1 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... RELATIONS OF MOTHER’S KNOWLEDGE AND BEHAVIOR REGARDING ACUTE RESPIRATORY TRACT INFECTION (ARI) AND PRECAUTIONS OF ARI
AT PUSKESMAS LINDU SUB-DISTRICT LINDU DISTRICT SIGI IN 2015
Angga Pratama Putra*, I Nyoman Widajadnja**, Moh. Salman***
* Medical Student, Faculty of Medicine and Health Science, Tadulako University
** Department of Physiology, Faculty of Medicine and Health Science, Tadulako University *** Department of Histology, Faculty of Medicine and Health Science, Tadulako University
ABSTRACT
Background: According to the WHO (2007), Acute respiratory tract infection (ARI) is the leading cause of morbidity and mortality of infectious diseases in the world. Almost 4 million people die from ARIs each year. The mortality rate is very high in infants, children, and elderly people. Each child is estimated to have 3-6 episodes of ARI annually. 40-60% of visits in primary health care are due to ARI. and attitudes of mothers about the disease acute respiratory infections (ARI) with preventive care in health centers ARI in infants earthquake
Objective: To determine the relationship of mother's knowledge and behavior about the disease acute respiratory infections (ARI) with precautions of ARI in infants at Puskesmas Lindu, Sub-district Lindu District Sigi
Methods: This study design used observational analytic with cross-sectional approach. Sampling was conducted by accidental sampling method. Total sample were 83 mothers registered at Puskesmas Lindu accordance with inclusion and exclusion criteria. The independent variables were in the form of knowledge and behavior, using primary data, the instrument used was a questionnaire. The dependent variable was in the form of preventive measures towards ARI, the instrument used was a questionnaire. Data analysis used chi-square test.
Results: Based on the statistical test showed that, there was a relationship of mothers knowledge about ARI with preventional behaviors P = 0.049 and no relation between mothers behavior towards ARI prevention with a P value = 0.032
Conclusion: There is a relationship of mothers knowledge and behavior about the acute respiratory tract infections (ARI) with precautions of ARI in infants at Puskesmas Lindu, Sub-district Lindu District Sigi
2 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ...
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN SIKAP IBU TENTANG PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS LINDU
KECAMATAN LINDU KABUPATEN SIGI TAHUN 2015
Angga Pratama Putra*, I Nyoman Widajadnja**, Moh. Salman***
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako **Bagian Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako ***Bagian Departemen Histologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Menurut WHO (2007)Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) penyebab
utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir 4 juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40%-60% dari kunjungan dipuskesmas adalah ISPA. Hal ini yang mendasari penulis melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan tindakan pencegahan penyakit ISPA pada balita di puskesmas lindu
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan tindakan pencegahan penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Lindu Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan
cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling.
Jumlah sampel 83 ibu balita yang terdaftar di Puskesmas Lindu yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas berupa pengetahuan dan sikap, menggunakan data primer, instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Variabel terikat berupa tindakan pencegahan ISPA, instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square
Hasil: Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa, ada hubungan pengetahuan ibu balita tentang ISPA dengan perilaku pencegahan dengan nilai P= 0,049 dan ada hubungan sikap ibu balita tentang ISPA dengan perilaku pencegahan dengan nilai P=0,032
Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan tindakan pencegahan penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Lindu Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi
3 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ...
PENDAHULUAN
Infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) penyebab utama morbiditas dan
mortalitas penyakit menular di dunia.
Hampir empat juta orang meninggal
akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran
pernapasan bawah. Tingkat mortalitas
sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan
orang lanjut usia, terutama di
negara-negara dengan pendapatan perkapita
rendah dan menengah [1].
Salah satu penyakit infeksi yang paling
sering diderita oleh balita adalah Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA). ISPA
merupakan salah satu masalah kesehatan
yang banyak terjadi di negara maju dan
negara berkembang. Hal ini dikarenakan
masih tingginya angka kesakitan dan
kematian balita yang disebabkan oleh
ISPA. ISPA adalah radang akut saluran
pernapasan baik saluran nafas atas
maupun bawah yang disebabkan oleh
infeksi [2].
