CATATAN PENGANTAR
TETES-TETES AIR DI ATAS BATU:
DARI WOLOTOPO MENUJU BUNDA HATI KUDUS Oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S.1
CATATAN PEMBUKAAN
Judul Menjadi Manusia yang Mau Tahu secara tersurat menjelaskan bahwa ini bukan buku yang ringan. Bukan pula buku yang interes untuk dibaca sekian orang muda milenial. Orang yang "digiring" teknologi untuk baca dan update status secara singkat melalui WA atau FB dan sejenisnya, kemudian ditanggapi dengan like dalam jumlah tertentu. Dipandang dari sisi teknologi informasi zaman
now, buku ini sudah pasti kalah bersaing. Ini zaman milenial dimana peneriman
anak-anak, remaja, bahkan orang tua lebih ringkas dan ringan dipikir.
Akan tetapi buku adalah buku! Integitasnya menembus tempat, ruang, dan waktu. Proses membacanya lebih lentur dari tekanan neurologi dibandingkan dengan kelelahan mata di depan laptop apalagi HP. Isi buku ini didistribusi dalam tujuh belas anak-anak judul. Dimulai dengan pertanyaan tentang jati diri dalam "Di Manakah Jati Diri Kita" (01) diakhiri dengan refleksi yang mendalam tentang manusia yang memiliki jati diri dalam "Tangan-Tangan Guru, Sang Gembala Agung" (17).
Secara keseluruhan isi buku ini mengungkapkan tiga hal. Pertama, mendeskripsikan fenomena zaman, merumuskan masalah, dan mengetengahkan data dengan kecenderungan intervensi (tekanan) dan menggurui pembacanya. Belum cukup ruang jedah yang apresiatif bagi pembaca untuk mengerti dan menemukan sendiri apa maknanya. Kedua, dalam alur yang panjang (tulisan 01 sampai 17) buku ini juga menyajikan ilustrasi yang ringan dibaca dan kaya makna. Ilustrasi dilengkapi dengan renungan serta upaya untuk mencari dan menemukan solusi. Ketiga, bagian akhir buku ini (tulisan ke-17) justru menjawab keseluruhan pertanyaan tentang pilihan hidup (panggilan) dan jati diri manusia yang sesungguhnya.
Untuk menjelaskannya, catatan pengantar ini ditulis berdasarkan pendekatan ekspresif yang mempertemukan isi buku dan penulisnya. Isi buku dan penulisnya dihubungkan dengan pandangan yang menegaskan bahwa setiap pengalaman yang bermakna atau pengalaman yang hidup berhubungan dengan masa lalu dan menggapai masa depan (Dilthey2, 1977; Sumaryono3, 1999:55). Selanjutnya penjelasan dideskripsikan ke dalam tiga bagian: 1) Debur Ombak yang Keras dari Tebing Berbatu; 2) Angin Berhembus dari Laut; dan 3) Sebuah Perahu Mendayung Lebih Dalam.
1
Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar. Penulis Novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (2015), Doben (2016), dan Suara Samudra (2017). 2 Wilhelm Dilthey (1977). Descriptive Psychology and Historical Understanding. The Hague, Martinus Nijhoff
CATATAN PENDALAMAN
1.Debur Ombak yang Keras dan Tebing Berbatu
Fr. M. Christoforus, BHK (Fr. Christo), penulis buku ini lahir dan melewati masa kecilnya di Wolotopo Kecamatan Ndona Kabupaten Ende Flores. Wolotopo, sebuah kampung kecil yang letaknya di atas tebing. Topografi desa berbatu-batu dengan tangga alam dari bagian bawah dan bertangga batu menuju ke bagian yang lebih tinggi. Ombak pantai selatan menghantam tebing kampung sepanjang waktu. Bagian datar di depan kampung ada muara pertemuan sungai dan laut di kaki Wolotopo yang juga berbatu-batu. Cukup lama kampung ini "terisolasi" dari wilayah lainnya di Kabupaten Ende meskipun jarak dengan Ende ibu kota Kabupaten tidak begitu jauh, sekitar 7 (tujuh) kilo meter. Situasi ini dapat menjelaskan bahwa anak-anak Wolotopo bukan anak-anak biasa. Mereka adalah anak-anak yang sepanjang hidupnya diliputi "tekanan" (dalam tanda petik sebagai kata lain dari perjuangan) untuk berjalan kaki, melewati batu-batu, berjalan di tebing dan laut ada di bawahnya, mendaki dan menurun, dan memiliki semangat baja dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita.
"Tekanan" terbaca jelas dalam buku ini (tulisan ke-01 sampai 10). Mengapa? Karena bagi orang awam (maksudnya bukan biarawan/wati) buku ini memang berat isinya. Bagian 01 mempersoalkan jati diri yang sudah hilang. Pembaca mesti siap untuk merasa lelah karena menerima penjelasan kontradiktif tentang pentingnya jati diri dan tekanan bahwa jati diri itu sudah hilang. Sama halnya dengan menekankan pentingnya berhati-hati di jalan berbatu-batu, tebing tinggi dan sisi jurang dan laut yang menganga di bawahnya. Berat! Akan tetapi tetap harus dilewati. Hal ini terungkap dalam kata-kata seperti: kita sungguh telah
kehilangan jati diri - doyan akan aktivitas murah meriah - pribadi-pribadi invalid yang cenderung arogan, emosional, peragu, serta inkosisten. Hal ini
berkontradiksi dengan penggalan kisah-kisah reflektif yang menyentuh seperti kata Andrias Harefa, Penulis buku “Mutiara Pembelajaran” (Glorya Cyber Ministries, 2000) tentang proses terjadinya mutiara.
Pikiran-pikiran yang tertuang dalam tulisan ke-01, 02 tentang manusia sebagai makhluk pengembara, tulisan ke-03 diksi yang dipilih penulis tentang "manusia, sebagai mentari justru sering kali lebih gorila daripada gorila", cukup menakutkan. Tulisan ke-04 rasa marah kepada manusia 'kita' yang malas berpikir dan pandai berkelit, tulisan ke-05 selalu menekan dengan ketidaksadaran akan potensi diri yang dahsyat seperti terungkap dalam petikan berikut.
"Dilema terbesar Anda dan saya (manusia Indonesia), ialah kebiasaan bersikap acuh tak acuh, serta dingin dan lamban, bahkan ada yang dikenal sebagai ‘bantal iblis’. Semisal, setelah menyelesaikan kuliah dan meraih gelar kesarjanaan strata berapa pun, mudah sekali ‘menobatkan diri sebagai sosok yang serba mapan’. Ah, sikap ini sungguh keliru. (hlm.34).
Selanjutnya dalam tulisan ke-06 sampai ke-10 kembali pembaca disesaki kata yang terkesan menekan, menggiring, dan menggurui. Perhatikan salah satu
contoh berikut ini.
"Bagaimana kita masih merasa sebagai seorang manusia, tatkala kita
bertindak layaknya seekor domba dungu (yang dikenal sebagai hewan terbebal)? Bagaimana mungkin kita masih disebut sebagai manusia dan apalagi merasa diri sebagai seorang manusia, jika di sisi lain betapa goblok sampai begitu gampang mengakhiri hidup hanya karena putus asa atau dililit kemiskinan materi?
Ah, Saudara! Sebaiknya pada hari-hari ini, kita jangan berani memproklamasikan diri sebagai manusia, karena faktanya penggelaran diri bahwa kita adalah seorang manusia belum selalu menjamin bahwa kita akan bertindak sebagai seorang manusia. Maka, bersabarlah hingga ajal kita tiba secara wajar sebagai seorang manusia dan biarlah sesama kita yang masih hidup yang boleh menyebut bahwa kita ini sungguh pernah menjadi seorang manusia (hlm.42).
Buku ini seperti sebuah catatan harian penulis yang mempertanyakan dan menggugat realitas. Penulis menggugat (membaca) fenomena zaman melalui diksi atau pilihan kata yang keras sama kerasnya dengan debur Ombak di Pantai Wolotopo serta tebing berbatu yang dialami pada masa lalunya.
Jalan masa lalu yang kini "sudah ditinggalkan" Fr. Christo. Akan tetapi ada yang tertinggal di sana! "Hal itu sangat jelas dalam tulisan ke-08 tentang "Putra Air Mata Kita". Meskipun tetap dalam deskripsi yang menekan dan menggurui, pada bagian ini tulisan terasa menyentuh berkisah tentang kedalaman penulisnya. Diawali dengan mengutip salah satu kebijakan terkenal dari Kahlil Gibran dalam Sang Nabi.
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu
Pembaca dibuka pikirannya tentang 'jati diri' seorang anak. Ilustrasi yang disajikan menjelaskan rasa syukur tak terhingga kepada seorang ibu. Fr. Christo menjelaskan sebuah kedekatan batin (psychic nexus) menurut Dilthey (1977), hasil hubungan batin dengan masa lalunya yang hidup. Ilustrasi yang diangkatnya tentang Rachel yang tidak mau dihibur, meratapi putra-putrinya yang telah tiada,
Monika yang meratapi putranya Agustinus (dalam perjalanan waktu Monika
menjadi Santa dan jalan pertobatan yang cukup radikal membawa Agustinus menjadi Santo), ratapan Meng Jiangnu yang sanggup merobohkan tembok raksasa dengan air mata ratapannya, dan dari tembok yang runtuh itulah berserakan tulang-belulang korban kerja paksa.
Ilustrasi tentang para ibu ini menjelaskan rasa syukur yang mendalam akan tetapi tidak sanggup diungkapkan secara verbal tentang mama, ibu, ine yang kini sendirian di Wolotopo. Ibu yang bangga pada salah satu putra dengan nama
lengkap Benyamin Paskalis Lourdes Ngere menjadi biarawan anggota Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus (BHK) dengan nama baru: Frater M.Christoforus, BHK (Frater Christo). Ia menjelaskan yang tersirat dalam ungkapan tersurat yang tidak sepenuhnya dapat bercerita tentang isi hatinya tentang Ibu...sebagaimana dijelaskannya sendiri: Para ibu gemilang itu hanya ingin menepis arus gelombang
mahaganas yang menerjang dan mengikis lintasan setapak yang sedang dipijaki buah hati mereka.... (hlm.51). Mereka setia menanti dengan penuh harapan bahwa
gelombang yang mahaganas itu meredah dan berganti menjadi angin sejuk berhembus dari laut.
Angin Sejuk Berhembus dari Laut
Sajian cukup menenangkan ada dalam tulisan ke-11 sampai ke-16. Tulisan 011 tentang "Misteri Kelembutan dan Kasih Kita" dengan adagium, Amor
mundun fecit, cinta itu menciptakan dunia. Diawali dengan kisah Bunda Teresa
dari Calkuta tentang “Kebutuhan terbesar dunia kini dan kapan pun ialah sekeping kelembutan serta secarik kasih dari dalam hati manusia; itulah obat yang paling dibutuhkan setiap hati” serta “Dengan tak kenal dendam terhadap siapa pun,
dengan kemurahan hati kepada siapa pun, dengan keteguhan hati dalam kebenaran, yang sesuai dengan titah Allah, marilah kita berusaha untuk menyelesaikan tugas kita sekarang; menyembuhkan luka-luka bangsa…”
Penggalan Pidato Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat yang diukir pada dinding batu tugu peringatan di Washington.
Bunda Teresa dan Abraham Lincoln adalah dua contoh dari banyak ilustrasi lainnya yang diangkat dalam buku ini. Ilustrasi yang juga meyakinkan penulisnya betapa bernilai pengalamannya saat berhadapan dengan seorang bapak yang berwajah garang yang datang dengan parang untuk membela anaknya di SMP Frater Maumere. "Kemenangan saya justru terletak pada reaksi spontan yang
tetap bersikap rasional, mau tersenyum, dan mau mendengarkan dia meluapkan emosinya. Justru ketiga senjata inilah yang sering kita abaikan dalam hidup, teristimewa saat menghadapi suasana mencekam, ialah bereaksi tetap rasional, berusaha tersenyum, dan bersedia mendengarkan." (hlm.69). Pada bagian ini
"angin sejuk berhembus dari laut" tinggalkan kegarangan debur ombak dan bukit dan jalan berbatu-batu.
Ketenangan juga dirasakan dalam tulisan ke-12 yang diawali dengan ilustrasi Raja Mobil Henry Ford sebagai penderma tanpa nama untuk menggarisbawahi: Cinta, memang tak pernah kehabisan power. Dunia dan isinya memang tampak seolah kalah terkapar, kalah perang melawan kepalsuan, tetapi sesungguhnya yang ada ialah "sepercik api kebenaran masih sanggup berkedip dari balik kegelapan. Misteri terbesar di balik itu, justru lahir dari sekeping cinta. Amor
Dalam tulisan ke-13 tentang tantangan globalisasi yang menjadikan dunia ini begitu kecil atau "dunia yang dilipat" menurut Amir Piliang (2004)4. Tawaran yang disajikan internet, life skill yang serba instan, kehilangan akar, serta berbagai sajian teknologi informasi yang sanggup menjatuhkan ditulis dengan cukup mengenaskan. Fr. Christo menggarisbawahi refleksinya bahwa sebenarnya makna kebebasan merupakan bentuk persembahan pada Tuhan. Tulisan ke-14 tentang arus migrasi ilmuwan kita yang lebih dihargai di luar negeri. Jika dibandingkan dengan tulisan ke-16 tentang home schooling, tampaknya bermuara pada tujuan yang sama. Hubungan antara ruang kelas,ruang keluarga, tuntutan kurikulum, dan kekuatan persuasi.
Fr. Christo secara sadar mengungkapkan apa yang mesti dilakukan demi memberi warna manis bagi dunia pendidikan dan generasi muda sebagai pemilik masa depan. Bagaimana tanggung jawab untuk menciptakan generasi mandiri, kreatif, serta mampu mengejewantahkan prinsip dasar pendidikan utuh, learning
by doing dan non scholae discimus, sed vitae atau belajar demi hidup bukan demi
sekolah. Pada bagian ini Fr. Christo tinggalkan "Debur Ombak yang Keras dan Tebing Berbatu" menuju angin laut yang sejuk. Hal ini diungkapkan dalam tulisan ke-15 tentang isu humanitas dengan ilustrasi yang sungguh-sungguh menggugah tenang Ember Bocor (EB), Ember Penuh (EP), dan Tukang Pikul (TP) di India yang dikutip dari Cerita Kecil Saja Stephie Kleden-Beetz (2009).
Ember Bocor yang mengeluh karena isinya tumpah sepanjang jalan dan merasa malu pada Ember Penuh yang sanggup memberi air utuh dari tempatnya ditimbah sampai ke rumah majikannya. Ternyata EB itu meneteskan air sepanjang jalan dan menjadikan bunga-bunga tumbuh subur dan mekar indah dan bisa membuat majikannya bahagia. Kisah yang mengingatkan cerita Ainu Jepang tentang Panci Kecil yang Memiliki Waktu Luang (Dayu Mitha, 2018)5 untuk menjadikan majikan (pemilik panci) bahagia pada hari pesta di rumahnya.
Melalui EB, EP, dan TP dijelaskan tentang persaingan antara EB dan EP adalah deskripsi kondisi riil dalam lembaga pendidikan kita yang hidup dalam persaingan yang tidak sehat dan hidup dengan saling menekan dan mengancam. Penulis mengajak untuk kembali ke akar historis.
Pada zaman Yunani klasik, manusia ideal dirumuskan dengan istilah ‘kalos
kagathos’, artinya manusia yang indah serta berbudi luhur. Jadi, menjadi
manusia idealis bercita rasa halus serta berbudi luhur. Merengkuh pendidikan ‘kaloskagathia’, artinya mencapai kemanusiaan paripurna, yang serba bisa, serta seimbang cipta, rasa, dan serta karsa (sense of balance)
4 "Dunia yang Dilipat" pinjam dari judul buku Dunia yang Dilipat: Tamsasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan (Yasraf Amir Pliang, 2004).
5 Ida Ayu Laksmina Sari. 2018 "Kajian Komparatif Wacana Kearifan Lokal Cerita Rakyat Bali Aga dan Aini Jepang." Disertasi Prodi S3 Linguistik Konsentrasi Wacana Sastra, FIB Universitas Udayana.
(hlm.90).
Meskipun dalam deskripsinya penulis masih selalu dipengaruhi oleh diksi yang menggurui, tulisan ke-15 ini dapat membangkitkan kesadaran tentang pentingnya upaya mencapai manusia paripurna. EB tetaplah berguna sehingga tidak perlu direndahkan oleh EP. Setiap anak dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing tetaplah berharga saat disadarkan bahwa dirinya berharga dan penting. EB itu meneteskan air di jalan setapak di antara batu dan tebing pantai menuju Wolotopo dan sepanjang jalan yang disiram itu lahir kesegaran dan kehijauan daun dan bunga yang tumbuh. Dalam hal ini peran guru (pendidik) sebagai Tukang Pikul amatlah penting untuk memotivasi murid-muridnya untuk menjadi besar dan berarti dengan apa yang dimilikinya. Pada bagian ini Frater Christo benar-benar sedang menuju ke sebuah perahu yang mendayung lebih dalam.
Sebuah Perahu yang Mendayung Lebih Dalam
Menyongsong paskah 2017 saya menjadi sutradara untuk pementasan drama yang saya tulis atas permintan Pater Servas Subagha, SVD berjudul "Sebuah Tanya Tentang Kekuasaan." Pada hari H pementasan di altar Gereja Yesus Gembala Yang Baik Ubung Denpasar, dalam adegan Yesus jatuh untuk ketiga kalinya, lengan salib patah satu. Pemeran Yesus disalibkan dengan satu tangan tergantung pada lengan salib (yang sudah patah satu) itu. Pemeran tetap bertahan sampai pementasan drama berakhir. Pementasan malam itu penuh makna bagi mudika yang berupaya menghayati perjalanan penyaliban untuk menjadi tangan yang kuat menggantikan tangan Yesus yang sudah patah.
Tulisan ke-17 berjudul "Tangan-Tangan Guru Sang Gembala Agung". Yang menjadikan tulisan ini mengesankan dan menetap dalam pikiran dan hati adalah ilustrasi tentang: tangan-tangan hilang. Tragedi dalam Perang Dunia II dimana sebuah Gereja di Jerman remuk dibombardir. Usai PD II itu arca Yesus yang teah remuk itu ditemukan sejumlah kecil tentara Amerika. Mereka menata dan memolesnya sehingga berdirilah arca Yesus dengan tangan buntung. Salah seorang dari mereka menulis "Aku tidak memiliki tangan-tangan lain, kecuali tangan-tanganmu!"
Kisah kecil di Gereja Yesus Gembala Baik Ubung Denpasar berbeda dengan Arca Yesus dalam PD II. Akan tetapi memiliki substansi yang sama tentang makna tangan. Tulisan Fr. Christo pada bagian ke-17 ini menjadi penutup yang menggetarkan rasa religiositas siapa pun yang yakin tentang panggilan hidup sebagai biarawan maupun awam. Tulisan ini menunjukkan bahwa setelah Debur Ombak yang Keras dan Tebing Berbatu dan Angin Sejuk Berhembus dari Laut, Christo sampai pada Sebuah Perahu yang Mendayung Lebih Dalam. Hal ini terbaca pada penjelasannya tentang makna tangan serta simbolisasinya.
Ada tangan lalim seperti Hitler yang menjadikan tragedi memiluhkan di kamp konsentrasi Austwich Austria yang menewaskan Anne Frank (gadis belia yang
menulis catatan harian dalam persembunyiannya di salah satu rumah di Kota Amsterdam). Ada pula tangan-tangan guru yang lebih menyimbolkan budaya maut. Akan tetapi ada tangan-tangan yang penuh cinta seperti tangan Musa yang terangkat dan membelah laut, tangan Bunda Teresa yang mendekap tubuh-tubuh sekarat di lorong-lorong Calcuta, juga tangan guru-guru yang memiliki kuasa mengajar dengan kasih untuk murid-muridnya?
Melalui kisah tenang tangan, penulis buku ini benar-benar berusaha mendayung lebih dalam dengan menyajikan ilustrasi tentang Huike, kisah heroik dari negeri tirai bambu, Cina. Hike yang bermain kuasa dan dengan tangan-tangannya sejuta nyawa telah melayang. Huike akhirnya bertobat dan menjadi biksu namun tetap tidak bahagia. Ketika ia berguru pada Bodhidarma ia mendapat tantangan pedas "Bagaimana mungkin seorang pembunuh seperti engkau mau mengikutiku. Sadarkah kau akan dirimu?" Kisah berakhir dengan tekad membara untuk berubah dengan cara memotong tangan kirinya sendiri.
Fr. Christo menghubungkan tragedi Huike dengan fakta dan idealisme guru bertangan terborgol, guru tanpa inspirasi. Beliau mengharapkan bahwa guru mesti memiliki tekad kuat sekuat Heike dengan mengutip Parker J. Palmer. “Pengajaran terbaik lahir dari nurani, bukan dari teknik. Ketika guru memiliki identitas dan integritas, maka teknik-teknik pembelajaran pun akan membantunya.” Lebih jauh dari itu bagian ke-17 tulisannya, Frater Christo bertanya pada nuraninya sendiri yang telah mengarungi 40 tahun hidup dalam pelayanan di dunia pendidikan. Apa pun tantangannya 40 tahun itu menjadi waktu yang sangat panjang apabila tidak melakukan pendalaman dan refleksi dan retret untuk menaklukan diri sendiri. Hingga sesungguhnya 40 tahun adalah waktu yang cukup singkat saat banyak hal sudah dilakukan dan banyak hal sudah dilewati. Pada bagian ke-17 sebenarnya penulis sedang menulis untuk dirinya sendiri. Membawanya kembali ke Wolotopo kampung halaman, tanah kelahiran, tanah tumpah darah. Sekarang Wolotopo tidak lagi terisolasi seperti tahun-tahun dulu, ketika Benyamin meninggalkannya. Sudah ada jalan raya sepanjang pesisir. Ada mobil sampai ke pintu pagar rumahnya. Sudah tersentuh dahsatnya arus teknologi informasi. Yang masih terus ada demi memperdalam motivasi adalah kenangan untuk "Tolehlah lagi ke belakang - ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya" (WS. Rendra)6. Kenangan yang telah menjadikan Benyamin hadir sebagai Fr. Christo, BHK kini. Di sana ada seorang ibu tua renta yang menjalani hari tuanya dengan berkat yang pasti diyakini Fr. Christo juga bahwa doa ibu dan doa Bunda Hati Kudus sepanjang hayat dikandung badan. "Mbana sai
leka jala eo masa leta sai leka wolo molo. Mbana molo-molo tau ghae ola kema utu dua kau waisia wengirua soli tau gare jie leka nua kita..."7 (Berjalanlah sesuai arah yang benar. Jalan bae-bae untuk mencari sesuatu demi masa depanmu, keluarga, dan kampung kita..."
6 "Tolehlah lagi ke belakang - ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya" dikutip dari puisi berjudul "Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya" yang termuat dalam Kumpulan Puisi Sajak-Sajak Sepatu Tua (WS. Rendra, 1972)
7 Catatan dalam Bahasa Lio disampaikan oleh Stanis Seru dan Dominikus Minggu (keduanya saudara dari Fr. Christo, BHK) yang turut memberi sumbang saran dalam Catatan Pengantar buku ini.
CATATAN PENUTUP
Isi buku ini mencerminkan "jatuh bangun" nya penulis buku menata pikiran, menata hati. Memudahkan kita untuk menyebutnya sebagai menata panggilan hidup membiara yang pasti mengalami pasang surut, senyum dan tangis, duka derita, janji dan kesetiaan. Unsur filsafat hidup sebagai manusia yang seyogyanya memahami dan tahu mengeksresikan jati dirinya dengan benar, terasa nyata dalam keseluruhan isi buku. Karenanya para pembaca perlu menyiapkan tempat, ruang, dan waktu secara khusus untuk mengapresiasi dan mengerti makna dan nilai-nilai apa yang ada di dalamnya.
Tulisan ke-17 menunjukkan bahwa buku Menjadi Manusia yang Mau Tahu memiliki potensi menjadi buku yang ringan dengan contoh-contoh yang menggugah, serta makna yang dapat diambil dari setiap kisah, tanpa perlu menggurui. Mudah-mudahan dalam edisi berikutnya.
Demikianlah! Matahari sudah condong ke barat. Hari menuju senja yang lebih temaran. Terima kasih diberi kesempatan menulis catatan pengantar ini. Menulis sambil tercerahkan oleh perjalanan hidup selama 40 tahun membiara. Selamat Ulang Tahun ke-40 untuk saudaraku terkasih Frater M. Christoforus, BHK. Tetes-Tetes Air di Atas Batu. Bunda Hati Kudus itu melangkah bersamamu dari batu Wolotopo dan selalu bersamamu sepanjang waktu.
Denpasar, 12 April 2019