8 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) umumnya terbagi menjadi 3 (tiga) versi di antaranya ialah pengertian K3 menurut Filosofi, Keilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007. Berikut adalah pengertian dan definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tersebut.
Menurut filosofi Mangkunegara (2007), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut keilmuan, K3 adalah semua ilmu dan penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, Penyakit Akibat Kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan. Keselamatan kerja menurut Mondy dan Noe (2005) adalah perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Risiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Kesehatan kerja adalah kebebasan dari kekerasan fisik. Risiko kesehatan merupakan faktor- faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres emosi atau gangguan fisik.
Mangkunegara (2007) berpendapat bahwa keselamatan dan 25 kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Sedangkan Mathis dan Jackson (2002) menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang
terhadap cidera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
Sedangkan, menurut OHSAS 18001:2007, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka K3 adalah bidang yang terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen, dan orang lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi moral, legalitas dan finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu. Praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi pencegahan, pemberian sanksi, dan kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan perawatan kesehatan dan cuti sakit. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terkait dengan ilmu kesehatan kerja, teknik keselamatan, teknik industri, kimia, fisika kesehatan, psikologi organisasi dan industri, ergonomika dan psikologi kesehatan kerja.
2.1.1 Tujuan, Saran dan Sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja Program keselamatan dan kesehatan kerja ditujukan untuk mencapai sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Dalam keadaan tertentu manajer keselamatan dan kesehatan kerja dapat menyusun program cepat (Crash Program) untuk mencapai sasaran yang mendesak (Depnaker RI, 1996:46.)
Occupational Safety and Health Administration, suatu badan yang berwenang mengawasi keselamatan dan kesehatan kerja di Amerika Serikat, menyarankan 4 program keselamatan dan kesehatan kerja sebagai berikut: (1) Kemauan (commitment) manajemen dan keterlibatan
pekerja, (2) Analisis resiko tempat kerja, (3) Pencegahan dan pengendalian bahaya, (4) Pelatihan pekerja, penyelia, dan manajer (Depnaker RI, 1996:47).
Sasaran manajemen keselamatan dan kesehatan kerja ialah mengurangi dan menghilangkan faktor-faktor yang berperan dalam kejadian kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja sehingga terwujud suatu tempat kerja yang 13 aman dan sehat yang dapat mendukung proses berproduksi yang efisien dan produktif (Syukri Sahab, 2001:175).
Sedangkan dalam UU No.1 Tahun 1970 Pasal 3 ayat 1 tentang Keselamatan Kerja, disebutkan bahwa tujuan pemerintah membuat aturan keselamatan dan kesehatan kerja adalalah sebagai berikut:
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan, 2. Memberi pertolongan pada kecelakaan,
3. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja,
4. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran,
5. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai,
6. Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik, 7. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup,
8. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban,
9. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya,
10. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan, 11. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya,
12. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerja yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
2.2 Alat Pelindung Diri
Menurut Permenker No.08/VIII/2010, Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya ditempat kerja. Berdasarkan pasal 14 ayat C UU No.1 tahun 1970 tentang keselamtan kerja, perusahaan wajib menyediakan APD secara Cuma-Cuma terhadap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja, apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi merupakan suatu pelanggaran undang-undang berdasarkan pasal 12 huruf b tenaga kerja diwajibkan memakai APD yang telah disediakan (Anizar, 2009).
Tujuan penggunaan APD adalah untuk melinduni tubuh dari bahaya pekerjaan yang dapat menyebabkan kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja. Sehingga penggunaan alat pelindung diri bermanfaat bukan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri tetapi juga bagi orang disekelilingnya (Bintarto, 2015).
APD akan memberikan perlindungan yang cukup bila alat pelindung tersebut dipilih secara tepat dan selalu dipakai oleh pekerja yang bersangkutan.
Perusahaan wajib menyediakan semua alat pelkindung diri yang diwajibkan dan pekerja wajib pula untuk selalu memakianya (Buntarto, 2015).
2.2.1 Ketentuan Memilih APD
Menurut Buntarto (2015), pemakiaan alat pelindung diri sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman, membatasi gerakan dan sensoris pemakainya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu memperhatikan ketentuan-ketentua pemilihan APD, antara lain:
a. Dapat memberikan pelindung yang cukup terhadap bahaya-bahaya yang dihadapi oleh pekerja.
b. Harus sesering mungkin dan tidak menyebabkan rasa ketidak nyamanan yang berlebihan.
c. Tidak mudah rusak
d. Suku cadangnya mudah diperoleh.
e. Harus memenuhi kebutuhan standar yang telah ada.
f. Dapat dipakai secara fleksibel.
g. Tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahn bagi pemakainya.
h. Tidak membatasi gerakan persepsi sensoris pemakainya.
