digunakan untuk mengukur

kemampuan peserta didik sehingga menghasilkan suatu nilai tingkah laku dan prestasi belajar sesuai dengan aturan yang ditentukan. Tes yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial, yang artinya bahwa data dianalisis dengan menghitung nilai rata-rata, modus, median, standar deviasi, varian, skor maksimum, dan skor minimum. Menurut Koyan (2011:100-101) ”Statistik Deskriptif yaitu statistik yang

digunakan untuk

menggambarkan/menganalisis suatu statistik hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk generalisasi/inferensi. Penelitian yang tidak menggunakan sampel, analisisnya menggunakan statistik deskriptif”. Sedangkan statistik inferensial adalah ”statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan/diinferensikan kepada populasi dimana sampel diambil”. Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk grafik histogram. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah uji-t (separated varians). Sebelum melakukan uji hipotesis, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlu dibuktikan. Persyaratan yang dimaksud yaitu: (1) data yang dianalisis harus berdistribusi normal, (2) mengetahui data yang dianalisis bersifat homogen atau tidak. Kedua prasyarat tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu, maka untuk memenuhi hal tersebut dilakukanlah uji prasyarat analisis dengan melakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data dalam penelitian ini adalah skor keterampilan membaca pemahaman siswa sebagai akibat penerapan model pembelajaran cooperative integreted reading and composition (CIRC) pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol. Adapun hasil analisis data statistik deskriptif disajikan pada tabel 1 berikut.

(6)

Tabel 1. Deskripsi Data Keterampilan Membaca Pemahaman Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Statistik Deskriptif Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mean (M) 32,9 28 Median (Md) 32,4 29,71 Modus (Mo) 32,64 29 Varians 59,16 35,29 Standar Deviasi 3,007 2 Skor Minimum 28 24 Skor Maksimum 38 30 Rentangan 10 8

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui mean kelompok eksperimen lebih besar daripada mean kelompok kontrol. Kemudian data hasil keterampilan membaca pemahaman kelas eksperimen dapat disajikan ke dalam bentuk grafik histogram seperti pada Gambar 1.

0 5 10 24,5 27,5 30,5 33,5 36,5 39,5 Fr e ku e n si Titik Tengah

Grafik Histogram

Gambar 1. Grafik Histogram Data Hasil Keterampilan Membaca Pemahaman

Kelompok Eksperimen

Berdasarkan nilai titik tengah dan frekuensi masing-masing kelas interval pada grafik histogram di atas serta hasil perhitungan tabel distribusi frekuensi didapatkan bahwa mean (M) = 32,9, median (Md) = 32,4, dan modus (Mo) = 32,64. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa mean lebih besar dari modus dan modus lebih besar dari median (M<Mo<Md), sehingga grafik di atas termasuk kurva juling negatif yang berarti sebagian skor cenderung tinggi

.

Distribusi frekuensi data hasil keterampilan membaca pemahaman kelompok kontrol yang telah mengikuti pembelajaran dengan model

pembelajaran konvensional disajikan pada Gambar 2. 0 5 10 21,5 23,5 25,5 27,5 29,5 31,5 Fr e ku e n si Titik Tengah

Grafik Histogram

Gambar 2. Grafik Histogram Data Hasil Keterampilan Membaca Pemahaman

Kelompok Kontrol

Berdasarkan nilai titik tengah dan frekuensi masing-masing kelas interval pada grafik histogram di atas serta hasil perhitungan tabel distribusi frekuensi didapatkan bahwa mean (M) = 28, median (Md) = 29,71, dan modus (Mo) =29. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa mean lebih kecil dari modus dan modus lebih kecil dari median (M<Mo<Md), sehingga grafik di atas termasuk kurva juling positif yang berarti sebagian skor cenderung rendah

.

Sebelum melakukan uji hipotesis maka harus dilakukan beberapa uji prasyarat. terhadap sebaran data yang meliputi uji normalitas terhadap data tes keterampilan membaca pemahaman siswa. Uji normalitas ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kedua sampel tersebut bedistribusi normal.

(7)

Kriteria pengujian, jika

2hitung < 2

tabel dengan taraf signifikasi 5% (dk = jumlah kelas dikurangi parameter, dikurangi 1, maka data berdistribusi normal. Sedangkan, jika

2

hitung ≥

2

tabel, maka data tidak berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh hitung hasil post-test kelompok eksperimen adalah 7,73 dan tabel dengan taraf signifikasi 5% dan db = 2 adalah 7,82. Hal ini berarti,

2

hitung hasil post-test kelompok eksperimen lebih kecil dari tabel

( 2

hitung <

2

tabel ) sehingga data hasil post-test kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan,

2

hitung hasil post-test kelompok kontrol adalah 7,72 dan

2

tabel dengan taraf signifikasi 5% dan db = 2 adalah 7,82. Hal ini berarti,

2

hitung hasil post-test kelompok kontrol lebil kecil dari tabel ( 2

hitung < 2

tabel) sehingga data hasil post-test kelompok kontrol berdistribusi normal. Hasil perhitungan dari uji normalitas distribusi data keterampilan membaca pemahaman dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Data Keterampilan Membaca Pemahaman Sumber Data F hitung F tabel Status

Hasil keterampilan membaca pemahaman Kelompok Eksperimen dan Kontrol

2,261

2,028 Homogen

Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhitung hasil post-test kelompok ekperimen dan kontrol adalah 2,261. Sedangkan Ftabel dengan dbpembilang = 19, db penyebut = 22, dan taraf signifikasi 5% adalah 2,028. Hal ini berarti, varians data hasil keterampilan membaca pemahaman kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.

