• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA ROTAN SEMAMBU (Calamus scipionum Loureiro) Oleh : JEMBAWAN NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA ROTAN SEMAMBU (Calamus scipionum Loureiro) Oleh : JEMBAWAN NIM"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

JEMBAWAN

NIM 090500169

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

2012

(2)

STUDI BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA

ROTAN SEMAMBU (Calamus scipionum Loureiro)

Oleh :

JEMBAWAN

NIM 090500169

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

2012

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : STUD I BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA ROTAN SEMAMBU (Calamus scipionum Loureiro)

Nama : Jembawan

N I M : 090500169

Program Studi : Teknologi Hasil Hutan Jurusan : Teknologi Pertanian

Pembimbing,

Ir. Iskandar, MP. NIP.195911191987101001

Penguji I Penguji II

Heriad Daud Salusu, S.Hut, MP. Ir. Andi Yusuf, MP. NIP. 197008031997031001 NIP. 196210221998031001

Menyetujui, Mengesahkan,

Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Ketua Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Politeknik Pertanian Negeri

Samarinda

Ir. Syafi’I, MP. Heriad Daud Salusu, S.Hut, MP. NIP.196806101995121001 NIP.197008031997031001

(4)

ABSTRAK

JEMBAWAN. Studi Beberapa Sifat Fisika dan Mekanika Rotan Semambu

(Calamus scipionum Loureiro) dibawah bimbingan Iskandar

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui nilai sifat fisik dan mekanik dari Rotan Semambu meliputi kadar air segar, berat jenis, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan patah (Modulus of Repture) dalam kondisi segar

Hasil penelitian menunjukan bahwa rotan semambu mempunyai kadar air segar rata–rata sebesar 315.68 %, dan mempunyai berat jenis 0.26. Untuk sifat

mekanik rotan semambu mempunyai nilai keteguhan tekan sejajar serat 61.16 kg/cm2, dan mempunyai nilai keteguhan patah 180.26 kg/cm 2, dan rotan

ini mempunyai ruas yang panjangnya bisa mencapai 1 m.

Dari hasil analisis data rotan semambu mempunyai sifat-sifat dan karakteristik yang baik untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture dan bahan baku kerjinan rotan

(5)

RIWAYAT HIDUP

Jembawan, lahir pada tanggal 28 Mei 1967 di Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Merupakan anak ke tiga dari Ibu Sumamik dan Bapak Hardjo Tamsir

Mulai memasuki pendidikan Sekolah Dasar Negeri II Kunduran pada tahun 1973, melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama Negeri Kunduran I tahun 1979, dan Sekolah Teknologi Menengah Negeri Blora Jurusan Listrik tahun 1982, dan lulus dari Sekolah Teknologi Menengah tahun 1985

Tahun 1986 hingga 1989 bekerja pada Expert Germany (GTZ) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman sebagai tenaga laboratorium Fisika dan Mekanika Kayu Jurusan Teknologi Hasil Hutan, tahun 1989 hingga sekarang bekerja di Politeknik Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda yang sekarang berganti nama menjadi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, dan ditempatkan di Laboratorium Dasar (Lab. Fisika dan Mekanika Kayu) dari tahun 1989 sampai 2008, kemudian ditugaskan di Laboratorium Rekayasa Pengolahan Kayu dari tahun 2009 hingga sekarang.

Menikah dengan Lady Jane Theodorus pada Tahun 1989 dan di karuniai empat orang anak, dua orang laki–laki dan dua orang perempuan. Masuk Pendidikan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda melalui Program Inbreeding tahun 2009, Jurusan Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Hutan. Bulan Pebruari hingga Maret 2012 melaksanakan Praktek Kerja Lapang di Jati Landa Art Shop Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya Ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorim Fisika dan Mekanika Kayu (Lab. Sifat Kayu dan Analisis

Produk) Politeknik Pertanian Negeri Samarinda selama 4 bulan, yaitu dari bulan Mei – Agustus 2012, yang merupakan syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mendapat sebutan Ah li Madya

Dalam penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini penulis ucapkan terima kasih serta penghargaan kepada :

1. Bapak Ir. Iskandar, MP. Selaku dosen pembimbing

2. Bapak Heriad Daud Salusu, S.Hut, MP. selaku dosen penguji I dan sebagai Ketua Jurusan Teknologi Pertanian

3. Bapak Ir. Andi Yusuf, MP. selaku dosen penguji II

4. Bapak Ir. Syafi’i, MP. Selaku Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan 5. Bapak Ir. Wartomo, MP. Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri

Samarinda

6. Ibu Eva Nurmarini, S.Hut, MP. selaku Kepala Laboratorium Sifat–Sifat Kayu dan Analisis Produk

7. Istri serta anak–anak tercinta yang telah mendukung lewat doa dan dengan segala upaya untuk penyelesaian karya ilmiah ini

8. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya karya ilmiah ini yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu

Dalam menyusun karya ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang tersaji didalamnya oleh sebab itu penulis mohon maaf atas kekurang sempurnaan dalam penulisan serta besar harapan kiranya karya ilmiah ini juga bermanfaat bagi siapa saja yang berkenan membacanya.

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

I. PENDAHULUAN ... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

A. Tinjauan Umum Tentang Rotan ……….. 3

B. Sifat Dasar Rotan ………. 5

C. Karakteristik Rotan Semambu ………... 10

D. Pemanenan Rotan ……… 11

E. Pengolahan Rotan ……… 12

F. Pemanfaatan Rotan ……… 18

III. METODE PENELITIAN ……… 20

A. Lokasi dan Waktu Penelitian ……….. 20

B. Bahan dan Alat Penelitian ………... 20

C. Prosedur Penelitian ………. 21

D. Pengujian Sifat Fisik dan Mekanik ………….……….. 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 28

A. Hasil ……….. 28

B. Pembahasan ………... 29

V. KESIMPULAN DAN SARAN ………. 34

A. Kesimpulan ………... 34

B. Saran ………. 34

DAFTAR PUSTAKA ……… 35

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1. Nilai Rata–Rata Sifat Fisik dan Mekanik Rotan Semambu ... 28

2. Nilai Kadar Air Segar ... 29

3. Nilai Berat Jenis ... 30

4. Nilai Keteguhan Tekan Sejajar Serat dan Keteguhan Patah ... 32

Lampiran 5. Kadar Air Segar Rotan Semambu ... 38

6. Berat Jenis Rotan Semambu ... 39

7. Keteguhan Tekan Sejajar Serat Rotan Semambu ... 40

8. Keteguhan Patah Rotan Semambu ... 41

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Lampiran Halaman

1. Tumbuhan Rotan Semambu ……… 42

2. Batang dan Buah Rotan Semambu ……… 42

3. Contoh Uji Berat Jenis ……… 43

4. Contoh Uji Kadar Air ………. 43

5. Contoh Uji Keteguhan Tekan Sejajar Serat ……….. 44

6. Contoh Uji Keteguhan Patah (MoR) ..………. 44

7. Gelas Ukur ……….. 45

8. Electric Balance ………. 45

9. Desikator ………. 46

10. Oven Dry ………. 46

11. Universal Testing Machine ………. 47

12. Pengujian Keteguhan Tekan Sejajar Serat ……….. 47

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

Rotan merupakan salah satu hasil hutan terpenting setelah kayu.

Tumbuhan ini mempunyai nilai ekonomis dan sosial yang besar sebagai sumber

penghasilan bagi beberapa komunitas termiskin dalam kawasan Asia Tenggara. Rotan merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil devisa negara

yang cukup besar. Sebagai penghasil rotan terbesar, Indonesia telah memberikan sumbangan sebesar 80 % kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah

tersebut 90 % rotan dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sekitar 10 % dihasilkan dari budidaya rotan. (Kalawa dkk., 1998).

Di Kalimantan Timur, jenis-jenis rotan terpenting adalah : Manau, Semambu, Jahab, Kobo, Kotok, Pulut Merah, Pulut Putih, Sega dan Selutup.

Disamping itu terdapat jenis lainnya yang juga penting tetapi belum sempat diinventarisir yang tersebar merata di seluruh wilayah Kalimantan Timur. (Haury dan Saragih, 1996).

Khusus di Kalimantan Timur, jenis-Jenis rotan yang dipungut untuk tujuan

komersial adalah jenis rotan yang sudah cukup dikenal, dan laku diperdagangkan dengan harga yang menguntungkan. Berdasarkan asal-usul rotan yang dipungut dan diperdagangkan, dikategorikan ke dalam dua kelompok asal, yaitu rotan yang dipungut dari hasil budidaya dan rotan yang berasal dari hutan alam.

Kekuatan, kelenturan dan keragamannya, batang polos rotan dapat dimanfaatkan secara komersial untuk meubel dan anyaman. Umumnya diameter rotan bervariasi antara 3 – 70 mm atau lebih tergantung pada speciesnya.

(11)

Sekitar 20 % dari jenis rotan yang ada digunakan secara komersial baik dalam bentuk utuh maupun olahan untuk meubel rumah tangga (Dransfield dan Manokaran, 1996).

Rotan semambu (Calamus scipionum Loureiro) adalah jenis rotan yang berdiameter besar dengan buku–buku yang menonjol dan sedikit berat sebelah dalam penampang lintang, antar buku atau ruas sangat panjang kadang melebihi 1 m dengan warna batangnya coklat muda sampai coklat tua dan cukup banyak diperdagangkan baik lokal maupun untuk ekspor, baik dalam bentuk batangan maupun dalam bentuk produk jadi.

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui beberapa sifat fisik rotan semambu meliputi kadar air dan berat jenis serta sifat mekanik meliputi keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan patah (Modulus of Repture). Data dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tantang sifat fisik dan mekanik dari rotan semambu dalam kondisi segar.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Rotan

Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan

jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut "Lepidocaryodidae". Lepidocaryodidae berasal dari bahasa Yunani yang berarti mencakup ukuran buah. Kata rotan dalam bahasa Melayu

diturunkan dari kata "raut" yang berarti mengupas (menguliti), menghaluskan. (Menon, 1979 dalam Kalima,1996)

Rotan merupakan tumbuhan yang menjalar dan berumput. Dahan–dahan rotan sangat tinggi, panjang batang rotan bisa mencapai 100 meter, diameter rotan besarnya mulai dari 3 mm sampai sebesar lengan dan terbungkus kulit luar yang berduri. Rotan umumnya tumbuh tanpa ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan. Tumbuhan rotan banyak terdapat di hutan Kalimantan, Jawa, Sumatra dan Sulawesi.(SOEJONO,1987)

Rotan merupakan tumbuhan berbatang kecil, ramping dan panjang, bentuk batang umumnya bulat atau hampir bulat, batangnya beruas–ruas yang dibatasi oleh buku–buku, ruas pangkal umumnya lebih pendek daripada bagian

atas, dan pelepah daun atau seludang pembungkus batang rotan mempunyai duri yang tajam. (Dransfield, 1974)

Penampilan batang rotan bervariasi dan nilai ekonomis batang rotan selain ditentukan oleh penampilan batang juga dari kualitas batangnya. Jenis rotan yang berkualitas baik umumnya mempunyai jaringan berkayu

(prosenchym) dan jaringan lignin (pada epidermis) yang seimbang, mempunyai

(13)

karena adanya silica) serta mempunyai ruas–ruas yang relative panjang (Dransfield, 1979)

Rotan adalah tumbuhan yang merambat di pohon–pohon penopang dengan bantuan duri–duri pengait yang terdapat pada ujung tungkai daun. Rambatan terjadi tidak saja pada pohon penopangnya akan tetapi juga pada pohon sekitarnya.(YUDODIBROTO,1980 dalam SINAGA, 1986)

Kekakuan rotan adalah kemampuan rotan untuk mempertahankan bentuk apabila dilengkungkan. Sifat ini tidak tergantung pada keteguhan patah, namun rotan yang derajat kekakuannya tinggi akan mempunyai keteguhan patah yang tinggi pula. Struktur rotan yang kaku atau memiliki tingkat kekakuan yang tinggi dapat diperoleh dengan cara menggunakan rotan yang memiliki diameter besar atau menggabungkan beberapa rotan. Sedangkan keuletan rotan adalah

kemampuan rotan untuk menahan kekuatan yang terjadi secara tiba–tiba dan dalam waktu yang sangat singkat. Rotan yang memiliki daya lengkung yang besar sebelum patah serta memiliki keteguhan patah yang tinggi masuk dalam kategori rotan yang ulet, dan rotan ini umumnya digunakan untuk pembuatan rangka meubel.(Januminro, 2000)

Rotan pada umumnya tumbuh pada hutan–hutan tropis dan Asia Tenggara, terdiri dari 316 jenis yang terbagi dalam 9 genera yaitu : Calamus (133 spp), Daemonorops (122 spp), Korthalsia (30 spp), Plectocomia (10 spp), Ceratolobus (6 spp), Plectocomiopis (10 spp), Myrlalepsis (2 spp),

Calospatha (2 spp), dan Bejardia (2 spp). Sedangkan di Kalimantan sendiri

terdapat 136 jenis yang meliputi Calamus (74 spp), Ceratolobus (4 spp),

Daemonorops (42 spp), Korthalsia (14 spp), Plectocomia (1 spp) dan

(14)

B. Sifat Dasar Rotan 1. Sifat Anatomi

Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan dengan keawetan dan kekuatan antara lain besarnya ukuran pori dan tebalnya dinding sel serabut, sel serabut merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan. (Rahman,1996). Tebal dinding sel serabut merupakan parameter anatomi yang paling penting dalam menentukan kekuatan rotan, dinding yang lebih tebal membuat rotan menjadi lebih keras dan lebih berat, sel serabut yang berdinding

tebal menunjang fungsi utama sebagai penunjang mekanis. (Bhat dan Thulasidas, 1993).

2. Sifat Kimia

Secara umum komposisi kimia rotan terdiri dari holoselulosa (71 – 76 %),

selulosa (39 – 56 %), Lignin (18 – 27 %) dan silika (0,54 – 8 %). Rachman, (1996). Holoselulosa adalah selulosa yang merupakan molekul gula

linear berantai panjang, Selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar

unit gula penyusun selulosa. Makin tinggi selulosa makin tinggi juga keteguhan lenturnya. Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi. Lignin berfungsi memberikan kekuatan pada batang. Makin tinggi lignin makin tinggi juga kekuatan rotan. Tanin dikategorikan sebagai “true artrigen” yang menimbulkan rasa sepat pada rotan, tanin berfungsi sebagai

penangkal serangga pemangsa rotan, hasil purifikasi tanin digunakan sebagai bahan anti rayap dan jamur. Pati (karbohidrat) terkandung 70 % dari berat basah, makin tinggi kadar pati makin rentan terhadap serangan bubuk rotan kering.

(15)

3. Sifat Fisik

Sifat fisik dari rotan adalah sifat-sifat yang dapat diamati secara kasat

mata, sifat rotan yang dapat diamati secara kasat mata diantaranya adalah : a. Warna

Pada umunya rotan berwarna kuning langsat atau kuning keputih-putihan kecuali beberapa jenis seperti rotan semambu mempunyai warna coklat muda sampai coklat tua dan rotan buyung mempunyai warna kecoklat-coklatan, selain warna kulit perlu diperhatikan juga warna hatinya seperti rotan umbulu yang mempunyai warna putih bersih dan rotan tohiti yang mempunyai warna keabu-abuan, yang dimaksud dengan warna rotan disini adalah warna setelah dicuci atau dirunti atau diasapi dengan belerang dan belum mendapat perlakuan pemutihan.

Warna batang rotan selalu bervariasi tidak hanya pada jenisnya saja tetapi pada jenis yang lain juga, rotan yang baik dan berkualitas adalah batang rotan yang berwarna hijau daun pada saat masih hidup, hal ini menandai bahwa rotan tersebut sudah masak tebang.

Batang rotan yang berwarna hijau daun akan berubah menjadi putih setelah selaput silikanya terkelupas dan akan makin putih setelah ada proses pemutihan (bleaching).

b. Kilap

Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat

ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak, makin tinggi kadar air, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram. Kilap dan suram dapat memberikan ciri yang khusus dari suatu jenis rotan serta dapat menambah keindahan dari rotan tersebut.

(16)

c. Bau dan Rasa

Bau dan rasa dapat menggambarkan kesegaran dari rotan

tersebut, pada rotan segar bau dan rasa tidak mencolok. d. Berat

Berat rotan tergantung pada berapa besar atau banyak kandungan air, zat ekstraktif dan zat infiltrasi yang terdapat pada rotan tersebut, oleh sebab itu berat rotan dipengaruhi juga oleh tempat tumbuhnya.

e. Kekerasan/Elastisitas

Rotan mempunyai sifat kekerasan dan ini menunjukkan bahwa batang rotan mampu menahan tekanan/gaya tertentu. Sifat kekerasan rotan sangat dipengaruhi oleh kadar air, umur saat dipungut, letak posisi batang (pangkal, tengah, ujung).

f. Diameter

Diameter rotan digolongkan menjadi dua kelompok yaitu rotan yang berdiameter kecil dimana diameternya kurang dari 18 mm, dan diameter besar yaitu rotan yang mempunyai diameter diatas 18 mm.

Rotan yang berdiameter kecil/rotan yang berdiameter kurang dari 18 mm, diantaranya adalah rotan sega, irit/jahab, jermasin, pulut putih, pulut merah, lilin, lacak, manau padi, datuk merah, sega air, ronti, sabut, batu, tapah, paku dan pandan wangi. Sedangkan rotan yang berdiameter besar/rotan yang berdiameter l8 mm atau lebih, antara lain seperti rotan

manau, batang, mantang, cucor, semambu, wilatung, dahan, tohiti, seel, balukbuk, bidai, buwai, bambu, kalapa, tiga juru, minong, umbulu, telang dan rotan lambang.

(17)

g. Kesilindrisan

Kesilindrisan batang rotan dapat diperoleh dengan perbandingan

antara diameter rata-rata pangkal ruas dengan diameter rata-rata ujung ruas, dimana pangkal ruas dan ujung ruas terdapat buku yang membatasi ruas tersebut

h. Buku

Buku pada rotan adalah suatu titik pada batang atau cabang tempat munculnya daun atau cabang. Buku pada rotan dibagi menjadi tiga yaitu buku yang menonjol, agak menonjol dan buku yang tidak menonjol, sedangkan arah buku pada rotan terdapat dua kategori yaitu buku yang menceng dan buku yang agak menceng.

i. Selaput Silika

Selaput silika adalah selaput tipis yang melapisi kulit luar dari batang rotan yang menampilkan kilap, lapisan selaput silika ini ada yang spesifik dan tebal, hampir semua jenis rotan mempunyai lapisan silika yang membalut kulit luarnya

j. Parut Buaya

Parut buaya adalah suatu tanda pada batang rotan yang terlihat seolah-olah bekas parut yang menggores kulit kearah transversal.

4. Sifat Struktur

Sifat struktur dari rotan belum banyak diketahui karena belum ada

penelitian khusus terhadap sifat-sifat struktur tersebut, yang dapat digunakan sebagai petunjuk identifikasi adalah pori. Pori rotan sangat sederhana dan dibedakan dalam beberapa bagian antara lain ukuran, bentuk dan susunan pori.

(18)

5. Sifat Mekanis

Sifat mekanis rotan adalah sifat yang berkaitan dengan kemampuan rotan

yang dapat menahan gaya atau kekuatan dari luar, sifat mekanis itu antara lain keteguhan tekan, keteguhan patah, kekakuan, keuletan, keteguhan tarik, keteguhan geser dan keteguhan belah.

6. Keawetan dan Keterawetan

Keawetan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud adalah daya tahan terhadap faktor biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga. Sedangkan keterawetan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet)

tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet.

C. Karakteristik Rotan Semambu

Secara umum warna dari rotan semambu permukaan batangnya coklat muda atau coklat muda sampai coklat lebih tua di seluruh panjangnya, atau

dengan bercak–bercak coklat. Panjang antar buku kebanyakan diatas 30 cm, sering sangat panjang bisa mencapai 100 cm, buku menonjol dan membengkak pada satu titik sepanjang 10 mm atau lebih sepanjang kelilingnya, pembengkakan timbul memanjang dari antar buku dibawahnya, batangnya tidak silindris, dengan diameter batang tanpa pelepah daun antara 25 – 35 mm,

dengan total panjang batang bila merambat dan telah dewasa dapat mencapai 50 m atau lebih.

(19)

Rotan semambu tumbuh dan tersebar luas di seluruh Birma, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan dan Palawan. Rotan

semambu ini merupakan spesies yang tumbuh di dataran rendah dan jarang terdapat diatas ketinggian 200 m di atas permukaan laut, kondisi iklim yang di sukai adalah tanah alluvial dalam lembah banjir dari sungai–sungai. Sangat toleran terhadap penebangan hutan, dan sering terdapat di hutan sekunder.

Rotan semambu ini merumpun secara masif, memanjat sampai tinggi sekali mencapai panjang 50 m bahkan lebih, dengan buku–buku yang

menonjol, dan sedikit berat sebelah dalam penampang lintang. Daun berkucir sampai sekitar 2 m panjangnya, pelepah daun berwarna hijau

natural, di lengkapi dengan duri–duri besar segitiga pipih dan hitam.

Perbanyakan tumbuhan ini dapat melalui tunas akar, akan tetapi

pembudidayaannya lebih efisien dengan biji, buahnya berbentuk bulat telur dengan ukuran berkisar 14 x 9 mm, berparuh sangat pendek, ditutupi sisik hijau kusam dalam 14 – 15 barisan vertical, dengan ukuran biji berkisar antara 10 x 5 mm. diameter yang besar dan ruas yang panjang dengan kualitas sedang,

rotan ini banyak di pakai untuk kerangka kursi, meja, bahkan dengan ruas yang panjang baik untuk membuat tongkat dan tangkai payung. (J. Dransfield dan N. Manokaran, 1996).

D. Pemanenan Rotan

Rotan yang akan dipanen adalah rotan yang masak tebang, dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok.

(20)

Pemanenan rotan dilakukan dengan cara mencari rotan yang masak tebang, kemudian menebang pangkal rotan dengan pengkaitnya setinggi 10

sampai 50 cm, kemudian dengan pengait batang ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan yang telah dipanen kemudian dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Setelah itu rotan diangkut ke Tempat Pengumpulan Sementara (TPS), kemudian dibawa sampai ke Tempat Penimbunan Rotan (TPR) dengan cara memikul, menggunakan perahu/sampan dan menggunakan kuda.

Pada pemanenan besarnya limbah yang terjadi pada penebangan secara tradisional adalah 12,6 - 28,5 %, dan dengan mengunakan alat bantu tirfor dan lir adalah 4,1 - 11,1 %; sedangkan besarnya limbah yang dihasilkan selama pengangkutan berkisar antara 5 - 10 %. (Sinaga, 1986)

E. Pengolahan Rotan

Pengolahan rotan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah jadi dan barang jadi siap dipakai atau di jual. Pengolahan dalam industri yaitu proses pemisahan rotan bulat menjadi bagian–

bagian rotan seperti kulit dan hati, masing–masing bagian tersebut diolah lagi sesuai tujuan dan pemanfaatannya. Jika dikategorikan dalam pembagian kelas diameter menurut standar perdagangan rotan, maka yang termasuk ke dalam kategori rotan diameter besar (> 18 mm) dan kategori rotan diameter kecil (< 18 mm) maka rotan semambu masuk dalam kategori diameter besar.

Rotan yang berdiameter kecil seperti rotan seel (Daemonorop

melanochaetes Becc.) yang telah dipanen dan dibersihkan daun dan durinya

serta anggota batang, kemudian dilakukan penggosokan dengan menggunakan serbuk gergaji atau sabut kelapa, kemudian dipotong–potong sesuai standarnya.

(21)

Rotan tersebut lalu dibawa ketempat penumpukan rotan dan kemudian dijemur sampai kering dan juga dilakukan pengasapan. Pengasapan itu sendiri pada

dasarnya adalah proses oksidasi belerang (gas SO2) bertujuan agar warna kulit

rotan kuning merata serta tahan terhadap serangan jamur. Proses pengolahan sampai tahap ini disebut rotan WS (Washed and Sulphurized), kemudian rotan tersebut di jemur.

Rotan yang sudah kering dilakukan pembelahan (rotan dibelah) dan ada juga yang diambil kulitnya, digunakan untuk pengikat atau dibuat lampit. Rotan juga bisa diambil hatinya saja, kalau ukurannya besar disebut coor rotan dan kalau ukurannya lebih kecil disebut fitrit dan rotan ini digunakan untuk barang kerajinan.

1. Pengorengan

Penggorengan rotan adalah merendam rotan dalam minyak panas

dengan suhu ? 85? dan dipertahankan dalam waktu tertentu, adapun minyak yang digunakan berupa minyak solar, minyak tanah, minyak kelapa, atau pencampuran dari ketiga minyak tersebut dengan komposisi yang sudah

ditentukan perbandingannya. Rotan yang telah di goreng kemudian digosok dengan sabut kelapa atau serbuk gergaji dan didiamkan dalam posisi berdiri miring untuk menguapkan dan meniriskan sisa minyak selama dua hari.

Tujuan dari penggorengan adalah untuk menurunkan kadar air agar cepat kering dan juga untuk mencegah terjadinya serangan jamur. Adapun cara

penggorengannya adalah rotan dipotong-potong dengan panjang tertentu lalu diikat menjadi satu bundle, kemudian dimasukan kedalam wadah yang sudah berisi minyak dengan komposisi minyak yang sudah ditentukan dan suhu yang dikehendaki serta lama waktu yang sudah ditetapkan.

(22)

Menurut penelitian perbedaan campuran minyak penggoreng berpengaruh nyata terhadap warna kulit dan keteguhan tekan sejajar serat tetapi

tidak mempengaruhi keteguhan geser rotan. Sedangkan waktu penggorengan mempengaruhi warna kulit dan keteguhan geser rotan, akan tetapi tidak mempengaruhi keteguhan tekan sejajar serat selama penggorengan.

Campuran minyak penggoreng yang paling baik adalah campuran minyak solar dan minyak kelapa. hubungan antara lama waktu penggorengan dengan warna kulit dan terhadap keteguhan geser masing–masing menunjukan hubungan nyata. Baik warna kulit rotan maupun keteguhan geser cenderung menurun dengan hubungan linier yang negative. Beberapa penelitian dilakukan umumnya menggunakan minyak penggoreng dengan komposisi minyak solar dengan minyak kelapa (9 : 1) menghasilkan rotan dengan warna cerah (Rachman, 1984).

Sedangkan penurunan kadar air akibat dari penggorengan sangatlah beragam, penurunan kadar air sangat ditentukan oleh besarnya pori–pori pada rotan, semakin besar pori–pori dari rotan tersebut semakin cepat pula penurunan

kadar airnya, dan salah satu proses mempercepat penurunan kadar air adalah melalui proses penggorengan.

2. Penggosokan dan Pencucian

Setelah rotan digoreng, ditiriskan beberapa saat, kemudian digosok dengan kain perca, sabut kelapa atau karung goni yang dicampur dengan

serbuk gergaji, agar supaya sisa kotoran terutama getah yang masih menempel

pada kulit rotan dapat dilepaskan, sehingga kulit rotan menjadi bersih dan akan dihasilkan warna rotan yang berwarna cerah dan mengkilap.

(23)

Setelah digoreng rotan dicuci dengan air bersih sambil digosok dengan sabut kelapa untuk membersihkan kotoran yang melekat pada batang rotan. (Rachman, 1984).

3. Pengeringan

Setelah rotan dicuci lalu dikeringkan dengan cara dijemur pada panas matahari sampai kering dengan kadar air berkisar 15 - 19 %. Untuk mencapai kadar air 15 % dibutuhkan waktu antara 22 – 65 hari dengan pengeringan alami. Jika menggunakan alat dehumidifier (cara masinal) diperoleh lama pengeringan

berkisar 5 sampai 8.5 hari. Lebih jauh, kadar air yang diperoleh dengan menggunakan alat tersebut lebih rendah dibandingkan dengan cara alami. Kadar air yang dicapai berkisar antara 10.54 - 11.78 % dengan alat dehumidifier dan antara 18.35 - 19.19 % dengan cara alami. Namun warna rotan yang dihasilkan

dengan pengeringan alami lebih baik (lebih mengkilap) dibandingkan dengan alat

dehumidifier. (hasil penelitian Basri dan Kamasudirja, 1987 terhadap rotan

manau dan rotan semambu).

Ada beberapa cara pengeringan antara lain cara yang pertama setelah

rotan digoreng langsung dikeringkan di bawah sinar matahari, cara kedua rotan segar (basah), diawetkan dengan bahan pengawet, kemudian dipolis (dibuang kulitnya) dan langsung dikeringkan, cara ketiga rotan segar langsung dipolis (buang kulitnya) kemudian diawetkan dengan bahan pengawet dan langsung dikeringkan. Namun demikian setiap jenis rotan mempunyai kemampuan

mongering yang berbeda-beda. 4. Pemutihan

Pemutihan rotan bertujuan menghilangkan silika, mengurangi kromofort (gugus penyebab warna) oksidasi terhadap struktur aromatik dari lignin dan

(24)

karbohidrat (dalam kalium hipoklorit). Pemutihan perlu dilakukan dan harus diperhatikan bahan yang dipakai karena pemakaian bahan dan cara yang salah

mengakibatkan rotan rusak (mudah patah). Bahan pemutih yang biasa digunakan adalah perhydrol, air kaca, NaOh dan asap belerang (Jasni, 1992).

Ada beberapa cara melakukan pemutihan, ada yang mencelupkan rotan barang jadi dalam bak yang sudah berisi zat pemutih sambil digosok-gosok dengan sikat yang terbuat dari ijuk, ada juga yang mencelupkan barang setengah jadi kedalam bak yang sudah berisi bahan pemutih hanya satu detik saja dan ada pula dengan cara menyiram zat pemutih pada rotan.

5. Pengasapan

Pengasapan dilakukan agar warna rotan menjadi kuning merata dan mengkilap. Pengasapan dilakukan pada rotan kering yang masih berkulit (alami)

Pengasapan pada dasarnya adalah proses oksidasi rotan dengan belerang (gas SO2) agar warna kulit rotan menjadi lebih putih. Pengasapan dilakukan dalam rumah asap yang berbentuk kubah terbuat dari tembok dan balok kayu. Di dalam kubah dapat disusun 4000 batang rotan secara horizontal berlapis-lapis.

Setiap lapisan diberi bantalan kayu agar asap bergerak bebas di antara lapisan rotan. Selanjutnya belerang dibakar di atas suatu wadah dan dimasukkan ke dalam rumah asap. Waktu pengasapan sekitar 12 jam dan menghabiskan sekitar 7,5 kg belerang atau 1,8 gr/batang rotan (Rachman 1990).

6. Pengupasan dan Pemolisan

Pengupasan dan pemolisan umumnya dilakukan pada rotan besar pada keadaan kering, gunanya adalah untuk menghilangan kulit rotan tersebut, sehingga diameter dan warna menjadi lebih seragam dan merata.

(25)

7. Pembengkokan

Pembengkokan atau pelengkungan rotan dilakukan pada rotan berdiameter besar sesuai dengan pengunaannya. Cara pembengkokan ini dilakukan dengan cara rotan tersebut dilunakkan dengan uap air panas yang disebut steaming dengan tabung berbentuk silinder (steamer) agar jaringan rotan menjadi lunak sehingga mudah dibengkokan.

8. Pengawetan

Pengawetan rotan adalah proses perlakuan kimia atau fisis terhadap rotan yang bertujuan meningkatkan masa pakai rotan, bahan kimia untuk mengawetkan rotan disebut bahan pengawet, selain berfungsi untuk mencegah

atau memperkecil kerusakan rotan akibat organisme perusak juga memperpanjang umur pakai rotan.

Bahan pengawet yang digunakan harus bersifat racun terhadap organisme perusak baik pada rotan basah maupun rotan kering, permanen dalam rotan aman dalam pengangkutan dan penggunaan, tidak bersifat korosif, tersedia dalam jumlah banyak dan murah.

Pengawetan mulai dilakukan pada rotan masih berdiri atau rotan sebelum dipungut (Bucheri), pengawetan rotan setelah pemanenan (propilaktik) dan pengawetan rotan setelah kering (permanen). Cara pengawetan seperti ini disesuaikan dengan organisme perusak rotan tersebut.

Bahan pengawet yang digunakan untuk mengawetkan rotan diantaranya adalah campuran garam yang mengandung bahan aktif boron (boraks, asam borat, timbor dan genapol X-80 (Isotridekanol polyglylether) sebagai bahan anti jamur biru (blue stain), keberhasilan pengawetan ditentukan oleh retensi dan penetrasi bahan pengawet. Barly ( 1991).

(26)

Pencegahan serangan jamur pewarna dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida yang mengandung bahan aktif TCMTB/MTC; MBT;

Thiobenzondazol + IF 1000 dengan konsentrasi 1% sesaat setelah pemungutan. Penggunaan pestisida pencegah jamur pewarna tidak tepat pada rotan yang telah mendapat serangan di bagian dalam, apalagi pada rotan yang kulit luarnya telah berubah warna (Martono, 1990). Menggunakan bahan pengawet berbahan aktif metilenbisthiosianat 10 g/l dengan konsentrasi 2% dan retensi 13,7 kg/ton pada saat pemanenan rotan, ternyata mampu meningkatkan daya proteksi rata-rata terhadap serangan jamur biru (Rachman, et al. 1996). Pemotongan di bagian dekat buku lebih menguntungkan, karena dapat mengurangi laju

serangan jamur pewarna di bagian dalam.

F. Pemanfatan Rotan

Karena kekuatan, kelenturan dan keseragamannya, batang polos rotan

dimanfaatkan secara komersial untuk meubel dan anyaman rotan. Umumnya diameter rotan batang bervariasi antara 3 – 70 mm atau lebih, tergantung pada spesiesnya. Diperkirakan 20% dari spesies rotan digunakan secara komersial baik dalam bentuk utuh atau bundar terutama untuk kerangka meubel, maupun dalam belahan kulit dan terasnya untuk tikar dan keranjang. Spesies-spesies lain

mungkin tidak dipergunakan karena langka, pendek, atau buruk sifat mekanisnya.

Khususnya didaerah pedesaan, banyak spesies rotan telah digunakan selama berabad-abad untuk berbagai tujuan seperti tali-temali, kontruksi,

keranjang, atap dan tikar. Seperti dicatat oleh Corner (1966), jauh sebelum orang Portugis membawa perdagangan ke Eropa dengan terbukanya Asia Timur,

(27)

rotan begitu berharga bagi kehidupan desa sehingga orang dapat menyebutnya sebagai peradaban rotan di Asia Tenggara.

Rotan digunakan untuk membuat keranjang, tikar, meubel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, perangkap ikan, perangkap binatang, tirai, kurungan burung, dan untuk hampir semua tujuan lain yang memerlukan kekuatan dan kelenturan yang digabung dengan keringanan. Rotan juga dipakai untuk ikatan pada rumah, pagar, jembatan, dan bahkan ikatan pada perahu juga menggunakan rotan, sering tanpa menggunakan paku sama sekali. Tali untuk menambatkan kerbau, tambang penambat, dan tali jangkar juga dibuat dari rotan. Lembaran daun yang tua dianyam untuk atap rumah, sedangkan lembaran daun yang muda digunakan sebagai kertas rokok, tunas muda atau kobis dapat dimakan, buah rotan digunakan beragam sebagai buah dan obat dan

getahnya yang diperoleh dari kulit buah beberapa spesies pernah digunakan sebagai zat warna, pernis dan dapat juga dpergunakan untuk membuat jamu

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus 2012, meliputi kegiatan pengambilan contoh uji, pengujian, analisis data dan pelaporan hasil penelitian dan pengujiannya dari tanggal 16 – 25 Mei 2012 di Laboratorium Sifat– Sifat Kayu dan Analisis Produk Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda,

B. Alat dan Bahan

1. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Rotan semambu (Calamus scipionum Loureiro) dengan diameter berkisar 25 - 35 mm dalam kondisi segar

b. Parafin

c. Air destilasi (Aquades)

2. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Gegaji potong i. Parang b. Micro Caliper j. Kalkulator

c. Gelas ukur ( elemeyer) k. Alat Tulis Menulis

d. Stik ujung jarum l. Meteran e. Electric Balance

f. Universal Testing Machine g. Oven Dry

(29)

C. Prosedur Kerja

1. Persiapan Bahan Baku

Bahan baku rotan semambu segar diperoleh dari areal kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, dengan diameter berkisar antara 25 - 35 mm dan panjang 20 m, berbatang lurus dan bebas cacat. Lalu dipotong–potong dengan panjang 2 m, menjadi 10 batang.

2. Prosedur pengambilan contoh uji a. Contoh uji pengujian sifat fisik

Batang rotan semambu (Calamus scipionum Loureiro) yang masing–masing panjangnya 2 m, sebanyak 10 batang, lalu dipotong dengan ukuran 5 cm sebanyak 2 sampel, dan didapatkan 20 sampel dari 10 batang ukuran 2 m, lalu diambil 10 sampel yang terbaik untuk

dijadikan contoh uji kadar air dan berat jenis

b. Contoh uji keteguhan tekan sejajar serat

Dari 10 batang rotan semambu dengan panjang 2 m, lalu dipotong dengan ukuran 10 cm, masing–masing batang 2 sampel dan

didapatkan sebanyak 20 sampel lalu diambil 10 sampel yang terbaik untuk dijadikan contoh uji keteguhan tekan sejajar serat

c. Contoh uji keteguhan patah (Modulus of Repture)

Dari 10 batang rotan semambu dengan panjang 2 m, lalu dipotong dengan ukuran 30 cm, masing–masing batang 2 sampel dan

didapatkan sebanyak 20 sampel lalu diambil 10 sampel yang terbaik untuk dijadikan contoh uji keteguhan patah

(30)

D. Pengujian Sifat Fisik dan Mekanik 1. Kadar Air

Kadar air adalah banyaknya air yang terdapat di dalam suatu benda dan dinyatakan secara kuantitatif dalam persen (%) terhadap berat suatu benda yang bebas air atau berat kering tanur (BKT), namun dapat juga dipakai satuan terhadap berat basahnya. Berat kering tanur dijadikan sebagai dasar karena berat kering tanur merupakan indikasi dari jumlah substansi/bahan solid yang ada (Panshin dan de Zeeuw, 1980).

Karena penyebutnya adalah berat kering bukan berat total, kadar air yang dihitung dengan cara ini dapat melebihi 100%. Salah satu cara yang paling lazim untuk menentukan kadar air adalah dengan menimbang contoh uji basah dan mengeringkannya dalam tanur pada suhu 103 ± 2oC

untuk mengeluarkan semua air, kemudian menimbangnya kembali. Rincian metode kering tanur ini diterangkan di dalam standar ASTM (American Society for Testing and Materials) D 2016. Perlu diingat bahwa apabila menghitung kandungan air, banyaknya air dinyatakan sebagai

suatu persen berat kayu kering tanur.

Kadar air berturut-turut dimulai dari kondisi segar, basah, titik jenuh serat, kadar air tertentu, kering udara dan kering tanur. Rotan pada kondisi basah paling rawan terhadap serangan organisme perusak misalnya serangga dan jamur. Kondisi kadar air tertentu (di bawah titik

jenuh serat) rotan rawan terhadap efek penyusutan yang tidak terkendali, sedangkan rotan kering udara (disebut juga kering angin, seimbang, siap pakai atau stabil) sangat penting untuk diterapkan di dalam penggunaan rotan sebagai bahan baku produk tertentu seperti forniture

(31)

Untuk mengetahui kadar air segar pada rotan semambu dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menimbang contoh uji rotan

semambu ukuran panjang 5 cm pada electric balance dan dicatat berat rotan pada kondisi masih segar, lalu dimasukan kedalam oven dry

dengan suhu 103 ? 2 ? , selama 2 x 24 jam atau contoh uji tersebut sudah tidak mengalami perubahan berat yang signifikan lagi pada penimbangan berat dalam satu jam berikutnya, lalu setelah mengalami

kering tanur, contoh uji dikeluarkan dari oven dry dan dimasukan ke desicator terlebih dahulu untuk menurunkan suhu agar sama dengan suhu ruangan, lalu contoh uji tersebut ditimbang kembali untuk mendapatkan berat kering tanur dan dicatat beratnya.

Untuk mencari kadar air menggunakan rumus :

?

=

? ? ? ? ?

? ?

x 100 % dimana :

µ

= Kadar Air (%) Bw = Berat Basah (gr)

(32)

2. Berat Jenis

Berat jenis adalah rasio antara kerapatan suatu bahan

dengan kerapatan air. Berat jenis disebut juga kerapatan relative (Tsoumis, 1991). Berat jenis adalah rasio antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada kondisi anomali air (4,40C) dimana kerapatan air pada kondisi tersebut besarnya adalah 1 g/cm3. (Simpson, et.al, 1999)

Berat jenis tidak bersatuan (unitless) karena berat jenis merupakan perbandingan berat benda terhadap berat dari volume air yang sama dengan volume benda yang diukur atau dapat juga didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan suatu benda (atas dasar berat kering tanur dan volume pada berbagai kondisi pada benda itu sendiri) terhadap kerapatan air pada suhu 40C. Air memiliki

kerapatan 1 g/cm3 atau 1000 kg/m3 pada suhu standar tersebut.

Perhitungan berat jenis banyak disederhanakan dalam sistem metric, karena 1 cm3 air beratnya tepat 1g maka berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat dalam gram dengan volume

dalam sentimeter kubik (cm3). Berdasarkan angka, maka kerapatan dan berat jenis adalah sama. Namun, berat jenis tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif.

Sedangkan kerapatan suatu benda yang homogen adalah massa atau berat persatuan volume, sehingga kerapatan selalu dinyatakan

dengan satuan gram/cm3 atau kg/m3. Massa atau berat dan volume pada perhitungan kerapatan suatu benda (kayu/rotan) dapat menggunakan berbagai macam kondisi (kondisi segar/basah, kering udara, kadar air tertentu dan kering tanur)

(33)

Pengujian berat jenis yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan pada keadaan rotan segar. Contoh uji diukur volumenya pada

kondisi rotan masih basah/segar. Pengukuran volume dilakukan dengan cara contoh uji dicelupkan ke dalam gelas ukur yang terisi air penuh, namun sebelum dimasukkan kedalam gelas ukur yang terisi air, contoh uji dicelupkan dulu ke parafin cair agar permukaan contoh uji terlapisi oleh parafin untuk menghindari penyerapan air kedalam rotan, kemudian air yang tumpah pada alas gelas diukur dengan gelas ukur, selanjutnya contoh uji dimasukan kedalam oven dry selama 48 jam atau sampai mencapai kondisi berat kering tanur, lalu contoh uji ditimbang berat kering tanurnya.

Berat jenis dihitung dengan menggunakan rumus dalam

Scharai-Rad et.al. (1985) : n o

v

m

?

?

dimana : ? = Berat jenis

M o = Berat kering tanur

(34)

3. Keteguhan Tekan Sejajar Serat

Keteguhan tekan adalah kemampuan suatu benda untuk

menahan tekanan gaya atau kekuatan dari luar benda yang cenderung merusak atau menghancurkan benda tersebut. Sedangkan keteguhan tekan sejajar serat adalah kemampuan serat dari suatu benda untuk menahan gaya atau kekuatan dari luar yang datangnya searah dengan serat dari benda tersebut yang cenderung merusaknya.

Pengujian keteguhan tekan sejajar serat yang dilakukan dalam penelitian ini dengan cara contoh uji dengan ukuran panjang 10 cm diletakan secara vertical diatas meja pengujian mesin Universal Testing Machine, kemudian dilakukan pembebanan hingga mencapai beban maksimum. Untuk menentukan nilai keteguhan tekan sejajar serat, beban

yang bekerja secara maksimum pada contoh uji dibagi dengan luas penampang lintang contoh uji.

Keteguhan tekan sejajar serat dihitung dengan rumus dalam Scharai–Rad et. el, (1985)

?

// = (kg/cm2)

dimana :

?

//=Keteguhan tekan sejajar serat (kg/cm2) F = Beban maksimum (kg)

A = Luas penampang lintang (cm2)

?

?

(35)

4. Keteguhan Patah (Modulus of Repture)

Keteguhan patah adalah kemampuan dari suatu benda untuk

menahan gaya atau kekuatan dari luar yang cenderung merusak dengan cara mematahkannya

Dalam penelitian ini pengujian keteguhan patah dilaksanakan dengan menggunakan standar ASTM No. D. 143 – 52 (1970) dengan beberapa modifikasi. Pengujian menggunakan alat Universal Testing

Machine, dengan ukuran panjang contoh uji 30 cm dengan jarak sangga

(spand) 24 cm, kemudian contoh uji diletakan diatas meja pengujian

secara horizontal dan menghadap tegak lurus dengan datangnya gaya/kekuatan yang bekerja.

Keteguhan Patah (Modulus of Repture) dihitung dengan menggunakan rumus dalam Scharai – Rad et. el. (1985) :

ß

=

? ? ? ? ?

? ?? ?

(kg/cm2)

dimana :

ß = Modulus of Repture (kg/cm2)

F = Beban Maksimum (kg) D = Diameter Contoh Uji (cm) L = Jarak sangga/spand (cm)

(36)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Hasil pengujian sifat fisik dan mekanik rotan semambu (Calamus scipionum Loureiro) yang meliputi kadar air segar, berat jenis, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan patah (Modulus of Repture) dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Nilai rata–rata sifat fisik dan mekanik rotan semambu

No. Parameter Pengujian Nilai rata - rata

1. Kadar air segar 315.68 %

2. Berat jenis 0.26

3. Keteguhan tekan sejajar serat 61.16 kg/cm2 4. Keteguhan patah (MoR) 180.26 kg/cm2

Pada tabel 1 menunjukan bahwa hasil pengujian kadar air rotan semambu pada kondisi segar mempunyai niali rata–rata sebesar 315.68 %, sedangkan nilai rata–rata berat jenis menunjukan 0.26, selanjutnya nilai rata– rata pada keteguhan tekan sejajar serat sebesar 61.16 kg/cm2, dan nilai rata– rata keteguhan patah (Modulus of Repture) sebesar 180.26 kg/cm2.

(37)

B. Pembahasan 1. Kadar Air

Dari hasil penelitian didapat bahwa kadar air segar pada rotan semam bu (Calamus scipionum Loureiro) nilai rata–ratanya adalah 315.68 %, sedangkan untuk nilai tertinggi dari kadar air rotan segar sebesar 388.37 %, dan nilai paling rendah sebesar 207.48 %. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan air yang terkandung pada rotan ini cukup tinggi, ini menunjukan bahwa rotan ini mempunyai pori–pori yang sangat besar dan kerapatan yang rendah, dibandingkan dengan rotan manau Calamus manan Miq yang rata–rata kadar air segarnya sebesar 238.20 %, dan pada Daemonorops sp rata–rata kadar air segarnya 128.00 %, dan nilai rata-rata kadar air segar ketiga rotan

tersebut dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Nilai kadar air segar Calamus manan Miq,Calamus

scipionum L dan Daemonorops sp.

No Jenis Rata-rata

Kadar air segar (%)

1. Calamus manan Miq 238,20

2. Calamus scipionum Loureiro 315,68

3. Daemonorops Sp 128,00

Sumber : Azhar, 2011, Salusu,2011

Data hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa rata–rata kadar air segar pada kebanyakan rotan masih diatas 100 %, ini menunjukan bahwa rotan dalam pertumbuhannya cenderung selalu pada daerah yang

banyak airnya seperti lembah banjir dan sungai–sungai. Atau pada daerah yang memiliki curah hujan cukup tinggi, dan itu terdapat pada daerah tropis dan sub tropis seperti kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Amerika Latin seperti Brasil, Argentina dan negara tropis lainnya.

