Non Directive Teaching Dipo Anugrah Salam (1504115)
Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan [email protected]
Model Non Directive Teaching dikembangkan oleh seorang psikolog bernama Carl Rogers, dia merasa bahwa proses mengajar harusnya berfokus pada hubungan antar manusia daripada konsep dari materi subjek. Peran guru dalam model ini adalah sebagai fasilitator dan konselor, dimana tujuan guru adalah mengembangkan gaya belajar dan kepribadian siswa yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalah belajar mereka.
Pengaplikasian metode ini di dalam kelas dibagi menjadi 2 jenis. Yang pertama berbasis konseling, digunakan ketika siswa merasa kesulitan didalam kelas dan tujuannya agar siswa mampu mengekpresikan perasaan mereka serta memiliki ide untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.Yang kedua adalah berdasarkan kontrak akademik, yaitu ketika keadaan kelas sudah bisa diprediksi akan membosankan, maka siswa diperbolehkan untuk memimpin jalannya proses belajar mengajar dikelas.
Model Nondirective berbasis Konseling atau Konseling Nondirective terdiri dari 5 tahap. Pertama guru akan menghampiri siswa dan mengajak mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka sebebas mungkin. Yang kedua siswa menjabarkan masalah dan guru merefleksikan kembali perasaan yang sudah siswa ungkapkan. Ketiga siswa mengembangkan pemahaman terhadap masalah tadi lewat diskusi. Keempat siswa membuat keputusan dan perencanaan terhadap masalah tadi. Dan terakhir ketika siswa sudah menjalankan rencana tadi, mereka akan melapor pada guru. Sedangkan pada jenis Kontrak Akademik, guru menyediakan tugas dan sumber yang relevan kepada siswa bagi mereka untuk mempelajari konsep baru dan
menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Dalam penerapan ini para siswa akan belajar cara
mengarahkan diri sendiri dan melatih kemampuan manajemen waktu dan pemecahan masalah mereka.
Daftar Pustaka:
Shelton, T. (2014). Nondirective Teaching [Online]. Diakses dari https://prezi.com/0thr89xine3b/nondirective-teaching/