Mahkota Cinta. ketakutanmu pada tiap-tiap daun yang gugur takkan memberi apapun karena lusa ketika matahari datang, ia akan tumbuh tanpa kita suruh

Teks penuh

(1)

Mahkota Cinta

Jika pada suatu hari kau merasa sepi, tersenyumlah

seperti saat kau melihat jemariku mengusap setiap helai

mawar di hatimu

karena keheningan adalah Aku

begitulah kata-kata ingin mencairkan siapapun yang ia

lewati

ketakutanmu pada tiap-tiap daun yang gugur takkan

memberi apapun

karena lusa ketika matahari datang, ia akan tumbuh

tanpa kita suruh

kemarin atau nanti, kita akan sama-sama pergi

dan airmatamu adalah embun pagi bagi pintu-pintu hari

basuhlah demi matahari yang diam-diam

memperhatikanmu

dan malam akan lebih baik dari kehadiranku

Engkau adalah kekasih bagi siapapun

Engkau yang tak perlu meminta cinta,

karena kau punya banyak cinta untuk kau mahkotakan

bahkan untuk orang-orang yang melukaimu

(2)

Cahaya di Atas Daun Ketapang

Gemetaran siang itu

Mendengar gemertak anak-anak daun

Melepas pelan dari ranting bersama doa lama

Dan cahaya itu diam-diam menerimanya dengan tabah

Tanpa bertanya : mengapa ketapang menjatuhkan

daunnya?

Daun diam di hatinya sendiri

Lekas tak betah di silau kasih

Dan pada gemetar siang yang kesembilan

Ia kembali

Tapi dahan dan ranting tak lagi menanti

Pemalang, 2016

(3)

3

Padaku Buku itu Bercerita

Padaku buku itu bercerita,

banyak kata terjatuh di belantara,

gunung dan telaga

Padaku buku itu bercerita,

anak-anak tak lagi membaca,

hanya menata, menumpuk,

selebihnya memanja diri dengan ponsel cerdasnya

Padaku buku itu bercerita,

sekolah tak lagi menjadi lumbung baginya,

hanya kertas presensi, daftar nilai, dan lembar-lembar

kerja

yang tiap akhir semester diburu demi untung

Padamu akhirnya,

buku luka di sepanjang mata

Pemalang, 2016

(4)

Melukis Ironi

Di tepian sajadah

masing-masing doa ditumpahkan

membayang harapan terunduh

dan menghapus segala warna tak diminta

Di tepian jalan

masing-masing keringat ditumpahkan

membayang harapan terindah

dan menghela segala nasib gundah

Di ujung jalan setapak

masing-masing terpaksa

membayang kapan gilirannya

tanpa tahu apa lukisan yang akan ia terima

hanya menduga

duga

(5)

5

HANI IN MEMORIES

Setengah tahun yang lalu, aku jadian sama Hani. Entah kekuatan apa yang datang pada waktu itu, sampai-sampai aku berani menyatakan cinta. Meskipun hanya lewat ponsel, tapi baru kali pertama aku mengungkapkan yang namanya perasaan cinta dengan perempuan.

Awalnya biasa-biasa saja, nggak ada yang spesial. Sampai suatu ketika aku tahu ada yang unik dalam diri Hani. Penampilannya yang enggan feminim. Sederhana dan nggak manja. Namun tetap cantik. Selalu bikin kangen.

Aneh juga. Meski jarang ketemuan, dan cuma ngobrol via ponsel. Tapi kita sama-sama merasa nyaman. Bahkan, makin hari perasaan cinta makin kuat. Nggak pengin ke lain hati pokoknya.

Keanehan itu makin jadi dalam diriku. Aku jadi semangat untuk belajar. Dan nggak sia-sia, hampir semua nilai ulanganku naik dua angka. Mungkin karena perhatian dia yang bikin hari-hariku menantang. Aku yang terkenal malas, jadi berubah 180 derajat.

Aku semakin yakin kalau kehadirannya menyempurnakan hidupku yang selama ini bisa dibilang sering kacau. Aku jadi belajar menjadi orang yang menerima, dan selalu memperbaiki kekurangan. Aku belajar menjadi orang yang memberi, menyayangi dan bukan memaksakan kehendak. Ada banyak pelajaran yang kupetik dari Hani.

(6)

Udah lama aku nggak pulang. Akhir-akhir ini memang banyak kegiatan di kampus yang harus aku selesaikan.

Malam mulai merambat pelan, ada perasaan yang nggak enak dalam hatiku. Sudah dua hari, Hani nggak sms, apalagi menghubungiku. Aku coba nelfon juga nggak aktif. Lalu aku minta ijin sama Bapak Kos.

“Pak, saya pamit mau pulang dulu sebentar”

“Loh, sudah malam, apa nggak besok saja?” saran Pak Wardi, Bapak Kosku.

“Nggak apa-apa Pak, pake motor kan paling cuman 3 jam nyampe rumah”

“Ya sudah, hati-hati jangan ngebut. Salam juga buat keluargamu”



Syukurlah masih ada sinar rembulan yang bisa menerangi jalan. Udara malam ini dingin sekali, apalagi aku harus melewati daerah pegunungan. Banyak kabut. Tanpa ada lampu penerangan jalan. Bayangan Hani seolah berkelebat di depanku. Sudah setengah bulan aku nggak ketemu sama dia, karena aku kuliah di luar kota. Yah, selama ini aku harus menjalani love at long distance. Kadang hanya dua kali ketemu dalam satu bulan.

