• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDEKATAN TEORITIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PENDEKATAN TEORITIS"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan dalam Rahardjo (1999) mempunyai makna perubahan yang disengaja atau direncanakan, dimana bertujuan untuk mengubah keadaan yang tidak dikehendaki kearah yang dikehendaki. Pembangunan berkelanjutan menurut Agus Pakpahan (2006) adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan daya dukung sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan generasi berikutnya. Dikatakan demikian, agar istilah pembangunan tidak bias dengan pengertian pertumbuhan. Pembangunan berkelanjutan melibatkan berbagai sifat sumberdaya, seperti eksternalitas, indivisibility, public goods, property right, dan masalah-masalah kelangkaan spasial. Dengan demikian, aspek keadilan (keseimbangan) dalam segala kegiatan ekonomi pertanian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut Gips (nd) yang dikutip oleh Jarnanto (2010), suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1. Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu

sendiri

2. Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang dieksploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya

3. Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan tidak melanggar hal yang lain

4. Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada

5. Luwes yang berarti mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) sendiri dipandang sebagai suatu bentuk pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable

resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), yang

(2)

lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi: penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan. Hal tersebut telah memunculkan suatu pemikiran bahwa pembangunan pertanian lebih banyak bertumpu pada kemampuan sumber daya alam lokal, selanjutnya secara terus menerus mengembangkannya untuk menghadapi kebutuhan pangan yang terus meningkat dalam ketersediaan sumberdaya pertanian yang terbatas (Jarnanto, 2010).

Kegiatan pertanian berada diwilayah perdesaan. Desa selalu diidentikkan dengan pertanian. Mosher (1974), dan Bertrand (1958), yang dikutip oleh Rahardjo (1999) juga mengungkap bahawa pembangunan pertanian juga merupakan pembangunan perdesaaan, Dengan demikian, perlu memperhatikan aspek pembangunan ekonomi desa melalui basis pertanian. Desa harus dipandang sebagai wadah dan basis potensial kegiatan ekonomi melalui investasi prasarana dan sarana penunjang pertanian serta mengarahkannya lebih terpadu. Dengan demikian, sektor pertanian harus menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi nasional dan masyarakat petani berperan sebagai subjek bukan objek pembangunan pertanian.

Indriana (2010) menyebutkan bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan dukungan dari kelembagaan pertanian yang sesuai diantara rumah tangga individu, perusahaan swasta, dan organisasi publik seperti organisasi pemerintahan. Dukungan dari kelembagaan dititikberatkan pada mekanisme dan pengaturan (rule of the game) baik dari dimensi yang bersifat regulatif (peraturan perundang-undangan) dan yang bersifat normatif (kesepakatan-kesepakatan), maupun pengetahuan budaya lokal masyarakat. Dengan demikian, upaya perwujudan pembangunan pertanian yang berkelanjutan memerlukan adanya keberlanjutan kelembagaan. Kondisi keberlanjutan kelembagaan tersebut dapat dicapai dengan adanya pengorganisasian sosial dan teknik sosial yang kemudian hal tersebut tidak terlepas dari peran faktor internal dan eksternal dari suatu sistem sosial pertanian tersebut.

Menurut Anwar (1992) upaya untuk mewujudkan pembangunan pertanian berkelajutan di Indonesia selain dapat dimulai dari inisiatif pemerintah dan tekanan

(3)

kelembagaan yang dilakukan oleh masyarakat luas itu sendiri, juga perlu adanya pengembangan sumberdaya manusia seutuhnya. Hal tersebut, dapat mewujudkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga dapat terwujudnya suatu kemandirian bangsa secara keseluruhan.

Prioritas pembangunan pertanian itu sendiri diantaranya adalah: 1) meningkatkan produktivitas pertanian dengan melalui pengembangan industri hulu dan hilir. 2) membangun agroindustri dengan mempererat keterkaitan sektor pertanian dengan industri jasa, serta mempercepat pembangunan perdesaan, 3) memperkokoh ketahanan pangan dalam negeri yang dapat mengentaskan kemiskinan (JAJAKI, 2005).

Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan menghadapi banyak tantangan. Tantangan yang dimaksud adalah menemukan cara yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan dengan menggunakan sumberdaya alam secara lebih bijaksana. Dengan demikian, pembangunan pertanian dilakukan melalui pengelolaan sumberdaya desa dalam satu pola yang menjamin kelestarian ekologi, dan memperbaiki kualitas sumberdaya alam sehingga dapat terus diberdayakan, serta menerapkan model pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien (JAJAKI, 2005).

Hal ini menjadi dasar pemahaman bahwa program pembangunan pertanian yang berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian yang memaksimalkan potensi lokal dan pengetahuan lokal yang ada dalam wilayah setempat tanpa mengkesampingkan teknologi yang ramah lingkungan. Pembangunan pertanian dapat berlanjut jika dapat dipraktekkan3 oleh masyarakat dan mampu mensejahterakan masyarakat, tidak hanya memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat tetapi juga kebutuhan sosial, lingkungan dan integritas masyarakat petani sendiri. Dengan demikian, untuk mewujudkan pembangunan pertanian yang

      

3 Pokok dalam pembangunan pertanian adalah cara bertani yang dapat dipraktekkan dengan

efektif oleh petani walaupun petani tersebut mempunyai kemampuan yang sedang-sedang saja, cara penggunaan tanah yang dan usaha produktivitas yang sedang secara lebih produktif,sejalan dengan cara-cara yang praktis yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, dan juga menyediakan sumber-sumber pendidikan, perlengkapan usaha tani, kredit dan saluran pemasaran, sehingga petani tidak merasakan kesukaran dalam melakukan program pembangunan pertanian tersebut. (AT. Mosher,1977).

(4)

berkelanjutan, diperlukan suatu sistem yang mampu memandirikan petani terutama dalam aspek kelembagaan pertanian. Selain itu, pembangunan pertanian ini dapat menjaga kelestarian sumberdaya alam, kesinambungan kegiatan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani.

2.1.2 Pertanian Organik

2.1.2.1 Tinjauan Konsep Pertanian Organik

Pertanian organik dipandang sebagai jawaban dari kegagalan dari sistem pertanian konvensional, dimana sistem pertanian konvensional hanya mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian dengan menggunakan teknologi yang tidak ramah lingkungan sehingga dalam pelaksanaannya mengabaikan prinsip ekologi dan kearifan lokal. Berbeda halnya dengan Pertanian organik yang dipandang sebagai suatu sistem pertanaman yang berasaskan daur ulang unsur hara secara hayati (Sutanto, 2002).

Sistem pertanian organik merupakan suatu sistem yang berusaha mengembalikan semua jenis bahan organik kedalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun limbah ternak yang bertujuan memberi makan pada tanaman secara tradisional dan pengetahuan lokal. Filosofi pertanian organik adalah memberi makan pada tanah, yang kemudian secara tidak langsung tanah menyediakan unsur hara yang cukup dan dibutuhkan oleh tanaman, sehingga sistem pertanian organik merupakan suatu strategi “membangun kesuburan tanah Sutanto,2002). Begitupun dengan yang diungkap oleh Rienjtes (1992) yang dikutip oleh Indriana (2010) bahwa sistem pertanian organik meliputi cara produksi, dilandasi oleh aturan nilai, hubungan-hubungan sosial yang terbentuk sebagai upaya pengelolaan sumber daya lahan pertanian yang menjamin keberlanjutan lingkungan. Salikin (2003) yamg dikutip oleh Indriana (2010) mengemukakan tujuh keunggulan dan keutamaan sistem pertanian organik, sebagai berikut: Orisinal, rasional, global, aman, netral, internal, kontinuitas.

