OLEH :
FARMASI B
(KELOMPOK 2)
NI’MA NURMAGFIRAH
NOFRIANI SAFITRI
NUR REZKI AMALIA K
NUR FAEDAH SINAR
NUR HIDAYAH KAMIL
ULFAH FITRIASARI
PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Puji Syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Farmakologi-Toksikologi Dasar pada semester IV, tahun ajaran 2013/2014, yang berjudul “Jalur Pemberian Obat”. Dengan menyelesaikan tugas ini penulis diharapkan untuk lebih mengetahui tentang apa sebenarnya jalur dan pemberian obat, keuntungan dan kerugian dari tiap jalur, bentuk sediaan bagi jalur tiap pemberian, serta sudut prespektif islam dalam memandang jalur pemberian obat yang merupakan salah satu sub bab dari materi Pengantar Farmakologi Dasar.
Penulis sadar, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Penulis berharap, semoga makalah sederhana ini, dapat menjadi pengetahuan dan informasi baru yang dikemas dalam bentuk singkat, padat dan jelas.
Makassar, 18 Mei 2013
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang……….3
B. Rumusan Masalah………4
BAB II. Tinjauan Pustaka
A. Jalur Pemberian Obat……….5
B. Keuntungan dan Kerugian Jalur Pemberian Obat………...11
C. Tepat Pemberian Obat……….13
D. Bentuk Sediaan Berdasarkan Jalur Pemberian Obat……...15
BAB III. Tinjauan Islam
A. Sains dan Teknologi Kesehatan dalam Pandangan Islam..20
B. Obat Bagi Segala Macam Penyakit……….21
C. Hukum Jalur Pemberian Obat……….22
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat.1
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep2
1 Katzug, Basic and Clinical Pharmacology, 9th ed, 2003. PP. Hal 1567
Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:
a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
b. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan c. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.
Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:
a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b. Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan badan
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja jalur pemberian obat?
2. Apa keuntungan dan kerugian dari tiap jalur pemberian obat? 3. Bagaimana optimalisasi tepat pemberian obat?
4. Apa saja bentuk sediaan berdasarkan jalur pemberian obat?
5. Bagaimana sains dan teknologi kesehatan dalam pandangan islam? 6. Dalil tentang obat segala macam penyakit
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Jalur Pemberian Obat
Jalur pemberian obat turut menetukan kecepatan dan kelengkapan resorpsi obat. Tergantung dari efek yang diinginkan, yaitu efek sistemik (di seluruh tubuh) atau efek local (setempat) keadaan pasien dan sifat-sifat fisiko-kimiawi obat, dapat dipilih dari banyak cara untuk memberikan obat.
1. Efek Sistemik
a. Oral
Pemberian obat melalui mulut (per oral) adalah cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah dan aman. Namun tidak semua obat dapat diberikan peroral, misalnya obat yang bersifat merangsang (emetin, aminofilin) atau yang diuraikan oleh getah lambung, seperti benzilpenisilin, insulin, oksitosin dan hormone steroida.
Sering kali, resorpsi obat setelah pemberian oral tidak teratur dan tidak lengkap meskipun formulasinya optimal, misalnya senyawa ammonium kwartener (thiazianium, tetrasiklin, kloksasilin dan digoksin) (maksimal 80%). Keberatan lain adalah obat segtelah direpsorbsi harus melalui hati, dimana dapat terjadi inaktivasi sebelum diedarkan ke lokasi kerjanya.
Untuk mencapai efek local di usus dilakukan pemberian oral, misalnya obat cacing atau antibiotika untuk mensterilkan lambung-usus pada infeksi atau sebelum pembedahan (streptomisin, kanamisin, neomisin, beberapa sulfonamida). Obat-obat ini justru tidak boleh diserap.3
b. Sublingual
Obat setelah dikunyah halus (bila perlu) diletakkan di bawah lidah (sublingual), tempat berlangsungnya rebsorpsi oleh selaput lender setmpat ke dalam vena lidah yang banyak di lokasi ini. Keuntungan cara ini ialah obat langsung masuk ke peredaran darah besar tanpa melalui
hati. Oleh karena itu, cara ini digunakan bila efek yang pesat dan lengkap diinginkan, misalnya pada serangan angina (suatu penyakit jantung), asma atau migrain (nitrogliserin, isoprenalin, ergotamin juga metiltesteron). Kebertannya adalah kurang praktis untuk digunakan terus-menerus dan dapat merangsang mukosa mulut. Hanya obat yang bersifat lipofil saja yang dapat diberikan dengan cara ini.4
c. Injeksi
Pemberian obat secara parenteral (berarti “di luar usus”) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat dan lengkap atau untuk obat yang merangsang atau dirusak oleh getah lambung (hormon), atau tidak diresorpsi usus (streptomisin). Begitu pula pasien yang tidak sadar atau tidak mau kerja sama. Keberatannya adalah cara ini lebih mahal dan nyeri serta sukar digunakan oleh pasien sendiri. selain itu ada pula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat.5
- Subkutan (hipodermal)
Injeksi dibawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada pasien penyakit gula. dalam waktu 10-30 menit. Guna memperlambat resorpsi dengan maksud memperpanjang kerja obat, sering kali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, misalnya suspensi penisilin dan
4 Ibid, Hal 18-19
hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot bokong yang tidak memiliki banyak pembuluh dan saraf.
- Intravena
Injeksi ke dalam pembuluh darah menghasilkan menghasilkan efek tercepat: dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunkan untuk mencapai pentakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butir darah.
Bahaya injeksi i.v. adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat kolida darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini ‘benda asing’ langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi , misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbul shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu setiap injeksi i.v. sebaiknya dilakukan dengan amat perlahan, antara 50 dan 70 detik lamanya.
Infus tetes intravena dengan obat sering kali dilakukan di rumah sakit pada keadaan darurat atau dengan obat yang cepat metabolisme dan ekskresinya guna mencapai kadar plasma yang tetap tinggi.
- Intra-arteri
Injeksi ke pembuluh nadi adakalanya dilakukan untuk “membanjiri” suatu organ, misalnya hati, dengan obat yang sangat cepat diinaktifkan atau terikat pada jaringan, misalnya obat kanker nitrogenmustard.
- Intralumbal
adalah beberapa cara injeksi lainnya untuk memasukkan obat langsung ke tempat yang diinginkan.
- Implantasi subkutan
Implantasi subkutan adalah memasukkan obat yang berbentuk pellet steril (tablet silindris kecil) ke bawah kulit dengan menggunkan suatu alat khusus (trocar). Obat ini terutama digunakan untuk efek sistemis lama, misalnya hormon kelamin (estradiol dan testosteran. Akibat resorpsi yangh lambat, satu pellet dapat melepaskan zat aktifnya secara teratur selama 3-5 bulan lamanya. Bahkan dewasa ini tersedia implantasi obat antihamil dengan lama kerja 3 tahun (Implanon, Norplant).
- Rektal
Rektal adalah pemberian obat melalui rectum (dubur) yang layak untuk obat yang merangsang atau yang diuraikan oleh asam lambung, biasanya dalam bentuk suppositoria, kadang-kadang sebagai cairan (klisma: 2-10 mL, lavemen: 10-500 mL). Obat ini terutama digunakan pada pasien yang mual atau muntah-muntah (mabuk jalan atau migrain) atau yang terlampau sakit untuk menelan tablet. Adakalanya juga untuk efek lokal yang cepat, misalnya laksans (suppose, bisakodil/gliserin) dan klisma (prednisone atau neomisin).
peredaran darah pertama, sehingga tidak mengalami perombakan First Pass Effect. Pengecualian adalah bila obat diserap di bagian atas rectum dan oleh vena porta dan kemudian ke hati. Misalnya thiazianium. tubuh, dapat menyerap obat dengan baik dan menghasilkan terutama efek setempat. Secara intranasal (melalui hidung) digunakan tetes hidung pada selesma untuk menciutkan mukosa yang bengkak (efedrin, ksilometazolin). Kadang-kadang obat juga untuk memberikan efek sistemis, misalnya vasopressin dan kortikosteroida (heklometason, flunisolida).6
b. Intra-okuler dan Intra-aurikuler (dalam mata dan telinga)
Obat berbentuk tetes atau salep digunakan untuk mengobati penyakit mata atau telinga. Pada penggunaan beberapa jenis obat tetes harus waspada, karena obat dapat diresorpsi ke darah dan menimbulkan efek toksik, misalnya atropin.7
c. Inhalasi (Intrapulmonal)
Gas, zat terbang, atau larutan sering kali diberikan sebagai inhalasi (aerosol), yaitu obat yang disemprotkan ke dalam mulut dengan alat aerosol. Semprotan obat dihirup dengan udara dan resorpsi terjadi melalui mukosa mulut, tenggorokan dan saluran napas. Tanpa melalui
6 Ibid, hal 20
hati, obat dapat dengan cepat memasuki predaran darah dan menghasilkan efeknya. Yang digunakan secara inhalasi adalah anestetika umum (eter, halotan) dan obat-obat asam (adrenalin, isoprenalin, budenosida dan klometason) dengan maksud mencapai kadar setempat yang tinggi dan memberikan efek terhadap brochia. Untuk maksud ini, selain larutan obat, juga dapat digunakan zat padatnya (turbuhaler) dalam keadaan sangat halus (microfine: 1-5 mikron), misalnya natriumkromoglikat, beklometason dan budesonida.8
d. Intravaginal
Untuk mengobati gangguan vagina secara local tersedia salep, tablet atau sejenis suppositoria vaginal (ovula) yang harus dimasukkan ke dalam vagina dan melarut di situ. Contohnya adalah metronidazol pada vaginitis (radang vagina) akibat parasit trichomonas dan candida. Obat dapat pula digunakan sebagai cairan bilasan. Penggunaan lain adalah untuk mencegah kehamilan, di mana zat spermicide (dengan daya mematikan sel-sel mani) dimasukkan dalam bentuk tablet busa, krem atau foam.9 e. Kulit (topical)
Pada penyakit kulit, obat yang digunakam berupa salep, krim, atau lotion (kocokan). Kulit yang sehat dan utuh sukar sekali ditembus obat, tetapi resorpsi berlangsung lebih mudah bila ada kerusakan. Efek sistemis yang menyusul kadang-kadang berbahaya, seperti degan dengan kortikosterida (kortison, betametason, dll), terutama bila digunakan dengan cara occlusi.10
B. Keuntungan dan Kerugian Jalur Pemberian Obat
8 Ibid
9 Ibid, Hal 21
Secara umum, keuntungan dan kerugian dalam jalur pemberian obat adalah11
1. Oral
Keuntungan
- Sangat menyenangkan
- Biasanya harganya terjangkau
- Aman, tidak merusak pertahanan kulit
- Pemberian biasanya tidak menyebabkan stress
Kerugian
- Sulit bagi yang enggan menelan obat - Rasa cenderung pahit
- Proses cenderung lama
2. Sublingual
Keuntungan
- Proses absorpsi cepat, langsung pada vena mukosa
- Bentuk kecil tidak ribet diletakkan pada bawah lidah atau pipi
Kerugian
- Pemakaian bisanya hanya untuk seseorang yang pingsan - Dapat merangsang mukosa mulut
3. Rectal
Keuntungan
- Terhindar dari rasa pahit
- Absorpsi cepat karena langsung memasuki vena mukosa - Cepat melebur pada suhu tubuh
Kerugian
- Memberikan efek local - Efek samping sedikit
Kerugian
- Mungkin kotor dan dapat mengotori pakaian
- Cepat memasuki tubuh melalui abrasi dan efek sistematik
5. IM
Keuntungan
- Nyeri akibat iritasi kurang
- Dapat diberikan dalam jumlah yang besar dari pemberian SC - Obat diabsorpsi dengan cepat
Kerugian
- Merusak barier kulit
- Dapat menyebabkan kecemasan
6. Sub Cutan
Keuntungan
- Kerja obat lebih cepat dari pemberian oral
Kerugian
- Harus menggunakan teknik steril karena merusak barier kulit - Diberikan hanya dalam jumlah kecil
- Lebih lambat dari pemberian intaramuscular
- Lebih mahal dari obat oral, beberapa obat dapat mengiritasi jaringan kulit dan menyebabkan nyeri
- Dapat menimbulkan kecemasan
7. Intar Dermal
Keuntungan
- Absorpsi lambat
- Digunakan untuk melihat reaksi alergi
- Jumlah obat yang digunakan harus kecil - Merusak barier kulit
8. IV
Keuntungan
- Efek kerja cepat
Kerugian
- Terbatas pada obat dengan daya larut tinggi
- Distribusi obat mungkin dihambat oleh sirkulasi darah yang menurun
9. Inhalasi
Keuntungan
- Pemberian obat melalui saluran pernapasan - Obat dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar
Kerugian
- Obat dimaksudkan pada efek setempat - Menghasilkan efek sistemik
- Hanya digunakan untuk saluran pernapasan
C. Tepat Pemberian Obat
Farmasis mempunyai tanggungjawab yang besar berkaitan dengan pemberian obat. Antara lain harus mengecek mulai dari perintah melalui (telepon, resep, catatan medik), frekuensi pemberian (jika perlu, 1 kali perhari atau 4 kali perhari), indikasi, dosis dan jalur pemberian. Setelah pengecekan, paramedic harus memastikan bahwa pemberian obat yang diberikan mengikuti 6 benar atau tapat, yaitu tepat pasien, obat, waktu, dosis jalur pemberian dan tepat dokumentasi.12
1. Tepat Pasien
Pemberian obat yang tidak tepat pasien dapat terjadi seperti pada saat ordernya lewat telepon, pasien yang masuk bersamaan, kasus penyakit sama,
suasana pasien sedang kusut atau adanya pindahan pasien dari ruang satu ke ruang lainnya.
2. Tepat obat
Untuk menjamin obat yang diberikan benar, label atau etiket harus dibaca dengan teliti setiap akan memberikan obat. Label atau etiket yang perlu diteliti antara lain nama obat, sediaan, konsentrasi, dan cara pemberiaan serta Experied date. Kesalahan pemberian obat sering terjadi jika perawat memberikan obat yang disiapkan oleh perawat lain atau pemberian obat melalui wadah (spuit) tanpa identitas atau label yang jelas. Harus diusahakan menyiapkan sendiri obat yang akan diberikan.
3. Tepat Waktu
Pemberian obat berulang, lebih berpotensi menimbulkan pemberian obat yang tidak tepat waktu. Banyak obat yang pemberiannya menuntut harus tepat waktu. Misalnya pada kasus gawat darurat henti jantung, efinefrin diberikan setiap 3-5 menit, jika tidak dipatuhi akan menghasilkan kadar obat yang tidak sesuai. Kekurangan atau kelebihan keduanya sangat berbahaya. Termasuk tepat waktu juga mencakup tepat kecepatan pemberian obat melalui injeksi (bolus atau lambat) atau pemberian melalui infus. Banyak obat yang menuntut harus tepat waktu pemberian obat terlalu cepat atau lambat dapat berakibat serius. Contoh dopamin harus diberikan antara 2-10 g/kg/menit, atropin harus diberikan melalui injeksi IV bolus (cepat). Pemberian dopamin secara bolus dapat menimbulkan kematian, sedangkan pemberian atropin secara lambat akan memperparah brandikardi (perlambatan denyut jantung) yang paradoksial. Adenosin yang mempunyai waktu paruh (t1/2) sangat pendek harus diberikan dengan cepat supaya efektif.
4. Tepat dosis
5. Tepat rute
Jalur atau rute pemberian obat adalah jalur obat masuk kedalam tubuh. Jalur pemberian yang salah dapat berakibat fatal atau minimal obat yang diberikan tidak efektif. Sebagai contoh epinefrin diberikan secara subkutan pada pasien asma karena diabsorbsi secara lambat dan dapat berefek kira-kira 20 menit. Jika diberikan secara injeksi IM akan menyebabkan nekrosis jaringan karena terjadi vasokonstriksi berlebihan selain pasien juga tidak akan mendapatkan manfaat dari cara pemberian ini. Ketika diminta memberikan efinefrin secara subkutan dan diberikan secara injeksi IV dapat menimbulkan efek detrimental pada pasien dewasa karena peningkatan kebutuhan oksigen di jantung. Sebaliknya pemberian obat secara subkutan untuk pengurangan rasa sakit yang seharusnya diberikan secara injeksi IV akan menyebabkan perlambatan efek atau obat kurang efektif.
6. Tepat Dokumentasi
Aspek dokumentasi sangat penting dalam pemberian obat karena sebagai sarana untuk evaluasi. Menurut beberapa ahli, dokumentasi merupakan bagian dari pemberian obat yang rasional. Pemberian obat yang harus didokumentasikan meliputi nama obat, dosis, jalur pemberian, tempat pemberian, alasan pemberian obat, dan tandatangan yang memberikan.
D. Bentuk Sediaan Berdasarkan Jalur Pemberian
1. Sediaan Oral
a. Tablet yang digunakan melalui mulut13
Tablet kempa atau tablet kempa standar
Kategori ini menunjukan bahwa tablet yang tidak disalut standar dibuat dengan pencetakan dan penggunaan salah satu dari pembuatan tablet yaitu granulasi basah pencetakan ganda dan pencetakan langsung.
Tablet kempa ganda
Tablet kempa ganda adalah dua kelompok tablet yang dikempa beberapa kali yaitu tablet berlapis dari tablet yang disalut dengan pengempaan. Kedua jenis tablet ini merupakan system dua komponen atau tiga lapisan adalah salah satu tablet di dalam tablet.
Tablet dengan kerja berulang
Cara kerja dari tablet dengan kerja berulang dan batasan yang berdasarkan pada pengosongan lambung yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat diamalkan.
Tablet aksi dipertama dan tablet salut enteric
Bentuk sediaan tablet pertama dimasukkan untuk melepaskan obat sesudah penundaan beberapa lama atau setelah tablet melalui satu bagian saluran cerna bagian lainnya.
Contohnya : tablet salut enteric
Tablet salut gula dan tablet salut coklat
Tablet yang disalut dengan coklat sebetulnya sudah kuno. Anak-anak sudah salah sangka dikira permen. Tablet yang disalut dengan gulayang menyebabkan kerugian serupa.
Tablet bersalut lapis tipis
Tablet yang disalut dengan lapisan tipis atau film sudah dikembangkan sebagai suatu alternatif produsen untuk pembentukan tablet salut yang obatnya tidak diperlukan dalam penyalutan.
Tablet kunya
Tablet kunya dimaksudkan untuk dikunya dimulut sebelum ditelan dan bukan untuk ditelan utuh. Tujuan dari tablet kunya adalah untuk memberikan suatu bukan pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua yang mungkin sukar menelan obat utuh.
b. Tablet yang digunakan dalam rongga mulut14
Tablet buccal atau sublingual
Kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk diletakkan di dalam mulut agar dapat melepaskan ibatnya sehingga di serap langsung oleh selaput lendir.
Traches dan lotenges
Kedua jenis ini adalah bentuk lain tablet untuk pemakaian dalam rongga mulut, penggunaan kedua jenis tablet ini dimasukkan untuk member efek local pada mulut atau kerongkongan.
Kerucut gigi (dental cones)
Adalah suatu bentuk tablet yang cukup kecil dirancang untuk di tempatkan di dalam gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. c. Tablet yang digunakan untuk membuat larutan15
Tablet effervercent
Tablet ini di masukkan untuk menghasilkan larutan secara cepat dengan menghasilkan CO2 secara serentak.
Tabet Dispending (DT)
Tablet dimaksudkan untuk ditambahkan kedalam air dengan volume larutan oleh ahli farmasi atau konsumen untuk mendapat suatu larutan obat dengan kosentrasi tertentu.
Tablet Hipodermik (HT)
Tablet ini terdiri dari suatu obat atau lebih dengan bahan yang lain dengan secara larut dalam air dan dimasukkan untuk di tambahkan kedalam air yang sehat/air untuk injeksi.
Tablet Triturasi (TT)
Biasanya kecil dan silindris dibuat dengan menuang atau dengan mengempa.