Berdasarkan uji prasyarat analisis data, diperoleh bahwa data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen. Setelah diperoleh hasil dari uji prasyarat analisis data, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0). Pengujian hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus polled varians dengan kriteria pengujian, terima H0 jika thitung ≤ ttabel dan tolak H0 jika thitung > ttabel. Hipotesis penelitian yang diuji adalah terdapat perbedaan keterampilan membaca

pemahaman antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan Model Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus XI Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014.

Uji hipotesis ini menggunakan uji–t sampel independent “sampel tak berkorelasi”. Pada tabel 1 di atas telah disampaikan bahwa data keterampilan

membaca pemahaman kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol adalah normal. Pada tabel 2 di atas juga telah disampaikan bahwa varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen. Pada uji-t sampel tak berkorelasi ini digunakan rumus uji-t separated varians. Adapun hasil analisis untuk uji-t dapat disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil uji Hipotesis Keterampilan

(8)

Pemahaman Kelompok

Eksperimen 20 32,9 43 6,45 2,01 H0 ditolak

Kelompok Kontrol 23 28 Berdasarkan hasil perhitungan uji-t diperoleh thitung sebesar 6,45. Sedangkan, ttabel dengan db = 43 dan taraf signifikasi 5% adalah 2,01. Hal ini berarti, thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan membaca pemahaman antara siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dan siswa yang belajar membaca menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V di SD Gugus XI Kecamatan Buleleng.

Pembahasan pada penelitian ini memaparkan keterampilan membaca pemahaman siswa baik pada kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran CIRC maupun dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca pemahaman siswa yang dicapai dengan menggunakan model pembelajaran CIRC berbeda dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Secara deskriptif, kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran CIRC memiliki skor rata-rata hasil belajar sebesar 32,9, sedangkan kelompok yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional memiliki skor rata-rata hasil belajar 28. Hal ini menunjukan keterampilan membaca pemahaman siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran CIRC lebih tinggi daripada siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Hasil uji-t terhadap hipotesis penelitian yang diajukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan membaca pemahaman siswa antara kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran CIRC dengan kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat terlihat berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pengaruh model pembelajaran terhadap keterampilan membaca

pemahaman siswa mempunyai nilai statistik t hitung= 6,45 dan ttab (db = 41 dan taraf signifikasi 5%) = 2,01. Secara statistik hasil penelitian ini menunjukan bahwa model

pembelajaran CIRC dan model

pembelajaran konvensional berbeda secara signifikan dalam pencapaian keterampilan membaca pemahaman siswa pada taraf signifikasi 5%.

Hasil penelitian ini telah membuktikan hipotesis yang diajukan, yaitu terdapat perbedaan keterampilan membaca pemahaman siswa antara kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran CIRC dengan kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Secara teoritis model pembelajaran CIRC lebih unggul daripada model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran CIRC dapat dipahamai sebagai pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered) dengan guru berperan sebagai moderator dan fasilitator (mediator) sedangkan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui belajar berkelompok untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung, cara belajar seperti ini akan memberikan efek yang baik bagi siswa dalam memahami pengetahuan itu dan tidak dipungkiri pengetahuan yang didapat itu dapat bertahan lama tersimpan dalam memori siswa karena siswa. Selain itu dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran CIRC siswa dituntun untuk meningkatkan kerjasama yang dimiliki pada diri siswa, dan meningkatkan interaksi dengan kerja kelompok.

Secara operasional model pembelajaran CIRC terdiri dari beberapa langkah yang meliputi: (1) tahap persiapan (kegiatan pendahuluan), (2) penyampaian tentang belajar kelompok (kegiatan inti), (3) menyampaikan wacana atau materi pembelajaran (kegiatan inti), (4) menyiapkan media gambar berseri (kegiatan inti), (5) siswa berdiskusi di dalam kelompok (kegiatan inti), (6) siswa mempersentasikan hasil diskusinya, (7) guru memberikan

(9)

penghargaan, dan (8) menyimpulkan materi dan penutup (kegiatan penutup). Langkah-langkah pembelajaran dengan model CIRC sangat mengutamakan peran dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitator seperti menyediakan sumber-sumber belajar yang dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran selain buku paket, media dan LKS, guru juga sebagai mediator untuk membantu siswa dalam mengkaji pengetahuannya sendiri sebagai acuan untuk memahami materi yang dibahas di kelas. Dalam pembelajaran guru menggunakan ceramah seperlunya apabila ada siswa yang belum mengerti, tetapi guru hanya membantu mengarahkan kognitif siswa supaya lebih tertata dengan benar sampai siswa paham dan mengerti mengenai materi yang dipelajari.

