The Relationship Between Emotional Intelligence (EQ) and Student Learning Outcomes

Teks penuh

(1)

812

The Relationship Between Emotional Intelligence (EQ) and

Student Learning Outcomes

Satriani 1, S. Jauhar 2, M.Amin3

Universitas Negeri Makassar1,2,3

E-Mail: Satriani.dh@gmail.com

Abstract: The problems examined by the research were 1) How to describe the emotional intelligence of fifth grade students of SD Group I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency; 2) What is the description of the learning outcomes of students in SD Group I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency; 3) Is there a relationship? which is significant between emotional intelligence and the learning outcomes of grade V SD Gugus I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency. The research objectives were 1) Knowing the description of the emotional intelligence of the fifth grade students of SD Gugus I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency. 2) Knowing a description of the student learning outcomes of SD Group I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency. 3) Determine whether there is a significant relationship between emotional intelligence and the learning outcomes of grade V SD Gugus I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency. The research approach is a quantitative approach. This type of research is a descriptive quantitative research with a correlational model. The research data were obtained through questionnaires and documentation. The population in the study were all fifth grade students of SD Gugus I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency, the school year 2019/2020 totaling 200 students. The sample in the study amounted to 50. The data analysis techniques were descriptive statistical analysis and inferential statistical analysis. The results showed that there was a significant relationship between emotional intelligence (EQ) and student learning outcomes of SD Gugus I, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency because because tcount ≥ ttable, namely tcount of 3.02 and ttable of 1.67722 and belonged to the moderate category.

Keywords: Emotional intelligence, learning outcomes

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan keterampilan sesuai tuntutan pembangunan bangsa, dimana kualitas suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Perwujudan masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam menyiapkan siswa menjadi subjek yang semakin berperan menampilkan

(2)

813

keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidang masing-masing. Hamalik (2015:3) mengatakan:

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik suapaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahandalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adekwat dalam kehidupan masyarakat.

Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai secara optimal, apabila dilakukan pengembangan dan perbaikan terhadap komponen pendidikan yang meliputi pendidik, siswa, dan proses pembelajaran. Sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 bab II pasal 3 tentang dasar, fungsi dan tujuan pendidikan yaitu: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidik atau guru merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan dan mempunyai peranan dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Selain guru, kurangnya motivasi belajar pada siswa akan mempengaruhi hasil belajar .jadi, untuk meningkatkan hasil belajar siswa seorang guru harus melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan untuk memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran (Aunurahman, 2014).

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat menentukan hasil dari tujuan pembelajaran. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator (Aunurrahman, 2014).

Paradigma saat ini menunjukkan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Kecerdasan emosional (EQ) mencakup kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat, dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.

(3)

814

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Guru Wali Kelas V SD Gugus IV Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone pada tanggal 5 Februari 2020. Kenyataannya pada proses pembelajaran masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami masalah yang bersifat abstrak karena siswa cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang bersifat konkrit atau nyata. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, sehingga hasil belajar terhadap mata pelajaran masih rendah. Dan juga di dalam proses belajar mengajar di SD Gugus IV Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone ditemukan siswa tidak dapat meraih hasil belajar setara dengan kemampuan kecerdasan emosionalnya. Terkadang ada siswa tingkat kecerdasan emosionalnya tinggi tapi hasil belajarnya rendah.

Hal tersebut di pengaruhi oleh ketidakmampuan siswa dalam mengontrol serta mengelolah kecerdasan emosionalnya. Hal tersebut tercermin dalam sikap siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Ketika guru sedang menjelaskan materi pembelajaran sebagian siswa tidak memperhatikan penjelasan guru bahkan ada yang berbicara dengan temannya, dan saat guru memberikan tugas siswa cenderung tidak konsentrasi dan sering berpindah-pindah tempat duduk untuk bekerja sama dengan temannya, ada juga siswa yang sulit bersosialisasi dengan temannya sehingga lambat menerima materi pembelajaran.

Salah satu penelitian yang mendukung adalah penelitian Dwi Susriyati bahwa tingkat kecerdasan emosional siswa dalam kriteria baik dengan persentase sebesar 71%. Sedangkan hasil belajar siswa dalam kriteria baik dengan persentase 56%. Sementara itu, hasil perhitungan analisis korelasi di peroleh sig.(2-tailed). Pada ouput corelations sebesar 0,000< 0,05 yang berarti terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa Kelas V SD Negeri Gugus Ki Hajar Dewantara Kota Semarang.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa kecerdasan emosional merupakan faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, calon peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa Kelas V SD Gugus IV Kecematan Tanete Riattang Kabupaten Bone.

Kecerdasan Emosional

Menurut walgito (khodijah,2016 :89)” Istilah inteligensi berasal dari kata lain “intelligere” yang berarti menghubungan atau menyatukan satu sama lain. Secara umum, inteligensi sering diartikan dengan kecerdasan”. Menurut Wahab (2016: 142) bahwa “Inteligensi adalah kemampuan berpikir, mengolah, menganalisis, dan menentukan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru dari segi keseluruhan permasalahan yang ada di dalamnya.”

Sementara itu, khodijah (2016: 91) mengemukakan “Intelegensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup , yang dicirikan

(4)

815

dengan kemampuan untuk belajar, kemampun untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah”. Wechsler dalam Riyanto (2014:215) memaparkan bahwa “Intelegensi merupakan kecakapan bertindak secara sengaja, berpikir secara rasional, dan berhubungan secara efektif dengan lingkungan.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

Menurut L.Crow dan A.Crow (Djaali,2015: 37) “emosi adalah pengalaman yang afektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap,juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang jelas dan nyata-nyata”.

Menurut Goleman (Djaali,2015:37) “emosi adalah perasaan dan pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak. Sementara itu menurut William James (khodijah:137) “Mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya dengan sesuatu perubahan yang jelas pada tubuh”. Selain itu menurut Goleman (Wahab:158) “Emosi adalah sebagai suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Kecerdasan emosional (emotional intelligence) pertama kali dilontarkan tahun 1990 oleh Peter Salovy dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Namun istilah El menyebar ke berbagai penjuru dunia setelah terbitnya buku Best Seller karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence tahun 1995. Kemudian meluncurlah berbagai jenis buku yang berkarakter hampir sama dalam berbagai bentuk kebutuhan.

Beberapa penelitian ilmiah belakangan ini memunculkan istilah Emotional Intelligenci yang kemudian lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Emotional Quotients (EQ). Namun, pakar yang mempopulerkan kecerdasan emosional (Daniel Goleman) menyatakan kecerdasan tersebut dengan istilah El. Ketertarikan banyak orang pada kecerdasan emosional memang dimulai dari perannya dalam membesarkan dan mendidik anak-anak, tetapi selanjutnya orang menyadari pentingnya konsep ini, baik di lapangan kerja maupun di hampir semua tempat lain yang mengharuskan manusia saling berhubungan termasuk dalam belajar.Menurut Goleman (Darmansyah, 2011: 122) bahwa:

Istilah El adalah movere yang berasal dari akar kata emosi, kata kerja bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak” ditambah kata “e” menjadi: emoverememberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Senada dengan Goleman, Cooper dan Sawaf (Darmansyah, 2011: 123) menyatakan bahwa “Emosi manusia adalah wilayah dari perasaan lubuk hati,naluri tersembunyi, dan sensasi emosi.” Selanjutnya pengertian El dikembangkan oleh

(5)

816

Shapiro (Darmansyah, 2011: 123) dengan mendefinisikan “Kecerdasan Emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain.” Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan dalam diri seseorang secara emosional yang berkaitan dengan pemahaman tentang diri sendiri dan orang lain.

Pengertian yang senada, tetapi lebih rinci dinyatakan Cooper dan Sawaf (Darmansyah, 2011: 123) bahwa “Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.”

Pemahaman terhadap kecerdasan emosional dapat pula diperkaya melalui tinjauan berdasarkan sudut pandang agama Islam seperti diungkapkan M. Utsman Najati (Darmansyah, 2011: 124) menyatakan bahwa “Kecerdasan emosional adalah lolos dari jebakan setan.” Untuk bisa lolos dari jebakan setan menurut utsman, seseorang perlu memiliki kemampuan mengendalikan amarah dan kekacauan pikiran, mengendalikan motif seksual, mengendalikan keserakahan, mengendalikan nafsu bermusuhan, malu melakukan perbuatan tercela, dan menghilangkan rasa rendah diri.

Kualitas-kualitas yang menunjukkan kecerdasan emosional menurut Shapiro (Darmansyah, 2011: 124) yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup antara lain adalah:

(1) empati, (2) mengungkapkan dan memahami perasaan, (3) mengendalikan amarah, (4) kemandirian, (5) kemampuan menyesuaikan diri, (6) disukai, (7) kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, (8) ketekunan, (9) kesetiakawanan, (10) keramahan dan sikap hormat.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami secara lebih efektif terhadap daya kepekaan emosi yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri atau orang lain, pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang lain dengan efektif, dan mampu mengelola emosi yang dapat digunakan untuk membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tebaik.

Goleman (Darmansyah, 2011: 125) menempatkan kecerdasan pribadi tentang kecerdasan emosional seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama, yaitu: (1) kemampuan mengenali diri, (2) kemampuan mengelola emosi, (3) kemampuan memotivasi diri, (4) kemampuan mengenali emosi orang lain, dan (5) kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

Hasil Belajar

Belajar merupakan aktivitas yang paling utama dari semua proses pendidikan di sekolah, kenyataan ini memberikan pengertian bahwa belajar merupakan salah satu yang menentukan keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pencapaian tujuan

(6)

817

pendidikan, banyak bergantung pada bagaimana proses belajar dapat berlangsung secara efektif. Menurut Cronbach (Wahab,2016:17) “Belajar adalah sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”. Sedangkan menurut Slameto (Wahab.2016:17) “ Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Dari beberapa pengertian yang dituliskan dapat disimpulkan bahwa belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.

Untuk mengukur kemampuan belajar maka diperlukan penilaian hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Hasil belajar dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya yaitu “hasil” dan “belajar”.

Menurut (Susanto,2015:5) “Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar”. Pengertian tersebut di pertegas oleh Nawawi dalam K.Brahim (Susanto.2015:5) “Yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melalui proses belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.

Selanjutnya untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik maka dibuatkan suatu penilian dalam bentuk evaluasi. Menurut (Ambarjaya.2012) Evaluasi dalam pembelajaran peserta didik dibedakan menjadi evaluasi sumatif dan evalusi formatif. Penilaian hasil belajar merupakan suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menilai prestasi belajar peserta didik dibuatkan evaluasi yaitu evaluasi sumatif dan evaluasi formatif

Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Hasil Belajar Siswa

Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami secara lebih efektif terhadap daya kepekaan emosi yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri atau orang lain, pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang lain

(7)

818

dengan efektif, dan mampu mengelola emosi yang dapat digunakan untuk membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tebaik.

Karena kecerdasan emosional merupakan hal penting dalam belajar. Dengan kecerdasan emosional siswa dapat mengontrol dirinya dalam belajar, seperti siswa dapat mengenali emosi dirinya, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Sebagaimana diketahui pada pendapat sebelumnya tentang hasil belajar: “hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu Nawawi dalam K.Brahim (Susanto.2015:5)”.

Kedua konsep ini, yaitu kecerdasan emosional dengan hasil belajar tentu saling berhubungan karena siswa paham tentang dirinya dan juga memahami serta merasakan kebutuhan orang lain. Kecerdasan emosional dapat menjadi sumber energi dalam memperoleh informasi, dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga diprediksi, semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional siswa, maka semakin besar pula tingkat kesenangan siswa dalam belajar dan dapat membuat siswa tersebut senang dalam mengikuti proses pembelajaran.

Oleh karena itu, kecerdasan emosional sangatlah berkaitan terhadap hasil belajar siswa karena dengan kecerdasan emosional, siswa mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik. Siswa yang memiliki keterampilan emosional baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Maka dari itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang harus dimiliki oleh siswa untuk meraih hasil belajar yang lebih baik di sekolah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan model korelasional. Penelitian korelasi atau korelasional merupakan suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel. Dalam melihat hubungan variabel terhadap objek yang diteliti lebih bersifat sebab dan akibat (kausal), sehingga dalam penelitiannya ada variabel bebas dan variabel terikat, yaitu kecerdasan emosional sebagai variabel bebas dan hasil belajar sebagai variabel terikat.

Untuk mempermudah calon peneliti dalam mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus IV Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone, yang dimaksud dalam penelitian ini digambarkan hubungan variabel bebas dan variabel terikat.

Definisi operasional merupakan batasan-batasan yang digunakan untuk menghindari perbedaan interpretasi terhadap variabel yang diteliti dan sekaligus

(8)

819

menyamakan persepsi tentang variabel yang dikaji, maka definisi operasional variabel penelitian sebagai berikut:

1. Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami secara lebih efektif terhadap daya kepekaan emosi yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri atau orang lain,

2. pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang lain dengan efektif, dan mampu mengelola emosi yang dapat digunakan untuk membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tebaik.

3. Hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melalui proses belajar. Hasil belajar yang dimaksud adalah nilai yang diberikan setelah melakukan pengukuran berupa tes tertulis.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus IV Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone. Penelitian ini merupakan penelitian yang tidak meneliti seluruh objek yang ada di dalam populasi, tetapi hanya sebagian saja yang biasa disebut dengan sampel. Karena adanya keterbatasan dana, tenaga, dan waktu. Maka pada penelitian ini yang akan dijadikan sampel yaitu sebanyak empat sekolah

Teknik pengambilan sampel pada penilitian ini yaitu Simple random sampling. Menurut Sujarweni (2014 :69), bahwa “random sampling. Pengambilan sampel ini dengan menggunakan cara undian atau untung-untungan. Dari hasil undian terpilih empat sekolah yaitu SD Inpres 12/79 Biru II, SD Negeri 13 Biru, SD Inpres 4/82 Biru dan SD 6/75 Biru. Siswa kelas V dari keempat SD tersebut sekaligus menjadi sampel dalam penelitian yang berjumlah sebanyak 136 siswa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket dan dokumentasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa dengan melakukan pemberian angket kecerdasan emosional kepada siswa kelas V dan mengambil nilai hasil belajar semester genap tahun pelajaran 2019/2020 di SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone yaitu SDN 23 Jeppe’e, SDN 22 Jeppe’e, dan SD Inpres 12/79 Jeppe’e.

Tahap pertama adalah analisis uji coba instrumen. Angket yang diujicobakan yaitu 40 butir angket kecerdasan emosional diujikan pada 20 siswa kelas V SD Inpres 3/77 Arasoe Kecamatan Cina Kabupaten Bone. Dalam menentukan valid atau tidak validnya tiap butir angket tersebut digunakan rumus korelasi product moment dan dikonsultasikan pada tabel harga kritik dari r Product Moment yaitu dengan N=20 pada taraf signifikan 5% yaitu rtabel sebesar 0,444, adapun kriterianya adalah apabila

rhitung > rtabel maka butir pernyataan angket tersebut valid.

Berdasarkan data dari angket kecerdasan emosional siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone yaitu SDN 23 Jeppe’e, SDN 22

(9)

820

Jeppe’e, dan SD Inpres 12/79 Jeppe’e yang telah dibagikan kepada 50 responden yang terdiri dari 38 butir pernyataan, diperoleh skor tertinggi sebesar 139 dan skor terendah sebesar 98.

Analisis persentase dilakukan setelah memperoleh rata-rata dan diketahui jumlah skor yang diperoleh keseluruhan, ∑X = n yaitu 5947, dan nilai yang diharapkan (N) yaitu jumlah responden dikali skor maksimal yakni 50 x 152 = 7600, sehingga hasil perhitungan presentasi adalah78,25 %

Hasil analisis persentase tersebut kemudian dikonsultasikan pada pedoman interpretasi yang telah ditetapkan. Maka diperoleh bahwa kecerdasan emosional siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone yaitu SDN 23 Jeppe’e, SDN 22 Jepp’e, dan SD Inpres 12/79 Jeppe’e berada pada kategori baik karena terletak pada rentang 66% - 79%.

Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone yaitu SDN 23 Jeppe’e, SDN 22 Jeppe’e, dan SD Inpres 12/79 Jeppe’e. Maka peneliti paparkan tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui dokumentasi kumpulan nilai ujian tengah semester (UTS) semester genap tahun pelajaran 2019/2020 dari 5 bidang studi yaitu PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan SBdP yang telah dirata-ratakan hasilnya. Setelah data dalam tabel tersebut diolah dapat diketahui bahwa skor terendah 56 dan skor tertinggi 95.

Analisis persentase dilakukan setelah memperoleh rata-rata dan diketahui jumlah skor yang diperoleh keseluruhan, ∑X = n yaitu 4146 (lampiran 3 halaman 91), dan nilai yang diharapkan (N) yaitu jumlah responden dikali skor maksimal yakni 50 x 100 = 5000, sehingga hasil perhitungan presentasi hasil belajar sebesar 82,92 %

Tahap selanjutnya melakukan analisis persentase yang dilakukan setelah memperoleh rata-rata dan diketahui jumlah skor yang diperoleh keseluruhan, ∑X = n yaitu 5947. dan nilai yang diharapkan (N) yaitu jumlah responden dikali skor maksimal yakni 50 x 152 = 7600, sehingga presentasi hasil perhitungan kecerdasan emosional sebesar 78,25 %

Hasil analisis persentase tersebut kemudian dikonsultasikan pada pedoman interpretasi yang telah ditetapkan sebelumnya, maka diperoleh bahwa kecerdasan emosional siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone yaitu SDN 23 Jeppe’e, SDN 22 Jepp’e, dan SD Inpres 12/79 Jeppe’e berada pada kategori baik karena terletak pada rentang 66% - 79%.

Analisis statistik inferensial adalah analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah teknik korelasi pearson product moment. Teknik korelasi pearson product moment digunakan dengan asumsi data dianggap normal atau data yang banyaknya lebih dari 30 responden (50 responden) sudah dapat diasumsikan berdistribusi normal.

Untuk mengetahui nilai koefisien korelasi, maka digunakan rumus korelasi pearson product moment sebagai berikut.

(10)

821 Rxy = ∑ (∑ ) (∑ ) √{ ∑ (∑ ) } * ∑ (∑ ) + = =

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh rxy sebesar 0,401. Hasil perhitungan tersebut dikonsultasikan pada tabel interpretasi koefisien korelasi pada maka diperoleh bahwa tingkat hubungan kedua variabel tergolong sedang karena berada pada rentang 0,40 – 0,599 karena berada pada rentang sedang. Untuk mengetahui derajat hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone, digunakan rumus determinasi sebagai berikut.

KP = r2 x 100%

Selanjutnya untuk pengujian signifikansi koefisien korelasi dapat dihitung dengan menggunakan Uji-t dengan rumus thitung = (r√(n-2))/√(1-r^2 ) yang hasilnya adalah 3,02.

Harga thitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga ttabel. Setelah melihat tabel distribusi t untuk kesalahan 5% dan dk = n - 2 = 50 – 2 = 48 diperoleh nilai ttabel =1,67722. Ternyata harga thitung lebih besar dari ttabel, sehingga hipotesis hipotesis nol (H0) yakni tidak ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone ditolak sedangkan hipotesis alternatif (H1) yakni ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone.

PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil bahwa kecerdasan emosional siswa kelas V SD Gugus I kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone berada pada kategori baik yaitu 78,25 %. Hal tersebut diperoleh melalui pemberian angket pada 50 siswa yang dijadikan responden menunjukkan skor tertinggi sebesar 139 skor terendah sebesar 98, rata-rata sebesar 118,64 dan persentase sebesar 78,25 %.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa siswa kelas V rata-rata memiliki kemampuan mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan. Angket yang digunakan sesuai dengan indikator Syamsu Yusuf( Susant0,2011:159) ada lima indikator utama kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali diri , kemampuan mengelola

(11)

822

emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

Indikator tersebut digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan emosional seseorang. Selain itu menurut menurut Walgito (Syamsuriani, 2011) ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional siswa yaitu faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosionalnya dan faktor eksternal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung.

Hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone berdasarkan penelitian termasuk kategori sangat baik yaitu 82,92%. Hasil ini diperoleh melalui dokumentasi nilai ujian tengah semester (UTS) semester genap tahun pelajaran 2019/2020 dari lima bidang studi yaitu PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, SBdP yang telah dirata-ratakan hasilnya yang dicapai responden. Hasil analisis data menunjukkan skor tertinggi sebesar 95, skor terendah sebesar 56 ,rata-rata sebesar 83,02 dan persentase sebesar 82,92 %.

Pengujian hipotesis penelitian dengan statistik inferensial dalam hal ini korelasi Person Product moment, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan Kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone dengan analisis statistik inferensial diperoleh thitung

sebesar 3,02 sedangkan ttabel yaitu 1,67722. Hasil perhitungan rxy bila dikonsultasikan

dengan tabel interpretasi koefisien korelasi maka pengaruh kedua variabel tergolong sedang karena berada pada rentang 0,40 – 0,599. Selain itu, diperoleh derajat hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone sebesar 16,08%, artinya terdapat 16,08% sumbangan yang diberikan oleh kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa dan 83,92 % lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dibahas pada penelitian ini. Hasil koefisien korelasi kedua variabel kemudian diuji menggunakan uji-t dan didapatkan thitung sebesar 3,02 dan ttabel sebesar 1,67722.

Ternyata harga thitung lebih besar dari ttabel yang artinya koefisien korelasi bersifat

signifikan, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Maksudnya adalah terdapat

hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone. Sehingga hubungan variabel X dengan Y sangat jelas, hal tersebut sesuai dengan kajian pustaka dan kerangka pikir pada penelitian ini, bahwa siswa yang mampu mengelolah kecerdasan emosionalnya dengan baik akan memiliki hasil belajar yang baik, jadi semakin baik kecerdasan emosional siswa maka hasil belajarnya juga akan baik dan kecerdasan emosional adalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Dan yang terjadi pada

(12)

823

penelitian ini hubungan kecerdasan emosional siswa dengan hasil belajar berada pada kategori sedang.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dikemukakan kesimpulan peneliti sebagai berikut.

1. Kecerdasan Emosional siswa Kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 78,25%.

2. Hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone termasuk dalam kategori sangat baik yaitu 82,92 %.

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan Emosional dengan hasil belajar siswa V SD Gugus I Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone karena thitung ≥ ttabel yaitu thitung sebesar 3,02 dan ttabel sebesar 1,67722.

Penelitian ini diharapkan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kecerdasan emosional yang berperan dalam keberhasilan siswa baik di Sekolah maupun di lingkungan sekitarnya, maka disarankan kepada pihak sekolah terutama guru-guru pengajar agar memasukkan unsur-unsur kecerdasan emosional dalam menyampaikan materi serta melibatkan emosi siswa dalam proses pembelajaran dengan harapan siswa dapat mengenal, memahami, mengerti, dan mengelola kondisi emosi dirinya sendiri, orang lain dan masyarakat disekitarnya.

DAFTAR RUJUKAN

Ambarjaya, Beni S. 2012. Psikologi Pendidikan & Pengajaran Teori & Praktik. Yogyakarta: CAPS.

Arikunto, Suharmi dan Cepi, Safruddin, Abdul, Jabar. 2009. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Aunurahman.2014.Belajar dan Pembelajaran. Bandung :Alfabeta

Darmansyah. 2011. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: Bumi Aksara.

Dirman dan Juarsih, 2014. Karakteristik Peserta Didik.Jakarta : Rineka Cipta Djaali.2015. Psikologi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara.

Emzir. 2017. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Goleman.2009.Kecerdasan Emosional.Terj.Hermaya.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Hamalik, Oemar. 2015. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Khodijah, Nyanyu.2017. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Martono, Nanang. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder. Jakarta: Rajawali Pers.

Riduwan. 2014. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Alfabeta.

(13)

824

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni,2012. Psikologi Pendidikan.Semarang :UPT UNNES PRESS

Riyanto, Yatim.2014. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Rusman.2017.Belajar & Pembelajaran.Jakarta: Kencana.

Sinring, Abdullah, Abdul Saman, Pattaufi, & Rudi Amir. 2016. Panduan Penelitian Skripsi (Proposal Skripsi, Skripsi, & Karya Ilmiah). Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Sudijono, Anas. 2015. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. _______, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. _______, 2015. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan

R&D. Bandung: Alfabeta.

_______, 2018. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Slameto.2013.Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta Sujarweni,Wiratna.2014.Metodologi Penelitian.Yogyakarta:Pustaka Baru Press.

Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana.

_______,2015. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.

Susriyanti, Dwi. 2016. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Gugus Hajar dewantara Kota Semarang, (Online).Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Uno, Hamzah B dan Masri kuadrat. 2014. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Wahab, Rohmalina. 2015. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :