• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Diah Rahmawati Bab I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Diah Rahmawati Bab I"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Desa Sambeng kulon memiliki konfigurasi berupa daratan, daftar dengan ketinggian antara 30- 100 m di atas permukaan laut (dpl) sehingga tergolong daratan sedang. Suhu di Desa Sambeng Kulon masih dalam batas normal. Di Sambeng Kulon sebagian tanah nya adalah berupa lahan sawah. Iklim suatu daerah sangat berpengaruh pada daerah dan kehidupan utamanya untuk pertumbuhan tanaman dan kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Bersamaan dengan iklim makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) akan saling berinteraksi, yang dalam kurun waktu tertentu akan menentukan kondisi disuatu wilayah sehingga dengan mudah orang Jepang memasuki Desa Sambeng Kulon.

(2)

mewakafkan tanahnya sendiri yang sampai sekarang masjid masih digunakan oleh umat Islam untuk beribadah (Yusuf, 2010: 1).

Pada Waktu pemerintahan dahulu memang masih dalam masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Di mana kependudukan Jepang menguasai adanya hasil pertanian maupun peternak dari para petani. Hasil yang biasanya diambil terutama hasil-hasil pertanian, misalnya padi. Sektor pertanian merupakan fokus utama Jepang sebagai penyokong perekonomian dan selain itu sebagian besar penduduk Desa Sambeng Kulon hanya memiliki keahlian di bidang pertanian, tanah-tanah yang terbentang luas di Desa Sambeng Kulon menjadi alasan mengapa fokus utama Jepang adalah eksploitasi pertanian. Melalui berbagai bentuk propaganda dan pemaksaan Jepang mewajibkan para petani menanam komoditas yang dibutuhkan Jepang, menguasai tanah dan merampas hasil panen dengan menetapkan para pangreh praja sebagai distributor dan pengawas dalam mekanisme penyerahan hasil panen padi.

(3)

Dengan semangat para pemuda dan masyarakat Desa Sambeng melawan orang-orang Jepang, meskipun alat yang digunakan untuk perang sangat sederhana antara lain golok, batu, ketapel dan bambu runcing. Perlawanan tersebut banyak memakan korban, mereka tidak ada rasa takut untuk melawan orang-orang Jepang. Adanya kebersamaan, persatuan para pemuda dan masyarakat Indonesia akhirnya Bangsa Indonesia berhasil mengusir orang Jepang dan mempertahankan wilayah yang akan direbut oleh bangsa Jepang terutama Desa Sambeng Kulon. Dengan dibuktikannya legenda pesarean Mbah Adipati Sam dan Mbah Maribaya yang merupakan cikal bakal dan figur tokoh Sambeng Kulon yang berupaya mengamankan desanya. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia merdeka. Di Desa Sambeng kulon, tepatnya di Cikrokok juga memperingati upacara kemerdekaan yang dihadiri oleh seluruh warga yang ada disekitar Desa Sambeng (Wawancara Yusuf Sumadi Widagdo, Nislam, dan Sujatmiah, 25 Februari 2014).

(4)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut.

1. Pendudukan Jepang di Desa Sambeng Kulon (1942-1945), 2. Kehidupan Desa Sambeng Kulon pada tahun 1942-1945, 3. Pengaruh Jepang di Desa Sambeng Kulon.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan. 1. Pendudukan Jepang di Desa Sambeng Kulon (1942-1945), 2. Kehidupan Desa Sambeng kulon pada tahun 1942-1945, 3. Pengaruh Jepang di Desa Sambeng Kulon.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian ilmiah di bidang sejarah. Secara khusus penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan secara historis Sejarah Desa Sambeng Kulon, kondisi sosial, ekonomi, pendidikan dan tradisi Desa Sambeng Kulon dan bagaimana pengaruh penjajahan Jepang di Desa Sambeng Kulon.

(5)

E. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang relevan

Dalam skripsi Suwarti tahun 2004 yang berjudul Peranan Pendudukan Militer Jepang Dalam Meningkatkan Militansi Pemuda Salatiga 1942-1945

mengemukakan bahwa pemerintah Jepang memperluas jajahannya ke Indonesia dalam rangka memenuhi bahan-bahan mentah untuk keperluan industrinya. Pendudukan Jepang di Jawa bertujuan untuk memperoleh tenaga perang yang banyak dan murah, karena Salatiga merupakan tempat peristirahatan orang Eropa, maka pemerintah Jepang menduduki Salatiga. Nilai-nilai kultural dan organisasi semi militer merupakan tempat belajar dan berlatih dengan disiplin ilmu yang tinggi mampu melipatgandakan militansi pemuda pejuang bersenjata.

Perbedaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan dengan penelitian yang relevan diatas ialah pendekatan. Jika dalam penelitian Suwarti menggunakan pendekatan sosial politik, maka dalam penelitian yang berjudul Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Salatiga Masa Pendudukan Jepang 1942-1945

menggunakan pendekatan sosial ekonomi.

Penelitian yang dilakukan oleh Emy Wuryani yang berjudul Distrik Salatiga 1900-1942 (thesis). Penelitian ini mengkaji kota Salatiga padatahun

1900-1942 yang didalamnya menyangkut bagaimana kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Salatiga pada waktu itu, bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari serta kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat.

(6)

masyarakat Salatiga pada masa sebelum kedatangan Jepang sampai awal kedatangan Jepang di Salatiga pada tahun 1942.

Tulisan Priyadi yang dipublikasikan dalam surat kabar Radar Banyumas pada kolom redaktur khusus, diantaranya adalah Sejarah Islam Lokal (8 Juli), Perdikan Cahyana dan Otonom Daerah (4 Nopember), Cariosipun Redi Munggul

(18 Nopember), Jambu Karang Tokoh dan Kerajaan (2 Desember) dan Adat Desa-Desa Makam (20 Januari) kesemuanya ditulis pada tahun 1999 dan tahun

2000.

Hasselman (1887) sebagai perintis yang menulis tentang perdikan di Purbalingga dengan bukunya yang berjudul De Perdikan Dessa in het District Tjahijana (Afdeeling Poerbolinggo) Residentie Banjooemas yang diterbitkan dalam Tijdschrift voor het Binnenland Bestuur, deel, I.

Di Purbalingga terdapat buku-buku yang mengupas sejarah local misalnya Soetjipto (1986) dengan bukunya yang berjudul Pangeran Syekh Jambu Karang atau Haji Purwa dan Wali Sang; Purbalingga Ing Atiku yang berbentuk tembang

karya Achmad (1989); Mengenal Cerita Rakyat Kabupaten Purbalingga karya sukhadi (1992); Mengenal Purbalingga karaya Tri Atmo dan Sasono (1993); Sejarah Kabupaten Purbalingga karya Tim LPM UGM (1997) dalam rangka mencari hari jadi Kabupaten Purbalingga ; serta Karangmoncol dan Perkembangannya karya Supanggih (1997). Selain bersifat subjektif karya-karya

(7)

Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh Hardiningsih (2002) dalam penelitiannya yang berjudul “Sejarah Desa Panusupan” menyimpulkan bahwa Desa Panusupan dulu termasuk wilayah Perdikan Cahyana yang terbentuk menjadi desa biasa setelah turunya Undang-undang No 13 tahun 1946 dan peraturan pemerintah yaitu Menteri Dalam Negeri No 9 tahun 1954, yang berisi tentang penghapusan desa-desa perdikan.

Suharno dalam hasil penelitiannya yang berjudul Konflik Desa Kalitinggar (2001), juga Budiyanto dalam sekripsinya yang berjudul Sejarah Perdikan Makam Tengah (2001), Sobirin Sejarah Makam Jurang (2001) dan Sutaryo

(2001) dalam sekripsinya yang berjudul Sejarah Perdikan Makam Wadas. Tulisan tersebut bersumber pada data yang ada dalam masyarakat baik sumber-sumber lokal maupun data-data yang berupa piagam dan besluit yang dikeluarkan para penguasa pada saat itu. Akan tetapi tidak banyak menjelaskan tentang sejarah berdiri, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya serta hubungan Syekh Jambu Karang dengan Desa Panusupan.

