LAPORAN TAHUNAN
PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI
MODEL PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) UNGGULAN DALAM PENINGKATAN DAYA SAING PROVINSI JAMBI (Pendekatan Kompetensi Inti Daerah)
Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun
Tim Peneliti:
Dr. JUNAIDI, SE, M.Si 0002066707 Prof.Dr. H. AMRI AMIR,SE,MS 0005055712 HARDIANI, SE, M.Si 0003016605
Dibiayai oleh DIPA Universitas Jambi Tahun 2013 Nomor:
023.04.2.415103/2013 tanggal 5 Desember 2012, sesuai dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Jambi Nomor: 242/UN21/PL/2013
Tanggal 17 Mei 2013
UNIVERSITAS JAMBI
NOVEMBER 2013
RINGKASAN
Penelitian bertujuan untuk menghasilkan model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah dalam rangka meningkatkan daya saing Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dalam dua tahun anggaran, dengan tujuan tahun pertama untuk menganalisis: 1). kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dapat dikembangkan sebagai klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi; 2) kompetensi inti daerah dalam pengembangan agroindustri UMKM; 3) berbagai karakteristik yang dibutuhkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM; 4) berbagai potensi, peluang, hambatan dan tantangan dalam pengembangan agroindustri UMKM; 5) mengidentifikasi dan memilih jenis usaha agroindustri UMKM unggulan yang dapat dapat dikembangkan dalam klaster.
Pengumpulan data meliputi data primer dan sekunder. Selanjutnya data diolah dengan alat analisis Multi Sectoral Qualitative Analysis (MSQA), teknik Heuristic, Location Quotient, dan Analytical Hierarchy Process (AHP).
Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) Terdapat lima kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dikembangkan dalam klaster yaitu:
industri tempe/tahu kedelai: industri kopra; industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya; industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu serta industri furnitur dari kayu; 2) Industri kopra memiliki bobot kompetensi tertinggi.
Terdapat lima kriteria kompetensi inti daerah yang paling kuat dalam mendukung pengembangan agroindustri di Provinsi Jambi yaitu pasar domestik, dukungan sumberdaya alam, ketersediaan tenaga kerja, dukungan permodalan, dan tingkat upah; 3) Industri furnitur dari kayu memiliki tingkat serapan paling tinggi, tetapiberdasarkan nilai LQ, peringkat konsentrasi tertinggi adalah industri kopra;
4) Industri kopra memiliki kemampuan ekspor relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok agroindustri berpotensi klaster lainnya di Provinsi Jambi; 5) Industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya memiliki keterkaitan paling kuat dengan kelompok agroindustri lainnya; 6) Perkembangan UMKM di Provinsi Jambi relatif baik, jika dilihat dari perkembangan volume produksi, pendapatan usaha/omset, harga jual produk, harga bahan baku dan keuntungan usaha, tetapi terdapat kendala utama dalam pengembangan kedepan, terkait dengan ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, pangsa pasar dan peralatan produksi; 7) Berdasarkan analisis AHP, industri kopra merupakan agroindustri UMKM paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai klaster agroindustri. Industri kopra terkait erat dengan kompetensi inti daerah, memiliki tingkat konsentrasi industri tinggi serta kemampuan ekspor yang tinggi. Namun demikian dalam konteks keterkaitan usaha, industri kopra memiliki tingkat keterkaitan yang relatif lebih rendah.
Penelitian ini menyarankan untuk penelitian lanjutan pada tahun kedua yaitu menganalisis berbagai hubungan struktural dari berbagai karakteristik dalam sistem pengembangan klaster tersebut serta perancangan kelembagaan dari klaster yang akan dibentuk.
Kata Kunci: Daya Saing, Agroindustri, Kompetensi Inti, Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Klaster
PRAKATA
Penelitian ini berjudul “Model Pengembangan Klaster Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Ungggulan dalam Peningkatan Daya Saing Provinsi Jambi (Pendekatan Kompetensi Inti Daerah). Penelitian bertujuan untuk menghasilkan model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah dalam rangka meningkatkan daya saing Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dalam dua tahun anggaran, dengan tujuan tahun pertama untuk menganalisis: 1). kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dapat dikembangkan sebagai klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi; 2) kompetensi inti daerah dalam pengembangan agroindustri UMKM; 3) berbagai karakteristik yang dibutuhkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM; 4) berbagai potensi, peluang, hambatan dan tantangan dalam pengembangan agroindustri UMKM; 5) mengidentifikasi dan memilih jenis usaha agroindustri UMKM unggulan yang dapat dapat dikembangkan dalam klaster.
Dengan selesainya penelitian ini, penulis ucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Rektor Universitas Jambi
2. Bapak Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jambi 3. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jambi
Atas segala bantuan baik moril maupun materil, sehingga terealisasinya penelitian ini.
Akhirnya, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan peneliti lainnya serta pihak-pihak yang berkepentingan umumnya.
Kritik dan saran membangun dari semua pihak selalu diterima dengan senang hati, demi kesempurnaan laporan ini.
Jambi, November 2013 Ketua Peneliti
iv DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. State of the Art ... 3
2.2. Penelitian-Penelitian Terdahulu ... 5
2.3. Kerangka Pemikiran ... 6
BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 8
3.1. Tujuan Penelitian ... 8
3.2. Manfaat Penelitian ... 8
BAB IV. METODE PENELITIAN ... 9
3.1. Data yang digunakan ... 9
3.2. Alat Analisis ... 9
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
5.1. Pengelompokkan Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah ... 16
5.2. Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang Berpotensi untuk Pengembangan Klaster ... 18
5.3. Karakteristik Agroindustri Berpotensi Klaster ... 21
5.4. Identifikasi dan Analisis Kompetensi Inti Daerah ... 24
5.5. Serapan Tenaga Kerja ... 26
5.6. Konsentrasi Industri ... 27
5.7. Kemampuan Ekspor ... 29
5.8. Keterkaitan dengan Usaha Lain ... 30
5.9. Potensi, Peluang, Hambatan dan Tantangan dalam Pengembangan Agroindustri UMKM di Provinsi Jambi ... 32
5.10. Model AHP dalam Pemilihan Kelompok Agroindustri UMKM Unggulan... 39
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 49
6.1. Kesimpulan ... 49
6.2. Saran ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 51
LAMPIRAN... 52
v DAFTAR TABEL
Judul Halaman
Tabel 5.1 Kelompok Agroindustri UMKM di Provinsi Jambi ... 16 Tabel 5.2 Kelompok Agroindustri UMKM di Provinsi Jambi Berdasarkan
Jumlah Unit Usaha ... 19 Tabel 5.3 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Skala Unit Usaha ... 21 Tabel 5.4 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja ... 22 Tabel 5.5 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Status Unit Usaha ... 23 Tabel 5.6 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Lamanya Usaha Beroperasi Secara Komersial.... 24 Tabel 5.7 Matriks Agregat Pendapat Ahli dan Bobot Kompetensi Inti
Berdasarkan Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi Jambi ... 25 Tabel 5.8 Serapan Tenaga Kerja Berdasarkan Jenis Usaha Agroindustri
UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi Jambi, Tahun 2013 ... 26 Tabel 5.9 Jumlah Tenaga Kerja Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di
Provinsi Jambi Berdasarkan Kabupaten/Kota ... 27 Tabel 5.10 Nilai LQ Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Kabupaten/Kota ... 28 Tabel 5.11 Matriks Agregat Pendapat Pakar, Indeks dan Bobot Kemampuan
Ekspor Berdasarkan Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi
Klaster di Provinsi Jambi ... 29 Tabel 5.12 Matriks Agregat Pendapat Pakar, Indeks dan Bobot Keterkaitan
Usaha Berdasarkan Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi
Klaster di Provinsi Jambi ... 31 Tabel 5.13 Karakteristik pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
di Provinsi Jambi ... 33 Tabel 5.14 Karakteristik Badan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di
Provinsi Jambi ... 34 Tabel 5.14 Karakteristik Badan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di
Provinsi Jambi ... 35 Tabel 5.16 Kondisi Eksternal Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di
Provinsi Jambi ... 38 Tabel 5.17 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Fokus ... 40
vi Tabel 5.18 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Meningkatkan Pendapatan Daerah ... 40 Tabel 5.19 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Memperluas Lapangan Kerja ... 41 Tabel 5.20 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Memperluas Pasar Domestik dan Ekspor ... 42 Tabel 5.21 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Meningkatkan Produktivitas Usaha ... 42 Tabel 5.22 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Kompetensi Inti ... 43 Tabel 5.23 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Konsentrasi Industri ... 44 Tabel 5.24 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Kemampuan Eskpor ... 45 Tabel 5.25 Matriks Perbandingan antar Elemen yang Berpengaruh pada
Elemen Keterkaitan Usaha ... 45 Tabel 5.26 Perhitungan Bobot Kriteria ... 46 Tabel 5.27 Perhitungan Bobot Alternatif ... 47
vii DAFTAR GAMBAR
Judul Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 7 Gambar 5.1 Hirarki Pemilihan Kelompok Agroindustri UMKM Unggulan ... 47
viii DAFTAR LAMPIRAN
Judul Halaman Lampiran 1. Kuesioner Penelitian ... 53 Lampiran 2. Biodata Ketua dan Anggota Peneliti ... 67
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berdasarkan pengalaman masa lalu dan antisipasi perkembangan masa depan, daerah-daerah perlu menjadikan industri berbasis pertanian (agroindustri) sebagai leading sector dalam pengembangan industri. Hal ini disebabkan pengembangan agroindustri akan mampu mengembangkan berbagai kegiatan dalam sistem agribisnis (hulu dan hilir) secara keseluruhan sehingga memberikan pengaruh besar bagi pencapaian berbagai tujuan pembangunan daerah.
Dalam kerangka pengembangan agroindustri ini, untuk Indonesia sangat penting untuk memperhatikan agroindustri dalam skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal ini disebabkan sebagian besar UMKM di Indonesia berada pada sektor ini (INDEF, 2011). Dengan kata lain, pengembangan agroindustri menjadi bagian penting untuk keberadaan UMKM di Indonesia.
Diantara berbagai alternatif pendekatan dalam pembangunan agroindustri UMKM adalah melalui melalui klaster industri. Pendekatan klaster industri diyakini merupakan pendekatan yang lebih baik karena jaringan bisnis yang terbentuk melalui klaster terbukti efektif meningkatkan daya saing usaha UMKM.
Pengembangan klaster industri di daerah membutuhkan rumusan strategi yang secara khusus mempertimbangkan kompetensi inti daerah. Kompetensi inti daerah menurut Roberts dan Stimson (1998) adalah sekumpulan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki daerah yang terkait dengan kekuatan ekonomi domestik di bidang industri dan investasi, orientasi perdagangan, pengembangan teknologi, sumberdaya alam dan manusia, manajemen, keuangan, pemerintahan dan infrastruktur yang dimiliki, yang dapat mendukung pengembangan ekonomi daerah. Oleh karenanya, pendekatan klaster industri yang mempertimbangkan kompetensi inti daerah, selain akan mampu menghasilkan klaster agroindustri UMKM dengan kinerja yang tinggi, sekaligus juga akan mampu meningkatkan daya saing perekonomian daerah tersebut secara keseluruhan.
Salah satu daerah di Indonesia dengan potensi yang besar dalam pengembangan agroindustri adalah Provinsi Jambi. Hal ini terlihat dari besarnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian daerah ini. Pada Tahun 2011
2 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Provinsi Jambi adalah sebesar 29,43 persen dan menjadi sektor penyumbang terbesar dalam PDRB. Selain itu, jenis komoditi pertanian yang berkembang juga relatif beragam baik di sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan maupun peternakan.
Meskipun potensi pertanian relatif besar dan telah mulai berkembangnya industri-industri khususnya UMKM berbasis pertanian, sampai saat ini belum terdapat klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Hal ini menyebabkan agroindustri yang berkembang tersebut kurang kompetitif baik dari sisi aspek bisinis, kualitas dan daya saing produknya serta sekaligus belum mampu mendukung pada peningkatan daya saing Provinsi Jambi.
Mengacu pada uraian di atas, maka perlu dikembangkan suatu model strategi pengembangan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Model strategi pengembangan tersebut menggunakan pendekatan kompetensi inti di daerah, sehingga diharapkan selain mampu menumbuhkan klaster agroindustri UMKM dengan kinerja yang tinggi, juga mampu meningkatkan daya saing perekonomian Provinsi Jambi secara keseluruhan.
1.2. Perumusan Masalah
Meskipun Provinsi Jambi berpotensi untuk pengembangan agroindustri serta telah mulai berkembangnya usaha-usaha agroindustri khususnya pada skala UMKM, namun usaha-usaha tersebut relatif berdaya saing rendah. Relatif rendahnya daya saing agroindustri UMKM ini disebabkan agroindustri UMKM yang ada belum saling terkait baik dari sisi jenis produk maupun lokasi usaha.
Oleh karenanya diperlukan suatu model pengembangan agroindustri UMKM yang berbasis klaster, sehingga usaha-usaha yang ada dapat saling terkait secara produk maupun lokasi, dan pada tahap selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan daya saing agroindustri UMKM. Selain itu, model pengembangan ini juga perlu memperhatikan kompentensi inti daerah sehingga pengembangan klaster agroindustri UMKM dapat berjalan secara berkelanjutan serta sekaligus mampu meningkatkan daya saing Provinsi Jambi.
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. State of the Art
Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut. Produk agroindustri dapat merupakan produk akhir siap konsumsi ataupun produk bahan baku industri lainnya (Austin, 1981). Agroindustri merupakan bagian dari industri pertanian sejak produksi bahan pertanian primer, industri pengolahan sampai penggunaannya oleh konsumen.
Dalam kerangka pengembangan agroindustri unggulan (dalam pengertian agroindustri yang diprioritaskan pengembangannya karena berpotensi menghasilkan kinerja yang baik), perlu memperhatikan kompetensi inti daerah agar pengembangan agroindustri tersebut dapat berkelanjutan serta mampu meningkatkan daya saing daerah. Prahalad dan Hamel (1990) dan Muchdie (2000) mendefinisikan kompetensi inti sebagai pembelajaran kolektif di dalam suatu organisasi, terutama mengenai bagaimana cara mengkordinasikan berbagai keahlian di bidang produksi dan mengintegrasikan berbagai perkembangan teknologi. Kanter (2001) mendefinisikan kompetensi inti sebagai distinctive skill (keahlian atau keterampilan khusus) yang dimiliki perusahaan yang membedakannya dari perusahaan yang lain, sedangkan dalam konteks daerah, Roberts dan Stimson (1998) mendefinisikan kompetensi inti sebagai sekumpulan kekuatan dan kemampuan daerah yang terkait dengan kekuatan ekonomi di bidang industri dan investasi, perdagangan, teknologi, sumber daya alam, sumber daya manusia, manajemen, pengaturan dan infrastruktur.
Selanjutnya terkait dengan agroindustri usaha mikro kecil dan menengah, dapat dikemukakan bahwa salah satu pendekatan untuk mengembangkan UMKM yang dianggap berhasil adalah melalui pendekatan klaster. Pembentukan klaster menjadi issue yang penting karena secara individual UKM seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar yang membutuhkan volume produksi yang besar, standar yang homogen dan penyerahan yang teratur. UKM seringkali mengalami kesulitan mencapai skala ekonomis dalam pembelian input dan akses jasa-jasa keuangan dan konsultasi. Ukuran kecil juga menjadi suatu hambatan untuk internalisasi beberapa
4 fungsi pendukung penting seperti pelatihan, penelitian pasar, logistik dan inovasi teknologi; demikian pula dapat menghambat pembagian kerja antar perusahaan.
Secara umum istilah klaster mengacu pada konsentrasi geografis dan sektoral dari perusahaan-perusahaan yang menimbulkan external economies dan berkembangnya jasa-jasa pelayanan khusus di bidang teknis, administratif dan keuangan (Doeringer dan Terkla, 1995; Porter, 1998a; Cooke, 2001). Porter (1998b) mengemukakan suatu klaster dapat lahir di suatu lokasi tertentu karena di lokasi tersebut terdapat bagian dari Porter’s diamond yang dapat dimanfaatkan. Enright (1999) juga menyatakan banyak klaster berawal dari kondisi faktor lokal yang spesifik, permintaan pasar lokal atau industri yang terkait.
Selain kelahiran yang secara alamiah, Bekar dan Lipsey (2001) mengemukakan bahwa klaster dapat terbentuk melalui cara-cara: (1) membangun suatu klaster yang dikaitkan dengan klaster yang sudah ada; (2) menarik suatu perusahaan ternama ke suatu daerah, dengan harapan bahwa perusahaan tersebut akan diikuti oleh perusahaan lain yang terkait dengannya; (3) mendirikan atau mengadakan suatu fasilitas tertentu sehingga daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif, seperti: research park yang dibangun oleh Pemerintah.
Dalam konteks strategi pengembangan klaster, Enright (1999) mengemukakan berbagai strategi pengembangan klaster biasanya mengandung beberapa elemen yang sama, antara lain: (1) Melakukan upaya memperbaiki lingkungan berusaha, (2) Menyediakan informasi dan data mengenai bisnis dan trend ekonomi umum maupun yang spesifik untuk klaster, (3) Menyediakan infrastruktur yang diperlukan. (4) Membantu mengembangkan jaringan bisnis dan kerjasama antar perusahaan melalui perkenalan, pertemuan, asosiasi industri dan mekanisme lainnya, (5) Menyelenggarakan pelayanan bisnis yang mencakup penelitian dasar, penelitian pasar, pengetesan bahan-bahan, konsultasi proses bisnis, konsultasi manajemen, akuntansi dan administrasi, (6) Melaksanakan community building, yaitu membina masyarakat agar memiliki tujuan yang sama dan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
Program pengembangan klaster daerah dapat berfokus pada perluasan dan pendalaman dari basis ekonomi yang dimiliki daerah, menarik investasi dari perusahaan asing atau perusahaan dari luar daerah, atau kombinasi dari kedua hal tersebut. Oleh Enright (1999), strategi yang fokus pada perluasan dan pendalaman
5 basis industri setempat disebut sebagai organic cluster strategy, yang berfokus pada penarikan investasi asing disebut sebagai transplant cluster strategy dan kombinasi keduanya disebut sebagai hybrid cluster strategy.
Organic cluster strategy mengupayakan perluasan dan pendalaman dari basis ekonomi yang dimiliki daerah tersebut dengan melakukan identifikasi atas klaster yang ada di daerah dan kemudian mencoba mendorong pembangunan melalui perbaikan aliran informasi, meningkatkan interaksi antara perusahaan - perusahaan setempat, menghilangkan hambatan atas ketersediaan infrastruktur, mengembangkan kemampuan sumber daya manusia dan mengupayakan kolaborasi antara perusahaan- perusahaan. Transplant cluster strategy berusaha membangun klaster dengan menarik perusahaan besar dari luar daerah dan kemudian mengembangkan atau menarik pemasok dan perusahaan terkait. Selanjutnya, hybrid cluster strategy apabila pengembangan organic cluster juga secara aktif melakukan usaha penarikan modal asing ke daerah itu, atau apabila transplant strategy juga berhasil menciptakan critical mass dari perusahaan yang berasal dari daerah tersebut.
2.2 Penelitian-Penelitian Terdahulu
Lestari (2008) dalam kajiannya mengenai klaster bisnis UKM berbasis agribisnis menemukan bahwa faktor penumbuh sentra ke klaster agribisnis dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu (1) faktor penyedia daya penggerak, (2) faktor transmisi, (3) faktor pendukung/penumpu, dan (4) faktor perekat antar anggota klaster. Daya penggerak adalah kecukupan jumlah, waktu dan durasi dukungan keuangan dan non keuangan yang diberikan kepada sentra. Faktor transmisi dibentuk oleh kompetensi daerah dan masyarakat, kualitas SDM pelaksana dukungan, kejelasan dan kelengkapan peraturan pelaksanaan, kejelasan visi dan kesiapan aparat pemerintah daerah, serta koordinasi dan komunikasi yang efektif antar pelaku. Faktor titik tumpu ini adalah kemauan/etos kerja yang kuat, pola piker wirausaha, kemauan berinvestasi, kemampuan berinovasi, keunikan produk, ketersediaan pasar, dukungan keberadaan sarana dan prasarana industri dan keuangan di daerah, konsistensi dan keberlanjutan kebijakan, serta penegakan aturan, sedangkan faktor perekat/Modal sosial dibentuk oleh faktor perilaku: kemauan dan kebiasaan untuk bekerjasama, berkelompok. Sulaeman (2006) dalam penelitiannya mengenai pengembangan agribisnis komoditi rumput laut melalui model klaster
6 bisnis di Sulawesi Selatan menemukan bahwa kunci sukses agribisnis rumput laut adalah apabila (1) dilakukan dengan model pengembangan kluster bisnis yang utuh, dimana UKM dan koperasi ada dan sekaligus berperan di dalamnya (2) dibantu secara serius oleh pemerintah, terutama yang menyangkut izin penggunaan pantai dan akses ke sumber permodalan.
Hartmann (2002) melakukan penelitian mengenai klaster industri dan strategi pengembangannya diberbagai daerah di negara-negara di Eropa. Salah satunya adalah penelitian di wilayah Styria yang merupakan salah satu pusat industri di Austria. Di dalam perekonomian Styria terdapat 5 klaster industri yang sangat berperan, salah satunya adalah klaster agroindustri kayu dan kertas.
Klaster industri kayu dan kertas di Styria berawal pada tahun 1994, ketika suatu penelitian yang dilakukan didaerah itu mengidentifikasi suatu klaster kayu dan kertas yang memiliki potensi untuh bertumbuh yang terdiri dari industri pengolahan kayu dan industri pembuatan kertas. Pemerintah Daerah Styria memutuskan untuk memfokuskan kebijakannya pada industri pengolahan kayu, karena industri ini telah memiliki asosiasi bisnis yang kuat yang dapat digunakan sebagai landasan untuk melakukan manajemen bagi klaster tersebut.
2.3. Kerangka Pemikiran
Pendekatan klaster sebagai strategi pengembangan industri khususnya agroindustri UMKM merupakan pendekatan yang diyakini lebih baik karena terbukti secara efektif mampu meningkatkan daya saing UMKM. Di sisi lain, karena keanekaragaman potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah relatif beragam, maka diperlukan strategi pengembangan klaster agroindustri dengan memperhatikan potensi agroindustri dan kompetensi inti yang dimiliki daerah untuk mendukung agroindustri.
Klaster agroindustri ini diharapkan dapat mengolah sumber daya alam menjadi produk agroindustri bernilai tambah tinggi yang dapat dijual di pasar dalam negeri dan luar negeri sehingga dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi setempat. Strategi pengembangan tersebut harus berlandaskan perhitungan-perhitungan yang realistis dengan memperhatikan kompetensi inti daerah dan potensi kelompok agroindustri yang ada, serta kapasitas dan kemampuan wilayah mengimplementasikan rencana, kebijakan, dan program.
7 Pendekatan klaster industri diharapkan akan memberikan tambahan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, peningkatan produktivitas, peningkatan ekspor, tumbuhnya usaha-usaha baru dan berkembangnya inovasi yang akan membantu terwujudnya masyarakat yang dicita-citakan yaitu masyarakat berdaya saing, sejahtera dan maju.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Potensi dan sumberdaya pertanian yang besar
Potensi Agroindustri daerah
Pengembangan Agroindustri UMKM unggulan dengan pendekatan
kompetensi inti daerah
- Bertambahnya lapangan kerja - Peningkatan pendapatan daerah - Peningkatan produktivitas - Tumbuhnya usaha-usaha baru Keanekaragaman potensi
dan sumberdaya
Keberadaan Agroindustri UMKM
Kompetensi Inti Daerah Pendekatan Klaster untuk
peningkatan daya saing
Meningkatnya daya saing daerah
Meningkatnya daya saing daerah
8 BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah dalam rangka meningkatkan daya saing Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dalam dua tahap (dua tahun anggaran). Secara spesifik tujuan untuk tahun pertama sebagai berikut:
1. Menganalisis kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dapat dikembangkan sebagai klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi
2. Menganalisis kompetensi inti daerah dalam pengembangan agroindustri UMKM di Provinsi Jambi
3. Menganalisis berbagai karakteristik yang dibutuhkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi
4. Menganalisis berbagai potensi, peluang, hambatan dan tantangan dalam pengembangan agroindustri UMKM di Provinsi Jambi
5. Mengidentifikasi dan memilih jenis usaha agroindustri UMKM unggulan yang dapat dapat dikembangkan dalam klaster dari beberapa jenis usaha agroindustri yang berpotensi klaster
3.2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Bagi praktisi: model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan ini diharapkan dapat dijadikan model untuk menumbuhkan klaster-klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi yang berdaya saing tinggi sehingga sekaligus dapat meningkatkan daya saing daerah
2. Bagi akademisi: sebagai bahan referensi terutama yang terkait dengan pengembangan klaster agroindustri UMKM.
9 BAB IV
METODE PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama dua tahun. Metode dan tahapan penelitian untuk tahun pertama diberikan sebagai berikut:
3.1. Data yang digunakan
Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan pada responden pakar dan stakeholder yang terkait dengan agroindustri serta pelaku usaha agroindustri. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan wawancara terstruktur. Data sekunder bersumber dari instansi/lembaga terkait di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kecamatan.
3.2. Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam rangka menjawab permasalahan dan tujuan penelitian pada tahun pertama adalah sebagai berikut:
a. Analisis Agroindustri yang Berpotensi untuk Pengembangan Klaster
Untuk mengidentifikasi dan menganalisis agroindustri UMKM yang berpotensi untuk pengembangan klaster dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi usaha-usaha yang ada di Provinsi Jambi yang tergolong dalam kelompok agroindustri berskala UMKM. Skala UMKM didasarkan pada jumlah tenaga kerja pada usaha tersebut.
Pengelompokan usaha dengan menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Tahun 2009 dengan level 5 digit.
2. Memberikan peringkat kelompok agroindustri berdasarkan jumlah unit usahanya.
3. Sepuluh kelompok agroindustri dengan jumlah unit usaha terbanyak didiskusikan dengan pakar untuk mendapatkan saran dan pertimbangan pemilihan kelompok agroindustri yang berpotensi klaster.
b. Identifikasi dan Analisis Karakteristik Kompetensi Inti Daerah
Untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik kompetensi inti daerah digunakan teknik Multi Sectoral Qualitative Analysis (MSQA). Dengan metode MSQA ini, dilakukan pengamatan atas hubungan antara variabel ekonomi yang
10 dipilih (kriteria) pada berbagai kegiatan sektor industri yang ditetapkan. Hubungan ini dinyatakan dengan skor numerik dalam suatu matriks.
Untuk penggunaan metode MSQA ini, digunakan 16 kriteria kompetensi inti sebagai berikut:
No Kriteria Kompetensi Inti 1 Peraturan di bidang investasi 2 Peraturan di bidang perdagangan 3 Fasilitas penunjang usaha
4 Kegiatan investasi
5 Ketersediaan tenaga kerja 6 Ketersediaan tenaga ahli
7 Fasilitas pendidikan dan pelatihan 8 Fasilitas penelitian dan pengembangan 9 Keberadaan jaringan asosiasi bisnis 10 Ketersediaan infrastruktur fisik 11 Dukungan permodalan
12 Tingkat Upah 13 Pasar domestik
14 Daya tarik bagi investor asing
15 Dukungan sumber daya alam setempat
16 Jarak ke pasar utama ekspor (dalam/luar negeri)
Penilaian terhadap kriteria kompetensi untuk setiap kegiatan sektor industri dikumpulkan melalui penilaian para narasumber yang merupakan para ahli dan selama ini berkecimpung dalam kegiatan sektor industri yang berkaitan, baik dari pelaku dunia usaha maupun dari pemerintah.
Setiap kriteria kompetensi inti untuk masing-masing kelompok agroindustri UMKM akan diberi peringkat (rank) dan akan diukur secara ordinal dalam 3 skor sebagai berikut :
Kuat (K) = 5 Sedang (S) = 3 Lemah (L) = 1
Analisis akan menghasilkan dua macam indeks yaitu Indeks kompetensi inti daerah untuk setiap sektor industri dan Indeks kriteria kompetensi inti daerah. Indeks kompetensi inti daerah untuk sektor industri memperlihatkan secara relatif kekuatan atau kelemahan suatu sektor industri tertentu terhadap sektor industri lainnya di daerah yang dikaji, sedang indeks kriteria kompetensi inti daerah menggambarkan kekuatan kompetensi inti dalam mendukung pengembangan agroindustri daerah.
11 Tahapan penentuan indek kompetensi inti daerah untuk setiap agroindustri sebagai berikut:
1. Pengisian matriks pendapat untuk pakar i, agroindustri j, kriteria kompetensi inti k (Vijk)
2. Menghitung rata-rata geometrik kolom (Ajk) untuk memperoleh pendapat agregat
m m
i ijk
jk V
A
1
3. Menentukan indeks kompetensi inti agroindusti (KIj)
p S
A KIj
p
k jk
*
1
Dimana s = skala tertinggi dan p = jumlah kriteria kompetensi 4. Menentukan bobot kompetensi inti agroindustri (WKIj)
Selanjutnya, tahapan penentuan indeks kriteria kompetensi inti daerah sebagai berikut:
1. Pengisian matriks pendapat untuk pakar i, agroindustri j, kriteria kompetensi inti k (Vijk)
2. Menghitung rata-rata geometrik baris (Akj) untuk memperoleh pendapat agregat
m m
i ikj
kj V
A
1
3. Menentukan indeks kriteria kompetensi inti daerah (KIk)
p S
A KIk
p
k kj
*
1
Dimana s = skala tertinggi dan p = jumlah kelompok agroindustri 4. Menentukan bobot kompetensi inti agroindustri (wKIk)
m
i n
j p
k jk p
k jk
j
Vi A wKI
1 1 1
1
m
i n
j p
k jk p
k jk
Vi A wKIk
1 1 1
1
12 c. Analisis Karakteristik yang Dibutuhkan dalam Pengembangan Klaster
Agroindustri UMKM
Karakteristik yang dibutuhkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM dianalisis berdasarkan serapan tenaga kerja, konsentrasi industri, kemampuan ekspor, dan keterkaitan dengan agroindustri lainnya.
c.1. Identifikasi dan Analisis Serapan Tenaga Kerja
Peringkat serapan tenaga dihitung dari proporsi tenaga kerja agroindustri terhadap jumlah tenaga kerja total
c.2. Konsentrasi Industri
Konsentrasi industri dihitung dengan menggunakan analisis Location Quotient (LQ) dengan rumus sebagai berikut:
i i
i PN
LQ PK
PKi = proporsi tenaga kerja agroindustri sektor i di kabupaten terhadap total tenaga kerja kabupaten
PNi = proporsi tenaga kerja agroindustri sektor I di provinsi terhadap total tenaga kerja provinsi
Selanjutnya peringkat konsentrasi agroindustri ditentukan berdasarkan nilai tertinggi dari LQ dari masing-masing kabupaten.
c.3. Kemampuan Ekspor
Penilaian kemampuan ekspor untuk setiap kelompok agroindustri dilakukan dengan teknik heuristic melalui pengumpulan pendapat ahli. Pasar ekspor dibagi atas; (1) di wilayah Sumatera; (2) di luar wilayah Sumatera; (3) di luar negeri. Pasar ekspor masing-masing kelompok agroindustri UMKM dinilai oleh 3 (tiga) orang ahli dengan memberikan skor untuk masing-masing negara atau wilayah sebagai berikut:
Baik (skor=5), Sedang (skor=3), dan Kurang (skor=1).
Analisis akan menghasilkan dua macam indeks yaitu indeks kemampuan ekspor setiap sektor industri dan indeks kriteria pasar ekspor. Indeks kemampuan ekspor untuk sektor industri memperlihatkan secara relatif kemampuan ekspor suatu sektor industri tertentu terhadap sektor industri lainnya di daerah yang dikaji, sedangkan indeks kriteria pasar ekpor menggambarkan kekuatan pasar ekspor dalam mendukung pengembangan agroindustri di daerah tersebut.
13 Tahapan penentuan indek kemampuan ekspor untuk setiap agroindustri sebagai berikut:
1. Pengisian matriks pendapat untuk pakar i, agroindustri j, kriteria pasar ekspor k (Vijk)
2. Menghitung rata-rata geometrik kolom (Ajk) untuk memperoleh pendapat agregat
m m
i ijk
jk V
A
1
3. Menentukan indeks kemampuan ekspor agroindusti (KEj)
p S
A KEj
p
k jk
*
1
Dimana s = skala tertinggi dan p = jumlah kriteria pasar ekspor 4. Menentukan bobot kemampuan ekspor agroindustri (wKEj)
Selanjutnya, tahapan penentuan indeks kriteria pasar ekspor sebagai berikut:
1. Pengisian matriks pendapat untuk pakar i, agroindustri j, kriteria pasar ekspor k (Vijk)
2. Menghitung rata-rata geometrik baris (Akj) untuk memperoleh pendapat agregat
m m
i ikj
kj V
A
1
3. Menentukan indeks kriteria pasar ekspor (KEj)
p S
A KE
p
k kj
k *
1
Dimana s = skala tertinggi dan p = jumlah kriteria pasar ekspor 4. Menentukan bobot kemampuan ekspor agroindustri (wKEk)
m
i n
j p
k jk p
k jk
j
Vi A wKE
1 1 1
1
m
i n
j p
k jk p
k jk
k
Vi A wKE
1 1 1
1
14 c.4. Keterkaitan dengan Agroindustri Lain
Analisis keterkaitan dengan agroindustri lain untuk setiap kelompok agroindustri dilakukan dengan teknik heuristic melalui pengumpulan pendapat ahli.
Keterkaitan agroindustri dengan agroindustri lain dinilai atas seluruh kelompok agroindusri yang berkembang di Provinsi Jambi. Keterkaitan ini dinilai oleh 3 (tiga) orang ahli dengan memberikan skor untuk masing-masing negara atau wilayah sebagai berikut: Kuat (skor=5), Sedang (skor=3), dan Lemah (skor=1). Selanjutya dilakukan perhitungan indeks keterkaitan dengan usaha lain dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pengisian matriks pendapat untuk pakar i, agroindustri j, kriteria usaha k (Vijk) 2. Menghitung rata-rata geometrik kolom (Ajk) untuk memperoleh pendapat agregat
m m
i ijk
jk V
A
1
3. Menentukan indeks keterkaitan usaha (KUj)
p S
A KUj
p
k jk
*
1
Dimana s = skala tertinggi dan p = jumlah kelompok usaha 4. Menentukan bobot keterkaitan usaha agroindustri (wKUj)
d. Analisis Potensi, Peluang, Hambatan dan Tantangan Pengembangan Klaster Agroindustri
Analisis potensi, peluang, hambatan dan tantangan pengembangan klaster agroindustri dianalisis secara deskriptif berdasarkan survai dan observasi langsung pada usaha-usaha agroindustri yang berpotensi klaster di Provinsi Jambi.
e. Identifikasi dan Pemilihan Agroindustri Unggulan
Dari berbagai kelompok agroindustri dari analisis sebelumnya, selanjutnya diidentifikasi dan dipilih agroindustri unggulan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Pada analisa ini ditetapkan 4 tingkatan hierarki yaitu tingkat 1: Fokus, yaitu memilih Kelompok Agroindustri yang berpotensi sebagai klaster, tingkat 2 yaitu tujuan (elemen-elemen yang dibutuhkan untuk
m
i n
j p
k jk p
k jk
j
Vi A wKU
1 1 1
1
15 mencapai fokus), tingkat 3 yaitu kriteria (elemen-elemen yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan) dan tingkat 4 yaitu alternatif (kelompok agroindustri yang berpotensi klaster).
Elemen-elemen pada tingkat 2 dan tingkat 3, diperoleh dari kajian literatur, sedangkan alternatif pada tingkat 4, yaitu kelompok agroindustri yang berpotensi klaster ditetapkan berdasarkan hasil analisis-analisis sebelumnya.
.
16 BAB V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Pengelompokkan Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Dalam penelitian ini, agroindustri diartikan sebagaimana yang didefinisikan oleh Austin dalam Brown (1994) yaitu: “Perusahaan yang memproses bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan, dalam proses mana terjadi transformasi dan preservasi melalui perubahan fisika atau kimia, penyimpanan, pengepakan dan distribusi”. Selanjutnya yang dimaksud dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mengacu pada kriteria yang digunakan BPS yang menggolongkan usaha berdasarkan jumlah tenaga kerjanya. Usaha mikro adalah usaha dengan usaha yang memiliki pekerja 1-4 orang. Usaha kecil adalah usaha yang memiliki pekerja 5-19 orang dan usaha menengah memiliki pekerja 20-99 orang.
Dalam konteks mengelompokkan jenis-jenis usaha agroindustri ini maka digunakan pengelompokkan KBLI 2009 (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Industri) yang disusun oleh BPS. Berdasarkan hal tersebut kelompok agroindustri UMKM yang ada di Provinsi Jambi diberikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 5.1 Kelompok Agroindustri UMKM di Provinsi Jambi KBLI
3 Digit Kelompok Industri KBLI
5 Digit Kelompok Industri 101
Industri pengolahan
& pengawetan daging
10130 Pengolahan dan pengawetan produk daging dan daging unggas
102
Industri pengolahan dan pengawetan ikan dan biota air
10211 Penggaraman/pengeringan ikan 10212 Pengasapan/pemanggangan ikan
10216 Industri berbasis daging lumatan dan surimi 10219 Pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan 10291 Penggaraman/pengeringan biota air lain
10293 Pembekuan biota air lain
10295 Peragian/fermentasi biota air lain
103
Industri pengolahan dan pengawetan buah dan sayuran
10312 Pelumatan buah-buahan dan sayuran 10313 Pengeringan buah-buahan dan sayuran 10391 Industri Tempe/Tahu Kedelai
10399 Pengolahan & pengawetan lainnya buah & sayur
104
Industri minyak makan dan lemak nabati dan hewan
10421 Industri kopra
10422 Industri minyak makan kelapa 10424 Tepung dan pelet kelapa
10431 Industri minyak makan kelapa sawit (CPO)
17 Sambungan Tabel 5.1
KBLI
3 Digit Kelompok Industri KBLI
5 Digit Kelompok Industri 105
Industri pengolahan susu, produk dari susu dan es krim
10531 Pengolahan es krim
106
Industri
penggilingan padi- padian, tepung dan pati
10612 Pengupasan, pembersihan dan sortasi kopi 10618 Industri berbagai macam tepung dari padi-
padian, biji-bijian, kacang-kacangan, umbi- umbian dan sejenisnya
10631 Penggilingan padi dan penyosohan beras 10633 Industri tepung beras dan tepung jagung
107 Industri makanan lainnya
10710 Industri produk roti dan kue 10722 Industri gula merah
10723 Industri sirup
10740 Industri makaroni, mie dan produk sejenisnya 10761 Industri pengolahan kopi dan teh
10771 Industri kecap
10773 Industri produk masak dari kelapa 10792 Industri kue basah
10793 Industri makanan dari kedele dan kacang- kacangan lainnya
10794 Industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya 10799 Industri produk makanan lainnya
110 Industri minuman 11020 Industri minuman anggur 120 Industri pengolahan
tembakau
12019 Industri rokok dan cerutu lainnya
12091 Industri pengeringan dan pengolahan tembakau
161
Industri penggerga- jian dan pengawetan kayu, rotan, bambu dan sejenisnya
16101 Industri penggergajian kayu
162
Industri barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya
16221 Industri barang bangunan dari kayu 16230 Industri wadah dari kayu
16291 Industri barang anyaman dari rotan dan bambu 16292 Industri anyaman dari bukan rotan dan bambu 16293 Industri kerajinan ukiran kayu bukan mebeler 202 Industri barang
kimia lainnya
20299 Industri barang kimia lainnya
210
Industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional
21021 Industri bahan obat tradisional
310 Industri furnitur
31001 Industri furnitur dari kayu
31002 Industri furnitur dari rotan dan bambu 31009 Industri furnitur lainnya
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
18 Jika dilihat berdasarkan KBLI 2009 untuk 5 digit, terdapat 46 kelompok agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Selanjutnya, berdasarkan kelompok KBLI 2009 untuk level 3 digit, satu diantaranya termasuk kelompok industri pengolahan dan pengawetan daging, tujuh diantaranya termasuk kelompok industri pengolahan dan pengawetan ikan dan biota air, empat diantaranya termasuk kelompok industri pengolahan dan pengawetan buah dan sayuran, empat berikutnya termasuk kelompok industri minyak makan dan lemak nabati dan hewan, satu diantaranya termasuk kelompok industri pengolahan susu, produk dari susu dan es krim, empat diantaranya termasuk kelompok industri penggilingan padi-padian, tepung dan pati;
sebelas diantaranya termasuk kelompok industri makanan lainnya; satu diantaranya termasuk kelompok industri minuman; dua diantaranya termasuk kelompok industri pengolahan tembakau; satu diantaranya termasuk kelompok industri penggergajian dan pengawetan kayu, rotan, bambu dan sejenisnya; lima diantaranya termasuk kelompok industri barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya; satu diantaranya termasuk kelompok industri barang kimia lainnya; satu diantaranya termasuk kelompok industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional dan selanjutnya tiga diantaranya termasuk kelompok industri furnitur.
5.2. Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang Berpotensi untuk Pengembangan Klaster
Pada bagian sebelumnya menunjukkan bahwa relatif banyaknya jenis-jenis agroindustri UMKM yang berkembang di Provinsi Jambi. Oleh karenanya dalam rangka kepentingan pemilihan kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dibentuk sebagai klaster, dilakukan pemilihan awal kelompok agroindustri UMKM berdasarkan banyak unit usaha yang berkembang. Secara terperinci, kelompok agroindustri UMKM yang terurut berdasarkan banyaknya unit usaha di Provinsi Jambi diberikan pada tabel berikut:
19 Tabel 5.2 Kelompok Agroindustri UMKM di Provinsi Jambi Berdasarkan
Jumlah Unit Usaha
Peringkat Kelompok Agroindustri Frek %
1 Industri furnitur dari kayu 1859 17.98
2 Penggilingan padi dan penyosohan beras 1358 13.14 3 Industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya 1262 12.21 4
Industri barang anyaman dari bukan rotan dan
bambu 1093 10.57
5 Industri barang bangunan dari kayu 838 8.11
6 Industri Tempe/Tahu Kedelai 796 7.70
7 Industri barang anyaman dari rotan dan bambu 591 5.72
8 Industri barang kimia lainnya 451 4.36
9 Industri penggergajian kayu 388 3.75
10 Industri kopra 351 3.40
11 Industri gula merah 340 3.29
12 Industri produk roti dan kue 145 1.40
13 Pengupasan, pembersihan dan sortasi kopi 107 1.04 14 Industri kerajinan ukiran kayu bukan mebeler 107 1.04
15 Industri kue basah 92 0.89
16
Industri makanan dari kedele dan kacang-kacangan
lainnya 61 0.59
17 Industri pengolahan kopi dan teh 58 0.56
18 Penggaraman/pengeringan ikan 53 0.51
19 Industri berbasis daging lumatan dan surimi 47 0.45
20 Pelumatan buah-buahan dan sayuran 47 0.45
21 Industri sirup 43 0.42
22 Industri bahan obat tradisional 36 0.35
23 Pengolahan es krim 28 0.27
24
Industri berbagai macam tepung dari padi-padian, biji-bijian, kacang-kacangan, umbi-umbian dan
sejenisnya 26 0.25
25 Industri wadah dari kayu 25 0.24
26 Peragian/fermentasi biota air lain 15 0.15
27 Industri produk makanan lainnya 13 0.13
28 Industri makaroni, mie dan produk sejenisnya 12 0.12
29 Industri minyak makan kelapa 10 0.10
30 Industri minyak makan kelapa sawit (CPO) 10 0.10
31 Industri tepung beras dan tepung jagung 9 0.09
32
Pengolahan dan pengawetan produk daging dan
daging unggas 7 0.07
33 Pengeringan buah-buahan dan sayuran 7 0.07
34 Penggaraman/pengeringan biota air lain 6 0.06
35 Tepung dan pelet kelapa 6 0.06
36 Industri minuman anggur 6 0.06
37 Industri furnitur lainnya 6 0.06
20 Sambungan Tabel 5.2
Peringkat Kelompok Agroindustri Frek %
38 Industri produk masak dari kelapa 5 0.05
39 Industri furnitur dari rotan dan bambu 5 0.05
40 Pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan 4 0.04 41 Industri pengeringan dan pengolahan tembakau 4 0.04
42 Pengasapan/pemanggangan ikan 3 0.03
43
Pengolahan dan pengawetan lainnya buah dan
sayuran 3 0.03
44 Industri kecap 2 0.02
45 Pembekuan biota air lain 1 0.01
46 Industri rokok dan cerutu lainnya 1 0.01
Total 10337 100
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
Dari 46 kelompok agroindustri UMKM (5 digit KBLI 2009) di Provinsi Jambi, ditetapkan sepuluh kelompok agroindustri UMKM dengan jumlah unit usaha terbanyak yaitu (1) industri furniture dari kayu; (2) penggilingan padi dan penyosohan beras; (3) industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya; (4) industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu; (5) industri barang bangunan dari kayu (6) industri tempe/tahu kedelai; (7) industri barang anyaman dari rotan dan bambu; (8) industri barang kimia lainnya; (9) industri penggergajian kayu; dan (10) industri kopra.
Selanjutnya, dari sepuluh kelompok tersebut, dilakukan diskusi dan pertimbangan dari pakar terkait dengan potensi kelompok agroindustri UMKM tersebut untuk dijadikan klaster. Pertimbangan terutama dikaitkan dengan antara lain prospek pengembangan usaha ke depan, ketersediaan bahan baku, ketenagakerjaan dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut, terpilih lima kelompok agroindustri UMKM yang dipandang mampu dikembangkan dalam klaster agroindustri yaitu: (1) industri furniture dari kayu; (2) industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya; (3) industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu;
(4) industri tempe/tahu serta (5) industri kopra.
Oleh karenanya, pada tahap analisis selanjutnya, kelompok agroindustri ini dijadikan sebagai kelompok agroindustri yang berpotensi dikembangkan sebagai klaster.
21 5.3. Karakteristik Agroindustri Berpotensi Klaster
Karakteristik kelompok agroindustri yang berpotensi klaster yang terpilih pada bagian sebelumnya dilihat berdasarkan skala usaha, rata-rata jumlah tenaga kerja, status badan usaha dan lamanya usaha beroperasi secara komersial.
Berdasarkan skala usaha dapat dikemukakan bahwa dari total unit usaha agorindustri UMKM berpotensi klaster, 92,17 persen adalah usaha-usaha yang terkategori berskala mikro (tenaga kerja kurang dari 5 orang), dan hanya 7,70 persen unit usaha dengan skala usaha kecil (tenaga kerja antara 5 – 19 orang) dan 0,13 persen berskala menengah (tenaga kerja 20 – 99 orang). Kondisi ini terlihat sama untuk berbagai jenis kelompok agroindustri UMKM berpotensi klaster yang ada.
Tabel 5.3 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi Jambi Berdasarkan Skala Unit Usaha
Kelompok Industri Skala Usaha
Total Mikro Kecil Menengah
Industri Tempe/Tahu Kedelai 751 45 0 796
(94.35) (5.65) (0.00) (100.00)
Industri kopra 317 34 0 351
(90.31) (9.69) (0.00) (100.00) Industri kerupuk, keripik, peyek & sejenisnya 1144 117 1 1262 (90.65) (9.27) (0.08) (100.00) Industri barang anyaman dari bukan rotan &
bambu
1068 25 0 1093
(97.71) (2.29) (0.00) (100.00)
Industri furniture dari kayu 1661 192 6 1859
(89.35) (10.33) (0.32) (100.00)
Total 4941 413 7 5361
(92.17) (7.70) (0.13) (100.00) Keterangan: Angka dalam tanda kurung adalah persentase baris
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
Selanjutnya jika dilihat dari rata-rata jumlah tenaga kerja per unit usaha menunjukkan bahwa secara rata-rata unit usaha agroindustri UMKM berpotensi klaster di Provinsi Jambi adalah 2,27 orang per unit usaha. Industri furnitur dari kayu memiliki rata-rata jumlah tenaga kerja yang lebih banyak dibandingkan yang lainnya yaitu 2,53 orang sedangkan yang paling sedikit adalah unit usaha industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu yaitu sebanyak 1,66 orang.
22 Dari sisi jenis kelamin, secara umum kesempatan kerja yang tercipta pada usaha-usaha agroindustri UMKM berpotensi klaster ini lebih banyak ditempati oleh pekerja laki-laki. Dari total tenaga kerja sebanyak 12.171 orang, 60,64 persen atau 7.380 orang ditempati oleh pekerja laki-laki dan 39,36 persen (4.791 orang) ditempati oleh pekerja perempuan.
Mesekipun demikian, jika dirinci lebih jauh terdapat perbedaan antar jenis usaha agroindustri. Pada kelompok usaha industri furnitur dari kayu, dan industri kopra lebih didominasi tenaga kerja laki-laki, sedangkan untuk jenis usaha industri tempe/tahu kedelai, industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya, serta industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu lebih didominasi oleh pekerja perempuan. Kondisi ini terjadi karena karakteristik pekerjaan yang berbeda antara jenis-jenis usaha agroindustri tersebut.
Tabel 5.4 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi Jambi Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
Kelompok Industri Unit
Usaha
Tenaga Kerja Laki-
Laki
Perem-
puan Total
Rata- rata TK
Industri Tempe/Tahu Kedelai 796 899 928 1827 2.30
Industri kopra 351 645 207 852 2.43
Industri kerupuk, keripik, peyek dan
sejenisnya 1262 991 1995 2986 2.37
Industri barang anyaman dari bukan rotan
dan bambu 1093 509 1301 1810 1.66
Industri furnitur dari kayu 1859 4336 360 4696 2.53
Total 5361 7380 4791 12171 2.27
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
Berdasarkan status usaha, sebagaimana karakteristik dari UMKM, umumnya adalah usaha-usaha yang tidak berbadan hukum/usaha. Dari total unit usaha yang ada, hanya 4,81 persen yang memiliki badan hukum/usaha atau yang memiliki ijin khusus dari instansi terkait. Sebagian besar lainnya (95,19 persen) adalah usaha- usaha yang tidak berbadan hukum/usaha.
23 Tabel 5.5 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi
Jambi Berdasarkan Status Unit Usaha
Kelompok Industri PT/NV CV Firma Kope- rasi
Ya- yasan
Ijin khusus instansi terkait
Tidak berbadan hukum/
usaha
Total
Industri Tempe/Tahu
0 0 0 0 0 31 765 796
(0.00) (0.00) (0.00) (0.00) (0.00) (3.89) (96.11) (100.00)
Industri kopra 0 0 0 0 0 19 332 351
(0.00) (0.00) (0.00) (0.00) (0.00) (5.41) (94.59) (100.00) Industri kerupuk,
keripik, peyek dan sejenisnya
0 1 1 0 0 57 1203 1262
(0.00) (0.08) (0.08) (0.00) (0.00) (4.52) (95.32) (100.00) Industri barang
anyaman dari bukan rotan dan bambu
1 0 0 0 0 2 1090 1093
(0.09) (0.00) (0.00) (0.00) (0.00) (0.18) (99.73) (100.00) Industri furnitur dari
kayu
2 13 1 1 1 128 1713 1859
(0.11) (0.70) (0.05) (0.05) (0.05) (6.89) (92.15) (100.00)
Total 3 14 2 1 1 237 5103 5361
(0.06) (0.26) (0.04) (0.02) (0.02) (4.42) (95.19) (100.00)
Keterangan: Angka dalam tanda kurung adalah persentase baris
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
Meskipun usaha-usaha agroindustri UMKM berpotensi klaster di Provinsi Jambi umumnya adalah usaha yang tidak berbadan hukum/usaha, tetapi usaha- usaha yang ada sudah beroperasi dalam jangka waktu yang relatif lama. Lebih tiga perempat bagian (75,99 persen) dari total unit usaha sudah beroperasi 10 tahun atau lebih, dengan rata-rata lama usaha mencapai 14,82 tahun. Kondisi ini terlihat sama pada berbagai kelompok agroindustri di Provinsi Jambi.
Relatif lamanya rata-rata lama usaha dari unit-unit usaha agroindustri UMKM di Provinsi Jambi menunjukkan bahwa unit usaha tersebut memiliki tingkat keberlangsungan hidup yang relatif baik. Meskipun demikian, karena kurangnya pembinaan dalam pengelolaan usaha dan lemahnya kebijakan di tataran makro, menyebabkan usaha-usaha tersebut tidak mampu mengembangkan skala usahanya dalam skala yang lebih besar.
24 Tabel 5.6 Kelompok Agroindustri UMKM Berpotensi Klaster di Provinsi Jambi Berdasarkan Lamanya Usaha Beroperasi Secara Komersial Kelompok Industri Lama Usaha (Tahun)
Total Rata- Rata
< 10 10 - 19 >= 20
Industri Tempe/Tahu 194 395 207 796
15.71 (24.37) (49.62) (26.01) (100.00)
Industri kopra 52 252 47 351
14.69 (14.81) (71.79) (13.39) (100.00)
Industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya
440 649 173 1262
13.20 (34.87) (51.43) (13.71) (100.00)
Industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu
104 634 355 1093
18.23 (9.52) (58.01) (32.48) (100.00)
Industri furnitur dari kayu 497 1129 233 1859
13.56 (26.73) (60.73) (12.53) (100.00)
Total 1287 3059 1015 5361
14.82 (24.01) (57.06) (18.93) (100.00)
Keterangan: Angka dalam tanda kurung adalah persentase baris
Sumber: Dikompilasi dari Raw Data Sensus Ekonomi dan penyesuaian terhadap data Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2013
5.4. Identifikasi dan Analisis Kompetensi Inti Daerah
Identifikasi kompetensi inti daerah untuk setiap kelompok agroindustri dilakukan dengan Model Kompetensi Inti yang dirancang berdasarkan metode MSQA. Setiap kriteria dari kompetensi inti daerah dinilai oleh 3 (tiga) orang ahli dengan memberikan skor untuk masing-masing kriteria sebagai berikut: Baik (skor=5), Sedang (skor=3), dan Kurang (skor=1). Setelah itu dilakukan agregasi pendapat ahli dengan menghitung rata-rata geometriknya, dan dilanjutkan dengan perhitungan indeks kompetensi inti dan pembobotan berdasarkan indeks kompetensi inti daerah tersebut. Matriks agregat pendapat ahli dan hasil pembobotan disajikan pada Tabel 5.7.