• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA Daftar Buku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR PUSTAKA Daftar Buku"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

115

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Buku

Abrams, C. 1969. Housing in The Modern World. Faber & Faber, London.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2001. Sekilas Perumahan dan Permukiman di Indonesia.

Dewanta, Awan Setya. 1995. Kemiskinan dan Kesenjangan Di Indonesia. Aditya Media : Yogyakarta.

Dweyer, D.J. 1975. People and Housing in Third World Cities: Perspectives on The Problem of Spontaneous Settlements. Longman Inc., New York.

Karamoy, A. 1984. Program Perbaikan Kampung : Harapan dan Kenyataan. Prisma

Komarudin. 1997. Menelusuri Pembangunan Perumahan dan Permukiman. PT. Rakasindo, Yayasan REI.

Kuswartojo, dkk. 2005. Perumahan dan Pemukiman di Indonesia : Upaya membuat perkembangan kehidupan yang berkelanjutan. ITB Press. Bandung.

McAuslan, P. 1985. Urban Land and Shelter for The Poor. Earthsean Book, London.

Murison, H.S & Lea, J.P. 1979. Housing in Third World Countries : Perspectives on Policy and Practice. The Macmillan Press Ltd, London.

Panudju, Bambang. 1999. Pengadaan Perumahan Kota dengan Peran Serta Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Penerbit Alumni, Bandung.

Soetrisno, Lukman. 1997. Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan. Kanisius. Yogyakarta.

Supriatna, Tjahya. _____. Strategi Pembangunan dan Kemiskinan. Rineka Cipta. Turner, John F.C. 1976. Housing by People : Towards Autonomy in Building

Environments. Marison Boyars, London.

(2)

116 Daftar Laporan

__________, 2000. Konsep Kebijakan Penanganan Kawasan Kumuh di Kota Bandung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung.

__________, 2002. Laporan Akhir : Kajian Aspek Sosial Budaya Dan Ekonomi Masyarakat Untuk Mendukung Penanganan Permukiman Kumuh di Perkotaan. PT. Citra Murni Semesta : Engineering and Management Consultant.

__________, 2002. Pedoman Umum : Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Kumuh. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah : Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman.

__________, 2002. Pedoman Umum P2KP Tahap II. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah : Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. __________, 2002. Rencana Strategis Peningkatan Kualitas Lingkungan

Permukiman Kumuh. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah : Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman.

__________, 2006. Pedoman Umum NUSSP. Departemen Pekerjaan Umum : Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Daftar Tugas Akhir

Dorodjatoen, Agung. 2006. Tugas Akhir : Efektifitas Pinjaman Bergulir Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Permukiman Kumuh. ITB.

Lestari, Forina. 2006. Tugas Akhir : Identifikasi Tingkat Kerentanan Masyarakat Permukiman Kumuh Perkotaan Melalui Pendekatan Sustainable Urban Livelihood (SUL) (Studi Kasus :Kelurahan Tamansari, Bandung). ITB Renggani, Rayi. 2006. Tugas AKhir : Keberlanjutan Kegiatan Masyarakat Secara

Mandiri Dalam Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) Di Kota Bandung. ITB

(3)

117

Daftar Jurnal/Artikel

Erguden, Selman. 2001. Low-Cost Housing: Policies and Constraints In Developing Countries. Nairobi, Kenya.

Keivani. R & Werna. E. 2001. Refocusing The Housing Debate in Developing Countries From A Pluralist Perspective. Habitat International.

Lindfield and Steinberg. 2005. Technical Assistance to the Republic of the Philippines for Preparing the Metro Manila Urban Services for the Poor Project.

http://www.adb.org/Documents/TARs/PHI/tar-phi-38398.pdf

Majale, Michael. 2003. An Integrated Approach To Urban Housing Development : Has A Case Been Made?

http://www.worldbank.org/urban/symposium2003/docs/papers/majale.pdf Pugh, Cedric. 2001. The Theory and Practice of Housing Sector Development for

Developing Countries. Taylor & Francis Ltd.

UN-HABITAT. 2007. The Millenium Development Goals and Urban Sustainability.

www.unhabitat.org

Van Horen, Basil. 2004. Community Upgrading And Institutional Capacity Building To Benefit The Urban Poor In Asia. India Habitat Centre : New Delhi, India.

Werlin, Herbert. 1999. The Slum Upgrading Myth. http://dx.doi.org/10.1080/0042098992908

(4)
(5)

LAMPIRAN A PEDOMAN WAWANCARA

PEDOMAN WAWANCARA KEPADA PIHAK PELAKSANA PROGRAM PERMUKIMAN KUMUH KOTA BANDUNG

(BUDP Tahap I dan II, PLPKP2, JPS, P2KP)

Wawancara ini ditujukan kepada pihak-pihak yang ikut serta dalam pelaksanaan program permukiman kumuh Kota Bandung, yang berasal dari Bappeda Kota Bandung, Dinas Perumahan Kota Bandung, dan Puslitbangkim Jawa Barat. Wawancara ini dilakukan dalam rangka penyusunan Tugas Akhir pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB yang berjudul “Pengalaman Penanganan Permukiman Kumuh yang Memperhatikan Aset-aset Produktif Komunitas Di Kota Bandung.” Hasil wawancara untuk penelitian ini semata-mata digunakan untuk kepentingan akademis, oleh karena itu diharapkan bantuan dan kerjasamanya. Atas bantuan dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih.

1. Bagaimana prosedur pemilihan lokasi pelaksanaan program?

2. Apa yang menjadi kriteria utama dalam pemilihan lokasi penanganan permukiman kumuh?

3. Siapa yang melakukan pembiayaan nya dan dari mana sumber dana nya? 4. Siapa yang menjadi penanggung jawab dalam pelaksanaan nya?

5. Berapa lama pelaksanaan nya?

6. Apa yang menjadi fokus kegiatan dalam program tersebut?

Apakah program memperhatikan aset-aset berikut (indikator kegiatan pada tabel) : • Aset fisik:

• Aset alam

• Aset modal manusia • Aset modal sosial • Aset ekonomi

(6)

Tabel 1.2

Indikator-Indikator Terhadap Pembentukan Aset-Aset Produktif Komunitas

Aset Variabel Indikator Perhatian

Fisik

Air bersih • Pengadaan akses air minum ke rumah- rumah penduduk Ada/tidak ada

• Tempat penampungan air bersih Ada/tidak ada

Sanitasi Saluran pembuangan air kotor Ada/tidak ada

Sampah

• Penyediaan tempat pembuangan sampah sementara

(TPS) Ada/tidak ada

• Pengangkutan sampah secara rutin dari rumah-rumah

penduduk ke TPS Ada/tidak ada

Drainase Penyediaan dan perbaikan drainase Ada/tidak ada

Jalan Pengadaan dan perbaikan jalan Ada/tidak ada

Listrik

• Pemasangan saluran listrik ke rumah-rumah penduduk Ada/tidak ada • Pemasangan lampu untuk penerangan ruang-ruang

publik Ada/tidak ada

Fasilitas kesehatan

• Pembangunan dan perbaikan balai-balai kesehatan,

seperti puskesmas, rumah sakit Ada/tidak ada

• Pengadaan posyandu Ada/tidak ada

Fasilitas pendidikan Pembangunan dan perbaikan gedung-gedung sekolah Ada/tidak ada

Fasilitas ruang publik Pembangunan ruang-ruang untuk pertemuan publik Ada/tidak ada

Rumah Perbaikan konstruksi rumah Ada/tidak ada

Fasilitas kegiatan ekonomi Pembangunan dan perbaikan gedung-gedung untuk

(7)

Aset Variabel Indikator Perhatian

Alam

• Rehabilitasi terhadap sumber daya alam rusak. Ada/tidak ada • Pemberian pendidikan dan penyuluhan kepada

komunitas masyarakat untuk menjaga dan memelihara lingkungan.