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
adalah penyakit infeksi yang menyerang
salah satu bagian atau lebih dari saluran
napas, mulai dari hidung (saluran atas)
hingga alveoli) (saluran bawah) yang
ditandai dengan gejala batuk, sesak nafas,
dan bisa juga mengakibatkan demam.
Insiden ISPA tertinggi balita pada umur
6-12 bulan dan pada usia 1- 4 tahun[3].
Dinas kesehatan Kabupaten Sigi tahun
2012 jumlah penduduk 219.294 jiwa,
jumlah balita 21.929 orang, pneumonia
ringan usia < 1 tahun 391 orang, usia 1-4
tahun 792 orang. Pneumonia berat usia <
1 tahun 27 orang, usia 1-4 tahun. Tahun
2013 jumlah balita 22.006 orang,
pneumonia ringan usia < 1 tahun 405
orang, usia 1-4 tahun 731 orang.
Pneumonia berat usia < 1 tahun 15 orang,
usia 1-4 tahun 10 orang. Tahun 2014
jumlah balita 22.006 orang, pneumonia
ringan usia < 1 tahun 493 orang, usia 1-4
tahun 794 orang. Pneumonia berat usia <
1 tahun 5 orang, usia 1-4 tahun 1 orang.
Januari-Juli 2015 jumlah balita 22.006
orang, pneumonia ringan usia < 1 tahun
170 orang, usia 1-4 tahun 291 orang.
Pneumonia berat usia < 1 tahun 6 orang,
usia 1-4 tahun 3 orang[4].
Berdasarkan hasil pengambilan data awal
dilakukan oleh peneliti di Puskesmas
Lindu tahun 2012 jumlah balita 487
orang, pneumonia tidak ada. Batuk bukan
4 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... 1-4 tahun 120 orang. Tahun2013 jumlah
balita 480 orang, pneumonia ringan usia <
1 tahun 2 orang, usia 1-4 tahun tidak ada.
Pneumonia berat tidak ada. Tahun 2014
jumlah balita 480 orang, pneumonia
ringan usia < 1 tahun 7 orang, usia 1-4
tahun tidak ada. Pneumonia berat tidak
ada. Tahun 2015 jumlah penduduk 4.801
jiwa, jumlah balita 480 orang, pneumonia
ringan usia < 1 tahun 1 orang, usia 1-4
tahun 1 orang. Pneumonia berat tidak
ada[5].
Berdasarkan uraian diatas saya
tertarik untuk melakukan penelitian
tentang hubungan pengetahuan dan sikap
ibu tentang penyakit infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) dengan tindakan
pencegahan penyakit ISPA pada balita di
Puskesmas Lindu Kecamatan Lindu
Kabupaten Sigi.
METODE
Penelitian ini menggunakan
rancangan analitik observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Penelitian
dilakukan di wilayah kerja Puskesmas
Lindu, Kecamatan Lindu. Pengambilan
sampel dilakukan dengan metode
accidental sampling. Jumlah sampel 83
ibu balita yang terdaftar di Puskesmas
Lindu yang sesuai dengan kriteria inklusi
dan eksklusi.
Instrument penelitian yang
digunakan untuk menilai variabel
pengetahuan dan sikap, menggunakan
data primer, yaitu pengisian kuesioner.
Skala pengukuran yang digunakan pada
variabel pengetahuan dan sikap adalah
skala ordinal. Pada variabel tindakan
pencegahan, juga menggunakan data
primer, yaitu pengisian kuesioner, dimana
skala pengukuran yang digunakan adalah
skala ordinal .
Analisa statistik untuk
mengetahui hubungan pengetahuan dan
sikap ibu tentang penyakit infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) dengan tindakan
pencegahan penyakit ISPA pada balita di
Puskesmas Lindu Kecamatan Lindu
Kabupaten Sigi adalah uji chi square.
HASIL
1. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan di kerja
Puskesmas Lindu pada tanggal 6 Januari
5 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... jumlah responden sebanyak 83 ibu balita
dengan hasil sebagai berikut :
1) Umur ibu balita.
Distribusi responden menurut
usia ibu balita dalam penelitian ini
yaitu mulai umur 18-44 tahun.
Tabel 4.1 Distribusi responden menurut Umur ibu balita diPuskesmas Lindu
Kelompok Umur
Frekuensi (f)
Persentasi (%) < 20 tahun
21-35 tahun
> 35 Tahun
2
50
31
2,4
60,2
37,3
Total 83 100
Sumber : Data primer 2016
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut umur ibu
terbanyak adalah kelompok umur
21-35 tahun sebanyak 50 orang (60,2%),
dan umur > 35 tahun sebanyak 31
orang (37,3%) dan yang paling sedikit
umur < 20 tahun sebanyak 2 orang
(2,4%).
2) Pendidikan Responden
Distribusi responden menurut
pendidikan dalam penelitian ini yaitu
SD sampai S1 (Sarjana)
Tabel 4.2 Distribusi responden menurut Pendidikan ibu balita di Puskesmas Lindu
Tabel 4.2. menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut
pendidikan terbanyak adalah
pendidikan menengah atas
(SMA/SMK) sebanyak 36 orang
(43,4%), pendidikan menengah
pertama (SMP) sebanyak 21 orang
(25,3%), pendidikan dasar (SD)
sebanyak 17 orang (20,5%),
Diploma/Akademi sebanyak 8 orang
(9,6%) dan paling sedikit adalah S1 1
orang (1,2%).
3) Pekerjaan Responden
Distribusi responden menurut
pekerjaan dalam penelitian ini yaitu
Tani, URT, Wiraswasta dan PNS
6 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... Tabel 4.3. menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut pekerjaan
terbanyak adalah URT sebanyak 74
orang (86,7%), swasta sebanyak 7
orang (8,4%), PNS sebanyak 2 orang
(2,4%) dan paling sedikit adalah tani 1
orang (1,2%), wiraswasta 1 orang
(1,2%).
b. Pengetahuan
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan tentang pengetahuan ibu
balita di Puskesmas Lindu
dikelompokkan menjadi 2 yaitu
pengetahuan baik (skor median ≥ 9),
pengetahuan kurang baik (skor median
< 9), untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Distribusi responden menurut pengetahuan ibu balita di Puskesmas Lindu
Pengetahuan Frekuensi Persentasi (%)
Sumber: Data Primer, 2016.
Tabel 4.4. menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut
pengetahuan terbanyak adalah
pengetahuan baik sebanyak 48 orang
(57,8%), dan paling sedikit adalah
pengetahuan kurang baik sebanyak 35
orang (42,2%).
c. Pengetahuan
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan tentang pengetahuan ibu
balita di Puskesmas Lindu
dikelompokkan menjadi 2 yaitu
pengetahuan baik (skor median ≥ 9),
pengetahuan kurang baik (skor median
< 9), untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Distribusi responden menurut sikap ibu balita di Puskesmas Lindu
Sumber : Data primer 2016.
Tabel 4.5. menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut sikap
terbanyak adalah sikap baik sebanyak
51 orang (61,4%), dan paling sedikit
adalah sikap kurang baik sebanyak 32
7 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ...
d. Tindakan
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan tentang tindakan ibu balita di
Puskesmas Lindu dikelompokkan
menjadi 2 yaitu tindakan baik (skor median ≥ 28), sikap kurang baik (skor median < 28), untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Distribusi responden menurut tindakan ibu balita di
Sumber : Data primer 2016.
Tabel 4.6. menunjukkan bahwa
distribusi responden menurut tindakan
terbanyak adalah tindakan baik
sebanyak 46 orang (55,4%), dan paling
sedikit adalah tindakan kurang baik
sebanyak 37 orang (44,6%).
e. Diagnosis Balita
Distribusi responden menurut
diagnosis penyakit ISPA dari hasil
diagnosis dokter
Tabel 4.7 Distribusi responden menurut diagnosis balita di Puskesmas Lindu
No Diagnosis
Balita Frekuensi Persentase 1
Sumber : Data primer 2016.
Tabel 4.7. menunjukkan bahwa
responden yang diagnosis oleh dokter
menderita ISPA sebanyak 15 orang
(18,1%) dan tidak menderita ISPA
sebanyak 68 orang 81,9%).
2. Analisis data bivariat
Analisis bivariat dimaksudkan untuk
mengetahui hubungan antara pengetahuan
dan sikap ibu balita dengan tindakan
pencegahan penyakit ISPA di Puskesmas
Lindu.
a. Hubungan pengetahuan dengan
Tindakan pencegahan
Berdasarkan hasil analisis dengan
menggunakan uji statistik Chi square
tentang hubungan pengetahuan ibu balita
dengan tindakan pencegahan penyakit
ISPA di Puskesmas Lindu sebagai berikut:
8 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... Tabel 4.8 menunjukkan bahwa dari
35 responden yang memiliki
pengetahuan kurang baik, terdapat 20
responden (57,1%) yang memiliki
perilaku pencegahan ISPA kurang
baik dan 15 responden (42,9%)
perilaku pencegahan ISPA baik.
Sebanyak 48 responden yang
mempunyai pengetahuan baik, terdapat
17 responden (35,4%) mempunyai
perilaku pencegahan ISPA kurang
baik, dan 31 responden (64,6%)
dengan perilaku pencegahan ISPA
yang baik. Hasil uji hipotesis dengan
Chi Square menunjukkan nilai p =
0,049. Nilai p = 0,049 (p<0,05)
peneliti dapat menginterpretasikan
bahwa keputusan Ha diterima dan Ho
ditolak yang artinya ada hubungan
pengetahuan ibu balita tentang
penyakit infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA) dengan perilaku
pencegahan pada balita di
Puskesmas Lindu.
b. Hubungan sikap dengan tindakan
pencegahan
Berdasarkan hasil analisis
dengan menggunakan uji statistik Chi
square tentang hubungan sikap ibu
balita dengan tindakan pencegahan
penyakit ISPA di Puskesmas Lindu
sebagai berikut:
Tabel 4.9. Hubungan sikap ibu balita dengan tindakan
pencegahan penyakit ISPA di Puskesmas Lindu
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa
dari 32 responden yang memiliki
sikap kurang baik, terdapat 19
responden (59,4%) yang memiliki
perilaku pencegahan ISPA kurang
baik dan 13 responden (40,6%)
perilaku pencegahan ISPA baik.
Sebanyak 51 responden yang
mempunyai sikap baik, terdapat 18
responden (5,3%) mempunyai
perilaku pencegahan ISPA kurang
baik, dan 33 responden (64,7%)
9 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... baik. Hasil uji hipotesis dengan Chi
Square menunjukkan nilai p =
0,032. Nilai p = 0,032 (p<0,05)
peneliti dapat menginterpretasikan
bahwa Ha diterima dan Ho ditolak
yang artinya ada hubungan sikap ibu
balita tentang penyakit infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA)
dengan perilaku pencegahan pada
balita di Puskesmas Lindu.
PEMBAHASAN
1. Pembahasan karakteristik
responden
Hasil penelitian ini menunjukkan
umur responden sebagian besar
berumur antara 20-35 tahun (60,2%)
dan bahkan ada 2 orang berumur < 20
tahu (2,6%). Banyaknya responden
yang berumur muda dapat disebabkan
adanya latar belakang keputusan
untuk menikah. Responden yang lulus
SD ataupun SMP memutuskan untuk
menikah dan tidak melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi
dikarenakan kepercayaan masyarakat
setempat dan faktor geografi yang
tidak memungkinkan mereka untuk
melanjutkan pendidikan.
Tingkat pendidikan responden
menunjukkan banyak pada tingkat SD
dan SMP sebanyak 38 orang (45,8%).
Banyaknya responden dengan
pendidikan SD/SMP dapat
mengakibatkan masih banyak perilaku
yang kurang baik dalam pencegahan
ISPA pada balita. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden sebagai ibu rumah tangga
yaitu 86,7%. Kondisi ini tidak terlepas
dari latar pendidikan yang berhasil
diselesaikan. Banyaknya pendidikan
SD/SMP mengakibatkan
berkurangnya kesempatan responden
untuk mendapatkan pekerjaan. Alasan
lain yaitu keinginan ibu untuk
menjadi ibu rumah tangga karena
ingin merawat anaknya sendiri dengan
baik sehingga dapat memantau
perkembangan dan pertumbuhan anak
balitanya.
Karakteristik responden yang
banyak berpendidikan SD, ibu balita
bekerja URT ini sejalan dengan hasil
10 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... yang berhubungan dengan kejadian
ISPA pada anak balita di Desa
Bontongan Kabupaten Enrekang
menunjukkan pendidikan ibu anak
balita yang menderita ISPA terbanyak
pada SMP (54.5%). Ibu yang tidak
bekerja atau sebagai ibu rumah tangga
terbanyak memiliki anak balita yang
menderita ISPA sebanyak 47.4%.
2. Hubungan Tingkat Pengetahuan
dengan tindakan Pencegahan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 42,2% responden memiliki
pengetahuan tentang ISPA dalam
kategori kurang. Kategori kurang ini
mencerminkan bahwa belum semua
masalah kesehatan tentang ISPA
dapat dipahami oleh responden.
Banyak ibu balita memiliki
pengetahuan kurang baik tentang
ISPA dapat berkaitan dengan
pendidikan formal dimiliki masih
kategori rendah (SD/SMP). Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori
Hurlock (2002) tingkat pendidikan
seseorang akan menentukan pola
pikir dan wawasan, selain itu tingkat
pendidikan juga merupakan bagian
dari pengalaman kerja. Semakin tinggi
pendidikan seseorang maka
diharapkan pengetahuan dan
keterampilan akan semakin
meningkat. Lewat pendidikan manusia
dianggap akan memperoleh
pengetahuan dan semakin tinggi
pendidikan akan semakin
berkualitas.
Hasil uji statistik menggunakan
Chi square diperoleh hasil p.value =
0,049 (p.value < α) hasil tersebut
menunjukkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara pengetahuan
ibu balita dengan tindakan pencegahan
penyakit ISPA pada balita. Meskipun
hasil penelitian ini menunjukkan
adanya hubungan antara pengetahuan
tentang Infeksi Saluran Pernafasan
Akut (ISPA) dengan perilaku
pencegahan pada balita, namun
secara keseluruhan data
menunjukkan tingkat pengetahuan
ibu masih dianggap belum
seluruhnya baik, dimana baru
57,8% yang berpengetahuan baik,
demikian juga perilaku ibu yang
kurang baik masih 42,2%. Artinya
perlu adanya tindakan lebih lanjut
11 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... instansi terkait untuk dapat
meningkatkan pengetahuan ibu
tentang ISPA dan perbaikan perilaku
ibu tentang pencegahan ISPA seperti
pemberian pendidikan kesehatan
tentang masalah kesehatan ISPA
pada anak dari petugas kesehatan dan
kader posyandu pada saat
pelaksanaan kegiatan posyandu.
Peningkatan pengetahuan ISPA
oleh responden dapat diperoleh dari
berbagai sumber. Kegiatan posyandu
yang diikuti oleh responden
merupakan salah satu sarana untuk
dapat meningkatkan pengetahuan.
Sebagian besar responden banyak
yang mengunjungi kegiatan
posyandu dikarenakan jarak rumah
responden dengan posyandu dekat
dan sebagian besar responden
bekerja sebagai ibu rumah tangga
sehingga mempunyai banyak waktu
dirumah. Dengan responden
mengikuti kegiatan posyandu maka
responden bisa mendapat
pengetahuan tentang ISPA yang
diberikan oleh kader posyandu
melalui kegiatan penyuluhan
kesehatan. Depkes RI (2012)
menyatakan bahwa salah satu bentuk
pelayanan kesehatan di posyandu
adalah mengadakan penyuluhan
kesehatan.
Namun responden juga dapat
menerima pengetahuan dari berbagai
sumber misalnya dari berbagai media
elektronik; seperti TV dan koran, dan
juga dari sesama ibu balita ataupun
tetangganya. Berbagai informasi yang
diperoleh responden tersebut
menyebabkan terbentuknya
pengetahuan ibu balita terhadap
pencegahan ISPA. Hasil penelitian ini
sejalan dengan konsep yang
dikemukakan oleh Notoatmodjo
(2010) bahwa pengetahuan merupakan
hasil dari tahu dan terjadi setelah
orang melakukan pengindraan
terhadap suatu obyek tertentu. Selain
sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga,
pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang, perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.
12 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... Ratio 5,941 artinya bahwa ibu
berpengetahuan baik memiliki
peluang untuk mempunyai tindakan
yang baik terhadap pencegahan
penyakit ISPA pada balita sebesar
5,941 kali dibandingkan ibu yang
berpengetahuan kurang baik.
Hasil penelitian tentang perilaku
ibu dalam pencegahan ISPA pada
balita menunjukkan 44,6% responden
mempunyai perilaku yang kurang.
Kata kurang dapat diterjemahkan
bahwa responden masih kurang
mengerti bahwa dengan perilaku
hidup sehat seperti tidak/melarang
anak untuk bermain bersama anak
yang menderita ISPA, membatasi
anak untuk kontak dengan penderita
ISPA, jika melakukan kontak anak
diberi masker. Tindakan dalam
rangka mencegah terjadinya ISPA
pada balita masih kurang
mendukung dalam pencegahan ISPA.
Menurut Hariyani (2011) perilaku
ibu dalam pencegahan ISPA dapat
dilakukan seperti menjaga anak
tetap dalam keadaan bersih, ibu
melakukan kebersihan rumah seperti
menyapu lantai, membersihkan
debu-debu di dalam rumah, rutin mengganti
sprei kasur dan sarung bantal
secara teratur, membuka jendela
dan ventilasi udara agar sirkulasi
udara tetap lancar serta melarang
anggota keluarga yang merokok untuk
tidak merokok. Tindakan responden
dalam mencegah terjadinya ISPA
secara baik berdampak kesehatan
balita
3. Hubungan sikap dengan tindakan
pencegahan
Berdasarkan tabel 4.5 dari 83
orang responden, 51 orang (61,4%)
memiliki sikap baik, 32 orang (38,6%)
memiliki sikap kurang baik. Hasil uji
statistik di dapatkan p value = 0,032
(p.value < α) jadi secara statistik ada
hubungan yang bermakna antara sikap
ibu balita dengan tindakan
pencegahan kejadian ISPA pada balita
di Puskesmas Lindu.
Nilai Odds Ratio diperoleh 6,655
artinya bahwa sikap ibu yang baik
memiliki peluang untuk mempunyai
upaya yang baik dalam melakukan
pencegahan kejadian ISPA pada balita
sebesar 6,655 kali dibandingkan sikap
13 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... Hasil penelitian yang sesuai
dengan penelitian Riza (2009) yang
dilakukan pada Balita Di Irna Anak
RSMH Palembang, yang menyatakan
bahwa semakin baik sikap seseorang
akan penyakit ISPA, maka angka
kejadian ISPA yang terjadi akan
semakin rendah, begitu pula sebaliknya
apabila seseorang memilki sikap yang
kurang baik tentang ISPA, maka angka
kejadian ISPA yang terjadi akan
semakin tinggi.
Hasil penelitian yang sama oleh
Mery (2012) yang menyatakan bahwa
sikap merupakan faktor penting dalam
pembentukan perilaku. Berdasarkan
hasil penelitian ini yang menunjukkan
adanya hubungan antara sikap
dengan praktek cara perawatan, maka
hal tersebut dapat diartikan bahwa
responden sudah memperhatikan
stimulus yang diterimanya dan
memiliki kecenderungan bertindak,
sehingga dapat memunculkan suatu
perilaku yang diharapkan bagi
responden sendiri.
Pengetahuan ibu yang tinggi dan
sikap yang positif masih ada yang
ISPA dan sebaliknya pengetahuan yang
rendah dan sikap yang rendah tetapi
balita tidak menderita ISPA, hal ini
disebabkan karena pengalaman pribadi,
pengaruh media massa, dan pengaruh
orang lain yang dianggap penting di
dalam lingkungannya, karena menurut
Lawrance Green (1980) dalam
Notoatmodjo (2010) ada 3 tiga faktor
penyebab orang tua yang balita nya
menderita ISPA yang pertama yaitu :
faktor pemudah dimana faktor ini
mencakup pengetahuan dan sikap
orang tua dalam menangani kejadian
ISPA pada balita, faktor ini menjadi
pemicu terhadap perilaku yang menjadi
dasar atau motivasi bagi tindakannya
akibat tradisi atau kebiasaan,
kepercayaan kepada orang lain, tingkat
pendidikan dan tingkat social ekonomi.
Kedua faktor pemungkin yaitu faktor
pemicu terhadap perilaku yang
memungkinkan suatu tindakan
terlaksana. Faktor ini mencakup
ketersediaan sarana dan prasarana
kesehatan. Ketiga faktor penguat
yaitu faktor ini menentukan apakah
tindakan kesehatan memperoleh
14 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ... terwujud dalam bentuk sikap dan
perilaku pengasuh orang tua.
KESIMPULAN
Kesimpulan akhir dari penelitian ini
adalah:
1. Ada hubungan pengetahuan ibu balita
tentang penyakit infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) dengan
perilaku pencegahan pada balita di
Puskesmas Lindu.
2. Ada hubungan sikap ibu balita tentang
penyakit infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA) dengan perilaku
pencegahan pada balita di
Puskesmas Lindu
SARAN
1. Pada ibu yang mempunyai balita di
Wilayah kerja Puskesmas Lindu agar
tetap meningkatkan pengetahuan dan
sikap yang baik dalam pencegahan
ISPA secara nyata dalam kehidupan
sehari-hari baik dengan pemanfaatan
sarana kesehatan yang ada ataupun
dengan penggunaan obat-obat
tradisional.
2. Petugas kesehatan lebih meningkatkan
peran dan fungsinya dalam
memberikan edukasi melalui
penyuluhan di Posyandu-posyandu.
Selain itu, petugas kesehatan perlu
melakukan sweeping secara door to
door bagi ibu balita yang berhalangan
mengikuti jadwal posyandu.
3. Bagi Institusi Pendidikan diharapkan
Institusi pendidikan dapat bekerjasama
dengan Dinas Kesehatan Kab. Sigi
untuk dapat melakukan kegiatan
dalam bentuk; Baksos, penyuluhan
kesehatan dll untuk peningkatan
upaya masyarakat dalam pencegahan
ISPA yang baik dan benar dan
sekaligus untuk meningkatkan
pengetahuan dan memotivasi
masyarakat Lindu diri untuk
melakukan hal yang diketahui secara
nyata lewat tindakan pencegahan
penyakit saluran pernapasan.
4. Bagi peneliti selanjutnya, dapat
dijadikan sebagai sumber informasi
dan data awal penelitian, selain itu
perlu meneliti variabel lain yang
berhubungan dengan kejadian ISPA
misalnya status gizi, rumah tinggal,
15 Angga Pratama Putra, I Nyoman W., Moh. Salman, Hubungan Pengetahuan Ibu ...
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Pencegahan dan pengendalian
infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) yang cenderung menjadi
epidemi dan pandemi di fasilitas
pelayanan kesehatan. Jakarta:
Pedoman Intern WHO; 2007
2. Bambang, R. Retty, R. Pengaruh faktor
Pemudah (Predisposing), Pendukung
(Anabling), Pendorong (Reinforcing)
Dari Ibu balita Terhadap Kejadian
pneumonia Balita Di Desa Pukul
Kecamatam Kraton 2011. Malang:
FKUB; 2011
3. Reni, Z. Misrawati. Pengaruh
Kebiasaan merokok keluarga Di
Dalam Rumah Terhadap Kejadian
ISPA Pada Balita. Pekan baru: PSIK
Universitas Riau; 2012
4. Dinas Kesehatan Kab. Sigi. Profil
Kesehatan Kab. Sigi Tahun 2015.
5. Puskesmas Lindu. Data Profil
Kesehatan Puskesmas Lindu 2015.
6. Depkes RI. Buletin Jendela
Epidemiologi Pneumonia Balita.
Jakarta: Depkes RI; 2012
7. Nototoadmodjo S. Ilmu Perilaku
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2010
8. Hariyani Sulistyoningsih, Redi
Rustandi. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian
ISPA pada balita di wilayah kerja
Puskesmas D T P J amanis
Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal
FKM – UNSIL; 2011
9. Muclis Riza, dan Sherli S. Hubungan
Pengetahuan dan Tindakan Ibu
dengan Kejadian Pneumonia Pada
Balita Di IRNA Anak RSMH
Palembang Tahun 2008. Palembang:
Jurnal Pembangunan Manusia; 2009
10. Mery, F. Faktor-Faktor yang
Berhubungan Dengan Kejadian
Penyakit Pneumonia Pada Balita Di
Wilayah Kerja Puskesmas kenten
Palembang tahun 2012.
Palembang:Badan Diklat Provinsi