• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harni Sekolah Dasar Negeri Bakalan, Wonogiri, Indonesia *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Harni Sekolah Dasar Negeri Bakalan, Wonogiri, Indonesia *"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Vol.1, No.1, Maret 2020 Available online since 2019

Accessed online by http://journalindonesia.org/index.php/JIGI 56

Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar KPK dan FPB dengan Penggunaan Model Pembelajaran Problem Solving pada Siswa

Kelas IV Semester I SD Negeri Bakalan Tahun Pelajaran 2017/2018

Harni

Sekolah Dasar Negeri Bakalan, Wonogiri, Indonesia e-mail: *[email protected]

Abstrak

Tujuan Penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar KPK dan FPB dengan Penggunaan Model Pembelajaran Problem Solving pada Siswa Kelas IV Semester I SD Negeri Bakalan Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian dilakukan dalam dua siklus dengan prosedur tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Bakalan berjumlah 11 siswa. Sumber data, yang diambil dari hasil proses pembelajaran siswa dan hasil nilai tes. Data hasil observasi proses pembelajaran dianalisis hingga hasilnya dapat mencapai indikator kinerja kategori baik dengan 70 % siswa aktif mengikuti pembelajaran, sedangkan nilai hasil tes dianalisis dengan cara mendeskripsikan nilai tes antar siklus hingga hasilnya dapat mencapai batas tuntas sesuai dengan indikator kinerja, yakni minimal nilai tes mencapai KKM yaitu 70 dan target ketuntasan klasikal mencapai 80% atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pengunaan model pembelajaran Problem Solving pada materi KPK dan FPB, dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dari kondisi prasiklus rata-rata keaktifan siswa 27,27 %, naik menjadi 54,55 % di siklus I, dan meningkat menjadi 90,90 % di siklus II, Motivasi siswa dari kondisi prasiklus rata-rata motivasi siswa 52

%, naik menjadi 70,18 % di siklus I, dan meningkat menjadi 80,36% di siklus II Hasil belajar pada prasiklus siswa yang tuntas 3 siswa atau 27,27 %, naik menjadi 7 siswa tuntas atau 63,64

% di siklus I, kemudian meningkat menjadi 9 siswa tuntas atau 81,82 % di siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem solving dari kategori cukup menjadi kategori baik. terdapat peningkatan rata-rata motivasi belajar KPK dan FPB setelah diberikan model pembelajaran problem solving dari 52 % menjadi 80,36 %. terdapat peningkatan hasil belajar KPK dan FPB setelah diberikan model pembelajaran problem solving dari prasiklus rata-rata 51,82 siklus II menjadi rata-rata 75,45 dengan ketuntasan belajar siswa dari prasiklus 27,27% siklus II menjadi 81,82%.

Kata kunci: Model Pembelajaran Problem Solving; Proses pembelajaran; Motivasi; Hasil belajar KPK dan FPB

1. PENDAHULUAN

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Nomor 20 Pasal 3 disebutkan bahwa, fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(2)

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berkembangnya potensi peserta didik agar memenuhi kriteria Undang-Undang Nomor 20 Pasal 3 Sistem Pendidikan Nasional memerlukan sebuah proses. Proses tersebut dikatakan sebagai proses belajar. Proses belajar berlangsung dalam satuan pendidikan tertentu yang terdiri dari jalur formal, non-formal dan in-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Salah satu pendidikan dasar di jalur formal yaitu Sekolah Dasar (SPN 2011: 105- 6).

Pendidikan tidak terlepas dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya dilaksanakan sebaik-baiknya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Proses pembelajaran dalam setiap satuan pendidikan dasar dan menengah (Permendiknas No. 41 tahun 2007), yaitu dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Guru sebagai pendidik yang profesional seharusnya dapat mengupayakan hal tersebut. Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru seharusnya dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam belajar, dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa, dapat memotivasi siswa agar senang dalam belajar, dan memperhatikan karakteristik siswa.

Guru selain sebagai pendidik juga harus berperan sebagai motivator untuk anak didiknya agar siswa selalu merasa termotivasi untuk belajar mengingat pentingnya motivasi dalam pembelajaran itu penting bagi siswa. Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku (Uno 2012: 23). Motivasi yang diberikan guru dapat berupa penguatan seperti memberikan pujian atau hadiah (reward) kepada siswa.

Penguatan tersebut diberikan sebagai stimulan agar siswa termotivasi untuk lebih giat belajar dan berlomba untuk mendapat nilai yang tinggi. Dalam proses pembelajaran, model pembelajaran mempunyai peranan penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Model pembelajaran merupakan cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (Hamdani 2011: 80). Oleh karena itu, guru dalam membelajarkan materi harus menggunakan model pembelajaran yang dapat dipahami oleh siswa, sehingga siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan dengan mudah. Namun kenyataannya, guru masih sering menggunakan model pembelajaran pembelajaran yang konvensional seperti model pembelajaran ceramah untuk menyampaikan materi, sedangkan materi dalam matematika adalah konsep yang bersifat abstrak. Model pembelajaran ceramah yang digunakan guru dalam menyampaikan konsep yang abstrak membuat siswa SD yang masih berpikir konkret sulit untuk memahami materi.

Pelaksanaan pembelajaran di jenjang pendidikan terutama di sekolah dasar (SD), kurikulum yang digunakan untuk mengatur proses pendidikan dan kegiatan di SD yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di dalam KTSP, Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diberikan kepada siswa. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua siswa khususnya siswa SD untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Menguasai kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif di masa depan, maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini dan pembelajaran yang membuat siswa belajar dan menjadi bermakna.

Membelajarkan matematika, sudah seharusnya guru memberikan pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran matematika tersebut sebagaimana yang tercantum dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yaitu agar siswa mampu memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, menggunakan penalaran pada pola dan

(3)

sifat, melakukan manipulasimatematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, ataumenjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh, mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, ataumedia lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalamkehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalammempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dijabarkan bahwa tujuan pembelajaran matematika bagi siswa adalah agar siswa dapat memahami konsep matematika dan dapat menjelaskan keterkaitan antar konsep. Siswa juga dapat mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah dengan tepat sehingga mampu menafsirkan dan mengkomunikasikannya kedalam bahasa yang mudah dipahami dan menanamkan kepada siswa untuk berpikir kreatif dan berprilaku ilmiah yang kritis dan mandiri sehingga siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya proses pembelajaran yang mendukung.

Matematika Kelas IV semester I sekolah dasar terdapat materi SK 2 Memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah. KD 2.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Materi KPK dan FPB merupakan materi yang wajib di pahami oleh siswa. Karena materi ini akan berlajut sampai pada kelas diatasnya. Pembelajaran KPK dan FPB, siswa perlu memahami secara mendalam. Karena perlu memahami maksud dari soal cerita agar dapat menjawab dengan benar. Pada pembelajaran KPK dan FPB dibutuhkan model pembelajaran yang tepat agar motivasi dan hasil belajar siswa meningkat.

Kondisi pembelajaran matematika yang kurang kondusif terjadi dalam pembelajaran di kelas IV SD Negeri Bakalan. Berdasarkan observasi siswa kelas IV tersebut diperoleh informasi bahwa pembelajaran matematika materi KPK dan FPB, belum menggunakan model pembelajaran pembelajaran yang tepat terutama pada penyelesaian soal cerita. Hal tersebut mengakibatkan masih banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran matematika.

Kurangnya motivasi siswa terlihat dari respon siswa ketika guru memberikan pekerjaan rumah (PR) beberapa siswa tidak mengerjakan bahkan ada juga yang mengerjakan di kelas, masih banyak siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru ditandai dengan masih banyaknya siswa yang bermain-main sendiri dengan teman sebangkunya, dan semangat belajar siswa yang masih rendah terlihat dari kurangnya antusias siswa dalam merespon pertanyaan dari guru. Nilai KKM yang harus diperoleh siswa kelas IV pada mata pelajaran Matematika sekurang- kurangnya 70. Data ulangan harian kelas IV tahun pelajaran 2017/2018 menunjukkan bahwa dari 11 siswa adalah sebanyak 1 siswa yang mendapat nilai 80, sebanyak 2 siswa yang mendapat nilai 70, sebanyak 4 siswa yang mendapat nilai 50, dan sebanyak 3 mendapat nilai 40.

Kesimpulan dari data ulangan siswa tersebut hanya 3 siswa atau sekitar 27,27% yang dapat mencapai KKM, sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM sebanyak 8 siswa atau sekitar 72,73% pada materi KPK dan FPB. Padahal suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila siswa mencapai ketuntasan minimum 80%.

Berdasarkan observasi penyebab kegagalan belajar matematika selain disebabkan karena materi yang sulit, juga karena dalam pelaksanaan pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru, masih banyak menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru.

Guru lebih banyak menggunakan model pembelajaran ceramah dan drill yang cenderung membosankan bagi siswa. Siswa merasa kurang termotivasi terhadap pembelajaran matematika, karena siswa kurang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, kebanyakan siswa juga terlihat tidak antusias mengikuti pelajaran. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa.

Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan dalam Heruman (2012: 43) menyatakan bahwa KPK dan FPB merupakan salah satu topik yang sulit untuk diajarkan. Kesulitan itu terlihat dari kurang bermaknanya kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru, dan sulitnya pengadaan media pembelajaran. Adanya media

(4)

dan penggunaan model pembelajaran yang tepat untuk membelajarkan materi KPK dan FPB, kemungkinan hasil belajar siswa akan lebih meningkat dibandingkan dengan yang membelajarkan tanpa media dan dengan menggunakan model pembelajaran ceramah saja.

Prinsip pembelajaran yang dikutip oleh Sugandi dkk (2007: 35) mengemukakan bahwa proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subjek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif siswa, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa belajar sendiri, misalnya melakukan percobaan, memanipulasi simbol-simbol, mengajukan pertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.

Berdasarkan prinsip pembelajaran tersebut, peneliti memilih model pembelajaran pemecahan masalah. Model pembelajaran problem solving merupakan suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan suatu masalah atau persoalan dalam rangka pencapaian tujuan belajar (Hamdani, 2011:84). Dengan menggunakan model pembelajaran problem solving ketika membelajarkan matematika terutama pada soal cerita siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran, siswa juga tidak hanya bergantung pada apa yang disampaikan guru tetapi dapat memecahkan persoalan yang dihadapinya sendiri, selain itu model pembelajaran pemecahan masalah juga dapat meningkatkan performansi guru karena dalam membelajarkan materi guru tidak hanya berperan sebagai pusat pembelajaran tetapi juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Dengan menggunakan model pembelajaran problem solving juga dapat memberikan ingatan yang lebih kepada siswa untuk dapat menyelesaikan soal dalam bentuk cerita daripada menggunakan model pembelajaran ceramah dan tanya jawab, karena dalam pembelajaran model pembelajaran pemecahan masalah merupakan salah satu pembelajaran konstruktivisme yang berarti siswa dapat menemukan dan membentuk pengetahuannya sendiri dengan dibimbing oleh guru. Proses menemukan itu siswa mempunyai langkah-langkah atau strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah atau persoalan yang dihadapinya, sehingga siswa akan lebih mengingat langkah-langkah penyelesaian tersebut dan akan menerapkannya lagi ketika menghadapi suatu persoalan yang sama.

Penggunaan model pembelajaran problem solving tersebut diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dedik Subroto (2016). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika melalui model pembelajaran pembelajaran problem solving siswa kelas 4 SDN Ngrawan 02 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang semester II tahun ajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Model penelitian tindakan kelas yang digunakan model Arikunto dengan menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yaitu: 1).

Tahap perencanaan tindakan. 2). Pelaksanaan tindakan dan pengamatan. 3). Kegiatan refleksi.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN Ngrawan 02 Getasan Kab. Semarang yang berjumlah 21 siswa.penilitian ini terdapat 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan.

Teknik pengumpulan data adalah teknik tes dan non tes. Instrumen penilaian yang digunakan menggunakan butir soal dan lembar observasi.pada pra siklus nilai rata-rata hasil belajar adalah 60,8, pada siklus 1 nilai rata-rata hasil belajar 74, dan nilai rata-rata hasil belajar pada siklus 2 adalah 83.1. hasil siklus 2 lebih tinggi dari indikator PTK.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti akan mengadakan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar KPK dan FPB dengan Penggunaan Model Pembelajaran Problem Solving pada Siswa Kelas IV Semester I SD Negeri Bakalan Tahun Pelajaran 2017/2018”.

2. METODE PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian

(5)

Penelitian dilakukan selama 6 bulan, dimulai bulan Juli sampai Desember 2017.

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Bakalan Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri pada siswa kelas IV semester 1 tahun pelajaran 2017/2018.

2.2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa Kelas IV SD Negeri Bakalan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018 sejumlah 11 peserta didik dengan distribusi siswa laki-laki 6 siswa dan siswa perempuan ada 5 siswa. Alasan penentuan subyek adalah karena para siswa merupakan anak didik yang diteliti oleh peneliti, yang mana pada materi pembelajaran Matematika tentang KPK dan FPB nilai rata–rata kelas berada di bawah KKM. Hal ini menjadikan problem yang harus segera diatasi supaya kegiatan pembelajaran menjadi lancar dan siswa berhasil mencapai tujuan yang diharapkan.

Gambaran umum untuk siswa kelas IV SD Negeri Bakalan yakni mereka adalah anak–

anak yang tinggal di daerah pedesaan. Anak-anak dirumah terbiasa belajar sendiri dikarenakan orang tua mereka lebih sibuk dalam bertani. Motivasi belajar mereka rendah sehingga hasil belajar pun rendah. Objek penelitian adalah motivasi dan hasil belajar siswa tentang KPK dan FPB.

2.3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Pada laporan ini, data dikumpulkan dengan melalui tes, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi.Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis mengerjakan soal-soal opersi hitung penjumlahan dan pengurangan. Pada obeservasi, hal ini yang diamati adalah kemampuan anak dalam memecahkan masalah melalui model pembelajaran problem solving, semangat dan partisipasi peserta didik dalam mengikuti KBM. Instrumen Observasi yang digunakan berupa kriteria pencapain indikator kinerja yaitu pedoman penskoran dengan rentang skala kecil 1–5 untuk tiap aspek yang diobservasi. Pada saat melakukan penelitian, guru mencatat berbagai hal yang dianggap penting untuk dijadikan sebagai data tambahan dalam penelitian guna mendukung analisis data. Catatan lapangan merupakan gambaran umum yang mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi mencakup referensi dan perhatian diarahkan pada hal yang dianggap menarik seperti apersepsi, tanya jawab, pembagian kelompok, diskusi, mengoreksi hasil kerja kelompok lain, refleksi, dan penugasan.Wawancara dilakukan dengan beberapa peserta didik untuk mengetahui seberapa besar motivasi peserta didik dalam materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan sebelum dan sesudah penggunaan metode problem solving. Dokumentasi yang digunakan berupa skor penilaian sebelum dan sesudah dilaksanakan metode demonstrasi pada materi Mengenal operasi hitung penjumlahan dan pengurangan dan foto-foto pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas.

2. Alat Pengumpuan Data

a. Dokumen yang berupa catatan tentang hasil belajar pada saat belum diadakan tindakan (kondisi awal).

b. Lembar observasi berupa lembar pengamatan dengan mengamati siswa saat pembelajaran pada setiap siklus.

c. Butir soal untuk tes tertulis tentang hasil belajar materi menentukan pokok pikiran dalam teks lisan dan tulis.

d. Wawancara berupa pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran.

e. Catatan lapangan berupa hasil catatan tertulis tentang gambaran umum apa yang didengar, dilihat, dialami, dan penafsiran subjektif dalam rangka pengumpulan data dan refleksi dalam penelitian.

2.4. Validasi Data

Instrumen yang dipakai dalam penelitian meliputi Silabus, RPP, lembar kegiatan siswa, lembar observasi proses, lembar observasi guru dan siswa dan tes formatif.

(6)

2.5. Analisa Data

Penelitian ini, menggunakan analisis deskriptif, yaitu analisis deskriptif komparatif dengan membandingkan nilai tes antar siklus dan indikator kinerja. Analisis data dilakukan sejak awal sampai akhir penelitian yang, merupakan kesatuan tak terpisahkan antara tahap pengumpulan data dan analisis data (Sayekti Pujosuwarno, 1995:6). Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif prosentase. Data hasil observasi dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi tiap siklus.

2.6. Indikator Kinerja

Pada bagian akhir penelitian tindakan kelas IV ini telah ditentukan target sebagai berikut:

1. Proses Pembelajaran Peserta Didik

Proses pembelajaran merupakan faktor terpenting dari keberhasilan suatu pembelajaran.

Target yang ingin dicapai pada proses pembelajaran penelitian ini adalah dari pembelajaran yang kurang baik menjadi pembelajaran yang baik. Kategori proses pembelajaran didasarkan dengan prosentase banyaknya peserta didik yang aktif mengikuti pelajaran. Berikut ini kategori proses pembelajaran peserta didik:

a. Kurang < 25 % b. Sedang 26 % - 49 % c. Cukup 50 % - 75 % d. Baik 76 % - 100 % 2. Motivasi Peserta Didik

Target yang diharapkan dalam motivasi peserta didik tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan dari bermotivasi sedang pada kondisi awal meningkat menjadi rata-rata bermotivasi minimal tinggi pada kondisi akhir ( Akhir siklus 2 ). Indikator bermotivasi sangat tinggi apabila hasil pengamatan selama tindakan memenuhi standar penilaian dalam rentang minimal angka 16 - 20 (tinggi ), nilai tersebut dirujuk dari keterangan rentang penilaian sebagai berikut :

a. Sangat tinggi : 21 – 25 b. Tinggi : 16 – 20 c. Sedang : 11 – 15 d. Rendah : 5 - 10

Kriteria pengamatan untuk mengambil data motivasi siswa mengerjakan soal-soal matematika KPK dan FPB sebagai berikut :

a. Tekun menghadapi tugas ( Skor 1 – 5 ) b. ulet menghadapi kesulitan ( Skor 1 – 5 )

c. menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah (Skor 1– 5 ) d. tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas rutin ( Skor 1 – 5 )

e. Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan ( Skor 1 – 5 ) Terdapat 5 indikator dengan skor minimal 5 dan total skor akhir maksimal adalah 25.

Kriteria pemberian skor menggunakan rubrik sebagai berikut : a. Skor 1 = Tidak pernah

b. Skor 2 = Jarang

c. Skor 3 = Kadang – kadang d. Skor 4 = Sering

e. Skor 5 = Selalu

3. Hasil Belajar Peserta Didik

Nilai individu peserta didik diperoleh dengan membandingkan skor dasar peserta didik (rata-rata nilai dasar sebelumnya) dengan nilai sekarang. Peningkatan hasil belajar peserta didik juga ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata pada setiap siklus. Dari data perolehan skor untuk tiap tes, rata-rata nilai peserta didik dapat diketahui dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

(7)

Target yang diharapkan dalam hasil prestasi siswa tentang KPK dan FPB adalah dari rata – rata 51,82 ( kurang ) pada kondisi awal, pada akhir siklus ( akhir siklus 2 ) diharapkan meningkat menjadi:

a. Nilai hasil tes mencapai KKM 70 ; b. Rata - rata kelas dengan nilai tes 75 ;

c. Target ketuntasan klasikal minimal mencapai 80 %.

SD Negeri Bakalan menetapkan bahwa setiap mata pelajaran memiliki KKM yang berbeda. Penghitungan panjang interval kelas menggunakan penetapan lebih dari satu KKM.

KKM mata pelajaran Matematika adalah 70, sehingga predikat nilai cukup, dimulai dari nilai 70. Predikat di atas cukup adalah baik dan sangat baik. Angka 3 diperoleh dari jumlah predikat selain kurang, yaitu cukup, baik, dan sangat baik. Berdasarkan ketentuan tersebut maka panjang interval nilai untuk mata pelajaran Matematika dapat dihitung menggunakan cara sebagi berikut:

Panjang Interval Kelas = Panjang Interval Kelas = Panjang Interval Kelas = Panjang Interval Kelas = 10

Sehingga panjang interval kelas untuk setiap predikat adalah 10. Berikut ini tabel 2 rentang predikat nilai untuk mata pelajaran Matematika.

Tabel 1 Rentang Predikat Nilai mata pelajaran Matematika

No Rentang Interval Predikat

1. 91 - 100 Sangat Baik

2. 81 - 90 Baik

3. 70 - 80 Cukup

4 < 70 Kurang

2.7. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus, dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Gambar 1 Pelaksanaan Tindakan dalam Dua Siklus 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Kondisi Awal

(8)

SD Negeri Bakalan merupakan sekolah yang terletak di pinggir perkampungan penduduk di dusun Bakalan. Penelitian mengambil sebagai subyek peneliti adalah siswa kelas IV SD Negeri Bakalan Semester I tahun pelajaran 2017 / 2018. Jumlah siswa adalah sejumlah 11 peserta didik dengan distribusi siswa laki-laki 6 siswa dan siswa perempuan ada 5 siswa.

Gambaran umum untuk siswa kelas IV SD Negeri Bakalan yakni mereka adalah anak – anak yang tinggal di dusun Bakalan, Petir, Jubleg dan Planjen. Latar belakang kemampuan siswa adalah empat anak berkemampuan cukup pandai, dan tujuh anak berkemampuan rendah. Hal ini menimbulkan masalah bagi siswa dan guru. Akibatnya motivasi dan hasil belajar siswa relatif rendah.

Materi pembelajaran Matematika kelas IV merupakan materi dasar yang akan di kembangkan di kelas diatasnya. Sistem guru kelas yang mana seorang guru memegang penuh semua mata pelajaran juga merupakan kendala yang terjadi, sebab guru menjadi kurang fokus mendalami mata pelajaran yang jumlahnya banyak tersebut. Akibatnya hasil hasil belajar siswa yang dicapai kurang begitu memuaskan.

Mata pelajaran Matemati SD Kelas IV Semester I terdapat materi pada salah satu SK 2.

Memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah, KD yaitu 2.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Materi tersebut memuat tentang penyelesaian masalah-masalah yang bekaitan dengan KPK dan FPB. Tujuan pembelajaran KD 2.4 adalah untuk memberi contoh kegiatan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan FPB dan KPK, membedakan soal cerita yang dapat diselesaikan dengan FPB dan KPK, menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan FPB dan KPK. Peserta didik dituntut untuk memahami masalah yang muncul dari setiap soal yang berkaitan dengan KPK dan FPB.

3.2. Deskripsi Siklus I

Bagian proses meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan kegiatan akhir. Tahap perencanaan dimulai dengan mengidentifikasi kondisi awal. Berdasarkan kondisi awal guru merencanakan skenario pembelajaran yang terdiri dari 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Setiap pertemuan menggunakan metode pembelajaran problem solving. Pertemuan pertama siklus 1 difokuskan pada memahami masalah dalam soal yang berkaitan dengan KPK dan FPB serta penyelesaiannya, sedangkan siklus 2 difokuskan pada pendalaman materi dilanjutkan Tes.

Pelaksanaan tindakan direncanakan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dirinci sebagai berikut identitas RPP memuat Satuan Pendidikan, mata pelajaran, kelas/

semester, hari/tanggal pelaksanaan dan alokasi waktu. Standar kompetensi yang diajarkan terdiri dari memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah. Berikut ini pelaksanaan kegiatan inti pada siklus 1, dapat dilihat pada gambar 2.

(a) Guru menjelaskan materi secara klasikal (b) Siswa terlihat memperhatikan Gambar 2 (a) dan (b) Kegiatan Inti siklus 1

Guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok dan memberikan mereka 2 soal yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Setiap kelompok berdiskusi untuk mengerjakan soal tersebut sesuai langkah-langkah model pembelajaran problem solving diatas dengan dibimbing guru.

(9)

Kelompok lain menanggapi dengan memberi pertanyaan, kritik maupun saran. Terlihat pada gambar 3 guru sedang mengamati motivasi peserta didik selama kegiatan pembelajaran.

(c) Siswa memahami masalah yang muncul (d) Siswa saling berdiskusi membuat rencana penyelesaian

Gambar 3 (a) dan (b) Kegiatan pembelajaran yang menerapkan metode problem solving 3.3. Deskripsi Siklus II

Skenario pembelajaran siklus 2 difokuskan pada materi memahami masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Siklus 2 terdiri dari 2 pertemuan. Pertemuan pertama dikhusukan untuk memahami soal KPK dan FPB sesuai langkah-langkan pada model pembelajaran problem solving sedangkan pertemuan kedua digunakan untuk uji kompetensi.

Pelaksanaan tindakan direncanakan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). . Berikut ini pelaksanaan kegiatan inti pada siklus 2, dapat dilihat pada gambar 4.

(a) Guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok.

(b) Guru memantau siswa dalam berdiskusi

Gambar 4 (a) dan (b) Kegiatan Inti siklus 2 3.4. Pembahasan

Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran pada pra siklus, siklus dan siklus 2 peserta didik yang aktif sebesar 27,27 % pada pra siklus, kemudian meningkat menjadi 54,55 % pada siklus 1 dan menjadi 90,90 % pada pembelajaran siklus 2.

Pembahasan hasil penelitian pada penelitian ini fokus pada dua variabel yaitu motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik berikut ini pembahasannya. Guru menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi pada peserta didik pada kegiatan prasiklus. Para peserta didik terlihat tertarik, tenang dan situasi berjalan lancar pada beberapa menit pertama. Peserta didik mulai terlihat malas ketika guru meminta mereka mencoba mengerjakan soal latihan.

Terlihat saat mengerjakan ada yang serius ada yang cepat menyerah. Proses pembelajaran berlangsung secara satu arah, guru aktif menjelaskan sedangkan peserta didik pasif, sehingga peserta didik merasa bosan dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran.

(10)

Guru menjelaskan materi secara klasikal pada menit berikutnya. Beberapa peserta didik terlihat ramai sehingga membuat kondisi pembelajaran kurang kondusif. Pada saat guru memberikan tugas untuk mengerjakan LKS, peserta didik terlihat asal dalam menjawab pertanyaan karena mereka hanya ingin cepat selesai. Bahkan diantara mereka terlihat tengok kanan kiri untuk menyontek pekerjaan teman. Dalam proses pembelajaran banyak peserta didik yang belum termotivasi untuk belajar sehingga masih banyak dari mereka yang belum mendapat hasil belajar yang baik (tuntas, mencapai indikator minimal), meskipun sebelumnya guru telah menjelaskan materi pelajaran dengan penyajian menggunakan metode ceramah. Terlihat saat pembelajaran berlangsung, siswa sebagian ada yang serius mengikuti dan ada sebagian yang kurang antusias. Proses pembelajaran berlangsung secara satu arah, guru aktif menjelaskan, siswa sangat pasif. Siswa merasa bosan dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran.

Guru mengadakan wawancara dengan peserta didik untuk mencari informasi penyebab rendahnya motivasi dan prestasi belajar dari kegiatan pembelajaran prasiklus yang telah dilakukan. Kegiatan wawancara dilakukan di kelas IV SD N Bakalan. Hasil wawancara ternyata peserta didik merasa jenuh dengan kegiatan pembelajaran sehingga tidak bersemangat dalam belajar. Peserta didik malas untuk mengerjakan soal karena merasa soal sulit untuk dipahami dan berakibat pada rendahnya prestasi belajar.

Kegiatan Siklus 1 pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Setiap kegiatan yang dilakukan para siswa diamati untuk mengetahui sejauh mana motivasi yang dimiliki para siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan berkelompok menjadikan para siswa lebih teratur dan tertib, namun masih ada juga siswa yang mengobrol dengan teman. Beberapa siswa yang menguasai materi terlihat lebih aktif karena mempunyai rasa percaya diri tinggi. Sedangkan siswa yang belum begitu menguasai materi terlihat masih pasif dalam kegiatan pembelajaran.

Guru mulai menerapkan model pembelajaran mengajar problem solving. Pada awal perkenalan, guru memperkenalkan model pembelajaran dengan menjelaskan langkah-langkahnya. Peserta didik merespon model tersebut dengan tanggapan yang positif. Mereka sangat tertarik karena penerapan model ini siswa akan mampu memahami maksud dari soal.

Guru melakukan wawancara setelah pelaksanaan siklus 1 berakhir. Apakah ada peningkatan motivasi dan prestasi belajar denagn adanya penerapan metode mengajar problem solving? Apakah kegiatan pembelajaran yang dilakukan sangat menyenangkan atau bahkan sangat menjemukan? Hasil wawancara ternyata peserta didik sudah tidak jenuh dengan kegiatan pembelajaran sehingga bersemangat dalam belajar. Peserta didik tidak malas untuk mengerjakan soal-soal cerita yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Peserta didik mudah memahami masalah dalam soal tersebut. Keadaan ini membuat hasil belajar mereka juga meningkat walaupun belum maksimal sesuai target yang ditetapkan.

Kegiatan Siklus 2 juga dilaksanakan secara berkelompok. Para peserta didik jauh lebih teratur dan tertib. Peserta didik yang ramai sudah tidak terlihat . Seluruh peserta didik terlihat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Antusias mengerjakan soal KPK dan FPB. Peserta didik sudah mulai mampu mengetahui ciri-ciri soal yang dapat dikerjakan dengan KPK dan soal yang dikerjakan dengan FPB. Peserta didik juga sangat bersemangat dalam mengerjakan tugas dari guru, baik latihan soal maupun uji kompetensi. Peserta didik terlihat tidak sabar melihat hasil tes kompetensi mereka.

Guru tidak lupa melakukan wawancara setelah Siklus 2 berakhir. Wawancara dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemajuan perkembangan tingkat motivasi dan perstasi belajar peserta didik setelah diterapkan metode problem solving pada siklus 1 dan Siklus 2. Hasil wawancara ternyata peserta didik sudah tidak jenuh dengan kegiatan pembelajaran sehingga bersemangat dalam belajar. Peserta didik tidak malas mengerjakan soal soal KPK dan FPB.

Peserta didik menjadi mudah memahami dan mengetahui ciri-ciri soal yang diselesaikan dengan KPK dan soal yang perlu diselesaikan dengan FPB. Keadaan ini membuat Hasil belajar mereka juga meningkat sesuai target yang ditetapkan.

Data prasiklus menunjukkan rata-rata skor motivasi belajar 13 dengan prosentase sebesar 52 % termasuk kategori sedang (belum memenuhi target). Data tersebut naik pada siklus

(11)

1 yang menunjukkan hasil pengamatan motivasi belajar rata–rata skor 17,55 dengan prosentase 70,18 %. Hasil pengamatan tersebut masuk dalam kategori tinggi. Hasil pengamatan motivasi Siklus 1 terlihat mengalami kenaikan lagi pada siklus 2 yang menunjukkan rata-rata skor motivasi belajar 20,09 dengan prosentase sebesar 80,36 %. Sesuai yang diharapkan terjadi peningkatan hasil motivasi peserta didik sehingga termasuk kategori sangat tinggi. Lebih jelasnya rekap secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar 5 berikut.

Gambar 5 Rekap Hasil Pengamatan Motivasi Peserta didik Prasiklus, Siklus I dan Siklus II Nilai Hasil belajar yang diperoleh dari hasil tes dari kondisi prasiklus ke siklus 1 kemudian ke siklus 2 mengalami kenaikan yaitu dari rata-rata pada kondisi prasiklus naik menjadi rata-rata di siklus 1 kemudian naik menjadi rata-rata di siklus 2. Peningkatan ketuntasan siswa juga terjadi kenaikan dari peserta didik atau % menjadi peserta didik atau % pada siklus 1 dan menjadi peserta didik atau % peserta didik tuntas. Gambaran lebih jelas dapat dilihat pada gambar 6 peningkatan rata-rata nilai tes hasil belajar dan prosentase ketuntasan belajar siswa berikut.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Prasiklus Siklus I Siklus II

Nilai Rata-rata Ketuntasan

Gambar 6 Rekap Nilai Tes Hasil Belajar dan Ketuntasan Prasiklus, Siklus 1 dan Siklus 2

4. KESIMPULAN

(12)

Dengan selesainya penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui pengunaan model pembelajaran Problem Solving pada materi KPK dan FPB, dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dari kondisi prasiklus rata-rata keaktifan siswa 27,27 %, naik menjadi 54,55 % di siklus I, dan meningkat menjadi 90,90 % di siklus II, Motivasi siswa dari kondisi prasiklus rata-rata motivasi siswa 52 %, naik menjadi 70,18 % di siklus I, dan meningkat menjadi 80,36% di siklus II Hasil belajar pada prasiklus siswa yang tuntas 3 siswa atau 27,27 %, naik menjadi 7 siswa tuntas atau 63,64 % di siklus I, kemudian meningkat menjadi 9 siswa tuntas atau 81,82 % di siklus II. Terdapat peningkatan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem solving dari kategori cukup menjadi kategori baik. (2) Terdapat peningkatan rata-rata motivasi belajar KPK dan FPB setelah diberikan model pembelajaran problem solving dari 52 % menjadi 80,36 %. (3) Terdapat peningkatan hasil belajar KPK dan FPB setelah diberikan model pembelajaran problem solving dari prasiklus rata-rata 51,82 siklus II menjadi rata-rata 75,45 dengan ketuntasan belajar siswa dari prasiklus 27,27% siklus II menjadi 81,82%.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Abimanyu, Soli, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

[2] Aisyah, Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

[3] Anni, Tri Catharina, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.

[4] Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:

Bumi Aksara.

[5] Ayudwiprat. 2012. FaktorEksternal yang Mempengaruhi Hasil Belajar. Online.

[6] Aqib, Zainal, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

[7] Barb dan Quinn. 2010. The Models Used by Elementary School Teachers to Solve Verbal Problems.Australian Journal of Teacher Education. 35: 26-40.

[8] BSNP. 2007. Pedoman Penilaian Hasil Belajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas [9] Fatchiyat. 2012.Kinerja Guru. Online.

[10] Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia.

[11] Hamzah.2012. Teori Motivasi dan Pengukurannya.Jakarta: Bumi Aksara.

[12] Heruman. 2012. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

[13] Ismail, Muh Ilyas. (2009). Kinerja dan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran.

[14] Marriam- Webster. Five key ingredients for improving student motivation. Research in Higher Education Journal. 2-23.

[15] Muhsetyo, Gatot, dkk. 2009. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen pendidikan Nasional.

[16] Mulyasa.2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

[17] Narenday, Muh. Panji. 2009. Peningkatan Pembelajaran Siswa Kelas III SDNKaliwadas 03 Materi Pokok Soal Cerita Memuat Pengerjaan Hitung Campuran Dengan Metode Pemecahan Masalah. Skripsi Universitas Negeri Semarang.

[18] Pusat Pengembangan PPL. 2012. Pedoman PPL Universitas Negeri Semarang. Semarang:

Mendiknas.

[19] Sardiman. 2011. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

[20] Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

[21] Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

[22] Sugandi, Achmad, dkk. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES.

(13)

[23] Sugihartono dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

[24] Suheni. 2010. Peningkatan hasil belajar siswa kelas IV Materi Pokok Soal Cerita Hitung Campuran Dengan Metode Pemecahan Masalah Di SD negeri Ciawi Banjarharja Brebes.

Skripsi Universitas Negeri Semarang.

[25] Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:

Bumi Aksara.

[26] _____. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

[27] _____. 2011. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[28] Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM.

Jakarta: Bumi Aksara.

[29] Yusfy. 2011. Pengertian Aktivitas Belajar. Online.

Referensi

Dokumen terkait

Proses belajar seperti inilah yang diharapkan dapat dikembangkan melalui penerapan strategi math talk di kelas sehinga peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis?. Seseorang

Variabel advertising, sales promotion, personal selling, direct marketing dan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan customer membeli cat minyak merek Avian

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang be rjudul “Analisis Faktor -Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan pada

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Selain melihat dampak panen raya terhadap nilai tukar juga dapat dilihat bagaimana pola konsumsi rumah tangga akan bahan makanan seperti beras, ikan,. telur, minyak goreng, gula,

Kegiatan yang dilakukan adalah menganalisis keselarasan pola fungsi, kategori dan peran dalam teks terjemahan Al-Quran yang mengandung etika berbahasa yang telah dikaji

Karena tujuan etnografi adalah mendeskripsikan kebuda- yaan dalam bahasanya informan, maka etnografer harus mendorong informan ter- sebut berbicara dengan cara yang

Keluarga yang sudah memiliki internet perlu mendidik anggota keluarga yang lain agar menggunakan internet secara terencana, sehingga mereka menggunakan seluruh akal