2.1.2.2 Prinsip-prinsip Pertanian Organik

Dasar pertanian organik yang menjadi prinsip dalam penerapan sistem pertanian organik menurut IFOAM (2008) adalah: (1) The principle of health, (2)

(5)

care. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pelaksanaan sistem pertanian organik

menghindari penggunaan pupuk, pestisida, dan obat-obatan serta zat-zat berbahaya yang berdampak negatif bagi kesehatan. Dengan demikian, manfaat yang dapat diambil dari sistem pertanian organik menurut Landong (2004) yang dikutip oleh Indriana (2010) sebagai berikut: Pertama, adanya manfaat secara ekologis, dimana pertanian organik menjamin kegemburan dan kesuburan tanah dan terhindar dari polusi, sehingga sangat ramah lingkungan dan dapat menjamin keseimbangan ekosistem.

Kedua, memiliki manfaat secara ekonomis, dimana unsur hara yang dibutuhkan tanaman tidak memerlukan biaya yang mahal. Dalam sistem pertanian organik, petani dapat membuat benih sendiri dan mengolah lahan pertanian secara alami sesuai dengan pengetahuan lokal mereka. Ketiga, manfaat sosial budaya, dalam hal ini, pertanian organik menjadi faktor pengintegrasi antara pengetahuan lokal petani dengan karakteristik tanahnya juga dalam menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membutuhkan diantara para petani dalam menerapkan sistem pertanian organik tersebut. Keempat, memiliki manfaat politis. Hal ini karena pertanian organik dikembangkan berdasarkan inisiatif dan kreativitas rakyat sendiri. Dengan kata lain, pertanian organik merupakan sistem pertanian yang dapat menciptakan masyarakat yang mandiri, otonom, dan maju. Kelima, memiliki manfaat yang berspektif gender, dimana dalam pelaksanaan pertanian organik menggunakan peran perempuan sebagai pembuat benih utama.

Sistem pertanian organik merupakan sebuah teknis usahatani alternatif, melalui pemanfaatan sumberdaya lokal secara intensif dengan sedikit atau tidak menggunakan input luar (low external input and sustainable agricultural) atau yang dikenal dengan LEISA. Sistem pertanian organik itu sendiri adalah sistem pertanian yang mendukung kegiatan peningkatan fungsi dan pelestarian ekologis dan dapat memperkaya keanekaragaman hayati, selain itu merupakan suatu sistem pertanian modern yang ramah lingkungan, dimana memadukan konsep pertanian lokal, yang menggunakan teknologi dan inovasi pertanian.

Secara umum terdapat perbedaan yang mencolok antara sistem pertanian organik dan sistem pertanian konvensional, baik secara ekonomi, sosial maupun kesehatan.

(6)

Tabel 1. Perbandingan secara ekonomi, sosial, dan kesehatan tentang konsep pertanian organik dan konvensional

Faktor Pembeda

Sistem Pertanian Organik Sistem Pertanian konvensional Perlakuan Pra

produksi sampai Pasca produksi

Dilakukan secara tradisional dan alami atau semi alami tanpa menggunakan alat-alat

mekanisasi yang dapat merusak kesuburan tanah

Menggunakan alat-alat semi sampai full mekanis dalam setiap tahap pekerjaan

Bibit

Berasal dari varietas bibit-bibit lokal

Berasal dari bibit unggul, hibrida, dan transgenik (transformasi gen) Pengairan

Sederhana, dan berkelanjutan Mekanis, sehingga mempercepat pengurasan air yang tersedia dalam tanah Bentuk fisik

tanaman

Kokoh, tidak mengandung banyak air

Lemah, mengandung banyak air, sehingga mudah diserang Hama dan Penyakit Rasa Enak (aromatik) Tawar, kurang enak

Umur tanaman Panjang Pendek

Pendekatan

pola produksi Menggunakan pendekatan alternatif dan keseimbangan ekologis

Menggunakan pestisida kimia sintetis (beracun) Pertumbuhan Agak lambat, karena tumbuh

secara alami Cepat, tumbuh

Pilihan

konsumen Disukai konsumen Kurang disukai, karena kurang enak Jumlah Seimbang, (sedikit dalam masa

produksi yang panjang) Tidak menentu (banyak dalam masa produksi yang singkat)

Sumber input Lokalism, dan orisinal Input dari luar Resistensi

hama penyakit

Tahan hama dan penyakit Mudah diserang hama dan penyakit

Pola tanam Ditanam secara tumpangsari, pergiliran tanaman, dsb (mix cropping)

Monokultur (satu jenis tanaman pada satu hampar lahan)

Pemupukan

Menggunakan bahan-bahan kimia organis (asli dan mudah terurai secara alami)

Kimia non-organis (sintetis, sehingga sulit terurai dan menimbulkan timbunan senyawa baru yang merusak keseimbangan biokhemis tanah)

Hasil/kualitas

(7)

beracun, mengandung gizi yang seimbang, tahan disimpan lama, dsb

berbahaya, kandungan gizi tidak berimbang, dan tidak tahan untuk disimpan lama

Harga Standar harga pasar Relatif, tergantung

pedagang dan distribusi yang bertingkat-tingkat Resiko

kegagalan usaha tani

Sedikit, karena ada Tumpang sari, rotasi, dan sudah terbiasa dilakukan petani

Lebih besar pada tahap awal dengan peningkatan input serta wabah hama/penyakit Biaya produksi Biaya produksi lebih rendah Biaya produksi lebih tinggi Kemudahan

dilakukan

Lebih membutuhkan ekstra perhatian

Lebih sederhana Resiko sosial Terbebas dari ketergantungan Menciptakan

ketergantungan pada petani dan lahan, dan adanya monopolis kapitalis, degradasi nilai-nilai sosial Lapangan

Kerja

Menciptakan kesempatan kerja dan membuka lapangan kerja baru bagi perempuan

Mekanisme menyebabkan marginalisasi tenaga kerja perempuan dan laki-laki Resiko budaya Kreatif dan menjunjung tinggi

nilai-nilai tradisi dan kekuatan alam

Efisien, menimbulkan degradasi budaya Resiko

kesehatan

Tidak ada, karena bersifat alami dan mengandung nutrisi lebih banyak yang dibutuhkan tubuh

Adanya keracunan secara akut atau kronis untuk waktu jangka panjang, karena mengandung bahan karsinogenik

Sumber : Disarikan dari berbagai sumber4

Selain itu, bertani secara organik juga menghemat biaya karen dapat menghemat pemakaian gas, karena dengan sistem pertanian organik, pengolahan dan sistem penanaman menggunakan bahan-bahan organik, atau tidak bergantung dengan pupuk kimia dibanding pemakaian pupuk kimia yang pembuatannya membutuhkan suplay gas cukup besar (Musirawa, 2010)5.

      

4 Kelembagaan Pertanian (Indriana, 2010) dan

www.mail-archive.com/rantau...com/.../Istilah_pertanian_organik.rtf Diakses tanggal 26 April 2011 pukul 19.33 WIB. 

5 http://palembang.tribunnews.com/view/29655/pertanian_organik_menghemat_gas\ Diakses tanggal 26 April

2011 pukul 19.33 WIB 

(8)

2.1.3 Pemberdayaan

Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh masyarakat (Setiana, 2005). Selain itu, Setiana (2005) juga menyebutkan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat pada hakekatnya selalu dihubungkan dengan karakteristik sasaran sebagai suatu komunitas yang mempunyai ciri, latar belakang, dan budaya tertentu.

Pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan (Suharto, 2005). Sebagai proses, pemberdayaan merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat. Sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial; yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.

Ife (2008) mengatakan bahwa partisipasi merupakan unsur pokok pemberdayaan. Pengertian pemberdayaan sendiri menurut Suharma (2005) adalah mengembangkan peranan dan fungsi suatu komunitas dalam suatu usaha ekonomi produktif, sehingga dapat memberikan kegiatan yang bermanfaat sebagai proses pembelajaran dalam kegiatan keberlanjutan usaha komunitas.

Widianto (2008) menyebutkan bahwa proses pemberdayaan komunitas dapat disebabkan oleh adanya multy player effect yang bekerja didalam komunitas.

Multy Player effect itu sendiri dapat berupa modal sosial yang membantu

masyarakat memperoleh informasi. Selain itu, Widianto (2008) menyatakan bahwa, program-program berupa kemitraan dapat memberdayakan dan memandirikan petani, karena dapat menjadi sarana dalam pengembangan komunitas petani. Elizabeth (2007) menyebutkan bahwa pemberdayaan (empowerment) merupakan strategi/upaya untuk memperluas akses masyarakat terhadap suatu sumberdaya ataupun program melalui penciptaan peluang seluas-luasnya agar masyarakat lapisan bawah mampu berpartisipasi.

(9)

Azis (2005) menyebutkan tahapan-tahapan dalam proses pemberdayaan, diantaranya:

1. Membantu masyarakat dalam menentukan masalahnya

2. Melakukan analisa atau kajian terhadap permasalahan tersebut secara mandiri (partisipatif)

3. Menentukan skala prioritas masalah

4. Mencari cara penyelesaian masalah yang sedang dihadapi, antara lain dengan pendekatan sosio kultural yang terdapat dalam masyarakat

5. Melaksanakan tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi 6. Mengevaluasi seluruh rangkaian dan proses pemberdayaan tersebut untuk

menilai sejauhmana keberhasilan dan kegagalannya.

Pada hakikatnya, makna pemberdayaan mencakup tiga aspek, yaitu: 1) menciptakan iklim kondusif yang mampu mengembangkan potensi masyarakat setempat, 2) memperkuat potensi/modal sosial masyarakat demi meningkatkan mutu kehidupannya, 3) melindungi dan mencegah semakin melemahnya tingkat kehidupan masyarakat (Azis 2005). Berdasarkan definisi pemberdayaan tersebut diatas dapat dikatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya peningkatan kemampuan masyarakat agar tanggap dan kritis terhadap berbagai perubahan, serta mampu mengakses proses pembangunan untuk mendorong kemandirian yang berkelanjutan. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat mampu berperan aktif dalam menentukan nasibnya sendiri. Adapun upaya untuk memberdayakan komunitas terutama petani menurut Widianto (2008) adalah melalui kegiatan peningkatan usaha pertanian dengan basis pada program-program kemitraan yang dapat memandirikan petani. Upaya memberdayakan masyarakat ini membutuhkan tanggung jawab dan partisipasi dari berbagai pihak. Dalam hal ini, peran

stakeholder terkait mejadi sangat penting dalam mensinergikan antara kebutuhan

masyarakat dengan program-program pemberdayaan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat ini menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama dalam pelaksanaan program pembangunan.

Strategi pemberdayaan menurut Suharto (2005) dapat dilakukan melalui tiga aras pemberdayaan yaitu; 1) aras mikro atau disebut pendekatan berpusat pada tugas, dimana pemberdayaan dilakukan secara individu melalui kegiatan

(10)

bimbingan, konseling, stress, management, crisis intervention. 2) Aras mezzo atau disebut strategi meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan, dimana pemberdayaan dilakukan menggunakan kelompok sebagai media intervensi, melalui kegiaan pendidikan, pelatihan, dan dinamika kelompok. 3) Aras makro atau disebut strategi sistem besar, sasaran perubahan diarahkan pada lingkungan yang lebih luas.

2.1.4 Partisipasi

Partisipasi menurut Apriyanto (2008) merupakan keterlibatan seseorang secara aktif dalam mengikuti kegiatan. Adapun yang menjadi indikator partisipasi masyarakat terhadap suatu kegiatan menurut Apriyanto (2008) meliputi sikap dan peranannya dalam tahapan partisipasi yaitu berupa pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan, penikmat hasil, dan evaluasi kegiatan. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari internal warganya ataupun dari pelaksanaan program itu sendiri. Adapun menurut Makmur (2008), partisipasi merupakan suatu proses pemberdayaan secara individu sebagai anggota kelompok tertentu, dalam mengidentifikasi dan membentuk modal masyarakat.

Elizabeth (2007) juga mengungkap konsep partisipasi sebagai : 1) tindakan pemekaan terhadap pihak petani miskin untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan menanggapi program pembangunan pertanian di pedesaan, 2) kontribusi sukarela dan keterlibatan aktif petani miskin dalam program pembangunan pertanian tanpa ikut pengambilan kepentingan, 3) merupakan suatu proses yang aktif, dimana petani miskin atau orang terkait dapat mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk menggunakan hal tersebut, 4) pemantapan komunikasi (dialog) antara pihak terkait dalam proses pembangunan agar memperoleh informasi semaksimal mungkin mengenai konteks lokal dan dampak sosial, 5) kerjasama yang erat antar pihak yang terkait, baik pemerintah atau masyarakat dalam merencanakan, melestarikan, dan memanfaatkan hasil pembangunan yang dicapai.

Arnstein (1969) yang dikutip oleh Indriana (2010) manyatakan partisipasi sebagai suatu proses bertingkat dari pendistribusian kekuasaan pada komunitas, sehingga mereka memperoleh kontrol lebih besar pada hidup mereka sendiri.

(11)

Arnstein (1969) yang dikutip oleh Ife (2008), juga menyebutkan 8 tipologi yang menunjukkan tipe partisipasi dan non partisipasi komunitas (Gambar 1).

Gambar 1 Jenjang partisipasi komunitas Arnstein (1969)

Dari tipologi tersebut, menjelaskan bahwa yang dapat dikatakan sebagai ‘partisipasi’ berkisar pada manipulasi oleh pemegang kekuasaan hingga komunitas sendiri yang memilki kontrol terhadap keputusan-keputusan bagi kehidupan mereka. Hal tersebut bervariasi menurut tingkat kontrol.

Jenjang partisipasi Arnstein tersebut identik dengan kekuasaan masyarakat, yang terdiri dari:

1. Jenjang non partisipasi

Pasif/manipulatif adalah suatu bentuk partisipasi yang tidak memerlukan respon partisipan untuk terlibat banyak. Suatu Institusi pengelola program akan menggunakan perwakilan dari anggota komunitas untuk mengumpulkan tanda tangan warga sebagai bentuk dukungan dan kesediaan warga terhadap suatu program yang direncanakan institusi pengelola program. Pada tingkat partisipasi ini, masyarakat tidak memiliki peran dalam setiap tahapan penerapan program.

Terapi adalah suatu bentuk partisipasi yang melibatkan anggota komunitas namun hanya sebatas dialog antara institusi dengan anggota komunitas lokal yang mana anggota komunitas lokal diminta member suatu jawaban dan tanggapan atas suatu isu untuk membentuk suatu program. Namun, jawaban tersebut tidak mempengaruhi kebijakan dan keputusan dalam pembuatan program. 8 Citizen control 7 Delegated Power 6 Partnership 5 Placation 4 Consultation 3 Information 2 Therapy 1 Manipulatif Tokenisme Citizen Power Non partisipation Eksploitatif Demokrasi Representatif Demokrasi Partisipatif Deliberatif

(12)

2. Jenjang tokenisme

Informasi adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan suatu institusi pengelola program untuk memberi sosialisasi kepada anggota komunitas lokal tentang suatu program. Meskipun terjadi komunikasi antara anggota komunitas dengan institusi namun sifatnya masih searah.

Konsultasi merupakan suatu jenjang partisipasi dimana anggota komunitas diberikan pendampingan dalam pelaksanaan suatu program oleh institusi. Dalam tahap ini komunikasi dua arah telah terjadi yang mana anggota komunitas yang terlibat untuk menyampaikan pendapatnya, namun dalam pelaksanaannya telah terjadi penjaringan aspirasi, karena suatu bentuk usulan yang disetujui telah disusun sebelumnya, atau masyarakat diarahkan untuk menyetujui suat isu tersebut.

Penenangan, merupakan jenjang partisipasi yang mana komunikasi telah berjalan baik dan sudah terdapat dialog antara masyarakat dengan istitusi pengelola program. Namun, kewenangan dan keputusan untuk penerimaan usulan tersebut masih menjadi milik institusi, mereka yang menilai kelayakan usulan dari anggota komunitas apakah telah layak untuk dilaksanakan atau tidak. Dalam pelaksanaan program, partisipasi anggota komunitas hanya bersifat materi, artinya ada pemberian insentif bagi anggota yang melaksanakan program.

3. Jenjang Kekuatan Warga Negara

Kerjasama, merupakan suatu jenjang partisipasi yang fungsional. Semua pihak dalam pelaksanaan program bersama-sama membuat dan merancang suatu program. Satu sama lain saling duduk berdampingan.

Pendelegasian wewenang, merupakan suatubentuk partisiasi aktif yang mana anggota komunitas lokal telah benar-benar terlibat dalam setiap tahapan keputusan. Mereka diberikan kekuasaan untuk melaksanakan suatu program. Pengawasan oleh komunitas, merupakan suatu bentuk partisipasi yang mana anggota komunitas telah memiliki kewenangan untuk mengawasi dan mengontrol kebijakan dari institusi tentang suatu program. Dalam pelaksanaanya, anggota komunitas yang mengelola kegiatan untuk

(13)

kepentingannya sendiri tanpa campur tangan dari institusi Arnstein (1969) dalam Wicaksono (2010).

Ife (2008) juga menyebutkan bahwa partisipasi dapat diwujudkan dengan cara mewujudkan HAM. Kondisi-kondisi yang dapat mendorong terbentuknya partisipasi menurut Ife (2008) adalah sebagai beirkut:

1. Masyarakat dapat berpartisipasi apabila mereka merasa bahwa isu atau aktivitas tersebut penting

2. Masyarakat juga harus merasa bahwa aksi mereka akan membuat perubahan 3. Berbagai bentuk partisipasi masyarakat harus diakui dan dihargai

4. Masyarakat harus dapat berpartisipasi, dan didukung dalam partisipasinya 5. Struktur dan proses tidak boleh mengucilkan

Berdasarkan kondisi yang tersebut, dapat dikatakan bahwa partisipasi harus berbasis masyarakat, dimana institusi atau organisasi juga turut mendukung pelaksanaan partisipasi tersebut.

Partisipasi masyarakat menurut Ife (2008) dapat diukur menggunakan jenis-jenis indikator. Cara pengukuran partisipasi dibedakan berdasarkan jenis-jenis indikator, yaitu indikator jenis kuantitatif dan kualitatif. Indikator secara kuantitatif diantaranya adalah adanya perubahan-perubahan positif dalam layanan-layanan lokal, terdapat jumlah pertemuan dan jumlah peserta, terdapat proporsi berbagai bagian dari kehadiran masyarakat, adanya sejumlah orang yang dipengaruhi oleh isu yang diangkat, adanya sejumlah pemimpin lokal yang memegang peranan, adanya sejumlah warga lokal yang memegang peranan dalam proyek, adanya sejumlah warga lokal dalam berbagai aspek proyek dan pada waktu yang berbeda-beda.

Indikator secara kualitatif menurut Ife (2008) diantaranya adalah adanya suatu kapasitas yang tumbuh untuk mengorganisasi aksi, terdapat terdapat dukungan yang tumbuh dalam masyarakat tentang hal seperti keuangan dan manajemen proyek, adanya keinginan masyarakat untuk terlibat dalam pembuatan proyek, serta adanya peningkatan kemampuan dari mereka yang berpartisipasi dalam mengubah keputusan menjadi aksi, meningkatnya jangkauan partisipan melebihi proyek untuk mewakilinya dalam organisasi-organisasi lain, munculnya pemimpin-pemimpin dari masyarakat, serta meningkatnya jaringan dengan

(14)

proyek-proyek, masyarakat dan organisasi lainnya, dan hal tersebut mulai mempengaruhi kebijakan.

Partisipasi dapat dikatakan sebagai suatu langkah memberdayakan masyarakat, dimana dalam pelaksanaan programnya menjadikan masyarakat sebagai aktor utama. Pelaksanaan partisipasi ini perlu menyentuh ranah kebutuhan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar pentingnya program pembangunan tersebut tidak hanya dapat menyentuh aspek kognitif masyarakat saja tetapi juga aspek rasa, kemampuan, dan kesempatan masyarakat, sehingga program pembangunan tersebut dapat menggugah masyarakat untuk bersikap mendukung, mau dan mampu melaksanakan serangkaian program pembangunan tersebut. Disamping itu, untuk menjadikan masyarakat mau dan mampu berpartisipasi dalam program pembangunan, sangat perlu kiranya mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakanginya diantaranya adalah faktor eksternal dan internal dari masyarakatnya baik dari karakteristik masyarakatnya juga karakteristik institusi yang menginisiasi program.

2.1.5 Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi

Pemberdayaan dan partisipasi petani merupakan aspek penting dalam program pembangunan pertanian. Kedua konsep ini saling mendukung, dimana pemberdayaan petani merupakan target yang hendak dicapai dalam program pembangunan pertanian, sedangkan partisipasi sebagai alat untuk pencapaian tujuan pembangunan tersebut. Salah satu prinsip pemberdayaan menurut perspektif pekerjaan sosial Suharto (2005) adalah masyarakat harus berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau program pemberdayaan. Suharto (2005) juga menyebutkan bahwa masyarakat harus dapat berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri: tujuan, cara dan hasil harus dirumuskan oleh mereka sendiri. Dengan demikian, dalam penelitian ini, aspek ukuran keberhasilan pemberdayaan petani dalam penerapan sistem pertanian organik ini adalah dilihat dari partisipasi komunitasnya dalam pelaksanaan dan penerapan program pertanian organik.

Namun demikian, perwujudan partisipasi masyarakat membutuhkan kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak dalam merencanakan dan melaksanakan suatu program yang harus lahir dan tumbuh dari masyarakat. Tingkat

(15)

kesadaran menjadi sebuah kunci dalam keberhasilan pemberdayaan, karena pengetahuan dapat meningkatkan mobilisasi tindakan bagi perubahan (Suharto,2005).

2.1.6 Partisipasi dalam Penyuluhan Pertanian

Partisipasi dalam menerapkan sutau program pemberdayaan petani pada kerangka penyuluhan pertanian sering diistilahkan sebagai bentuk adopsi, dimana suatu komunitas atau seseorang dapat menerima suatu ide-ide baru sampai memutuskan menerima atau menolak ide-ide tersebut (Setiana, 2005). Tahapan proses seseorang dapat berpartisipasi dalam suatu program pemberdayaan tidak jauh berbeda dengan tahapan dalam proses adopsi inovasi. Wiriaatmaja (1971) yang dikutip oleh Setiana (2005) menyebutkan tahapan proses adopsi adalah sebagai berikut: 1) tahap sadar, dimana seseorang sudah mengetahui sesuatu yag baru karena hasil dari berkomunikasi dengan pihak lain, 2) tahap minat, tahap dimana seseorang mulai memiliki keinginan mengetahui lebih banyak tentang isu tersebut, 3) tahap menilai, dimana seseorang mulai menilai atau menimbang-nimbang serta menghubungkan dengan keadaan atau kemampuan dirinya, 4) tahap mencoba, dimana seorang mulai menerapkan aau mencoba dalam skala lebih kecil sebagai upaya untuk meyakinkan apakah dapat dilanjutkan, 5) tahap penerapan atau disebut adopsi, pada tahap ini seseorang sudah yakin akan isu atau hal baru tersebut dan mulai konsisten menerapkan.

Dalam kerangka ilmu penyuluhan pertanian, Kartasapoetra (1987) menyebutkan bahwa perilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan, dan sikap mental petani itu sendiri. Van den Ban dan Hawkins (2005) menyebutkan bahwa tujuan perilaku selain dipengaruhi oleh sikap, juga dipengaruhi oleh harapan lingkungan sosialnya, norma-norma subjektif, dan penilaian perilaku sendiri. Sikap itu sendiri menurut Van den Ban dan Hawkins (2005) adalah perasaaan, pikiran, kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Selanjutnya, Van den Ban dan Hawkins (2005) juga menyebutkan komponen sikap itu sendiri adalah pengetahuan, perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak atau kecondongan evaluatif terhadap suatu objek atau subjek yang

(16)

memiliki konsekuensi. Pemahaman masyarakat terhadap suatu program merupakan bentuk pandangan yang dapat membentuk sebuah penilaian dan dapat mengarahkan pada sebuah tindakan untuk kebaikan dirinya. Adapun tingkat penilaian petani merupakan ukuran baik dan tidak baiknya atau positif dan negatifnya suatu program yang dapat membentuk sikap penerimaan atau penolakan terhadap suatu program, seperti yang diungkap oleh Baron dan Byrne (2003) yang dikutip oleh Lokita (2011) ketika individu memiliki sikap yang kuat terhadap isu-isu tertentu, maka mereka seringkali bertingkah laku konsisten dengan pandangan tersebut. Penilaian yang positif terhadap suatu program akan mendorong responden untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan program pertanian organik. Dapat diambil kesimpulan mengenai makna tersebut bahwa pengetahuan dan kesadaran tentang suatu isu tertentu merupakan suatu bentuk penilaian yang menentukan sikap seseorang negatif atau positif terhadap isu ataupun program tertentu dan hal ini turut mempengaruhi perilaku seseorang untuk menolak atau menerima isu atau program tersebut.

Hal demikian serupa dengan tahap partisipasi, dimana seseorang yang secara sadar akan adanya suatu ide baru atau suatu program, yang kemudian mencari informasi tambahan seputar program yang menunjukkan minat terhadap program dan kemudian menilai, lalu mencoba menerapkan dan secara konsisten menerapkan program merupakan suatu bentuk proses pemberdayaan, dimana dalam penelitian ini dijadikan sebagai proses dan ukuran keberhasilan program pemberdayaan komunitas tani dalam penerapan sistem pertanian organik.

Perubahan perilaku dalam penyuluhan pertanian umumnya berjalan lambat, karena tidak setiap orang mengadopsi inovasi atau isu tertentu pada tingkat yang sama. Setiana (2005) menyebutkan bahwa kecepatan adopsi dipengaruhi oleh faktor sifat inovasi, sifat sasaran, faktor individu atau pribadi, luas usaha tani, tingkat pendapatan, keberanian mengambil resiko, umur, tingkat partisipasi dalam kelompok atau organisasi luar, dan berbagai sumber informasi yang dapat di manfaatkan. Sifat sasaran atau pengadopsi (Rogers 1983) yang dikutip oleh Van den Ban dan Hawkins (2005) dibedakan menjadi kategori, yaitu inovator (kelompok perintis), early adopter (kelompok pelopor atau penerap lebih dini),

(17)

laggard (penolak inovasi). Selanjutnya Rogers (1983) dalam Van den Ban dan

Hawkins (2005) juga mengatakan bahwa variabel yang mempengaruhi tingkat kecepatan adopsi tersebut diantaranya adalah pendidikan, keterampilan baca tulis, status sosial ekonomi yang tinggi, unit ukuran yang lebih besar, orientasi ekonomi komersial, sikap tentang kredit, sikap tentang perubahan dan pendidikan, partisipasi sosial, intelegensi, kosmopolitan (keterbukaan), kontak dengan agen perubahan.

Kaitan kecepatan adopsi dengan keberhasilan program pemberdayaan dalam penerapan sistem pertanian organik disini, dilihat dari tingkat penerapan petani dalam pelaksanaan program pertanian organik, artinya proses pemberdayaan masih berlangsung dengan adanya perbedaan tingkat penerapan program dari masing-masing individu petani.

2.17 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Komunitas dalam Penerapan Sistem Pertanian Organik

Suatu proses pembangunan, memerlukan upaya pemberdayaan dan partisipasi komunitas. Pembangunan pertanian pun dapat berkelanjutan jika didukung oleh faktor keberlanjutan kelembagaan dalam masyarakat. Indriana (2010) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi keberlanjutan kelembagaan dalam sistem pertanian organik adalah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal sangat mempengaruhi tata kelola baik dalam sistem pemerintahan, jejaring kerjasama dan sarana umum, sedangkan faktor internal seperti kepemimpinan, dan adanya aturan tertulis dan tidak tertulis, serta proses pendirian kelembagaan dan partisipasi komunitas.

Partisipasi menurut Mubyarto (1985) yang dikutip oleh makmur (2007), adalah suatu kesadaran masyarakat untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri. Adapun dalam hubungannya dengan pembangunan, partisipasi harus memiliki tiga syarat yaitu: adanya kesempatan, kemauan, dan dan kemampuan masyarakatnya untuk berpartisipasi. Apriyanto (2008) menyebutkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari internal warganya ataupun dari pelaksanaan programnya. Faktor dari internal warganya seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, beban keluarga, pengalaman berkelompok, dan lama tinggal. Sedangkan dari pelaksanaan programnya seperti metode kegiatannya,

(18)

dan pelayanan kegiatan programnya. Selain faktor eksternal dan internal tersebut, pemberdayaan dan partisipasi sangat ditentukan oleh keberlanjutan kelembagaan ekonomi yang terbentuk dalam masyarakat, dimana hal tersebut sangat didukung oleh pola kemitraan antara masyarakat dengan pihak swasta dan masyarakat dengan

good governance.

Pada umumnya, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari faktor internal dan eksternal dari masyarakat itu sendiri. Faktor internal masyarakat itu sendiri diantaranya adalah faktor kebutuhan, dan kemampuan masyarakat yang dapat mendorong motivasi masyarakat terhadap program, sedangkan faktor eksternal seperti lingkungan masyarakat dimana masyarakat itu tinggal, meliputi aturan dalam masyarakat (rule

of the game) baik tertulis ataupun tidak tertulis, keadaan sumberdaya alamnya,

modal sosial masyarakatnya, kebijakan pemerintah, sarana dan prasarana yang mendukung partisipasi seperti informasi dan jejaring kerjasama antara masyarakat dengan stakeholder terkait lainnnya. Dalam penelitian ini faktor-faktor internal individu petani menjadi faktor yang mempengaruhi partisipasi petani dalam pelaksanaan program, seperti yang disebutkan oleh Van den Ban dan Hawkins (2005) luas usaha tani, dan keberanian mengambil resiko, serta sumber informasi yang dapat dijangkau dan dimanfaatkan didaerah tersebut, dan tingkat partisipasi dalam kelompok. Selain itu, Rogers (1983) yan dikutip oleh Van den Ban Hawkins (2005) menyebutkan bahwa variabel umur, keterbukaan dengan media massa, status sosial yang tinggi, dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi tingkat adopsi petani terhadap program. Dengan demikian, penelitian ini, membatasi faktor internal tersebut hanya pada golongan umur, tingkat pengalaman bertani, tingkat kepemilikan lahan, dan tingkat keterjangkauan informasi penyuluhan pertanian. 2.2 Kerangka Pemikiran

Adanya asumsi bahwa dalam proses penerapan pertanian organik terhadap komunitas petani mengalami benturan budaya pertanian, dalam hal ini adalah benturan antara budaya bertani konvensional yang telah lama diterapkan oleh masyarakat atau dikenal sebagai revolusi hijau dengan budaya bertani organik. Kondisi pertanian masyarakat sebelumnya diasumsikan mengembangkan sistem pertanian konvensional yang telah melembaga dalam aktivitas pertaniannya.

(19)

Kemudian, pemerintah atau institusi menerapkan suatu konsep pertanian organik. Pergeseran dan perubahan aktivitas dan budaya pertanian dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian organik disebabkan oleh adanya proses pemberdayaan masyarakat terhadap pertanian organik. Proses pemberdayaan dilakukan melalui aktivitas penyadaran atau pengenalan komunitas (sosialisasi) program, dan aktivitas penerapan program bertani organik.

Aktivitas penerapan program meliputi pelatihan, aplikasi program, evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program. Meskipun demikian, dalam proses penyadaran dan penerapan program terhadap komunitas, perlu memperhatikan karakteristik individu petani dan karakteristik inisiator program (institusi) agar petani mau dan mampu berpartisipasi.

Karakteristik individu petani dan karakteristik institusi menjadi faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberdayaan komunitas dalam pelaksanaan program. Karakteristik individu petani dilihat dari faktor internal dan eksternal dari diri mereka.

Faktor internal individu petani yang dapat diukur dan dapat mempengaruhi tingkat partisipasi responden dalam pelaksanaan program pemberdayaan komunitas dalam penerapan Sistem Pertanian Organik meliputi umur, tingkat pendidikan, kepemilikan dan luas lahan pertanian (tingkat stratum rumah tangga pertanian), serta tingkat pengalaman dalam bertani, dan tingkat keterdedahan terhadap informasi penyuluhan pertanian. Adapun faktor eksternal yang terdapat dalam diri mereka yang tidak diteliti namun dapat mempengaruhi keberhasilan program pemberdayaan komunitas meliputi ketersediaan sumberdaya alam, modal sosial, aturan tertulis dan tidak tertulis, dan peran kepemimpinan, serta kelembagaan pertanian yang telah terbentuk.

Karakteristik institusi atau inisiator program merupakan variabel lain yang turut mempengaruhi keberhasilan pemberdayaan petani meliputi kepentingan institusi atas program, kebutuhan pangan nasional, kebijakan pemerintah terhadap pertanian, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian, serta jejaring kerjasama yang akan dan atau telah terbentuk.

(20)

Keterangan : Menyebabkan : Mempengaruhi : Mencakup : Batasan Penelitian Eksternal : ¾ Ketersediaan sumberdaya alam ¾ Modal Sosial ¾ Aturan tertulis dan

tidak tertulis ¾ Peran

kepemimpinan ¾ Kelembagaan

pertanian

Karakteristik Individu Petani

Karakteristik Institusi ¾ Kepentingan institusi ¾ Kebutuhan pangan nasional ¾ Kebijakan Pemerintah terhadap pertanian ¾ Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pertanian ¾ Jejaring kerjasama

Proses Benturan Budaya Pertanian Inovasi Pertanian

Organik Konvensional

(Revolusi Hijau)

Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Komunitas Tani dalam Penerapan Pertanian

Organik:

Kelanjutan Penerapan Sistem Bertani Organik oleh Petani (pengulangan kegiatan bertani organik)

Tingkat Pendapatan hasil pertanian Internal : ¾ Umur ¾ Tingkat Kepemilikan lahan pertanian ¾ Tingkat Pengalaman Bertani ¾ Tingkat Keterjangkauan terhadap informasi Penyuluhan Proses Pemberdayaan : Tingkat Penilaian Proses Penyadaran : ¾ Aktivitas Inisiasi program ¾ Aktivitas Sosialisasi program

Tingkat Penerimaan Proses Penerapan: ¾ Pelatihan

¾ Aplikasi Program ¾ Evaluasi Proses Bersama

  Tingkat Partisipasi Petani Tingkat Kesiapan Institusi: Instrumen & Pelaksanaan dilapangan 24

(21)

2.3 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran, dapat disusun hipotesis sebagai berikut:

1. Karakteristik internal individu petani seperti umur, tingkt kepemilikaan lahan bertani, tingkat pengalaman bertani, dan tingkat keterjangkauan informasi penyuluhan pertanian mempengaruhi tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan komunitas.

2. Tingkat kesiapan institusi dalam sosialisasi program, mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberdayaan petani.

3. Tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan pertanian organik mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberdayaan komunitas tani dalam penerapan pertanian organik.

2.4 Definisi Konseptual

Penelitian ini menggunakan beberapa istilah konseptual yang digunakan sebagai pengertian awal beberapa variabel dari penelitian ini. Definisi dari berbagai variabel yang ada diperoleh melalui pemahaman atas berbagai definisi dan teori yang terkait dengan variabel tersebut. Istilah-istilah konseptual tersebut yaitu:

1. Pertanian konvensional adalah sistem pertanian yang menggunakan input luar yang tinggi, dimana bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas tanpa memperhatikan fungsi ekologi dan keanekaragaman hayati.

2. Sistem pertanian organik adalah sistem pertanian yang mendukung kegiatan peningkatan fungsi dan pelestarian ekologis dan dapat memperkaya keanekaragaman hayati. Selain itu, merupakan suatu sistem pertanian modern yang ramah lingkungan.

3. Pemberdayaan adalah upaya peningkatan kemampuan masyarakat agar tanggap dan kritis terhadap berbagai perubahan, serta mampu mengakses proses pembangunan untuk mendorong kemandirian yang berkelanjutan. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat mampu berperan aktif dalam menentukan nasibnya sendiri.

4. Petani adalah pelaku dalam kegiatan pertanian yang menjadi pelaksana kegiatan pemberdayaan.

(22)

5. Institusi program merupakan institusi penginisiasi dan pendukung program pertanian organik meliputi institusi pemerintah daerah, pemerintah pusat, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Pendidikan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

6. Karakteristik institusi merupakan karakteristik yang dimiliki institusi yang turut mempengaruhi proses pemberdayaan masyarakat. Karakteristik tersebut meliputi kepentingan institusi, kebutuhan pangan nasional. kebijakan pemerintah terhadap pertanian, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian, jejaring kerjasama.

7. Kegiatan Pemberdayaan

Kegiatan pemberdayaan merupakan rangkaian tahapan proses penyuluhan dalam memberdayakan komuntas tani dalam penerapan sistem pertanian organik, tahapan dalam proses tersebut meliputi aktivitas penyadaran (sosialisasi program) dan proses penerapan pertanian organik oleh komunitas tani.

1. Aktivitas penyadaran (Sosialisasi Program) merupakan rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menyadarkan, memberi informasi, memberi pengetahuan terhadap masyarakat tentang pertanian organik agar petani dapat menilai dan menerima sistem pertanian organik dalam aktivitas bertaninya, meliputi kegiatan inisiasi, dan sosialisasi program. Aktivitas penyadaran secara umum bertujuan untuk membentuk sikap petani terhadap sistem pertanian organik.

2. Kegiatan penerapan merupakan rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membuat masyarakat mau mencoba dan mengaplikasikan pertanian organik pada aktivitas pertaniannya. Kegiatan penerapan tersebut diantaranya meliputi:

i. Pelatihan pelaksanaan program merupakan kegiatan berupa pelatihan baik berupa metode ataupun teknik bertani organik yang dilakukan oleh institusi kepada masyarakat.

ii. Aplikasi program merupakan kegiatan dimana masyarakat mulai mencoba bertani organik.

(23)

iii. Evaluasi proses bersama merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan institusi dalam seluruh tahapan program dari mulai tahap persiapan dan pelaksanaan program, hingga evaluasi terhadap hasil yang dicapai program.

b) Karakteristik eksternal individu petani meliputi ketersediaan sumber daya alam, modal sosial masyarakat seperti trust, norm, network, selain itu aturan tertulis dan tidak tertulis, peran kepemimpinan dan peran kelembagaan pertanian.

(i) Ketersediaan sumberdaya alam merupakan suatu keadaan dimana alam memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam aktivitas pertaniannya.

(ii) Modal sosial masyarakat merupakan potensi yang dimiliki masyarakat yang secara luas menjadi pengikat dan penguat hubungan antar anggota masyarakat.

(iii) Aturan tertulis dan tidak tertulis merupakan aturan main (rule of the

game) yang dibuat dan disepakati oleh masyarakat yang menjadi dasar

hubungan sosial antar anggota masyarakatnya.

(iv) Peran kepemimpinan merupakan peran suatu tokoh yang dianggap mumpuni dan dipercaya masyarakat dalam mengambil keputusan inovasi.

(v) Peran kelembagaan pertanian merupakan peran suatu institusi masyarakat dalam proses penerimaan dan pengambilan keputusan inovasi.

2.5 Definisi Operasional

Penelitian ini menggunakan beberapa istilah operasional yang digunakan untuk mengukur berbagai variabel. Masing-masing variabel terlebih dahulu diberi batasan sehingga dapat ditentukan indikator pengukurannya. Istilah-istilah tersebut yaitu:

2.5.1 Sikap petani tehadap pelaksanaan program merupakan suatu bentuk pemahaman dan penilaian terhadap suatu program yang membentuk suatu tindakan bagi kebaikan dirinya. Ukuran sikap tersebut berdasarkan tingkat pemahaman dan pengetahuan petani tentang pertanian organik baik manfaat

(24)

ataupun praktek, yang diungkapkan dengan pemahaman setuju atau tidak setuju tentang pemahaman suatu program, dengan nilai sangat setuju = 5, setuju = 4, kurang setuju = 3, tidak setuju = 2, dan sangat tidak setuju = 1. Terdapat tiga kategori ukuran penilaian masyarakat hingga masyarakat menilai positif pertanian organik dalam aktivitas pertaniannya, yaitu:

1. Positif, jika petani mengetahui dan memahami pentingnya praktek bertani organik dibanding praktek bertani konvensional dengan total skor (44-65)

2. Kurang Positif, jika petani memiliki pemahaman dan pengetahuan yang kurang tentang manfaat dan praktek bertani organik dibanding pertanian konvensional dengan total skor (22-43)

3. Tidak Positif (negatif), jika petani tidak tahu dan tidak memahami pentingnya bertani organik dibanding bertani konvensional, dengan memiliki jawaban yang cenderung memihak praktek bertani konvensional dengan total skor (13-21).

2.5.2 Tingkat Penerimaan petani terhadap pertanian organik merupakan

ukuran diterima atau tidak diterimanya suatu program oleh masyarakat. Penerimaan tersebut diukur berdasarkan kecenderungan keinginan menerapkan praktek bertani organik, dengan nilai Ya = 3, dan tidak tahu =2, 1=tidak. Terdapat tiga kategori ukuran penerimaan petani hingga petani mau melaksanakan dan menerapkan pertanian organik dalam aktivitas pertaniannya, yaitu:

1. Menerima, jika petani cenderung berkeinginan menerapkan pertanian organik dengan skor (9-12)

2. Kurang Menerima, jika petani cenderung kurang berkeinginan (ragu-ragu) menerapkan pertanian organik dengan skor (5-8)

3. Tidak Menerima, jika petani cenderung tidak berkeinginan menerapkan pertanian organik dengan skor (1-4).

2.5.3 Petani

Karakteristik individu petani dapat dilihat berdasarkan karakterisitk internal dan karakteristik eksternal individu petani.

(25)

Karakteristik internal individu petani meliputi tingkat umur, tingkat kepemilikan dan atau penguasaan luas lahan, tingkat pengalaman bertani, dan tingkat keterjangkauan terhadap informasi penyuluhan.

(i) Tingkat Umur petani merupakan ukuran lama hidup responden, dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:

1) Muda, jika umur petani rata-rata (< 30) tahun.

2) Dewasa, jika umur petani rata – rata sekitar (30 - 50) tahun. 3) Tua, jika umur petani (> 50) tahun.

(ii) Tingkat pengalaman dalam kegiatan pertanian merupakan lama responden telah melakukan kegiatan bertani organik sebagai mata pencahariannya, dibedakan menjadi tiga kategori yaitu:

1) Rendah, jika telah melakukan kegiatan bertani (< 10) tahun. 2) Sedang, jika telah melakukan kegiatan bertani (10 - 30) tahun. 3) Tinggi, jika telah melakukan kegiatan bertani (> 30) tahun.

(iii) Tingkat stratum rumah tangga petani ( kepemilikan, dan atau penguasaan luas lahan) merupakan ukuran banyaknya luas lahan yang dimiliki atau dikuasai oleh responden yang digunakan untuk kegiatan bertani, dibedakan menjadi tiga kategori yaitu:

1) Rendah, jika petani organik hanya menguasai atau memiliki lahan bertani (< 0,25 Ha).

2) Sedang, jika petani organik menguasai atau meimiliki lahan bertani (0.25 – 0.5) Ha.

3) Tinggi, jika petani menguasai atau memiliki lahan bertani (> 0.5 Ha).

(iv) Tingkat keterjangkauan informasi penyuluhan adalah tingkat akses dan keterdedahan petani terhadap informasi penyuluhan, Ukuran tingkat keterjangkauan informasi penyuluhan ini dikategorikan menjadi tiga, diantaranya:

1) Rendah, jika petani tidak memperoleh informasi penyuluhan pertanian organik, sehingga tidak melaksanakan program.

2) Sedang, Jika petani menerima informasi penyuluhan hanya dari kelompok tani atau petani lain yang menerapkan program.

(26)

3) Tinggi, jika petani setelah menerima informasi penyuluhan selain dari kelompok tani dan PPL, serta dari media informasi lainnya.

2.5.4 Tingkat partisipasi petani adalah keterlibatan petani secara aktif dalam

mengikuti kegiatan penyadaran dan penerapan pertanian organik. Tingkat partisipasi petani diukur berdasarkan kehadiran, dan keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan proses penyadaran seperti keaktifan bertanya, dan menanggapi informasi yang disampaikan dengan nilai sering = 3, jarang = 2, dan tidak pernah = 1, dan berdasarkan dukungan berupa pengorbanan biaya, tenaga, ide dan lainya dalam pelaksanaan hingga evaluasi program dengan nilai Ya = 2, dan Tidak = 1, Hal ini dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:

1) Rendah, jika dari pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang diadakan oleh institusi dalam kegiatan pemberdayaan (aktivitas penyadaran dan aktivitas penerapan), jumlah kehadiran petani kategori tidak pernah, dan tidak ikut terlibat dalam mendukungan pelaksanaan program dengan skor (16)

2) Sedang, jika dari pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang diadakan oleh institusi dalam kegiatan pemberdayaan (aktivitas penyadaran dan aktivitas penerapan), jumlah kehadiran petani kategori jarang hadir ataupun jarang terlibat dalam mendukung pelaksanaan program dengan skor (32 - 17)

3) Tinggi, jika dari pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang diadakan oleh institusi dalam kegiatan pemberdayaan (aktivitas penyadaran dan aktivitas penerapan), jumlah kehadiran petani kategori sering hadir, dan sering teribat dalam memberi dukungan terhadap pelaksanaan program dengan skor (48 - 33)

2.5.5 Institusi

Tingkat Kesiapan Intitusi adalah ukuran dikatakan siap atau tidaknya institusi sebagai pelaksana dan penyelenggara kegiatan pemberdayaan dalam mencapai keberhasilan program.

(27)

1) Ketepatan instrumen pemberdayaan yang digunakan menurut prinsip pemberdayaan, dan

2) Pelaksanaan praktek dilapangan oleh institusi.

Adapun indikator secara kualitatif ukuran kesiapan institusi berdasarkan ukuran pengetahuan petani tentang praktek bertani organik berdasarkan hasil penyuluhan yang dirasakan oleh responden. Dengan demikian ukuran tingkat kesiapan institusi menjadi tiga kategori, diantaranya:

1) Tidak siap, jika institusi dalam pelaksanaan proses pemberdayaan tidak melaksanakan program sesuai dengan target pencapaian program, dan tidak menggunakan instrumen pemberdayaan, dengan skor tingkat pengetahuan petani terhadap program (66-44)

2) Kurang siap, jika institusi dalam pelaksanaan proses pemberdayaan kurang sesuai dengan target pencapaian program, dan memiliki atau tidak instrumen pemberdayaan, dengan skor tingkat pengetahuan petani terhadap program (43-22)

3) Siap, jika institusi dalam pelaksanaan proses pemberdayaan melaksanakan program sesuai dengan target pencapaian program, dan memiliki instrumen pemberdayaan, dengan skor tingkat pengetahuan petani terhadap program (21-13)

2.5.6 Tingkat Keberhasilan Program Pemberdayaan Petani dalam penerapan

pertanian Organik.

Tingkat keberhasilan pemberdayaan petani dalam penerapan sistem pertanian organik merupakan ukuran dikatakan berhasilnya pemberdayaan petani dalam penerapan pertanian organik. Hal ini dilihat dari berlanjut atau tidaknya kegiatan bertani organik oleh petani. Terdapat tiga kategori ukuran tingkat keberhasilan pelaksanaan pemberdayaan pertanian organik tersebut, diantaranya:

1) Berhasil, jika petani melaksanakan (mengulangi) kegiatan bertani sesuai dengan seluruh atau beberapa prinsip bertani organik sejak dilaksanakannya program hingga tahun dimana dilakukan penelitian.

(28)

2) Kurang Berhasil, jika petani melaksanakan (mengulangi) kegiatan bertani sesuai dengan seluruh atau beberapa prinsip bertani organik hanya beberapa kali dan kembali lagi ke metode bertani konvensional. 3) Tidak Berhasil, jika petani tidak melaksanakan kegiatan bertani sesuai

dengan prinsip bertani organik sejak tahun dilaksanakannya program pertanian organik.

Gambar

Tabel 1. Perbandingan secara ekonomi, sosial, dan kesehatan tentang konsep  pertanian organik dan konvensional
Gambar 1 Jenjang partisipasi komunitas Arnstein (1969)

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan ini, berupa pelatihan pembuatan aksesoris busana dengan menggunakan teknik ikat simpul (makrame)

Lumbung pangan masyarakat erat kaitannya dengan dua aspek yaitu (1) potensi sektor pertanian; dan (2) peran.. kelembagaan pangan yang ada dalam masyarakat tersebut. Potensi sektor

Dalam lintasan sejarah, setidaknya pasca kemerdekaan Indonesia, penelitian terhadap kondisi sosial- ekonomi masyarakat pedesaan khususnya Jawa telah banyak dilakukan

Mappa dan Anisa, (1994:40) menjelaskan bahwa metode dan teknik pembelajaran memegang peranan penting dalam penyusunan strategi dan pelaksanaan kegiatan belajar

Status dan peran (pembagian kerja) antara laki-laki dan perempuan yang akan diukur dengan akses dan beban kerja dilihat dari tiga kegiatan yaitu kegiatan produktif,

a) Program Komposting Rumah Tangga adalah salah satu program pengelolaan sampah Kota Depok dengan menggunakan pendekatan skala rumah tangga, yang meliputi pemilahan

Wimmer dan Dominick (2003) menawarkan beberapa metode pengukuran agenda publik, yaitu: (1) Pada metode pertama, responden ditanya terbuka mengenai: berita yang

Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM), jika mereka memenuhi persyaratan yang