• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT TELOGO REJO SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT TELOGO REJO SEMARANG"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT TELOGO REJO

SEMARANG

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pendidikan

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh: Margaretha Nono NIM : 031114035

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKUTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT TELOGO REJO

SEMARANG

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pendidikan

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh: Margaretha Nono NIM : 031114035

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKUTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma,

karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma

Matius 10 : 8

Di mana ada kemauan di situ ada jalan

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana karya ilmiah.

Yogyakarta, 13 April 2011 Penulis,

(7)

vi ABSTRAK

KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT TELOGO REJO SEMARANG

Margaretha Nono Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2011

Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali. Salah satu jenis kanker yang banyak terjadi pada wanita adalah kanker payudara. Penderita kanker payudara seringkali merasa tidak berguna lagi baik bagi keluarga maupun masyarakat. Karena itu, penderita harus menjaga dirinya agar tidak menyerah, atau terlalu dini menerima suatu keadaan buruk sebagai takdir sehingga masih mampu memaknai kehidupannya.

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui gambaran penderitaan yang dialami pasien kanker payudara, mengetahui tahap-tahap penemuan dan pemenuhan makna hidup dalam penderitaan, serta memperoleh gambaran sejauh mana proses perjuangan penderita kanker payudara dalam memaknai hidupnya. Subjek penelitian ini adalah penderita kanker payudara. Adapun subjek yang dijadikan responden penelitian adalah Tyas (nama samaran), seorang penderita kanker payudara stadium 3B. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang diawali dari adanya fakta yang terjadi atau fenomena yang ditemukan oleh peneliti. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mengalami penderitaan secara fisik dan mental. Responden melalui berbagai tahap dalam penemuan makna hidup. Tahap pertama, penderitaan yang dilalui responden dengan perasaan hampa karena mengira Tuhan tidak adil kepada dirinya. Tahap kedua adalah tahap penerimaan yang dilalui responden dengan dukungan perhatian dan kasih sayang dari pihak keluarga. Selanjutnya pada tahap ketiga, responden melalui tahap penemuan makna hidup dengan melakukan kembali aktivitas di rumah, memberikan perhatian pada pendidikan anaknya, serta aktif dalam kegiatan bisnis sebagai realisasi nilai kreatif, memahami dan menghayati kasih sayang, perhatian, serta cinta kasih dari keluarga serta kerabatnya sebagai realisasi nilai penghayatan, dan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat, seperti seminar, serta sharing mengenai pengalaman penderita sebagai realisasi makna. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa responden melalui proses yang cukup berat dalam menemukan makna hidupnya.

(8)

vii ABSTRACT

THE LIFE MEANINGFULNESS TYAS OF A BREAST CANCER PATIENT AT TELOGO REJO SEMARANG HOSPITAL

Margaretha Nono Sanata Dharma University

Yogyakarta 2011

Cancer or malignant neoplasms is a disease characterized by typical cell cycle abnormalities that lead to the ability of cells to grow uncontrolled. A type of cancer which commonly occurs in women is breast cancer. Breast cancer patients often experience a feeling of hopeless to the family as well as to the society. Therefore, these patients have to prevent themselves from feeling hopeless in life or from accepting the hard situation as a bad luck and thereby is still able to find meaning of their lives.

This study aimed to know the description of the sufferings experienced by a breast cancer patient, to know the stages to discover the meaning of life as well as its fulfillment, and to get a picture of the struggling process in her efforts to find the meaning of life. The respondent of the study was Tyas (not real name), a stage 3B breast cancer patient. This qualitative study was inspired by some facts noticed by the researcher. The data were collected through in-depth interviews, observations and documentations.

(9)

viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa universitas Sanata Dharma Nama : Margaretha Nono

Nim : 031114035

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

KEBERMAKNAAN HIDUP TYAS PASIEN KANKER PAYUDARA DIRUMAH SAKIT TELOGO REJO SEMARANG

Beserta perangkat yang diperlukan (jika ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 13 April 2011

Yang menyatakan

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Hidup adalah anugerah terindah dari Sang Pemberi Kehidupan. Begitu pula pengalaman perjumpaan penulis dalam penelitian adalah anugerah penuh “rahmat” yang indah dan luar biasa. Karena itu penulis hanya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang karena kehendak dan bimbinganNya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Drs. T. Sarkim, M. Ed., Ph. D. selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah berkenan mengesahkan skripsi ini.

2. Dr. M. M. Sri Hastuti, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis skripsi dengan jenis penelitian studi kasus.

3. Drs. T. A. Prapancha Hary, M. Si, selaku pembimbing utama dalam penulisan skripsi ini, yang memungkinkan penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

4. Semua dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah memberikan banyak pelajaran yang berharga bagi penulis.

(11)

x

6. Mama tercinta, kakak-kakak dan adik tercinta yang dengan caranya masing-masing telah banyak mendukung, setia mendoakan dan memotivasi penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. 7. Sr. Sisilia, CB dan para suster CB yang telah berjuang bersama penulis,,

dan telah memberikan warna tersendiri dalam hidup penulis sehingga penulis dapat bertahan dalam studi.

8. Mas Didi, Cipri Kaka, Mas Gugun, P. Yanto, P. Yono. Sr. Anuncita CB, Sr. Trisiani, CB, Sr. Aufrida CB, Sr. Mekthilde CB yang setia sebagai sahabat di saat susah dan senang dan menjadi sumber inspirasi bagi penulis dalam hidup.

9. Teman-teman kos di gang Surya: Rose, Wicha, Retha, Bety yang telah banyak memberi dorongan pada penulis untuk menyelesaikan studi.

10.Sr. Andayani CB dan para suster Panti Rapih, yang telah mendukung dan mendoakan penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik.

11.Mbak Anna dan Yongki, Ci Keiza yang selalu memperhatikan dan mendorong penulis untuk menyelesaikan skripsi serta selalu mendorong penulis untuk menggapai impian-impian.

12.Rm. Yosep PR, Kak Feri & Iis, Nini G. Gara dan Abe G. Gara, yang telah mendoakan, memotivasi dan setia mendampingi penulis agar menyelesaikan studi.

(12)

xi

menjadi tempat curahan hati bagi penulis sehingga penulis tetap sabar dan optimis dalam menyelesaikan kuliah.

Yogyakarta, 13 April 2011 Penulis

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTACT ... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Definisi Operasional ... 6

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Kegunaan / Manfaat Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Teori Makna Hidup ... 9

1. Landasan Filosofis Logoterapi ... 9

2. Penderita Kehilangan Makna ... 15

3. Sumber-Sumber Makna Hidup ... 17

B. Kanker ... 19

1. Pandangan Umum tentang Kanker ... 19

2. Proses Terjadinya Kanker ... 19

3. Pengertian Kanker atau Neoplasma Ganas ... 20

4. Epidemologi Kanker di Indonesia ... 21

5. Faktor Penyebab Kanker ... 21

(14)

xiii

C. Tinjauan Khusus Mengenai Kanker Payudara ... 25

1. Pengertian Kanker Payudara ... 26

2. Epidemologi Kanker Payudara di Indonesia dan Dunia ... 26

3. Faktor Resiko Kanker Payudara ... 27

4. Gejala Kanker Payudara ... 28

5. Lokasi atau Letak Kanker Payudara ... 29

6. Pencegahan ... 30

7. Pengobatan ... 32

8. Diagnostik ... 33

D. Pendekatan Konseling yang Relevan ... 34

1. Teori Konseling ... 34

2. Teknik yang Digunakan dalam Kasus Kebermaknaan Hidup 35 III METODOLOGI PENELITIAN ... 37

A. Rancangan Penelitian ... 37

B. Subjek Penelitian ... 38

C. Metode Pengumpulan Data ... 39

1. Riwayat Hidup ... 39

2. Wawancara ... 39

3. Observasi ... 41

D. Lokasi dan Sasaran Penelitian ... 42

E. Waktu Pelaksanaan ... 42

F. Langkah-Langkah/Tahap Penelitian ... 42

1. Tahap Pra-Lapangan ... 43

2. Tahap Kegiatan Lapangan ... 44

3. Tahap Analisis Intensif ... 44

4. Tahap Penulisan Laporan ... 44

G. Tahap Pemeriksaan Keabsahan Data ... 44

1. Derajat Kepercayaan (Credibility) ... 44

2. Keteralihan (Transferability) ... 45

3. Kebergantungan (Dependability) ... 46

(15)

xiv

H. Teknik Analisis / Pengolahan Data ... 47

IV PELAKSANAAN DAN DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ... 48

A. Pelaksanaan Penelitian ... 48

B. Ringkasan Hasil Penelitian ... 49

1. Riwayat Hidup ... 49

2. Data Hasil Obserbasi Secara Umum ... 60

3. Wawancara Informasi dengan Suami Subjek Penelitian ... 60

V PELAKSANAAN DAN DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ... 62

A. Gambaran Penderitaan yang Disebabkan Kanker Payudara ... 62

B. Gambaran Tahap-Tahap Penemuan Makna Hidup ... 64

1. Tahap Derita ... 64

2. Tahap Penerimaan Diri ... 65

3. Tahap Penemuan Makna Hidup ... 66

4. Tahap Realisasi Makna ... 70

5. Tahap Penghayatan Hidup Bermakna ... 70

C. Gambaran Proses Perjuangan Penderita dalam Memaknai Hidup . 71 VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

A. Kesimpulan ... 73

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan secara fisik akan turut mempengaruhi akal pikiran, dan kondisi kejiwaan manusia. Kondisi kesehatan fisik yang tidak baik seringkali dapat menimbulkan kecemasan psikologis sehingga manusia tidak dapat menjalani kehidupannya dengan normal. Kesehatan dapat diartikan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Nafsiah, 2000: 41).

(17)

Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal), kemudian menyerang jaringan biologis di dekatnya, serta bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, atau disebut dengan metastasis. Ditinjau dari penyebabnya, kanker adalah penyakit yang 90-95% kasusnya disebabkan faktor lingkungan dan 5-10% karena faktor genetik (Anand, et al. 2008: 25). Faktor lingkungan yang biasanya mengarahkan kepada kematian akibat kanker adalah tembakau (25-30%), diet dan obesitas (30-35 %), infeksi (15-20%), radiasi, stres, kurangnya aktivitas fisik, dan polutan lingkungan.

(18)

sangat sulit diobati. Hal ini disebabkan kanker telah menyebar ke bagian organ atau jaringan tubuh lainnya. Namun jika kanker payudara diketahui pada stadium awal atau dini, maka masih dapat disembuhkan.

Kanker payudara merupakan jenis kanker umum yang terjadi pada perempuan. Hal ini berdasarkan penelitian di Amerika, yang menunjukan bahwa hampir sepertiga kanker yang didiagnosa pada perempuan adalah kanker payudara. Pada tahun 2000, diperkirakan lebih dari 180.000 perempuan di Amerika didiagnosa mengidap kanker payudara dan lebih dari 40.000 meninggal karena kanker payudara, walaupun kaum lelaki dapat juga terkena kanker payudara, tetapi kemungkinan terkena kanker payudara pada perempuan 100 kali lipat di bandingkan lelaki (Diananda, 2007: 66-67). Di Indonesia, kanker payudara berada pada posisi kedua sebagai penyebab kematian tertinggi pada perempuan setelah kanker rahim (Dalimartha, 2007: 19).

(19)

Sebagai makluk sosial, manusia senantiasa berada di dalam lingkungan dan hadir sebagai anggota masyarakat. Begitu pula dengan penderita kanker payudara, penderita adalah seorang individu yang tidak lepas dari keluarga ataupun masyarakat. Terkadang masalah yang dialami oleh penderita juga berpengaruh terhadap relasinya dengan keluarga ataupun dengan masyarakat. Penderita seringkali merasa tidak berguna lagi baik bagi keluarga maupun masyarakat. Karena itu, penderita sangat membutuhkan orang lain yang menjadi teman untuk berbagi suka dan duka, untuk memahami kondisi psikis dan fisiknya yang kurang baik. Dengan demikian, penting sekali adanya orang lain yang mau mendengarkan keluhan penderita. Dengan kehadiran orang lain yang mendengarkan dan memahami, diharapkan dapat mengurangi rasa takut, cemas, dan tidak merasa sendirian. Hal ini ditujukan agar penderita mampu mengembangkan sikap optimis dalam diri, membantu dalam proses penyembuhan, serta dapat menerima diri secara positif. Dapat dikatakan bahwa kehadiran orang lain akan membantu penderita agar merasa hidupnya lebih bermakna.

(20)

Menurut Frankl (Koeswara, 1992), selama manusia sadar ia dituntut bertanggungjawab merealisasikan nlai-nilai yang tidak saja ketika individu menghadapi penderitaan, tetapi juga ketika individu menghadapi maut yang menjemputnya. Frankl (2004) juga menyetakan bahwa kesakitan atau penderitaan dapat bertindak sebagai pemeliharaan keterjagaan. Pada taraf biologis, penderitaan berperan menjaga individu agar individu tetap sadar.

Penderitaan berfungsi memelihara individu agar tidak terjatuh dalam sikap apatis atau menjalani kematian psikis (psychic rigor mortis). Karena itu, individu haruslah menjaga dirinya agar tidak menyerah, atau terlalu dini menerima suatu keadaan buruk sebagai takdir sehingga masih mampu mamaknai kehidupannya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kebermaknaan hidup pasien kanker payudara.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang dirumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana gambaran penderitaan Tyas yang disebabkan oleh kanker

payudara?

2. Bagaimanakah tahap-tahap penemuan dan pemenuhan makna hidup oleh Tyas dalam penderitaannya?

(21)

C. Definisi Operasional

Defenisi operasional variabel yang terdapat dalam fokus perumusan masalah di atas adalah sebagai berikut.

1. Penderita kanker payudara adalah orang yang menderita, menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan, sehubungan dengan penyakit yang diderita, dalam hal ini yaitu kanker payudara.

2. Makna hidup adalah sesuatu yang berharga dan berarti, merasa bahagia dan adanya semangat hidup serta merasa berharga bagi diri sendiri dan orang lain.

3. Yang menjadi subjek penelitian adalah Tyas (nama Samaran) yang sedang menjalani pemeriksaaan dan pengobatankanker payudara di rumah sakit Telogo Rejo Semarang.

D. Tujuan Penenelitian

Penelitian ini ditujukan untuk:

1. Mengetahui gambaran penderitaan Tyas yang disebabkan oleh kanker payudara.

2. Mengetahui tahap-tahap penemuan dan pemenuhan makna hidup Tyas dalam penderitaan.

(22)

E. Kegunaan / Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan manfaat sebagai berikut.

1. Manfaat Teoretik

Secara teoretik, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan pengetahuan bimbingan dan konseling, khusunya menyangkut perjuangan penderita kanker payudara memaknai hidupnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Kaum Perempuan

1) Hasil penelitan ini dapat memberikan masukan tentang pentingnya pemenuhan makna hidup bagi perempuan dengan memperhatikan segalah kebutuhan, baik kebutuhan fisik maupun psikologis.

2) Hasil penelitian ini menyadarkan bahwa memaknai hidup memiliki dampak yang positif bagi penderita kanker payudara, karena itu penelitian ini penting sebagai masukan agar kaum perempuan menyadari dan mengenali kesehatan organ tubuhnya dalam usaha mencegah dan mendeteksi secara dini adanya kanker pada payudara.

b. Bagi Konselor

(23)

c. Bagi Penulis

1) Penelitian bermanfaat bagi penulis untuk mengenal dan memahami kondisi psikologis para penderita kanker payudara.

2) Penelitian ini sangat bermanfaat sebagai bekal bagi penulis di masa mendatang dalam mendampingi kaum perempuan, baik yang belum atau yang sedang menderita kanker payudara maupun yang sudah mengalami kanker payudara.

(24)

9 BAB II KAJIAN TEORI

A. Teori Makna Hidup

Teori yang digunakan sebagai dasar penelitian adalah teori makna hidup Viktor Frankl, yang berpendapat bahwa setiap manusia mendambakan kehidupan yang bermakna dan akan selalu mencarinya. Selain itu, peneliti juga menggunakan teori penemuan makna hidup Bastaman, yang berpendapat bahwa seseorang akan mengalami beberapa tahap sebelum menemukan dan memenuhi makna hidupnya yaitu tahap derita, tahap penerimaan diri, tahap penemuan makna hidup, tahap realisasi makna, dan tahap penghayatan hidup bermakna. Makna hidup dapat ditemukan dalam berbagai situasi baik, penderitaan, maupun kematian. Manusia memiliki kebebasan dalam menemukan makna hidup. Karena itu manusia dalam perjuangan hidupnya akan selalu mencari dan selalu memberi arti bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

1. Landasan Filosofis Logoterapi

(25)

a. Kebebasan Berkeinginan (Freedom of Will)

Menurut Frankl (Koeswara, 1992) kebebasan yang termasuk kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari kebahagian dalam pengalaman manusia. Tetapi Frankl juga mengakui bahwa kebebasan manusia sebagai makluk yang terbatas merupakan kebebasan yang berada dalam batas-batas. Manusia tidak bebas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis. Akan tetapi, manusia berkebebasan untuk mengambil sikap dalam menangani kondisi-kondisi tersebut sehingga mampu untuk memasuki dimensi baru. Menurut Frankl (Koeswara, 1992) manusia tidak hanya sanggup mengambil sikap terhadap dunia tetapi juga sanggup dan bebas mengambil sikap terhadap diri sendiri. Pendek kata dengan memasuki noologis atau dimensi spiritual. Manusia meninggalkan martabatnya sebagai makluk yang hidup tidak semata-mata dikuasai oleh ketentuan biologis dan psikologis, namun karena terletak kebebasan berkeinginan dari manusia.

(26)

untuk memenuhi kenyataan hidupnya. Konsep ini menawarkan ketegangan antara kenyataan diri sekarang dengan makna-makna yang harus dipenuhi. Koeswara (1992) menyatakan bahwa konfrontasi pada makna hidup merupakan perwujudan dari kemauan dan kemampuan manusia dalam memikul beban ketidakberdayaan dan menerima keterbatasannya yang merupakan prasyarat menjadi pribadi yang sehat. Orang yang tidak mampu atau tidak berani berkonfrontasi dengan makna hidupnya adalah orang yang melarikan diri dari keterbatasanya.

Menurut Frankl (Gatot, 2003) konsep mengenai makna hidup adalah hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila terpenuhi akan memberikan perasaan berharga dan berarti. Makna itu sendiri merupakan bagian kenyataan yang dijumpai disetiap segi kehidupan dan bisa berubah-ubah dari satu situasi ke situasi lain. Dan makna tidak dapat diberikan oleh orang lain tetapi harus ditemukan oleh dirinya sendiri.

b. Keinginan akan Makna (Will to Meaning)

Konsep kebabasan berkeinginan yang dimaksudkan adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Sudarto dan Wirawan (2001) menyatakan bahwa seseorang harus menerima tanggungjawab terhadap pilihannya atas realisasi nilai-nilai dan pemenuhan makna bagi keberadaan dirinya.

(27)

merupakan prasyarat bagi mental yang sehat, sementara penghindaran dari ketidaklengkapan dan penolakan atas keterbatasan diri merupakan ciri dari kepribadian yang neurotik, yaitu orang yang tidak sanggup menanggung tegangan hidup yang wajar, baik tegangan fisik, psikis maupun moral. Oleh karena itu menurut Frankl konfrontasi dengan makna adalah sesuatu yang sehat dan memperkuat individu (Koeswara, 1992: 56).

Frankl (Schulz, 1991) sangat menentang pendirian-pendirian yang memberi ciri pada kondisi manusia sebagai yang ditentukan oleh insting-insting biologis atau konflik-konflik masa kanak-kanak atau sesuatu kekuatan dari luar. Individu tidak hanya tunduk pada kondisi-kondisi dari luar yang mempengaruhi, tetapi individu bebas untuk memilih reaksi terhadap kondisi-kondisi yang dialami. Individu tidak dapat bertahan terhadap kekuatan dari luar, karena kekuatan-kekuatan tersebut dapat mengubah keadaan. Akan tetapi individu bebas dan mampu mengambil sikap terhadap dunia dan terhadap dirinya sendiri. Hal ini memberi individu kebebasan terakhir untuk mengatasi keadaan derita.

(28)

seseorang (Koeswara 1992: 58). Sama halnya juga pada saat seseorang didiagnosa terserang kanker payudara, ia tidak dapat menolak dan menghindar dari kenyataan tersebut. Tetapi hal ini bukan akhir dari segala-galanya. Apabila masih dapat berdiri untuk melakukan segala sesuatu sendiri, masih bisa beraktivitas seperti sebelum diketahui menderita penyakit kanker payudara. Penderita memang tidak dapat melawan kanker payudara tetapi tidak boleh menyerah dengan diagnosa tersebut. Kebebasan masih dimiliki untuk memberi arti pada kehidupan, meskipun sedang menderita kanker payudara.

c. Makna Hidup (Meaning of Life)

Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Apabila makna hidup berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. pada akhirnya akan menimbulkan penghayatan bahagia (happiness).

(29)

Dengan kata lain setiap bentuk pekerjaan mengantarkan individu kepada makna apabila pekerjaan itu merupakan usaha memberikan sesuatu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama). Dalam menghadapi penyakit yang diderita, pasien kanker payudara tidak saja meratapi ketidakberdayaannya tapi juga dapat melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan kemampuannya yang bisa berarti bagi dirinya dan orang lain.

Selain nilai-nilai kreatif, individu bisa menemukan makna dalam merealisaikan nilai eksperiensial atau penghayatan yaitu nilai-nilai yang direalisasikamn dengan mengambil sikap sebaliknya dari relasi kreatif (memberikan sesuatu kepada hidup yakni sikap menerima (reseptif) dari atau menyerahkan hidup kepada dunia (kehidupan) tepatnya melalui keindahan, kebenaran dan sesama (Koeswara, 1992: 63).

(30)

Bagaimanapun, individu seharusnya menjaga dirinya agar tidak menyerah dan putus asa atau terlalu dini untuk menerima sesuatu keadaan buruk sebagai takdir (Koeswara, 1992: 67). Hanya bila keadaan sungguh-sungguh tidak dapat dirubah dan tidak ada peluang lagi bagi individu untuk merealisasikan nilai kreatif maka individu secara iklas dan tawakal menyerahkan dirinya pada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari (Koeswara, 1992: 67).

Adanya nilai bersikap maka hidup atau keberadaan manusia tidak akan pernah secara intrinsik tak bermakna sampai nafasnya yang terakhir. Selama manusia masih sadar dia dituntut bertanggungjawab untuk merealisaikan nilai-nilai bahkan nila-nilai bersikap. Menurut Frankl (Koeswara, 1992), nilai bersikap tidak hanya ketika individu menghadapi penderitaan tetapi juga ketika individu menghadapi kematian yang menjemputnya.

2. Penderitaan: Kehilangan Makna

(31)

Penghayatan hidup tak bermakna ini menurut Frankl bersumber dari insting / naluri yang hampir tidak berfungsi lagi serta memudarnya nilai-nilai tradisi pada orang- orang moderen. Sebagimana yang dikatakan oleh Frankl (Zohar dan Marshal, 2002) pencarian kita akan makna hidup merupakan motivasi penting dalam hidup kita, apabila kebutuhan makna itu tidak terpenuhi, hidup menjadi terasa dangkal dan hampa. Kegagalan dalam mencari makna itulah yang disebut penderitaan. Suatu krisis yang mendasar yang banyak diderita oleh orang zaman sekarang.

Menurut Bastaman (1996) ada beberapa unsur dalam penderitaan, yakni:

a. Perasaan yang tidak menyenangkan. Unsur emosi ini tidak terpisahkan dari penderitaan dan dihayati secara unik oleh masing-masing penderita dengan intensitas yang berbeda-beda.

(32)

c. Penderitaan itu tidak hanya dirasakan oleh penderita tetapi apa yang menimpa penderita menimpa orang-orang yang dikasihi akan dirasakan pula sebagai penderitaan oleh orang yang dicintainya. Seperti halnya yang dialami oleh penderita kanker payudara penderitan yang dialami juga menjadi penderitaan yang dialami oleh seluruh keluarganya.

d. Kesulitan-kesulitan yang menimbulkan penderitaan seperti penyakit badani, ganguan dan penyakit jiwa, keterpisahan (cerai, lari, mati, terkucil menyendiri). Frankl menyebutnya hal-hal yang menimbulkan penderitaan itu sebagai tiga ragam penderitaan yang sering ditemukan manusia dalam kehidupan manusia, yaitu sakit, salah dan kematian.

Sakit secara komprehensip dirumuskan sebagai “suatu keadaan mental atau fisik yang kurang baik atau kegelisaan mental dan fisik. Brandon (Bastaman, 1996), mengatakan bahwa sakit merupakan“a warning system” pada dimensi biologis, yakni rasa sakit menunjukan tanda adanya gangguan tertentu pada tubuh. Sebaliknya ketidakmampuan mengalami rasa sakit justru merupakan gejala sakit dan bukan gejala sehat, dan hal itu tidak hanya berlaku pada dimensi biologis tetapi juga berlaku pada dimensi kejiwaan.

3. Sumber-Sumber Makna Hidup

Sumber-sumber makna hidup dapat ditemukan dalam tiga nilai hidup yakni:

(33)

membantu orang untuk lebih mencintai dan menekuni pekerjaan yang dihadapi atau melakukannya dengan penuh kesungguhan.Contoh :merakai bunga dari cangkang telur ayam. Mengumpulkan bahan – bahan yang akan di gunakan ketika merangkai termasuk cangkang telur ayam. Kemudian merangkai satu persatu dalam suatu vas hingga rankain itu selesai di rangkai menjadi suatu rangkain yang indah. Atau contoh lain adalah membuat menuh dalam varasi yang bermacam – macam tapi dari bahan yang sama.

b. Pendalaman nilai-nilai penghayatan, yakni suatu nilai yang mengambil sesuatu yang berharga dari lingkungan luar untuk mendalaminya melalui jalan keindahan, kebenaran, kebajikan, keimanan, cinta kasih, bila dilaksanakan akan memberikan rasa bahgia, kepuasan, ketentraman serta merasa bermakna. Contoh : ketika subjek penelitian menderita sakit, orang- orang terdekat seperti suami, anak – anak dan ibunya sangat memperhatikan dan menyayangi subjek ehingga subjek sungguh mengalami kebahagiaan.

(34)

B. Kanker

1. Pandangan Umum Tentang Kanker/ Neoplasma Ganas

Neoplasma ganas adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dari suatu bagian tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh tubuh itu sendiri. Neoplasma atau tumor ganas dapat dibedakan menjadi dua yaitu neoplasama jinak dan neoplasma ganas (Purwoastuti, 2008: 8)

a. Neoplasma jinak dengan ciri-ciri: tumbuh lambat dan terbatas, tidak berakar sehingga mudah digerakan, biasanya tidak atau jarang menimbulkan kematian.

b. Neoplasama ganas dengan ciri- ciri: tumbuh cepat, berakar sehingga sulit digerakkan, bila terlambat diketahui dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh, sering menimbulkan kematian terutama bila terlambat diketemukan atau diobati.

2. Proses Terjadinya Kanker

(35)

a. Tahap 1 (tahap inisiasi)

Pada tahap ini terjadi perubahan genetik yang menetap akibat rangsangan bahan atau agen inisiator yang menimbulkan proses inisiasi. Perubahan yang terjadi adalah irreversible.

b. Tahap 2 (tahap promosi)

Dalam tahap ini terjadi perubahan ke arah pra kanker akibat bahan-bahan prometer. Perubahan yang terjadi akibat pengaruh prometer yang berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama. Tahap ini reversible, artinya resiko timbulnya kanker akan hilang bila prometernya di hilangkan.

c. Tahap 3 (tahap progresif)

Telah terjadi pertumbuhan kanker, sudah meluas (invasive) dan beranak sebar ke tempat yang jauh (metastesas).

3. Pengertian Kanker Atau Neoplasma Ganas

(36)

pembuluh getah bening. Dalimartha (2007) menyatakan bahwa di tempat yang baru anak sebar akan tumbuh menjadi kanker baru yang mempunyai sifat yang sama dengan kanker induknya, sampai akhirnya menyebabkan kematian penderitanya.

4. Epidemologi Kanker di Indonesia

Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian nomor 6, dan diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya (Depkes, 2003). Dengan demikian, masalah penyakit kanker mengalami lonjakan yang luar biasa. Dalam jangkah waktu 10 tahun terlihat bahwa peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik dari peringkat 12 menjadi 6. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat 190.000 penderita baru dan seperlimanya akan meninggal akibat penyakit kanker. Namun angka kematian ini bisa 3-35 % asalkan dilakukan tindakan deteksi dini. Di Indonesia diperkirakan 20.000 kasus kanker servix setiap tahun di Rumah Sakit Dharmais pada tahun 1993 / 1994 ada 710 kasus baru (Diananda, 2007: 20).

5. Faktor Penyebab Kanker

Telah diketahui bahwa faktor genetik dan lingkungan dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker. Menurut Diananda (2007: 22), faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko tersebut adalah:

a. Riwayat Keluarga

(37)

Misalkan resiko perempuan untuk menderita kanker payudara meningkat 1,5 - 3 kali jika ibunya atau saudara perempuannya menderita kanker payudara. Beberapa kanker payudara berhubungan dengan suatu mutasi genetik yang khas, yang lebih sering ditemukan pada beberapa kelompok etnik dan kelurga. Perempuan dengan mutasi gen ini memiliki peluang sebesar 80 - 90 % untuk menderita kanker payudara dan 40 - 50 % untuk menderita kanker indung telur.

b. Usia

Semakin tua seseorang, maka semakin meningkat resiko terjadinya kanker. Umumnya kanker mulai muncul pada usia 65 tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada anak dan remaja. c. Faktor Lingkungan

Salah satu faktor lingkungan yang dapat menyebabkan resiko kanker adalah merokok. Merokok dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru, mulut, pita suara dan kandung kemih. Selain itu, faktor lingkungan lain seperti pemaparan yang berlebihan dari sinar matahari, dapat menyebabkan kanker kulit. Radiasi ionisasi yang digunakan dalam sinar X dihasilkan dari pembangkit listrik dan tenaga nuklir dan ledakan bom atom. Pemaparan uranium pada pekerja tambang juga meningkatkan resiko terjadinya kanker paru-paru.

d. Makanan

(38)

resiko kanker lambung. Peminum alkohol juga memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya kanker kerongkongan.

e. Bahan kimia

Orang dengan pekerjaan tertentu dapat mengalami peningkatan resiko kanker misalnya pekerjaan yang berhubungan dengan cat, pekerja konstruksi yang menggunakan zat kimia (misalnya abses, benzene, vinil klorida).

f. Tempat tinggal

Resiko terjadinya kanker juga bervariasi, berdasarkan tempat tinggal seseorang. Misalnya resiko terjadinya kanker usus besar dan payudara di Jepang rendah, tetapi resiko ini meningkat pada orang-orang jepang yang tinggal di Amerika dan pada akhirnya akan memiliki resiko yang sama besarnya dengan penduduk Amerika lainnya. Variasi geografis dalam resiko kanker ini agaknya melibatkan banyak faktor mulai dari genetik, makanan, dan lingkungan.

g. Virus

Virus penyebab kanker ini disebut virus onkogenik, misalnya virus papilloma yang menyebabkan kutil genitalis agaknya merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada perempuan. Virus retro manusia, misalnya virus HIV dapat menyebabkan limfoma dan kanker darah lainya.

h. Infeksi

(39)

kandung kemih. Tetapi penyebab iritasi lainnya tidak menyebabkan kanker. Infeksi oleh clonorchis yang terutama banyak ditemukan bisa menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.

i. Hormon

Diketahui bahwa pemberian hormon tertentu secara berlebihan dapat menimbulkan kanker pada organ tubuh yang dipengaruhinya. j. Pola makan yang tidak sehat

Kurangnya aktivitas fisik berkurang, dan berat badan yang berlebihan juga dapat memicu kanker. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pola makan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik dan kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker.

6. Gejala Umum Kanker

Gejala umum kanker adalah sebagai berikut.

a. Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena (misal adanya benjolan di payudara, di perut, dan lain-lain)

b. Terjadi perubahan warna (perubahan warna tahi lalat) c. Demam kronis

d. Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara pada kanker di leher

e. Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/kandung kemih (perubahan pola BAB, BAB berdarah)

(40)

g. Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan abnormal dari puting payudara)

C. Tinjauan Khusus Tentang Kanker Payudara

Penyakit kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur dan jenis kelamin. Dari segi status sosial, penyakit kanker dapat meyerang orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi maupun orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. Anak-anak, remaja dan orang dewasa tidak luput dari serangan kanker. Begitu pula baik lelaki maupun perempuan dapat terserang oleh penyakit yang paling ditakuti ini. Berdasarkan data yang ada diperkirakan sekitar 60 % penderita kanker di Indonesia adalah perempuan (Mardiana, 2004).

Kanker dapat menyerang jaringan dalam berbagai organ tubuh termasuk organ reproduksi perempuan. Organ reproduksi tersebut sangat penting karena menjadi identitas kesempurnaan seorang perempuan. Jika organ tubuh tersebut terserang kanker maka kesempurnaan seorang perempuan menjadi berkurang (Mardiana, 2004).

(41)

memeriksakan benjolananya, sebagian akan mencoba pengobatan alternatif, sementara sebagian orang berusaha untuk melupakannya dan tidak melakukan tindakan apapun.

Menurut Diananda (2007), depresi dapat menjadikan penderita kanker menjadi sedih, merasa kosong sepanjang hari, kehilangan minat dan kegembiraan melakukan hal-hal yang disenangi, perasaan bersalah, tidak berharga, tidak berdaya, bunuh diri, gangguan pola tidur dan lain sebagainya. Karena itu penderita kanker ataupun keluarganya sangat membutuhkan pendampingan dari seseorang agar mereka tetap semangat.

1. Pengertian Kanker Payudara

Kanker payudara adalah pertumbuhan serta perkembangbiakan sel abnormal yang muncul pada jaringan payudara.

2. Epidemologi Kanker Payudara di Indonesia dan Dunia

Jumlah penderita kanker payudara di seluruh dunia terus mengalami peningkatan. Dalam penelitan pada tahun 1993 diperkirakan jumlah kasus baru di seluruh dunia mencapai 720.000 orang, terdiri atas: 422.000 di negara maju dan 290 di negara berkembang.

(42)

3. Faktor Resiko Kanker Payudara

Penyebab pasti dari kanker payudara belum diketahui, namun ada beberapa faktor resiko yang bisa meninggkatkan kemungkinan terjadinya kanker payudara (Dalimartha, 2004). Beberapa diantaranya sebagai berikut.

a. Riwayat Keluarga

Beberapa keluarga yang dianjurkan untuk pemerikasaan deteksi dini yaitu ibu atau saudara perempuan terkena kanker yang berhubungan dari ibu atau ayah, kanker ovarium, endometrium, prostat, tumor otak, leukemia, sarkoma.

b. Faktor Hormon

Faktor hormon merupakan faktor yang banyak berpengaruh pada timbulnya kanker payudara, seperti mendapat haid pertama (menarke) sebelum umur 10 tahun, mati haid (menopause) pada umur 45 tahun, tidak menikah atau tidak pernah melahirkan anak, dan tidak pernah menyusui anak.

c. Faktor Usia

Perempuan berusia di atas 35 tahun mempunyai kemungkinan lebih besar mendapat kanker payudara dan kemungkinan tersebut terus bertambah sampai menopause.

(43)

e. Pernah menggunakan obat hormonal yang lama seperti terapi sulih hormon atau replacement theraphi (HRT) dan pengobatan kemandulan (infertilitas).

f. Pemakai kontrasepsi oral pada penderita tumor payudara.

g. Pernah mendapat radiasi sebelumnya pada payudara atau dinding dada misalnya untuk pengobatan keloid.

h. Peningkatan berat badan yang meningkat pada usia dewasa. i. Perempuan bekerja pada malam hari.

Pusat penenlitian kanker firet hutchisen cancer di Seatle, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa perempuan bekerja pada malam hari mempunyai peluang 60% terkena kanker payudara. Cahaya lampu yang kusam pada malam hari dapat menekan produksi melatonin loctural pada otak sehingga hormon ekstrogen diproduksi oleh ovarium meningkat. Pada hal melatonin berfungsi untuk menekan pertumbuhan sel kanker payudara.

j. Perempuan yang tidak pernah melahirkan.

k. Perempuan yang melahirkan anak pertama sesudah umur 35 tahun. l. Perempuan yang terlalu banyak mengkonsumsi alkohol

m. Konsumsi makan berlemak dan berprotein tinggi tetapi rendah serat yang terlalu banyak dan sering, karena mengandun zat karsinogen yang dapat merangsang pertumbuhan sel kanker.

4. Gejala Kanker Payudara

(44)

aktivitasnya. Tanda yang mungkin dirasakan pada stadium dini adalah teraba benjolan kecil di payudara. Keluhan baru terasa bila penyakitnya sudah lanjut beberapa keluhan, yaitu (Dalimarha, 2004; dan Purwoastuti, 2008):

a. Teraba benjolan pada payudara yang tidak dapat di gerakan dari dasar / jaringan sekitar, pada awalnya tidak terasa sakit atau nyeri sehingga kurang mendapat perhatian dari penderita.

b. Bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya. c. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau di obati.

d. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh walau diobati.

e. Keluar darah, nanah, atau cairan encer dari puting atau keluar air susu pada perempuan yang tidak sedang hamil atau tidak sedang menyusui. f. Puting susu tertarik kedalam.

g. Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk.

5. Lokasi atau Letak Kanker Payudara

Untuk menentukan lokasi tumor, payudara dibagi atas 4 (empat) kuadran dan 1 daerah sentral, sebagai berikut:

a. Kuadran lateral (pinggir atas) merupakan lokasi yang paling sering terkena (44%).

b. Kuadran lateral bawah sekitar 16 %

(45)

d. Kuadran lateral bawah merupakan lokasi yang paling jarang terkena kanker (4%).

e. Daerah sentral adalah sekitar puting susu (areola) sekitar (21%). Gambar 2.1. Skema Lokasi Kanker Payudara

6. Pencegahan

Kanker payudara dapat dicegah dengan beberapa tindakan sebagai berikut.

a. Hindari makanan yang berkadar lemak tinggi. Dari hasil penelitiantampak bahwa, konsumsi makanan yang berkadar lemak tinggi berkorelasi dengan peninggkatan kanker payudara.

b. Mengkonsumsi buah dan sayur segar, juga kedelai, tahu, dan tempe karena mengandung fitoestrogen yang dapat menurunkan resiko terserang kanker payudara.

c. Penggunaan obat-obat hormonal harus sepengetahuan atau resep dokter.

1. (44% ) 3. (15% )

2. (16% ) 4. (4% )

(46)

d. Perempuan dengan riwayat keluarga yang menderita kanker payudara atau yang berhubungan, jangan menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung hormon, seperti pil, suntikan dan susuk.

e. Memberikan ASI pada anak selama mungkin dapat mengurangi resiko terkena kanker payudara. Hal ini disebabkan selama proses menyusui tubuh akan memproduksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi produksi estrogen. Hormon estrogen dianggap memegang peranan yang penting dalam perkembangan sel kanker payudara.

f. Lakukan pemeriksaan SADARI setiap bulan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

1) Berdirilah di depan cermin tanpa busana, lalu perhatikan payudara dengan teliti, kedua tangan lurus kebawah. Perhatikan apakah ada kelainan atau perubahan bentuk pada kedua payudara atau puting. Amati dengan teliti, apakah ada tanda seperti: perubahan warna kulit, tarikan pada kulit, perubahan pada puting susu, seperti: menjadi rata dengan sekitarnya tertarik ke dalam, mengeluarkan cairan.

2) Kedua tangan diangkat ke atas kepala, perhatikan apakah ada kelainan pada kedua payudara atau puting susu seperti yang telah dijelaskan di atas.

(47)

4) Tekan daerah sekitar puting susu, pelan-pelan saja, apakah ada cairan yang tidak biasa (tidak normal). Lakukan gerakan ini pada kedua payudara.

5) Ambil posisi berbaring, tangan kanan diletakkan dibawah kepala, dan letakan bawah kepala, dan letakan bantal kecil di bawah punggung kanan, dan rabalah seluruh payudara kanan dengan 3 ujung jari tengah yang dirapatkan. Lakukan gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap, dimulai dari tepi dengan arah mengikuti perputaran jarum jam.

6) Lakukan hal yang sama seperti pada no.5, tetapi kali ini tangan kiri yang diletakan di bawah kepala sedangkan tangan kanan meraba payudara kiri.

7. Pengobatan

Umumnya pengobatan kanker payudara terbagi menjadi dua golongan besar yaitu: pertama pengobatan untuk kanker tahap awal, kedua pengobatan untuk kanker tahap lanjut dan kambuh. Saat ini pengobatan terhadap kanker payudara meliputi operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon dan terapi biologi. Jika kanker masih dalam stadium dini, maka operasi masih dapat dilakukan.

(48)

jaringan normal sekitarnya, lalu dilakukan pemeriksaan tumornya secara histopatologik. Operasi pengangkatan kanker payudara stadium dini dengan atau tanpa penyebaran ke kelenjar getah bening ketiak (aksila) dapat dilakukan dengan metode BCT. Setelah operasi, dibutuhkan radioterapi selama 5-6 minggu untuk membunuh sel kanker yang tersisa ataupun sel kanker yang ada di kelenjar getah bening. Setelah tindakan BCT, pasien harus siap menerima resiko terjadinya kekambuhan pada jaringan payudara karena angka frekuensinya sebesar 10-12%.

8. Diagnostik

Bila ada kelainan pada payudara atau teraba benjolan dibutuhkan pemeriksaan lanjutan, yaitu: mammografi, pemeriksaan petanda tumor, pemeriksaan USG, dan MRI, serta bila diperlukan histopatologi.

(49)

pemerikasaan SADARI, pembesaran kelenjar getah bening ketiak (aksila) yang meragukan, perempuan menopause yang ingin terapih sulih hormon, atau follow up setelah operasi kanker payudara dengan kemungkinan kambuh atau keganasan payudara kontralateral.

b. Pemeriksaan lain bila diperlukan seperti ultrasonografi (USG) dan MRI.

c. Pemeriksaan petanda tumor untuk kanker payudara seperti CA15- 3, MCA (Mucin- like carcinoma antingen), dan CEA.

d. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemerikasaan histopatolgi, yaitu pemeriksaan jaringan payudara yang dicurigai kanker di bawah mikroskop. Bahan pemeriksaan jaringan payudara yang dicurigai kanker di bawah mikroskop. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan cara biopsy. Eksisi biopsy dilakukan melalui operasi. Pemeriksaan secara histologis dilakukan dengan cara potong beku (frozen section) yang dilakukan pada saat itu juga. Bila hasilnya ganas maka operasi definitif harus dilakukan.

D. Pendekatan Konseling yang Relevan pada Kasus Kebermaknaan Hidup 1. Teori konseling

(50)

yang berinteraksi dengan konselor selama jangka waktu tertentu. Pada dasarnya layanan konseling bertujuan untuk menghasilkan perubahan pada konseling dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku. Hal ini berarti bahwa keadaan konseli pada akhir proses konseling berbeda dengan keadaan ketika proses konseling baru dimulai.

2. Teknik yang Digunakan dalam Kasus Kebermaknaan Hidup

Dalam penerapan salah satu teori konseling, konselor harus betul-betul mencermati permasalahan konseli sehingga pada saat menangani permasalahan konseli penerapan teori konseling yang digunakan dapat sesuai dengan jenis permasalahan yang dialami konseli. Namun tidak menutup kemungkinan dalam satu proses konseling penerapan konseling lebih dari satu teori. Hal demikian tergantung pada kebutuhan dan jenis permasalahan konseli serta keahlian konselor.

(51)
(52)

37 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang diawali dari adanya fakta di lapangan atau adanya suatu fenomena yang ditemukan oleh peneliti. Fenomena yang ditemukan oleh peneliti adalah begitu banyaknya orang yang menderita kanker payudara. Berdasarkan fenomena itu, peneliti mencoba menganalisisnya dengan teori makna hidup yang dikemukakan oleh Bastaman dan Viktor Frankl untuk memahami kebermaknaan hidup pada penderita penyakit kanker payudara, agar dapat mengetahui segala sesuatu tersembunyi di balik fakta dan mendapat penjelasan secara terperinci.

Menurut Arikunto (2002), penelitian kualitatif ini memiliki beberapa karakteristik, antara lain:

1. Kejelasan unsur: subjek sampel, sumber data tidak mantap dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan (emergent). 2. Langkah penelitiannya: baru diketahui dengan mantab dan jelas setelah

penelitiannya selesai.

3. Hipotesis: tidak dikemukakan sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung, atau bersifat tentatif.

4. Desain: fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya.

5. Pengumpulan data: harus dilakukan peneliti sendiri.

(53)

Berdasarkan karakteristik masalah pada penelitian ini dapat diketahui bahwa penelitian ini merupakan studi kasus. Studi kasus yaitu penelitian dengan melakukan penelaahan kepada satu kasus secara intensif, mendalam, dan menyeluruh terhadap individu, kelompok, lembaga atau organisasi tertentu tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi yang terjadi didalamnya dalam kurun waktu tertentu termasuk kondisi lingkungannya. Dengan jenis penelitian ini diharapkan dapat di gali data dari subjek secara lebih mendalam dan mengembangkan pemahaman mengenai gambaran kebermaknaan hidup penderita kanker payudara.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian, yang dalam hal ini disebut responden adalah penderita kanker payudara yang sedang menjalani masa penyembuhan. Responden yang dipilih satu orang dengan ciri- ciri sebagai berikut.

1. Wanita dewasa madya (usia 40 – 60 tahun)

2. Menurut diagnosa dokter telah menderita kanker payudara minimal 2 tahun

(54)

C. Metode Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode riwayat hidup, wawancara mendalam (in depth interview), observasi dan data dokumen. Metode riwayat hidup digunakan sebagai informasi awal dan informasi dasar untuk mengetahui dan memahami latar belakang kehidupan subjek penelitian. Metode wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap peristiwa yang dialami dan dirasakan subjek penelitian. Sedangkan observasi dilakukan selama wawancara berlangsung yang memungkinkan peneliti memperoleh data yang sifatnya nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, intonasi suara, serta setting diadakan wawancara dan observasi. Data dokumen digunakan untuk melengkapi ketiga metode pengumpulan data yang telah disebutkan sebelumnya. Masing-masing teknik pengumpulan data tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Riwayat Hidup

Metode ini digunakan sebagai informasi awal dan dasar untuk mengetahui dan memahami latar belakang kehidupan subjek. Subjek diminta untuk mengisi blangko riwayat hidup yang sudah peneliti siapkan sebelumnya. Blangko riwayat hidup ini berisi tentang data diri subjek, data keluarga, riwayat kehidupan subjek termasuk pekerjaan, pendidikan, kesehatan dan riwayat organisasi.

2. Wawancara

Wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in

(55)

Teknik wawancaradalam penelitian ini adalah wawancara langsung, yaitu peneliti berhadapan langsung dengan subjek dan mengajukan beberapa pertanyaan. Dalam proses wawancara, peneliti dapat mengajukan pertanyaan yang bersifat terbuka, sehingga dapat memunculkan pandangan dan opini dari subjek penelitian (Creswell, 2010: 267).

Alasan dilakukannya wawancara mendalam adalah diharapkan peneliti dapat memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami subjek berkenaan dengan topik yang diteliti, bagaimana subjek merasakan sesuatu, pengalamannya, dan apa yang diingatnya, seperti emosi dan motifnya,dan alasan mengapa subjek melakukan suatu perbuatan yang kemudian dilakukan eksplorasi terhadap topik tersebut. Wawancara mendalam memungkinkan peneliti memasuki dunia pikiran dan perasaan subjek. Petunjuk wawancara hanyalah berisi petunjuk tentang garis besar proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercakup seluruhnya. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara yangsebenarnya.

(56)

yang merupakan kerabat subjek, yaitu suami subjek. Seluruh data yang didapatkan nantinya akan digunakan untuk memahami individu. Namun wawancara dengan informan lebih ditekankan pada fungsi kroscek terhadap data yang telah diperoleh melalui wawancara dengan subjek penelitian.

3. Observasi

Observasi dilakukan saat wawancara berlangsung dengan lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai ekspresi subjek saat menjawab pertanyaan. Data observasi ini dikumpulkan secara beriringan dengan data wawancara sehingga didapatkan gambaran yang lebih jelas data yang terkumpul lebih tepat. Observasi penelitian sepenuhnya dilakukan pada saat wawancara berlangsung. Orang akan lebih merasa nyaman jika berbicara dengan orang lain atau bisa membuat keputusan apabila berhadapan langsung dengan pihak yang bersangkutan. Dengan observasi pada setting alamiah, dapat diketahui bagaimana subjek merefleksikan perasaan yang terjadi di masa lalu, atau harapan mereka di masa yang akan datang. Selain itu, dengan observasi dapat dilihat keterkaitan antara masa lalu dengan harapan di masa depan.

(57)

tangan, dan cara duduk. Melihat secara seksama dapat memberikan petunjuk untuk berbagai aspek penting kepribadian, pengaruh kultural, pengendalian diri, sikap, dan hubungan dengan orang lain (Sunberg, 2007).

D. Lokasi dan Sasaran Penelitian

Lokasi penelitian adalah di rumah subjek penelitian yang berada di Jln. Proklamasi No. 242B, Semarang. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara di tempat yang ditentukan subjek penelitian, yaitu RS. Elisabeth Semarang. Sasaran penelitian adalah gambaran dinamika kebermaknaan hidup penderita kanker payudara.

E. Waktu Pelaksanaan

(58)

F. Langkah-Langkah/Tahap Penelitian

Langkah-langkah atau tahap-tahap penelitian kualitatif yang peneliti rencanakan terdiri atas empat tahap, yaitu tahap pra-lapangan, tahap kegiatan lapangan, tahap analisis intensif, dan tahap penulisan laporan (Moleong, 1989).

1. Tahap Pra-Lapangan

Dalam tahap pra-lapangan ini, peneliti melakukan enam kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi:

a. Menyusun rancangan penelitian, yaitu dengan mengajukan proposal penelitian, seperti yang disusun peneliti saat ini.

b. Memilih lapangan penelitian, peneliti telah melakukan survei di tempat calon penelitian yang akan dilakukan. Berdasarkan survei tersebut, peneliti berpendapat bahwa tempat penelitian cukup sesuai dengan tujuan penelitian, dengan perlimbangan tempat bahwa responden yang akan ditemui dalam kondisi yang masih lemah.

c. Mengurus perijinan yang dilakukan secara informal yaitu dengan menghubungi secara langsung responden yang bersangkutan.

d. Menjajaki dan menilai keadaan responden, kegiatan ini sudah penulis lakukan pada tanggal 15 September 2010.

(59)

f. Menyiapkan perlengkapan penelitian, tujuan kegiatan ini adalah agar peneliti sejauh mungkin sudah menyiapkan segala alat dan perlengkapan penelitian yang diperlukan sebelum peneliti terjun ke lapangan.

2. Tahap Kegiatan Lapangan

Tahap ini dilakukan peneliti pada saat penelitian dilakukan. Namun terlebih dahulu peneliti perlu memahami latar penelitian dan persiapan diri. Karena itu, tahap penjajakan pada pra-penelitian yang dilakukan peneliti sangat mendukung untuk sampai pada pemahaman latar penelitian. 3. Tahap Analisis Intensif

Tahap ini dimulai setelah peneliti mengumpulkan data. Tahap ini dilakukan peneliti melalui kegiatan membaca, menelaah dan mempelajari data yang terkumpul. Tahap analisis intensif ini dilihat dalam pokok bahasan teknik analisis data.

4. Tahap Penulisan Laporan

Tahap ini dilaksanakan setelah semua data tersusun dan diolah dengan baik. Pada tahap ini, peneliti sudah dapat menarik kesimpulan yang tepat dan mengetahui bahwa data yang sudah dianalisis dapat menjawab permasalahan atau tidak.

G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

(60)

keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).

1. Derajat Kepercayaan (Credibility)

Kredibilitas dalam penelitian kualitatif menurut Poerwandari (2005) terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam bahasa kuantitatif: variabel) dan interaksi dari berbagai aspek yang menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif.

Penelitian ini menggunakan kredibilitas penelitian dengan teknik triangulasi data dari sumber dan metode yang berbeda. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2007). Triangulasi data dari sumber yang berbeda yaitu dilakukan wawancara dengan subjek penelitian kemudian dilanjutkan wawancara dengan informan untuk kroscek keakuratan data. Sedangkan, triangulasi data pada metode yang berbeda, digunakan metode riwayat hidup dengan mengisi blangko riwayat hidup dan melihat data dokumen, wawancara dengan subjek penelitian sekaligus dilakukan observasi.

2. Keteralihan (Transferability)

(61)

empiris tentang kesamaan konteks. Dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Untuk keperluan itu peneliti akan melakukan penelitian kecil untuk memastikan usaha verifikasi (Moleong, 2007).

3. Kebergantungan (Dependability)

Reliabilitas dalam penelitian kualitatif dikenal dengan

dependenbility. Melalui konstruk dependenbility peneliti

memperhitungkan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi menyangkut fenomena yang diteliti, juga perubahan dalam desain sebagai hasil dari pemahaman yang lebih mendalam tentang setting yang diteliti. Peneliti menyadari kompleksitas konteks yang dihadapinya dengan menggunakan desain dan strategi penelitian yang fleksibel. Peneliti berusaha mengkonsentrasikan diri pada pencatatan rinci tentang fenomena yang diteliti, termasuk interrelasi aspek-aspek yang berkait (Poerwandari, 2005).

4. Kepastian (Confirmability)

(62)

elemen-elemen penelitiannya, sehingga memungkinkan pihak lain melakukan penilain (Poerwandari, 2005).

H. Teknik Analisis / Pengolahan Data

Data penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Menurut Jorgensen (Poerwandari, 2005), analisis adalah memecah, memisahkan, atau membongkar misteri penelitian ke dalam potongan, bagian, elemen, atau unit. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkategorikan. Menurut Miles dan Hubernian (Sumaryanto, 2003), teknik analisis dari kualitatif adalah data yang muncul dari penelitian kualitatif berwujud kata-kata bukan rangkaian angka-angka. Setelah data dikumpulkan maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data, yang terbagi dalam tiga tahap, yaitu:

1. Reduksi data, yaitu dengan cara melakukan penyederhanaan, pengabstrakan dan tranformasi data yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.

(63)

BAB IV

PELAKSANAAN DAN DESKRIPSI

HASIL PENELITIAN

A.

Pelaksanaan Penelitian

Pada pertemuan pertama, peneliti melakukan perkenalan dan pendekatan

lebih dahulu terhadap subjek. Hal tersebut perlu dilakukan untuk membangun

rasa aman, rasa percaya dan keterbukaan antara subjek dan peneliti. Selanjutnya,

pada saat wawancara berlangsung sudah terbangun suasana yang saling kenal dan

saling mempercayai bahwa informasi yang disampaikan oleh subjek nantinya

benar-benar digunakan untuk kepentingan akademis peneliti. Proses wawancara

subjek penelitian dilakukan di ruang tamu rumah subjek yang berada di Kota

Semarang, dan ruang tamu Rumah Sakit Elisabeth Semarang dengan

menggunakan bantuan

tape recorder

.

Seiring dengan berlangsungnya proses wawancara dilakukan pula

observasi pada subjek penelitian. Proses wawancara berlangsung sebanyak 3 kali

karena menyesuaikan dengan kondisi subjek. Proses pengumpulan data memakan

waktu cukup lama, namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap perolehan

data. Setelah selesai mewawancarai subjek, peneliti mencari informan yaitu suami

dari subjek penelitian. Dari informan peneliti bisa mendapatkan informasi

pendukung tentang subjek. Data dari informan ini sifatnya lebih kepada kroscek

terhadap data yang didapatkan dari subjek langsung. Wawancara dengan

(64)

informan hanya dilakukan satu kali. Secara umum, proses pengambilan data

dilakukan dalam

range

waktu yang panjang. Proses wawancara responden

pertama dilakukan pada tanggal 20 September 2010, kemudian untuk wawancara

selanjutnya pada tanggal 9 Oktober 2010, dan wawancara terakhir tanggal 21

Desember 2010. Sedangkan proses wawancara informan dilakukan pada tanggal

15 Januari 2011.

B.

Ringkasan Hasil Penelitian

1.

Riwayat Hidup

a.

Identitas dan Latar Belakang Keluarga Subjek Penelitian

Riwayat hidup subjek diperoleh peneliti melalui blanko riwayat

hidup yang diisi oleh subjek penelitian. Selain itu, peneliti juga

memperoleh data informasi dari dokumen subjek. Subjek penelitian ini

adalah sebanyak satu orang, yaitu Tyas (nama samaran). Ringkasan

identitas responden dapat dilihat sebagai berikut.

Nama :

Tyas

Tempat/Tanggal Lahir : Semarang, 3 Desember 1968

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan

: Kawin

Tinggi/Berat Badan

: 165 cm/45 kg

Pendidikan Terakhir

: Akademi Bahasa Asing (AKABA)

Agama :

Katolik

(65)

Subjek bernama Tyas lahir di Semarang pada tanggal 3 Desember

1968, merupakan perempuan warga negara Indonesia. Subjek beragama

Katolik. Subjek tinggal di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pendidikan

terakhir subjek adalah Akademi Bahasa Asing (AKABA). Subjek adalah

anak tunggal, namun mempunyai satu orang saudara angkat laki-laki yang

bernama Beni, dan satu orang saudara angkat perempuan yang bernama

Eni. Ayahnya bernama Yono beragama Khonghucu yang bekerja sebagai

pedagang. Sedangkan Ibunya bernama Maria beragama Katolik berjualan

kelontong dan pernah juga bekerja sebagai penjahit.

Kedua orang tua subjek sudah bercerai ketika subjek masih

berumur 3 tahun. Sejak perceraian kedua orangtuanya, subjek tidak pernah

bertemu kembali dengan Ayahnya sampai Ayahnya meninggal pada saat

subjek berumur 17 tahun. Ayah subjek meninggal karena menderita

penyakit kanker prostat. Sejak perceraian orang tuanya pulalah subjek

dibesarkan oleh Ibunya. Pada saat penelitian, Ibu subjek sedang dirawat di

rumah sakit karena terjatuh dan mengalami pendarahan yang cukup serius.

Setelah menamatkan pendidikan, subjek menikah dengan seorang

laki-laki bernama Charles. Pada saat menikah, suami subjek bekerja

sebagai pegawai bank di Purwodadi. Namun ketika mertua laki-laki

subjek meninggal, suami subjek keluar dari pekerjaannya dan melanjutkan

usaha orang tuanya mengurus toko onderdil mobil. Dari pernikahan

(66)

Karol, lahir pada tanggal 17 Desember 1990, dan putra kedua subjek

bernama Daniel, lahir pada tanggal 20 Agustus 1996.

b.

Status Pendidikan dan Pekerjaan

Ibu subjek sangat memperhatikan masalah pendidikan anaknya.

Subjek sempat bersekolah di SD dan SMP di Singapura, yaitu di SD Kong

Yoiong High School dan SMP Ang Mo Kio. Subjek mengikuti pendidikan

di Singapura selama 5 tahun. Prestasi subjek di sekolah terbilang sangat

baik. Subjek berhasil menamatkan pendidikannya di Akademi Bahasa

Asing (AKABA) 17 Semarang pada tahun 1989, setelah mengikuti

pendidikan selama 2,5 tahun.

Sampai menamatkan pendidikan, subjek tidak pernah mengalami

masalah dan kesulitan yang berarti dalam hal pendidikan. Setelah

menikah, subjek bekerja pada toko onderdil milik mertua subjek.

Pekerjaan tersebut terhenti ketika subjek harus pindah ke Semarang untuk

melakukan pengobatan. Subjek lalu mulai memberi les Bahasa Mandarin.

Selain itu, subjek juga terus menekuni bisnis Amway yang telah

digelutinya selama 11 tahun.

c.

Status Sosial Keluarga dalam Masyarakat

Subjek penelitian pernah tinggal di Semarang, dan di Purwodadi

Pada waktu kecil, subjek tinggal di Semarang. Setelah menikah, subjek

pernah tinggal di Purwodadi sampai kemudian kembali ke Semarang.

(67)

pencaharian masyarakat di sekitar tempat tinggalnya bervariasi, seperti

pedagang, pengusaha dan pegawai.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat tergolong menengah ke atas,

begitu pula dengan keluarga subjek. Hubungan dengan masyarakat

berjalan kurang baik karena tidak saling kenal satu sama lain. Namun pada

saat tinggal di Purwodadi, hubungan dengan masyarakat berjalan dengan

baik. Keluarga subjek sangat dekat dengan masyarakat sekitar. Hubungan

kekeluargaan dan persaudaraannya juga terjalin dengan sangat dekat dan

akrab. Ketika subjek sakit, masyarakat yang mengetahui langsung

membesuk untuk memberikan doa dan perhatian.

d.

Aktivitas Sosial

Subjek memiliki hobi menyanyi dan membaca. Subjek juga

merupakan salah satu aktivis gereja pada saat tinggal di Purwodadi

bersama suami dan anak-anaknya. Subjek dan keluarganya sangat aktif

dalam kegiatan pelayanan Gereja. Subjek aktif pada PIA dan PIR,

sedangkan suami subjek aktif sebagai sekretaris dewan paroki. Anak-anak

subjek aktif juga di Gereja. Putra pertama subjek aktif di PIR, sedangkan

yang kedua aktif di PIA.

e.

Riwayat Kesehatan Subjek Penelitian

Pada waktu SD subjek jarang menderita penyakit. Subjek selalu

mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Saudara Ibunya

(68)

subjek. Namun subjek mempunyai kebiasaan mengkonsumsi mie instan

yang direbus secara berlebihan. Selain itu, subjek juga mempunyai pola

makan yang tidak teratur. Sampai dengan SMA dan kuliah, subjek juga

tidak pernah mengalami gangguan penyakit yang berbahaya hingga

akhirnya bekerja dan terdeteksi menderita penyakit kanker. Data-data

mengenai riwayat penyakit subjek dapat dilihat pada uraian berikut.

1)

Awal mengetahui dari benjolan kecil ± 1 cm melalui pemerikasaan

sendiri (SADARI) pada awal Februari 2006.

2)

Pemeriksaan medis dilakukan subjek pada awal Maret setelah

merasakan benjolan semakin membesar menjadi ± 2,5 cm.

3)

Melakukan biopsi pada awal Mei 2006, yang menunjukkan hasil

bahwa subjek menderita kanker payudaya pada stadium 3B.

4)

Langkah penyembuhan yang dilakukan subjek adalah melalui operasi,

khemoterapi, dan konsumsi suplemen.

5)

Faktor kemungkinan penyebab kanker payudara adalah genetik, serta

konsumsi dan pola makan yang tidak teratur.

6)

Dampak psikologis penyakit kanker terhadap subjek adalah gangguan

emosi yang menyebabkan subjek menjadi lebih sensitif dan mudah

marah.

7)

Dukungan psikologis diperoleh dari keluarga, serta dari suster-suster

(69)

8)

Upaya mengatasi penderitaan adalah dengan berdoa, mendekatkan diri

kepada Tuhan.

Subjek pertama kali menyadari gangguan penyakitnya pada awal

bulan Februari 2006. Subjek mengetahuinya setelah menemukan benjolan

kecil berukuran ± 1 cm pada payudaranya melalui pemeriksaan yang

dilakukan sendiri (SADARI). Namun pada saat itu subjek tidak terlalu

memperdulikan benjolan tersebut karena masih mengejar target

pekerjaannya. Pada awal Maret 2006, subjek menyadari bahwa benjolan

tersebut telah membesar menjadi ± 2,5 cm. Hal inilah yang kemudian

membuat subjek memeriksakan diri ke dokter. Hasil pemeriksaan dokter

menunjukkan bahwa subjek menderita penyakit kanker payudara pada

stadium 3 B.

Subjek kemudian kembali memeriksakan diri pada beberapa

dokter yang ada di Semarang dan Jakarta, yaitu pada RS. Telogo Rejo dan

RS. Panti Wiloso. Semua hasil pemeriksanaan menunjukkan diagnose

yang sama, yaitu kanker ganas. Subjek lalu melakukan biobsi di Semarang

pada bulan Mei 2006. Dari biopsi tersebut, subjek kemudian menjalani

operasi besar yang dilakukan oleh Tim dokter yang diketuai oleh dr.

Gianto.

Setelah operasi tersebut, subjek melakukan khemoterapi sebanyak

5 kali tiap 3 minggu 1 kali. Pada saat menjalani khemoterapi subjek

Gambar

Gambar 2.1. Skema Lokasi Kanker Payudara

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan kualitas hidup pasien kanker payudara yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan adalah mayoritas baik

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara adalah riwayat kanker payudara pada keluarga

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara adalah riwayat kanker payudara pada keluarga

Kesimpulan PMR memberikan efektivitas yang bermanfaat terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara sehingga disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan

Kesimpulan PMR memberikan efektivitas yang bermanfaat terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara sehingga disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan

Berdasarkan Hasil analisis multivariat (tabel 3.) menunjukan bahwa faktor dominan ketahanan hidup penderita kanker payudara adalah jenis pengobatan tidak kombinasi,

pengetahuan tentang kanker payudara, keadaan sebelum dan saat menderita kanker payudara, waktu menerima keadaannya, peran penderita kanker payudara sebagai istri,

pendekatan tematikal analisis adalah untuk mengindentifikasi gambaran pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dengan kualitas hidupnya. Penelitian ini telah