Ada/tidak ada

Modal Manusia

Pendidikan & Kesehatan Alokasi dana untuk meningkatkan kondisi kesehatan

dan pendidikan masyarakat di permukiman kumuh Ada/tidak ada

Produktivitas

• Pengadaan pelatihan untuk meningkatkan

pengetahuan dan keahlian masyarakat Ada/tidak ada

• Pelibatan masyarakat dalam kegiatan perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana di lingkungan permukiman kumuh

Ada/tidak ada

Modal Sosial

Jaringan Internal dan Eksternal dalam masyarakat

• Menciptakan kerjasama antar organisasi di dalam

masyarakat. Ada/tidak ada

• Menciptakan kerjasama antar organisasi dengan

organisasi-organisasi dari luar Ada/tidak ada

Peran serta Mengikutsertakan organisasi-organisasi masyarakat

dalam perbaikan lingkungan permukiman kumuh Ada/tidak ada

Ekonomi

Kredit Mengadakan akses kredit kepada masyarakat Ada/tidak ada

Bidang usaha Mendukung pengembangan usaha-usaha kecil dan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat Ada/tidak ada

Kepemilikan rumah Memberikan jaminan kepemilikan tanah dan rumah Ada/tidak ada

(8)

LAMPIRAN B-1

HASIL WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG PELAKSANA BUDP Tahap I

Responden : Ibu Sutikni Utoro Tanggal : 22 Juli 2007

1. Lokasi untuk BUDP dipilih dan ditentukan oleh pemerintah daerah, kemudian diusulkan ke pemerintah pusat. Sama aja, pemilihan lokasi BUDP I dan II oleh pemerintah daerah. Tapi, sebelum program BUDP dijalankan di lokasi yang telah dipilih, ada namanya BUDS (Bandung Urban Development Study). BUDS ini merupakan FS, yaitu feasibility study atau studi kelayakan. Melalui studi kelayakan inilah dipilih dan ditentukan lokasi-lokasi yang akan mendapatkan program BUDP.

Kota Bandung dipilih karena pada saat BUDS dilaksanakan, pada saat itu, perkembangan jumlah penduduk sangat lambat. Kota Bandung mengalami masalah infrastruktur, tapi ada potensi SDM dan ekonomi. Dengan adanya perkembangan penduduk yang lambat dan adanya potensi SDM dan ekonomi ini, memberikan keyakinan kepada pemerintah pusat untuk memilih Kota Bandung sebagai salah satu kota yang mendapatkan BUDP. Pemerintah pusat juga melihat ini sangat baik sekali (feasible) layak untuk dibenahi.

Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk menentukan kawasan kumuh yang akan mendapat perbaikan melalui BUDP. Dalam pemelihan lokasi-lokasi permukiman kumuh, pemerintah daerah mendapatkan dampingan dari pemerintah pusat. Dan kawasan-kawasan yang dipilih diajukan kepada pemerintah pusat. Selanjutanya pemerintah pusat mempertimbangkan beberapa lokasi yang diajukan oleh pemerintah daerah dan kemudian memberikan dana pelaksanaan.

2. Kriteria pemilihan lokasi ditentukan oleh pemerintah daerah, misalnya daerah nya sudah sangat kumuh, kepadatan bangunan sangat tinggi, kondisi bangunan kontemporer, fasilitas kebutuhan dasar (seperti air bersih, tempat pembuangan air kotor, listrik, dan sebagainya) tidak layak pakai. Semua kriteria yang dipakai pemerintah daerah ini pun harus mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. 3. Setelah Feasibility Study menyatakan bahwa Kota Bandung layak mendapatkan

(9)

Bank adalah sumber dana dalam pelaksanaan BUDP. Pinjaman yang akan diberikan akan sangat tergantung pada studi kelayakan yang telah dilakukan. Dana pinjaman dari ADB diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Kemudian dana pinjaman ini ditambahkan dengan dana yang bersumber dari pemerintah provinsi dan pemerintah daerah tingkat II, lalu BUDP dilaksanakan dengan dana tersebut.

4. Pelaksanaan BUDP diserahkan kepada pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah Tingkat II bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program ini di Kota Bandung.

5. BUDP dilaksanakan di Kota Bandung kurang lebih 10 tahun, berawal tahun 1980 pada saat pelaksaan BUDP Tahap I.

6. Kegiatan yang dilakukan dalam BUDP ini meliputi perbaikan fisik di lokasi-lokasi kumuh, seperti pembangunan drainase, MCK, tempat pembuangan air kotor, dan pembangunan jalan lingkungan ”emergency road” maksudnya itu untuk supaya kendaraan seperti pemadam kebakaran atau ambulans itu bisa masuk ke dalam lokasi kampung, dan pembangunan sosial di masyarakat kaena masyarakat juga ikut diajak berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan BUDP ini.

(10)

LAMPIRAN B-2

HASIL WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG PELAKSANA BUDP Tahap II

Responden : Ibu Siti Sarah Lestari Tanggal : 20 Agustus 2007

1. Lokasi untuk BUDP dipilih dan ditentukan oleh pemerintah daerah, kemudian diusulkan ke pemerintah pusat. Sama aja, pemilihan lokasi BUDP I dan II oleh pemerintah daerah. Tapi, sebelum program BUDP dijalankan di lokasi yang telah dipilih, ada namanya BUDS (Bandung Urban Development Study). BUDS ini merupakan FS, yaitu feasibility study atau studi kelayakan. Melalui studi kelayakan inilah dipilih dan ditentukan lokasi-lokasi yang akan mendapatkan program BUDP.

Kota Bandung dipilih karena pada saat BUDS dilaksanakan, pada saat itu, perkembangan jumlah penduduk sangat lambat. Kota Bandung mengalami masalah infrastruktur, tapi ada potensi SDM dan ekonomi. Dengan adanya perkembangan penduduk yang lambat dan adanya potensi SDM dan ekonomi ini, memberikan keyakinan kepada pemerintah pusat untuk memilih Kota Bandung sebagai salah satu kota yang mendapatkan BUDP. Pemerintah pusat juga melihat ini sangat baik sekali (feasible) layak untuk dibenahi.

Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk menentukan kawasan kumuh yang akan mendapat perbaikan melalui BUDP. Dalam pemelihan lokasi-lokasi permukiman kumuh, pemerintah daerah mendapatkan dampingan dari pemerintah pusat. Dan kawasan-kawasan yang dipilih diajukan kepada pemerintah pusat. Selanjutanya pemerintah pusat mempertimbangkan beberapa lokasi yang diajukan oleh pemerintah daerah dan kemudian memberikan dana pelaksanaan.

2. Kriteria pemilihan lokasi ditentukan oleh pemerintah daerah, misalnya daerah nya sudah sangat kumuh, kepadatan bangunan sangat tinggi, kondisi bangunan kontemporer, fasilitas kebutuhan dasar (seperti air bersih, tempat pembuangan air kotor, listrik, dan sebagainya) tidak layak pakai. Semua kriteria yang dipakai pemerintah daerah ini pun harus mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. 3. Setelah Feasibility Study menyatakan bahwa Kota Bandung layak mendapatkan

(11)

Bank adalah sumber dana dalam pelaksanaan BUDP. Pinjaman yang akan diberikan akan sangat tergantung pada studi kelayakan yang telah dilakukan. Dana pinjaman dari ADB diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Kemudian dana pinjaman ini ditambahkan dengan dana yang bersumber dari pemerintah provinsi dan pemerintah daerah tingkat II, lalu BUDP dilaksanakan dengan dana tersebut.

4. Pelaksanaan BUDP diserahkan kepada pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah Tingkat II bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program ini di Kota Bandung.

5. BUDP II ini adalah lanjutan dari BUDP I. Kalau posedur pemilihan lokasinya sama dengan yang dilakukan dalam BUDP I. BUDP II dilaksanakan sekitar kurang lebih lima (5) tahun yang berawal pada tahun 1986 di Kota Bandung. 6. Ada beberapa kegiatan yang tidak dilaksanakan dalam BUDP I, kemudian

dilaksanakan dalam BUDP II. Tapi secara garis besarnya, kegiatan-kegiatan dalam BUDP II ini sama dengan kegiatan-kegiatan dalam BUDP I, karena memang BUDP II ini adalah lanjutan dari BUDP I. Yang bertambah adalah adanya Penyediaan Air Minum (PAM), sektor Kota Kecil (Small Town) dan Pengendalian Banjir untuk mengelola pekerjaan di Kabupaten Bandung. Perbaikan fisik lingkungan masih menjadi fokus utama kegiatan BUDP, kemudian pembinaan sosial masyarakat untuk ikut terliba dalam pelaksanaan kegiatan dan rehabilitasi alam seperti pembangunan kanal sungai.

(12)

LAMPIRAN B-3

HASIL WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG PELAKSANA PLPKP2

Responden : Bpk. Hidayat Jatamiharja dan Bpk. Puthut Samyahardja Tanggal : 27 Agustus 2007

1. PLPKP2 dikhususkan untuk kawasan permukiman kumuh di sekitar kegiatan industri. Pemilihannya menjadi wewenang pemerintah daerah. Tapi program ini dilakukan di lokasi-lokasi industri. Prosedurnya dilakukan sendiri oleh Pemerintah Kota Bandung dengan melihat kriteria-kriteria permukiman kumuh yang ditetap pemerintah kota.

2. Kalau kriteria utamanya adalah lingkungan permukiman kumuh yang terdapat di sekitar lokasi industri, bangunan padat, jarak antara satu bangunan dengan bangunan lainnya sangat sempit, sarana dan prasarana lingkungan buruk dan tidak memadai, seperti, sumber air bersih dalam kondisi buruk, tidak ada saluran khusus pembuangan air kotor, masyarakat miskin, sebagian besar bekerja di sektor informal, dan banyak lagi yang menjadi kriteria pemilihan nya. Semua kriteria yang dipakai adalah kriteria umum dalam pengenalan permukiman kumuh.

3. Pembiayaan program ini dilakukan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dengan bantuan dana yang berasal dari Bank Dunia.

4. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Bandung bertanggung jawab terhadap setiap teknis pelaksanaan.

5. PLPKP2 dimulai pada tahun 1990, berjalan kurang lebih sekitar lima (5) tahun. Tapi, bagaimana kelanjutannya sampai sekarang, saya sudah tidak tahu, karena sudah lama sekali.

6. Pembangunan rumah susun merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan melalui PLPKP2 untuk menata dan meremajakan lingkungan kumuh di Industri Dalam. Dan program PLPKP2 ini dilakukan dengan konsep Tribina, bina manusia, bina lingkungan, dan bina ekonomi. Bina manusia, yaitu yang biasanya dia tinggal di rumah yang biasa menjadi ke rumah bertingkat jadi diberikan pembinaan. Pembinaan yang dilakukan adalah bagaimana cara hidup yang baik di dalam flat-flat. Bina lingkungan, yaitu lingkungan perlu dijaga supaya keadaan dari rumah susun itu betul-betul bisa terpelihara dan bisa maksimal meningkatkan

(13)

derajat hidup melalui kesehatan. Untuk bina ekonomi, setiap kegiatan ekonomi yang ada di rumah susun kita support. Misalnya kita berkoordinasi dengan pihak industri supaya masyarakat rumah susun bisa bekerja disana. Kalau mereka membutuhkan tenaga kerja karyawan, supaya lebih mengutamakan warga yang tinggal di lokasi tersebut. Jadi PLPKP2 tidak hanya membangun dan memperbaiki infrastruktur fisik, tapi juga membina masyarakat yang tinggal di lokasi permukiman kumuh dan menata kondisi alam di sekitar permukiman kumuh.

Untuk akses air minum ke rumah tangga, pada saat proyek pembangunan sebenarnya sudah ada PAM dari PDAM yang masuk ke rumah-rumah awal, jadi saluran utama lama PAM itu yang dipakai rumah susun. Sumber air minum untuk seluruh blok rumah susun A, B, dan C memanfaatkan jaringan yang sudah ada. Dan untuk penampungan air, 1 blok bangunan (4 lantai) punya tempat penampungan air minum, sebenarnya namanya bukan toren, tapi berupa penampungan air. Pada saat itu TPS tidak karena masih ada TPS yang lama dan untuk sanitasi pada saat itu masih menggunakan saluran BUDP. Saluran BUDP ini masuk ke jaringan kota untuk air buangan grey water dan black water dan langsung dialirkan ke Bojongsoang.sedangkan drainase langsung dialirkan ke sungai terdekat

(14)

LAMPIRAN B-4

HASIL WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG PELAKSANA JPS

Responden : Bpk. Pagat Risjanuar Tanggal : 03 September 2007

1. JPS ini merupakan salah satu program yang dilakukan pemerintah untuk membantu masyarakat miskin, khususnya pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997. Masyarakat yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah melalui JPS ini adalah masyarakat miskin yang kebanyakan tinggal di lokasi kumuh. Kalau lokasi nya mah, ya ditentukan oleh pemerintah kota sebagai pelaksana program, karena pemerintah kota lah yang paling mengenal kondisi masyarakatnya.

2. Kriteria untuk pemberian program ini adalah masyarakat-masyarakat miskin, yang tidak punya tempat tinggal, warga yang tidak memiliki pekerjaan, diharapkan melalui program JPS ini, warga bisa membuka usaha, seperti berdagang atau usaha-usaha kecil untuk menopang hidupnya, JPS juga diberikan supaya para orang tua dapat menyekolahkan anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhan poko keluarga.

3. Sumber dana JPS adalah sisa dana APBD Kota Bandung ditambah dengan bantuan dari pemerintah pusat.

4. Tanggung jawab pelaksanaannya adalah tanggung jawab Pemerintah Kota Bandung dan pihak kelurahan. Pihak kelurahan yang dibimbing oleh pemerintah Kota Bandung membentuk satu Tim Pengelola Keuangan Desa Kelurahan (TPKDK). Tim ini bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pengguliran dana kepada masyarakat. Dana yang disediakan pemerintah diberikan kepada tim ini untuk dikelola dan digulirkan kepada masyarakat miskin. Tim inilah yang mengelola segala pembiayaan dalam program JPS dan menggulirkan dana kepada masyarakat untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat miskin.

5. Pelaksanaan JPS ini berlangsung kurang lebih lima (5) tahun , diawali pada tahun 1997 saat Indonesia mengalami krisis moneter.

6. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam JPS ini semuanya ditujukan untuk membantu ekonomi masyarakat miskin. Tapi kalau pun ada perbaikan di bidang

(15)

fisik, itu kembali lagi kepada masyarakat yang mendapatkan bantuan. Kalau mereka mau membangun atau memperbaiki kondisi lingkungan permukimannya, maka sebagian dana JPS tersebut dialokasikan untuk pembangunan fisik lingkungan tersebut. Jadi kegiatan mau fisik atau ekonomi diserahkan kepada kebutuhan masyarakat, misalnya di kelurahan A, dia butuh fisik maka yang dibangun fisik. Kalau di kelurahan B, dia butuh ekonomi maka dibangun ekonomi. Kalau butuh dua-duanya, ya dibangun dua-duanya, porsi anggaran diatur oleh masyarakat sendiri. Dengan menggunakan anggaran dana yang disediakan dan sesuai dengan musyawarah masyarakat kelurahan. Pemerintah hanya menyediakan dana, pelaksanaannya dengan pemberdayaan masyarakat.

(16)

LAMPIRAN B-5

HASIL WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG PELAKSANA P2KP

Responden : Bpk. Ade Tanggal : 20 Agustus 2007

1. Prosedur pemilihan lokasi diserahkan kepada pemerintah daerah yang bekerja sama dengan konsultan pelaksana. Dengan sasaran adalah warga masyarakat miskin perkotaan, sesuai dengan rumusan kemiskinan setempat yang disepakati oleh warga, yang di dalamnya adalah masyarakat yang telah lama miskin, masyarakat yang penghasilannya merosot, dan masyarakat yang kehilangan sumber nafkahnya karena krisis ekonomi.

2. Kriteria yang digunakan dalam menentukan lokasi adalah :

• Kawasan tersebut merupakan kawasan yang paling parah terkena dampak krisis ekonomi, dan

• Merupakan kawasana perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan memiliki jumlah penduduk miskin relatif besar.

3. Sumber dana P2KP adalah hutang luar negeri. Maka dari itu, dana ini harus diartikan sebagai titipan untuk digunakan masyarakat dalam penanggulangan masalah kemiskinan, dan bukan hadiah yang dapat digunakan sesuka hati.

4. Pemerintah, kelembagaan dalam masyarakat yang terdiri dari BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) dan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), KMW (Konsultan Manajemen Wilayah), dan warga masyarakat bertanggung jawab untuk kelangsungan dan kelancaran program P2KP ini.

5. Sampai saat ini P2KP masih dijalankan, dimulai sejak P2KP I Tahap I tahun 1999 sampai P2KP I Tahap II, dan sekarang pun masih dilaksanakan di beberapa lokasi di Kota Bandung.

6. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam P2KP ini semuanya didasarkan pada pembangunan manusia seutuhnya untuk menanggulangi masalah kemiskinan. Semua kegiatan, yang meliputi fisik dan non-fisik ditentukan oleh masyarakat melalui KMW, BKM, dan KSM. Oleh karena nya, selain memperbaiki lingkungan dan sarana prasarananya, masyarakat juga diberikan pelatiha-pelatihan agar

(17)

mampu mengenali masalahnya sendiri dan untuk terlibat dalam pelaksanaan program. P2KP memandang masalah kemiskinan sebagai masalah yang multisektor, makanya pendekatan penanganan yang dilakukan pun adalah komprehensif. Penanganan mencakup fisik, rehabilitasi alam di sekitar lokasi kegiatan, seperti membersihkan sungai dari sampah agar perairannya lancar, membangun kegiatan ekonomi masyarakat, dan mengikutsertakan masyarakat dalam pelaksanaan program.

Referensi

Dokumen terkait

Dari persebaran permukiman kumuh di setiap kecamatan dan kelurahan, lokasi-lokasi di permukiman kumuh di kota Medan terdapat di bantaran sungai sepanjang rel kereta api,

Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan

Penataan lingkungan permukiman kumuh di Kabupaten Bengkalis ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Bengkalis Nomor: 341/KPTS/X/2014 pada 12 kawasan permukiman kumuh

Departemen Pekerjaan Umum, 2008, Penataan ruang wilayah, DPU, Jakarta Deputi Pengembangan Kawasan, 2012, Buku Panduan Penanganan lingkungan perumahan dan permukiman kumuh berbasis

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 2 Tahun 2016 tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh.. Jakarta: Sekretariat

Jarak menuju fasilitasatransportasi umum dengan kawasan permukiman Sumber: Hasil Pustaka, 2020 Berdasarkan tabel di atas didapat irisan terhadap kriteria penentuan lokasi permukiman

1 / 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, permukiman kumuh adalah permukiman yang ketidakteraturan bangunan serta memiliki kepadatan bangunan yang tinggi, maupun kondisi sarana

Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Studi Penentuan Kawasan Prioritas Untuk Peningkatan Kualitas Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Malang.. Pengelolaan