• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOCIOECONOMIC STUDIES SOCIETY BEFORE AND AFTER EXPANSION PADANG BINTUNGAN VILLAGE NAGARI SIALANG GAUNG KOTO BARU DISTRICT DHARMASRAYA REGION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOCIOECONOMIC STUDIES SOCIETY BEFORE AND AFTER EXPANSION PADANG BINTUNGAN VILLAGE NAGARI SIALANG GAUNG KOTO BARU DISTRICT DHARMASRAYA REGION"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SOCIOECONOMIC STUDIES SOCIETY BEFORE AND AFTER EXPANSION

PADANG BINTUNGAN VILLAGE NAGARI SIALANG GAUNG KOTO

BARU DISTRICT DHARMASRAYA REGION

By :

Sutrisno*Slamet Rianto** Yuherman**

*.the geography education student of STKIP PGRI Sumatera Barat. ** the lecturer at geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This study aims to determine the socio-economic studies before and after the division of Padang Bintungan village Nagari Sialang Gaung Koto Baru district Dharmasraya region, includes: 1) the level of income, 2) accessibility and, 3) the affordability of care.

This research is descriptive. Population in this study were all households in the village of Padang Bintungan village totaling 6 village with 997 households. Samples were taken by proportional random sampling technique with a proportion of 15% so that the sample totaled 150 households.

The research found that: 1) Income before splitting society an average of IDR 1.113.000/ month and after splitting increases with the average income of IDR 2.881.000/month, (2) the accessibility of the population after the division of the ellipse better, visible from the type improved road into asphalt concrete (100%), the type of transportation increases, which appear after the expansion of rural transport, public transport pass frequency homes also increased (54.0%) as well as homes to be closer to the highway and (3) government services to the community increased after splitting ellipse, visible from simpler services, completeness ellipse government infrastructure, ease of reaching office oblong, elliptic government employees are also more disciplined, more polite and more friendly

Key Words: socioeconomic,society, expansion,

(3)

PENDAHULUAN

Negara Indonesia merupakan Negara demokrasi dan kaya akan sumber daya alam. Salah satunya otonomi daerah yang merupakan wujud dari upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan yang lebih maksimal bagi masyarakat, sehingga diharapkan dengan adanya otonomi daerah masyarakat mendapatkan apa yang diharapkan selama ini karena pelayanan langsung dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Sebagaimana yang dituangkan dalam Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan selanjutnya Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

Bergulirnya semangat otonomi daerah mendorong banyak Provinsi maupun Kabupaten untuk dimekarkan. Pada sistem pemerintahan yang baru, pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas diletakkan di Daerah Kota/Kabupaten. Kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa penyelenggaraan pemerintah akan efisien jika antara pemerintah dan rakyat akan diberi pelayanan dan perlindungan berada dalam jarak hubungan yang relatif dekat. Pemekaran daerah menyentuh pula di kabupaten Dharmasraya khususnya jorong Padang Bintungan. Peraturan Daerah kabupaten Dharmasraya nomor 4 tahun 2009 lebih menjelaskan bahwa di kabupaten Dharmasraya perlu adanya pengaturan lebih lanjut tentang nagari dan jorong, sehingga terjadi beberapa pemekaran nagari dan jorong (Bappeda Kabupaten Dharmasraya, 2014).

Jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya ini sebelum dimekarkan, masyarakat belum mengerti dengan sistem Pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) dengan baik, sehingga masih banyaknya lahan yang kosong dan belum digarap oleh masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari masih rendahnya kinerja pemerintah kabupaten Dharmasraya di wilayah jorong Padang Bintungan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan juga masih rendahnya pembinaan kehidupan berdemokrasi, pelaksanaan pembangunan daerah yang cenderung mengeksploitasi tanpa memikirkan konsep “Sustainable Development” (Pembangunan Berkelanjutan) yang jelas. Pengolahan potensi daerah yang mengabaikan kepentingan pendidikan setempat seperti masalah rusaknya jalan yang belum adanya perbaikan, pembangunan jalan raya yang belum dapat teratasi secara tepat dan tuntas oleh pemerintah jorong Padang Bintungan.

Selain itu, masalah yang lebih meresahkan masyarakat adalah keamanan dan ketertiban seperti, perkelahian antar kampung dan berbagai

kasus pencurian yang marak terjadi tidak teratasi secara tepat dan tuntas oleh pemerintah. Hal inilah yang mendorong berkembangnya wacana ditengah masyarakat untuk mengadakan pemekaran jorong Padang Bintungan.

Wilayah jorong Padang Bintungan yang luas mengakibatkan rendahnya tingkat pelayanan publik yang diberikan pemerintah daerah, seperti pelayanan dalam bidang pemerintahan dan kesehatan. Tingkat pelayanan publik yang rendah, keadaan masyarakat yang kurang diperhatikan dan terabaikan itu, maka dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, antara lain masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, politik dan keamanan.

Berkaitan dengan hal tersebut untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintah pembangunan dan pembinaan masyarakat jorong Padang Bintungan yang baik. Maka muncul berbagai wacana untuk memekarkan jorong yang berada di nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru kabupaten Dharmasraya, menjadi enam (6) jorong, yaitu Padang Bintungan I, Padang Bintungan II, Padang Bintungan III, Padang Bintungan IV, Padang Bintungan V, dan Padang Bintungan VI. Dengan alasan sudah memenuhi persyaratan dengan jumlah penduduk yang sudah banyak dan mempunyai wilayah yang sangat luas.

Bila dikaitkan dengan efektifitas dan efesiensi penyelenggaraan pemerintah sampai saat ini dapat dikaitkan Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya belum mampu mewujudkan pembangunan, pemerataan, pelayanan umum dan pemberdayaan masyarakat secara maksimal. Persoalan ini secara umum lebih terkendali oleh luasnya wilayah kabupaten Dharmasraya, disamping kemampuan pembiayaan pemerintah daerah yang terbatas, secara potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang belum terjadi secara optimal. Dengan kondisi yang demikian kebijakan pemekaran jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya menjadi hal yang sangat penting.

Pengamatan penulis tanggal 18 Mei 2014 di jorong Padang Bintungan I, terlihat bahwa saat ini pendapatan masyarakat membaik dengan adanya pemekaran jorong Padang Bintungan, hal ini tidak terlepas dari diperbaikinya jalan sebagai akses masyarakat. Masyarakat lebih mudah untuk beraktivitas, termasuk dalam memasarkan hasil pertanian. Hal lain yang terlihat dari adanya pemekaran jorong adalah lebih mudahnya masyarakat mendapatkan pelayanan, terutama dari kantor jorong. Kalau sebelum pemekaran, hanya

(4)

dilayani oleh 1 kantor wali jorong, maka sesudah pemekaran terdapat 6 kantor wali jorong

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dan mengungkapkan sosial ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah pemekaran jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya

Populasi dalam penelitian ini adalah semua Kepala Keluarga (KK) yang berada dalam lingkungan jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya berjumlah 997 KK

Sampel penelitian diambil dengan teknik

proportional random sampling dengan proporsi sebesar 15% dari jumlah kepala keluarga yang telah ditentukan sehingga sampel berjumlah 150 KK.

Teknik analisa data pada penelitian menggunakan Analisis persentase dengan rumus

% 100 n

f P

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertama, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pendapatan sebelum pemekaran jorong rata-rata Rp 1.113.000/bulan dan setelah pemekaran jorong meningkat dengan pendapatan rata-rata Rp 2.881.000/bulan. Hal ini berarti pendapatan penduduk setelah pemekaran jorong meningkat dibanding sebelum pemekaran jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung.

BPS (2006) pendapatan merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa tersebut bias berupa sewa, upah atau gaji, bunga uang atapun laba. Dilihat dari pemanfatan tenaga kerja pendapatan yang berasal dari balas jasa berupa upah atau gaji disebut dengan pendapatan tenaga kerja (labor income).

