BAB II
LANDASAN TEORI
A. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi
Dimyati, Mudjiono (2009) menjelaskan bahwa siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Dimyati, Mudjiono melanjutkan lagi kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi. Dengan kata lain, motivasi diartikan sebagai kekuatan mental berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita yang mendorong siswa untuk belajar.
Aunurrahman (2011) mengatakan Motivasi merupakan tenaga pendorong bagi seseorang agar memiliki energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Motivasi sebagai suatu kekuatan yang mampu mengubah energi dalam diri seseorang dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu Hamalik (2001).
Usman (1995) mengatakan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan atau kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingakah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Menurut Mc. Donald dalam Hamalik (2004) mengatakan bahwa Motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction ataumotivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.Prayitno (1989), Motivasi merupakan jantungnya proses belajar begitu pentingnya motivasi dalam proses belajar. maka tugas guru yang pertama dan terpenting adalah membangun motivasi terhadap apa yang akan dipelajari siswa. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang muncul dari dalam diri individu untuk dapat melakukan suatu tindakan yang dilakukan karena adanya tujuan yang ingin dicapai oleh sipelajar.
2. Jenis-Jenis Motivasi
Secara garis besar ada 2 jenis motivasi, yaitu motivasi interinsik dan motivasi ekstrinsik.Usman (1995) motivasi terbagi menjadi 2 yaitu motivasi intrinsik, jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik, jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melalukan sesuatu atau belajar. Dimyati, Mudjiono (2009) motivasi interinsik, motivasi intrinsik dikarenakan orang tersebut senang melakukannya, dengan kata lain seseorang melakukan sesuatu karena ia senang untuk melakukannya, tanpa ada suruhan dari orang lain. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman
3. Pengertian Belajar
Thorndike (dalam Dahar, 2006) belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respons (yang juga berupa pikiran, perasaan atau gerakan).
Gagne (1984), belajar dapat didefenisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalama. Belajar menurut Sardiman A. M (2014) ”Upaya perubahan tingkah laku, penampilan, dengan serangkaian kegiatan. Misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, lain sebagainya”.
Hilgard dalam Dahar Learning is the prosess by which an activity originates or is charged through training procedurs (whether in the laboratory or in the
natural environments ) as disitinguished from changes by factor attributable to training. Artinya seseorang dapat dikatakan belajar kalau dapat melakukan dengan cara latihan-latihan sehingga yang bersangkutan menjadi berubahRiyanto,2002.
Degeng (1997) mengatakan bahwa belajar merupakan pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar. Winkel (1996) mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap-sikap. Perubahan itu bersifat secara relative konstan dan berbekas.Cronbach dalam (Dahar 2006) menyatakan bahwa belajar itu merupakan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Guthri (dalam Riyanto, 2002) mengemukakan teori kontiguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu.Selanjutnya dia berpendirian bahwa hubungan antara stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas pengalaman dimana didalamnya seseorang mengalami perubahan tingkah laku.
4. Motivasi Belajar
Dimyati, Mudjiono (2009) mengatakan bahwa Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi, atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar .selanjutnya mutu hasil belajar akan menjasi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.Agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat, pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan.Prayitno (1989), Siswa yang termotivasi dalam belajar menunjukkan minat, kegairahan, dan ketekunan yang tinggi dalam belajar, tanpa tergantung banyak kepada guru. Dimyati, Mudjiono (2009) menjelaskan bahwa siswa belajar karena didorong oleh kekuatan
mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Dimyati, Mudjiono melanjutkan lagi kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi.
Winkel (2007) mengatakan bahwa motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Winkel (2007) juga menyatakan bahwa motivasi belajar merupakan motor penggerak yang mengaktifkan siswa untuk melibatkan diri.
Winkel membagi motivasi menjadi dua, yaitu Motivasi Ekstrinsik dan Motivasi Interinsik. Winkel (2007) menyatakan Motivasi Eksterinsik : aktivitas dimulai dan diteruskan, berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri. Misalnya, siswa rajin untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan kepadanya kalau berhasil baik; siswa yang tekun dalam belajar untuk menghindari hukuman yang diancam. Winkel (2007) Motivasi Interinsik : kegiatan belajar dimulai diteruskan, berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu. Misalnya, siswa belajar karena ingin mengetahui seluk-beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik atau ingin menjadi ahli dibidang ilmu tertentu.
Setelah mengetahui pengertian motivasi dan belajar, tentunya seorang guru berusaha untuk membangkitkan dan menjaga supaya motivasi belajar siswa tetap ada di dalam diri siswa dan jangan sampai motivasi belajar tersebut menurun apalagi hilang.
5. Indikator/Ciri-Ciri Motivasi Belajar
Orang termotivasi dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada pada diri orang tersebut. Sardiman A. M (2014) berpendapat ciri-ciri motivasi siswa dapat dilihatdari beberapa hal, antara lain :
1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai)
2. Melaksanan tugas yang diberikan sesuai perintah 3. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). 4. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah 5. Lebih senang bekerja mandiri
6. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)
7. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu) 8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal
Berdasarkan ciri-ciri diatas maka dapat disimpulkan bahwa Siswayang memiliki ciri-ciri termotivasi adalah siswa yang ulet dalammenyelesaikan tugas, siswa tekun dalam belajar, selalumemperhatikan dan melaksanakan tugas sesuai perintah, adanya minat/kemauan untuk berhasil.
B. Penguatan (Reinforcement)
1. Pengertian Penguatan (reinforcement)
Menurut Usman, (2005) Penguatan (reinforcement), adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun non verbal yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.
Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement) (Davies, 1987).Slameto (2003) menyatakan bahwa dalam belajar guru harus memberi reinforcement dan umpan balik (feedback) yang optimal pada saat siswa menemukan jawabannya.
Selain itu Ngalim (2004) menyebutkan penguatan adalah perangsang untuk memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organism. Seorang anak yang belajar (telah melakukan perbuatan) lalu mendapat hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar (responnya menjadi lebih kuat).
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa penguatan adalah suatu respons yang diberikan guru terhadap suatu tingkah laku siswa
dengan tujuan agar dapat memungkinkan berulangnya kembali tindakan yang dilakukan siswa tersebut.
2. Tujuan Pemberian Penguatan/Reinforcement
Usman (2005) penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran 2. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
3. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif
3. Prinsip Penggunaan Penguatan/Reinforcement
Usman (2005) mengungkapkan tentang prinsip-prinsip didalam penggunaan penguatan, yaitu:
1. Kehangatan dan keantusiasan. Sikap dan gaya guru termasuk suara, mimik dan gerak badan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan didalam guru memberikan penguatan.
2. Kebermaknaan. Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan siswa sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan.
3. Menghindari respon negative. Respon negative berupa komentar, bercanda yang menghina, ejekan yang kasar akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan diri.
4. Cara Penggunaan Penguatan/Reinforcement
Selain itu Usman (2005) juga mengungkapkan tentang cara menggunakan penguatan, yaitu:
1. Penguatan kepada pribadi tertentu.
Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan sebab bila tidak, akan kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
2. Penguatan kepada kelompok.
Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelompok, guru membolehkan kelas itu bermain permainan yang menjadi kegemaran mereka.
3. Pemberian penguatan dengan segera.
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respons siswa yang diharapkan.Penguatan yang ditunda pemberiannya, cenderung kurang efektif.
4.Variasi dalam penggunaan.
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja karena hal ini akan menimbulkan kebosanan dan lama-kelamaan akan kurang efektif.
5. Jenis-Jenis Penguatan/Reinforcement
Usman (2005), menjelaskan jenis-jenis penguatan yaitu:
1. Penguatan verbal. Biasanya diungkapkan/diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya. Misal: bagus, bagus sekali, betul, pintar, ya, seratus buat kalian!
2. Penguatan non verbal.
a. Penguatan gerak isyarat, misal: anggukan atau gelengan kepala, senyuman, kerut kening, acungan jempol, wajah mendung, wajah cerah, sorot mata yang sejuk bersahabat/tajam memandang.
b. Penguatan pendekatan, guru mendekati siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran tingkah laku/ penampilan siswa. Misal: guru berdiri disamping siswa, berjalan menuju siswa, duduk dekat seseorang/kelompok siswa/berjalan di sisi siswa
c. Penguatan dengan sentuhan. Misal: menepuk-nepuk bahu/pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
d. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan. Misal: menunjuk siswa yang memiliki kemampuan pelajaran musik sebagai pemimpin paduan suara.
e. Penguatan berupa simbol/benda. Seperti kartu bergambar, bintang, plastik, lencana atau komentar tertulis pada buku siswa.
f. Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja benar, guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa, dalam keadaan seperti itu guru sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (partial). Umpamanya, bila seorang siswa hanya memberikan jawaban sebagian benar, sebaiknya guru menyatakan, “ya, jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu disempurnakan,”sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah, dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya.
6. Macam-macam Bentuk Penguatan/Reinforement
Seorang guru di dalam proses belajar mengajar agar menjadi efektif harus mengetahui tentang jenis-jenis penguatan yang nantinya akan diberikan kepada siswanya agar siswa memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar sehingga akan mempengaruhi hasil belajar yang nantinya diperoleh siswa. Adapuncara menumbuhkan motivasi adalah dengan pemberian penguatan (reinforcement). Menurut Sardiman A. M (2004) “Cara untuk menumbuhkan motivasi didalam kegiatan belajar di sekolah, yaitu:
a. Memberi angka sebagai simbol dari kegiatan belajarnya.
b. Hadiah, yakni pemberian kepada seseorang untuk suatu pekerjaan.
c. Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa
d. Ego involvement, penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa di subyek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
e. Memberi ulangan, tetapi jangan terlalu sering memberikan ulangan karena akan membosankan anak dan bersifat rutinitas
f. Mengetahui hasil, dengan mengetahui hasil, apa lagi mengetahui kemajuannya, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar.
g. Pujian merupakan bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Pujian mendorong siswa untuk lebih gairah dalam belajar.
h. Hukuman, sebagai reinforcement yang negative tetapi apabila diberikan secara tepat dan bijaksana dapat menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
i. Hasrat untuk belajar, hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih bsik.
j. Minat, motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Minat dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
2.Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau 3.Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik 4.Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
k. Tujuan Yang Diakui, tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Karena dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan maka akan timbul gairah untuk terus belajar
C. Penelitian Yang Relevan
1. Hapsari (2013) Universitas Negeri Surabaya, studi tentang pelaksanaan pemberian reward dalam meningkatkan motivasi belajar kelompok –A di Tk Islam Al-Azhar 35 Surabaya.
Dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka salah satu komponen pembelajaran adalah peserta didik sebagai sasaran pembelajaran sehingga setiap peserta didik yang ingin sukses dalam belajarnya mutlak memiliki motivasi untuk belajar. Jadi merupakan tugas guru beserta konselor merancang bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses untuk dapat mendorong dan mengarahkan para anak usia dini agar pada dirinya tumbuh motivasi. Rangsangan untuk meningkatkan motivasi belajar ini salah satunya adalah dengan memberikan reinforcement berupa pemberian reward. Semua hal yang telah dilakukan oleh anak usia dini harus dihargai agar tidak merasa perbuatnnya sia-sia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemberian reward dalam meningkatkan motivasi belajar anak kelompok-A di TK Islam Al-Azhar 35 Surabaya. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatam deskriptif. Alat pengumpul data yang dipakai adalah wawancara yang ditujukan pada guru kelas, konselor dan kepala sekolah, observasi yang tujukan pada anak kelompok-A serta guru kelas dan dokumentasi sebagai pelengkap data. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas, konselo, kepala sekolah dan anak kelompok-A. Uji kredibilitas data menggunakan teknik trianggulasi data yaitu trianggulasi sumber dan trianggulasi teknik. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa reward yang diberikan terdiri dari reward verbal dan non verbal yang bervariatif. Guru kelas bekerja secara team work, sehingga selama pelaksanaan pemberian
reward dalam meningkatkan motivasi belajar anak banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Hambatan yang dihadapi guru kelas yaitu hadiah yang diberikan menggunakan dana pribadi, dapat menimbulkan kecemburuan antar anak dan dapat menimbulkan sikap pamrih. Reward ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar anak kelompok-A di TK Islam Al-Azhar 35 Surabaya.
2. Fitriska (2012) Unversitas Tadulako, pengaruh pemberian penguatan terhadap motivasi belajar anak di kelompok BI Ra Depag I Palu Barat Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat motivasi belajar anak sebelum dan sesudah dilakukan pemberian penguatan dan apakah ada pengaruh pemberian penguatan terhadap motivasi belajar anak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi anak sebelum dan sesudah dilakukan pemberian penguatan dan untuk mengetahui pengaruh pemberian penguatan terhadap motivasi belajar anak di kelompok BI RA DEPAG I Palu Barat.Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.Adapun subyek penelitian ini adalah seluruh anak di kelompok BI RA DEPAG I Palu Barat.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi, data dianalisis dengan menggunakan rumus persentasi. Hasil penelitian sebelum pemberian penguatan persaingan kategori ST 1 anak (4 %), kategori T 1 anak (4%), sedangkan kategori S 12 anak (48%) dan kategori R 11 anak (44%), aspek ingin tahu kategori S 11 anak (44%) dan kategori R 11 anak (44%), aspek ingin tahu kategori ST 1 anak (4%), kategori T 2 anak (8%), sedangkan kategori S 11 anak (44%) dan kategori R 10 anak (40%). Dan sesudah pemberian penguatan sangat meningkat persaingan kategori ST 10 anak (40%), kategori T 9 anak (36%), sedangkan kategori S 4 anak (16%) dan kategori R 2 anak (8%), dari semangat kategori ST 10 anak.
D. Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran ini berguna sebagai wadah untuk menyatukan teori-teori yang kadang terlepas satu sama lain sehingga menjadi rangkaian yang utuh yang mengarah pada jawaban sementara. Tujuan dari semua kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan di Sekolah adalah meningkatnya kualitas belajar dari siswa. Agar proses belajar mencapai tujuan pendidikan maka diperlukan adanya motivasi belajar dari siswa yang sedang mengalami proses belajar tersebut. Seorang guru harus dapat selalu membangkitkan motivasi siswanya untuk belajar, salah satunya dengan memberikan penguatan kepada siswa.Penguatan tersebut dapat berupa pujian, hadiah, nilai, ucapan yang dapat membuat siswa merasa dihargai sehingga siswa terpacu untuk meningkatkan motivasi belajarnya.Setiap siswa memiliki keinginan yang berbeda terhadap bentuk-bentuk penguatan yang diharapkan dari gurunya atas pemikirannya, oleh karena itu sebelum memberikan penguatan, guru harus mendalami setiap karakter siswanya, dan harus tahu bagaimana karakter siswanya sehingga guru tersebut dapat dengan tepat memberikan penguatan sesuai kebutuhan siswanya. Dengan adanya pemberian penguatan yang tepat maka motivasi belajar akan meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa pada akhir proses belajar-mengajar. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi prestasi belajar siswa akan tercermin di akhir proses belajar mengajar.
Secara sistematis dapat dibuat skema kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 1. Skema Kerangka Pikir
Guru Kurang Memotiva si Siswa Siswa Motivasi Belajar Rendah Pembelajaran Nn Penguatan Motivasi Belajar Meningka t Siswa
E. Pengajuan Hipotesis
Sugiyono (2006) mengatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Berdasarkan rumusan masalah, peneliti dapat menyusun hipotesis sebagai berikut: Pemberian penguatan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa Kelompok Grape TK Kristen 03 Eben Haezer Salatiga.