(38)

2. Berat Jenis

Dari hasil penelitian didapat bahwa berat jenis pada rotan

semambu (Calamus scipionum Loureiro) mempunyai nilai rata–rata sebesar 0.26, adapun nilai berat jenis tertinggi sebesar 0.33, dan nilai berat jenis terendah sebesar 0.22, dari data yang di peroleh menunjukan bahwa berat jenis rotan semambu lebih kecil dari rotan manau

(Calamus manan) 0.36, dan penelitian yang dilakukan oleh

Subekti (1995) pada tiga jenis rotan yaitu Calamus tumidus,

Calamus zollingeri, dan Daemonorops robustus diperoleh berat jenis

yang berkisar antara 0.3 – 0.4, dan hasil penelitian Salusu (2011) pada dua jenis rotan yaitu Daemonorops fissa Blume Becc yang memiliki berat jenis 0,5 dan Korthalsia echinometra Becc yang meiliki berat jenis 0,3. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triantoro dkk. (2001) di hutan dataran rendah Pami Manokwari terhadap empat jenis rotan yaitu Korthalsia zippeli, Calamus sp, Calamus heterochantus, dan Calamus hollrugii dimana berat jenis yang diperoleh rata–rata 0.3 dengan kisaran antara 0.3 sampai dengan 0.4. Dari data yang ada memperlihatkan bahwa rotan semambu mempunyai berat jenis yang cukup rendah, seperti Plectocomiopsis geminiflora (Griff) Becc yang memiliki berat jenis 0.2.

Tabel 3. Nilai berat jenis rotan Calamus manan Miq, Calamus

scipionum L dan Daemonrops Sp

No Jenis Rata-rata

Berat Jenis

1. Calamus manan Miq 0,36

2. Calamus scipionum Loureiro 0,26

3. Daemonorops Sp 0,50

(39)

3. Keteguhan Tekan Sejajar Serat

Dari hasil penelitian didapat bahwa keteguhan tekan sejajar serat

pada rotan semambu (Calamus scipionum Loureiro) mempunyai nilai rata–rata sebesar 61.16 kg/cm2, adapun nilai keteguhan tekan sejajar serat tertinggi sebesar 80.20 kg/cm2 , dan nilai keteguhan tekan sejajar serat terendah sebesar 45.29 kg/cm2 , dari data yang di peroleh menunjukan bahwa keteguhan tekan sejajar serat rotan semambu lebih kecil dari rotan manau (Calamus manan) hasil penelitian sebelumnya (Azhar, 2011) yang mempunyai nilai rata–rata 92.87 kg/cm2.

Dari data yang didapat menunjukan bahwa semakin tinggi berat jenis pada rotan semakin tinggi juga keteguhan tekan sejajar seratnya, dan rotan semambu nilai keteguhan tekan sejajar seratnya tidak terlalu

rendah, namun tidak terlalu tinggi juga, sehingga keteguhan tekannya masuk dalam kategori sedang. Hal ini sangat penting jika dihubungkan dengan penggunaan dan peruntukan rotan nantinya, karena dengan mengetahui nilai keteguhan tekan rotan, akan lebih tepat dalam

memanfaatkan dalam penggunaannya, khususnya jika dihubungkan dengan kontruksi perabot rumah tangga seperti meja, kursi dan lain sebagainya, karena makin tinggi keteguhan tekan sebuah rotan maka makin baik kualitasnya dalam penggunaan pembuatan kontruksi perabot rumah tangga tersebut.

(40)

4. Keteguhan Patah (Modulus of Repture)

Dari hasil penelitian didapat bahwa keteguhan patah pada rotan

semambu (Calamus scipionum Loureiro) mempunyai nilai rata–rata sebesar 180.26 kg/cm2, adapun nilai keteguhan patah tertinggi sebesar

220.95 kg/cm2, dan nilai keteguhan patah terendah sebesar 141.46 kg/cm2, jika dilakukan perbandingan dengan penelitian Surbakti (1995), terhadap Calamus tumidus Furtadodan Daemonorops

robustus yang nilai keteguhan patahnya sebesar 602 kg/cm2 dan 524.2 kg/cm2 serta hasil penelitian sebelumnya dari Sucipto dan Yoedodibroto (1986) terhadap rotan semambu, rotan

manau, rotan selutup dan rotan air yang masing–masing mempunyai keteguhan tekan sebesar 611 kg/cm2, 672.9 kg/cm2, 650 kg/cm2

dan 638 kg/cm2 maka hasil rotan semambu ini keteguhan patahnya lebih kecil dan sangat jauh berbeda.

Tabel 4. Nilai keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan patah beberapa jenis rotan

No Jenis Rata-rata Keteguhan Tekan Sejajar Serat (kg/cm2) Rata-rata Keteguhan Patah (MoR) (kg/cm2)

1. Calamus manan Miq 92.87 672,90

2. Calamus scipionum L 61.16 611,00

3. Daemonorops Sp - 524,20

4. Calamus tumidus Furtado - 602,00

5. Rotan selutup - 650,00

6. Rotan air - 638,00

(41)

Dari data yang diperoleh hasil keteguhan patah penelitian ini, dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, khususnya rotan semambu,

menunjukan bahwa nilai yang didapat sangat jauh berbeda yaitu 180.26 kg/cm2 dan 611 kg/cm2 hasil penelitian yang dilakukan Sucipto dan Yoedodibroto (1986). Perbedaan yang nyata dari nilai keteguhan patah ini dipengaruhi oleh perlakuan yang berbeda yaitu penelitian ini pengujiannya dalam kondisi segar sedangkan yang dilakukan oleh Sucipto dan Yoedodibroto rotan sudah mengalami penggorengan.

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kadar air segar rotan semambu mempunyai nilai rata–rata sebesar 315.68

%, dan mempunyai berat jenis 0.26.

2. Rotan semambu mempunyai kadar air segar yang tinggi dan berat jenis yang rendah dan masuk dalam kategori kelompok rotan dengan kelas diameter yang besar yakni diatas 18 mm.

3. Dilihat dari sifat mekaniknya, rotan semambu mempunyai nilai keteguhan sejajar serat yang sedang yakni 61.16 kg/cm2, namun mempunyai nilai keteguhan patah yang rendah yaitu 180.26 kg/cm 2.

4. Rotan ini mempunyai ruas yang panjang bisa mencapai 1 m bahkan lebih, dan cocok untuk dibuat tongkat, tangkai payung, bahan baku meubel, furniture dan kerajinan rotan.

B. Saran

1. Karena kadar air yang dikandungnya sangat tinggi dalam kondisi segar, dan mempunyai keunikan yaitu ruas yang panjang maka dianjurkan untuk

melakukan proses pengeringan dengan tepat.

2. Disarankan untuk dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu dengan cara penggorengan untuk meningkatkan kualitas kekuatannya dan keterawetannya.

(43)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1994. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tentang Rotan. Pusat Dokumentasi dan Informasi Manggala Wanabhakti. Jakarta.

Brown, H.P., A.J. Panshin, and C.C. Forsaith, 1952. Textbook of Wood Technology. Vol. II McGraw-Hill Book Co, New York.

Dransfield, J. 1974. A Short Guide To Rattan. Biotrop, Bogor. ________, J. 1979. A Manual of The Rattans. Biotrop, Bogor.

________. J. dan N. Manokaran, 1996. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 6; Rotan. Gadjah Mada University Press dan Prosea Indonesia.

Haygreen, J.G. dan J.L. Bowyer, 1982. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu Pengantar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Haury, D. dan B. Saragih, 1996. Pengolahan dan Pemasaran Rotan. GTZ SFMP Document No. 6b (1996). Samarinda.

Januminro, 2000. Rotan Indonesia. Potensi, Budidaya, Pemungutan, Pengolahan, Standar Mutu dan Prospek Pengusahaan. Kanisius. Jakarta. Jasni. 1996. Struktur Anatomi Batang dan Kandungan Kimia Rotan Serta Pencegahan Serangan Bubuk Dinoderus Minutus Fabr. pada Beberapa Jenis Rotan. Tesis S2. Program Studi Biologi. Program Pascasarjana. Universitas Indonesia. Depok.

Kalawa, N. Daniel, M.D. Wiharta, M. Attang S.S., 1998. Mengenal Berbagai Jenis Rotan di Indonesia. Departemen Kehutanan Pusat Penyuluhan Kehutanan. Jakarta.

Kalima, T., 1996. Flora rotan di Pulau Jawa serta kerapatan dan persebaran populasi rotan di tiga wilayah kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat. Thesis S2 Program Studi Biologi Program Pasca Sarjana. Universitas Indonesia. Depok. Tidak diterbitkan.

Pandit, I.K.N., dkk. 1993. Sifat Anatomi Beberapa Jenis Rotan. Pusat Litbang Hasil Hutan. Badan Litbang Kehutanan, Bogor.

Panshin, A.J. dan C.de Zeeuw. 1964. Texbook of Wood Technology. 4th ed. McGraw-Hill. New York.

Rachman, Osly., 1984. Pengaruh Kondisi Penggorengan Terhadap Kualitas Rotan Manau. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 1 No. 4 (1984) pp. 14-19, Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Bogor.

(44)

_____________. 1996. Peranan sifat anatomi, kimia dan fisis terhadap mutu rekayasa rotan. Disertasi Doktor. Program Pasca sarjana IPB. Bogor. Salusu, H.D. 2010 Analisis Sifat Fisik dan Mekanik Rotan Merah dan Rotan

Getah. Buletin Loupe, Jurusan Pengolahan Hasil Hutan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Scharai-Rad, M., A. Sulistyo Budi, R. Sastrawijaya, E. Sastradimadja, 1985. Wood Testing. Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UNMUL, Samarinda.

Simpson, W and Anton Ten wolde. 1999. Physical Properties and Moisture Relation of Wood. Wood Handbook; Wood as An Engineering Material. Forest Product Laboratory General Technical Report FPL-GTR-113. USDA Forest Science, Forest Product Laboratory. USA.

Soediwinardi, J.F.R., 1996. Penelitian Pengolahan Rotan Manau, Suatu Kegiatan Guna Menyempurnakan Sistim Pengolahan. Duta Rimba/197-198/XX/1996, Jakarta. Hal. 39-47.

Soenardi, 1978. Sifat-sifat Fisik Kayu. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Subekti, D.E. 1995. Pengaruh anatomi Terhadap Sifat Fisik dan Mekanik Beberapa Jenis Rotan. Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood : Structure, Propertise, Utilization. Van Nostrand Reinhold. New York.

Yoedodibroto, H., 1982. Sifat–Sifat Fisik dan Komposisi jenis–jenis rotan di

beberapa kelompok Hutan Alam Tropika I Kalimantan Timur. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

(45)

Tabel 2. Kadar Air Segar Rotan Semambu NO

B

w (gr)

B

o (gr) (%)

µ

1 37.2940 8.6923 329.05 2 37.7710 8.6822 335.04 3 33.0551 8.2288 301.70 4 37.3049 8.5326 337.20 5 39.6715 8.5427 364.39 6 38.4516 8.3054 362.97 7 29.7918 9.6891 207.48 8 40.0441 11.0360 262.85 9 32.0836 8.7250 267.72 10 39.8018 8.1499 388.37

Rata–rata kadar air segar 315.68

Kadar air segar tertinggi 388.37

(46)

Tabel 3. Berat Jenis Rotan Semambu NO Mo Vol

?

1 8.6923 32 0.27 2 8.6822 36 0.24 3 8.2288 31 0.27 4 8.5326 38 0.22 5 8.5427 38 0.22 6 8.3054 38 0.22 7 9.6891 32 0.30 8 11.0360 33 0.33 9 8.7250 33 0.26 10 8.1499 36 0.23

Rata–rata berat jenis 0.26

Berat Jenis Tertinggi 0.33

Berat Jenis Terendah 0.22

(47)

Tabel 4. Keteguhan Tekan Sejajar Serat Rotan Semambu NO

Ø

(cm) Luas Penampang

A

(cm2)

F

max (kg) Keteguhan Tekan Sejajar Serat (kg/cm2) 1 3.75 11.04 500 45.2937 2 3.25 8.29 665 80.2020 3 3.15 7.79 550 70.6109 4 3.52 9.73 465 47.8077 5 3.55 9.89 749 75.7103 6 3.52 9.73 510 52.4342 7 3.27 8.39 460 54.8015 8 3.4 9.07 490 53.9968 9 3.41 9.13 640 70.1134 10 2.9 6.60 400 60.5890

Rata–rata keteguhan tekan sejajar serat 61.1600

Keteguhan tekan sejajar serat tertinggi 80.2020

(48)

Tabel 5. Keteguhan Patah (Modulus of Repture ) Rotan Semambu Segar NO

Ø

(cm)

F

max (kg) Keteguhan Patah (MoR) (kg/cm2) 1 3.40 116 180.46 2 3.54 124 170.92 3 3.10 96 197.04 4 3.54 124 170.92 5 3.70 284 342.83 6 3.10 106 217.57 7 3.50 110 156.88 8 3.46 121 178.62 9 3.75 122 141.46 10 3.52 120 167.81

Rata-rata keteguhan patah 180.26

keteguhan patah tertinggi 342.83

keteguhan patah terendah 141.46

(49)

Gambar 1. Tumbuhan Rotan Semambu

(50)

Gambar 3. Contoh Uji Berat Jenis

(51)

Gambar 5. Contoh Uji Keteguhan Tekan Sejajar Serat

(52)

Gambar 7. Gelas Ukur

(53)

Gambar 9. Desikator

(54)

Gambar 11. Universal Testing Machine

Gambar 12. Pengujian Keteguhan Gambar 13. Pengujian Keteguhan Tekan Sejajar Serat Patah (MoR)

Gambar

Tabel 3.  Berat Jenis Rotan Semambu   NO  Mo  Vol  ? 1  8.6923  32  0.27  2  8.6822  36  0.24  3  8.2288  31  0.27  4  8.5326  38  0.22  5  8.5427  38  0.22  6  8.3054  38  0.22  7  9.6891  32  0.30  8  11.0360  33  0.33  9  8.7250  33  0.26  10  8.1499  3
Tabel 5.  Keteguhan Patah (Modulus of Repture ) Rotan Semambu Segar        NO  Ø  (cm)  F  max (kg)  Keteguhan Patah (MoR)  (kg/cm 2 )              1  3.40  116  180.46        2  3.54  124  170.92        3  3.10  96  197.04        4  3.54  124  170.92
Gambar 4.  Contoh Uji Kadar Air
Gambar 5. Contoh Uji Keteguhan Tekan Sejajar Serat
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan kualitas sifat mekanik rotan dari kualitas terbaik adalah rotan manau, rotan tohiti, rotan batang, rotan semambu, rotan

Respon yang diamati adalah nilai-nilai retensi dan penetrasi bahan pengawet, serta sifat mekanis (MOE, MOR, keteguhan tekan sejajar serat, dan keteguhan tarik tegak lurus serat)

Pengujian sifat-sifat fisika meliputi kadar air, berat jenis, panjang ruas, diameter ruas, diameter buku dan warna, untuk sifat-sifat mekanika pengujian keteguhan

Sifat mekanik kayu Lulu (Celtis latifolia Planch.), yaitu MOE, MOR, keteguhan tekan paralel dan tegak lurus serat diuji pada dua kondisi kadar air, Sampel kayu

Hal tersebut mempengaruhi sifat mekanik dari serat kulit rotan yang dihasilkan, sehingga tidak dapat digunakan sebagai filler dalam pembuatan biokomposit..

Lebih lanjut, nilai dari hampir semua jenis pengujian, yang meliputi: berat jenis, kadar air, kuat tekan sejajar serat, kuat tekan tegak lurus serat, kekerasan, kuat geser

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata nilai keteguhan tekan sejajar serat pada Kayu kemiri pada posisi yang berbeda yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung dapat

Selanjutnya, kedudukan radial dalam pohon berpengaruh nyata pada sifat fisika kadar air segar, berat jenis segar, berat jenis kering udara, penyusutan total arah radial, dan rasio T/R