Kedua, aksesibilitas penduduk sesudah pemekaran jorong lebih baik, terlihat dari jenis jalan yang meningkat menjadi aspal beton (100%), jenis sarana transportasi meningkat, dimana muncul angkutan pedesaan setelah pemekaran, frekuensi angkutan umum yang melewati rumah juga meningkat (54,0%) serta rumah penduduk menjadi lebih dekat dengan jalan raya.

Bakaruddin (2010) menjelaskan bahwa aksesibilitas berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana transportasi atau komunikasi antara satu tempat ke tempat lain.

Rintangan medan yang dihadapi antara lain berupa pegunungan tinggi, rawa-wara, gurun-gurun, hutan lebat, terlalu curam/terjal, banyak sungai dan hambatan lainnya, sehingga untuk menjangkau daerah tersebut amat sukar. Konsep keterjangkauan ini juga berlaku untuk perubahan individu, dengan begitu primitifnya masyarakat tersebut mengalami beberapa hambatan dalam pembaharuan pola pikirnya

Ketiga, pelayanan pemerintahan terhadap masyarakat juga meningkatn setelah Pemekaran jorong Padang Bintungan nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, terlihat dari pelayanan yang lebih sederhana (76,67%), kelengkapan sarana dan prasarana pemerintahan jorong juga meningkat (70,67%), kemudahan menjangkau kantor jorong juga menjadi lebih mudah (55,33%), pegawai pemerintahan jorong juga lebih disiplin (72,0%), lebih sopan (36,0%) dan lebih ramah (48,0%).

Hal ini sesuai dengan pendapat Moenir (2006:16) bahwa pelayanan pada masyarakat merupakan salah satu fungsi penting aparat pemerintah dan sifatnya sangat luas karena menyangkut pemenuhan kebutuhan masyarakat yang sangat beraneka ragam kepentingan dan kebutuhannya. Pelayanan adalah melakukan sesuatu bagi orang lain. Pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63 tahun 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik disebutkan bahwa prinsip pelayanan publik adalah: kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisipilinan, kesopanan, keramahan, dan kenyamanan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Pendapatan masyarakat sebelum pemekaran rata-rata Rp 1.113.000/bulan dan setelah pemekaran meningkat dengan pendapatan rata-rata Rp 2.881.000/bulan

2. Aksesibilitas penduduk sesudah pemekaran jorong lebih baik, terlihat dari jenis jalan yang meningkat menjadi aspal beton (100%), jenis sarana transportasi lebih banyak dengan adanya angkutan pedesaan, ojek dan angkot, frekuensi angkutan umum yang melewati rumah juga meningkat (54,0%) sehingga penduduk lebih banyak memilih membuat rumah di tepi jalan raya.

(5)

3. Pelayanan pemerintahan terhadap masyarakat meningkat setelah pemekaran jorong, terlihat dari pelayanan yang lebih sederhana, kelengkapan sarana dan prasarana pemerintahan jorong, kemudahan menjangkau kantor jorong, pegawai pemerintahan jorong juga lebih disiplin, lebih sopan dan lebih ramah.

Sedangkan saran yang dapat penulis kemukakan :

1. Diharapkan pada masyarakat yang berada di jorong pemekaran untuk memanfaatkan pemekaran jorong untuk kegiatan yang lebih bernilai secara ekonomi sehingga dapat meningkatkan pendapatan.

2. Diharapkan kepada pemerintahan atau instansi terkait untuk lebih mengoptimalkan perencanaan tata ruang, tata wilayah sehingga proses pemekaran wilayah dapat mengoptimalkan potensi yang ada di daerah yang dimekarkan tersebut.

3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan variabel yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Amelia. Rini. 2008. Perbandingan Kelompok Tani antara Daerah Aksesibilitas Tinggi dan Aksesibilitas Rendah di Kec. X koto Singkarak. SkripsiFIS: UNP.

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Aswita, Rika Br Purba. 2011. Karateristik Sosial Ekonomi Masyarakat Sungai Mendang Desa Kusuma Kecamatan Pangkalan Kabupaten

Palalawan. Skripsi. Universitas Negeri

Padang.

Badan Pusat Statistik, 2006, Analisis dan Penghitungan Tingkat Pendapatan Tahun

2006, Padang

Bakarudin 2010. Pengantar Geografi Desa dan Kota. Padang: UNP Press

Bintarto. 1984. Interaksi Desa Kota dan

Permasalahannya. Ghalia Indonesia.

Jogjakarta BPS. www.bps.go.id

Kartono, 2001:2 dalam

http://id.shvoong.com/aksesibilitas-wilayah).

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.

Mangatur, Pirdo MS dan M.Y Tiyas Tinov. 2013 “Evaluasi Desa Pemekaran di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hilir”. Jurnal Kebijakan Publik, Volume 4, Nomor 1, Maret 2013

Miro, 2004:19 dalam

http://id.shvoong.com/aksesibilitas-wilayah/)

Moenir, H.A.S, 2006. Manajemen Pelayanan

Umum Di Indonesia. Jakarta: PT Bumi

Aksara

Nelwandra, Melsi, 2010. Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Aksesibilitas Daerah Di Nagari Tanjung Bingkung Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Skripsi Jurusan Geografi FIS UNP Padang Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000

Tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan Purwadarminto, WJS. 2003, Kamus Besar

Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta Sabarno, Hari. 2007, Memadu Otonomi Daerah

Menjaga Kesatuan Bangsa, Sinar Gravika,

Jakarta

Sherraden, Michael. 2006. Aset Untuk Orang Miskin. Jakarta:Raja Grafindo

Sinambela, Lijan Poltak dkk. 2008. Reformasi Pelayanan Publik Teori, Kebijakan, dan Implementasi. Jakarta: Bumi Aksara

Supardi. 2001. “Persepsi Masyarakat tentang Daya Tarik Pemekaran Kota Painan

(6)

Kabupaten Pesisir Selatan Berdasarkan Pendidikan. Skripsi

Supranto. J. 2011. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Rineka Cipta

Sumaatmadja, 1980: 44-45) (dalam http://id.shvoong.com/aksesibilitas-wilayah). Tarigan, Robinson. 2005. Perencanaan

Pembangunan Wilayah, Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara

Tri Banjir Adi Wijoyo. 2013. Pemekaran desa ditinjau dari aspek otonomi daerah di kecamatan Angkona. Kabupaten Luwu Timur (Studi Kasus di Desa Wanasari). Skripsi

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Jenis alat dan sarana kerja yang kurang nyaman sering menimbulkan Jenis alat dan sarana kerja yang kurang nyaman sering menimbulkan masalah-masalah kesehatan pada

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan masukan kepada pusat data dan informasi di kementrian kesehatan Republik Indonesia tentang bentuk-bentuk kesalahan

Berdasarkan data hasil penelitian, maka dapat didiskripsikan hubungan antara pengetahuan ibu balita usia 7-36 bulan tentang ASI Eksklusif dengan kegagalan ibu dalam

• Dana yang diperoleh sebesar US$127,9 juta pada akhir pelaksanaan rights issue di bulan November 2013 akan digunakan untuk pembiayaan ekspansi Naphtha Cracker dan penyertaan

Peserta didik yang memiliki konsep diri yang positif maka lebih mudah untuk membina interaksi sosial yang baik dengan lingkungan namum sebaliknya apabila peserta didik

2 Berdasarkan analisis tersebut, dalam Tugas Akhir ini penulis akan mengimplementasikan sebuah aplikasi penentu waktu shalat otomatis pada smartphone berbasis Android

Menurut Gujarati dan Porter (2010:149), uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari

Angket ini berupa pernyataan-pernyataan tentang motivasi belajar bahasa Jepang yang dimaksudkan untuk mendapatkan responden dan respon siswa tentang hal-hal