2. Sediaan Rectal dan Vaginal
Sediaan rectal/vaginal antara lain;16 a. Suppositoria rektal/analia
Untuk dewasa kalau tidak dinyatakan lain beratnya adalah 3 g; bentuk lonjong pada salah satu atau kedua ujungnya, sedangkan untuk anak-anak kalau tidak dinyatakan lain beratnya adalah 2 g.
b. Suppositoria vaginal/ovula
Berbentuk bulat atau bulat telur, umumnya memiliki berat 5-15 g, sering disebut tablet vaginal.
c. Suppositoria urethal
Ukuran untuk pria adalah panjang 125-140 mm, diameter 3-6 mm, massa 4 g. Sedangkan untuk wanita panjangnya 50-70 mm dan massanya 2 g (setengah ukuran laki-laki).
d. Suppositoria Suspensi
Bentuk ini memiliki kelarutan bahan obat yang rendah di dalam basis sehingga bahan obat berada dalam bentuk tersuspensi (suspensi beku). e. Suppositoria Emulsi
Basis pengemulsi mempunyai berbagai keuntungan dalam teknologi pembuatan dan biofarmasi. Sedangkan kerugiannya adalah pengerasan akibat penguapan airnya, mudah mengering, mudah tercemari mikroba, mempengaruhi stabilitas bahan obat dan masa lemak, serta dapat mengurangi resorpsi bahan obat
3. Sediaan Implantasi
Sediaan Implantasi yakni17
Tablet inplantasi atau tablet depo
Dimasukkan untuk ditanam di bawah kulit manusia dan hewan
4. Sediaan Parenteral
16 Lachman. Teori dan Praktik Farmasi Industri III. UIP: Jakarta. 2008. Hlm. 1177-1178
Sediaan Prenteral meliputi18
a. Obat, larutan, atau emulsi yang digunakan untuk injeksi ditandai dengan nama: injeksi. Contoh: Injeksi Insulin
b. Sediaan padat kering atau cairan pekat yang tidak mengandung dapar, pengencer, atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang memenuhi persyaratan injeksi. Kita dapat membedakan dari nama bentuknya: steril. Contoh: Sodium steril
c. Sediaan seperti tertera pada no. 2, tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer, atau bahan tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama bentuknya: untuk injeksi. Contoh: Methicillin Sodium untuk injeksi.
d. Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. Kita dapat membedakannya dari nama bentuknya: suspensi steril. Contoh: Cortison Suspensi steril
e. Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan pembawa yang sesuai. kita dapat membedakan dari nama bentuknya: steril untuk suspensi
BAB III
TINJAUAN ISLAM
A. Sains dan Teknologi Kesehatan dalam Pandangan Islam
Tolak ukur era modern ini adalah sains dan teknologi. Sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat bagi kehidupan manusia. Dalam setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila ada suatu bangsa atau negara yang tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang tidak maju dan terbelakang.
Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan research dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini, dianugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.19
Pandangan Islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw:
Peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa. Ilmuwan-ilmuwan ini ternyata jika kita baca, mempunyai keahlian dalam berbagai bidang. Sebut saja Ibnu Sina. Dalam umurnya yang sangat muda, dia telah berhasil menguasai berbagai ilmu kedokteran. Mognum opusnya al-Qanun fi al-Thib menjadi sumber rujukan utama di berbagai Universitas Barat.
Selain Ibnu Sina, al-Ghazali juga bisa dibilang ilmuwan yang representatif untuk kita sebut di sini. Dia teolog, filosof, dan sufi. Selain itu, dia juga terkenal sebagai orang yang menganjurkan ijtihad kepada orang yang mampu melakukan itu. Dia juga ahli fiqih. Al-Mushtasfa adalah bukti keahliannya dalam bidang ushul fiqih. Tidak hanya itu, al-Ghazali juga ternyata mempunyai paradigma yang begitu modern. Dia pernah mempunyai proyek untuk menggabungkan, tidak mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Baginya, kedua jenis ilmu tersebut sama-sama wajib dipelajari oleh umat Islam.20
B. Obat bagi Segala Penyakit
Salah satu nikmat dari Allah Azza wajalla, ketika Allah Subhaanahu wata’aala, memberikan obat dari penyakit apa saja yang diderita oleh seorang hamba. Telah disebutkan dalam sahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radhiallohu Anhu bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda:
هل للزلننأل لإ ءءادل هللا للزلننأل ام
ءءافلشش
“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit melainkan Allah telah menurunkan untuknya obat penyembuh.”(HR.Bukhari).
Demikian pula disebutkan dalam sahih Muslim dari hadits Jabir radiallohu anhu, bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda:
لجو زع هشللللا نشذنإشبش ألرلبل ءشادلللا ءءاولدل بليصشأء اذإف ءءاولدل ءءادل للشكءلش
“Setiap penyakit ada obatnya, jika obat itu sesuai dengan penyakitnya, akan sembuh dengan izin Allah Azza wajalla,”(HR.Muslim).
Disebutkan pula dari hadits Usamah bin Syarik radiallohu anhu, berkata :
Telah datang seorang Baduwi kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia terbaik? Beliau menjawab: yang paling baik akhlaknya. Lalu Ia bertanya lagi: Wahai Rasulullah, Apakah boleh kami berobat? Jawab Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, :
هءللهشجل نم هءللهشجلول هءمللشعل نم هءمللشعل ءءافلشش هل للزلننأل لأ ءءادل لنزلشنليء مل هلللللا ناف اونولادلتل
“Berobatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit melainkan Allah menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya.”
Dalam riwayat lain dengan lafaz:
نننإإ
ممرنهنللا لاق وه امو هإلننلا لنوسمرن اي اولاق ددحإاون ءدادن ريغ ءءاوندن هل لنزننلأن لإإ ءءادن للزإنليم مل لجوزع هنلننلا
“Sesungguhnya Allah Azza wajalla, tidak menurunkan satu penyakit melainkan Allah menurunkan untuknya obat, kecuali satu penyakit”. Mereka bertanya: apa itu wahai Rasulullah?, Beliau menjawab: “Pikun”.(HR.Ahmad lafazh yang kedua diriwayatkan oleh Abu Dawud, Thabarani dalam al-kabir, Ibnu Hibban, Al-Hakim dalam Mustadrak, Humaidi dalam musnad, Mukhtarah, disahihkan Al-Albani dalam shahih al-jami’).
C. Hukum Jalur Pemberian Obat.
Pada dasarnya, semua jalur pemberian obat diperbolehkan sesuai dengan dalil-dalil obat bagi segala macam penyakit pada bagian sebelumnya. Namun, dalam keadaan puasa ada beberapa pendapat dan fatwa mengenai kehalalan jalur pemberian obat saat puasa antara lain;
Marilah kita simak teks Arab di bawah ini dengan seksama supaya diperoleh hukum yang jelas.21
Dari teks di atas, dapat diketahui bahwa hukum mengenai suntik pengobatan adalah tidak membatalkan puasa. Pendapat ini merupakan pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Muhammad Bukhoit, Syaikh Muhammad Syaltut, Dr. Fadhl Abbas, Dr Muhammad Haitu, dan Muhammad Basyir as Saqfah. Mereka berpendapat demikian karena puasa itu tetap sah sampai ada dalil yang menunjukkan kerusakannya dan injeksi (suntik) tidak termasuk kategori makan, tidak termasuk kategori minum, dan tidak bisa disamakan dengan makan dan minum. Sehingga suntik tidak membatalkan puasa.
2. Hukum Tetes Telinga Saat Berpuasa
Obat tetes telinga adalah obat farmasi yang diteteskan pada telinga. Apakah obat ini membatalkan puasa ataukah tidak? maka marilah kita simak teks dibawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami masalah yang ada22:
21 Abdul.Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. 2003.Hlm 257
Dari teks di atas dapat diketahui bahwa hukum obat tetes telinga masih diperselisihkan. Pendapat pertama, Madzhab Hanafi dan Maliki menghukumi batal puasanya sedangkan Madzhab Syafi’i dan hambali menghukumi batal puasanya jika obat yang diteteskan tersebut sampai ke otak. Pendapat ini didasarkan pada alasan jika obat yang diteteskan tadi sampai pada otak atau tenggorokan. Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak membatalkan puasa. Pendapat ini disampaikan oleh sebagian pengikut Madzhab syafi’i dan Ibnu Hazm al Andalusy dikarenakan apa yang diteteskan tidak sampi ke otak dan hanya sampai pada pori-pori.
3. Hukum Tetes Mata Saat Berpuasa
Marilah kita simak teks dibawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami masalah yang ada:23
Dari teks di atas dapat diketahui bahwa hukum obat tetes mata dalam konteks pembatal puasa adalah adalah: Pendapat pertama, Bahwa obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Ini pendapat Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Sholeh Ibnu Utsaimin, Dr Fadhl Abbas, Dr Hasan Haitu, Wahbah Az Zuhaily, Dr Ujail an Nasyimy, dan Ali As Salusy. Mereka berdalil bahwa satu tetes obat mata ini = 0,06 cm3. Dan ukuran ini tidak sampai ke dalam perut. Karena tetesan ini dalam perjalanannya melewati saluran air mata diserap seluruhnya dan tidak akan sampai pada tenggorokan. Jika kita katakan ada yang masuk ke dalam perut, maka itu adalah sangat sedikit sekali. Dan sesuatu yang sangat sedikit bisa dimaafkan. Sebagaimana dimaafkannya air yang tersisa dari kumur-kumur. Selain itu, alasan lainnya adalah obat tetes ini bukanlah perkara yang ada nashnya, dan tidak pula yang semakna dengan perkara yang ada nashnya. Pendapat kedua membatalkan puasa.
Pendapat tersebut diprakarsai dua ahli fiqih kontemporer yaitu Dr Muhammad Mukhtar as Salamy dan Dr Muhamad Alfy. Alasan mereka adalah obat tetes mata tersebut di dianalogikan kepada celak. Adapun analogi terhadap celak, maka tidak bisa dibenarkan (i) Karena celak sendiri belum jelas apakah membatalkan puasa, sedangkan hadits yang ada tentangnya adalah hadits yang dhoif (lemah) (ii) Karena itu adalah analogi terhadap sesuatu perkara yang masih diperselisihkan (iii) Dan karena dalil-dalil yang telah disebutkan pada pendapat yang pertama. Karena itu hal ini qiyasnya tidak benar.
KESIMPULAN
Jalur Pemberian obat dikelompokkan berdasarkan efeknya. Efek sistemis meliptuti; oral, sublingual, injeksi, implantasi dan rectal. Sedangkan efek local meliputi; intranasal, inhalasi, intravaginal dan topical.
Setiap jalur pemberian memiliki keuntungan dan kerugian
Enam tepat pemberian obat meliputi; tepat pasien, obat, waktu, dosis, rute dan dokumentasi
Setiap jalur pemberiann obat memiliki bentuk-bentuk sediaan tertentu yang mendukung jalur pemberian tersebut.
Islam menghalalkan sains dan teknologi kesehatan berdasarkan (QS: al-A’laq: 1-5)
Terdapat hadits-hadits yang menyatakan obat bagi segala macam penyakit
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, At Tibyan wal Ittikhaf Fi Ahkamis Shiyam Wal I’tikaf. Saudi Arabia: Darul Qiyam. 2003.
Abdul.Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. 2003. Anief, Moeh. Ilmu Meracik Obat. UGM Press: Yogyakarta. 2010.
Handayani, Gemy Nastity. Farmakologi. Cakrawala Publishing; Yogyakarta. 2009.
Katzug,B.G. Basic and Clinical Pharmacology, 9th ed, PP. 2003 Lachman. Teori dan Praktik Farmasi Industri II. UIP: Jakarta. 2008. Lachman. Teori dan Praktik Farmasi Industri III. UIP: Jakarta. 2008. Priyanto. Farmakologi Dasar. Leskonfi:Yogyakarta. 2008.
Utsaimin. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. 2008 Syalthut, Al Fatawa. Saudi Arabia: Darul Ilmiyah.2005. Hlm.136