• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN NON DIRECTIVE TEACHIN (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN NON DIRECTIVE TEACHIN (2)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN NON DIRECTIVE TEACHING Dhia Rahadatul Aisy, Fauziah Maulina, Nabila Zakiya, Raden Ahmad Mukhlis

Teknologi Pendidikan - Fakultas Ilmu Pendidikan [email protected]

Dr. Toto Ruhimat, M.Pd, Ence Surahman, M.Pd

Makalah terdiri dari tiga bagian utama yakni pendahuluan, pembahasan dan penutup. Penjelasan masing-masing bagian adalah sebagai berikut:

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia yang berperan aktif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Upaya pengembangan pendidikan melalui pemilihan strategi dan model pembelajaran harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Proses pengajaran akan lebih hidup jika terjalin kerjasama diantara siswa dan guru, maka proses pembelajaran dengan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik. Agar terjalin kerjasama dan proses pembelajaran yang hangat, efektif dan mampu meningkatkan daya berpikir siswa maka lahirlah sebuah model pembelajaran “Non Directive Teaching”.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberi pengetahuan dasar kepada pembaca mengenai model pembelajaran non directive teaching. Makalah ini diharapkan dapat menjadi wawasan mahasiswa dan/atau sederajat lebih luas mengenai model-model pembelajaran khususnya model pembelajaran non-directive teaching. Namun selain menjadi sumber pengetahuan, juga dapat menjadi bahan koreksi bagi pembaca maupun penyusun.

(2)

B. Pembahasan

Dalam sebuah pembelajaran yang terencana, guru akan banyak mempertimbangkan kebutuhan siswa, fasilitas yang tersedia dan kondisi siswa sebagai indivual serta termasuk pemilihan model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Pemilihan model pembelajaran yang baik dalam perencanaan pembelajaran adalah yang sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan belajar siswa. Sederhananya, model pembelajaran diartikan sebagai pola, acuan, atau pedoman terstruktur dan sistematis yang digunakan oleh guru untuk mendukunng dan membantu proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran saat ini begitu banyak, sehingga dikasifikasikan berdasarkan akar teorinya. Berikut beberapa rumpun model pembelajaran yang dikemukakan oleh Joice dan Wells (dalam Suyanto, tanpa tahun, hlm.2) berdasarkan dasar teorinya: 1). Information Processing, yaitu bagian dari kognitivisme yang membahas bagaimana otak memperoleh informasi, memproses informasi, menyimpan, dan menggunakannya. Contohnya diantaranya, Inquiry learning model, discovery learning model, dan problem-based learning; 2). Personal Model, yaitu model yang didasarkan atas teori perkembangan individu dan untuk mengembangkan kemampuan dalam diri seseorang. Contoh model pembelajaran rumpun ini diantaranya, non-directive teaching, awareness training,dan synecthics methods; 3). Social Model, rumpun ini mengembangkan kemapuan sosial dan bekerjasama. Contoh rumpun model ini diantaranya, group investigation, group discussion, role playing, dan social inquiry; 4). Model Pembelajaran Terpadu, model-model pembelajaran dalam rumpun ini mencoba mengatasi kekurangan pembelajaran terpisah yang umumnya dilakukan di sekolah. Setiap kegiatan bembelajaran dari jam pertama sampai jam terakhir ada keterkaitannya agar memudahkan siswa memahami dan mengingat apa yang dipalajari. Contoh rumpun model ini diantaranya, connected (terkoneksi) , nested (tersarang), sequenced (terurut), dan webbed (terjalin). Makalah ini akan secara khusus membahas tentang model pembelajaran non-directive teaching yang termasuk dalam rumpun personal model.

Model pembelajaran non-directive teaching adalah model pembelajaran yang membantu siswa untuk memperoleh proses dan pengalaman belajar yang baik. Model ini dikembangkan oleh Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling Non-directive. Roger (in Joyce and Weil, 2003, p.297) believed that positive human relationships enable people to grow. Maksudnya adalah Roger meyakini bahwa hubungan manusia yang positif dapat membantu individu berkembang. Oleh karena itu, pengajaran didasarkan atas hubungan positif, bukan semata-mata didasarkan atas penguasaan materi ajar belaka. Karena hal ini adalah hal yang sangat esensial bagi keberhasilan sebuah proses pendidikan yang diharapkan.

Peran guru dalam model ini adalah sebagai guide (pendamping) dan fasilitator dalam pembelajaran siswa. Adapun peran guru sebagai fasilitator adalah help students explore ideas that pertain to their lives (membantu siswa mengeksplor pikiran, gagasan atau ide tentang kehidupan siswa), students and teachers work together in a partnership of learning (siswa dan guru bekerjasama dalam pembelajaran), dan builds long-term learning styles rather than short-term content objectives (membangun tujuan gaya pembelajaran jangka panjang daripada tujuan pembelajaran jangka pendek).

(3)

kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa serta memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia; 2). Guru harus mampu membuat siswa mengekspresikan perasaannya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah/buruk); 3). Siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaannya; 4). Proses komunikasi harus bebas dari tekanan. Lebih jauh, rasa hormat dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh seorang guru merupakan syarat utama kesuksesan siswa; 5). Guru juga perlu membangun citra yang positif tentang dirinya jika ingin agar siswanya memberi respon dan bisa diajak bekerja sama dalam proses pembelajaran.

Rogers (in Joyce and Weil, 2003, p.302) mengelompokkan tahap-tahap atau sintaks model pembelajaran non-directive teaching ke dalam lima tahap, yaitu: 1). the helping situation is defined, yaitu siswa menemukan inti permasalahan yang dihadapi; 2). the student is encouraged by the teacher's acceptance and clarification to express negative and positive feelings and to state and explore the problem.Maksudnya adalah guru mendorong (memancing) siswa agar dapat mengespresikan perasaannya, baik positif maupun negatif. Disamping itu, guru harus mendorong (memancing) siswa agar dapat menyatakan dan menggali permasalahannya; 3). the student gradually develops insight: he or she perceives new meaning in personal experiences, sees new relationships of cause and effect, and understands the meaning of his or her previous behavior. Artinya, siswa secara betahap mengembangkan pemahaman (kesadaran) akan dirinya. Ia berusaha menemukan makna dari pengalamannya, menemukan hubungan sebab dan akibat dan pada akhirnnya memahami (menyadari) makna dari perilakunnya dari sebelumnya. Dalam hal ini, dimana siswa berada dalam tahapan diantara upaya menggali permasalahannya sendiri dan upaya memahami perasaannya, guru mendorong siswa untuk membuat perencanaan dan pengambilan keputusan berkaitan dengan masalah yang dihadapinya; 4). the student moves toward planning and decision making with respect to the problem. The role of the teacher is to clarify the alternatives.Pada tahap ini siswa bergerak menuju perencanaan dan pengambilan keputusan sehubungan dengan masalah. Peran guru pada tahap ini adalah mengklarifikasi alternatif-aternatif; 5). the student reports the actions he or she has taken, develops further insight, and plans increasingly more integrated and positive actions. Pada tahap ini siswa melaporkan tindakan (berupa alternatif-alternatif pemecahan masalah yang telah diambilnya pada tahap ketiga diatas). Lebih jauh Ia merefleksikan ulang tindakan yang telah diambilnya tersebut, dan berupaya membuatnya lebih baik dan efektif.

Model Pembelajaran non directive teaching bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya.

(4)

melakukan ini, guru menyampaikan pemahaman yang mendalam dan menerima perasaan yang dimiliki siswa. Untuk menfungsikan peran seorang sahabat yang bisa dipercayai, guru perlu mengembangkan sebuah kerangka referensi internal untuk merasakan seperti yang siswa rasakan. Roger menyimpulkan bahwa beberapa kondisi guru benar-benar sulit untuk merasakan prespektif yang dimiliki siswa, khususnya jika siswa bingung. Strategi hanya bekerja jika guru memasukkan dunia pemahaman siswa dan meninggalkan di belakang referensi ekternal tradisional. Mengembangkan sebuah kerangka referensi internal tidaklah mudah pada awalnya, akan tetapi hal ini perlu jika guru memahami siswa, tidak siswanya saja.

C. Penutup

Model pembelajaran non-directive teaching dikembangkan oleh Rogers. Roger meyakini bahwa hubungan manusia yang positif dapat membantu individu berkembang. Oleh karena itu, pengajaran didasarkan atas hubungan positif, bukan semata-mata didasarkan atas penguasaan materi ajar belaka. Karena hal ini adalah hal yang sangat esensial bagi keberhasilan sebuah proses pendidikan yang diharapkan.

(5)

Daftar Pustaka:

Joyce, and Weil.(2003). Models of Teaching, fifth edition.New Delhi: Prentice.HaII of India

No Name.(No Year). Non Directive Teaching, the learner at the center. Downloaded

from https://www.google.co.id/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiq m_X6u5fTAhWHLo8KHYMXBvYQFghVMAg&url=https%3A%2F

%2Fal038.k12.sd.us%2FNondirective

%2520Teaching.ppt&usg=AFQjCNGcpju7ZeDjt00T3vrww49hVjglgg

PJ, and KIM.(No Year).Non Directive Teaching.(Online). Accessed from http://teachingmodelscohort2.weebly.com/uploads/2/2/8/5/22853600/nondirective _teaching.pdf

Suyanto, Slamet.(Tanpa Tahun).Model-Model Pembelajaran.(Online).Diakses dari http://staffnew.uny.ac.id/upload/131930139/pendidikan/model+pembelajaran+2.p df

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pengetahuan dan percaya diri siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan, model pembelajaran yang tidak cocok, dan

Untuk mendeskripsikan peningkatan kreativitas siswa yang berupa mengemukakan ide/gagasan baru (ide yang berbeda dari guru dan siswa lain yang dikemukakan secara lisan),

Model pembelajaran CLIS merupakan model pembelajaran yang berusaha mengembangkan ide atau gagasan siswa tentang suatu masalah tertentu dalam pembelajaran serta merekonstruksi

Pembelajaran model kooperatif teknik Jigsaw akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengemukakan ide-ide, gagasan-gagasan, konsep-konsep

mengembangkan kompetensi siswa. Pembelajaran Matematika harus berpusat pada siswa serta memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan ide atau gagasan,

Guru memberikan permasalahan dan membagikan LKS kepada siswa, kemudian siswa saling bertukar pikiran, berdiskusi, mengklarifikasi semua gagasan, sehingga dalam hal

Tahap pemunculan gagasan ( elicitation of ideas ) merupakan upaya untuk memunculkan konsepsi awal siswa. Misalnya dengan cara meminta siswa menuliskan apa saja yang

Model pembelajaran kooperatif tipe student facilitator and explaining siswa siswa dituntut untuk menjelaskan materi, berbicara dalam menyampaikan ide, gagasan