Globalisasi dalam Kesehatan Jiwa
DR. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS Department of Psychiatry, Udayana University, Bali
Email: [email protected]
Latar belakang
Globalisasi sebagai sebuah proses integrasi pertukaran pandangan dunia terhadap produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan mendorong munculnya keadaan saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas baik ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya.
Globalisasi budaya saling terkait erat dengan globalisasi ekonomi dan sosial sebagai fenomena multifaset. Intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia menghubungkan daerah-daerah yang jauh sedemikian rupa terhadap kejadian lokal dipengaruhi oleh peristiwa ribuan mil jauhnya, dan demikian sebaliknya.
Globalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana batas-batas tradisional yang memisahkan individu dan masyarakat secara bertahap semakin hilang. Proses ini akan menimbulkan kondisi kelompok pemenang dan kelompok yang tertinggal. Globalisasi menjanjikan dunia komunikasi instan, cepat dan efisien. Akses ke teknologi membuat perbatasan interaksi budaya dan pendekatan terhadap masalah lingkungan menjadi global.
Akibatnya, kesenjangan melebar antara masyarakat yang menikmati pengetahuan, teknologi dan kemampuan untuk mengendalikan peristiwa dengan masyarakat yang masih terkebelakang, bodoh, frustrasi, tak berdaya dan tidak mampu mengikuti kemajuan dan aktualisasi diri (Lacroix & Shragge, 2004).
Perubahan ini berdampak pada masyarakat pada umumnya dan individu yang menimbulkan pengaruh kompleks pada insiden maupun prevalensi gangguan jiwa dalam sebuah populasi. Selain itu, cara-cara gangguan jiwa dipahami dan dikelola akan dibentuk oleh pergeseran global yang sedang berlangsung. Hal ini juga sangat mungkin bahwa dengan meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi, akses budaya Barat terhadap sistem pengobatan akan lebih umum dan canggih sebagai pergeseran yang dapat menyebabkan perubahan model kesehatan. Faktor-faktor ini juga menyebabkan pergeseran dalam pengembangan identitas dan respon terhadap stress. Suatu kondisi yang dapat menempatkan individu dalam konflik langsung dengan budaya atau dengan anggota budaya yang mungkin tidak berubah atau mengalami akulturasi pada tingkat kecepatan yang sama (Okasha, 2005).
Akses internet sebagai sebuah kemajuan teknologi tak terelakkan akan mempengaruhi pandangan filosofis, ideologis dan politik dunia, yang menjelaskan mengapa beberapa negara tidak akan mengizinkan akses ke situs web tertentu. Jika kita menganggap bahwa 100 orang hidup di bumi, maka komposisi yang ditimbulkan oleh globalisasi menjadi 57 dari mereka orang Asia, 21 adalah Eropa, 8 adalah Afrika, 6 adalah Amerika; 48 pria dan 52 perempuan;
30 putih dan 70 non-putih; 30 orang Kristen dan 70 non-Kristen. Di sisi lain, enam orang memiliki 59% dari kekayaan masyarakat dan mereka semua orang Amerika. Delapan puluh orang hidup dalam kemiskinan, 70 orang tidak bisa membaca, 50 orang mati kelaparan, 1 orang memiliki pendidikan tinggi dan 1 orang memiliki komputer. Hal ini menunjukkan bahwa
kekuasaan dan sumber daya tampaknya tidak mengikuti pola mayoritas-minoritas dari populasi dunia. Perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi kesehatan jiwa keluarga dan individu dalam berbagai cara hingga jati diri sebuah masyarakat yang tidak dapat diprediksi (Fernando, 2014b).
Globalisasi dalam kesehatan mental
Kesehatan mental adalah sebuah keadaan kesejahteraan dimana individu mengenali kemampuan mereka, secara normal mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif dan bermanfaat serta memberikan kontribusi kepada masyarakat. Prevalensi gangguan jiwa terkait erat dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya. Jika kita mempertimbangkan semua perubahan yang telah disebutkan sebelumnya dalam teknologi informasi, kita dengan mudah dapat meramalkan bahwa bentuk dan isi dari gangguan jiwa, perawatan psikologis dan psikoterapi maupun farmakoterapi akan mengalami perubahan serius.
Kesehatan mental menempati ruang yang semakin besar dalam beban penyakit dunia.
Kemiskinan dan gangguan jiwa saling mengisi satu sama lain dan menjadi lingkaran setan yang tidak dapat dipatahkan oleh pemberantasan kemiskinan atau intervensi gangguan jiwa (Walker, 2008). Generasi-generasi mendatang akan memegang tanggung jawab beban dunia terhadap orang-orang yang terpinggirkan dalam perawatan kesehatan mental. Perubahan yang cepat memberikan ancaman namun juga kesempatan bagi psikiatri. Pemotongan pengeluaran pemerintah sebagian besar dilakukan pada layanan kejiwaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun di sisi lain, permintaan terhadap layanan psikiatri, baik secara kuantitatif maupun kualitatif meningkat (Madianos, 2006).
Aspek yang paling penting globalisasi di bidang Psikiatri adalah memberikan pelayanan kesehatan mental dalam pola adil, tidak peduli dari bagian dunia mana mereka datang. Sejauh ini, globalisasi telah mempengaruhi praktek psikiatri klinis dalam banyak cara, yang sayangnya tidak termasuk penyediaan akses ke layanan kesehatan mental di seluruh dunia. Keragaman etnis dan budaya pengguna jasa telah menyebabkan keragaman gangguan mental yang lebih bervariasi dalam kaitannya dengan perawatan kesehatan mental itu sendiri.
Di negara maju, peningkatan tingkat spiritual telah menyebabkan kenaikan migrasi yang terkait gangguan jiwa. Di negara berkembang, perubahan sosial ekonomi dan peristiwa kehidupan telah menyebabkan kenaikan tingkat gangguan jiwa. Hampir di semua negara, perkembangan teknologi telah menyebabkan peningkatan informasi pada berbagai layanan kesehatan yang berdampak pada peningkatan permintaan. Untuk itu, globalisasi telah memberikan kontribusi terhadap implementasi protokol internasional baik dalam pelatihan psikiatri, kebijakan kesehatan mental dan perlindungan hak asasi manusia penderita gangguan jiwa (Tribe &
Melluish, 2014). Pada kenyataannya, globalisasi, seperti yang sudah diimplementasikan hingga hari ini, menyoroti beberapa krisis dasar yang berbeda: krisis kepemimpinan (kekayaan diperbolehkan terkonsentrasi di tangan lebih sedikit dan lebih sedikit sehingga tiga orang terkaya di dunia memiliki aset melebihi produk domestik bruto dari 48 negara termiskin); krisis demokrasi (dimana 1,3 milyar orang hidup berpenghasilan kurang dari Rp 15.000/hari); krisis ekonomi (dimana hampir 1,5 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air bersih, dan 1 miliar orang tinggal di perumahan tidak layak); krisis rohani (di mana banyak orang sangat miskin bahwa mereka hanya bisa melihat Tuhan dalam bentuk roti), dan terakhir krisis moral (di mana 40 ribu anak mati setiap hari dari kekurangan gizi dan penyakit) (Fernando, 2014a).
Pengaruh globalisasi dalam psikitari
Globalisasi akan mempengaruhi persepsi individu baik dalam hal pemahaman gangguan jiwa maupun cara mengakses pelayanan kesehatan jiwa. Meskipun jumlah tenaga profesional kesehatan jiwa masih rendah di banyak wilayah di dunia, namun cukup sering pelatihan yang dimiliki lebih cenderung mengikuti konsep gangguan jiwa berdasarkan budaya Barat. Pendidikan tenaga profesional terhadap budaya-spesifik serta sensitif diperlukan untuk memahami prevalensi masalah psikologis yang sebenarnya dan memberikan pengobatan yang tepat. Perubahan ini akan menjadi tantangan utama psikiatri budaya untuk menyeimbangkan sensitivitas budaya dengan menghindari munculnya stereotipi budaya. Keragaman, heterogenitas dan pluralisme membawa kita untuk memahami perbedaan dasar antara budaya dengan tingkatan sosial (Kirmayer, 2006).
Deklarasi Madrid menyatakan bahwa psikiater "harus menganjurkan perlakuan yang adil dan sama bagi orang sakit, untuk keadilan sosial dan keadilan untuk semua". Mereka harus terus berkembang dan memberikan penyediaan berkualitas tinggi, berbasis bukti dalam kesehatan mental (Okasha, 2003). Dalam bidang diagnosis, globalisasi ICD-10 dan kriteria DSM-5 akan memberikan alat up-to-date untuk diagnosis, yang harus dihubungkan dengan manajemen dan hasil. Psikiatri berbasis bukti akan memastikan pelayanan yang lebih baik bahkan untuk negara-negara miskin, dengan menyaring model terapi di negara maju yang tidak perlu dan menggunakan bagian penting yang diperlukan untuk dapat diterapkan di negara berkembang.
Kebutuhan untuk layanan agar konsisten dengan norma-norma (budaya) masyarakat setempat adalah aturan dasar yang harus dihormati. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjelaskan apa yang orang inginkan dan bagaimana konsep kesehatan mental mereka.
Banyak kesalahpahaman muncul sebagai akibat dari perbedaan budaya (Incayawar et al., 2009). Layanan sebagai hasil pembangunan harus dapat diterima oleh orang yang bersangkutan dan terutama didasarkan pada pengetahuan lokal daripada yang berasal dari pengetahuan impor, terutama teori kesehatan dan penyakit serta bukti efektivitas yang banyak berasal dari negara Barat. Ada kemungkinan bahwa secara keseluruhan struktur layanan (seperti unit rawat inap, unit rehabilitasi dan jangkauan layanan) yang digunakan di Barat dapat beradaptasi untuk digunakan di seluruh dunia. Akan tetapi jika mereka akan dicopy, maka model perawatan yang akan digunakan harus dilihat strukturnya secara rinci (sebagai contoh, organisasi bangsal rumah sakit, jenis rehabilitasi atau keterlibatan masyarakat) yang sesuai dengan norma-norma budaya lokal (Fernando, 2014a).
Layanan harus lebih fokus pada orang-orang sebagai masyarakat dibandingkan berkonsentrasi pada individu yang sakit, meskipun keduanya mungkin diperlukan (Morrow, 2004). Model layanan komunitas harus didasarkan pada masyarakat setempat yang dilayani.
Layanan tersebut terhubung dengan masyarakat setempat dan lembaga lokal. Layanan tersebut harus menjadi rumah-tumbuh dan mampu mengembangkan layanan yang bersifat ke bawah dan ke atas. Model pendekatan utama Top-Down harus didasarkan pada upaya mengatasi determinan sosial kesehatan, mencegah pelanggaran hak asasi manusia di lembaga-lembaga dan tempat-tempat lain dimana orang gangguan jiwa berada. Model ini diharapkan dapat melindungi masyarakat rentan dari eksploitasi oleh kepentingan bisnis besar (Merson, Black
& Mills, 2012).
Sedangkan untuk model Bottom-Up, perbaikan harus berbasis komunitas, berbasis hak dan etika untuk kepentingan orang banyak dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, program harus dikembangkan dengan masyarakat yang peduli dan pemangku kepentingan dalam masyarakat. Layanan ini tidaklah mudah untuk diramalkan karena dasar perkembangannya adalah proses yang dinamis dan terbuka. Diperlukan inovasi lokal untuk Indonesia berupa campuran pendekatan sosial, budaya dan medis.
Globalisasi konsep kesehatan mental dapat berarti bahwa ide dan cara berpikir sedang terjadi menyebar ke seluruh dunia dengan lebih mudah. Dalam hal ini, globalisasi semata menyiratkan peningkatan pemahaman, dan karenanya kerjasama, antara sistem dan sistem lokal di tempat lain dapat berjalan baik dan bagus (Chapman, 2009). Tapi jika globalisasi berarti pengobatan global dan ide global tentang kesehatan mental, maka struktur kekuasaan saat ini akan memberikan tekanan untuk menghapuskan keberagaman dan menerapkan cara- cara berpikir dan terapi budaya Barat di seluruh dunia. Hal ini menjadi sesuatu yang bertentangan untuk hak asasi manusia individu dan komunitas (Chapman, 2009).
Interaksi antara budaya dan globalisasi dalam kesehatan mental dipersulit oleh fakta bahwa (a) budaya (individu atau kelompok) bukan sesuatu yang statis tetapi keduanya berubah- ubah menurut konteks dan fleksibilitasnya; dan (b) globalisasi sebagai kekuatan aktif yang kuat (Globalisasi paksa) dapat memaksakan perubahan, termasuk budaya, ekonomi dan politik dalam konteks kekuasaan geopolitik. Hal ini menjadi westernisasi dunia non-barat karena ketidakseimbangan kekuatan global saat ini. Semua kemungkinan ini akan terus berlanjut karena sifat manusia sebagai makhluk berbudaya dan sosial (Bhugra, 2014).
Simpulan
Untuk mencapai globalisasi pelayanan kesehatan mental, kita perlu penelitian lebih pada variabel psikologis yang mempengaruhi penyakit mental. Selain itu perlu penyediaan struktur yang lebih baik untuk intervensi psikososial bagi negara-negara berkembang, dan penyediaan yang lebih merata dalam distribusi sumber daya dunia.
Daftar Pustaka
Bhugra, D. (2014). Globalization, culture and mental health. Int Rev Psychiatry, 26(5), 615- 616. doi: 10.3109/09540261.2014.955084
Chapman, A. R. (2009). Globalization, human rights, and the social determinants of health.
Bioethics, 23(2), 97-111. doi: 10.1111/j.1467-8519.2008.00716.x
Fernando, S. (2014a). Globalization of psychiatry - a barrier to mental health development.
Int Rev Psychiatry, 26(5), 551-557. doi: 10.3109/09540261.2014.920305
Fernando, S. (2014b). Mental health worldwide : culture, globalization and development.
New York: Palgrave Macmillan.
Incayawar, M., Wintrob, R., Bouchard, L., Bartocci, G., & World Psychiatric Association.
(2009). Psychiatrists and traditional healers : unwitting partners in global mental health. Chichester, West Sussex ; Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell.
Kirmayer, L. J. (2006). Beyond the 'new cross-cultural psychiatry': cultural biology, discursive psychology and the ironies of globalization. Transcult Psychiatry, 43(1), 126-144. doi: 10.1177/1363461506061761
Lacroix, M., & Shragge, E. (2004). Introduction globalization and community mental health.
Can J Commun Ment Health, 23(2), 5-21.
Madianos, M. G. (2006). Psychiatric rehabilitation in the era of globalization. World Psychiatry, 5(3), 163-164.
Merson, M. H., Black, R. E., & Mills, A. J. (2012). Global health : diseases, programs, systems, and policies (3rd ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.
Morrow, M. (2004). Mental health reform, economic globalization and the practice of citizenship. Can J Commun Ment Health, 23(2), 39-50.
Okasha, A. (2003). The Declaration of Madrid and its implementation. An update. World Psychiatry, 2(2), 65-67.
Okasha, A. (2005). Globalization and mental health: a WPA perspective. World Psychiatry, 4(1), 1-2.
Tribe, R., & Melluish, S. (2014). Globalization, culture and mental health. Int Rev Psychiatry, 26(5), 535-537. doi: 10.3109/09540261.2014.955086
Walker, C. (2008). Depression and globalization : the politics of mental health in the 21st century. New York: Springer.