• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VI PADA MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN MELALUI

PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME PADA SDN 4 TENTENA KECAMATAN PAMONA UTARA

KABUPATEN POSO

RIDA DESRIYANTI NARENDO NIM. 823410294

ABSTRAK

Keberadaan pelajaran matematika SD berfungsi untuk mengembangkan logika berfikir siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Matematika sangat penting bagi semua orang baik yang masih sekolah maupun sudah bekerja. Di kelas VI SDN 4 Tentena tahun pelajaran 2015/2016 hanya sebagian kecil siswa yang menyukai matematika dan akhirnya hasil belajarpun rendah. Berdasarkan identifikasi dan analisa masalah maka alternatif pemecahan masalah untuk menigkatkan hasil belajar siswa adalah menggunakan pendekatan konstrutivisme pada materi pecahan.

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika khususnya teantang pecahan dapat ditingkatkan dengan menerapkan pendekatan konstruktivisme?

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara guru menerapkan pendekatan konstuktivisme pada materi pecahan. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Berdasarkan hasil penelitian penerapan pembelajaran pendekatan konstrutivisme di kelas VI SDN 4 Tentena dengan jumlah siswa sebanyak 11 orang mengetahui peningkatan ketuntasan hasil setelah dua kali tindakan menjadi 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan penerapan pendekatan konstruvisme dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada kelas VI SDN 4 Tentena tahun ajaran 2015/2016.

(2)

PENDAHULUAN

Rendahnya penguasaan siswa terhadap materi matematika khususnya pecahan sederhana tidak terlepas dari peranan guru dalam proses belajar mengajar terutama pendekatan pembelajaran yang dikembangkan. Dalam pembelajaran masih kurang digunakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada belajar yang berpusat pada siswa sehingga pendekatan pembelajaran yang merangsang siswa untuk berpikir secara aktif, membangun gagasan dalam pikirannya menjadi konsep-konsep ilmiah sangat ditentukan oleh guru. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada umumnya adalah dengan menceramahkan konsep-konsep dalam bentuk yang sudah jadi kepada siswa. Pembelajaran seperti ini ternyata gagal sebab ditemukan pemahaman siswa yang belum komperehensip terhadap materi yang diajarkan. Siswa lebih cenderung menghafal daripada memahami konsep mate-matika sehingga siswa kurang cakap di dalam memformulasikan pemahamannya dalam menyelesaikan masalah yang masih berkisar pada materi yang diberikan sebelumnya.

Sudah menjadi suatu kenyataan bahwa hingga kini mempelajari materi pecahan sederhana merupakan hal rumit bagi siswa. Terlebih bagi siswa SD yang belum memiliki pengalaman yang cukup tentang bagaimana belajar dan mempelajari pecahan sederhana hal ini membuat siswa bertambah sulit memahami konsep pecahan sederhan yang diharapkan oleh guru.

Sesuai dengan hasil studi awal yang dilakukan penulis menunjukan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu memahami konsep pecahan sederhana yang di ajarkandi kelas VI SD. Ini terbukti pada hasil observasi penulis yang di lakukan di kelas VI SDN 4 Tentena Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso, dari 11 siswa yang diberikan soal-soal tentang pecahan sederhana hanya 40% dari siswa tersebut yang menjawab soal dengan benar. Pada dasarnya siswa dalam menyelesaikan soal pecahan sederhana cenderung terfokus pada cara penyelesaian soal yang pernah dicontohkan oleh guru bila siswa diberikan soal yang modelnya lain dari contoh guru maka sebagian besar tidak mampu menjawab dengan benar sehingga siswa tidak memiliki kreatifitas dalam memformulasikan pemahamannya untuk menyelesaikan soal pecahan sederhana.

(3)

kondisi pembelajaran seperti itu adalah siswa hanya mengikuti dalam hal ini mencontoh apa yang dilihat dan didengarnya pada saat pembelajaran berlangsung.

Belajar dalam kontruktivistik mengharapkan siswa sendiri yang mengkonstruksi (membangun) pengetahuan dalam pikiran bukan penerima transfer dari orang lain. Pengalaman sendiri dan refleksi terhadap pengalaman itu merupakan kunci dalam belajar. Belajar bermakna adalah belajar yang diperoleh melalui pengalaman lansung siswa dengan diri sendiri. Belajar pecahan sederhana dalam pandangan konstruktivistik adalah melakukan kegiatan dari pengalaman kongkrit berupa adanya masalah kemudian menyelesaikannya dengan caranya sendiri sehingga seseorang dapat mengkontruksi pengetahuan di dalam pikirannya.

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah penerapan pendekatan konstruktivisme pada materi pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar tentang pecahan sederhana di kelas VI SDN 4 Tentena Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara guru menerapkan pendekatan konstruktivisme pada materi pembelajaran matematika tentang pecahan sederhana di kelas VI SDN 4 Tentena Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Bagi siswa, melalui penelitian ini siswa diharapkan lebih memahami konsep pecahan sederhana. (2) bagi Guru, meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam hal menerapkan pendekatan yang tepat untuk menanamkan konsep pecahan sederhana.(3) bagi sekolah, merupakan masukan untuk meningkatkan proses belajar mengajar khususnya dalam pembelajaran matematika. (4) bagi penuliss, akan menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam pembelajaran matematika khususnya pecahan.

KAJIAN PUSTAKA

Pada dasarnya bilangan pecahan adalah bilangan yang dibutuhkan untuk mengukur ukuran yang kurang dari satu. Bilangan pecahan adalah bilangan rasional

yang dinyatakan dalam bentuk x= a

(4)

Pengertian bilangan pecahan pada matematika SD dapat didasarkan atas pembagian suatu benda atau himpunan atas beberapa bagian yang sama. Misalnya seorang ibu yang baru pulang dari pasar membawa kue donat 4 biji sedangkan anaknya ada 2 orang. Agar anak dapat bagian yang sama, maka tiga biji kue donat itu harus dibagi dua. Dalam pembagian kue donat tersebut setiap anak mendapat 2 biji bagian.

Kontruktivitasme merupakan suatu teori yang mengatakan bahwa setiap pengetahuan atau kemampuan hanya dapat dikuasai dan dipahami secara sungguh-sungguh oleh seorang apabila ia secara aktif dapat mengkonstruksi pengetahuan atau kemampuan itu dalam pikirannya . jika pengetahuan itu tidak secara aktif dikonstruksi sendiri oleh yang bersangkutan maka pengetahuan itu tidak akan bertambah lama dalam struktur kognitifnya ini berarti seorang belajar tanpa proses pemahaman.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikemkakan oleh Nurhadi (2004 :33-34) konstrukstivisme merupakan landasan berpikir pembelajaran kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbesar dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata.

Konstrutivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Ilmu pengetahuan tidak boleh dipindahkan kepada siswa dalam bentuk yang serba sempurna melalui pengajaran guru. Guru seharusnya menerima murid sebagai individu yang mempunyai cirri-ciri perlakuan berbeda dimana individu itu dianggap penting dalam proses pembelajaran dan perlu diperhatikan sewajarnnya. Pengajaran dan pembelajaran konstrutivisme member peluang kepada guru untuk memilih kaidah yang sesuai dan menentukan sendiri waktu yang diperlukan untuk memperoleh suatu konsep atau pembelajaran.

Prinsip konstruktivisme yang memberikan penekanan pada kooperatif, pembelajaran yang berbasis kegiatan dan kegiatan penemuan menurunkan 4 prinsip seperti yang dijabarkan oleh Nur (2000:5-6) yakni :

(5)

 Peserta didik belajar konsep paling baik apabila berbeda dalam zona perkembangan terdekat mereka, peserta didik akan bekerja dalam zona terdekat mereka pada saat mereka terlibat dengan tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri tetapi dapat menyelesaikan apabila dibantu oleh orang lain (teman-temannya atau gurunya).

 Pemagangan konitif yang memberikan penekanan paduan hakikat sosial maupun zona perkembangan terdekat. Peserta didik yang belajar melalui tahap demi tahap menguasai apa yang dipelajarinya akibat interaksinya guru atau teman sebayanya yang telah menguasai permasalahannya.

 Scaffolding atau mediated learning atau dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Penafsiran terhadap faham konstruktivis bahwa dalam pembelajaran peserta didik seharusnya diberi permasalahan yang menantang kompleks dan realistis selanjutnya diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Pelaksanaan penelitian dan perbaikan pembelajaran di SDN 4 Tentena Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 September dan tanggal 21 Oktober 2015 mata pelajaran matematika di kelas VI dengan jumlah siswa 11 orang yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 8 orang perempuan.

PELAKSANAAN PERBAIKAN Deskripsi Pelaksanaan Perbaikan

Prosedur pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini dilakukan melalui dua siklus dan kedua siklus tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, artinya pelaksanaan siklus kedua merupakan kelanjutan dan perbaikan dari pelaksanaan siklus pertama. Masing-masing siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu :

1. Perencanaan

(6)

yang sesuai dengan penelitian perbaikan, meminta izin kepada kepala sekolah dan mengadakan pertemuan dengan guru lain untuk mendiskusikan langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi dan mempersiapkan kelas sarana dan fasilitas untuk mempraktekan skenario pembelajaran.

2. Pelaksanaan

Dalam melaksanakan penelitian perbaikan, observasi dan refleksi dilakukan secara simultan yang dibantu oleh teman sejawat. Pelaksanaan penelitian siklus pertama meniti beratkan pada penerapan pendekatan konstruktivisme pada materi pecahan.

Pelaksanaan penelitian pada siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi hasil observasi pada penelitian siklus pertama. Pelaksanaan penelitian setiap siklus sesuai dengan tahapan-tahapan skenario pembelajaran yang penulis susun.

3. Observasi Observasi yang penulis lakukan adalah observasi langsung tentang penerapan pendekatan konstrutivisme pada materi pecahan di kelas VI SD. Dari observasi tersebut ternyata menerapkan pendekatan konstruktivisme pada materi pecahan di kelas VI SD harus memperhatikan beberapa hal yaitu memberikan kepada siswa kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya sehingga siswa mempunyai kemampuan untuk mengkonstruksi pemahamannya baik dalam diskusi kecil maupun berbagai bentuk interaksi. 4. Refleksi Hasil observasi selama kegiatan pembelajaran didiskusikan bersama

teman sejawat kemudian dilakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

Hasil analisis dan refleksi digunakan untuk merencanakan kembali tindakan perbaikan dalam siklus selanjutnya apabila siklus sebelumnya belum berhasil menjawab masalah yang menjadi fokus penelitian yang mana langkah-langkahnya sama seperti siklus sebelumnya. Siklus penelitian perbaikan pembelajaran akan pemahaman siswa meningkat terhadap materi pembelajaran.

Deskripsi Persiklus Siklus I

Perencanaan

(7)

dilakukan pada tahap perencanaan siklus I adalah perlu melakukan berbagai persiapan dengan kegiatan sebagai berikut :

a. Penyusunan skenario pembelajaran berisikan langkah-langkah dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan penelitian perbaikan.

b. Meminta izin kepada kepala sekolah dan mengadakan pertemuan dengan guru lain, untuk mendiskusikan langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi.

c. Mempersiapkan kelas sarana dan fasilitas untuk mempraktekan skenario pembelajaran.

d. Menganalisa kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran dilaksanakan

Pelaksanaan

Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan. Pelaksanaan tindakan dilakukan dikelas pada tanggal 14 September 2015. Scenario pembelajaran pada tahap pelaksanaan tindakan sebagai berikut : i. Kegiatan awal :

1. Apresepsi

2. Membangkitkan motifasi siswa melalui tanya jawab

3. Memberi komentar terhadap jawaban siswa serta mengarahkan siswa pada materi yang akan dibahas.

4. Menyiapkan tujuan pembelajaran ii. Kegiatan inti :

1. Menjelakan materi matematika mengenai pecahan dengan menggunakan gambar-gambar dan poster

2. Siswa diminta mengamati setiap gambar-gambar dan poster yang diperlihatkan kepada mereka.

3. Siswa memberi komentar lisan dan tertulis tentang hasil pengamatan mereka.

Kegiatan akhir

(8)

Pada tahap ini teman sejawat mengamati secara seksama seluruh kegiatan dan suasana selama proses berlangsung. Lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti menjadi pedoman dalam melakukan pengamatan. Refleksi

Setelah kegiatan perbaikan siklus pertama dilaksanakan, peneliti melakukan kegiatan refleksi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dialami oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Apakah peserta didik merasakan kemudahan dalam belajar dan memperoleh manfaat dari materi yang dipelajari? Refleksi juga mengevaluasi kinerja guru selama pelaksanaan perbaikan dan menilai kelebihan dan kekurangan metode yang digunakan oleh guru.

a) Siklus Kedua

Berdasarkan hasil pembelajaran pada siklus pertama, ternyata hasil yang ingin dicapai belum tercapai secara maksimal. Masih terdapat banyak kekurangan yang perlu diperbaiki sehingga apa yang menjadi tujuan perbaikan dapat tercapai secara maksimal. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus kedua.

Perencanaan

Langkah – langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus kedua adalah sebagai berikut :

a. Membuat Rencana Pembelajaran

b. Menyiapkan kembali fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan seperti gambar, poster, dan sarana lainnya.

c. Mendiskusikan langkah perbaikan pembelajaran siklus kedua bersama dengan teman sejawat dengan bimbingan supervisor.

d. Menyiapkan format observasi bersama-sama dengan teman sejawat merumuskan perilaku siswa dan guru yang diamati.

Pelaksanaan

(9)

pada pokok bahasan pecahan sederhana. Belajar dari kekurangan yang dialami pada siklus I maka penerapan konstrutivisme dalam proses perbaikan pembelajaran pada siklus kedua lebih ditingkatkan.

Observasi

Kegiatan pada siklus kedua menggunakan format yang sama dengan format yang sama dengan format pengamatan pada siklus pertama yang bertindak sebagai obsever adalah Imanuel Kayupa, A.Ma.Pd. guru kelas VI sebagai teman sejawat yang turut membantu melakukan pengamatan terhadap perilaku siswa dan guru yang di inginkan. Adapun hasil pengamatan menjadi bahan refleksi bagi peneliti.

Refleksi

Setelah mengakhiri pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus kedua peneliti membahas hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer. Hasil pengamatan ini di jadikan bahan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus kedua. Hasil pengamatan ini juga dijadikan bahan refleksi oleh peneliti.

Setelah melakukan refleksi ditemukan beberapa hal yang positif yang menunjukan perkembangan yang signifikan terhadap presentasi pencapaian tujuan perbaikan pembelajaran. Presepsi siswa terhadap pokok bahasan yang dipelajari menunjukan ke arah yang positif.

Penggunaan pendekatan konstruktivisme pada materi pecahan sederhana sebagai pendekatan untuk menyelesaikan salah satu masalah pembelajaran yang terjadi di kelas VI SDN 4 Tentena telah mencapai hasil yang maksimal atau berhasil sehingga tidak perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus ketiga. Hal ini tidak terlepas dari kelebihan-kelebihan dari penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu yang efektif bagi untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada peserta didik sehingga pesan itu dapat diterima dengan baik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(10)

Penelitian ini diawali dengan observasi awal terhadap subjek penelitian sebagai data awal yang menjadi dasar dipilihnya masalah dalam penelitian ini.

Dari observasi awal melakukan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan terhadap 11 orang siswa diperoleh hasil sebagai berikut : yang memiliki penguasaan rendah terhadap penyelesaian pecahan sederhana 6 orang : (40%). Dari hasil ini diperoleh gambaran tentang penguasaan kelas VI terhadap penyelesaian pecahan diupayakan meningkat untuk itu dipersiapkan sesuatu yang digunakan dalam pelaksanaan siklus I, yaitu rencana pembelajaran matematika serta media dan lembar observasi.

1. Hasil Tindakan Siklus I

Proses tindakan siklus I diadakan dalam satu kali pertemuan dengan materi pecahan. Kegiatan siswa mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep pecahan. Dari kegiatan ini diperoleh sebagaimana terlihat dalam tabel berikut : a. Lembar Pengamatan Terhadap Siswa

Materi Pelajaran : Matematika Sekolah : SDN 4 Tentena Kelas : VI (Enam)

Hari / Tanggal :14 September 2015

No

Nama Siswa

Perilaku yang diamati

Antusias mengikuti

pelajaran

Aktif merespon pertanyaan guru

secara lisan

Dapat menuangkan

ide secara tertulis dengan

benar

Memperoleh nilai evaluasi

≤ 5 ≥ 6

1 Andika Ya Ya Ya 

2 Angel Tidak Tidak Tidak 

3 Delia Tidak Tidak Tidak 

4 Delce Ya Ya Ya 

5 Exsia Ya Ya Ya 

(11)

7 Janet Ya Ya Ya 

8 Jian Tidak Tidak Tidak 

9 Mawar Tidak Tidak Tidak 

10 Nersi Tidak Tidak Tidak 

11 Reyhan Ya Ya Ya 

b. Lembar pengamatan terhadap kinerja guru dalam kegiatan perbaikan pembelajaran.

Mata pelajaran : Matematika

Kelas : VI

Hari / Tanggal : 14 September 2015 Siklus : Pertama

No Perilaku Guru yang di amati Kemunculan Komentar Ada Tidak

1 Guru memberi informasi kepada siswa

Tidak tampak motifasi dilakukan oleh guru 2 Guru menyampaikan tujuan yang

ingin di capai

Tujuan yang disampaikan cukup jelas

3 Guru menjelaskan materi menggunakan buku sumber

Penggunaan buku sumber masih terbatas pada satu jenis buku

4 Guru menjelaskan menggunakan contoh-contoh

Contoh-contoh yang diberikan belum cukup jelas

5 Guru menjelaskan menggunakan alat peraga

Penggunaan alat peraga belum maksimal

6 Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa

Pertanyaan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa

7 Guru memberikan pujian Guru tidak memberikan

pujian pada siswa

8 Guru memberikan tugas Tidak membimbing siswa

mengerjakan tugas

9 Guru menyimpulkan pelajaran Sudah baik

(12)

Pada proses tindakan siklus II dilakukan kegiatan pembelajaran dalam satu kali pertemuan siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep pecahan sederhana melalui pengumpulan dan pengorganisasian dan siswa diberi kesempatan untuk memikirkan penyelesaian dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa ditambah pengetahuan guru. Dari kegiatan ini diperoleh hasil sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :

a. Lembar pengamatan terhadap siswa Materi Pelajaran : Matematika Sekolah : SDN 4 Tentena Kelas : VI (Enam)

Hari / Tanggal : 14 September 2015

No

Gilang Ya Ya Tidak 

7

(13)

11

Sovia Ya Ya Ya 

b. Lembar pengamatan terhadap kinerja guru dalam kegiatan perbaikan pembelajaran.

Mata pelajaran : Matematika Kelas : VI (Enam)

Hari / Tanggal : 14 September 2015

Siklus : Kedua

No Perilaku Guru yang di amati Kemunculan Komentar Ada Tidak

1 Guru memberi informasi kepada siswa

motifasi yang diberikan cukup efektif

2 Guru menyampaikan tujuan yang ingin di capai

Tujuan yang disampaikan cukup jelas

3 Guru menjelaskan materi menggunakan buku sumber

6 Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa

Pertanyaan harus

menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa

7 Guru memberikan pujian Guru memberikan pujian

pada siswa

8 Guru memberikan tugas Guru membimbing siswa

mengerjakan tugas

9 Guru menyimpulkan pelajaran Sudah baik

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa siswa yang mencapai ketuntasan sudah 95%. Dalam hal ini menunjukan bahwa upaya guru meningkatkan kemampuan siswa dalam menanamkan konsep pecahan telah berhasil.

Pembahasan

(14)

Penerapan pendekatan konstruktivisme pada proses pembelajaran melalui 4 tahap yaitu:

1. Tahap persepsi, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya konsep pecahan sederhana yang akan dibahas.

2. Tahap eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan mengemukakan konsep pecahan sederhana melalui pengumpulan, pengorganisasian dan menginterprestasikan data dalam suatu kegiatan yang dirancang guru secara keseluruhan pada tahap ini akan dipenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungan.

3. Tahap diskusi dan penjelasan konsep pecahan sederhana siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa ditambah dengan penguatan guru. Selanjutnya siswa membangun pemahaman baru tentang konsep pecahan sederhana yang sedang dipelajari.

4. Tahap pengembangan dan aplikasi konsep pecahan guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya baik melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu dalam lingkungan siswa tersebut.

Pembahasan dari setiap siklus

a. Siklus Pertama

Hasil pengamatan dapat kita jadikan alasan untuk menentukan presentase keberhasilan yang dicapai pada saat pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Presentase keberhasilan/kegagalan siswa pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus pertama dapat diamati dalam tabel berikut ini :

No Keadaan Perilaku Siswa Jumlah Siswa Presentase % 1 Antusias mengikuti pelajaran 5 50% 2 Aktif merespon pertanyaan guru 4 70% 3 Dapat menuangkan ide secara

tertulis dengan benar

4 40%

4 Memperoleh nilai hasil evaluasi 4 40%

≤ 5 6 60%

(15)

Jumlah siswa yang antusias menyimak penjelasan guru sebanyak 6 orang atau 50% siswa yang aktif merespon pertanyaan guru 4 orang atau 40%. Siswa yang memperoleh nilai kurang atau sama dengan lima adalah 6 orang atau 60%, dan siswa yang memperoleh nilai lebih atau sama dengan enam adalah 5 orang atau 40%.

Dari data yang diperoleh dengan melihat tabel di atas, peneliti menyimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran siklus pertama belum berhasil dan perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus kedua.

b. Siklus kedua

Kegiatan perbaikan pembelajaran siklus kedua dilaksanakan karena mempertimbangkan presentase keberhasilan siklus sebelumnya belum memenuhi standar keberhasilan belajar. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 oktober 2015. Langkah-langkah tindakan pembelajaran yang dilakukan lebih diperbaiki untuk menutup kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama.

Berikut disajikan presentase keberhasilan perbaikan pembelajaran siklus II dalam bentuk tabel :

No Keadaan Perilaku Siswa Jumlah Siswa Presentase % 1 Antusias mengikuti pelajaran 11 100% 2 Aktif merespon pertanyaan guru 8 70% 3 Dapat menuangkan ide secara

tertulis dengan benar 7 70%

4 Memperoleh nilai hasil evaluasi

≤ 5 3 20%

≥ 6 9 80%

Jumlah siswa yang begitu antusias mengikuti pelajaran meningkat menjadi 100%. Siswa yang aktif merespon pertanyaan lisan guru meningkat 80%. Siswa yang dapat menuangkan ide atau gagasan secara tertulis menjadi 70% sedangkan siswa yang memperoleh nilai evaluasi ≤ 5 menurun menjadi 20%, sebaliknya siswa yang memperoleh nilai ≥ 6 meningkat menjadi 80%.

(16)

menunjukan presentase keberhasilan perbaikan pembelajaran siklus kedua karena telah memnuhi standar kelulusan belajar, maka perbaikan pembelajaran siklus kedua dinyatakan telah berhasil dan tidak perlu lagi dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus ketiga.

Kesimpulan dan Tindak Lanjut

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendekatan konstruktivisme lebih menekankan pada cara siswa dalam mengkonstruksikan pemahamannya seperti dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu dimulai dengan masalah selanjutnya guru membantu siswa menyelesaikan bagaimana menemukan langkah-langkah memecahkan masalah tersebut. Siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah pecahan dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya artinya secara aktif siswa mengkonstruksi atau membentuk pengetahuan baik melalui diskusi kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi sehingga konstruktivisme tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran khususnya pada materi pecahan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut : 1. Semoga hasil penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam

upaya meningkatkan prestasi pada pelajaran matematika dan merangsang kreativitas siswa dalam mempelajari matematika khususnya materi pecahan. 2. Sebagai bahan masukan bagi sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan

sehingga melahirkan out yang berkualitas DAFTAR PUSTAKA

Dikdas 2003. Fasilitator . Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional

Djahura, D. (2012). Konsep hasil belajar. Diunduh dari http://diman-djahura.blogspot.com/2012/09/konsep-hasil-belajar.htm1.

Riadi, B. (2003). Definisi belajar dan pembelajaran. Diunduh dari http://bambangriadi.1008.wordpress.com/2013/09/03/definisi-belajar-dan-pembelajaran.

(17)

Nur . Muhamad. 2000. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pengajaran. Surabaya .

Tampomas, Husein. 2002. Matematika Plus. Jakarta : Yudistira Lampiran:

Lembar Pengamatan Terhadap Siswa Pra Siklus

No Nama

Lembar Pengamatan Terhadap Siswa Siklus 1

(18)

lisan benar Ya Tidak

Lembar Pengamatan Terhadap Siswa Siklus 2

(19)

8

Febriel 4 4 3 11 91,7 

9

Caren 4 3 3 10 83,3 

10

Adrivia 4 3 3 10 83,3

11

Sovia 4 3 2 9 75 

Referensi

Dokumen terkait

Kota bekasi dengan Penduduk kurang lebih 2 juta orang masih memiliki kesempatan besar dalam memanfaatkan lahan pekarangan sebagai solusi alternatif memenuhi kebutuhan

Berdasarkan menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia suatu ilmu dan seni yang digunakan untuk mengatur orang atau karyawan, mengembangkan

Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat didefenisikan secara operasional tentang Visi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sebagai berikut : “Bahwa Dinas Pendidikan

kata pengantar puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt karena telah terselesaikan buku pelajaran pendidikan agama islam ini dengan baik terima kasih juga kami sampaikan kepada

Performansi QoS VoIP over WLAN diuji pada NS-2.34 untuk setiap mekanisme penjadwalan PQ dan CSFQ pada 802.11e EDCA dengan jumlah pengguna VoIP sampai 20 titik dan beban trafik

Perancangan blok komparator menggunakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh Operational Amplifier (Op Amp) type LM-324. Gambar Rangkaian komparator dan Ex-Or..

Apabila limbah ini dibuang keperairan maka akan tercemar oleh bahan organik dalam jumlah yang besar, sehingga kebutuhan oksigen untuk proses penguraiannya lebih

Karena nilali arus gangguan hubung singkat yang didapat dari hasil perhitungan hubung singkat adalah dalam nilai primer, maka dalam pemeriksaan selektifitas rele