F. Landasan Teori dan Pendekatan 1. Landasan Teori

(8)

Jepang ialah nama suatu negara yang terletak dikawasan Asia Timur. Nama lain negara ini yakni; Japan, Dai Nippon, atau Negara matahari Terbit (Sumarmo, 1991: 1).

Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah (Roestadi, 1956: 259).

Sejarah Desa sering dilihat sebagai sejarah yang mudah untuk ditulis. Hal itu didasarkan atas anggapan bahwa setiap desa mempunyai cerita pendirian desa, punden desa, dan bersih desa (Kuntowijoyo, 1987: 70). Namun, anggapan itu tidak terbukti, bahkan menulis sejarah desa itu merupakan pekerjaan yang tidak sepele. Sejarah desa tidak sekadar riwayat dhanyang, orang yang merintis membabad hutan, kemudian mendirikan rumah dan rumah penduduk lain sehinggan secara lambat-laun desa pun terbentuk. Sejaran desa harus mencerminkan berbagai aspek kebudayaan yang melatar belakangi terbentuknya sebuah desa.

Sejarah desa adalah sejarah dalam arti selaus-luasnya. Disini dimensi waktu menjadi sangat penting, sebab perubahan adalah sebuah proses dalam waktu. Keadaan mengandung makna aspek struktural dari sejarah, yang menunjukkan bahwa pada suatu moment tertentu terdapat sejumlah kejadian yang berhubungan secara struktural dan membentuk sebuah keadaan (Kuntowijoyo, 1994: 64).

(9)

lurah, bekel, perbekel, demang, penatus. Kedudukan itu diperoleh dari pilihan penduduk desa atau diangkat oleh raja bagi daerah-daerah yang dihadiahkan oleh raja itu sendiri karena kepentingan- kepentingan tertentu.

Menurut Ardian (1998:259), mengatakan bahwa sehubung dengan itu kepala desa berkewajiban sebagai penyelenggara dan penanggung jawab di bidang pemerintah, pembangunan, dan juga kemasyarakatan termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban serta bisa menumbuhkan jiwa gotong royong sebagai sendi pelaksanaan pemerintah desa.

Istilah “Sosial’’ pada ilmu-ilmu sosial mempunyai arti yang berbeda

misalnya istilah Sosialisme. Istilah sosial pada ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Mac Iver dan Page mengatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia (Soekanto, 1982: 20).

(10)

2. Penduduk Jepang di Indonesia

Dalam usahanya membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah meletuskan suatu perang di Pasifik. Pada tanggal 8 Desember 1941 secara tiba-tiba Jepang menyerang dan membom Pearl Harbour yakni pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat yang terbesar di Pasifik. Lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbour itu, gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Kemudian Jepang bergerak ke Selatan dan menyerang Indonesia pada tanggal 10 Januari 1942 tentaranya sudah sampai di Tarakan, Kalimantan Timur, dan komandan Belanda di pulau itu menyerahkan diri pada tanggal 20 Januari 1942, Balikpapan yang merupakan sumber minyak berhasil diduduki pula oleh Jepang. Setelah pada tanggal 10 Februari 1942 di Martapura. Dengan berhasil direbutnya lapangan terbang, maka dengan mudah pula Banjarmasin diduduki pada malam itu juga (Sartono Kartodirdjo, 1975: 1).

(11)

juga sangat baik untuk pemasaran barang-barang hasil industri Jepang. Ketika krisis ekonomi melanda dunia, Jepang berhasil menancapkan supremasi ekonominya di Indonesia (Sagimun, 1985: 16).

3. Pendudukan Jepang di Jawa

Dalam gerakannya di Indonesia, pada tanggal 14 Februari 1942 tentara Jepang menurunkan pasukan payung di Palembang. Dua hari kemudian, yakni pada tanggal 16 Februari 1942 Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Dengan jatuhnya Palembang, terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang. Menjelang perang Asia Timur Raya, Jepang mengirimkan misi dagangnya sekaligus merangkap tugas mata-mata. Di kota-kota besar Jawa Tengah didirikan toko-toko yang menjual barang-barang murah. Di daerah-daerah yang kesulitan air tawar, orang Jepang menjual pompa air sekaligus memasangnya ke daerah strategis sebagai penunjuk jalan. Hal ini memudahkan pasukan Jepang dalam operasinya ke daerah penting. Adapun kekuatan Hindia Belanda di Jawa waktu itu seluruhnya berjumlah sekitar 40.000 orang (4 Divisi), diantaranya terdapat pasukan Inggris, Amerika dan Australia. Sedangkan kekuatan invasi Jepang di Jawa adalah jauh lebih besar, yakni seluruhnya terdiri dan kira-kira 6 sampai 8 divisi dan jumlahnya meliputi 100 sampai 120 ribu orang (Sartono Kartodirdjo, 1975: 2).

(12)

Purwodadi. Di tempat ini bala tentara Jepang bergerak ke dua arah yaitu ke Surakarta dan Boyolali, dan keduanya bertemu di kota Klaten. Dari daerah ini tentara Jepang melanjutkan perjalanannya menuju Jogyakarta, Magelang, dan Semarang (DEPDIKBUD, 1980:19).

4. Kondisi sosial-ekonomi, pendidikan Indonesia masa pendudukan Jepang

Pada bulan Maret 1942 Jepang berhasil merebut Hindia Belanda sesuai dengan rencana. Setelah pemerintah Hindia Belanda memperhitungkan bahwa invasi Jepang tidak dapat ditahan lagi, maka mulailah dilaksanakan aksi bumi-hangus. Obyek-onyek vital dihancurkan, yang sebagian besar terdiri atas aparat produksi. Akibatnya pada saat pertama pendudukan Jepang hampir seluruh kehidupan ekonomi lumpuh. Kehidupan ekonomi berubah dari keadaan normal menjadi ekonomi perang (Sartono Kartodirdjo, 1975:141). Jepang mengambil alih semua bidang kegiatan dan pengawasan ekonomi. Adanya pengaturan-pengaturan, pembatasan-pembatasan dan penguasaan faktor-faktor produksi oleh pemerintah merupakan ciri dari ekonomi perang.

(13)

Menurut Kuntowijoyo (1994: 90), ekonomi kolonial di Desa dapat dianggap sebagai masuknya ekonomi berdasarkan perintah, terutama pada zaman Tanam Paksa, sehingga ekonomi Indonesia dipedesaan merupakan campuran adat yang dominan.

Bidang ekonomi kehidupan ekonomi masyarakat saat penduduk sangat menderita. Ekonomi rakyat menjadi lumpuh dan berganti menjadi ekonomi perang sejak sistem bumi hangus hindia belanda. Awalnya Jepang membenahi sarana dan prasarana umum (seperti jembatan, ,jalan, dan komunikasi) kemudian Jepang menyita seluruh kekayaan (seperti bank, pabrik, perkebunan, dll) sebagai pebekalan perang. Kebijakan ekonomi ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan perang. Misalnya menggantikan perkebunan teh, kopi, dan tembakau sebagai perkebunan penghasil pangan. Cara Jepang dalam memeras kekayaan Indonesia adalah : 1) Petani wajib menyetorkan hasil tani berupa padi dan jagung. Hal ini menyebabkan kelaparan, 2) Penebangan hutan besar-besaran sebagai bahan senjata. Hal ini menyebabkan bencana alam, 3) Perkebunan yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan perang (seperti tembakau, kopi, teh) dihilangkan. Hal ini menyebabkan kemiskinan, 4) Penyerahan hewan ternak untuk disembelih besar-besaran membuat petani menderita karena kehilangan alat pembajak (Djoened Poesponegoro, 2009: 112-113).

(14)

misalnya Sekolah Agama Islam, Sekolah Taman Siswa, dan Sekolah muhammadiyah.

Kartodirdjo menegaskan bahwa pada saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis sosial dan ekonomi yang harus mendapatkan penanganan khusus secara serius dan cepat agar dampaknya tidak menimbulkan disentegrasi bangsa yang berkepanjangan. Di antara masalah kegoncangan nilai-nilai budaya yang muncul justru berada di daerah pedesaan karena desa merupakan unit pemukiman dan pemerintahan otonomi yang terkecil dari struktur pemerintahan pusat di bawah camat sebagai kepala wilayah setempat (Sugihen,1997: 83).

Maka dari itu, desa merupakan suatu pemukiman yang sudah memilki tradisi,tatanan hidup atau adat istiadat yang sudah berakar secara turun- temurun (Sugihen, 1997: 84). Dalam masyarakat pedesaan fungsi ikatan komunal sangat efektif tinggi (Kartodirdjo,1993: 159).

5. Masyarakat

(15)

kesatuan itu dan pola tersebut sudah menjadi adat istiadat yang khas (Koentjaraningrat, 2002: 144).

Di dalam masyarakat terdapat suatu kesatuan manusia yang disebut golongan sosial, yaitu lapisan atau kelas sosial. Di dalam masyarakat kuno misalnya, ada lapisan-lapisan seperti lapisan bangsawan, lapisan orang biasa, lapisan budak, dan sebagainya. Dalam masyarakat modern, tedapat lapisan petani, lapisan buruh, lapisan pegawai, lapisan pegawai tinggi, lapisan cendekiawan lapisan usahawan dan sebagainya. Lapisan semacam itu terjadi karena manusia-manusia yang dikelaskan ke dalamnya memiliki suatu gaya hidup yang khas. Lapisan tersebut dapat dianggap lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari sudut orang yang memandang (Koentjaraningrat, 2002: 153).

G. Pendekatan

Dalam penulisan skripsi tidak hanya menggunakan satu disiplin ilmu saja. Maka untuk mengupas Sejarah Desa Sambeng Kulon peneliti menggunakan Pendekatan ilmu sosiologi dan Politik.

(16)

b) Ilmu Politik mempelajari suatu segi khusus dari kehidupan masyarakat yang menyangkut soal kekuasaan. Yang dipelajari dalam ilmu politik adalah misalnya daya upaya untuk memperoleh kekuasaan, usaha mempertahankan kekuasaan, penggunaan kekuasaan tersebut dan bagaimana menghambat penggunaan kekuasaan. Ilmu poliltik dengan istilah “politik” yang

dipergunakan sehari-hari dikalangan orang banyak mempunyai perbedaan; “Politik” diartikan sebagai pembinaan kekuasaan negara, yang bukan

merupakan suatu ilmu pengetahuan akan tetapi merupakan seni (art). Persoalan lain yang mungkin menjadi pemikiran sebagai anggota masyarakat adalah kekhawatiran kalau kekuasaan yang begitu besar akan menjurus kepada sebauah sistem politik yang monolitik, dimana melalui proses selanjutnya kekuasaan itu mungkin dimonopoli dan terpusat di tangan satu kekuatan politik seperti militer (Alfian, 1978: 57).

H. Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis pergunakan adalah metode historis. Menurut Kuntowijoyo metode historis menempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1) pemilihan topik, 2) pengumpulan sumber, 3) verifikasi sumber, 4) interpretasi ( analisis dan sintesis ), dan 5) penulisan (Priyadi, 2011: 3)

(17)

a. Wawancara

Penulis menggunakan untuk memperoleh data secara langsung dari perangkata Desa, tokoh masyarakat yang mengerti tentang Perkembangan Desa Sambeng Kulon pada tahun 1942-1945. Adapun informan yang memberi keterangan adalah 1). Bapak Yusuf Sumadi Wisma Widagdo, 2). Bapak Nislam, 3). Ibu Sujatmiah, 4). Bapak Murtaji.

b. Dokumen

Penulis menggunakannya untuk memperoleh data tentang Pendudukan Jepang di Desa Sambeng Kulon, dengan mencari dan menemukan dokumen yang berupa foto-foto yang membuktikan berdirinya Desa Sambeng Kulon dan foto-foto wawancara, data yang berisikan Sejarah Desa Sambeng, serta Peta Desa Sambeng kulon.

2. Verifikasi atau kritik berusaha menilai apakah data itu asli atau selanjutnya bisa dipercaya, ada dua hal yang dituntut yaitu koentikan melalui kritik ekstern dan kekredibilitasan kritik internal. Koentikan melihat dari melihat dari sisi luar data sedngkan kekredibilitasan mengkritisi hal-hal berkaitan dengan isi data. Koentikan ini menyangkut data yang berupa sumber tertulis, sumber sejarah lisan.

(18)

b. Kritik intern ditempuh dengan penilaian intrinsik dan membandingkan dengan data sejenis atau data lainnya (Priyadi, 2013: 120).

3. Dalam menginterpretasi fakta sejarah, sejarawan berusaha mendeskripsikan secara detail, deskripsi ini dilakukan agar fakta-fakta yang sudah diperoleh akan menampilkan jaringan antar fakta sehingga fakta-fakta tersebut saling bersinergi. Di sini, sejarawan melakukan dua aktivitas dalam deskripsi naratif dan deskrisi analisis. Dalam bentuk naratif yang dikombinasikan dengan analisis sehingga karya sejarah tidak murni dalam bentuk cerita atau narasi, tetapi narasi yang diuraikan atau dijelaskan maknanya. Setelah dianalisis, sejarawan kemudian akan mensintesis deskripsi dari hasil analisis. Sintesis berarti merangkaiakan hasil-hasil analisis fakta yang berdiri sendiri-sendiri sehingga fakta-fakta tersebut saling bertautan, saling menyulam.dan saling membentuk jaringan atau teks sejarah yang saling menguatkan (Priyadi, 2013: 121-122).

(19)

sejarah akan mengalami kebahagiaan karena ia sedang menikmati kisah sejarah (Priyadi, 2013: 122-123).

I. Sistem Penyajian

Upaya mempermudah penyusunan dan pemahaman laporan penelitian ini, maka peneliti menganggap perlu adanya sistematika penyajian. Adapun sistematika penyajiannya adalah sebagai berikut :

Bab I. Pendahuluan. Pada bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah, tinjauan masalah, tinjauan pustaka, tujuan peneliti, manfaat peneliti, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II. Perkembangan Desa Sambeng Kulon, bab ini menguraikan tentang proses berdirinya, kondisi geografis dan demografis yang meliputi sosialbudaya .

Bab III. Kondisi Sosial, Ekonomi, Pendidikan dan Tradisi Desa Sambeng Kulon. Bab ini menguraiakan kondisi Sosial, Ekonomi, Pendidika dan Budaya tahun 1942-1945 pada masa Penjajahan Jepang.

Bab IV. Pengaruh Penjajah Jepang di Desa Sambeng Kulon. Bab ini menguraikan tentang bagaimana pengaruh penjajah Jepang terhadap Desa Sambeng Kulon.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

5) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dalam rangka menunjang perbaikan regulasi pengusahaan UCG diperlukan litbang UCG di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan mengingat

Perbedaan pengaturan hak kesehatan buruh yang diselenggarakan oleh Jamsostek dan BPJS Kesehatan adalah dari segi asas dan prinsip penyelenggaraan; sifat kepesertaan; subjek

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

Pengelolaan risiko kredit dalam Bank juga dilakukan dengan melakukan proses analisa kredit atas potensi risiko yang timbul melalui proses Compliant Internal

Kedua, kebutuhan yang dipandang perlu dila- kukan sebagai solusi dari masalah-masalah di atas adalah sebagai berikut: (1) guru perlu memberi ke- sempatan siswa

3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yang dijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensi