17 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Model Penelitian
Penelitian ini merupakan tipe penelitian penjelasan yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan antar variabel melalui pengujian suatu hipotesis yang telah dirumuskan dalam penelitian. Metode penelitian ini yaitu metode survey.
Data dalam penelitian ini merupakan data primer yang didapatkan dari daftar pertanyaan (kuesioner) yang terdiri dari pertanyaan positif dan negatif.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lima bagian.
Bagian pertama berisikan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan kualitas audit, bagian kedua berisikan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan pengalaman audit, bagian ketiga berisikan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan batasan waktu, bagian keempat berisikan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan pengetahuan akuntansi dan auditing, dan bagian kelima berisikan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan kualitas tim audit.
3.2. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi penelitian ini adalah semua auditor yang masih aktif dan bekerja di BPKP Perwakilan Provinsi Jawa Barat, yaitu sebanyak 136 auditor. Kuesioner yang diberikan untuk responden adalah sejumlah populasi yaitu 136 kuesioner.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus yakni seluruh elemen populasi digunakan sebagai sampel.
3.3. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini, varibel dependen (Y) yang digunakan adalah kualitas audit, sedangkan variabel independennya pengalaman audit (X1), batasan waktu (X2), pengetahuan akuntansi dan auditing (X3), dan kualitas tim (X4)
3.3.1. Kualitas Audit
Kualitas audit merupakan kualitas hasil pekerjaan auditor dilihat dari laporan hasil audit yang handal, dan sesuai dengan standar yang berlaku. Skala likert 5 poin digunakan sebagai skala pengukuran. Indikator kualitas audit dalam penelitian ini diadopsi dari Saputra (2016) yaitu:
1. Tepat waktu, 2. Lengkap, 3. Objektif, 4. Meyakinkan, 5. Jelas, dan 6. Ringkas.
3.3.2. Pengalaman Audit
Pengalaman audit yaitu kurun waktu seorang auditor bertugas pada bidangnya dan banyaknya tugas pemeriksaan yang telah dilakukan. Skala likert 5 poin digunakan sebagai skala pengukuran. Konstruk ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh Saputra (2016). Indikator yang digunakan untuk mengukur pengalaman audit yaitu:
1. Lama bertugas sebagai auditor, 2. Banyaknya melakukan audit,
3. Jenis-jenis audit yang pernah dilakukan, dan 4. Lamanya waktu penyelesaian audit.
3.3.3. Batasan Waktu
Batasan waktu adalah batasan waktu pemeriksaan audit yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan beban kerja dengan waktu yang tersedia. Skala likert 5 poin digunakan sebagai skala pengukuran. Konstruk ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun Saputra (2016). Indikator yang digunakan untuk mengukur batasan waktu dalam penelitian ini yaitu:
1. Ketepatan waktu,
2. Pemenuhan target dengan waktu yang ditentukan, 3. Kelonggaran waktu audit, dan
4. Beban yang ditanggung dengan keterbatasan waktu.
3.3.4. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing
Pengetahuan akuntansi dan auditing merupakan jenjang pendidikan dan pelatihan yang diperoleh seorang auditor yang memengaruhi keterampilannya dalam menjalankan tugas audit. Skala likert 5 poin digunakan sebagai skala pengukuran. Indikator pengetahuan akuntansi dan auditing dalam penelitian ini diadopsi dari Saputra (2016) yaitu:
1. Pemahaman tentang akuntansi,
2. Pemahaman tentang auditing, dan
3. Pengetahuan dan pengalaman praktik akuntansi dan auditing.
3.3.5. Kualitas Tim Audit
Kualitas tim merupakan tingkat atau derajat baik buruknya kelompok kerja dimana anggotanyanya bekerja secara intensif untuk mencapai tujuan bersama yang spesifik. Skala likert 5 poin digunakan sebagai skala pengukuran. Indikator kualitas tim audit dalam penelitian ini diadopsi dari Pratama (2016) yaitu:
1. Komunikasi, 2. Koordinasi,
3. Kesetaraan kontribusi, 4. Dukungan bersama, 5. Usaha, dan
6. Keterikatan.
3.4. Metode Analisis Data
Pengujian instrument penelitian dilakukan terlebih dahulu yaitu uji validitas dan reliabilitas. Setelah itu, uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, multikolinearitas, dan heterokedastisitas. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menerapkan model analisis regresi berganda. Selanjutnya, tahap-tahap untuk pengujian pengaruh variabel independen pengalaman audit, batasan waktu, pengetahuan akuntansi dan audit, serta kualitas tim dilanjutkan dengan uji koefisien determinasi, uji goodness of fit, dan uji parsial.
3.4.1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 3.4.1.1. Uji Validitas
Uji validitas dimaksudkan untuk menguji apakah item-item yang tertera dalam kuesioner benar-benar mengungkapkan dengan pasti sesuatu yang akan diteliti (Ghozali, 2011). Uji validitas dijalankan menggunakan uji korelasi Pearson Moment antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk.
Pertanyaan dikatakan valid apabila nilai korelasi item butir dengan skor total signifikan pada tingkat signifikansi 0,01 dan 0,02.
3.4.1.2 Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas dilakukan untuk menguji konsistensi kuesioner dalam mengukur suatu konstruk yang sama atau stabilitas kuesioner jika digunakan dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011). Uji reliabilitas dilakukan dengan uji statistik Cronbach Alpha. Jika nilai koefisien alpha lebih besar dari 0,60 maka
disimpulkan bahwa intrumen penelitian tersebut handal atau reliabel (Ghozali, 2011).
3.4.2. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dimaksudkan untuk memberi gambaran data dengan kriteria nilai rata-rata, deviasi standar, varian, maksimum, minimum, sum, dan range (Ghozali, 2011).
3.4.3. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan sebelum analisis regresi berganda untuk menjamin bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat multikolinearitas serta data yang dihasilkan telah berdistribusi normal. Uji asumsi klasik terdiri dari: uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas.
3.4.3.1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independen keduanya berdistribusi normal atau tidak (Ghozali, 2011). Model regresi yang baik antara lain memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas data dilakukan menggunakan Uji Kolmogorof-Smirnov.
3.4.3.2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk mengetahui gejala korelasi antar variabel independen yang satu dengan lainnya. Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terdapat korelasi di antara variabel independen. Uji Multikolinieritas dilakukan menggunakan 2 cara yaitu dengan melihat VIF (Variance Inflation Factors) dan nilai tolerance. Jika VIF > 10 dan nilai tolerance
< 0,10 maka terjadi gejala Multikolinieritas (Ghozali, 2011).
3.4.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas, tidak heteroskedastisitas. Selain itu, heteroskedastisitas dapat diketahui melalui uji Glesjer. Jika signifikansi masing-masing variabel independen > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi (Ghozali, 2011).
3.4.4. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menerapkan model analisis regresi berganda untuk memprediksi berapa besar kekuatan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan regresinya adalah sebagai berikut ini.
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3
Keterangan:
Y = kinerja auditor Inspektorat, β0 = intersep,
β1, β2, β3 = koefisien regresi, X1 = kompetensi,
X2 = independensi, dan X3 = motivasi.
Selanjutnya, langkah-langkah untuk menguji pengaruh variabel independen dilakukan dengan uji koefisien determinasi, uji F, dan uji parsial.
3.4.4.1. Uji Koefisien Determinasi
Uji ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen (Ghozali, 2011). Nilai R square adalah antara 0 dan 1. Nilai R square yang mendekati 1 dapat diartikan variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen, sebaliknya jika mendekati angka 0 berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas.
3.4.4.2. Uji Goodness of Fit
Suliyanto (2011) mengungkapkan bahwa Uji Goodness of Fit atau uji ketepatan model merupakan uji yang bertujuan untuk menentukan apakah spesifikasi model yang ditetapkan sudah tepat atau tidak. Pengujian ketepatan model dilakukan menggunakan uji F dengan menguji ada tidaknya pengaruh simultan variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel dengan df: (k-1), (n- k). Jika nilai Fhitung > Ftabel atau Sig < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model persamaan regresi yang terbentuk masuk kriteria fit (cocok).
3.4.4.3. Uji Parsial (Uji t)
Uji t dilakukan untuk menjelaskan pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji t pada penelitian ini menggunakan
tingkat signifikansi 5% atau 0,05. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka hipotesis diterima. Sebaliknya, jika nilai signifikansi > 0,05 maka hipotesis ditolak.