The Effect of Peer Support Group on Depression and Quality
of Life among People Living with HIV/AIDS
in Kediri East Java
Astika Rasyiid1,2), Ruben Dharmawan2), Supriyadi Hari Respati2) 1) Diploma III Midwifery of Tulungagung University, East Java
2)Public Health Science Study Program, Postgraduate Program of Sebelas Maret University
ABSTRACT
Background: People living with Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome or HIV/AIDs encounter such problems as society stigma and depression that can affect their quality of life in the term of physical, mental, and social health. Social support should be improved from individual, family, Peer Support Group (PSG), and government. PSG serves to help PLWHA feel not lonely, to give opportunity of seeing others, of sharing information about newest treatment and local support service, to reduce isolation, to improve social support, and to reduce stigma in order to achieve better quality of life and to reduce depression. The objective of research was to analyze the effect of KDS on depression and quality of life among PLWHA in Friendship Plus Peer Support Group in Kediri City.
Subjects and Method: This study was an analytical observational study with cross sectional design. This was conducted at Friendship Plus Peer Support Group in Kediri, Indonesia in May to July 2016. The sample consisted of 60 subjects taken using simple random sampling. Technique of collecting data used was questionnaire, while analysis was carried out using Pearson’s Product Moment correlational and multiple linear regression tests.
Results: The result of research showed that there was a statistically significant effect of Peer Support Group on the reduced depression in PLWHA (b= -0.60; 95% CI= -0.82 to 0.38; p<0.001). Depression was affected by family income of 88.8% (b= -8.68; 95% CI= 0.01; p=0.021) and education (b= -7.86; 95% CI= -14.05 to 1.67; p=0.014). There was a statistically significant effect of Peer Support Group on the improved quality of life among PLWHA (b=0.32; 95% CI= 0.09 to 0.53; p=0.005). Quality of life was affected by family income of 92.3% (b= 1.36; 95% CI= 0.01; p<0.001) and education (b=20.84; 95% CI= 14.75 to 26.93; p<0.001).
Conclusion: This research concluded that there was an effect of peer support group on the reduced depression among PLWHA and there was an effect of peer support group the improved quality of life among PLWHA.
Keywords: peer support group, depression, quality of life, PLWHA Correspondence:
Astika Rasyiid. Diploma III Midwifery of Tulungagung University, East Java.
LATAR BELAKANG
Virus HIV merupakan penyebab penyakit yang sangat mematikan sepanjang sejarah peradaban manusia, penyakit ini dikenal dengan nama AIDS yang dapat menular dan mematikan World Health Organiza-tion (WHO) menyatakan HIV/ AIDS dan
Tubercolosis (TB) sebagai wabah paling mematikan dan merupakan penyakit infek-si yang menjadi persoalan kesehatan mas-yarakat global dan tersebar hampir di se-luruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Masalah tersebut mencakup angka kejadian
HIV/AIDS dan TB yang cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan angka kematian yang tinggi.
Selain peningkatan angka kematian, epidemi HIV/ AIDS saat ini telah melanda seluruh negara dan pada semua lapisan penduduk (Kusuma, 2011). Ketika individu dinyatakan terinfeksi HIV, sebagian besar menunjukkan perubahan karakter psiko-sosial yaitu: hidup dalam stres, depresi, merasa kurangnya dukungan sosial, dan perubahan perilaku (Nasronudin, 2007).
Data cases of HIV/AIDS in Indonesia reported thru' September 2014 sumber dari Directorate General CDC and EH Ministry of Health, Republic of Indonesia dilapor-kan sejak pertama kali ditemudilapor-kan di Indo-nesia yaitu dari tahun 1987 sampai dengan September 2014, HIV-AIDS tersebar di 381 (76%) dari 498 kabupaten/ kota di seluruh provinsi di Indonesia. Sampai dengan ta-hun 2005 jumlah kasus HIV yang dilapor-kan sebanyak 859 dimana 112 diantaranya berakhir dengan kematian, dan tahun 2014 (22.869).
Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2014 sebanyak 150,296 dan Jawa Timur mendu-duki urutan nomor 2 setelah DKI Jakarta (19.249).Sedangkanjumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan September 2014 sebanyak 55.799 orang. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Papua (10.184), Jawa Timur (8.976), DKI Jakarta (7.477). Angkakematian (CFR) menurun dari 3.79% pada tahun 2012 menjadi 0.46% pada bu-lan September tahun 2014 (Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, 2014). Sedangkan menu-rut Dinkes Kabupaten Kediri pada tahun 2014 di Kediri tercatat sebanyak 615 pen-derita HIV/AIDS, 183 orang meninggal.
Menurut Kusuma (2011) bahwa kua-litas hidup ODHA dipengaruhi oleh karak-teristik demografis. Berdasarkan surveilans kualitas hidup terkait kesehatan di Amerika
Serikat dari tahun 1993-2002, didapatkan beberapa faktor yang menentukan kualitas hidup adalah jenis kelamin, umur, etnis atau ras, status pernikahan, pendidikan, penghasilan, status pekerjaan, asuransi kesehatan, serta faktor kesehatan. Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien HIV yaitu infeksi, terapi antiretroviral, dukungan sosial, jumlah CD4, kepatuhan pengobatan, pekerjaan, gender, gejala, depresi dan dukungan keluarga (Disa et al., 2014).
Menurut WHO kualitas hidup ODHA dipengaruhi oleh fisik, level ketergantungan ARV,lingkungan, dukungan sebaya dan spi-ritual. Dukungan sosial dapat membantu mengatasi masalah ODHA baik secara fisik atau psikologi. Oleh karena itu, pening-katan dukungan sosial perlu dilakukan baik dari individu pasien, keluarga, yayasan pe-merhati ODHA, kelompok dukungan seba-ya (KDS), dan juga pemerintah (Rozi, 2016).
KDS adalah suatu kelompok di mana dua atau lebih orang yang terinfeksi atau terpengaruh langsung oleh HIV berkumpul dan saling mendukung. Anggota KDS adalah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang yang hidup dengan ODHA (OHIDHA), atau gabungan dari ODHA dan OHIDHA. Awalnya suatu kelompok dapat berupa gabungan ODHA dengan latar belakang yang berbeda dan adanya kebu-tuhan untuk membuat kelompok yang lebih spesifik, seperti kelompok khusus ODHA saja, atau dengan latar belakang tertentu (Waria, IDU, Perempuan, dan lainnya), atau gabungan ODHA dan OHIDHA (Mar-dhiati, dan Handayani, 2011).
Pola dukungan KDS dimulai dengan pertemuan tertutup bagi ODHA untuk sa-ling berbagi pengalaman, kekuatan dan harapan. Polapun berkembang dengan ke-giatan belajar bersama hingga keterlibatan
ODHA lebih luas dalam penyebaran in-formasi dan advokasi yang terkait HIV, hal ini juga membantu dalam Strategi Rencana Aksi Nasional (SRAN) 2010-2014 yang tu-juannya meningkatan mutu hidup ODHA (Rozi, 2016).
Peran dukungan sebaya antara lain: membantu ODHA dan OHIDHA agar tidak merasa sendiri dalam menghadapi masa-lah, menyediakan kesempatan untuk berte-mu orang lain dan berteman, menolong menjadi lebih percaya diri dan merasa kuat, berfungsi sebagai wadah untuk melakukan kegiatan, mempertemukan orang dari ber-bagai latar belakang yang berbeda, serta menambah saling pengertian dan toleransi, saling membantu berbagai sumber daya, ide, dan informasi misalnya tentang peng-obatan terbaru atau layanan dukungan setempat, meningkatkan kesadaran masya-rakat tentang keadaan yang dihadapi ang-gota kelompok dengan memberi wajah yang manusiawi pada ODHA, memberi suara yang lebih kuat untuk melakukan perubahan (advokasi) (Mardhiati dan Han-dayani, 2011).
Dukungan sebaya juga memiliki pe-ran dalam mengupe-rangi dampak sosial eko-nomi HIV dan AIDS pada ODHA dan ke-luarganya.Programmitigasi dampak diberi-kan kepada mereka yang kurang beruntung yang membutuhkan dukungan. Penyediaan kesempatan pendidikan, pelayanan kese-hatan, gizi, dan akses pada bantuan eko-nomi merupakan komponen utama prog-ram ini untuk orang terinfeksi HIV yang kurang beruntung dan yang terdampak AIDS, anak yatim, orang tua tunggal, dan janda, untuk mendapatkan akses dukungan peningkatan pendapatan, pelatihan kete-rampilan, dan program pendidikan pening-katan kualitas hidup. Hal ini dilakukan melalui kerja sama antara Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Nasional, dan dukungan sebaya. Kriteria penentuan
kebutuhan mitigasi perlu dikembangkan untuk mengidentifikasi program yang tepat bagi mereka yang memerlukan (lingkup, dana, lama dan sasaran) (Mardhiati dan Handayani, 2011).
Di Kota Kediri terdapat 2 KDS yang aktif dalam kegiatan yang direncanakan Dinas Kesehatan, KPA, yayasan pemerhati ODHA ataupun Lembaga Swadaya Masya-rakat (LSM) salah satunya adalah KDS Friendship Plus Kota Kediri. Informasi yang didapat dari koordinator KDS tersebut mengatakan bahwa kualitas hidup ODHA yang ada sekarang tidak bisa dikatakan baik atau buruk, hal ini karena individu yang berbeda-beda dari segi fisik atau psikologis, dan latar belakang pekerjaan atau aktivitas, serta perbedaan waktu kapan masalah akan terjadi. Hal ini serupa deng-an penelitideng-an Oktavia (2012 dalam Rozi, 2016) yang menyatakan bahwa ada per-bedaan kualitas hidup ODHA diantaranya padadomainfisik,kemandirian,sosial, ling-kungan, spiritual, serta kepatuhan pada ARV. Dukungan sosial yang diterima KDS juga tidak begitu saja tersedia. Hal ini karena beberapa keterbatasan seperti alat komunikasi, tempat tinggal, alat transpor-tasi dan sebagainya dari anggota ODHA. Karena itu pertemuan KDS ini minimal 1 (satu) bulan sekali untuk membahas ma-salah yang ada. Dari sinilah kepercayaan, solidaritas mereka tumbuh untuk mendu-kung sesama.
Sesuai program kerja Pemerintah pu-sat, Dinas Kesehatan Kota Kediri mengang-gap adanya KDS ini sangat membantu dalam mengurangi angka penularan HIV/ AIDS selain dengan pengobatan ARV. Oleh karena itu, dukungan sosial harus diberikan dalam implementasi penatalaksanaan pe-ngobatan pada pasien ODHA dengan hara-pan dapat membuat peningkatan kualitas hidup ODHA. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
peneli-tian guna mengetahui tentang “Pengaruh Kelompok Dukungan Sebaya Terhadap De-presi dan Quality of Life pada ODHA di Kota Kediri Tahun 2016”.
SUBJEK DAN METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah pe-nelitian analitik observasional dengan pen-dekatan crosssectional. Penelitian dilaku-kan di KDS Friendship Plus Kota Kediri selama 2 bulan pada bulan Mei-Juli 2016 sebanyak 60 orang subjek penelitian.
Pengambilan sampel dilakukan deng-an teknik simple rdeng-andom sampling. Kri-teria inklusi: (1) Orang dengan HIV/ AIDS baik kelompok yang berisiko terjadi HIV/ AIDS seperti WPS, LSL, LBT, Waria mau-pun keluarga/ pasangan kelompok yang berisikoterjadiHIV/AIDS(2)Bersedia men-jadi responden dengan menandatangani informed consent (3) Sudah masuk kelom-pok KDS Friendship Plus Kota Kediri (4) Mengikuti kegiatan rutin yang akan di-selenggarakan oleh panitia KDS Friendship Plus Kota Kediri pada bulan Juni 2016. Kriteria eksklusi meliputi: Orang dengan HIV/ AIDS yang belum masuk kelompok KDS Friendship Plus Kota Kediri. Peng-olahandata menggunakan uji korelasi pear-son product moment dan analisis multi-variat dengan analisis regresi linier bergan-da.
SUBJEK DAN METODE 1. Analisis univariat
Karakteristik subjek penelitian di KDS Friendship Plus Kota Kediri, didapatkan hasil dari total 60 orang subjek penelitian bahwa sebagian besar berusia 20-35 tahun sebanyak 31 orang (51.7%), sebagian besar berjenis kelamin wanita sebanyak 33 orang (55%).
Hampir seluruh dengan status per-kawinan belum menikah atau janda atau
duda sebanyak 47 orang (78.3%), sebagian besar berpendidikan tinggi (SMA dan per-guruan tinggi) sebanyak 41 orang (68.3%), hampir setengah pegawai swasta sebanyak 17 orang (28.3%), sebagian besar respon-den memiliki pendapatan keluarga rendah (<UMR) sebanyak 36 orang (60%), hampir seluruh memiliki lama sejak dinyatakan terinfeksi HIV oleh dokter > 12 bulan yaitu sebanyak 48 orang (80%), hampir seluruh dengan kriteria faktor risiko tinggi (WPS, LSL, LBT, Waria) sebanyak 50 orang (83.3%).
Deskripsi KDS, depresi dan quality of life didapatkan hasil dari total 60 orang subjek penelitian bahwa sebagian besar responden mendapatkan KDS kuat yaitu sebanyak 37 orang (61.7%), hampir seluruh responden mengalami depresi berat yaitu sebanyak 45 orang (75%), sebagian besar responden dengan quality of life tinggi yaitu sebanyak 38 orang (63.3%).
2. Analisis Bivariat
Tabel 1 Analisis bivariat korelasi Pearson Pengaruh KDS terhadap Depresi Variabel bebas r p KDS kuat -0.85 <0.001 Pendapatan keluarga (Rp/bulan) -0.60 <0.001 Pendidikan > SMA -0.68 <0.001 Lama sejak dinyatakan terinfeksi HIV oleh dokter (bulan) -0.06 0.657 Umur (tahun) 0.19 0.148 Bekerja -0.16 0.226 Menikah 0.21 0.106 Perempuan 0.10 0.458
3. Analisis Multivariat
Tabel 1 menunjukkan ada pengaruh KDS terhadap penurunan depresi ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA dengan KDS yang kuat menurunkan depresi se-besar 0.60 unit lebih rendah daripada ODHA dengan KDS lemah (b=-0.60; CI 95% -0.82 s.d -0,38; p=<0.001).
Ada pengaruh pendapatan keluarga ≥UMR terhadap penurunan depresi ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA deng-an pendapatdeng-an keluarga ≥UMR
menu-runkan depresi sebesar 8.68 unit lebih rendah daripada ODHA dengan penda-patan keluarga <UMR (b= -8.68; CI 95% 0.01; p=0.021).
Ada pengaruh pendidikan ≥SMA ter-hadappenurunan depresi ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA dengan pendi-dikan ≥SMA menurunkan depresi sebesar 7.86 unit lebih rendah daripada ODHA denganpendidikan <SMA (b=-7.86; CI 95% -14.05 s.d -1.67;p=0.014).
Ada pengaruh lama terinfeksi HIV terhadap peningkatan depresi ODHA tetapi secara statistik tidak signifikan. Setiap peningkatan 1 bulan lama terinfeksi HIV meningkatkan depresi sebesar 0.08 unit (b= 0.08; CI 95% -0.01 s.d -0.16; p=0.053).
Ada pengaruh umur terhadap pening-katan depresi ODHA dan secara statistik tidak signifikan. Setiap peningkatan 1 tahun umur meningkatkan depresi sebesar 0.03 unit (b= 0.03; CI 95% -0.25 s.d 0.32; p=0.822).
Ada pengaruh ODHA yang bekerja terhadap penurunan depresi ODHA dan secara statistik tidak signifikan. ODHA yang bekerja menurunkan depresi sebesar 0.02 unit lebih rendah daripada ODHA
Tabel 2 Analisis bivariat korelasi Pearson Pengaruh KDS terhadap Quality of Life
Variabel bebas r p
KDS kuat 0.81 <0.001
Pendapatan keluarga
(Rp/bulan) 0.62 <0.001
Pendidikan > SMA 0.83 <0.001
Lama sejak dinyatakan terinfeksi HIV oleh
dokter (bulan) 0.25 0.056
Umur (tahun) -0.20 0.123
Bekerja 0.21 0.110
Menikah -0.18 0.172
Perempuan -0.07 0.600
Tabel 3. Hasil analisis regresi linier ganda Pengaruh KDS terhadap Quality of Life pada ODHA di KDS Friendship Plus Kota Kediri
Variabel independen b CI 95% p
Lower Upper
Konstanta 9.33 -7.63 26.30 0.275
KDS kuat 0.32 0.09 0.53 0.005
Pendapatan keluarga (Rp/bulan) 1.36 0.01 0.01 <0.001
Pendidikan > SMA 20.84 14.75 26.93 <0.001
Lama sejak dinyatakan terinfeksi HIV oleh dokter (bulan) -0.01 -0.08 0.08 0.980
Umur (tahun) -0.02 -0.30 0.26 0.873 Bekerja 0.57 -0.56 1.63 0.278 Menikah 0.23 -4.12 4.56 0.916 Perempuan -0.49 -3.38 2.39 0.732 N observasi= 60 Adjusted R2= 92.3% p <0.001
yang tidak bekerja (b=0.02; CI 95% -1.08 s.d 1.04; p=0.971)
Ada pengaruh ODHA yang sudah menikah terhadap peningkatan depresi dan secara statistik tidak signifikan. ODHA yang menikah meningkatkan depresi se-besar 1.45 unit lebih tinggi daripada ODHA yang tidak/belum menikah (b= 1.45; CI 95% -2.96 s.d 5.85; p=0.513).
Ada pengaruh ODHA perempuan ter-hadap peningkatan depresi dan secara sta-tistik tidak signifikan. ODHA perempuan meningkatkan depresi sebesar 0.30 unit lebih tinggi daripada ODHA laki-laki (b= 0.30; CI 95% -2.63 s.d 3.23; p=0.836).
Adjusted R2= 88.8% mengandung arti bahwa secara bersama-sama variabel bebas di dalam model regresi linear ini mampu menjelaskan atau memprediksi va-riasi depresi dan menurunkan depresi sebesar 88.8%, sedangkan 11.2% dipenga-ruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam model regresi linear. Nilai p<0.001 dapat disimpulkan bahwa model regresi linear yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel independen dengan variabel dependen
Tabel 3 menunjukkan ada pengaruh KDS terhadap peningkatann quality of life pada ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA dengan KDS yang kuat mening-katkan quality of life sebesar 0.32 unit lebih tinggi daripada ODHA dengan KDS lemah (b=0.32; CI 95%= 0.09-0.53; p=0.005).
Ada pengaruh pendapatan keluarga ≥UMR terhadap peningkatan quality of life pada ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA dengan pendapatan keluarga ≥UMR meningkatkan quality of life sebesar 1.36 unit lebih tinggi daripada ODHA dengan pendapatan keluarga <UMR (b=1.36; CI 95% 0.01; p=<0.001).
Ada pengaruh pendidikan ≥SMA ter-hadap peningkatan quality of life pada
ODHA dan secara statistik signifikan. ODHA dengan pendidikan ≥SMA mening-katkan quality of life sebesar 20.84 unit lebih tinggi daripada ODHA dengan pendidikan <SMA (b=20.84; CI 95% 14.75-26.93; p=<0.001).
Ada pengaruh lama terinfeksi HIV terhadap peningkatan quality of life pada ODHA tetapi secara statistik tidak signifi-kan. Setiap peningkatan 1 bulan lama ter-infeksi HIV meningkatkan quality of life se-besar 0.01 unit (b= 0.01; CI 95% -0.08 s.d 0.08; p=0.980).
Ada pengaruh umur terhadap penuru-nan quality of life pada ODHA dan secara statistik tidak signifikan. Setiap pening-katan 1 tahun umur menurunkan quality of life sebesar 0.02 unit (b= 0.02; CI 95% -0.30 s.d 0.26; p=0.873).
Ada pengaruh ODHA yang bekerja terhadap peningkatan quality of life pada ODHA dan secara statistik tidak signifikan. ODHA yang bekerja meningkatkan quality of life sebesar 0.57 unit lebih rendah daripada ODHA yang tidak bekerja (b= 0.57; CI 95% -0.56 s.d 1.63; p=0.278).
Ada pengaruh ODHA yang sudah menikah terhadap peningkatan quality of life dan secara statistik tidak signifikan. ODHA yang menikah meningkatkan quali-ty of life sebesar 0.23 unit lebih tinggi daripada ODHA yang tidak/belum menikah (b= 0.23; CI 95% -4.12 s.d 4.56; p=0.916).
Ada pengaruh ODHA perempuan ter-hadap penurunan quality of life dan secara statistik tidak signifikan. ODHA perem-puan menurunkan quality of life sebesar 0.49 unit lebih rendah daripada ODHA laki-laki (b= -0.49; CI 95% -3.38 s.d 2.39; p=0.732).
Adjusted R2= 92.3% mengandung arti bahwa secara bersama-sama variabel bebas di dalam model regresi linear ini mampu menjelaskan atau memprediksi variasi qua-lity of life dan meningkatkan quaqua-lity of life
sebesar 92.3%. Nilai p<0.001 untuk kese-luruhan model mengandung arti, pengaruh keseluruhan variabel bebas dengan quality of life secara statistik signifikan.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh KDS Terhadap Depresi pada ODHA
KDS adalah suatu kelompok dua atau lebih orang yang terinfeksi atau terpengaruh langsung oleh HIV berkumpul dan saling mendukung. Anggota KDS adalah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang yang hidup dengan ODHA (OHIDHA), atau ga-bungan dari ODHA dan OHIDHA. Awalnya berupa gabungan ODHA dengan latar belakang berbeda dan adanya kebutuhan untuk membuat kelompok yang lebih spesifik, seperti kelompok khusus ODHA saja, atau dengan latar belakang tertentu (Waria, IDU, Perempuan, dan lain-lain), atau gabungan ODHA dan OHIDHA. KP berperan mengoordinasi, mengakomo- dasi, aspirasi dan kebutuhan dari KDS yang dilayani, menumbuhkan kesadaran kritis, mengayomi, dan membimbing KDS dengan menjunjung nilai kesetaraan serta sebagai pelaku advokasi dengan melibatkan KDS dalam proses. Fungsi KP untuk mencegah / mengantisipasi terjadinya konflik antar KDS, memberikan dukungan kepada KDS, memberikan kesempatan kepada KDS untuk dapat tumbuh bersama secara sehat, memastikan pemakaian dana yang diberi-kan KP untuk digunadiberi-kan semestinya, dan menjadi wadah dan saluran informasi untuk semua KDS yang dilayani (Mardhiati dan Handayani, 2011).
KDS ini satu-satunya saluran untuk dapat menyalurkan isi hati, curahan emosi-onal dan beban psikologis yang selama ini tidak dapat dilaksanakan atau diungkapkan oleh penderita kepada siapapun termasuk anggota keluarganya. Di Kota Kediri dan
sekitarnya kondisi penderita HIV/AIDS menyadari betul bahwa kelompok ini me-miliki nasib yang sama, sama-sama meng-hadapi resiko kesakitan dan kematian yang sama, dan sama tahu kalau sama-sama menderita HIV/AIDS, maka jika kelompok ini tidak saling memberikan dukungan, yang terjadi adalah penderita merasa tidak ada tempat lain yang dapat digunakan untuk meluapkan emosionalnya, tidak ada tempat untuk meminta dukungan dari penyakitnya, tidak ada lagi yang di-harapkan mampu memberikan bantuan morildanberbagai perasaan psikologis lain-nya.
Penelitian Yuniar (2013) bahwa KDS merupakan faktor eksternal yang mempe-ngaruhi kepatuhan terapi ARV. Sedangkan Alfiyyatur (2012 dalam Yuswanto et al., 2014) menyimpulkan KDS mempunyai tu-gas memberikan motivasi dan mendam-pingi ODHA. Tugas buddy atau KDS se-bagai pendamping penderita ODHA adalah memberitahukan secara mendalam menge-nai penyakit HIV/ AIDS (Mardhiati dan Handayani, 2011).
Dukungan sebaya sangat dibutuhkan sekali, sehingga ODHA akan mampu menu-runkan depresinya. Dalam hal ini peran dari dukungan sebaya adalah untuk men-capai mutu hidup yang lebih baik bagi ODHA dan OHIDHA. Secara teknis dilaksa-nakan dengan membantu ODHA dan OHI-DHA agar tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya, menyediakan ke-sempatan untuk bertemu orang lain dan berteman, menolong menjadi lebih percaya diri dan merasa kuat, berfungsi sebagai wadah untuk melakukan kegiatan, mem-pertemukan orang dari berbagai latar be-lakang yang berbeda, serta menambah sa-ling pengertian dan toleransi, sasa-ling mem-bantu berbagi sumber daya, ide, dan infor-masi, misalnya tentang pengobatan terbaru
atau layanan dukungan setempat dan lain-nya.
Sebaliknya jika kelompok ini mampu menjalankan fungsinya dengan baik maka penderita merasa masih ada orang yang peduli dengan dirinya, masih ada harapan sebagai tempat mencurahkan isi hati dan perasaan, masih ada harapan yang akan memberikan bantuan dan perhatian. Ma-nusia memiliki sisi psikologis dan fisiologis. Kebutuhan psikologis ini yang sangat utama bagi penderita HIV/ AIDS. Jika dukungan sebaya tidak berfungsi dengan baik maka penderita merasa sudah tidak ada harapan lagi, maka akan semakin menambah beban psikologisnya sehingga memicu timbulnya perasaan depresi.
Hasil penelitian Pardita dan Sudibia (2014) ini berbanding terbalik dengan kon-sep mengenai dampak ekonomi bagi pen-derita HIV/ AIDS yang menyatakan bahwa epidemi HIV/ AIDS akan menimbulkan bi-aya tinggi, baik pada pihak penderita mau-pun pihak rumah sakit. Hal ini dikarenakan obat penyembuh yang belum ditemukan, sehingga biaya harus terus dikeluarkan ha-nya untuk perawatan dan memperpanjang usia penderita. Orang-orang yang terjangkit HIV/ AIDS akan mengalami perubahan keuangan akibat penyakitnya. Dana yang diperlukan untuk keperluan pengobatan dan perawatan semakin lama semakin be-sar, sementara penghasilan menetap atau bahkan mungkin semakin menurun. Ke-mungkinan besar akhirnya akan mengalami kesulitanuntukmemperoleh dana. Perubah-an ini dapat terjadi karena kehilPerubah-angPerubah-an mata pencaharian, habisnya tabungan, hilangnya sumber-sumberbantuan keluarga, dan lain-lain, maka dari itu penelitian harus terus menerus dilakukan dan biaya lainnya sang-at dibutuhkan seperti biaya untuk upaya-upaya pencegahan. Mengalami perubahan secara signifikan karena dalam penelitian Pardita dan Sudibia (2014) responden
pen-derita HIV AIDS menyatakan bahwa obat yang dikonsumsi membuat mereka bisa mengembalikan kondisi fisik menjadi nor-mal kembali sehingga mereka bisa bekerja secara rutin untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.Disamping itu, obat yang dibe-rikan kepada penderita HIV AIDS oleh pe-merintah dan bantuan asing adalah obat gratis, sehingga penderita HIV AIDS tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memebeli obat ini. Hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dan perhatian pe-merintah beserta donator asing terhadap penderita HIV AIDS.
American Psychological Assosiation (2005) pada Trilistya (2006) bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan depresi, yaitu gangguan depresi lebih sering terjadi pada orang yang berpendidikan rendah. Sedangkan pada penelitian ini depresi ter-jadi pada ODHA yang berpendidikan tinggi yaitu >SMA. Terinfeksi HIV AIDS meru-pakanjenis stresor berat bagi ODHA ditam-bah penyakit ini menyebabkan kematian maka jumlah stresor berat yang dialami lebih besar. Dengan beratnya stresor ter-sebut, maka setiap orang, tanpa meman-dang tingkat pendidikannya dapat menga-lami depresi. Depresi yang terjadi dapat hilang dengan sendirinya atau memerlukan pengobatan tergantung pada individu ma-sing-masing.
2. Pengaruh Kelompok Dukungan
Sebaya Terhadap Quality of Life pada ODHA
Hasil Yuswanto et al. (2014) bahwa KDS sangat berperan baik terhadap kualitas hi-dup ODHA. Peran KDS sangat membantu ODHA dalam menjalani perawatan dan pe-ngobatan baik pada rawat jalan maupun rawat inap. Pada rawat jalan atau peng-obatan di rumah, peran KDS dalam hal ini adalah memantau pemberian obat dan ma-kanan, mengantar pada waktu pengobatan
serta memberikan dukungan mental juga spiritual. Selain itu juga memberikan mo-tivasi kepada ODHA untuk selalu berjuang melawan penyakitnya dan mengajak untuk melakukan kegiatan fisik yang dapat dila-kukan sesuai kemampuannya.
Hasil ini sesuai dengan hasil peneliti-an ypeneliti-ang dilakukpeneliti-an oleh Worthington dpeneliti-an Krentz (2005 dalam Kusuma, 2011) dimana status sosial ekonomi (penghasilan) meru-pakan faktor yang signifikan mempenga-ruhi quality of life. Selain itu, hasil ini sena-da pula dengan penelitian Wig et al. (2006 dalam Kusuma, 2011) yang mendapatkan bahwa pendapatan/ penghasilan merupa-kan salah satu faktor yang mempengaruhi quality of life pasien HIV/AIDS. Pada pene-litian lainnya yang dilakukan oleh Nazir (2006 dalam Kusuma, 2011) juga meng-ungkapkan bahwa penduduk dengan peng-hasilan yang tidak bisa mencukupi kebu-tuhan hidup sehari-hari mempunyai quality of life yang lebih buruk dibandingkan dengan penduduk dengan penghasilan yang mencukupi.ODHAyang mempunyai penda-patan keluarga yang mencukupi bukan ha-nya dapat menunjang untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari namun juga biaya pengobatan yang diperlukan terkait penyakit sehingga dapat menjaga derajat kesehatannya (Kusuma, 2011). Hal ini da-pat mempengaruhi quality of life ODHA.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nirmal, et al. (2008 dalam Kusuma, 2011) dimana tingkat pendidikan merupakan fak-tor yang signifikan mempengaruhi quality of life. Selain itu, hasil ini senada pula dengan penelitian Greeff, et al. (2009; Wig, et al., 2006 dalam Kusuma, 2011) yang mendapatkanbahwatingkatpendidikan me-rupakan salah satu faktor yang mempenga-ruhi quality of life pasien HIV/AIDS. Pada penelitian lainnya yang dilakukan oleh Na-zir (2006; Lucas, et al.,2006; Afiyah, 2010 dalam Kusuma, 2011) juga mengungkapkan
bahwa individu dengan pendidikan rendah (di bawah SMA) memiliki quality of life yang kurang baik dibandingkan dengan in-dividu yang berpendidikan tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiyyatur R (2012). Peran Buddy Sebagai PendampingODHA.http://www. kom pas. com. Jakarta 2012. diakses 13-02-2016.
American Psychological Assosiation (200 5). What is Depression. http://www. apa.org/ppo/issues.htm.
Depkes RI (2006). Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987-2006. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Depkes RI. Disa NS, Parjo, Ariyani PD (2014).
Faktor-Faktor yangMempengaruhi Kualitas Hidup Penderita HIV yang Menjalani Rawat jalan di Care Support and Treatment (CST) Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Kota Ponti-anak. Universitas Tanjungpuran Pon-tianak.
Kusuma H (2011). Hubungan Antara De-presi dan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS yang Menjalani Perawatan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. De-pok: Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Kekhususan Kepe-rawatan Medikal Bedah Universitas Indonesia.
Mardhiati R, Handayani S (2011). Peran Dukungan Sebaya Terhadap Pening-katan Mutu Hidup ODHA Di Indo-nesia. Yayasan Spiritia bekerja sama denganLembaga Penelitian dan Peng-embangan Universitas Muhammadi-yah Prof. DR. Hamka. Komisi Pe-nanggulangan AIDS Nasional, Ford Foundation, AusAID. http:// spiritia. or.id/diakses 14 Februari 2016.
Nasronudin (2007). Penyakit Infeksi Di Indonesia Solusi Kini Dan Menda-tang. Airlangga University Press, Su-rabaya.
Pardita DPY, Sudibia IK (2014). Analisis Dampak Sosial, Ekonomi, dan
Psiko-logis Penderita Hiv Aids di Kota Den-pasar Analisis Dampak Sosial, Ekono-mi, dan Psikologis Penderita HIV AIDS Di Kota Denpasar. Jurnal Bu-letin Studi Ekonomi 19 (2): 193-199. Rozi RF (2014). Hubungan Dukungan
Sosial dengan Kualitas Hidup ODHA pada Kelompok Dukungan Sebaya Solo Plus di Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhamma-diyah Surakarta.
Salzer M (2002). Consumer-delivered ser-vicesasabest practice in mental health
care and the development of practice guidelines. Psychiatric Rehabilitation Skills 6: 355-382.
Trilistya S (2006). Tingkat Depresi Korban Tanah Longsor di Banjarnegara. Se-marang: Fakultas Kedokteran Univer-sitas Diponegoro Semarang.
Yuniar Y (2013). Terapi Eksternal dan Ke-patuhanMengonsumsiARV pada Pen-derita HIV/AIDS. Buletin Penelitian Kesehatan 4(2): 72-83.