Dalam proses pembelajaran konvensional, guru masih berusaha memindahkan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa. Guru menjelaskan materi secara urut, kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan mencatat. Selanjutnya guru memberikan contoh soal dan cara menjawab. Kemudian guru membahas soal yang diberikan dengan meminta beberapa siswa untuk mengerjakan dipapan tulis. Di akhir pembelajaran guru membantu siswa untuk merefleksi kembali materi yang telah dipelajari, kemudian memberikan pekerjaan rumah (PR). Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa duduk dengan tenang dan memperhatikan guru menjelaskan materi pelajaran. Hal seperti ini justru mengakibatkan guru sulit mengetahui pemahaman siswa, karena siswa yang belum mengerti cenderung malu untuk bertanya. Situasi pembelajaran tersebut cenderung membuat siswa pasif dalam menerima pelajaran, sehingga daya pikir siswa tidak berkembang secara optimal. Kondisi ini cenderung membuat siswa tidak termotivasi mengikuti pembelajaran, pemahaman konsep kurang mendalam, dan sulit mengembangkan keterampilan berpikirnya. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil keterampilan membaca pemahaman siswa.

Berdasarkan pemaparan di atas tentang model pembelajaran CIRC dan

model pembelajaran konvensional dapat dilihat bahwa secara konseptual dan operasional anatar kedua model tersebut terdapat perbedaan yang sangat jelas. Dalam proses pembelajaran apabila kedua model ini diterapkan dan hasil dari penerapan kedua model ini dibandingkan, maka akan terdapat perbedaannya pula.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa model pembelajaran CIRC telah mampu memberikan kontribusi yang positif dalam meningkatkan hasil keterampilan membaca pemahaman siswa. Model pembelajaran CIRC merupakan salah satu model pembelajaran yang berlandaskan teori belajar atau paradigma konstruktivisme, dimana dalam kegiatan pembelajaran antara konsep yang dipelajari dikaitkan dengan kegiatan siswa yang lebih aktif sehingga akan memberikan peluang yang cukup besar dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam membaca pemahaman yang lebih bermakna dan siswa

akan membangun dan menggali

pengetahuannya sendiri melalui proses pembelajaran yang aktif berdasarkan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Selain itu, model pembelajaran CIRC tidak hanya mementingkan aktivitas siswa secara individu, tetapi juga terhadap anggota kelompok sehingga dapat mengoptimalkan kerja sama antar kelompok. Model pembelajaran CIRC dapat dijadikan satu alternatif pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam upaya peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka simpulan penelitian ini adalah Hasil keterampilan membaca pemahaman siswa setelah dibelajarkan dengan model pembelajaran CIRC berada pada kategori tinggi, yaitu pada rentangan skor 32,5 – 35,5; Hasil keterampilan membaca pemahaman siswa setelah dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional berada pada kategori rendah, yaitu pada rentangan skor 26,5 – 29,5; Terdapat perbedaan hasil keterampilan membaca pemahaman antara

(10)

siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Hasil keterampilan membaca pemahaman siswa setelah dibelajarkan dengan model CIRC dan siswa yang

diajarkan dengan menggunakan

pembelajaran konvensional. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa t hitung = 6,45 dan t tabel = 2,02 untuk db = n1 + n2 – 1 = 41 dengan taraf signifikasi 5%. Berdasarkan kriteria pengujian, karena t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima. Berarti ada pengaruh model CIRC terhadap hasil keterampilan membaca pemahaman siswa.

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. 1) Kepada siswa, agar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

khususnya membaca pemahaman

menggunakan model CIRC karena dapat meningkatkan hasil keterampilan membaca pemahaman dan mewujudkan kreatifitas dan kemandirian; 2) Kepada guru, khususnya yang mengajar Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran pelajaran membaca pemahaman agar menggunakan model CIRC sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa menjadi lebih mudah memahami materi dan proses pembelajaran menjadi terarah dan berkontekstual; 3) Kepada Kepala Sekolah, diharapkan memotivasi guru-guru untuk menerapkan model pembelajaran CIRC, karena model ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga menghasilkan output siswa yang lebih baik, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN

Agung. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan: Suatu Pengantar. Singaraja: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha. Koyan, I Wayan. 2011. Statistik Dasar dan

Lanjut (Teknik Analisis Data Kuantitatif). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Mulyasa. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Gambar

tabel  )  sehingga  data  hasil  post-test kelompok eksperimen berdistribusi  normal.  Sedangkan,

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok yang mengikuti pembelajaran dengan model

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika dan keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan.. berpikir kritis antara kelompok yang mengikuti

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok

Tujuan penelitian yaitu untuk mengkaji keefektifan model SQ4R berbantuan media storytelling organizers terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V SD Gugus Nusa

dibandingkan dengan model konvensional. Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut. 1) Disarankan bagi SD No. 1 Anturan

Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pemahaman konsep IPA antara kelompok siswa yang

Hipotesis yang diuji pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan simultan keterampilan membaca dan hasil belajar Bahasa Indonesia antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model