(7)

7

Akhirnya aku sampai juga di rumah.

“Loh, mau pulang kok nggak ngasih tahu dulu sih, malem-malem lagi,” cerosos adikku. Membukakan pintu.

“Diem, dasar bawel,” sambil kujitak manis kepalanya. “Yee…dasar monster”, he..he..adikku emang suka bercanda.

“Kakak mau pergi dulu sebentar. Nanti kalo mama nanya, bilang kakak ke rumah Parta. Oke..”

“Huh, kayak jaelangkung!”

Aku udah nggak sabar pengin ketemu Hani. Aku pengin curhat banyaak.. banget sama dia. Aku kangen sama senyumnya, candatawanya.

Sepertinya rumah-rumah sudah sepi. Tak ada lagi lampu yang menyala di dalamnya. Hanya ada satu rumah yang nampak ramai oleh orang-orang, rumahnya Hani. Ada pesta apa yah? Jangan-jangan adiknya Hani ulangtahun? Aduh, nggak enak banget kalau nggak bawa hadiah nih. Tapi udah jam 11 malam, udah nggak ada toko yang buka.

Seorang pemuda dengan style urakan celana jeans sobek, menghampiriku.

(8)

“Woi, Parta. Kamu di sini juga? Ada acara apaan sih?” Tanyaku. Parta adalah sahabatku sejak SD. Perangainya yang kocak bikin temen-temen ketawa-ketiwi kalau berada di dekatnya. Tapi malam ini, aku nggak lihat ada selera humor di wajahnya. Alismatanya tampak bertautan.

Ah, barangkali trik lama nih, mau bikin lawakan. “Udah deh Ta, aku tahu kamu pasti lagi akting. Duh, sok serius banget tuh muka” sambutku mengajaknya duduk di depan pintu gerbang rumah Hani. Aneh juga ini orang. Tidak biasa-biasanya Parta jadi pendiam. Dari tatapan matanya menyiratkan ada permasalahan yang serius.

“Ada apa masalah apa bro? Ngomong aja…” Pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepala.

“Ta, selama ini kita tuh saling menolong kalau salah satu di antara kita lagi ada masalah. Kamu inget nggak, waktu aku lagi PDKT sama Hani. Kamu yang bikin aku sama Hani jadi tambah deket. Padahal saat itu Hani udah ilfeel duluan, gara-gara tahu aku lagi ada rasa sama dia. Terus…pas aku sama Hani lagi ngeDate di Alun-alun kota. Tiba-tiba kamu datang…kayak orang habis dicekek, kamu bilang habis dikejar-kejar sama banci…idiih, emang gue cowok apaan…ha..ha…”

Aneh, dia nggak senyum sedikitpun. Keduabolamatanya justru berkaca-kaca. Aku ikut terdiam

(9)

9

beberapa saat. Sesekali memperhatikan ke dalam rumah Hani dari pintu gerbang.

“Ta, tadi kamu lihat Hani di dalam nggak? Kok nggak kelihatan ya? Kemarin juga aku coba hubungi HPnya nggak aktif.” Tanyaku sambil menawarkan sebungkus rokok.

Tangannya tampak gemetar mengambil sebatang rokok. Kenapa nih orang? Matanya makin sayu menatapku.

“Kamu lagi sakit ya Ta?”

“Kamu nggak tahu Pram! Aku juga nggak tahu harus bilang apa sama kamu. Aku nggak mau nyakitin perasaan kamu! Aku nggak pengin lihat kamu sedih! Nggak mau Pram…enggak..” tiba-tiba dia terisak, airmatanya menetes.

“Ta, kamu tenang dulu… Sebenarnya ada apa sih, terus maksud kamu tuh apa bilang kayak gitu…”

“Aku bingung Pram”

“Aku juga bingung kalau kamu kayak gini!” bentakku membuat orang-orang yang berada di teras kaget. Seorang perempuan setengah baya berlari ke arahku. Tante Kana, ibunya Hani. Sambil tersedu-sedu dia memelukku.

(10)

Namun semua orang yang mendengar hanya menjawab dengan gelengan pelan. Ada perasaan berkecamuk dalam hatiku. Aku benar-benar tak mengerti maksud dari tangisan mereka.

“Tante, kalau Tante nggak mau bilang nggak apa-apa. Tapi bolehkah saya tahu sekarang Hani ada di mana? Boleh aku ketemu sama dia?”

Astaga. Tangisan mereka justru makin jadi.

“Maafin Tante, Pram. Kami sengaja nggak ngasih kabar ini ke kamu. Kami juga nggak ingin terjadi sesuatu sama kamu”

“Maksud Tante…?”

“Pram” suara Om Diro, mendekat dan menepuk bahuku, “Kamu yang ikhlas ya Pram…”

Apa maksudnya? Hatiku semakin tertekan dengan ucapan-ucapan itu. Karena bingung, aku lari menyerang masuk ke dalam rumah. Semua orang seolah mengatakan ini malam begitu kelam. Tak ada senyuman. Tatapan mereka pun beku.

“Kak Pram”, adiknya Hani yang berumur 5 tahun itu memanggilku dari pintu kamar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :