BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rangsangan tersebut dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2003).

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perilaku

Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak diamati oleh pihak luar. Perilaku diartikan sebagai suatu reaksi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan dan rangsangan tersebut dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Blum (dalam Notoatmodjo, 2003) perilaku merupakan yang dominan mempengaruhi kesehatan setelah lingkungan. Perilaku selalu berperan dalam lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, juga sosial budaya.

2.1.1. Proses Adopsi Perilaku

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

1. Awarennes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus/objek. Dalam tahap ini seseorang belum memiliki informasi mengenai stimulus yang telah dikondisikan yaitu penggunaan garam beriodium. Untuk itu informasi mengenai penggunaan garam tersebut harus disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi yang ada, bisa melalui media cetak, media elektronik, maupun kondisi interpersonal diantara masyarakat.

2. Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus yaitu tentang penggunaan garam beriodium baik tertarik terhadap mutu garam, penyimpanan dan manfaat garam beriodium. 3. Evaluation (menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Dalam tahap ini terjadi lebih banyak dalam tingkat pemikiran calon seseorang pengguna garam beriodium. Seseorang akan mengukur keuntungan yang akan dia dapat jika mengadopsi inovasi tersebut secara personal. Berdasarkan evaluasi dan diskusi dengan orang

(2)

lain, ia mulai cenderung untuk mengadopsi atau menolak hal-hal yang berhubungan dengan garam beriodium.

4. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru. Dalam tahap ini, seseorang membuat keputusan akhir apakah akan mengadopsi perilaku baru tentang penggunaan garam beriodium atau menolak. Namun bukan berarti setelah melakukan pengambilan keputusan ini lantas menutup kemungkinan terhadap perubahan dalam pengadopsian. Dalam tahap ini seseorang mulai menggunakan inovasi sambil mempelajari lebih jauh tentang penggunaan garam beriodium tersebut.

5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Setelah sesuai keputusan, seseorang kemudian akan mencari pembenaran atas keputusan mereka. Apakah perilaku penggunaan garam tersebut di adopsi atau tidak, seseorang akan mengevaluasi akibat dari keputusan yang telah dibuatnya, tidak menutup kemungkinan seseorang mengubah keputusan yang tadinya menolak penggunaan garam beriodium jadi menerima setelah melakukan evaluasi.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku adopsi melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

2.1.2 Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku

Bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan konsep yang digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya terhadap perilaku. Menurut WHO, perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 yakni:

1. Perubahan alamiah (Natural Change)

Perilaku manusia selalu berubah dimana sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan terhadap

(3)

penggunaan garam beriodium, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya juga akan mengalami perubahan.

2. Perubahan terencana (Planned change)

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncakan sendiri oleh subjek, setelah menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

3. Kesediaan untuk berubah (Readdiness to change)

Apabila terjadi suatu inovasi atau perubahan perilaku di masyarakat tentang penggunaan garam beriodium, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, dan sebagian besar lagi sangat lambat untuk menerima inovasi. Hal ini disebabkan karena pada setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda.

2.1.3 Strategi Perubahan Perilaku

Di dalam program-program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kesehatan, sangat diperlukan usaha-usaha konkrit dan positif. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku tersebut dikelompokkan menjadi 3, yakni:

1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran atau masyarakat sehingga ia mau melakukan (berperilaku) seperti yang diharapkan. Cara ini dapat ditempuh misalnya dengan adanya peraturan-peraturan/perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat. Cara ini akan menghasilkan perilaku yang cepat, akan tetapi perubahan perilaku tersebut belum tentu berlangsung lama karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri. 2. Pemberian informasi

Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara penggunaan garam beriodium, cara penyimpanan garam beriodium dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut.

(4)

3. Diskusi dan partisipasi

Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua tersebut diatas dimana didalam memberikan informasi-informasi tentang kesehatan tidak bersifat searah saja, tetapi dua arah. Hal ini berarti bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga harus ikut berpatisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang diterimanya. Dengan demikian maka pengetahuan-pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku mereka diperoleh secara mantap dan lebih mendalam. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dari cara yang kedua dan jauh lebih baik dari cara yang pertama. Diskusi partipasi adalah salah satu cara yang baik dalam rangka memberikan informasi-informasi dan pesan-pesan kesehatan.

2.1.4 Jenis Perilaku

Skiner (1938), yang dikutip Notoadmodjo (2003) membedakan adanya dua respons perilaku yaitu:

a. Perilaku yang alami (innate behavior) adalah perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu yang berupa fefleks-refleks atau insting-insting.

b. Perilaku operan (operan behavior) adalah perilaku yang dibentuk melalui proses belajar. Sebagian besar perilaku manusia adalah perilaku operan.

Perilaku manusia merupakan hasil dan segala macam pengalaman serta interaksi manusia dan lingkungan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan (Sarwono, 1993), sehingga perilaku individu tersebut dapat diukur melalui: a. Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Tentang Garam Beriodium

Pengetahuan merupakan hasil penginderaan seseorang terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).

(5)

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pendidikan formal dan informal. Selain itu juga dapat diperoleh dengan melihat , mendengar sendiri atau melalui alat-alat komunikasi, mendengar siaran radio dan menyaksikan siaran di televisi maupun melalui penyuluhan kesehatan (Suhardjo, 1989).

Pengetahuan ibu serta ketrampilan ibu sangat diperlukan dalam upaya pemilihan garam beriodium yang tepat, cara penggunaannya selama proses pengolahan dan cara penyimpanan garam beriodium. Makin tinggi pengetahuan ibu makin banyak yang dilakukan dalam memenuhi kecukupan iodium yang berguna bagi tubuh.

Pengetahuan ibu sangat berpengaruh didalam pelaksanaan dan penerapan dirumah tangganya. Semakin banyak pengetahuan ibu tentang garam beriodium maka dapat diperhitungkan jenis garam yang dipilih untuk dikonsumsinya. Ibu yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang garam beriodium tidak melakukan pemilihan garam berdasarkan kandungan iodium, dan tidak memahami cara penggunaan garam beriodium (Sediaoetomo, 2003).

Dari hasil penelitian (Setiarini, 2010) menyatakan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan ibu rumah tangga dengan cara penyimpanan dan penggunaan garam beriodium. Pada penelitian tersebut diketahui bahwa sebagian besar ibu rumah tangga masih salah (73,7%) cara menyimpan garam beriodium. Hal tersebut berlaku bagi ibu rumah tangga yang mempunyai pengetahuan GAKI tinggi (67,9%) maupun yang rendah (80,9%).

Menurut hasil penelitian (Elita, 2009) mengenai cara penggunaan garam beriodium hampir seluruh ibu rumah tangga belum mengetahui dan memahami cara penggunaan garam beriodium yang benar. Mereka menyatakan apabila garam ditambahkan setelah proses memasak maka rasanya tidak meresap. Seperti halnya dari hasil penelitian (Setiarini, 2010) menunjukkan cara penggunaan garam beriodium oleh ibu rumah tangga pada proses pemasakan sebagian besar masih salah. Hal tersebut dikarenakan mereka beralasan bahwa jika garam dihaluskan dengan bumbu maka masakan akan lebih terasa karena garam lebih

(6)

meresap dibumbu. Kurangnya pengetahuan akan cara penggunaan yang tepat tentunya mempengaruhi kadar iodium yang hilang (Depkes RI, 2009).

b. Sikap Ibu Rumah Tangga Terhadap Garam Beriodium

Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2003).

Notoatmodjo (2005), mengutip pernyataan Newcorb salah seorang ahli psikologi sosial yang menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan reaksi terbuka atau tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Sikap yang dimaksud adalah respons ibu rumah tangga terhadap stimuli sosial yang telah dikondisikan yaitu penggunaan garam beriodium.

Dari hasil penelitian (Ekawati, 2013) sikap negatif ditunjukkan oleh informan lebih besar dari pada sikap positifnya. Karena sebagian besar ibu rumah tangga menyatakan rasa makanan menjadi pahit setelah ditambahkan garam beriodium. Ada beberapa alasan yang menunjukkan hal tersebut yaitu mereka pernah mencoba menggunakan garam beriodium dan muncul rasa pahit pada makanan sehingga mereka tidak berkeinginan menggunakan kembali garam tersebut. Selain itu adanya pengaruh dari orang sekitar seperti tetangga dan mertua yang menyatakan garam beriodium pahit membuat sikap negatif timbul terhadap garam beriodium pada ibu rumah tangga.

Berdasarkan penelitian Ekawati tersebut menunjukkan bahwa sikap yang terbentuk pada diri seseorang terhadap garam beriodium dapat dipengaruhi oleh adanya pengalaman

(7)

pribadi pernah menggunakan garam beriodium, pengaruh orang sekitar seperti mertua dan tetangga serta kebiasaan menggunakan garam biasa. Hal ini sesuai dengan pendapat (Azwar, 2009) yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap diantaranya pengalaman pribadi, kebudayaan dan pengaruh orang lain yang dianggap penting.

Dari hasil penelitian Badri (2011) sikap ibu rumah tangga tentang penggunaan garam beriodium 52,78% negatif. Hal tersebut dipengaruhi informasi dan pengetahuan yang kurang. Ibu rumah tangga salah dalam menggunakan garam beriodium yaitu semua digerus bersama bumbu dan setelah garam dimasukkan kedalam sayuran panci terbuka. Ini akan menyebabkan penguapan kandungan iodium tersebut. Seharusnya garam dimasukkan setelah sayuran masak dan setelah dimasukkan sayuran ditutup (Almatsier, 2011). Hasil tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan ibu yang kurang tentang cara penggunaan garam beriodium.

c. Tindakan Ibu Rumah Tangga Terhadap Garam Beriodium

Tindakan adalah respon nyata dari seseorang terhadap suatu objek. Setelah seseorang mengetahui stimulus kemudian mengadakan penelitian atau pendapat terhadap apa yang diketahui atau yang disikapinya tersebut dalam bentuk tindakan. Praktek individu terhadap suatu objek dipengaruhi oleh persepsi individu tentang kegawatan objek, kerentanan, faktor sosio demografi, pengaruh media massa, anjuran orang lain serta perhitungan untung rugi dari praktek tersebut.

2.2 Garam

Garam merupakan salah satu komoditi strategis karena selain merupakan suatu kebutuhan pokok manusia, juga digunakan sebagai bahan baku industri. Untuk kebutuhan garam konsumsi manusia, garam lebih dijadikan sarana fortifikasi zat iodium, menjadi garam konsumsi beriodium dalam rangka penanggulangan GAKI. Garam merupakan salah satu sumber sodium dan klorida dimana kedua unsur tersebut diperlukan untuk metabolisme tubuh. Penggunaan garam secara garis besar dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu:

(8)

-. Garam untuk konsumsi manusia

-. Garam untuk pengasinan dan aneka pangan -. Garam untuk industri (Deperindag, 2000).

Garam adalah kumpulan senyawa kimia dengan komponen utamanya Natrium Klorida (NaCL) sama saja dengan garam dapur. Proses pembuatan garam di Indonesia pada umumnya dengan cara menguapkan air laut dengan menggunakan sinar matahari atau dengan sumber panas lainnya. Tetapi ada juga yang diperoleh melalui penambangan dari tanah di bekas daerah lautan.

Dalam kehidupan manusia sehari-hari kegunaan garam selain memberikan rasa asin pada makanan, juga dipakai sebagai pengawet, misalnya untuk pengawet ikan dan bahan pangan lainnya. Garam juga salah satu komponen dalam pembuatan garam oralit. Garam juga merupakan pembuatan larutan infus 0,9% NaCL yang digunakan sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi. Garam yang telah diiodisasi juga berguna dalam menanggulangi penyakit gondok (Depkes RI, 2005).

2.3 Garam Beriodium

2.3.1 Pengertian Garam Beriodium

Garam beriodium adalah garam yang sudah ditambahkan iodium yang diproduksi melalui proses iodisasi dan memenuhi standar Nasional Indonesia serta dibutuhkan oleh tubuh untuk membuat hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Sedangkan iodium adalah salah satu mineral penting bagi kehidupan manusia yang diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi otak. Garam beriodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung iodium 30-80 ppm, serta dikemas dan diberi label (Depkes RI, 2005).

Konsumsi garam yang dianjurkan untuk setiap orang sekitar 6 gr atau 1 sendok teh setiap hari. Cara mengkonsumsi garam biasanya digunakan sebagai garam meja dengan penambahan garam beriodium dalam pemasakan. Jenis kemasan dan lama penyimpanan akan

(9)

berpengaruh terhadap iodium garam. Selama penyimpanan kadar iodium menurun seiring dengan lamanya garam disimpan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kehilangan iodium terbanyak pada garam yang dikemas dengan plastik berwarna bening dan sedikit pada kemasan plastik berwarna gelap.

Pengaruh kemasan terhadap penurunan KIO3 membuktikan bahwa sayuran yang dimasak dengan cara dikukus, pembubuhan garam pada saat sayuran matang dan wadah ditutup setelah diberi garam, maka kehilangan iodium akan lebih sedikit (Irawati, 1993).

2.3.2 Penyimpanan Garam Beriodium

Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap bahan yang diterima agar aman, terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Penyimpanan bertujuan agar bahan yang tersedia terjamin mutu dan kemasannya. Garam beriodium sebaiknya disimpan di tempat kering dan terhindar dari panas dan sinar matahari (Depkes RI, 2005).

Menurut Palupi (2008), garam beriodium perlu disimpan: 1) Di bejana atau wadah tertutup; 2) Tidak kena cahaya; 3) Tidak dekat dengan api, hal ini untuk menghindari penurunan kadar iodium.

Berkurangnya kandungan iodium pada garam dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tempat penyimpanan, cara penyimpanan dan lokasi penyimpanan garam. Garam beriodium akan lebih baik bila disimpan didalam wadah yang terbuat dari kaca/keramik/plastik, disimpan secara tertutup dengan lokasi penyimpanannya jauh dari sumber panas/api. Hal ini dimaksudkan agar kandungan iodiumnya tidak berkurang. Hasil survei konsumsi garam iodium tahun 2003 menunjukkan bahwa sebagian besar (76,22%) rumah tangga yang mengkonsumsi garam, menyimpan garamnya secara tertutup. Penyimpanan garam beriodium secara tertutup dimaksudkan agar kandungan iodium yang ada dalam garam tidak berkurang dan menguap. Garam yang disimpan secara tertutup

(10)

mempunyai persentase yang tinggi kandungan iodiumnya cukup. Sedangkan garam yang disimpan secara terbuka cenderung kadar iodiumnya kurang bahkan tidak ada (BPS, 2003).

2.3.3 Bentuk-bentuk Garam

Bentuk garam yang beredar dipasaran ada 3 jenis yaitu garam halus, bata/briket dan curai/krosok. Garam halus adalah garam yang kristalnya sangat halus menyerupai gula pasir, dan biasa disebut dengan garam meja. Garam halus mempunyai kualitas terbaik daripada garam briket/bata maupun garam curai/krosok. Garam briket adalah garam garam yang berbentuk bata, garam ini jauh lebih baik kualitasnya daripada garam curai/krosok. Sedangkan garam curai/krosok adalah garam yang kristalnya kasar-kasar. Garam ini mempunyai kualitas yang paling rendah (Depkes, 2001)

2.3.4 Cara Menilai Mutu Garam Beriodium

Ada beberapa cara untuk mengetahui ada tidaknya yodium pada garam, antara lain : 1. Menilai mutu garam dengan iodina test:

a. Siapkan garam yang bertuliskan garam beriodium b. Siapkan cairan uji iodina

c. Ambil setengah sendok teh garam yang akan diuji dan letakkan dipiring d. Teteskan cairan iodina sebanyak 2-3 tetes pada garam tersebut

e. Tunggu dan perhatikan apakah garamnya berubah warna, kalau garam tetap putih berarti garam tersebut tidak beriodium (0 ppm)

f. Bila garam berwarna ungu berarti garam mengandung iodium sesuai persyaratan (30 ppm).

2. Menggunakan Singkong Parut

Menggunakan singkong parut. Caranya sebagai berikut : singkong (ubi kayu) segar dikupas, diparut dan diperas tanpa diberi air. Tuang 1 sendok perasan singkong parut kedalam gelas bersih. Tambahkan 4-6 sendok teh munjung garam yang akan diperiksa. Tambahkan 2 sendok teh cuka biang berkadar 25 %. Aduk sampai rata, dan tunggu beberapa

(11)

menit. Apabila timbul warna biru keunguan, berarti garam tersebut mengandung yodium. Semakin berwarna pekat, semakin baik mutu garam. Garam yang tidak beryodium tidak akan mengalami perubahan warna setelah diperiksa dengan cairan yodina maupun cairan singkong parut (DepKes RI, 2005).

2.4 Iodium

Iodium merupakan salah satu mineral yang essensial sehingga keadaan kekurangan akan mengganggu kesehatan dan pertumbuhan serta perkembangan manusia. Kekurangan pada ibu yang sedang hamil dapat berakibat abortus, lahir mati, kelainan bawaan pada bayi, meningkatkan angka kematian perinatal, melahirkan bayi kretin dan sebagainya. Kekurangan iodium yang diderita oleh anak-anak menyebabkan pembesaran kelenjar gondok, gangguan fungsi mental, gangguan perkembangan fisik, sedangkan pada orang dewasa berakibat pembesaran kelenjar gondok, hipotiroid dan gangguan mental. Karena kekurangan iodium tidak saja menyebabkan pembesaran kelenjar gondok melainkan berbagai macam gangguan lain, maka penyakit tersebut dinamakan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) (Sediaoetamo, 2003).

2.5 Sumber Iodium

Iodium tersedia secara alami dalam tanah dan air sehingga sebenarnya iodium dapat diperoleh dari tanaman yang tumbuh pada tanah yang kaya akan iodium, akan tetapi bila tanah kehilangan kandungan iodium karena banjir, erosi maupun kerusakan lainnya maka tanaman yang tumbuh disana juga akan kekurangan iodium. Dengan demikian manusia dan hewan yang tinggal didaerah kekurangan iodium dan hanya mengkonsumsi hasil buminya, juga akan mengalami kekurangan iodium.

Menurut Djokomoeljanto (2009), sumber iodium antara lain:

a. Air tanah, tergantung sumber air berasal dari batuan tertentu (kadar paling tinggi apabila air ini bersumber dari igneous rock).

(12)

b. Plankton, ganggang laut dan organisme laut lain berkadar iodium tinggi sebab organisme ini mengkonsentrasikan iodium dari lingkungan sekitarnya.

c. Sumber bahan organik yang berada dalam oksidan, desinfektan, yodosfor, zat warna makanan dan vitamin yang beredar dipasaran menambah iodium juga.

d. Ikat laut, cumi-cumi yang dikeringkan mengandung banyak iodium.

2.6Fungsi Iodium

Iodium adalah salah satu mineral penting bagi kehidupan manusia yang bersama-sama dengan protein membuat hormon Tyroid yang diproduksi oleh kelenjar gondok. Hormon tyroid yang terdiri tiroxin dan tri ioditiroxina berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada manusia. Protein dan iodium dapat berasal dari makanan dan air minum yang diabrsorbsi melalui usus dan masuk ke aliran darah dan seterusnya menuju kelenjar gondok.

2.7 Kebutuhan Iodium

Kebutuhan iodium bervariasi menurut umur dan kondisi-kondisi tertentu. Kebutuhan anak-anak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa akan iodium perharinya. Keadaan fisiologis tertentu dari tubuh seperti misalnya pada wanita dan ibu menyusui, jumlah kebutuhan tubuh akan zat iodium akan berbeda.

Tabel 2.2 Angka Kecukupan Iodium sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004)

Golongan umur AKI*(mg) Golongan umur AKI*(mg)

0-6 bulan 90 Wanita: 7-11 bulan 120 10-12 tahun 120 1-3 tahun 120 13-15 tahun 150 4-6 tahun 120 16-18 tahun 150 7-9 tahun 120 19-29 tahun 150 30-49 tahun 150 Pria : 50-64 tahun 150 10-12 tahun 120 ≥65tahun 150 13-15 tahun 150 16-18 tahun 150 Hamil: +50 19-29 tahun 150 30-49 tahun 150 Menyusui : 50- 64 tahun 150 0-6 bulan +50 ≥65tahun 150 7-12 bulan +50

(13)

Sumber: Prinsip Dasar Ilmu Gizi (Almatsier, 2009).

2.8 Defisiensi Iodium

Pengertian tentang defisiensi iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja, tetapi defisiensi iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara luas , meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak (Almatsier, 2001). Beberapa akibat defisiensi iodium, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Pembesaran Kelenjar Tiroid

Tiap-tiap pembesaran kelenjar disebut stroma. Stroma ada yang bersifat toksin dan toksik. Apabila pembesarannya cukup besar dapat menyebabkan gangguan mekanis dan apabila menekan trakhea akan terdesak kesamping sehingga kemungkinan menyebabkan kesukaran bernafas. Apabila menekan esophagus akan menyebabkan sukarnya proses menelan makanan (Budiyanto, 2002).

b. Kretin

Kekurangan iodium juga dapat menyebabkan kesehatan yang lain yakni “Cretinisma”. Kretinisma adalah suatu kondisi penderita dengan tinggi badan dibawah normal (cebol). Kondisi ini disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan, dari hambatan ringan sampai dengan sangat berat. Ekspresi muka orang kretin ini memberikan kesan orang bodoh karena tingkat kecerdasannya sangat rendah. Pada umumnya orang kretin ini dilahirkan dari ibu yang sewaktu hamil kekurangan iodium. Kretin juga ditandai dengan gangguan mental, gangguan perkembangan saraf otak, gangguan pendengaran, cara berjalan, berbicara, dan sebagainya dan dapat disertai atau tidak disertai hipotiroidi. Yang penting untuk didasari adalah bahwa kretin adalah satu kelainan yang irreversible (menetap), sehingga merupakan beban bagi masyarakat pada umumnya (Djokomoeljanto, 2006).

c. Kesehatan Ibu dan Anak

Pada manusia, defisiensi iodium dapat meningkatkan abortus spontan, stillbirth dan kematian neonatal, kelainan kongenital, dan kelainan kardiosvaskular serta susunan saraf.

(14)

Hasil penelitian pada ibu yang hipotiroidi selama hamil diobati dan tidak diobati menunjukkan perbedaan yang bermakna dalam hal kelahiran anak normal, kejadian abortus dan kelahiran prematur (Budiyanto, 2002).

2.9 Penggunaan Garam Beriodium

Nurachman dan Sarwono (2003) dalam tulisannya pada kompas 29 april 2003, Iodium dengan simbol kimia I adalah elemen non logam penting yang diperlukan tubuh dalam jumlah renik secara terus-menerus. Kekurangan iodium, khususnya pada anak-anak, sangat mengganggu pertumbuhan dan tingkat kecerdasan.

Iodium di alam tidak pernah ditemukan sebagai elemen tunggal, tetapi ia tersimpan didalam senyawa, misalnya garam kalium periodat (KIO). Dalam keadaan kering, garam ini sangat stabil sehingga bisa berumur lebih dari lima puluh tahun tanpa mengalami kerusakan. Itu sebabnya mengapa garam KIO dipakai sebagai suplemen untuk program iodisasi garam (garam beriodium).

Garam beriodium mengandung 0,0025 persen berat KIO (artinya dalam 100 gram total berat garam terkandung 2,5 mg KIO). Berikut ini dipaparkan cara sederhana untuk menghitung berapa banyak KIO yang dikonsumsi seseorang. Andaikan seorang ibu rumah tangga dalam sehari memasak 1 panci sup (kapasitas dua liter) dengan menggunakan dua sendok garam beriodium (misalnya dengan berat 20 gram), dan tiap-tiap anggota keluarga pada hari tersebut melalap dua mangkok (volume total kuah 100 ml). Maka, berat total garam KIO yang dikonsumsi tiap-tiap anggota keluarga itu dalam sehari (dengan asumsi tidak makan garam melalui makanan lainnya) adalah 0,0000025 gram atau 2,5 mikrogram (dari 0,0025% x 20 gram x 100ml/200ml). Jumlah garam yang sangat kecil, namun sangat diperlukan.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah semua 2,5 mikrogram KIO tersebut masuk kedalam tubuh. Kalau tiap-tiap keluarga memiliki kebiasaan menaburkan garam

(15)

ketika hidangan telah berada di atas meja makan (tidak pada saat memasak), maka jawabannya benar.

Kenyataannya tidak demikian, karena hampir semua ibu rumah tangga selalu mencampurkan garam beriodium saat memproses makanan. Kalau hal ini dilakukan, maka kemungkinan besar iodium yang jumlahnya sangat kecil ini telah lenyap sebagai gas selama memasak.

Secara kmiawi, fenomena tersebut dijelaskan dari proses reduksi KIO. Reaksi reduksi ini sebenarnya berlangsung sangat lambat. Namun, laju reaksi bisa dipercepat jutaan kali lipat dengan bantuan senyawa antioksidan, keasaman larutan dan panas. Seperti kita ketahui bahwa semua bahan makanan organik (hewan ataupun tanaman) selalu memiliki antioksidan dan proses memasak selalu menggunakan panas serta terkadang ada asamnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan garam beriodium menjadi sia-sia.

Percobaan sederhana untuk membuktikan lenyapnya iodium adalah dengan mencampurkan garam beriodium dengan antioksidan (bisa berupa tumbuhan cabai atau bawang) dan asam cuka, yang kemudian direbus. Iodium yang lepas bisa diamati dari larutan kanji sebagai indikator. Bila berubah menjadi biru, pertanda iodium telah lepas sebagai gas.

2.10 Permasalahan/ Hambatan Garam Beriodium

1. Masih beredarnya garam tidak beriodium dipasaran

Selain dari PT. Garam terdapat lebih kurang 250 perusahaan swasta yang memproduksi garam beriodium yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total kapasitas ± 650.000 ton/tahun (3 kg/kapita), maka kebutuhan tersebut dapat dipenuhi seluruhnya, namun kenyataannya masih banyak beredar garam tidak beriodium sebagai garam konsumsi. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan garam yang tidak beriodium yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga garam beriodium sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan memberi dampak tidak optimalnya produksi garam beriodium. Selain itu pengawasan kualitas bahan baku (garam rakyat) karena lokasi yang tersebar dan sistem

(16)

perdagangan bebas seringkali menyebabkan garam rakyat digunakan sebagai garam konsumsi tanpa melalui proses pencucian dan iodisasi (Komite Nasional Garam, 1997). 2. Masih Rendahnya Kualitas Garam Beriodium

Dari hasil pengujian mutu ditingkat produksi yang dilaksanakan Kandep Perindustrian pada 250 produsen garam beriodium diseluruh Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata kandungan KIO3 yang memenuhi syarat (>30ppm) adalah 56%, sedangkan hasil uji laboratorium terhadap garam beriodium yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan di seluruh Indonesia diperoleh hasil garam beriodium yang memenuhi syarat hanya 25%. Berdasarkan survei Biro Pusat Statistik (BPS) dalam SUSENAS tahun 1995, kadar iodium dalam garam dapur di rumah tangga yang memenuhi syarat adalah 58%. Rendahnya kualitas garam beriodium antara lain disebabkan karena peralatan iodisasi yang digunakan khususnya pada produsen garam beriodium berskala kecil masih rendah, sehingga kandungan iodium didalam garam tidak stabil dan tidak homogen. Sistem penyimpanan dan kemasan yang tidak memenuhi syarat juga merupakan penyebab penurunan kandungan KIO3 (Komite Nasional Garam, 1997).

2.11 Strategi Untuk Meningkatkan Rumah Tangga dalam Penggunaan Garam Beriodium

Depkes RI, 2001, mengatakan bahwa hal-hal yang dilakukan dalam rangka meningkatkan rumah tangga mengkonsumsi garam beriodium antara lain adalah : menyediakan garam beriodium yang memenuhi Standar Nasional Industri (SNI)> 30 ppm KIO3, dilakukan pengawasan mutu garam ditingkat produsen, mengadakan pemantauan garam beriodium ditingkat distribusi dan pasar, melakukan pemantauan konsumsi garam beriodium di tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat, juga digalakkan promosi untuk meningkatkan kebutuhan konsumsi garam.

(17)

2.12 Masalah Perilaku Ibu Rumah Tangga Terhadap Penggunaan Garam Beriodium

Salah satu masalah dalam penggunaan garam beriodium adalah kurangnya pengetahuan ibu-ibu rumah tangga mengenai garam beriodium, selain itu sikap dan tindakan ibu juga belum tepat dalam hal memilih jenis dan mutu garam yang baik, masih banyak ibu-ibu rumah tangga yang lebih memilih garam murah, adanya pendapat-pendapat seperti :“ yang penting makanannya sudah terasa asin”. Dalam hal penyimpanan garam banyak ibu-ibu yang lupa menutup wadah garam setelah pemakaian garam, penempatan garam masih banyak yang menyimpan dekat perapian dengan alasan mudah dijangkau. Pada pemakaian garam banyak ibu yang tidak tahu kapan saatnya harus membubuhi garam, banyak para ibu yang tidak memperhatikan seperti membubuhi garam saat teringat saja. Hal tersebut akan membuat rusaknya atau hilangnya kandungan iodium pada garam yang akhirnya berakibat berkurangnya konsumsi garam beriodium. Selain itu banyak juga ibu-ibu rumah tangga yang belum mempunyai keterampilan dalam hal menguji garam yang mengandung iodium.

Penelitian-penelitian yang mendukung mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang GAKI dilakukan oleh Depkes RI pada tahun 1994, bekerja sama dengan UNICEF dan Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi IPB dapat digunakan untuk menyusun suatu strategi dalam penggunaan garam beriodium, temuan hasil studi tersebut adalah:

- Gangguan akibat kekurangan iodium, seperti gondok dapat dicegah dengan menggunakan garam beriodium tetapi kebiasaan masyarakat setempat dalam menggunakan garam tidak mendukung pernyataan tersebut, karena lebih banyak garam tak beriodium dikonsumsi daripada garam yang beriodium.

- Istilah setempat untuk menyebut kreti, cacat bawaan dan keguguran berbeda untuk setiap lokasi studi. Begitu juga gangguan fisik dan non fisik yang mereka utarakan sebagai akibatnya. Mereka tidak menyadari bahwa gangguan fisik dan non fisik tersebut ada hubungannya dengan faktor kekurangan odium.

(18)

- Sekolah sebagai sarana pendidikan dimana generasi penerus harapan bangsa berpacu menuju prestasi dan cita-cita yang didambakan tidak pernah diberi bekal tentang iodium, guru sebagai pendidik dan penyampai informasi belum sepenuhnya dan seefektif mungkin menyampaikan tentang garam beriodium.

Dampak tidak adekuatnya penggunaan garam beriodium dirumah tangga antara lain terjadinya pembesaran kelenjar gondok, gangguan pertumbuhan fisik dan mental. Para ibu rumah tangga diharapkan dapat berperilaku yang benar dalam hal penggunaan garam beriodium, untuk itu perlu memperhatikan upaya-upaya sebagai berikut (Depkes RI, 2001):

1. Setiap rumah tangga mengkonsumsi garam beriodium

2. Tutup kembali wadah garam beriodium dengan rapat sesudah pengambilan

3. Dalam proses memasak, gunakan garam beriodium pada tahap akhir yaitu setelah makanan sudah matang

4. Membeli dan menggunakan garam beriodium yang memenuhi syarat

5. Letakkan garam beriodium ditempat yang sejuk, jauhkan dari panas api dan hindari sinar matahari langsung

6. Gunakan sendok yang kering untuk mengambil garam

2.13 Kerangka Konsep

Pada penelitian ini melihat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam penggunaan garam beriodium di tingkat rumah tangga di Desa Bangun I Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi dengan melakukan pengamatan terhadap faktor input (umur, pendidikan, pekerjaan) rumah tangga dan beberapa faktor lain yang mempengaruhinya yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan ibu dalam penggunaan garam beriodium.

(19)

Gambar dari konsep rencana penelitian yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada kerangka konsep berikut, (Singarimbun, 1989):

Gambar 1 : Kerangka Konsep Penelitian

Karakteristik ibu: - Umur

- Pendidikan - Pekerjaan

Perilaku ibu rumah tangga dalam penggunaan garam beriodium

Figur

Tabel 2.2 Angka Kecukupan Iodium sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya  Nasional Pangan dan Gizi (2004)

Tabel 2.2

Angka Kecukupan Iodium sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) p.12
Gambar dari konsep rencana penelitian yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada kerangka  konsep berikut, (Singarimbun, 1989):

Gambar dari

konsep rencana penelitian yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada kerangka konsep berikut, (Singarimbun, 1989): p.19

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :