• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PENDEKATAN DISKUSI KELAS PADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PENDEKATAN DISKUSI KELAS PADA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PENDEKATAN DISKUSI KELAS PADA

PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM MENINGKATKAN

PRESTASI KOGNITIF SISWA KELAS X DI SMAN 5

MATARAM TAHUN AJARAN 2013/2014

EDY CHANDRA

PEMBIMBING I

: I NYOMAN BUDITHA S

PEMBIMBING II

: I MADE INTARAN

JURUSAN DHARMA ACARYA

JL. PRAMUKA NO. 7B MATARAM

Abstract

Teaching and learning in the classroom can’t be separated with the approach used in the study, in order to reach the success of students in learning as measured by the value of the results of tests conducted by the teacher. Learning approach is a conceptual framework that describes a systematic procedure in organizing learning experiences to achieve specific learning objectives, and serve as guidelines for the designers of learning and the teachers plan learning activities. In the learning process the teacher should use many approaches to learning atmosphere is not boring. Teacher at SMAN 5 Mataram choose class discussion approach in the learning process, from the many existing learning approaches Hindu subjects teacher at SMAN 5 Mataram prefer to apply a class discussion. That emerged from the student responses varied when the implementation class discussion approach, so that will be examined on an increase in cognitive achievement of students after the application of a class discussion approach.

Research on the application of the approach to the class discussion on Hinduism education in improving the cognitive achievement of students of class X in Hindu SMAN 5 Mataram has two formulation of the problem, first How do teachers approach classroom discussion on Hinduism education in improving the cognitive achievement of students of class X in SMAN 5 Mataram? second, Is there an increase in cognitive achievement Hindu students of class X with a class discussion on the application of the approach SMAN 5 Mataram, the approach used in this study is descriptive qualitative, analysis of the data by means of data reduction, data display, data verification.

(2)

tests that have been calculated number average rating is a standard of competence 1 Susila (88,24), the standard of competence 2 Holy Places (90.41), 3 sradha competence standard (90.62).

Keywords: Class Discussion Approach, Hindu Religious Education, Cognitive Student Achievement

A. PENDAHULUAN

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Menurut Langeveld pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat

membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari dan sebagainya) ditujukan kepada orang yang belum dewasa. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yaitu tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya (Hasbullah, 2009: 2 – 4)

(3)

Peserta didik diharapkan mampu menguasi dan menyerap materi pelajaran yang diberikan serta mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan etika yang benar, untuk dapat melakukan hal tersebut peserta didik mendapatkan pendidikan keagamaan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Bab I Pasal I No 55 Tahun 2007 tentang pendidikan keagamaan, merupakan kegiatan mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan mengamalkan ajaran agamanya. (IKAPI, 2010: 146)

Pengetahuan khusus tentang ajaran agama tertuang dalam Bab II Pasal 2 PP RI No 55 Tahun 2007, pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan, membentuk sikap kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia serta mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. (IKAPI, 2010: 147)

(4)

berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berfikirnya. Pada saat proses pembelajaran guru lebih sering menggunakan metode cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain, karena tidak memerlukan alat dan bahan praktik. Dalam hal ini, siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berfikir dan memotivasi diri sendiri, padahal aspek-aspek tersebut kunci keberhasilan dalam suatu pembelajaran. Masalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas, oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasi serta relevansinya dalam kehidupan sehari-harinya. (Trianto, 2009: 5-6)

Proses belajar mengajar dikelas, kualitas belajar siswa, para lulusan dan pelaksanaan proses belajar siswa banyak ditentukan oleh fungsi dan peran tenaga pendidik dengan kreatifitas di kelas serta fungsi dan peran yang dijalankan dengan baik maka proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan kondusif, efektif, efisien sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat. Pendidikan pada hakikatnya tidaklah semata-mata mendidik manusia untuk mencari nafkah. Pendidikan sebenarnya mengajarkan orang untuk mendapatkan kebahagiaan.

(5)

Begitu juga dengan tingkat pengetahuannya tidak serta merta yng pintar dikelompokkan menjadi satu kelompok melainkan dicampur antara yang pintar dengan kurang pintar, sehingga terjalin kerjasama yang baik untuk memecahkan suatu materi dalam satu kelompok tersebut. Sehingga dalam proses pembelajaran guru hanya mengawasi proses berjalannya diskusi, ketika ada suatu permasalahan yang tidak bisa dipecahkan oleh siswa, guru yang memberikan penjelasan lebih lanjut dan ketika selesai diskusi guru kembali menjelaskan inti dari permasalahan suatu materi pelajaran. Ketika berlangsungnya proses diskusi ini peneliti memperhatikan beberapa hal yakni saat diskusi siswa yang aktif lebih menonjol dari pada yang kurang aktif, sehingga siswa yang kurang aktif hanya mendengarkan saja dan ada yang asik bercerita dengan temannya.

Berdasarkan permasalahan di atas peneliti berinisiatif untuk mengambil penelitian ini yang erat kaitannya dengan masalah prestasi kognitif siswa, dengan judul Penerapan Pendekatan Diskusi Kelas Pada Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Prestasi Kognitif Siswa Kelas X Di SMAN 5 Mataram Tahun Ajaran 2013-2014.

Rumusan Masalah

(6)

1. Bagaimanakah guru menerapkan pendekatan diskusi kelas pada pendidikan Agama Hindu dalam meningkatkan prestasi kognitif siswa kelas X Di SMAN 5 Mataram tahun ajaran 2013-2014 ?

2. Apakah terjadi peningkatan Prestasi kognitif siswa agama Hindu kelas X dengan penerapan pendekatan diskusi kelas di SMAN 5 Mataram ?

Pendekatan Diskusi Kelas

Arends (dalam Trianto 2009: 122) mendefinisikan diskusi sebagai komunikasi seseorang berbicara satu dengan yang lain saling berbagi gagasan dan pendapat. Sedangkan menurut Suryo Subroto (dalam Trianto 2009 : 122), diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.

Pendekatan diskusi kelas adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan diskusi kelas merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif. Pendekatan diskusi kelas dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah Erman, (2003: 239).

Prestasi Kognitif Siswa

(7)

komprehensif, (c) Kemampuan melakukan aplikasi, (d) Kemampuan melakukan analisis, (e) Kemampuan melakukan sistesis, (f) Kemampuan melakukan evaluasi.

Tahapan kegiatan mulai pengetahuan sampai pada sintesis harus dilakukan secara berurutan secara sistematis, agar evaluasi yang dilaksanakan dapat dilakukan dengan baik. Pada dasarnya tahapan pengetahuan ini, peserta didik harus mengumpulkan semua data yang diperlukan. Dengan data atau informasi itu, maka ia harus mampu memberikan arti, melakukan interpretasi dan mampu memberikan kesimpulan dari data yang ia kumpulkan tersebut. Tahapan berikutnya adalah tahapan komprehensif, yaitu peserta didik diminta untuk memahami secara komprehensif dari apa yang dilakukan sebelumnya, kemudian berdasarkan interpretasi dan kesimpulan yang diambil maka peserta didik perlu melakukan (aplikasi) dari ilmu dari ilmu pengetahuan yang didapatkan untuk selanjutnya dianalisis atau di sintesakan. Berdasarkan kriteria tertentu maka tahap akhir dilakukan evaluasi secara keseluruhan. Sampai pada tahap ini peserta didik sudah dapat menguasi ilmu pengetahuan yang telah diterima selama mengikuti pembelajaran.

B. METODE PENELITIAN

Ditinjau dari jenis dan tujuan serta sifatnya, penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen atau bersipat kualitatif, yaitu suatu penelitian yang menjelaskan data-data yang menggambarkan dengan kata-kata yang diperoleh dari responden, berbentuk deskriftif yaitu menjelaskan atau menggambarkan variabel masa lalu, sekarang dan yang sedang terjadi.

(8)

berasal dari informan atau buku-buku yang menunjang penelitian yang dilakukan. Pendekatan penelitian deskriftif kualitatif dipergunakan untuk mendiskripsikan secara lebih rinci, lebih jelas, dan lebih akurat.

Dalam penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Mataram menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif yaitu data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian atau kata-kata untuk mengetahui penerapan pendekatan diskusi kelas dapat meningkatkan prestasi kognitif siswa agama Hindu kelas X di SMA Negeri 5 Mataram.

Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti (Adi, 2004 : 57), berkaitan dengan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka yang menjadi sumber data pertama (primer) adalah hasil observasi, kata-kata, dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai (pada objek penelitian) yang dicatat melalui catatan tertulis, melalui perekam video/ audio tape, pengambilan gambar (foto).

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dalam bentuk jadi, seperti data dalam dokumen dan publikasi (Adi, 2004: 57). Dalam penelitian ini data primer dilengkapi dengan data pelengkap (sekunder) dalam bentuk dokumen-dokumen seperti buku-buku penunjang yang berkaitan dengan penelitian.

(9)

Dalam penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 5 Mataram digunakan teknik purposive sampling sebab, peneliti terlebih dahulu menentukan dan memilih informan berdasarkan ciri-ciri yang wajar dari informan tersebut dan informan tersebut dipandang banyak mengetahui dan bahkan terlibat langsung terhadap objek penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis observasi partisipan, dimana peneliti secara langsung ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang yang akan diobservasi melihat dan mengamati penerapan pendekatan diskusi kelas pada pendidikan agama Hindu dalam meningkatkan prestasi kognitif siswa kelas X di SMA Negeri 5 Mataram.

2. Dokumentasi

Dalam penelitian ini yang dijadikan atau digunakan sebagai sumber data adalah data tentang prestasi kognitif kelas X SMA Negeri 5 Mataram, serta foto atau gambar proses pelaksanaan pembelajaran dengan mengunakan pendekatan diskusi kelas.

3. Interview (wawancara)

(10)

Teknik Analisis Data

Menurut Bikken yang dikutip oleh Suprayogo dan Troboni (1993: 24), kegiatan yang dilakukan pada analisis data ada empat langkah, yaitu :

1. Analisis data

Selama pengumpulan data, yang dimulai setelah peneliti memahami fenomena yang terjadi, kegiatan ini meliputi :

a) Menetapkan fokus penelitian, apakah tetap sebagaimana yang telah direncanakan atau perlu dirubah.

b) Penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang telah terkumpul. c) Pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya berdasarkan temuan-temuan

pengumpulan data sebelumnya.

d) Pengembangan pertanyaan-pertanyaan analitik dalam rangka pengumpulan data berikutnya, dan

e) Penetapan sasaran pengumpulan data (informan, situasi, dokumen). 2. Reduksi data

Menurut Miles dan Huberman yang dikutip oleh Suprayogo dan Tabroni (2001: 193) mengatakan bahwa reduksi data adalah sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabtraksian, transformasi data kasar yang muncul dicatatan-catatan lapangan. Reduksi data ini berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung.

(11)

Kegiatan berikutnya dalam analisis Data adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan sebenarnya sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Verifikasi adalah pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran peneliti, selama menulis, suatu tinjauannulang pada catatan-catatan lapangan. C. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Bagaimanakah Guru Menerapkan Pendekatan Diskusi Kelas Pada Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Prestasi Kognitif Siswa Kelas X Di SMAN 5 Mataram Tahun Ajaran 2013-2014 ?

Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu yang menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan prilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu. Keberhasilan yang diperoleh peserta didik tidak lepas dari bagaimana cara tenaga pendidik untuk mentransfer ilmu atau materi pelajaran. Guru di SMAN 5 Mataram menggunakan pendekatan diskusi kelas dalam proses pembelajarannya, dalam hal ini peneliti telah melakukan wawancara kepada guru SMAN 5 Mataram tentang cara guru menerapkan pendekatan diskusi kelas, peneliti menyimpulkan langkah-langkah pendekatan diskusi kelas yang paparkan oleh guru SMAN 5 Mataram dan didukung dari sumber buku Trianto (2009 : 124-125) sebagai berikut :

(12)

2. Mengarahkan diskusi, guru mengarahkan focus diskusi dengan menguraikan aturan-aturan dasar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan awal, menyajikan situasi yang tidak dapat segera dijelaskan, atau menyampaikan isu diskusi.

3. Menyelenggarakan diskusi, guru memonitor antar aksi, mengajukan pertanyaan, mendengarkan gagasan siswa, menanggapi gagasan, melaksanakan aturan dasar, membuat catatan diskusi, menyampaikan gagasan sendiri.

4. Mengakhiri diskusi, guru menutup diskusi dengan merangkum atau mengungkapkan makna diskusi yang telah diselenggarakan kepada siswa.

5. Melakukan Tanya jawab singkat tentang proses diskusi, guru menyuruh para siswa untuk memeriksa proses diskusi dan berfikir siswa.

b. Apakah Ada Peningkatan Prestasi Kognitif Siswa Agama Hindu Kelas X Dengan Penerapan Pendekatan Diskusi Kelas Di SMAN 5 Mataram ?

Untuk mengukur adanya peningkatan prestasi kognitif siswa kelas X di SMAN 5 Mataram, peneliti telah mengumpulkan data dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi tentang hasil belajar dari siswa kelas X, peneliti akan menghitung jumlah rata-rata dari nilai ulangan harian siswa untuk mengetahui apakah ada peningkatan prestasi kognitif siswa agama Hindu kelas X dengan menggunakan

rumus sebagai berikut : Nilai rata-rata = Σ Jumlah nilai seluruh siswaΣ Jumlah siswa

Nilai rata-rata Standar Kompetensi 1 (Susila) 4677

53 = 88,24 Nilai rata-rata Standar Kompetensi 2 (Tempat Suci) 4792

(13)

Nilai rata-rata Standar Kompetensi 3 (Sradha) 4856

53 = 91,62

Dari paparan data diatas yakni mencari nilai rata-rata dari seluruh siswa yang terdiri dari tiga pokok bahasan yakni standar kompetensi 1 tentang susila mendapatkat hasil rata-rata (88,24), standar kompetensi 2 tentang tempat suci mendapatkan hasil rata-rata (90,41), standar kompetensi 3 tentang sradha mendapatkan hasil rata-rata (91,62). Untuk standar ketuntasan mata pelajaran agama Hindu di SMAN 5 Mataram yaitu 75, jadi nilai rata-rata siswa Hindu sudah diatas standar ketuntasan. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan diskusi kelas di SMAN 5 mataram pada pendidikan agama Hindu tahun ajaran 2013/2014 dapat meningkatkan prestasi kognitif siswa Hindu kelas X.

D. KESIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

(14)

Mengakhiri diskusi, guru menutup diskusi dengan merangkum atau mengungkapkan makna diskusi yang telah diselenggarakan kepada siswa. e) Melakukan Tanya jawab singkat tentang proses diskusi, guru menyuruh para siswa untuk memeriksa proses diskusi dan berfikir siswa.

2. Prestasi kognitif siswa agama Hindu kelas X dengan penerapan pendekatan diskusi kelas di SMAN 5 Mataram meningkat dapat dilihat dari hasil tes ulangan harian yang telah dihitung jumlah nilai rata-ratanya yaitu standar kompetensi 1 Susila (88,24), standar kompetensi 2 Tempat Suci (90,41), standar kompetensi 3 Sradha (90,62).

B. Saran

Mengamati tentang penerapan pendekatan diskusi kelas pada pendidikan agama Hindu dalam meningkatkan prestasi kognitif siswa hindu kelas X di SMAN 5 Mataram, peneliti menyampaikan beberapa saran yaitu :

1. Kepada pemerintah agar lebih memperhatikan kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembelajaran, seperti belum tersedianya ruang kelas untuk belajar mata pelajaran agama Hindu.

2. Kepada pihak sekolah agar pendekatan diskusi kelas dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses pembelajaran, guna meningkatkan hasil belajar siswa.

(15)

pembelajaran guru juga harus menggunakan inovasi-inovasi baru agar dalam proses pembelajaran siswa lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran.

4. Perpustakaan sekolah seharusnya menyediakan referensi lebih banyak lagi tentang ajaran agama Hindu, agar siswa Hindu lebih mudah memperoleh sumber dalam belajar.

5. Kepada siswa, Disarankan untuk tetap belajar walaupun sarana, prasarana dan fasilitas sekolah belum memadai bukan suatu halangan dalam menjalankan proses pendidikan, tetap semangat dan jangan mudah putus asa.

E. DAFTAR PUSTAKA

Adi, Riyanto. 2004. Metodelogi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta : Granit Anggota IKAPI. 2010. Undang-Undang SISDIKNAS. Bandung : Fokusmedia.

Arikunto, Suharsimi. 1986. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif Dan Kualitatif. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bungin, Burhan. 2005. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada

Hamzah. 2006. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Akswara.

(16)

Pamungkas, Krisnadi. Pengaruh Metode Diskusi Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri Sriwulan 1 Sayung (Skripsi Diajukan Kepada Program Studi PGSD Di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Semarang Tahun 2013)

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soekartawi. 1995. Monitoring Dan Evaluasi Proyek Pendidikan. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya

Subyagyo, R.Joko. 1999. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : PT Rieneka Cipta.

Suherman, Erman. 2003. Pembelajaran Kontenporer. Bandung : Usaha Nasional Suprayogo, Imam dan Troboni. 2001. Metodelogi Penelitian Sosial Agama.

Bandung : Rosdakarya.

Suryono. Diskusi Kelompok Dan pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Siswa Dalam Pendidikan Agama Islam Di SMA Darussalam Ciputat-Tangerang Selatan (Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Taribiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai gelar sarjana Pendidikan Tahun 2010)

Titib, I Made, 2003. Menumbuh Kembangkan Pendidikan Budi Pekerti Pada Anak (Perspektif Agama Hindu) Indonesia. Bandung : Ganeca Exact.

Tim Penyusun, 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Mata Pelajaran Sains. Jakarta : Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Menengah, Direktur Pendidikan Lanjutan Pertama, Bagian Proyek Pengembangan Sistem Dan Pengendalian Program.

Trianto. 2009. Mendesign Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Group.

Wijayanti, Ni Kadek. Implementasi Metode Belajar Debat Aktif Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu Siswa Kelas V SDN 22 Cakranegara (Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana S1 Jurusan Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agama Hindu Tahun 2011) Wiryawan, dkk. 1994. Strategi Belajar Mengajar Dirjen Bimas Hindu dan Budha

Universitas Terbuka. Jakarta.

(17)

Sumber Internet :

(http://zaifbio.wordpress.com/2013/07/12/penilaian–hasil–belajar–berdasarkan-aspek-kognitif-afektif-dan-psikomotor/) Diakses pada 03 maret 2014 pukul 11.30 WITA

Referensi

Dokumen terkait

Kriteria yang digunakan dalam pengujian ini adalah probability value (sig), apabila probability value dalam hasil pengujian lebih kecil dari 0,05, maka dapat

Berdasarkan dari hasil observasi yang sudah dilakukan peneliti pada saat pembelajaran sebelum diterapkannya startegi pembelajaran crossword puzzle, hasil belajar

Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data secara kualitatif dilakukan dengan wawancara dan

Akan tetapi penduduk yang bermata pencaharian selain pengrajin tahu tempe ataupun orang lain yang bukan berasal dari Desa Kedaung dapat menjadi anggota Paguyuban, yang terdiri dari

Penelitian ini mengkaji peresapan air kedalam tanah / infiltrasi akibat perubahan penggunaan atau tata guna lahan dari daerah resapan ke daerah pengembangan di bukit

Dalam hal ini perusahaan asuransi yang ada perlu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan dalam menjalankan aktivitas perusahaan secara maksimal.Penelitian

Abstrak: Pengaruh Hormon NAA dan IBA Pada Eksplan Nibung ( O. tigillarium ) Terhadap Umur Muncul Kalus (Hari). tigillarium) merupakan sejenis palmae yang umumnya tumbuh

 Kuliah&Diskusi [TM:1x(1x60”)] Tugas : meringkas dan mengkaji Konsep Kebidanan Komunitas  [BT+BM:(1+1)x(2x60”)] CTJ Cooperative learning Ketepatan penguasaa n Quis