• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Perancangan Bangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "3. Perancangan Bangunan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

3. Perancangan Bangunan

3.1. Pendekatan Perancangan

Dalam proyek gedung pendidikan ini pendekatan yang saya ambil adalah pendekatan perilaku anak, hal ini dilakukan karena bangunan ini merupakan bangunan sekolah yang pada kenyataannya, pengguna utamanya adalah murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang berusia 4 tahun hingga 12 tahun.

Dipilihnya pendekatan ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan untuk pengguna bangunan, terutama untuk murid-murid di sekolah ini agar pelaksanaan belajar mengajar dapat lebih lancar dan pelajaran yang diajarkan lebih cepat diserap siswa-siswinya.

Pengaplikasian pendekatan tersebut ke dalam rancangan bangunan gedung pendidikan ini, adalah dari massa bangunan itu sendiri dengan pola dan perilaku anak. Secara keseluruhan pendekatan perilaku anak ini diterapkan ke dalam tiap detail dari unsur unsur arsitektural pada bangunan misalnya dari zoning ruang, bentuk sirkulasi, ornamen - ornamen pada bangunan seperti railing, pemilihan denah, pemilihan material, texture dan unsur unsur fasade bangunan.

Pada perkembangannya dapat juga digunakan pada pemilihan interior bangunan, bentuk plafon dan pola lantai.

3.2. Landasan Konseptual

Konsep dasar dari gedung sekolah ini, diambil dari perilaku anak-anak Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (usia 4 hingga 12 tahun), mengingat gedung sekolah ini bertujuan untuk mangembangkan bakat dan minat anak agar skill / bakat mereka terasah di samping mengembangkan ilmu dan pengetahuan umum. Menurut beberapa pakar dan psikolog terkenal seperti:

a. Frobel :

Bermain merupakan sarana untuk belajar. Dalam suasana bermain perhatian anak terhadap pelajaran dapat lebih besar. Oleh karena itu,

(2)

pelajaran yang diberikan lewat permainan akan lebih menarik dan menyenangkan hati anak sehingga hasilnya akan lebih baik.

b. J. Piaget :

Bermain sebagai kegiatan berulang-ulang demi kesenangan. Bila kegiatan belajar dilakukan dalam suasana bermain, anak akan lebih menikmati dan senang hatinya, tidak merasa terpaksa. Dengan demikian, anak terdorong dan bersemangat untuk belajar.

c. Montessori :

Kegiatan bermain sebagai latihan jiwa dan badan demi kehidupan anak di masa depan. Berbagai permainan yang dilakukan anak merupakan latihan atas berbagai tugas dan fungsi yang akan dijalani di waktu yang akan datang.

Dari pendapat dan hasil penelitian pakar – pakar tersebut kesimpulan yang dapat diambil adalah pentingnya bermain dalam proses pendidikan agar pelajaran lebih mudah diserap dan agar sekolah dapat menjadi lebih menyenangkan sehingga anak-anak tidak merasa takut dan malas ke sekolah karena sekolah pada umumnya memberlakukan peraturan yang kaku dan keras.

Konsep dasar gedung pendidikan ini diambil dari kesimpulan yang saya ambil tersebut, yaitu: BERMAIN. Bermain memiliki karakter seperti : bersifat luwes, ceria, tidak membosankan, ceria, menyenangkan / tidak menimbulkan perasaan tertekan, punya fokus, dan punya aturan tertentu. Sifat – sifat ini yang nantinya diterapkan dalam bentuk bangunan, zoning ruang, bentuk sirkulasi, ornamen ornamen pada bangunan seperti railing, pemilihan material, tekstur dan unsur unsur fasade bangunan. Pada perkembangannya dapat juga digunakan pada pemilihan interior bangunan, bentuk plafon dan pola lantai.

3.3. Aplikasi pada Perancangan Bangunan

3.3.1. Bentuk Massa

Proyek sarana edukasi ini memiliki 5 massa utama, yaitu bangunan entrance, gedung TK, gedung SD, gedung penunjung, dan servis.

(3)

2 Keterangan :

1 1. Bangunan Entrance

2. Gedung TK

3. Gedung SD

3 5 4. Gedung Panunjang 4 5. Bangunan Servis

Gambar 3.1 Massa Bangunan

Pada dasarnya, bentukan untuk gedung - gedung ini mengambil bentuk geometri seperti bentuk denah lingkaran dengan play ground di tengahnya untuk gedung Taman Kanak-kanak karena anak TK masih memerlukan banyak ruang bersama, untuk itu, maka bentuk lingkaranlah yang dipilih, sedangkan bentuk denah untuk gedung Sekolah Dasar adalah bentuk persegi panjang dengan pertimbangan bahwa tingkat pendidikan di Sekolah Dasar memerlukan tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dan lebih formal, tetapi bangunannya berbentuk kurva yang menyerupai bentuk seperempat silinder. Untuk bangunan entrance, bentuknya diambil dari juring lingkaran yang atap bangunannya menggunakan shell. Sedangkan untuk bangunan penunjang dan servisnya ditata mengikuti bentuk lahan sebagai salah satu wujud peduli terhadap lahan sekaligus sebagai wujud efisiensi lahan.

3.3.2. Komposisi Besaran dan Peletakkan Massa

Untuk mengkomposisikan ke-5 massa tersebut, diambil site sebagai patokan perletakkan massa. Letak site disini terletak di dalam perumahan, agar bangunan lebih memperhatikan sekitar dan tidak berdiri sendiri maka bangunan di desain seperti bangunan perumahan tropis di sekeliling lahan, dengan atap miring, dinding berwarna krem, dan atap berwarna merah. Besarnya volume tiap bangunan disesuaikan dengan zoning dan kebutuhan ruang dari masing-masing massa.

(4)

3.3.3. Tampilan Bangunan dan Warna

Tampilan bangunan disini harus terlihat menyenangkan dan tidak terlalu formal, selain dengan memberikan bentuk atap yang bergelombang, juga dengan memberikan bentuk garis-garis dan elemem lengkung pada sisi atas atap bangunan.

Warna yang digunakan juga sangat membantu dalam penyampaian informasi kepada orang luar mengenai fungsi bangunan yang berkaitan dengan anak-anak.

Gambar 3.2 Tampak Bangunan

3.4. Program Ruang

Ruang-ruang disesuaikan dengan kebutuhan ruang agar dapat mewadahi seluruh kegiatan yang ada. Besaran ruangan didapatkan melalui studi literatur dan studi perbandingan melalui survey lapangan yang dilakukan pada proyek-proyek yang sejenis.

(5)

Tabel 3.1 Pelayanan Pendidikan TK

NAD

Kapasitas Standard Sumber Jml

Ruang Luas (M2) Total (M2)

Ruang Kelas TK A 20 anak &

2 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 3 kelas 97,5 m2 292,5 m2

Ruang Resepsionis 2 orang 1m2/orang TSS 2,6 m2

R u a n g B e r m a i n

Outdoor 80 anak 1,5-3 m2/anak DAT 240 m2

Ruang Makan 40 orang 2,5 m2/orang 100 m2

R u a n g T u n g g u

Orang tua 40 orang 1 m2/anak BPD 40 m2

Loker @kelas=20 V = 0,3X0,4X0,4m DPS 0,12 m2 0,6 m2

Toilet 6 unit 2,25m2/unit SB 2 18 m2 36 m2

Kebutuhan Ruang

52,5 m2 Ruang Lab Komputer 20 anak &

2 guru

2,25 m2/anak 40 sq/ft/guru

SB

BPD 1 kelas Ruang Lab Sains 20 anak &

1 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 1 kelas 93,75 m2

Ruang Kesenian - Ruang Musik

* Piano

* Biola

* Gitar - Ruang Tari - Ruang Lukis

2 m2/anak 40 sq/ft/guru 24 sq/ft/anak&

40 sq/ft/guru

SB BPD BPD BPD

@ 1 ruang

=> 3 ruang

@ 1 ruang

=> 2 ruang

80 m2 80 m2 80 m2 80 m2 60 m2

360 m2 20 anak &

1 guru 20 anak &

1 guru

Total 1507.85 m2 Ruang Kelas TK B 20 anak &

2 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 3 kelas 97,5 m2 292,5 m2

T a m a n K a n a k - K a n a k

(6)

Tabel 3.2 Pelayanan Pendidikan SD

28,75 m2 Ruang Lab Bahasa 25 anak &

1 guru

1 m2/anak 40 sq/ft/guru

TSS

BPD 1 kelas

Kapasitas Standard Sumber Jml

Ruang Luas (M2) Total (M2) Ruang Kelas 1 s/d 6

@ 4 kelas

25 anak &

1 guru

2,6 m2/anak 40 sq/ft/guru

VR

BPD 24 kelas 72,5 m2 1740 m2 Ruang Lab

Matematika

25 anak &

1 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 1 kelas 116,25 m2

Toilet 6 unit 2,25m2/unit SB 2 18 m2 36 m2

Kebutuhan Ruang

63,75 m2 Ruang Lab Komputer 25 anak &

2 guru

2,25 m2/anak 40 sq/ft/guru

SB

BPD 1 kelas

Ruang Lab Sains 25 anak &

1 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 1 kelas 116,25 m2

Ruang Kesenian - Ruang Musik

* Piano

* Biola

* Gitar - Ruang Tari - Ruang Lukis

2 m2/anak 40 sq/ft/guru 24 sq/ft/anak&

40 sq/ft/guru

SB BPD BPD BPD

@ 1 ruang

=> 3 ruang

@ 1 ruang

=> 2 ruang

80 m2 80 m2 80 m2 80 m2 60 m2

360 m2 20 anak &

1 guru 20 anak &

1 guru

Total 2461 m2 S

e k o l a h D a s a r

(7)

Tabel 3.3 Pelayanan Publik & Pendidik

NAD

Kapasitas Standard Sumber Jml

Ruang Luas (M2) Total (M2)

Hall Entrance 80 orang 1m2/orang BPD 80 m2

Ruang Resepsionis 2 orang 1m2/orang TSS 2,6 m2

R u a n g B e r m a i n

Outdoor 80 anak 1,5-3 m2/anak DAT 240 m2

Ruang Makan 40 orang 2,5 m2/orang 100 m2

R u a n g T u n g g u

Orang tua 40 orang 1 m2/anak BPD 40 m2

Loker @kelas=20 V = 0,3X0,4X0,4m DPS 0,12 m2 0,6 m2

Toilet 6 unit 2,25m2/unit SB 2 18 m2 36 m2

Kebutuhan Ruang

Ruang Sebaguna:

- Pengunjung - Toilet Pengunjung - Panggung - Ruang Persiapan - Ruang Ganti - Gudang

1 m2/anak 2,25 m2/unit 20 sq/ft/orang

330 sq/ft 20 sq/ft/anak

16 m2

TSS SB TSS BPD BPD SB

4 2 2

48,1 m2 16 m2

750 m2 45 m2 125 m2

40 m2 50 m2 32 m2 750 orang

5 unit 50 anak 10 orang

Total 1996,5 m2 Ruang Kelas TK B 20 anak &

2 guru

4,5 m2/anak 40 sq/ft/guru

NAD

BPD 2 kelas 97,5 m2 195 m2

NAD

Ruang Resepsionis 2 orang 1m2/orang TSS 2,6 m2

Ruang Tamu 8 orang 1 m2/orang TSS 10,4 m2

Ruang Kepala Sekolah 1 orang 15 m2/orang 15 m2

Ruang Wakasek/Kabag Pendidikan TK & SD

4 orang /

ruang 15 m2/orang NAD 2 60 m2 120 m2

Ruang Guru TK & SD TK=10 org

SD=50 org 8 m2/orang NAD 480 m2

R u a n g B i m b i n g a n

Konseling 4 orang 15 m2/orang NAD 60 m2

Ruang Tata Usaha 6 orang 5,5 m2/orang NAD 33 m2

Ruang Administrasi 4 orang 9 m2/orang NAD 36 m2

Ruang Rapat 40 orang 2 m2/orang NAD 80 m2

Ruang Arsip 15 m2 SB 15 m2

Toilet Guru 3 unit 2,25 m2/unit SB 2 13,5 m2

Toilet Pengunjung 4 unit 2,25 m2/unit SB 9 m2

(8)

Tabel 3.4 Fasilitas Penunjang

Kapasitas Standard Sumber Jml

Ruang Luas (M2) Total (M2) Kebutuhan Ruang

Perpustakaan:

- T. Penitipan & Loker - R. Baca

- R. Koleksi & rak buku - R. sirkulasi

- Gudang Buku - Toilet Perpustakaan

25 sq/ft/anak 125 sq/ft 2,25 m2/unit

SB BPD

SB PAL

SB

SB 2

30 m2 184 m2

16 m2 6,75 m2

30 m2 350 m2 184 m2 11,65 m2

16 m2 13,5 m2 150 anak

7500 buku 10 orang

3 unit

Total 2072,46 m2 UKS:

- 4 ranjang anak - 1 ruang dr umum - 1 ruang dr mata

4 anak &

2 dokter 2 m2/anak 15 m2/orang

NAD NAD

38 m2

UKSG 2 anak &

1 dokter

1,5 m2/anak 6 m2/dokter

NAD

NAD 9 m2

Ruang Olahraga Indoor SB 600 m2 600 m2

Kantin:

- Area makan - Dapur

- Gudang panyimpanan

250 orang 25-30% dari

r.makan 25-30% dari

dapur

2,5 m2/unit NAD NAD NAD

625 m2 156,25 m2

39,06 m2

820,31 m2

(9)
(10)

Semi Privat

Semi Privat Publik

Privat 3.4.1. Zoning Bangunan

Pada gedung pendidikan ini dibagi menjadi 4 zoning utama, yaitu zoning privat, semi privat dan publik. Zoning publik meliputi entrance, ruang tunggu, dan ruang display. Zoning privat disini terdapat pada ruang karyawan, bengkel / workshop, tempat tinggal tukang kebun, dan ruang-ruang PLN seperti ruang genset, ruang gardu, ruang panel dan ruang trafo yang disini telah memiliki sirkulasi dan akses jalan masuk yang tersendiri.

Gambar 3.3 Zoning Bangunan

(11)

3.4.2. Sirkulasi Ruang

Diagram 3.1 Diagram Sirkulasi Orang Tua dan Murid

Kecuali orang tua atau pengasuh yang berkepentingan, seperti yang hendak membayar uang sekolah atau untuk mengurus keperluan yang lain, orang tua atau pengasuh disini diharapkan hanya mengantar hanya sampai ke ruang tunggu. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak lebih belajar mandiri tanpa harus selalu dimanja.

Untuk servis, disediakan area tersendiri, yaitu di bagian belakang bangunan. Jadi sirkulasinya tidak mengganggu dan membahayakan siswa- siswinya.

3.5. Pilihan Pendalaman

Untuk Proyek Gedung Pendidikan ini:

Penulis melakukan pendalaman karakter ruang. Pendalaman ini dilakukan untuk mendukung pendekatan perancangan yang dipilih yaitu pendekatan perilaku. Untuk pendalaman ini, ruangan yang dispesifikasi adalah ruang kelas untuk TK dan untuk SD kelas 6. Menurut buku literatur Time Saver Standard for Building Types, ukuran ketinggian perabot untuk kelas TK dan SD

Ruang Guru Ruang

Kelas Play ground TK

Gedung TK Ruang

Administrasi Ruang Wakasek Ruang Serbaguna

Parkir Entrance Ruang Tunggu

Gedung SD Ruang

Administrasi Ruang Wakasek Ruang Kepsek

Ruang kelas Play ground

SD Ruang Guru

(12)

kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan selanjutnya berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan anak tiap tahun cukup besar. Maka untuk tingkat kenyamannya kelas memiliki ukuran perabot yang berbeda-beda tergantung usia anak yang menggunakannya.

3.5.1. Pendalaman ruang kelas TK

Ruang kelas didesain khusus untuk anak – anak berusia 4 hingga 6 tahun.

Tiap ruang kelas dibagi menjadi 3 area, yaitu area belajar, area komputer, dan area membaca. Untuk area belajar, seperti kelas pada umumnya, masing – masing anak menempati sebuah meja dan sebuah kursi, meja berbentuk juring. Dapat ditata sejajar maupun melingkar tergantung dari tema pelajaran yang sedang berlangsung. Perabot yang digunakan semuanya bersudut tumpul, hal ini disebabkan karena meskipun pada usia 4 – 5 tahun anak sudah dapat berlari dan bergerak dengan baik dan lincah, mereka masih sering terantuk karena benda- benda yang bersudut. Penggunaan material pada ruangan kelas ini pada umumnya bertekstur halus. Penerapan konsep bermain tidak hanya pada bentuk perabot yang menggunakan bentuk lingkaran dan unsur lengkung, tetapi juga pada pola lantai dan plafond, dan penggunaan warna - warna pada dinding maupun perabot.

Gambar 3.4 Ruang Kelas TK

(13)
(14)

3.7. Sistem Utilitas

3.7.1. Sistem air bersih

Pada bangunan ini menggunakan sistem Up Feed karena mengingat bahwa bangunan hanya terdiri atas 2 lantai. Dengan letak tandon yang terletak di 2 tempat, maka distribusi air akan lebih mudah dan efisien.

Letak tandon ini di dekat gedung TK untuk mendistribusikan air di area tersebut sedangkan tandon yang lainnya diletakkan di area servis untuk mendistribusikan ke daerah di disekitarnya, termasuk gedung SD.

Diagram 3.2 Diagram Sirkulasi Air Bersih

Tandon 1 Æ Gedung SD, Servis, Ê R.Serbaguna, dsb.

PAM Æ Meteran Æ R. Pompa Ì

Tandon 2 Æ Gedung TK, Ruang Ganti

3.7.2. Sistem listrik

Mengingat bangunan ini adalah gedung sekolah yang jam kerjanya antara jam 7 pagi hingga jam 4 sore, listrik untuk penerangan tidak terlalu banyak digunakan karena peda tiap – tiap ruangan telah mendapatkan cukup banyak penerangan alami, namun tidak menutupi kemungkinan bahwa listrik masih penting keberadaannya untuk penerangan dan untuk menjalankan alat – alat bantu seperti proyektor, mesin stensil, komputer, dan lain sebagainya, maka perlu mendapatkan perhatian khusus untuk pengaturan ruang - ruang panel listriknya.

Listrik pertama masuk ke ruang input PLN dan diteruskan ke ruang Output PLN, kemudian masuk ke ruang trafo dan setelah itu baru didistribusikan ke ruang panel yang berisikan panel seluruh ruangan. Di ruang trafo juga di support oleh genset yang akan menyala jika terjadi pemadaman lampu. Jika terjadi pemadaman lampu genset akan menyala dan mendistribusikan listrik ke tiap ruang

(15)

panel tetapi karena kapasitas genset terbatas maka alat - alat elektronik yang membutuhkan daya besar seperti alat stensil sementara tidak bisa digunakan untuk menghemat kapsitas listrik genset.

Diagram 3.3 Diagram Sirkulasi Listrik

PLN Æ R. PLN Æ Gardu Æ Trafo Æ Panil Æ distribusi ke ruangan

3.7.3. Sistem AC

Penghawaan yang digunakan pada bangunan ini bersifat aktif dan pasif jadi tidak semua ruangan menggunakan AC. Pada dasarnya semua ruangan menggunakan AC, kecuali ruang sirkulasi / selasar, kamar mandi dan area daerah servis

Sistem AC yang digunakan untuk bangunan sekolah ini adalah sistem AC Split agar lebih efisien daya gunanya.

.

Gambar

Gambar 3.1 Massa Bangunan
Gambar 3.2 Tampak Bangunan
Tabel 3.1 Pelayanan Pendidikan TK
Tabel 3.2 Pelayanan Pendidikan SD
+6

Referensi

Dokumen terkait

Analisis SWOT merupakan suatu bentuk analisis yang digunakan oleh manajemen perusahaan atau organisasi yang sistematis dan dapat membantu dalam usaha penyusunan suatu

Fasilitas fisik pada Sekolah Pilot yang dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas sumber daya manusia (SDM) calon penerbang, diiringi dengan meningkatkan

Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi tertinggi dalam PDRB Kabupaten Tegal dan subsektor industri makanan memiliki presentase tertinggi dalam sumbangannya

Meskipun analisis keragamanan yang dilakukan pada taraf 95% tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan namun secara relatif dapat dinyatakan bahwa kedua jenis perlakuan

Dalam jurnal ini bantuan layanan dapat dibagi menjadi 2 bagian: pelatihan (training) dan pedoman operasional (operation guidelines), dalam kedua hal ini telah

Menurut Larry A.Samovar dan Richard E.Porter, komunnikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh

Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh data penelitian yang berlaku untuk data sampel, yang mengacu pada pendapat Sugiyono (2012:148) “statistik deskriptif

Untuk pasien relatif sedikit dengan penyakit jantung rematik di antaranya infeksi profilaksis endokarditis tetap dianjurkan, seperti yang dengan prostetik katup prostetik atau