2.2.2 Ketentuan Pemakaian APD
Menurut Rambe (2019), Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan APD, yaitu:
a. Menyesuaikan APD dengan ukuran tubuh.
b. Memastikan APD berfungsi dengan baik dan benar.
c. Jika menggunakan 2 (dua) atau lebih APD secara bersamaan, pastikan bahwa tidak mengurangi keefektifan masing-masing APD.
d. Segera melaporkan jika merasakan gejala rasa sakit atau tidak yaman menggunakan APD
e. Melaporkan kepada pihak yang bertanggung jawab jika diperlukan pelatihan khusus penggunaan APD.
Kewajiban menggunakan APD bila memasuki suatu tempat kerja yang berbahaya hanya berlaku bagi pekerja, melainkan juga bagi pemimpin perusahaan, pengawas, kepala bagian, dan siapa saja yang akan memasuki tempat tersebut (Buntarto, 2015).
2.2.3 Macam-macam Alat Pelindung Diri
Menurut permanker N0.8/VIII/2010, macam-macam APD meliputi:
a. Pelindung Kepala
Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad reni (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim alat pelindung kepala, menurut bentuknya dapat dibedakan menjadi:
1. Topi pengaman (safety helmet), untuk melindungi kepala dari benturan, kejatuhan, pukulan benda-benda keras atau tajam.
Gambar 2.1 Safety Helmet
(https://keskerfkmunmuha.wordpress.com/)
2. Hood, berfungsi untuk melindungi kepala dari bahaya- bahaya kimia, api, dan panas radiasi yang tinggi.
Gambar 2.2 Hood (https://hsepedia.com)
3. Tutup kepala (hair cap), berfungsi untuk melindungi kepala dari kotoran debu dan melindungi rambut dari bahaya terjerat oleh mesin-mesin yang berputar
Gambar 2.3 Hair Cap (https://hsepedia.com) b. Pelindung mata dan muka
Gambar 2.4 Pelindung mata dan muka (https://hsepedia.com)
Alat pelindung mata dan muka adalah alat yang berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udarar dan bahan air, percikan bendabenda kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam.
Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles), googles, temen muka (face shield), masker
selam, temeng muka dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face masker).
c. Pelindung telinga
Gambar 2.5 Pelindung telinga (https://hsepedia.com)
Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan. Jenis pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga 9ear muff).
d. Pelindung pernafasan beserta perlengkapannya
Gambar 2.6 Pelindung Pernafasan (https://salamadian.com)
Alat pelindung pernafasan adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernafasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat atau menyaring cemaran bahan
kimia, mikroorganisme, partikel yang berupa debu, uap, asap, gas, san sebagainya.
Jenis alat pernafasan terdiri dari masker, respirator, katrit, canister, Airline respiration, Continues Air Supply, machine = Air hose mask Respirator, tangki selam dan regulator (Self-Contained Underwater 28 Brething Apparatus (SCUBE). Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), dan Emergency Breathing Apparatus.
e. Pelindung tangan
Gambar 2.7 Pelindung tangan (https://keskerfkmunmuha.wordpress.com)
Pelindung tangan adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari paparan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan tergeos, terinfeksi zat pathogen (virus, bakteri) dan jasad renik.
f. Pelindung kaki
Gambar 2.8 Pelindung kaki
(https://keskerfkmunmuha.wordpress.com)
Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa atau benturan dengan benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap pans, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik tergelincir dan jenis pelindung kaki seperti sepatu.
g. Pakaian pelindung
Gambar 2.9 Pakaian pelindung (https://salamadian.com)
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperature panas atau dingin yang ekstrim, pejanan api, dan benda-benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan logam, tergores, radiasi, binatang, mikroorganisme pathogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur.
2.3 Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja menurut Alfatiyah (2017) merupakan kejadian tidak dikehendaki yang berhubungan dengan suatu pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera bahkan kematian, kerusakan benda atau terhentinya proses produksi. Sedangkan menurut Ramadhan (2017) kecelakaan kerja adalah
suatu peristiwa yang tidak direncanakan dan tidak diperkirakan sebelumnya sehingga dapat mengganggu keefektifitasan kerja.
2.3.1 Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak direncanakan sehingga penyebab terjadinya kecelakaan kerja harus diketahui dengan jelas agar usaha keselamatan atau pencegahan dapat dilakukan sehingga kecelakaan kerja tidak terulang kembali dan kerugian dapat dihindari.
Menurut Transiska (2015) penyebab kecelakaan kerja secara umum dapat dibagi menjadi:
a) Penyebab langsung
1. Perbuatan tidak aman (unsafe acts) merupakan segala tindakan atau perilaku manusia yang dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan kerja pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Perbuatan tidak aman dapat disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan dari pekerja serta terbatasnya pengetahuan yang didapat. Kesalahan-kesalahan dari pekerja seperti terlalu berani, menghiraukan peraturan yang ditetapkan perusahaan, kelalaian, mealmun, mengantuk serta kelalahan yang dialami pekerja.
2. Kondisi tidak aman (unsafe condition) diartikan sebagai potensi terjadinya kecelakaan kerja yang disebabkan dari kondisi lingkungan kerja.
b) Penyebab tidak langsung 1. Fungsi manajemen
Fungsi manajemen sangat berpengaruh penting terhadap penyebab kecelakaan kerja. Misalnya intruksi yang kurang jelas, tidak ada 6 perencanaan keselamatan dan kesehatan kerja, tidak melaksanakan sosialisasi tentang keselamatan kerja dan tidak tersedianya alat pengaman bagi pekerja.
2. Kondisi pekerjaan
Kondisi pekerjaan ini meruapakan kondisi dari pekerja baik itu kondisi mental maupun kondisi fisik pekerja.
2.3.2 Kerugian Kecelakaan Kerja
Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja dapat berupa kerugian ekonomi secara langsung maupun tidak langsug seperti kerusakan pada mesin atau peralatan yang digunakan, biaya pengobatan atau perawatan bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja serta hilangnya hari kerja sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi. Selain kerugian secara ekonomi kecelakaan kerja dapat merugikan bersifat non ekonomi seperti penderitaan yang dialami oleh pekerja baik itu luka berat maupun ringan hingga kematian serta penderitaan dari keluarga pekerja. Menurut Waruwu and Yuamita (2016) kecelakaan kerja dapat menyebabkan beberapa kerugian:
a) Kerugian yang disebabkan atas kerusakan pada peralatan atau mesin yang digunakan dalam proses produksi.
b) Kekacauan organisasi yang berdampak adanya keterlambatan proses produksi, penggantian alat atau mesin hingga perekrutan tenaga kerja baru.
c) Keluhan dan kesedihan yang merupakan kerugian yang dialami oleh tenaga kerja secara psikis.
d) Kelainan atau kecacatan merupakan kerugian yang dialami oleh tenaga kerja secara fisik berupa penyakit yang dapat terobati maupun yang lebih fatal.
e) Kematian, merupakan kerugian yang sangat fatal bagi tenaga kerja terhadap fisik maupun psikis.
2.3.3 Upaya Pencegahaan Kecelakaan Kerja
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja menurut Piri, Sompie et al. (2012) sebagai berikut :
a) Bagi calon pekerja harus melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja untuk mengetahui keserasian dengan pekerjaan barunya, baik itu secara fisik maupun secara mental.
b) Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dengan tujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja telah menimbulkan gagngguan pada kerja atau tidak.
c) Melakukan pelatihan atau pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja secara kontinu agar para pegawai tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya.
d) Menyampaikan peraturan yang berlaku di tempat kerja sebelum melakukan pekerjaan agar mereka mentaatinya.
e) Selalu menggunakan alat pelindung diri saat bekerja.
f) Menyediakan tempat khusus terhadap proses yang membahayakan, misalnya proses pencampuran bahan kimia yang berbahaya dan mengoperasian mesin yang sangat bising.
g) Mengatur ventelisasi area kerja agar bahan atau gas sisa dapat dikeluarkan.
h) Mengganti bahan yang berbahaya dengan bahan yang tidak berbahaya.
i) Membuat ventilasi umum agar udara dapat masuk ke ruang kerja sesuai kebutuhan.
2.4 Statistik Kecelakaan Kerja
Menurut Utomo (2019), Tujuan dan manfaat statistik dalam penerapan K3 adalah digunakan untuk menilai ‘OHS Performance Programs’. Dengan menggunakan statistik dapat memberikan masukan ke manajemen mengenai tingkat kecelakaan kerja serta berbagai faktor yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mencegah menurunnya kinerja K3. Didalam statistik kecelakaan kerja terdapat dua hal yang akan dihitung yaitu frequency rate dan severity rate,dengan menggunakan rumus sesuai dengan standart OSHA (Occupational Safety Health Administration ), USA rumus keduanya dapat dilihat dibawah ini.
a) Menghitung nilai frequency rate Adalah parameter yang di gunakana untuk menghitung tingkat kekerapan kecelakaan kerja.
FR = 𝑱𝑼𝑴𝑳𝑨𝑯 𝑲𝑬𝑪𝑬𝑳𝑨𝑲𝑨𝑨𝑵 𝑲𝑬𝑹𝑱𝑨 𝑿 𝟐𝟎𝟎𝟎𝟎𝟎 𝑱𝑼𝑴𝑳𝑨𝑯 𝑱𝑨𝑴 𝑶𝑹𝑨𝑵𝑮 𝑲𝑬𝑹𝑱𝑨
b) Menghitung nilai Severity rate Adalah parameter yang di gunakan untuk menghitung atau mengukur keparahan total hilangnya hari kerja.
SR = 𝑱𝑼𝑴𝑳𝑨𝑯 𝑯𝑨𝑹𝑰 𝑲𝑬𝑹𝑱𝑨 𝑯𝑰𝑳𝑨𝑵𝑮 𝑿 𝟐𝟎𝟎𝟎𝟎𝟎 𝑱𝑼𝑴𝑳𝑨𝑯 𝑱𝑨𝑴 𝑶𝑹𝑨𝑵𝑮 𝑲𝑬𝑹𝑱𝑨
Angka 200.000 = ( 50 minggu / tahun ) x ( 40jam / minggu) x 100 pekerja
2.5 Standar Operational Procedure (SOP)
Standard Operational Procedure (SOP) adalah serangkaian instruksi kerja tertulis yang dibakukan (terdokumentasi) mengenai proses penyelenggaraan administrasi perusahaan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh siapa dilakukan. Standard Operational Procedure (SOP) merupakan suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan (Atmoko, 2010).
1. Manfaat Standard Operational Procedure (SOP):
a. Sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan tugasnya.
b. Mengurangi tingkat kesalahan dan kelalaian yang mungkin dilakukan oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas.
c. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab individual pegawai dan organisasi secara keseluruhan.
d. Membantu pegawai menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada intervensi manajemen, sehingga akan mengurangi keterlibatan pimpinan dalam pelaksanaan proses sehari-hari.
e. Meningkatkan akuntibilitas pelaksanaan tugas.
f. Menciptakan ukuran standar kinerja yang akan memberikan pegawai cara konkrit untuk memperbaiki kinerja serta membantu mengevaluasi usaha yang telah dilakukan.
g. Memastikan pelaksanaan tugas penyelenggaraan pemerintahan dapat berlangsung dalam berbagai situasi.
h. Memberikan informasi mengenai kualifikasi kompetensi yang harus dikuasai oleh pegawai dalam melaksanakan tugasnya.
i. Memberikan informasi dalam upaya peningkatan kompetensi pegawai.
j. Memberikan informasi mengenai beban tugas yang dipikuloleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya.
2. Tujuan Standard Operational Procedure (SOP):
a. Agar petugas atau pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas atau pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.
b. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.
c. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas atau pegawai terkait.
d. Melindungi organisasi atau unit kerja dan petugas atau pegawai dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.
e. Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan, keraguan, duplikasi, dan inefisiensi.
3. Fungsi Standard Operational Procedure (SOP):
a. Memperlancar tugas petugas atau pegawai atau tim atau unit kerja.
b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
c. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak d. Mengarahkan petugas atau pegawai untuk sama-sama disiplin dalam
bekerja.
e. Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
4. Keuntungan Adanya Standard Operational Procedure (SOP):
a. Standard operational procedure yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi dan pengawasan danmenjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
b. Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan.
c. Dapat dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa digunakan untuk mengukur kinerja pegawai.
5. Jenis Format Umum Standard Operational Procedure (SOP):
a. Langkah sederhana (Simple Steps). Simple steps dapat digunakan jika procedure yang akan disusun hanya memuat sedikit kegiatan dan memerlukan sedikt keputusan yang bersifat sederhana. Format SOP ini dapat digunakan dalam situasidimana hanya ada beberapa orang yang akan melaksanakan procedure yang telah disusun.
b. Tahapan berurutan (Hierarchical Steps). Format ini merupakan pengembangan dari simple steps. Digunakan jika prosedur yang disusun panjang, lebih dari 10 langkah dan membutuh kan informasi yang lebih detail, akan tetapi hanya memerlukan sedikit pengambilan keputusan.
c. Grafik (Graphic). Format grafik ini bertujuan untuk memudahkan dalam memahami prosedur yang ada dan biasanya ditujukan untuk pelaksanaan eksternal organisasi (pemohon).
d. Diagram alir (Flowcharts). Flowcharts merupakan format yang biasa digunakan, jika dalam SOP diperlukan pengambilan keputusan yang banyak (kompleks) dan membutuhkan opsi jawaban (alternatif jawaban).
6. Prinsip-prinsip Penyusunan Standard Operational Procedure (SOP):
a. Standard operational procedure (SOP) harus ditulis secara jelas, sederhana dan tidak berbelit-belit sehingga mudah dimengerti dan diterapkan untuk satu kegiatan tertentu.
b. Standard operational procedure (SOP) arus dapat menjadi pedoman yang terukur baik mengenai norma waktu, hasil kerja yang tepat dan
akurat, maupun rincian biaya pelayanandan tatacara pembayaran bila diperlukan adanya biaya pelayanan.
c. Standard operational procedure (SOP) harus dapat memberikan kejelasan kapan dan siapa yang harus melaksanakan kegiatan, berapa lama waktu yang dibutuhkan dan sampai dimana tanggung jawab masingmasing pegawai atau pejabat.
d. Standard operational procedure (SOP) harus udah dirumuskan dan selalu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kebijakan yang berlaku.
e. Standard operational procedure harus menggambarkan alur kegiatan yang mudah ditelusuri jika terjadi hambatan.
7. Teknik Menyusun Standard Operational Procedure (SOP):
Tahapan atau langkah yang dapat digunakan untuk membuat suatu prosedur yang baik dan memaksimalkan semua potensi yang ada, yaitu:
a. Menentukan tujuan yang ingin dicapai.
b. Membuat rancangan awal.
c. Melakukan evaluasi internal.
d. Melakukan evaluasi eksternal.
e. Melakukan uji coba.
f. Menempatkan prosedur pada unit terkait.
g. Menjalankan prosedur yang sudah dibuat.
2.6 Metode Investigasi Kecelakaan Kerja 2.6.1 Event and Causal Factor Analysis
Event and Causal Factors Analysis merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menganalisis kecelakaan dengan berorientasi pada kondisi dan kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan. Dimana dari masing-masing kondisi dan kejadian tersebut juga dilakukan asumsi-asumsi dari kondisi dan kejadian awal yang mana
kondisi dan kejadian utama tersebut menyebabkan kecelakaan terjadi (DOE, 2012).
Langkah-langkah dalam membuat diagram Event and Causal Factors Analysis (ECFA):
1. Membuat suatu rangkaian kronologis dari kejadian dan kondisi- kondisi terkait dengan kecelakaan.
2. Menggambarkan urutan kecelakaan dalam diagram ECF chart untuk mengetahui penyebab kecelakaan berdasarkan direct cause, root cause dan contributing cause.
3. Membuat analisis berdasarkan direct cause, root cause dan contributing cause.
Menurut Aminullah., Dkk, (2017) Event and Causal Faktor Analysis merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menganalisa kecelakaan dengan berorientasi pada kondisi dan kejadian yang berkontribusi menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan. Dimana dari masing-masing kondisi dan kejadian tersebut juga dilakukan asumsi- asumsi dari kondisi dan kejadian awal yang menyebabkan kondisi dan kejadian utama yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi. Chart dari metode Event and Causal Faktor Analysis menggambarkan kejadian-kejadian yang sesungguhnya pada suatu rangkaian logic, dimana chart tersebut tidak hanya digunakan untuk menganalisa kecelakaan dan mengevaluasi bukti-bukti kecelakaan selama investigasi, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu meyakinkan keakuratan sistem analisa kecelakaan awal.
Gambar 2.10 Chart umum Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
Didalam Event and Causal Factor Analysis (ECFA) ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu direct cause, contributing cause, dan root cause.
Direct cause merupakan penyebab yang berhubungan secara langsung dengan kejadian yang terjadi.
Contributing cause merupakan penyebab yang memberikan pengaruh terhadap suatu kejadian, tetapi tidak secara langsung akan menyebabkan peristiwa.
Root cause merupakan penyebab yang jika dapat diatasi maka dapat mencegah terjadinya kejadian atau masalah yang sama.
Menurut Praptiwi., Dkk, (2018) Metode ini menggunakan kecelakaan sebagai kunci dari kejadian dan semua proses yang ada digunakan untuk menyusun kembali kecelakaan awal. Berikut langkah- langkahnya :
1. Menginvestigasikan kecelakaan yang terjadi dengan cara mengumpulkan data kecelakaan beserta dengan data kronologi.
2. Membuat suatu rangkaian kronologis dari kejadian dan kondisi- kondisi terkait yang mendahului suatu kecelakaan dengan membuat sebuah asumsi.
3. Membuat ECF chart dimana digambarkan sebuah kronologi dengan sebuah chart yang akan mengetahui direct cause, root cause dan contributing cause.
4. Membuat ECF worksheet dimana dapat mengetahui bagian-bagian yang turut mempengaruhi didalam beberapa worksheet yang sudah tersedia dan di akhiri dengan summary worksheet.
5. Membuat analisa yang mencakup keseluruhan langkah diatas
Gambar 2.11 Chart umum Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
Event and Causal Factor merupakan sebuah kejadian atau kondisi dalam tahapan kecelakaan yang dapat mengahasilkan atau berkontribusi pada hasil yang tidak diinginkan. Adapun metode Event and Causal Factor Analysis (ECFA) merupakan aplikasi dari metode analisa kecelakaan untuk menentukan faktor penyebab dengan mengidentifikasi kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi yang signifikan yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan. Dalam penerapan metode Event and Causal Factor Analysis (ECFA) ini hasil akhir yang didapat
berupa Event and Causal Factor Analysis Diagram, dimana diagram ini menggambarkan suatu rangkaian logis dari kejadian dan kondisi-kondisi terkait yang mendahului suatu kecelakaan (Buys, 1995).
Event and Causal Factor Analysis (ECFA) merupakan komponen penting dalam metode penyelidikan laporan kecelakaan. Metode ini dirancang sebagai teknik investigasi kecelakaan yang dapat berdiri sendiri tetapi akan lebih kuat dan efektif jika diterapkan bersama metode MORT lainnya yang memberikan korelasi pendukung terhadap metode ECFA seperti metode Fault Tree Analysis, MORT Chart Analysis, Change Analysis. ECFA menyajikan tiga tujuan utama dalam investigsi, yaitu (Buys, 1995):
1. Membantu memverifikasi rantai kausal dan urutan event (kejadian) 2. Menyediakan struktur untuk mengintegrasikan temuan investigasi
kecelakaan.
3. Membantu mengkomuniksikan baik selama proses penyelidikan dan pada penyelesaian penyelidikan kecelakaan
2.6.1.1 Manfaat Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
Manfaat dari penerapan metode investigasi kecelakaan kerja Event and Causal Factor Analysis (ECFA) menurut DOE, yaitu (Buys, 1995):
1. Menunjukkan hubungan kejadian-kejadian dan kondisi- kondisi yang relevan yang berkaitan pada saat terjadi kecelakaan.
2. Menggambarkan urutan peristiwa yang mendorong ke arah terjadinya kecelakaan dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi peristiwa ini.
3. Menghubungkan fakta dan faktor penyebab pada organisasi dan sistem manajemen.
4. Mensahihkan hasil dari teknik analisa yang lain.
5. Dapat memberikan informasi tentang kemungkinan berbagai penyebab.
6. Menyediakan suatu metoda berkelanjutan untuk mengorganisir dan mempresentasikan data untuk memudahkan komunikasi diantara penyelidik.
7. Dengan jelas mempresentasikan informasi mengenai kecelakaan yang dapat digunakan untuk panduan penulisan laporan.
8. Menyediakan suatu bantuan visual efektif yang meringkas informasi kunci mengenai kecelakaan dan penyebabnya di dalam laporan penyelidikan.
9. Membuktikan dan menjelaskan penyebab khusus dari suatu kecelakaan
Sedangkan Buys dan Clark menjelaskan beberapa poin yang manfaat dari Event and Causal Factor Analysis (ECFA) yaitu sebagai berikut (Buys, 1995):
1. Memberikan penjelasan yang berorientasi pada penyebab kecelakaan.
2. Memberikan dasar untuk perubahan yang bermanfaat untuk mencegah kecelakaan dimasa depan dan kesalahan operasional.
3. Membantu menggambarkan bidang tanggung jawab.
4. Membantu menjamin objektifitas dalam melakukan penyelidikan kecelakaan.
5. Mengorganisir data kualitatif (seperti waktu, kecepatan, temperatur, dll) terkait dengan kejadian dan kondisi loss producing.
6. Bertindak sebagai alat pelatihan operasional.
7. Memberikan bantuan yang efektif untuk disain sistem di masa depan.
Manfaat yang lebih spesifik dari Event and Causal Factor Analysis (ECFA) menurut Buys dan Clark adalah (Buys, 1995):
1. Membantu dalam mengembangkan bukti, dalam mendeteksi semua faktor kausal melalui urutan pengembangan, dan dalam menentukan kebutuhan untuk analisa yang lebih mendalam.
2. Menjelaskan penalaran.
3. Menggambarkan beberapa penyebab kecelakaan, karena kecelakaan jarang sekali hanya disebabkan oleh satu hal saja, maka proses charting membantu menggambarkan beberapa faktor penyebab yang terlibat dalam urutan kecelakaan.
4. Menggambarkan secara visual iteraksi dan hubungan dari semua organisasi dan individu yang terlibat dalam kecelakaan.
5. Mengilustrasikan kronologi kejadian, menunjukkan urutan relatif dalam waktu.
6. Memberikan fleksibelitas dalam interpensi dan merangkum data yang dikumpulkan.
7. Memudahkan dalam mengkomunikasikan fakta data yang empiris dan turunannya secara logis dan dengan cara yang teratur.
8. Menghubungkan faktor kecelakaan yang spesifik dengan faktor kontrol organisasi dan manajemen.
2.6.1.2 Deskripsi Teknik Event and Causal Factor Analysis (ECFA) Deskripsi teknik dari metode Event and Causal Factor Analysis (ECFA) berisikan petunjuk simbol-simbol yang digunakan serta cara menghubungkan tiap-tiap simbol yang digunakan dalam penyusunan diagram ECFA, kriteria yang disarankan untuk mendeskripsikan event (kejadian) dan kondisi, dan pedoman dalam pengaplikasian Event and Causal Factor Analysis (ECFA) (Dinata, 2017).
2.6.1.2.1 Petunjuk Simbol Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
Adapun simbol-simbol yang digunakan dalam penyusunan diagram ECFA adalah sebagai berikut (Buys, 1995):
1. Event atau kejadian dilambangkan dengan persegi panjang, sedangkan kondisi digambarkan dalam oval.
Gambar 2.12 symbol event dan kondisi 2. Tiap-tiap event (kejadian) dihubungakan
dengan anak panah
Gambar 2.13 Cara menghubungkan antar event 3. Hubungan kondisi dengan kondisi yang lain,
atau kondisi dengan kejadian digambarkan dengan anak panah putus-putus
Gambar 2.14 cara menghubungkan antar kondisi, atau kondisi dengan event
4. Masing-masing events dan conditions dapat didasarkan pada keadaan yang sebenarnya atau dengan menggunakan asumsi awal terhadap events maupun conditions yang menyebabkan
terjadinya kecelakaan. Dimana hal ini dapat dilambangkan dengan garis terputus.
Gambar 2.15 Symbol asumsi event dan kondisi 5. Susunan atau urutan kejadian utama yang
menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan dapat digambarkan dengan menggunakan garis-garis horizontal yang ditebalkan dan dihubungkan dengan anak-anak panah.
Gambar 2.16 susunan kejadian utama dan ketebalan panah
6. Event (kejadian) harus digambarkan secara kronologi dari kiri ke kanan.
Gambar 2.17 arah peggambaran event (kejadian) 7. Susunan atau urutan kejadian pendukung, faktor
pendukung dan faktor faktor lain yang berada dalam suatu sistem yang saling terkait dapat digambarkan dengan garis horizontal pada level atau tingkatan yang berbeda, yang terletak di bawah atau di atas urutan kejadian utama.
Gambar 2.18 penempatan posisi kejadian pendukung, factor pendukung dan faktor faktor
lain.
8. Event (Kejadian) harus berurutan dalam progres yang logis mulai dari awal hingga akhir (inisiasi pra-kecelakaan, kecelakaan, dan perbaikan), dan mencakup semua yang terkait dengan kejadian.
Dalam hal ini perlu ditentukan awal dan akhir untuk setiap urutan kecelakaan. Analis sering menggunakan kecelakaan sebagai kejadian (Event) utama, dan dari kejadian utama tersebuat dilanjutkan ke-kedua arah untuk merekonstruksikan pra-kecelakaan dan pasca- kecelakaan
Gambar 2.19 Contoh diagram Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
2.6.1.2.2 Kriteria dalam Mendeskripsikan Event (Kejadian) dan Kondisi
Adapun kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam mendeskripsikan Event (Kejadian) adalah sebagai berikut (Buys, 1995):
1. Setiap Event (Kejadian) harus menjelaskan secara jelas apa yang terjadi dan bukan menjelaskan kondisi yang terjadi, contoh:
“dinding pipa pecah” bukan “pada dinding pipa terdapat celah atau retakan”.
2. Setiap Event (Kejadian) harus dijelaskan dengan kalimat pendek dengan satu kata kerja aktif.
3. Setiap Event (Kejadian) harus dijelaskan secara tepat.
4. Setiap Event (Kejadian) harus menjelaskan satu diskrit kejadian.
5. Setiap Event (Kejadian) jika memungkinkan harus dihitung secara matematis (angka).
6. Setiap Event (Kejadian) harus berkaiatan secara logis dengan kejadian sebelumnya ataupun kejadian sesudahnya (rantai kejadian). Jika kondisi ini tidak terpenuhi maka hal ini menunjukkan bahwa satu atau lebihlangkah- langkah dalam urutan kejadaian telah ditinggalkan atau terlewatkan.
7. Kondisi berbeda dengan Event (Kejadian), menggambarkan status atau kondisi bukan menggambarkan kejadian dan bersifat pasif.
Dalam prakteknya, kondisi harus tepat dijelaskan, dihitung bila memungkinkan, dilampirkan dengan waktu dan tanggal jika memungkinkan, dan diturunkan langsung dari kondisi sebelumnya
2.6.1.2.3 Pedoman Pengaplikaian Event and Causal Factor Analysis (ECFA)
Sebagai mana penjelasan yang dipaparkan Buys, terdapat tujuh tahapan dalam pengaplikasian Event and Causal Factor Analysis (ECFA), yaitu sebagai berikut (Buys, 1995):
1. Memulai lebih awal. Segera setelah mulai mengumpulkan informasi faktual tentang Event (Kejadian) dan kondisi yang berkaitan dengan kecelakaan, mulailah membuat bagan kerja (working chart) kejadian dan faktor yang menyebabkan kejadian.
2. Gunakan panduaan. Panduan yang dimaksud seperti yang telah diuraikan pada bagian 2.6.1.2.1 dan 2.6.1.2.2 diatas. Panduan tersebuat dimaksudkan untuk membimbing dalam penerapan secara sederhana alat investigasi ECFA ini.
3. Proses data secara logis. Umumnya Event (Kejadian) dan faktor yang menyebabkan kejadian tidak dapat langsung terlihat selama proses penyelidikan berlangsung. Awalnya akan banyak kekosongan dan kekurangan pada grafik yang dibuat, upayakan mengisi kekosongan ini dengan cara melacak secara akurat kejadian dan kondisi yang berkonstribusi, hal ini akan memperdalam penyelidikan dan akan mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya terkait.
4. Gunakan format yang mudah diperbarui. Sebagai antisipasi jikalau ditemukannya fakta-fakta baru yang mendukung investigasi maka penggunaan format chart yang fleksibel dan mudah diperbarui akan sangat membantu.
5. Korelasikan penggunaan ECFA dengan alat investigasi MORT lainnya. Optimalkan hasil investigasi ECFA dengan menggabungkannya dengan hasil investigasi alat investigasi kecelakaan berbasis MORT lainnya.
6. Pilih tingkatan yang sesuai dengan detail dan panjang urutan Untuk grafik ECFA.
7. Membuat ringkasan garfik yang ekslusif dan ringkas bila diperlukan. Dalam penyusunan
grafik ECFA akan banyak sekali mengandung detail-ditail sehingga membuat grafik ECFA yang disusun menjadi berukuran sangat besar dan sulit untuk dipahami pembaca, maka perlu adanya pengurangan detail-ditail tersebut namun tetap dapat menjelaskan hasil dari investigasi kecelakaan dan solusi bagi permasalahan secara baik dan tepat.
2.6.2 FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
Menurut (Gaspersz, 2002), FMEA ( Failure Mode Effect and Analysis) digunakan untuk menganalisa suatu permasalahan untuk menemukan sumber penyebab dari suatu masalah. FMEA merupakan tools untuk mengidentifikasi dan mencegah mode kegagalan (failure mode) dari defect, produk, sistem datau perubahan design suatu produk atau tools.
Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) adalah metodologi yang kuat dalm menganalisa dan mengidentifikasisuatu objek permasalahan (Wessiani, N. A., & Sarwoko, 2015). Metode FMEA sangat direkomndasikan oleh Standard Internasional sebagai metode untuk menganalisa human error dan kecelakaan kerja. Dengan menerapkan metode FMEA, perusahaan dapat mengurangi dan dapat mencegah human error atau kecelakaan kerja, resiko, dan kecacatan maupun kegagalan (Dyadem E, 2015). Berikut cakupan potensial kegagalan dari metode FMEA (Hanif, Richma Yulinda, 2015):
1. Penyebab kegagalan pada aktivitas atau proses.
2. Dampak kegagalan pada aktivitas atau proses.
3. Tingkat kegagalan pada aktivitas atau proses.
Berikut komponen utama pada FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).
1. Component adalah komponen utama atau input utama dalam proses, aktivitas atau sistem yang akan dianalisa.
2. Potential Failure Mode penyebab suatu aktivitas, operasi atau sistem mengalami kegagalan.
3. Failure Effect adalah efek atau dampak yang ditimbulkan.
4. Severity (S) merupakan tingkat keparahan kegagalan pada aktivitas
5. Causes merupakan penyebab kegagalan pada aktivitas 6. Occurance (O) adalah tingkat frekuensi terjadinya kegaglan
pada aktivitas
7. Detection (D) adalah tingkay deteksi kegagalan pada aktivitas
8. Risk Priority Number (RPN) merupakan parameter tolak ukur dari perkalian severity, occurance dan detection sebagai penilaian kegagalan aktivitas
2.6.2.1 Tahapan FMEA
Tahapan dalam metode FMEA adalah sebagai berikut : 1. Menentukan sistem
Tahap ini menentukan aktivitas atau proses yang akan dijadikan objek
2. Mengidentifikasi jenis kegagalan (Failure mode) Tahap ini mennetukan apasaja faktor yang menyebabkan kegagalan.
3. Mengidentifikasi efek kegagalan Tahap ini melakukan identifikasi efek dari kegagalan pada aktivitas yang mnyebabkan kecacatan atau human error (Stamatis, 1995).
4. Megidentifikasi penyebab kegagalan (failure of cause) Melakukan identifkasi apasaja faktor yang menyebabkan kegagalan pada aktivitas atau proses 5. Menentukan Severity (S)
Pengisian rating atau nilai severity didampingi oleh expert/ahli.
Tabel 2.1 Severity Score
Rating Kriteria
1 Tidak ada pengaruh 2
Berpengaruh ringan 3
4 5
Berpengaruh buruk 6
7
Berpengaruh buruk tinggi 8
9 Sangat Berpegaruh buruk tinggi
10
6. Menentukan Occurance (O)
Pengisian rating atau nilai occurance didampingi oleh expert/ahli.
Tabel 2.2 occurance rate
7. Menentukan Detection (D)
Pengisian rating atau nilai detection didampingi oleh expert/ahli.
Tabel 2.3 detection score Degree Rating Remote 1
Low 2
3
Moderate 4 5 6
high 7
8 very high 9 10
Kriteria Rating Degree
Metode pencegahan sanga efektif. Tida ada
kesempatan penyebab mungkin muncul. 1
Very high Kemungkinan penyebab terjadi sangat rendah 2
3 High
Kemungkinan penyebab terjadi bersifat moderat.
Metode pencegahan kadang memungkinkan penyebab itu terjadi.
4
5 Moderate
6 Low
Kemungkinan penyebab terjadi masih tinggi. Metode pencegahan kurang efektif. Penyebab masih berulang kembali.
7
8 Very Low
Kemungkinan penyebab terjadi masih tinggi. Metode pencegahan tidak efektif. Penyebab masih berulang kembali.
9
10 Absolutely Uncertainly
8. Menentukan nilai Risk Number Priority (RPN)
RPN merupakan parameter penilaian identifikasi error pada metode FMEA (Stamatis, 1995). Nilai RPN merupakan hasil perkaliam dari rating severity, occurance dan detection. Berikut rumus perhitungan RPN.
RPN = severity rating x occurance rating x detection rating = S x O x D