• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jilid-13 Depernas 24-Bab-111

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jilid-13 Depernas 24-Bab-111"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 111. GAMBARAN KEADAAN JANG DIINGINI tjukup bila produksi sekarang dipertahankan dan diperkembangkan setjara routine. kan sebagai projek karena tidak memerlukan investasi besar dan rak -jat tani tidak sukar untuk diikut sertakan.

Mengenai peternakan kambing, domba, pemerahan susu, karena, memerlukan investasi agak besar dan pengetahuan teknis jang lebih chusus, maka projek ini dilandjutkan oleh djawatan-djawatan kehe-wanan dan/atau golongan swasta jang chusus memberikan minatnja.

Bila projek ini dilakukan besar-besaran, maka tudjuannja bukan lagi untuk memenuhi keperluan konsumsi protein dalam negeri, ka rena lebih tepat dimasukkan dalam projek-projek perindustrian.

Berdasarkan perhitungan perkembangan penduduk 2,3% tiap tahun dan target konsumsi protein nabati dan hewani jang ditentu-kan, maka kebutuhan sudah dapat dipenuhi dengan:

a. intensipikasi kedelai.

b. intensipikasi perikanan darat di Kalimantan. c. memadjukan peternakan ajam.

d. Intensipikasi peternakan hewan besar (seleksi bibit sapi).

Hal ini tidak berarti, bahwa usaha-usaha lain tidak perlu dimadju-kan, tetapi usaha-usaha lain itu diperkembangkan setjara routine, jang sifatnja lebih kommersiil, kedelai dari-tahun 1961 — 1968.

(2)

Daftar Keperluan akan kedelai dan rentjana produksi djuta hari per hun/ton jang di- 533.000

kapita/ rentjana- /ha. Tar-gram kan/ton get

pro-duksi

1. 1961 94,911 50 1.736.872 1.758.900 33 qt/ha. 2. 1962 97,094 50 1.776.820 1.777.495 33,35 “ 3. 1963 99.327 50 1.817.684 1.822.860 34,20 “ 4. 1964 101.611 50 1.861.082 1.865.500 35 “ 5. 1965 103.949 50 1.902.267 1.905.475 35,75 “ 6. 1966 106.340 50 1.943.022 1.945.450 36,50 “ 7. 1967 108.785 50 1.990.765 1.998.750 37,50 “ 8. 1968 111.287 50 2.036.452 2.132.000 40 “

Luas panen kedelai di Djawa dan Madura adalah 533.000 ha. De-ngan penanaman rakjat pada tahun 1958 hanja mendapat hasil seba-njak 372.000 ton dengan hasil 6,98 qt setiap ha.

Dengan usaha seleksi bibit setiap tahun dengan tidak usah me-pai target hasil per ha minimum menurut daftar diatas.

Keperluan terhadap protein nabati lainnja dipenuhi dengan ma-kanan katjang-katjangan lainnja, seperti katjang hidjau, katjang ta-nah, katjang merah dan minjak kelapa jang sudah ada.

§ 1250. Protein hewani

Untuk mentjapai nilai gisi jang baik, setiap rakjat Indonesia ha-rus makan sekurangnja 8 gram zat putih telur dari hewani atau telur setiap hari.

Berdasarkan djumlah penduduk, dapat dilihat keperluan setiap tahun dengan target setiap hari jang dinaikkan sampai 15 gr. pada th. 1967 dan 1968 per kapita.

Dilihat dari segi kebutuhan terhadap makanan protein, dengan memperhatikan produksi setiap tahun, dapat pula dilihat keku-rangan jang dihadapi.

(3)

Dafta

r keperluan terhadap protein tahun 1961 — 1968.

1. 1961 94.911 8,1 ± 3 284.733 1.423.665 2. 1962 97.094 8,3 ± 3,5 329.829 1.649.145 3. 1963 99.327 9 ± 3,66 363.527 1.817.635 4. 1964 101.611 10,9 ± 44 406.444 2.032.200 5. 1965 103.949 12 ± 4,7 488.549 2.442.745 6. 1966 106.340 13,5 ± 5 531.700 2.658.500 7. 1967 108.785 15 ± 5,5 598.317 2.991.585 8. 1968 111.287 15 ± 5,5 612.078 3.060.390

Produksi dalam negeri pada tahun 1958. (a) perikanan darat 272.548 ton (b) “ laut 421.000 “

Djumlah : 693.548 ton = ± 138.709 ton protein. (c) pemotongan daging :

(1) resmi 205.602 ton (2) tidak resmi 84.027 “

Djumlah : 289.629 ton = ± 57.926 ton protein. (d) pemotongan ajam 343.273 ton

(e) pemotongan itik 8.880 “

Djumlah : 352.153 ton = ± 70.430 ton protein. Djumlah (a) s/d (e) = 1.335.330 ton = 267.065. ton protein

Selain itu tersedia produksi :

(a) susu perusahaan rakjat 30.000 ton = 1.143 ton protein. (b) telur ajam 28.132 ton

} 9.414 ton protein. (c) telur itik 50.320 ton

Djumlah (a) s/d (c) 108.452 ton = 10.557 ton protein. Djumlah seluruhnja 1.443.782 ton = 277.617 ton protein.

(4)

Djadi djumlah protein jang tersedia oleh produksi tahun 1959 = ± 277.617 ton.

Maka kekurangan protein hewani setiap tahun adalah :

Tahun 1961 = 7.116 ton protein = 35.580 ton daging dan atau “ 1962 = 52.212 ton “ = 261.060 ton idem. “ 1963 = 85.910 ton “ 429.550 ton idem. “ 1964 128.824 ton “ 644.120 ton idem. “ 1965 210.932 ton “ 1.054.660 ton idem. “ 1966 254.083 ton “ 1.270.415 ton idem. “ 1967 320.700 ton “ 1.603.500 ton idem. “ 1968 334.461 ton “ 1.672.312 ton idem.

§ 1251. Tjara menutupi kekurangan protein hewani

Kekurangan tersebut diatas biasanja ditutup dengan mengimpor usahakan: antara lain dengan mengintensipkan perusahaan perikanan darat di Kalimantan. hasil di Djawa dan Madura sebanjak 250 kg. per ha, sedang luas per-ikanan darat di Kalimantan meliputi 8.054.000 ha.

(5)

§ 1252. Kemungkinan surplus dengan hasil 30 kg. sadja setiap ha.

§ 1253. Sumber-sumber perikanan darat di Kalimantan Daerah sumber perikanan darat di Kalimantan itu jaitu : a. Kalimantan Timur :

1. Berau 2. Kutai. b. Kalimantan Selatan :

c. Kalimantan Tengah + Timur :

1. danau-danau sepandjang sungai Barito 2. daerah Sampit

3. daerah Kota Waringin. d. Kalimantan Barat.

§ 1254. Alat dan bahan untuk intensipikasi a. bahan dan alat.

1. garam 8.400 ton setahun 2. benang 93 ton

3. pantjing 1.525.000 mata pantjing 4. kawat (dari tembaga) 15,5 ton.

5. paso atau gutji mulut besar = ± 3.000 satuan isi a 60 — 100 liter.

6. lampu minjak tanah, suar, semprong ± 3.000 setahun.

(6)

b. alat pengangkutan :

1. alat pengangkutan garam clan perikanan clari dan kepulau Djawa jaitu 1. kapal a 1500 ton, dengan prekwensi 2 — 3 kali seminggu.

2. 1 kapal a 1000 ton dengan prekwensi 2 - 3 kali seminggu route Ketapang — Pontianak — Pemangkat — Pontianak — Tandjung Satai — Djakarta.

3. 2 kapal 250 ton untuk route intern

4. 6 motor boot a 100 pk. route intern

5. 2 motor boot a 30 pk. route intern

6. 5 motor boot tongkang route intern.

Perusahaan perikanan darat dan Taut dapat diperluas sedemikian rupa, sehingga sipatnja merupakan industri, sebagai sumber ekspor.

Dart segi memenuhi keperluan pangan, maka usaha diatas sudah mentjukupi tudjuan untuk menghentikan impor ikan dan mentjapai nilai gisi rakjat jang baik.

Perikanan laut dimasukkan dalam projek industri, mengingat sifat dan tudjuannja terutama tidak sekedar memenuhi kebutuhan pangan, tetapi lebih bersifat kamersiil (untuk ekspor) dan karena memerlukan investasi jang besar.

(7)

PENDJELASAN TENTANG RENTJANA PEMBANGUNAN KALIMANTAN DILAPANGAN PERIKANAN DARAT

(8)
(9)
(10)
(11)

Mengenai hal jang kedua, ada 2 tjorak, jaitu mengambil perse-diaan protein hewani dari laut, dan mengambil perseperse-diaan dari per-airan-perairan darat.

Penangkapan ikan dilaut pada umumnja memerlukan penanaman modal jang besar bagi kaum nelajan, sedang pekerdjaan-pekerdjaan ini membawa risiko-risiko djasmaniah jang besar pada nelajan sen-diri, karena bahaja-bahaja jang disebabkan oleh faktor-faktor alam seringkali sangat besar.

Eksplotasi laut kita harus diintensifkan, sehingga ini the long run dapat ditjapai suatu tingkat produksi jang maksimal, Intensivering harus segera dimulai, tetapi mengingat kemampuan kaum nelajan da-lam penanaman modal, perhatian chusus ditjurahkan kepada pengam-bilan persediaan-persediaan protein hewani alami jang terdapat di-perairan-perairan darat. Dalam hal ini, menilik luasnja perairan-per-airan dan kemungkinan-kemungkinannja, dan dengan pertimbangan bahwa menaikkan produksi ikan adalah bagi kepentingan pulau Dja-wa dengan penduduknja jang sebagai daerah konsumsi, maka perha-tian chusus itu harus diarahkan kedaerah-daerah diluar Djawa, jakni Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian Barat.

Diantara daerah-daerah ini jang wadjar harus mendapat perha-tian chusus, ialah Kalimantan, dengan lain perkaperha-tian : pembangunan usaha penangkapan ikan di Kalimantan harus merupakan projek di-dalam usaha mempertinggi hasil ikan.

(12)

1. Dari djumlah 9 djuta hektar perairan bebas diseluruh Indonesia terdapat kurang lebih 5 djuta hektar di Kalimantan.

2 Perairan bebas ini baru menghasilkan rata-rata 24 kg sehektar sedangkan potensi rata-rata jang ditaksir setjara rendah sekali tidak kurang dart 80 kg/ha/tahun.

3 Walaupun djumlah nelajan relatif kurang, dengan memperbanjak dan memperbaiki alat, produksi dengan mudah dapat dipertinggi.

(13)
(14)
(15)
(16)

7. Disamping bahagian-bahagian jang telah setjara dieksploitasikan intensief, masih terdapat daerah-daerah luas jang masih belum dieksploitasikan, atau jang intensita penangkapannja masih re-ndah sekali.

8. Jang sangat penting pula ialah bahwa perairan-perairan Kaliman-tan, berbeda halnja dengan sebagian dari Sumatera dan Sulawesi. Perairan Kalimantan merupakan perairan umum, dimana tiap-tiap rakjat Indonesia berhak menangkap ikan tanpa izin dan tan-pa lisensi, ketjuali beberatan-pa perairan ketjil di Kalimantan Timur jang merupakan domein dari Sultan-sultan dan bagian-bagian perairan jang hak penangkapan dipegang oleh keluarga-keluarga tertentu sebagai warisan di Kalimantan Barat.

Usaha-usaha untuk menaikkan produksi dan menampung produksi tambahan tentu membawa pula beberapa masalah jang harus diper -hatikan dan dipetjahkan sebelumnja dan mengenai hal-hal jang pen-ting ada ditjantumkan didalam perintjian dari projek Kalimantan itu.

(17)

Rawa-rawa di Kalimantan masih banjak berisi ikan jang belum ditangkap dalam djumlah jang semestinja, karena pelajanan kepada nelajan jang berupa alat-alat jang diperlukan untuk menangkap ikan setjara teratur dan kontinu masih sangat kurang. Begitu pula pemba--gian garam jang diperlukan dan pembelian hasil kerdja mereka.

Penangkapan ikan diperlantjar dengan memenuhi kebutuhan-ke-butuhan ini, adalah : garam dalam djumlah jang tjukup, bahan-bahan kebutuhan untuk hidup seharihari, pembelian dan pengangkutan ha -sil-hasil penangkapan kedaerah konsumen (Djawa) (berupa ikan asin.) setjara teratur dan. kontinu.

Dalam garis besarnja, untuk perhubungan antara Kalimantan dan Djawa dapat dipergunakan 2 kapal, 1 dari 1000 ton dan 1 dari 1500 ton. Kapal-kapal ini mengambil garam dari Madura dan bahan-bahan keperluan hidup serta alat-alat penangkapan ikan dari Djawa dan

(18)

ngangkutnja ke kota-kota atau tempat-tempat jang terletak dimuara-muara sungai tempat pelabuhan rawa-rawa itu. Dari tempat-tempat ini diadakan sematjam „voordienst” dengan kapalkapal ketjil dan motor -boot-motorboot, jang mengangkut bahan-bahan tadi sedjauh mungkin ketempat-tempat nelajan. Rentjana untuk „voerdienst” ini dibuat se-suai dengan besarnja sungai dan taksiran djumlah dan motorboot-mo-torboot dengan tongkang-tongkangnja bertugas djuga untuk memper

-mudah dan mempertjepat perdjalanan nelajan dari kota-kota pelabu-han ketempat-tempat penangkapan ikan dan menarik serentetan tong-kang-tongkang waktu kembali.

Usaha pengangkutan, pemberian perlengkapan dan pembelian ha-si1 ikan asin hendaknja diusahakan oleh suatu unit tersendiri dari pada U.P.I.

Hasil ikan asin dibeli dan didistribusikan keseluruh Djawa, misal -nja oleh P.T. Negara setempat.

(19)
(20)
(21)

1. BERAU: intensivering penangkapan dirawa-rawa dan danau-danau ketjil sekitar sungai Berau (Sungai Segah dan sungai Kelai). Djika perlu dengan membuka djalan perahu jang te-lah tertutup vegetasi antara sungai-sungai ini dan rawa-rawa/ danau.

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)

(f) Pembedahan gosong danau melintang.

(28)
(29)

(g) Intensivering penangkapan ikan di Mahakam waktu. Ru-memperbanjak Kempang tokong pada tempat ini.

b. Kalimantan Selatan.

1. Intensivering penangkapan sepat rawa dengan tempirai-tem-pirai dan pengilar-pengilar Randjau d.l.l. seluruh daerah.

2. Memperbanjak sulamban-sulamban di sungai-sungai.

3. Mengasin ikan-ikan jang biasanja dibuang pada musim ke-marau (riu, lais ketjil, senggatingan dll.).

4. Intensivering penangkapan ikan buas dengan rawai dan pe— njuaran.

5. Mempergunakan landrah-landrah atau rengge dan kempang-kempang didanau-danau dan padang-padang.

6. Pengaputan anak-anak sungai Barito jang ketjil-ketjil.

c. Kalimantan Tenpah dan Kalimantan Tengah-Timur.

1. a. Intensivering ekspiotasi danau-danau sepandjang sungai Barito dihilir dan dihulu Barito dengan djalan memper-gunakan landrah atau rengge dan pengaputan sungai-sungai jang menghubungkan danau-danau ini dengan su-ngai Barito.

b. Pengaputan anak-anak sungai Barito jang ketjil.

c. Memperbanjak sulamban di anak-anak sungai Mengka-tip.

d. Memperbanjak kempang-kempang dan rengge-rengge di padang-padang, begitu pula rawai.

e. Mengaput anak-anak sungai dari Sungai Mengkatip, Su-ngai Kapuas dan SuSu-ngai Kehajan, serta memperbanjak sulamban ditempat-tempat ini.

f. Introduksi sepat siam didaerah ini. 2. DAERAI­I SAMPIT.

a. Intensivering penangkapan didanau Belandjau, Ajapba

-kung dengan rengge dan idem dirawa-rawa sekitarnja.

b. Memperbanjak sulamban dan kempang tokong, serta pe-ngaputan anak-anak sungai ketjil dengan kempang.

(30)
(31)

d. Introduksi sepat siam.

3. DAERAH KOTA WARINGIN

a. Eksploitasi intensif dad danau-danau ketjil dengan intro-duksi-sepat siam.

b. Intensivering penangkapan di sungai-sungai Lamandau, Bila, Djeli dan pengaputan anak-anaknja.

c. Memperbanjak sulamban ditempat jang baik

d. Kalimantan Barat.

1. Intensivering penangkapan didanau-danau disekitar Tajan dan introduksi sepat siam.

2. Pengaputan anak-anak sungai ketjil dari Sungai Kapuas.

3. Intensivering penangkapan, di Sungai Sambas, anak-anaknja

clan rawa-rawa disekitarnja dengan landrah.

4. Pemasangan djermal-djermal disekitar muara sungai Sambas, daerah delta sungai Kapuas, sungai Lida, sungai Pawan (Ke-tapang)

5. Intensivering penangkapan didaerah hulu Ketapang dengan sulamban, kempang.

6. Eksplotasi pant-pant di kebun-kebun kelapa dengan peme-liharaan ikan-ikan rutjah (mudjair), sepat, tambakan.

7. Memperbanjak sulumban-sulumban clan bubu djari didaerah danau di Kabupaten Sintang.

8. Memperbanjak rengge-rengge dan kempang-kempang serta intensivering penangkapan dengan rawai.

9. Memindahkan sementara nelajan-nelajan pada waktu-waktu tertentu ketempat-tempat jang banjak ikan, djika disekitar kampungnja ikan sudah kurang sekali.

10. Pengaputan anak-anak sungai didaerah danau Kapuas Hulu. 11. Pembukaan lalu-lintas perahu, djika alunan sungai atau

ter-usan tertutup vegetasi.

(32)

§ 1258. Masalah jang harus dihadapi

5. Pangkalan Boen atau Kumai atau Kotawaringin. 6. Pontianak (Kal. Barat).

Distribusi dari stapelpaatson kepusat-pusat pendjualan sebagai berikut :

(a) Tandjung Redeb : dapat setempat dan djika perlu diadakan 1

a 2 pusat pendjualan.

(c) Bandjarmasin ke : (1) Negara

(33)

(d)Sampit ke : (1) Sampit.

(2) Kasungan. (3) Mendawai. (4) Bangkal.

(e)Kunai ke : (1) Pangkalan Boon. (2) Kotawaringin. (3) Soekamara.

(f) Pontianak ke : (1) Sintang.

(2) Selimban (Tjabang hoofdstapel-plaats).

(3) Semitau. (4) Boenoet.

(5) Salah satu kampung di Danau Luar. tempat/pusat-pusat pendjualan bahan-bahan untuk alat-alat pe-nangkapan ikan beserta kebutuhan sehari-hari dari nelajan.

b. Masalah pengangkutan. Bandjarmasin — Surabaja — Semarang — Tjirebon — Djakarta. Djuga melajani kepentingan Perikanan Laut.

Semester ke 2 tiap-tiap tahun diutamakan route : Djakarta — Ban-djarmasin — Kota Baru — Samarinda — Surabaja — Semarang — Tjirebon — Djakarta (2 X sebulan, terutama dibulan Djuli

s/d Oktober).

1 kapal a 1 0 0 0 ton, frequensi 1 X 2 — 3 minggu dengan route : Kumai — Ketapang — Pontianak — Pemangkat — Pontianak — Tandjungsatai — Djakarta (djuga untuk Perikanan Laut).

(34)

1 Motorboot 50 plc. dengan tongkang di Tandjung Redeb. 1 kapat 250 ton untuk route : Samarinda — Muara Muntai.

1 Motorboot 100 pk. dengan tongkang untuk route : Muara Muntai — Muara Pahu — Melak — uLang Iran pp.

1 Motorboot 100 pk.

dengan tongkang untuk route : Muara

Ka-man — Muara Antjalong — Kembang Djanggut — Kota Bangun

p.p.

1 Motorboot 30 pk sebagai sleepboot untuk Kota Bangun — Pala-kahala — Melintang — Anggelam p.p.

1 Motorboot 30 pk. sebagai sleepboot untuk Muara Muntai — Utoh — Djantur — Danau Djempang p p.

2 Motorboot 100 plc, + tongkang untuk Bandjarmasin — Muara Bahan — Negara -- Amuntai p.p.

1 Motorboot 100 plc. + tongkang untuk Bandjarmasin — Muara Bahan — Mengkatip — Buntok — Kelahien p.p.

1 Motorboot + tongkang untuk Bandjarmasin — Kuala Kapuas — Pulangpisau — Palangkaraja.

1 Motorboot + tongkang untuk daerah Sampit.

1 Motorboot -j- tongkang untuk daerah Kotawaringin. I kapal 250 ton untuk Pontianak — Sintang — Selimban p.p. 2 Motorboot --tonykang untuk daerah Danau Kapuas Hulu. 1 Motorboot untuk daerah Sambas.

Djika muatan atau bahan-bahan keperluan perikanan kurang, mo-torboot-motorboot dan kapal-kapal ini dapat pula melajani hasil-hasil jang lain.

§

1259. Djumlah keperluan-keperluan perikanan itu

(35)

Alokasi tiap-tiap bulan akan ditetapkan lebih landjut. b. B e n a n g .

1. KALIMANTAN TIMUR 33 ton terdiri dari 2 ton No. 60/3

15 ton No. 30/3

Sedapat mungkin No. 60/3 atau 30/3 diganti dengan lawe No. 20 atau 22.

(36)

c. Pantjing (flatted, bronzed or lback, medium shaft) type geter- deerd.

Kalimantan Selatan :

300.000 mata pantjing No. 10, 11, 12. 100.000 mata pantjing No. 5, 6, 7. 25.000 mata pantjing No. 15, 16.

Kalimantan Selatan :

300.000 mata pantjing No. 10, 11, 12. 200.000 mata pantjing No. 5, 6, 7.

Kalimantan Tengah :

500.000 mata pantjing No. 10, 11, 12. 50.000 mata pantjing No. 5, 6, 7.

Kalimantan Barat :

300.000 mata pantjing No. 10, 11, 12. 200.000 mata pantjing No. 5, 6, 7. Barat rata-rata 1. tahun masing-masing 500.— 1000 st.

f . Lampu minjak tanah (dapat dibuat di Kalimantan Barat) suar (refleceterlampen) dan semprong, untuk Kal. Timur, Kal. Selatan, + Tengah, Kal. Barat tiap-tiap tahun masing-masing 1000.

Mengenai biaja dapat dilihat dalam pola projek.

§ 1260. Tjara distribusi garam dan bahan-bahan perikanan Tiap-tiap nelajan mempunjai kartu lisensi untuk :

(37)

Pembelian dapat dilakukan ditempat pendjualan manapun, se -hingga nelajan tidak terikat kepada satu tempat pendjualan. Kontrole harus dilakukan dengan memperhatikan tanggal pembelian terachir.

Waktu mengeluarkan kartu lisensi diadakan pentjatatan dari alatalat (perahu dan alat-alat penangkap ikan).

Selain usaha perikanan, untuk memperoleh amber protein hewani dengan tak usah menambah investasi jang besar, diusahakan per -kembangan peternakan ajam rakjat dengan :

a. penjuntikan ajam rakjat setjara masal.

b. penjebaran bibit ajam jang bermutu tinggi dengan mendirikan fokstation peternakan ajam dais mengimpor bibit ajam jang ber -mutu tinggi.

c. perkembangan „broedoentrales” menurut petundjuk Balai Penje -lidikan Peternakan. Organisasi peternakan ajam itu ialah dengan : a. mendirikan „poultry farms” dengan bentuk koperasi rakjat jang

dibantu oleh Djawatan Pertanian setempat. b. menggiatkan usaha-usaha swasta.

Untuk melaksanakan rentjana ini selandjutnja perlu pendjelas -an/uraian dari badan jang sudah berpengalaman.

Dibawah ini dimuatkan keterangan dari „Persatuan Peternakan Sedjahtera” jang dianggap berpengalaman dalam bidang peternakan ajam.

(38)

URAIAN TENTANG PETERNAKAN AJAM

PERLUNJA BROEDCENTRALE BALAI PUSAT PENJELIDIKAN PETERNAKAN

§ 1262. Tjara penetasan

Usaha menetaskan telur ajam setjara besar-besaran dengan bantu-an rakjat jbantu-ang berdiam disalah satu ketjamatbantu-an ( ± 20 desa).

TJARANJA:

Pada tingkatan pertama Balai Pusat Penjelidikan Peternakan dan Tjabangnja menjediakan ajam djantan Ras untuk disebarkan disuatu Ketjamatan jang akan dipilih.

Kemudian dari tiap-tiap Desa akan dibeli 2 X seminggu telur-te-lur ; sekali beli 100 butir, sebulan mendjadi 800

a

1000 butir per Desa.

Djumlah pembelian sebulan maksimum : 20.000 telur untuk di-tetaskan.

Ditaksir tiap-tiap bulan akan diperoleh 10.000 anak ajam-blaster-an, jang pada umur 45 — 60 hari diserahkan kepada rakjat untuk di-besarkan, agar mendjadi ajam potongan.

Mengingat angka kematian antara 10 — 6 — 20%, dapat diharap-kan perminggu menjerahdiharap-kan 2000 anak ajam umur 14 — 2 bulan.

a. tanah seluas 5 ha, jang dilinasi kawat listrik P.L.N.

b. gedung, berupa beberapa loods-pandjang, misalnja 5 buah loods dari ukuran 10 X 50 m, plesteran-batu, Binding papan, atap gen-teng, plan dari gedeg, tingginja 5 meter. Dalam tiap-tiap loods akan terdapat. boxen (dalam dan luar), dalam tiap-tiap loods

da-pat dipelihara 5000 ekor anak ajam. Sebuah loods dipergunakan untuk tempat penetasan, tempat „schouwen” dan kantor,

c. beberapa rumah sederhana untuk pegawai.

d. 8 buah mesin tetas „Econoom” berkapasita 3000 telur.

Diduga mesin-mesin ini dapat dioper dari Djawatan Kehewanan. e. lampu-lampu pemanas (kooldraad-lampen) sebanjak 1000 buah. f. tiga buah penggilingan 5 PK, digerakkan oleh Electromotor 4 KW. g. tjikar-tjikar pengangkutan dan sapi penarik.

h. schouwlampen dengan kekuatan battery sebanjak 50 buah.

(39)

Rentjana Anggaran Belandja.

a. Ongkos Eksplotasi : 1.Ongkos makan

10.000 X 30 X, Rp. 0,10 = Rp. 30.000, — Rp.

10.000 X 30 X Rp. 0,20 = Rp. 60.000,— “ 90.000, 2.Lain-lain ongkos pemeliharaan “ 10.000, 3.Harga telur 20.000 x Rp. 3,50 = “ 70:000, 4.Sawa listrik, dan ongkos-ongkos “ 15.000, 5.Upah/gadji pegawai/pekerdja “ 15.000,

(c) Interieur loods berupa, 250 boxen

a

Rp. 5.00,— Rp. 125.000,

(d) Instalasi listrik & air minum =

Rp 175.000,— Rp. 1.500.000, 3. Mesin tetas (dari Djawatan Kehewanan) P.M. 4. Penggilingan Rp. 250.000, 5. Alat transport, 5 tjikar dan saps penarik ...„ 75.000, 6. Lampu-lampu pemanas dan perkakas2 lain „ 75.000,

§ 1263. Peternakan ajam sebagai usaha pelengkapan kekurangan protein hewani

Sjarat-sjarat umum jang dipenuhi dalam usaha peternakan ajam. Dibawah ini kami ingin membahas setjara popular persoalan-per-soalan mengenai :

a. Ajam Ras.

1. Menternakkan ajam ras memang membutuhkan keahlian.

Oleh karena itu, hanja dapat diusahakan oleh orang-orang jang dapat membatja petundjuk-petundjuk tertulis, atau oleh orang-orang jang dapat menerima petundjuk lisan setjara serius.

(40)

2. Untuk memulai peternakan dibutuhkan keuletan, untuk tidak pa-tah hati ditengah djalan, jaitu dengan kejakinan, bahwa orang pasti bisa berternak, dengan tudjuan, bahwa ia akan menghasilkan sesuatu, jaitu telur ajam, dan kemudian uang untuk membiajai nafkahnja.

3. Kesukaran-kesukarannja adalah banjak sekali.

Tetapi Badan-badan research telah dapat mengatasi kesukaran-ke-sukaran tersebut. Jang dimaksud dengan Badan-badan Research adalah :

(1) Balai Pusat Penjelidikan Peternakan,

(2) Lembaga Pusat Penjelidikan Penjakit Hewan.

4. Oleh karena itu penting sekali untuk mengumumkan pendapat baru fang dihasilkan oleh Badan-badan Research tersebut setjara tje-pat dan meluas, dengan menggunakan istilah-istilah jang popular. 5. Sedjak tahun 1955 basil-hasil penjelidikan dibidang usaha peternakan

telah diterima dari B.P.P.P. (dokter Wardojo c.s.), dianta-ranja tentang potstal methode, dan lain-lain.

Sedjak tahun 1958 hasii hasil penjelidikan dibidang usaha p e m b e -rantasan penjakit ajam jang penting-penting untuk diketahui,

(a) pseudo-vogelpost, (b) penjakit tjatjing, (c) penjakit snot, (d) penjakit coccidiosis, (e) penjakit diptherie/tjatjar,

telah diterima dari I.P.P.P.H. (dokter Karjana c.s.).

6. Keterangan-keterangan tersebut (mengenai usaha peternakan

Tidak panas, tjukup ventilasi mendapat sinar matahari diwaktu pagi hari atau diwaktu sore hari.

8. Bibit ajam. Tidak baru mentjari obat, sesudah ajam kelihatan sakit. Obat-obat jang terpenting ialah :

pseudo vogelpost vaccin, diphteric/pokken vaccin, obat tja-tjing (peperasin), Trisulfa.

(41)

10. Agak pandai menentukan diagnose dari

penjakit-penjakit ajamajamnja sendiri. Tiap-tiap peternakan

sewadjarnja mengetahui terutama tentang seluk

beluk ajamnja sendiri, diantaranja penjakitnja,

karena ia mengikuti perkembangan ajam-ajamnja

sedjak dari ketjil.

11. Mengetahui susunan makanan ajam jang baik.

Mengerti tentang berbagai-bagai Vitaminen,

Mineralen, protein hewan dan tumbuhan.

Kesimpulan pendek.

Djika hal-hal tersebut diatas dipenuhi, maka usaha

peternakan

ajam akan berdjalan dengan sangat memuaskan

(produksi baik dan risiko minim).

Apa sebab banjak timbul kegagalan ?

Karena sjarat-sjarat umum jang tersebut diatas 1

s/d 11 sebagian atau sebagian besar tidak atau belum

dipenuhi.

Apa sebab orang belum atau tidak memenuhi

sjarat-sjarat umum?

Karena sjarat-sjarat Umum tersebut diatas bagi

seseorang belum dianggap hal jang penting sekali,

atau sudah diinsjafi sebagai hal jang penting sekali,

tetapi opset dari usaha peternakannja tidak seimbang

dengan dajakerdja dan modal sipeternak (ekonimos

zwak).

atau

kesulitan-kesulitan untuk mendjalankan sjarat-sjarat

umum tersebut, umpamanja kesukaran mendapatkan

bahan-bahan jang diperlukan.

b.

Ajam kampung (ajam Indonesia).

Sjarat-sjarat umumnja adalah dalam garis besarnja

sebagai

beri-kut: Sanggup dan bersedia menjelenggarakan

pemeliharaan

dan

menaikkan

mutu/meninggikan mutu

(veredelen) ajam-ajam kampung.

Pada umumnja didesa-desa mempunjai ajam adalah

barang jang

tidak disengadja.

Tidak memakai biaja, tetapi

kalau setjara kebetulan mendatangkan basil, maka

setiap ekor ajam dapat ditukar dengan 7 sampai 10

liter

beras.

(noot : ajam dewasa).

Perintjiannja adalah sebagai berikut:

Sanggup membuat kandang, tidak hanja dikolong

rumah sadja atau didapur jang berdingding bolong

(bahaja terhadap luwak, pentjuri dan sebagainja).

Bersedia menjuntik/disuntik ajam-ajamnja terhadap

pseudovogelpest, setiap enam bulan.

Sanggup mengurus anak-anak ajam sewaktu masih

ketjil.

Dilin-dungi terhadap hudjan, terhadap luwak, terhadap

burung

elang

dll.

(42)

Kalau hal tersebut diatas tidak dipenuhi, sekalipun

orang

ber-ulang-ulang menetaskan telur, tidak akan ada produksi

ajam.

Kalau

ada, adalah setjara kebetulan sadja.

Bersedia menukar djago-djago kampung dengan

djago-djago ras. Menurut pengalaman persilangan

antara djago ras dan betina

kam-pung, anaknja sanggup bertelur lebih banjak daripada

induknja.

(43)

Tetapi walaupun di kampung sudah banjak djago ras, sedangkan pemeliharaan anak-anak ajam dan pendjagaan terhadap penjakit pseu-dovogelpest terutama tidak didjalankan, maka keturunannja hampir tidak ada, karena banjak sekali jang mati.

Kesimpulan pendek.

Ternjatalah, bahwa peternakan ajam-kampung adalah djauh lebih mudah daripada ajam ras. Untuk meningkatkan hasil minimal diperlu -kan.

1. Menjuntik ajam dewasa enam bulan sekali (pest) termasuk me-njuntik anak-anak ajam fang berumur dua minggu.

2. Mengganti djago-djago kampung dengan djago-djago ras, untuk mendapatkan keturunan jang banjak.

Perlu diketahui, bahwa setiap tahun paling sedikit sekali, penjakit pseudovogelpest menjapu ajam jang ada, sampai hampir habis. Djadi sebenarnja, kalau hanja dengan pengintensivir penjuntikan pes sadja, sudah dapat dipertahankan djumlah ajam-ajam jang ada.

Tetapi dengan mengamuknja penjakit pseudovogelpest itu, dja-nganpun meninggikan produksi, mempertahankan djumlah ajam sadja hampir tidak mungkin.

Dengan adanja aktivitat-aktivitat menggunakan vaccin terhadap penjakit tersebut, maka kerugian sudah dapat ditjegah, sekalipun belum seluruhnja.

§ 1264. Pengalaman usaha peternakan ajam Bogor dan sekitarnja Seperti telah dimaklumi, maka Bogor merupakan suatu pusat Penjelidikan dengan segala eksperimennja dalam bidang peternakan. Disana terdapat:

a. Lembaga Pusat Penjelidikan Penjakit Hewan. b. Balai Pusat Penjelidikan Peternakan.

c. Fakultas Kedokteran Hewan.

Instansi-instansi ini membawa pengaruh jang tidak sedikit terha-dap perkembangan peternakan, baik didalam kota maupun didesa-desa.

Dibawah ini akan diutamakan setjara Was beberapa perkembangan sedjak tahun 1952 terlihat usaha peternakan ajam ras:

1. Kira-kira tahun 1952 terlihat usaha peternakan di Gang Menteng, kepunjaan Saudara Noch. Bibit ajam tersebut, menurut keterangan, dibeli dasi perusahaan peternakan ajam Missouri di Bandung. 2. Sebuah toko „Keruhun” mulai mendjual mesin penetas telur, bibit

ajam dan telur tetas.

3. Eksperimen peternakan dari Djawatan Kehewanan Daerah Bogor mulai bekerdja di Tjilebut, 5 kilometer dari kota.

4. Didesa Pasarejan, 27 km'dari kota, kelihatan ajam ras kepunjaan Saudara Soleh Iskandar.

(44)

5. Djawatan Pembangunan Usaha Tani Bogor mulai memberikan objek ketjil-ketjil kepada organisasi-organisasi peternakan ajam misalnja Kerukunan Tani dan Taman Pemuda Tani, dan

mesin-Tjatatan ini berlangsung sepandjang tahun 1952.

Setelah diteliti, maka ternjata, bahwa modernisasi usaha peter-nakan ajam ras dengan sjarat-sjarat minimum/umum dikalangan ma-sjarakat desa, masih terlalu pagi ,karena orang-orang desa mempunjai ajam itu sebagai hal jang tidak disengadja, tidak dibutuhkan kandang, tidak disediakan makanan, mati boleh, hilang boleh.

Mereka tidak mengusahakan, supaja ajam-ajam itu mendatang-kan keuntungan dan mereka tidak mengusahamendatang-kan, supaja ajam-ajam itu mendatangkan keuntungan dan mereka tidak mentjegah kerugian.

Dengan meningkatnja harga barang-barang sedjak tahun 1952 orang desa telah menginsjafi, bahwa ajam adalah barang jang ber-harga, dapat menjambung umur beberapa hari, bahkan kini 1 ekor ajam dapat ditukar dengan 7 sampai 10 liter beras.

Tiap-tiap tahun penjakit pseudovogelpest (tetelo) mengamuk, jang hampir membinasakan seluruh ajam.

-Usaha penjuntikan untuk mentjegah penjakit itu benangsur-ang-sur didjalankan.

Mula-mula tidak dapat berdjalan lantjar, tetapi usaha-usaha pen-didikan sedikit dilantjarkan dikalangan masjarakat dewy sehingga mentjapai hasil jang lumajan. Usaha itu berdjalan kira-kira lima ta-hun, dan mulai tahun 1957, usaha-usaha pemberantasan penjakit te-telo berdjalan dengan giatnja, terutama dimana ada swadaja/otoakti-vita dart rakjatnja sendiri.

Dibawah ini terlihat kampung kampung jang telah pernah meng-adakan penjuntikan pentjegah setjara massal, jaitu :

Tjianggu Tjikurai Gunungbatu Taman Tanah Sewa Djambuluwuk Darmaga Tjikaret Tarikolot Hulurawa Tandjakan Sukamadju Babakan Mijan Kebandungan Tjiapus

Sampai achir tahun 1958 tertjatat ± 60 kampung jang terletak diseluruh kabupaten Bogor, jang telah pernah dan berulangkali meng -adakan gerakan penjuntikan pentjegah tetelo.

Dikebahui pula bahwa dikampung-kampung itu telah ada djago ras, sebagai usaha meninggikan mutu (vordeling) ajam kampung.

(45)

Selain dari pada itu telah diketahui pula bahwa telah ada kira -kira 40 orang (kader), yang telah memiliki alat suntikan (injectiespuit) untuk digunakan dalam usaha pemberantasan penjakit tetelo.

Pelapor jakin, bahwa angka-angka tersebut djauh lebih rendah

Dalam tahun-tahun 1959 dan 1960 Bogor menerima kiriman telur dan anak-anak ajam dari luar negeri, jaitu dari Denmark, Belanda dan Inggeris sebagai usaha mengadakan Bloedverversching. Kiriman ter-sebut adalah gift, jang diusahakan oleh salah satu peternak Saudara Soetioso. Pemeliharaan pertama (karantain verploging) dilakukan oleh L.P.P.P.H. dan B.P.P.P. dan Saudara Kapten Samsudin, sebagai pen-djaga terhadap penjakit-penjakit jang mungkin dibawa dari negeri aslinja.

Pada tanggal 1 Djuli tahun 1955 atas inisiatip Saudara Pasaribu cs. diadakan rapat pembentukan Koperasi Peternakan ajam SEDJAHTERA di di aula B.P.P.P. dimana, Dokter Wardojo memberikan dorong-an-dorongan dan inspirasi4nspirasi tentang peternakan ajam ras, de

(46)

ngan mengambil tjontah Djerman, jang pernah dikundjungi oleh be -liau. Sebagai Ketua dipilih Saudara Kapten Samsudin Natadisastra.

Rapat tersebut jang telah mulai timbul sebagai tjendawan di -musim hudjan sebelum tahun 1955.

Tiga tahun berdjalan dengan suka dan duka, keuntungan dan kerugian jang diderita oleh para peternak, disebabkan karena:

(a). Sjarat minimum/umum belum disadari penuh oleh para peternak. (b). Obat-obat belum tersedia lengkap, sehingga sering para peternak

menggunakan obat jang mahal seperti streptomicin, penicilin, te -trachloor dan lain sebagainja.

Sering menghebat penjakitpenjakit, semangkin sering para pe -ternak mengundjungi L.P.P.P.H. (Dr. Kurjana), jang ternjata tidak se-dikit memberikan pertolongan.

Dengan digunakannja obatobat baru, jaitu piperasin, trisulfa, di -samping obat-obat jang sudah popular seperti vaccin, pest dan pokken dan setelah peternakan-peternakan mentaati sjarat-sjarat minimum, maka kini para peternak dapat mengetjap kebahagiaan.

Penghasilan telah dapat menutup pengeluaran keuntungan jang tidak sedikit telah diterima oleh para peternak.

Hingga kini, jaitu sampai laporan ini dibuat, telah ada ± 109 (seratus sembilan) peternak jang bekerdja sungguhsungguh atau se -tengah sungguh-sungguh.

Angka tersebut bukan angka jang pasti dan pelapor jakin, bahwa djumlahnja lebih banjak tjatatan tersebut berdasarkan ingatan dan tidak berdasarkan pendaftaran.

Kesimpulan pendek.

Penjakit ajam jang berbahaja adalah tetelo.

Karena itu mesti diadakan pemberantasan massal. Slides tentang andjuran keharusan menjuntik pentjegah tetelo dengan istilah jang terang/djelas dan mudah diterima hendaknja dipasang oleh Pemerin -tah disemua bioskop.

Kebutuhan akan protein adalah panting sekali, oleh karena itu hendaknja diusahakan setjara besar-besaran membangkitkan swadaja rakjat untuk berternak ajam, baik ajam kampung, maupun ajam ras, dengan sjaratsjarat minimum dalam mentjegah penjakit dan meme -lihara ajam-ajam tsb.

Tanpa swadaja rakjat, usaha gerakan peternakan ,ajam tidak

mungkin mempunjai areal jang luas. Swadaja ini dapat dibangkitkan dengan memberikan pengertian-pengertian akan urgensinja berter-nak, baik dalam segi sosial-ekonomis maupun dalam segi kesehatan rakjat atau pribadipribadi sendiri. Bahwa swadaja rakjat telah nam -pak, telah sama-sama kita maklumi ; sekarang tinggal memupuknja sadja lagi,

(47)

§ 1265. Pembentukan unit peternakan ajam di kewedanaan —

seba-RENTJANA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MENGGILING BA-HAN-BAHAN MAKANAN AJAM, DENGAN „PRODUKSI SEHARI

(48)

TJATATAN:

Perusahaan ini merupakan PERUSAHAAN KEPERTJAJAAN, karena makanan menentukan PRODUKSI dan KESEHATAN ternak. PEWUDJUDAN dilakukan dalam kantung-kantung dengan tinubangan tertentu memakai tanda djaminan (garansi).

KETERANGAN.

Modal uang tunai jang diperlukan sekali gus jaitu untuk: 1. Pembelian alat-alat/perkakas-perkakas/

perlengkapan ... = Rp. 50.000, 2. Pembelian bahan.bahan makanan untuk per

sediaan sebulan, sebanjak ± 120 kwintal ... = Rp. 62.000, TJADANGAN (dibulatkan) Rp. 112.000,

D J U M L A H Rp. 120.000,

Penempatan dan lain-lain.

1. Berhubung dengan tarif listrik jang tinggi, tempat pengawasan dan lain-lain memerlukan ketelitian, maka untuk sementara PER-USAHAAN ditempatkan/ditempat tinggal salah seorang Pengu-rus PePengu-rusahaan Peternak „SEDJAHTERA” Bogor, jang dapat me-isi „UNIT-UNIT” Rukun Tetangga jang di-konsolidasi-kan.

5. Semua tenaga pembantu disiapkan supaja nanti mendjadi „peng -usaha” di DESA.

6. Mesin giling dapat dibuat di Bogor, karena PABRIK-PABRIK BEST banjak dan alat-alat Berta perkakas-perkakasnja tjukup pula, ketjuali beberapa alat-alat listrik dan electromotor jang masih bergantung pada impor.

(49)

ANGGARAN BELANDJA

§ 1266. Rentjana Pembentukan Unit Peternakan ajam di Keweda-naan sebagai usaha dalam perlengkapan kekurangan akan „Protein Hewani”

Selama Pembentukan Unit „Besar” Kewedanaan, Unit „Terketjil” R-T. di-konsolidasi-kan melalui „Autoaktiviteit”.

Biaja jang untuk „Konsolidasi” Unit Rukun Tetangga dan basil jang

diharapkan.

Standard Bogor) Rp. 60.000,- Rp. 30.000,- Rp. ………. Rp. ………. III. Alat-alat pengobatan.

VI. Seekor 100 gram sehari

(50)

KEUNTUNGAN TAHUN PERTAMA = Rp. 270.000.— +

Atau dinilai dengan TELUR = Rp.___________= 100 butir telur. (berat te-2.50

lur ± 50 gr)

100

Djadi tiap djiwa sehari = _____________= 2/3 butir telur = 1 butir telur 5 X 3 0

PEMBENTUKAN UNIT PETERNAKAN AJAM DI KEWEDANAAN — SEBAGAI USAHA PERLENGKAPAN KEKURANGAN AKAN

„PROTEIN HEWAN” MELALUI „OTOAKTIVITA”

TJONTOH KOTAPRADJA BOGOR

Sebelum dimulai dengan „konsolidasi” Desa, di Kota harus siap lebih dahulu:

1. Pendjualan dan penggilingan bahan-bahan makanan ajam. (Untuk memudahkan pengawasan dan

peme-riksaan, karena belum ada WAREN-WET") DIGUNAKAN MAKANAN menentukan PRODUKSI dan

KE-SEHATAN AJAM UNTUK MEN

2. PENETASAN (broed-centrale) DIDIK TJA-(sementara di L.P.P.H. dan B.P.P.P.) LON-TJALON

(51)

3. MEMILIH (sexing) KOTA/KEWEDANAAN

(Sementara di kedua Lembaga, „chicktester” selandjutnja ha-sudah ada satu) nja mendjadi

4. MEMBESARKAN chusus ajam betina, untuk SUPPLY

keper-petelur, sampai umur ± 4 bulan (hampir tidak luau bahan-ba-ada lagi gangguan penjakit) han

an, dsb.

5. MEMBESARKAN chusus ajam potong (djantan) (jang baik, didjadikan pedjantan). 6. PENJALUR TELUR.

Tjatatan :

Untuk mentjegah supaja djangan sampai terus menerus MAKAN-AN MMAKAN-ANUSIA didjadikan makanan ajam, di Daerah-daerah jang subur untuk ditanami bahan-bahan makanan, sebaiknja didirikan INDUSTRI-INDUSTRI (minjak, tepung, bidji-bidji d.l.l.).

1. BUNGKIL KATJANG KEDELAI, menurut penjelidikan mempu-njai nilai :

PROTEIN KASAR JANG DAPAT DITJERNAKAN 36,5

MARTABAT PATI

73,-LEMAK 9,0

SERAT KASAR 10,4

2. DEDAK KATJANG HIDJAU (tepung-hun-kwe) mempunjai nilai : PROTEIN KASAR JANG DITJERNAKAN 17,1

MARTABAT PATI

36,-LEMAK 1,0

SERAT KASAR 21,6

3. BUNGKIL KATJANG TANAH, mempunjai nilai :

PROTEIN KASAR JANG DAPAT DITJERNAKAN

38,-MARTABAT PATI

80,-LEMAK 8,5

SERAT KASAR 8,9

4. DEDAK DJAGUNG, mempunjai nilai :

PROTEIN KASAR JANG DAPAT DITJERNAKAN 5,6

MARTABAT PATI

68,-LEMAK 6,4

SERAT KASAR 9,8

5. TEPUNG IKAN.

(52)
(53)

ANGGARAN BELANDJA

URAIAN 2 tahunINVESTASI1 tahun EKSPLOI-TASI HASIL

2. Ongkos menetaskan ±

Keuntungan tiap kali menetaskan atau tiap bulan — Rp. 9.600,— Rp. 7.960,— = Rp. 1.640, —

TJATATAN:

Untuk mendjadi pengusaha MENETASKAN tidak semudah

(54)
(55)

Seorang penetas dan pembantu-pembantunja diibaratkan induk ajam jang hendak/sedang mengeram ; pekerdjaannja „CHUSU” dan „CHUSUS”.

Bogor sanggup dan mampu membuat mesin tetas bergantung dari kapasitet paling ketjil hingga paling besar.

Sajang, beberapa matjam alat/perkakas rnasih bergantung pada EMPAT RATUS ekor anak ajam sehari.

Tiaip hari dapat dipilih sekuranwkurangnja dua tiga ribu ekor anak ajam.

Untuk tiap Kewedanaan sudah tjukup satu alat — „keliling” Latihan bergantung pada .banjaknja anak ajam jang barn „me-netas” djika tiap hari Dada 100 ekor, dalam waktu 2 minggu sudah dapat memilih antara tiga empat ratus ekor tiap-tiap djam. Harga alat di Djepang ± ...$ 150,—(Alat tersebut dapat digunakan memakai aliran listrik 115 volt

atau batre 6 Volt, dengan tidak memerlukan alat-alat lain lagi).

PERUSAHAAN „MEMBESARKAN”.

PERUSAHAAN INI MEMERLUKAN „ORANG” JANG DAPAT MENGGANTIKAN „INDUK AJAM”.

DAFTAR PERINTJIAN PENGELUARAN DAN HASIL-HASIL JANG

DIHARAPKAN.

URAIAN 5 tahunINVESTASI1 tahun EKSPLO-TASI HASIL

UNTUK TIAP 100 ekor

Umur 0 s/d 4 bulan …….. …. ………. ……

A. Chusus membesarkan ajam betina untuk petelur

(56)

URAIAN INVESTASI EKSPLO- HASIL makanan sehari rata-rata 5 kg. A Rp. 7,-/Kg selama

manen 2 tingkat) “ 6.000,- “

1.200,-6. Perlengkapannja “ 500,- “

(57)

PERHITUNGANNJA DENGAN MEMAKAI DASAR 100 ekor anak AJAM =

50 x Rp. 85,— = = Rp. 4.250,—dikurangi upah 2 pembantu

a

Rp. 750,— = Rp. 1.500,— = Rp. 2.750,

Perhitungan-perhitungan diatas hanja memberi gambaran sadja, jang belum dapat dipakai sebagai „patokan”, karena untuk „membesarkan” anak ajam sebanjak 5000 ekor, tanah + pagar harus diperhitungkan pula.

Ini sebaiknja dilakukan oleh Pemerintah sadja dulu dan meng alihkannja ke „swasta” lebih dahulu harus melalui pendidikan jang „sungguh”, banjak PRAKTEK dan pendidikan-pendidikan jang lain (aansehouwlijk).

Untuk dapat melaksanakan unit-unit R.T. hendaknja diminta bantuan „peternak” jang ada dan jang sudah biasa „membesarkan” untuk kepentingannja sendiri.

Untuk dapat melaksanakannja peternak jang diminta bantuannja dibuatkan kandang menurut kemampuannja dan makanan disediakan setjukupnja.

Kandang dapat mendjadi milik peternak dengan djalan mengangsurnja dengan

a. peternakan hewan besar sebagai sumber daging dan susu

b. peternakan hewan ketjil, jang harus dimadjukan dalam rangka pembangunan tj:ukupkan/djaminan persediaan makanan hewan jang baik. Projek intensipikasi djagung antara lain dimaksudkan sebagian untuk keper-luan makanan hewan.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Athiyah Al-Abrasyi bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang- orang

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Setiap peserta didik telah memiliki keterampilan proses ilmiah dengan kriteria Cukup Baik

Pembelajaran kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar peserta didik dan kinerja peserta didik

Indikator yang ditetapkan oleh sekolah untuk mengawasi dampak dari tercapainya keluaran kegiatan (misal: Dokumen KTSP menjadi sesuai SNP sebagai dampak dari hasil pelatihan

Upaya yang dilakukan oleh Tokopedia dengan menekankan pada penggunaan teknologi internet sebenarnya lebih diarahkan untuk menciptakan cashless society (masyarakat

Pada ikan berparuh, khususnya ikan pedang, untuk memperoleh data frekuensi panjang relatif sulit karena hasil tangkapan langsung diproses di laut, yaitu kepala, sirip, isi perut