1
PENGARUH LABA BERSIH, LEVERAGE DAN ARUS KAS TERHADAP NILAI PASAR EKUITAS
(Pada Perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia) OLEH
Yudi Arta1, Yuhelmi1, Rika Desiyanti1
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta
Email : [email protected], [email protected], [email protected] Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta
Abstract
The purposed of the research to improved determine the effect of net income , leverage and cash flow on the market value of equity . In the study have uses sampled are 19 companies that are in the group LQ45 in Indonesia Stock Exchange. The sample purposive sampling method . Data used in this study secondary data. In the current study the researchers used two categories of variables . The first independent variable, the variable consists of net income, leverage , operating cash flows , financial flows and investing cash flows . Stages of the data processing is done by using the method of quantitative analysis using multiple linear regression model and t - test statistics. Based on the results of hypothesis testing found that the net income and operating cash flow significant influence the market value of equity, the test results also show that leverage, cash flow financing and investing cash flows are not significantly influence the market value of equity at group companies in Indonesia Stock Exchange LQ45
Keyword: Net Profit, Leverage and Cash Flow PENDAHLUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada beberapa tahun terakhir Bursa Efek Indonesia menunjukan perkembangan yang signifikan, kondisi tersebut dapat kita amati dari perkembangan volume dan frekuensi perdagangan saham yang relatif terus meningkat, dan mendorong meningkatnya harga pasar saham baik secara individual hingga harga saham gabungan (Mulyadi, 2013). Peningkatan aktifitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia jelas sangat mengembirakan, karena menggambarkan kondisi yang
menunjukan para pemodal baik domestic atau pun mancanegara telah menilai Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menjanjikan. Selain itu peningkatan aktifitas perdagangan sekuritas juga tidak terlepas dengan pulihnya kepercayaan pelaku pasar pada performance perusahaan di tanah air.
Menurut Crishtanto (2012) bukti begitu berkembangnya pasar modal di Indonesia terlihat nyata dari nilai IHSG. Pergerakan tertinggi terjadi ditahun diakhir tahun 2009 yang mencapai angka psikologis sebesar 2.500 poin. Pencapaian
2 tersebut adalah yang tertinggi dalam sejarah Bursa Efek Indonesia. Peningkatan IHSG adalah akibat peningkatan harga saham perusahaan – perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Pencapaian tersebut tentu berkat kerja keras dari masing masing manajemen perusahaan didalam mengelola sumber dana didalam perusahaan.
Peningkatan indeks harga saham gabungan juga mengidentifikasikan terjadinya kenaikan harga saham masing masing perusahaan di pasar sekunder. Peningkatan harga yang signifikan tentu dialami oleh perusahaan yang tergabung didalam kelompok LQ 45. Kelompok perusahaan yang digolongkan kedalam LQ 45 menunjukan adanya proses untuk merengking keaktifan nilai saham yang diperdagangkan oleh 45 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Bukti nyata bahwa 45 perusahaan tersebut memiliki saham yang aktif dipasar sekunder terlihat dari perkembangan harga saham perusahaan secara individu.
Pada umumnya perusahaan yang berada dalam kelompok LQ 45 memiliki harga saham yang lebih tinggi dibandingkan beberapa perusahaan lainnya dipasar sekunder. Peningkatan harga saham terjadi karena perusahaan tersebut diyakini memiliki kemampuan yang baik
dalam melakukan pengelolaan terhadap kinerja keuangan.
Menurut Seomarso (2008) laba bersih adalah keuntungan yang akan menjadi cash flow didalam sebuah perusahaan, dinyatakan net karena bebas dari unsur biaya dan bunga (interest). Semakin tinggi laba bersih menunjukan keuntungan yang diperoleh perusahaan semakin besar. Peningkatan laba bersih disamping untuk menarik perhatian pelaku pasar tentu juga dapat dijadikan sebagai laba ditahan yang dapat menambah struktur dana didalam perusahaan untuk melaksanakan kegiatan operasional.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan kepada latar belakang masalah maka diajukan beberapa permasalahan yang akan dibahas didalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Apakah laba bersih berpengaruh terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?.
2. Apakah leverage berpengaruh terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?.
3. Apakah arus kas operasional berpengaruh terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?.
3 4. Apakah arus kas pendanaan
berpengaruh terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?.
5. Apakah arus kas investasi berpengaruh terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?.
LANDASAN TEORI 2.1 Nilai Pasar Ekuitas
Didalam berinvestasi salah satu faktor yang dapat diamati dan dijadikan alat untuk mengambil keputusan adalah nilai pasar ekuitas. Dalam istilah umum nilai pasar ekuitas disebut dengan harga saham. Menurut Tandelilin (2010) nilai pasar ekuitas menunjukan besarnya harga jual dari saham yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan di pasar sekunder. Nilai pasar ekuitas cenderung mengalami perubahan sesuai dengan perubahan mekanisme dan permintaan terhadap saham. Semakin banyak mekanisme permintaan terhadap saham, yang tidak di imbangi dengan jumlah saham yang ditawarkan mendorong meningkatnya nilai pasar ekuitas.
Menurut Madura (2005) nilai pasar ekuitas berhubungan dengan harga penawaran dari sejumlah sekuritas. Pada penelitian ini harga pasar ekuitas yang dimaksud adalah harga saham.
Peningkatan dan penurunan harga saham tentu dapat dengan cepat terjadi di dalam pasar modal. Peningkatan atau penurunan harga saham terjadi karena adanya perubahan mekanisme permintaan dan penawaran terhadap saham didalam sebuah pasar modal. Keterbatasan jumlah saham yang ditawarkan yang tidak sebanding dengan jumlah penawaran mendorong terjadinya nilai pasar ekuitas.
Menurut Bringham (2005) nilai pasar ekuitas didalam istilah umum dikenal dengan sebutan harga pasar. Pada umum nilai ekuitas yang baik akan menunjukan tinggi nilai pasar dibandingkan dengan nilai buku ekuitas. Semakin tinggi nilai buku ekuitas tentu terjadi karena adanya pergerakan mekanisme permintaan dan penawaran dari saham. Semakin banyak permintaan dan penawaran terhadap saham tentu mendorong meningkatnya nilai pasar saham.
2.2 Laba Bersih
Menurut Sartono (2010) laba merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari aktifitas operasional yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber keuangan yang terdapat didalam perusahaan. Laba menunjukan hasil yang diperoleh perusahaan didalam melaksanakan kegiatan operasional. Laba menunjukan efektifitas perusahaan
4 didalam mengelola sumber dana yang dimiliki.
2.3 Struktur Modal
Untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya sebuah perusahaan, tentu harus didukung oleh sumber permodalan yang kuat. Mengingat tingginya persaingan bisnis pada saat ini, ketersediaan struktur modal yang kuat tentu akan mendorong meningkatnya kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup. Menurut Brigham dan Houston (2008) struktur modal merupakan hirarki pengelompokan pendanaan yang dimiliki perusahaan.
Menurut Sartono (2010) struktur modal adalah pengelompokan sejumlah dana yang digunakan perusahaan untuk menyelenggarakan aktifitasnya. Struktur modal merupakan variabel penting untuk menjaga tetap beroperasinya sebuah perusahaan. Menurut Ross (2005) struktur modal (capital structure) merupakan sejumlah assets dan sumber daya yang dapat dikelola atau digunakan perusahaan untuk melaksanakan kegiatan operasional. Struktur modal merupakan sumber pendanaan yang akan dilakukan manajer untuk melakukan kegiatan operasional atau pun untuk kegiatan yang berada diluar kegiatan operasional yang utama.
2.4 Arus Kas
Menurut Damodaran (2005) mengungkapkan bahwa informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi pada pengguna laporan keuangan sebagai dasar menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan setara kas, serta menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Tujuan informasi arus kas adalah memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan selama suatu periode akuntansi.
2.4.1 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Menurut Daniati (2006) aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue activities) dan aktifitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan. Pada umumnya transaksi yang dilakukan berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi, dan merupakan indikator yang menemukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memilihara kemampuan operasi perusahaan membayar dividen dan
5 melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan. 2.4.2 Arus Kas Untuk Aktivitas
Pendanaan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (IAI, 2007) aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. Arus kas yang timbul dan aktivitas pendanaan perlu dilakukan pengungkapan terpisah karena berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan. Beberapa contoh arus yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:
a. Penerimaan kas dari emisi saham atau instrument modal lainnya. b. Pembayaran kas kepada pemegang
saham untuk menari atau menebus saham perusahaan.
c. Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel dan pinjaman lainnya.
d. Pelunasan pinjaman
e. Pembayaran kas oleh penyewa (lesee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan serta pembiayaan (finance lease). 2.4.3 Arus Kas Dari Aktivitas Investasi
Aktivitas investasi adalah aktivitas yang menyangkut perolehan atau
pelepasan aktiva jangka panjang (aktiva lancar) serta investasi lain yang tidak termasuk dalam setara kas, mencakup aktivitas meminjamkan uang dan mengunpulkan piutang tersebut serta memperoleh dan menjual invesstasi dan aktiva jangka panjang produktif.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (IAI, 2007) aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan asset jangka panjang dan asset lain yang tidak termasuk setara kas. Arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan pengungkapan terpisah karena arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan.
2.5 Pengembangan Hipotesis
2.5.1 Pengaruh Laba Bersih Terhadap Nilai Pasar Ekuitas
Penelitian Qodriyah (2010) menemukan bahwa laba bersih berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar equitas. Hasil yang dipeoleh tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi nilai laba bersih tentu akan meningkatkan nilai pasar ekuitas. Nasir dan Ulfah (2008) hasil penelitiannya menunjukan bahwa laba bersih berpengaruh positif terhadap nilai pasar ekuitas. Berdasarkan uraian ringkas
6 tersebut maka diajukan sebuah hipotesis yaitu:
H1 Laba bersih berpengaruh positif yang signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
2.5.2 Pengaruh Leverage Terhadap Nilai Pasar Ekuitas
Menurut Nasir dan Ulfah (2008) hasil yang diperoleh didalam penelitiannya menunjukan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan. Hutang yang tinggi menciptakan ketakutan bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi sehingga mendorong menurunnya nilai pasar ekuitas. Suwahyono (2003) berhasil menemukan bahwa leverage yang diukur dengan debt ratio berpengaruh negatif terhadap harga saham. Pasaribu (2008) menemukan bahwa leverage berpengaruh positif yang signifikan terhadap harga saham. Hasil tersebut menunjukan bahwa meningkatnya nilai hutang akan mendorong menguatnya harga saham. Berdasarkan uraian ringkas tersebut maka diajukan sebuah hipotesis yang akan dibuktikan yaitu:
H2 Leverage berpengaruh negatif yang signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
2.5.3 Pengaruh Arus Kas Operasional Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Susan (2009) hasil penelitiannya menunjukan bahwa arus kas operasional berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan harga saham, ketepatan didalam melakukan alokasi dana dari kas tentu akan meningkatkan nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan terlihat dari peningkatan laba operasional dan meningkatnya kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen kepada investor. Kondisi tersebut direspon positif oleh pelaku pasar dan mendorong kenaikan harga saham dipasar sekunder. Susilowati dan Fatimah (2010) hasil penelitiannya menunjukan bahwa arus kas untuk kegiatan operasional berpengaruh positif yang signifikan terhadap nilai pasar ekuitas. Berdasarkan kepada uraian teori dapat diajukan sebuah hipotesis yaitu: H3 Arus kas operasional berpengaruh
positif signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
2.5.4 Pengaruh Arus Kas Pendanaan Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Qodriyah (2010) hasil yang diperoleh didalam penelitiannya menunjukan bahwa arus kas pendanaan berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan, hasil tersebut menunjukan jika manager mampu untuk melakukan pengelolaan terhadap arus kas untuk
7 kebutuhan pendanaan secara optimal tentu akan meningkatkan penjualan dan mendorong terjadinya peningkatan mekanisme permintaan dan penawaran terhadap saham dan mendorong terjadinya kenaikan nilai pasar ekuitas. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian terdahulu tersebut maka dapat disimpulkan bahwa arus kas pendanaan berpengaruh positif terhadap nilai pasar ekuitas. Nasir (2009) mengungkapkan bahwa arus kas pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas.
H4 Arus kas Pendanaan berpengaruh positif signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
2.5.5 Pengaruh Arus Kas Investasi Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Qodriyah (2010) hasil yang diperoleh dalam penelitiannya menunjukan bahwa arus kas untuk kegiatan investasi berpengaruh positif yang signifikan terhadap nilai pasar ekuitas. Semakin baik pengelolaan terhadap arus kas untuk kepentingan investasi akan mendorong meningkatnya harga saham, keberhasilan perusahaan dalam melakukan pengelolaan dana untuk kepentingan investasi tentu akan mendorong meningkatnya mekanisme permintaan dan penawaran saham dan mendorong kenaikan harga saham
H5 Arus kas investasi berpengaruh positif signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia. Karena perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia terlalu banyak maka diperlukan pembatasan populasi untuk menentuan sampel.
Menurut Sekaran (2006) sampel didefinisikan sebagai bagian dari populasi yang dianggap mewakili. Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah perusahaan yang berada dalam kelompok LQ-45. Karena nama nama perusahaan LQ-45 selalu berganti setiap enam bulan tentu dibutuhkan sebuah kriteria untuk mendapatkan ukuran sampel yang tepat dan jitu.
Secara umum kriteria populasi yang akan dijadikan sampel adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan yang selalu melakukan publikasi laporan keuangan secara lengkap melalui web-site www.idx.co.id
2. Perusahaan yang selalu konsisten berada didalam kelompok LQ-45 sepanjang periode tahun 2008 – 2011. Untuk LQ-45 periode
8 perubahan terjadi di bulan Februari dan bulan Juli.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah sekunder, data sekunder merupakan data yang telah dipublikasikan dan diolah oleh sebuah lembaga dan telah dipublikasikan pada seluruh pihak yang berkepentingan melalui media resmi. Bentuk data sekunder yang digunakan adalah laporan keuangan yang meliputi Indonesian Capital Market of Directory dan Annual Report yang diperoleh dari pojok Bursa Efek Indonesia dan web-side resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id dan www.bei5000.com). Data yang digunakan adalah laporan keuangan dari tahun 2008 - 2011
3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Secara umum pada penelitian ini dapat dikelompokan variabel penelitian yang akan diuji adalah sebagai berikut: 3.3.1 Variabel Dependen
Nilai Pasar Ekuitas (y)
Menurut Tandelilin (2010) mendefinisikan nilai pasar ekuitas sebagai nilai jual dari sebuah saham yang terbentuk akibat mekanisme permintaan dan penawaran dari sebuah saham. Untuk mengukur nilai pasar ekuitas maka
digunakan harga pasar ekuitas penutupan akhir tahun dari periode tahun 2008 – 2011 yang lalu.
3.3.2 Variabel Independen a. Laba Bersih (X1)
Menurut Ross (2005) laba bersih adalah sejumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan melalui pemanfaatan asset keuangan yang dimiliki perusahaan. Untuk mengukur laba bersih digunakan total laba operasional yang diperoleh perusahaan,untuk mengukur laba bersih maka digunakan rumus sebagai berikut: Laba Bersih = Total Penjualan – Total Biaya
Operasional – Total Bunga dan Pajak
b. Leverage (X2)
Menurut Sartono (2010) leverage didefinisikan sebuah rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan didalam melakukan pengelolaan sumber dana. Untuk mengukur leverage maka digunakan debt to equity ratio. Untuk mengukur leverage maka digunakan rumus sebagai berikut: Sendiri Modal Hutang Total Ratio Equity to Debt
9 c. Arus Kas
Arus kas merupakan salah satu komponen yang sangat penting demi terselenggaranya aktifitas operasional yang dijalankan didalam sebuah perusahaan, semakin baik pengelolaan arus kas akan meningkatkan stabilitas operasional dan kinerja perusahaan secara umum. Menurut Ross (2005) arus kas dapat dibagi kepada tiga kelompok yang membentuk sebuah sistem. Arus kas yang dimiliki sebuah perusahaan dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu arus kas untuk kegiatan operasional, arus kas untuk kegiatan pendanaan dan arus kas untuk kegiatan investasi. Secara arus kas yang dimiliki perusahaan terdiri dari:
1. Arus Kas Operasional (X3)
Menurut Ross (2005) arus kas untuk kegiatan operasional adalah sebuah iktisar atau laporan yang menyediakan informasi yang berhubungan dengan aliran pendanaan yang akan digunakan untuk kegiatan operasional. Untuk mengukur arus kas operasional maka digunakan total arus kas bersih dari total kegiatan operasi
yang terdapat didalam laporan arus kas operasional.
2. Arus Kas Pendanaan (X4)
Menurut Ross (2005) arus kas pendanaan adalah sebuah laporan atau iktisar yang menjelaskan aliran dana yang dialokasikan manajemen untuk berbagai kegiatan pendanaan. Untuk mengukur arus kas pendanaan maka digunakan nilai arus kas bersih dari kegiatan pendanaan.
3. Arus Kas Investasi (X5)
Menurut Mowen dan Minor (2008) arus kas untuk kegiatan investasi adalah sebuah iktisar atau laporan yang menjelaskan total aliran dana untuk melakukan kegiatan investasi. Untuk mengukur arus kas investasi maka digunakan total nilai arus kas bersih dari total aktivitas investasi.
3.4 Metode Analisis
Untuk menjawab atau membuktikan kebenaran hipotesis maka dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif. Pada tahapan tersebut pengujian data dilakukan dengan bantuan alat uji statistik
10
PEMBAHASAN
4.1 Pengujian Normalitas
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan terlihat bahwa masing masing variabel penelitian yang terdiri dari pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, struktur modal dan harga saham telah memiliki nilai probability diatas 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian yang digunakan telah berdistribusi normal sehingga tahapan pengolahan data lebih lanjut dapat segera dilaksanakan.
4.3 Pengujian Asumsi Klasik
Sebelum dilaksanakannya tahapan pengolahan data lebih lanjut terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik. Tujuan rangkaian pengujian tersebut adalah mengurangi term error dari data atau meningkatkan akurasi data (Hair et al 2010). Secara umum tahapan pengujian asumsi klasik yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
4.3.1 Analisis Gejala Multikolinearitas Berdasarkan hasil pengujian multikolinearitas terlihat bahwa masing masing variabel independen yang terdiri dari profitabilitas, struktur modal dan harga saham telah memiliki nilai koefisien korelasi dibawah 0,80 sehingga dapat disimpulkan bahwa masing masing variabel independen yang akan dibentuk
kedalam sebuah model atau persamaan regresi berganda tidak teridentifikasi gejala multikolinearitas, oleh sebab itu tahapan pengolahan data dapat segera dilaksanakan.
4.3.2 Analisis Gejala Autokorelasi Sesuai hasil pengujian terlihat nilai DW sebesar 1.700288hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai durbin Watson yang dihasilkan berada diantara dua kuadran yaitu -2 ≤ 1.700288 ≤ 2 oleh sebab itu dapat disimpulkan didalam model regresi yang akan dibentuk tidak terdeteksi gejala autokorelasi baik yang bernilai positif atau pun negatif, oleh sebab itu tahapan pengolahan data lebih lanjut dapat segera dilaksanakan.
4.3.3 Analisis Gejala Heteroskedastisitas
Berdasarkan hasil pengujian koefisien determinasi diperoleh nilai probability R-square yang dihasilkan dalam tahapan pengolahan data adalah sebesar 0.720878. Nilai observasi R-square yang dihasilkan adalah sebesar 0.720878 > alpha 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa didalam masing masing variabel penelitian yang akan di ikutsertakan kedalam tahapan pengolahan data tidak terjadi gejala heteroskedastisitas sehingga tahapan pengolahan data lebih lanjut dapat segera dilakukan.
11 4.4 Pengujian Statistik
Setelah seluruh variabel berdistribusi secara normal dan terbebas dari masing masing gejala asumsi klasik maka proses pengujian hipotesis dapat segera dilaksanakan. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan diperoleh ringkasan hasil terlihat pada tabel 4.7 dibawah ini:
Tabel 4.7
Hasil Pengujian Hipotesis Keterangan Koefisien
Regresi Prob (Constanta) 4.557
Laba Bersih 0.323 0.0038
Leverage -0.325 0.3222
Arus Kas Operasi 0.195 0.0774 Arus Kas Pendanaan -0.166 0.0371 Arus Kas Investasi -0.101 0.3248 Sumber Hasil Pengolahan Eviews Ket *variabel arus kas operasi level of confident 90%
Didalam persamaan regresi terlihat bahwa masing masing variabel penelitian yang digunakan memiliki koefisien regresi dengan arah yang berbeda beda. Secara umum analisis dan pembahasan hasil pengujian statistik dapat dijelaskan pada sub bab dibawah ini:
4.4.1 Pengaruh Laba Bersih Terhadap Nilai Pasar Ekuitas
Berdasarkan hasil pengujian ,laba bersih sebagai independen diperoleh nilai koefisien regresi bertanda positif sebesar 0,323 dengan nilai probability sebesar 0,0038, dengan level of confident sebesar 95%. Hasil yang diperoleh menunjukan
bahwa nilai probability 0,0036 < alpha 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa laba bersih berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa semakin tinggi laba bersih yang dihasilkan perusahaan mendorong peningkatan harga saham perusahaan dipasar sekunder. Hasil yang diperoleh didalam pengujian statistik sejalan dengan hipotesis yang diajukan. Keadaan tersebut terjadi karena laba mampu menciptakan sentiment positif pelaku pasar untuk melakukan mengucurkan dana yang mereka miliki untuk kegiatan investasi, oleh sebab itu pada saat laba perusahaan terus meningkat dengan stabil mekanisme permintaan terhadap saham mengalami peningkatan, karena permintaan terhadap saham melebihi jumlah saham yang ditawarkan mendorong meningkatnya harga saham.
4.4.2 Pengaruh Leverage Terhadap Nilai Pasar Ekuitas
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap nilai pasar ekuitas, diperoleh nilai koefisien regresi bertanda negatif sebesar 0,325 dan dibuktikan secara nyata dengan nilai probability sebesar 0,322 pada tingkat
12 kesalahan sebesar 0,05. Hasil tersebut menunjukan bahwa nilai probability 0,322 > alpha 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa leverage yang diukur dengan debt to equity ratio bukanlah variabel yang mempengaruhi harga saham (nilai pasar ekuitas) perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Hasil yang diperoleh tidak konsisten dengan hipotesis yang diajukan, situasi tersebut terjadi karena pada umumnya perusahaan LQ 45 dinilai investor memiliki posisi hutang yang tidak membahayakan kelangsungan hidup perusahaan, dalam hal ini perusahaan dinilai mampu melakukan pengelolaan terhadap hutang sehingga mendorong mereka tetap bertahan dalam 45 kelompok perusahaan teraktif di Bursa Efek Indonesia. Posisi hutang perusahaan tertinggi sepanjang tahun 2008 – 2011 adalah sebesar 3,08x sedangkan posisi hutang terendah mencapai 0,08x. Situasi kondisi tersebut terus dapat dipertahankan, sehingga mendorong investor untuk mencoba mengamati variabel lain yang tentu diprediksi dapat mempengaruhi harga saham seperti keberadaan rasio activity
ratio, kondisi manajemen dan berbagai variabel lainnya.
4.4.3 Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Sesuai dengan hasil pengujian hipotesis ketiga yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus kas operasi terhadap nilai pasar ekuitas diperoleh nilai koefisien regresi bertanda positif sebesar 0.195 dengan nilai probability sebesar 0.0774. pada tingkat kesalahan 0,10. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa nilai probability sebesar 0,0774 < alpha 0,10 maka keputusannya adalah Ho ditolak dan H3 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas yang dimiliki perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
Temuan yang diperoleh tersebut sejalan dengan hipotesis yang diajukan. Hasil didalam tahapan pengujian hipotesis ketiga terjadi karena perusahaan LQ 45 yang dijadikan sampel memiliki nilai arus kas operasi yang tinggi, hal tersebut disebabkan karena untuk mengimbangi aktifitas operasional yang tinggi, dan untuk melakukan berbagai kegiatan ekspansi. Cerahnya prospek perusahaan untuk terus eksis dimasa mendatang menciptakan sentiment positif dalam diri investor, sehingga mampu meningkatkan
13 mekanisme dan permintaan saham dipasar sekunder, karena begitu besarnya sentiment pasar membuat jumlah saham yang ditawarkan tidak mencukupi permintaan pasar sehingga mendorong terjadinya peningkatan nilai pasar ekuitas secara signifikan.
4.4.4 Pengaruh Arus Kas Pendanaan Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat yang bertujuan untuk membuktikan secara empiris pengaruh arus kas pendanaan terhadap nilai pasar ekuitas diperoleh nilai koefisien regresi bertanda negatif sebesar 0,166 yang dibuktikan secara nyata dengan nilai probability sebesar 0,00371 pada level of confident 95%. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa nilai probability sebesar 0,00371 < alpha 0,05 maka keputusannya adalah Ho diterima dan H4 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa arus kas pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Karena arah pengaruh dari arus kas pendanaan terhadap nilai pasar ekuitas negatif, mengakibat hasil yang diterima tidak sejalan dengan hipotesis.
Hasil yang diperoleh didalam tahapan pengujian hipotesis keempat menunjukan bahwa arus kas untuk aktifitas
pendanaan berpengaruh negatif yang signifikan terhadap nilai pasar ekuitas perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Temuan tersebut menunjukan bahwa peningkatan arus kas untuk aktifitas pendanaan akan mendorong menurunnya nilai pasar ekuitas. Hasil tersebut terjadi karena kecenderungan perusahaan untuk melakukan aktifitas pendanaan, seperti ekspansi usaha, pengembangan produk tentu memakan biaya yang besar, ketika perusahaan menaikan nilai arus kas untuk aktifitas pendanaan, memunculkan ketakutan dalam diri investor bahwa besarnya dividen yang akan mereka terima menjadi lebih kecil, sentiment negatif tersebut membuat mekanisme permintaan dan penawaran terhadap saham dipasar sekunder menjadi menurun, sehingga mengakibatkan harga saham perusahaan mengalami penurunan yang signifikan. 4.4.5 Pengaruh Arus Kas Investasi
Terhadap Nilai Pasar Ekuitas Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kelima yang bertujuan untuk membuktikan secara empisit pengaruh arus kas investasi terhadap nilai pasar ekuitas diperoleh nilai koefisien regresi bertanda negatif sebesar 0,101 dengan nilai probability sebesar 0.3248 pada level of confident 95%. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa nilai
14 probability sebesar 0,3248 > alpha 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa arus kas investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
Hasil yang diperoleh didalam tahapan pengujian hipotesis kelima menunjukan bahwa arus kas untuk kegiatan investasi bukanlah variabel yang mempengaruhi harga saham, keadaan tersebut terjadi karena aktifitas investasi diluar kegiatan operasional sangat jarang dilakukan, karena mengandung risiko yang tinggi bagi eksistensi perusahaan, dan hanya dilakukan dalam intensitas yang relatif kecil, situasi tersebut tentu kontribusi dari arus kas untuk kegiatan investasi tidak begitu terlihat dalam mempengaruhi mekanisme permintaan dan penawaran terhadap saham yang mendorong peningkatan atau penurunan harga saham, dalam hal ini nilai pasar ekuitas lebih dipengaruhi oleh sejumlah variabel lain yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan.
PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil pengujian hipotesis maka diajukan beberapa kesimpulan yaitu:
1. Laba bersih berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
2. Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
3. Arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
4. Arus kas untuk kegiatan pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. 5. Arus kas untuk kegiatan investasi
tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar ekuitas pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
5.3 Saran
Saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1. Peneliti dimasa mendatang disarankan untuk memperbanyak jumlah sampel, selain itu peneliti dimasa mendatang diharapkan menambahkan minimal satu variabel baru seperti keberadaan risiko investasi, saran tersebut tentu sangat penting untuk meningkatkan akurasi
15 hasil penelitian yang diperoleh dimasa mendatang.
2. Perusahaan disarankan untuk terus mencoba menjaga stabilitas mereka dalam menghasilkan laba bersih, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah menciptakan komposisi hutang yang optimal atau mengurangi ketergantungan pada hutang dan lebih memilih memanfaatkan sumber dana dan potensi yang berasal dari dalam perusahaan, saran tersebut penting dicoba untuk meningkatkan nilai pasar ekuitas dan menjaga eksistensi perusahaan dalam jangka panjang.
3. Perusahaan disarankan untuk menjaga stabilitas arus kas yang mereka miliki dengan cara membuat perencanaan, pengalokasian atau pemanfaatan arus kas secara optimal, saran tersebut penting untuk mempertahankan eksistensi perusahaan dalam jangka panjang dan menarik perhatian dari pelaku pasar untuk bersedia berinvestasi didalam perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham dan Houston. 2005. Fundamentals of Financial Management Tent
Edition.Prenticehall. Pearson.
Crishtanto Octavian. 2012. Pengaruh Informasi Arus Kas Terhadap Harga Saham.
Jurnal Manajemen Keuangan
Voume 3 Nomor 5. Universitas
Kristen Petra, Surabaya.
Daniati Nina. 2006. Faktor Arus Kas Sebagai Variabel yang Mempengaruhi Financial Performance Perusahaan. Jurnal Akuntansi Keuangan Nomor 4 Volume 5. Universitas Andalas, Padang.
Damodaran. 2005. Metogologi Penelitian (Teori dan Aplikasi). Gramedia Pustaka, Jakarta.
Fatimah. 2010. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Volume 1 Nomor 2. Universitas Dipenegoro, Semarang.
Ghozali, Imam. 2005. Dasar Dasar Statistik Dalam Aplikasi SPSS 14.0. BPFE, Yogyakarta.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2007. Badan Percetakan Nasional Erlangga, Jakarta.
Madura Jason. 2005. Investment Strategic. McGraw-Hill, Irwin
Mowen dan Minor C. 2008. Cost of Management. Prienticehall Indonesia, Jakarta.
Mulyadi M Nur. 2013. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Strukturt Modal Pada Perusahaan LQ-45. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Volume 1 Nomor 2. Jurnal Manajemen Keuangan Universitas Brawijaya, Malang. Nachrowi bi Nachrowi. 2007. Analisis
Multivariate dengan Menggunakan SPSS dan Eviews. Badan Penerbit Universitas Brawijaya, Malang.
Nasir, M dan Ulfah. 2005. Relevansi Nilai Informasi Laba dan Aliran Kas Terhadap Harga Saham Dalam Kaitannya dengan Siklus Hidup Perusahaan. Jurnal Akuntansi
16 Keuangan Volume 1 Nomor 4. Universitas Dipenegoro, Semarang.
Pasaribu Bismark. 2008. Pasar Efisien dan Efektif. Jurnal Manajemen Keuangan Volume 4 Nomor 1. Universitas Gajahmada, Yogyakarta,
Qodriyah Riza Dwi Lailatul. 2012. Laba atau Arus Kas Sebagai Parameter Kinerja Perusahaan Berdasarkan Siklus Hidup Perusahaan (Studi Relevansi Nilai). Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Vol 1 No 1 Tahun 2012.
Ross. Westerfield. Jaffe. 2005. Corporate Finance. McGrawhill, Irwin.
Sartono, Agus. 2010. Dasar asar Perbelanjaan Perusahaan Cetakan IV. Badan Penerbit Universitas Gajahmada, Yogyakaarta.
Sekaran, Uma. 2005. Metologi Penelitian dengan Pendekatan Riset Bisnis. Erlangga, Jakarta.
Susan Rini. 2009. Pengaruh Kinerja Keuangan yang Fundamental Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Manajemen Keuangan Volume 5 Nomor 6. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Suwahyono Rajjo dan Oetomo Widi Hening. 2003. Analisis Pengaruh Beberapa Variabel Fundamental Keuangan Perusahaan Terhadap Harga Saham Perusahaan Telekomuniksasi yang Tercatat di BEI. Ekuitas Vol10 No 3 September 2006 Hal 307 – 344 Suemarso. 2008. Dasar Dasar Akuntansi Jilid
1. BPFE, yogyakarta.
Tandelilin Eduardus. 2010. Dasar Dasar Manajemen Investasi, BPFE, Yogyakarta.
Wice Trisha. 2009. Pengaruh Arus Kas Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Skripsi Jurusan Akuntansi
Universitas Bung Hatta (Tidak di Publikasikan).