• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya memiliki potensi untuk menjadi salah satu kota tujuan wisata karena kota Surabaya memiliki obyek wisata yang bisa dikunjungi dan juga berbagai macam peninggalan sejarah di masa pemerintahan Belanda, oleh karena itu berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengembangkan Surabaya sebagai tempat tujuan wisata baik bagi turis domestik maupun internasional.

Lembaga Surabaya Tourism Promotion Board (STPB) mencatat 11.000 wisatawan Malaysia mengunjungi Surabaya serta warga Jepang yang berkunjung ke Surabaya dan kota lain di Jawa Timur pada tahun 2005 sebesar 4.671 orang, tahun 2006 naik menjadi 4.753 orang, hingga awal tahun 2008 sebanyak 2.568 wisatawan Jepang datang ke Surabaya. Kepala Dinas Pariwisata Jatim, Bapak Harun dalam situs surya.co.id mengatakan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, hingga Maret 2009 jumlah kunjungan turis asing mencapai 33.642 orang. Sejak Januari sampai Maret 2009, tren kunjungan wisatawan menunjukkan kenaikan. Pada Januari 2009, jumlah turis asing yang masuk melalui Bandara Juanda mencapai 10.665 orang, Februari sebanyak 9.916 orang dan Maret 13.061 orang. Selain itu, lokasi yang relatif strategis sebagai pusat perdagangan dan juga terdapat pembauran budaya yang cukup beragam di Surabaya, di mana banyak penduduk Surabaya yang berasal dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri membuat Surabaya menjadi tempat tujuan wisata yang berpotensi untuk dikunjungi. Berbagai potensi Surabaya tersebut bisa digunakan untuk melakukan branding atas kota Surabaya sehingga bisa lebih memberikan daya tarik kepada wisatawan. Executive Director Surabaya Tourism Promotion Board (STPB), Bapak Yusak Anshori dalam situs indopos.com mengatakan bahwa sebuah brand dinilai penting bagi pengembangan pariwisata kota karena menentukan posisi sebagai destinasi, dimana kota Surabaya sebagai pintu masuk Indonesia Timur, layaknya Singapura sebagai palang pintu Asia.

(2)

Saat ini pemerintah kota mencoba memperkenalkan Surabaya sebagai kota wisata dengan diluncurkannya slogan “Sparkling Surabaya”. “Sparkling Surabaya” dibuat pada tahun 2005 dengan visi “Developing Surabaya as an International Tourist Destination” atau dengan kata lain untuk mengembangkan Surabaya sebagai tujuan wisata internasional dan misinya adalah “To Promote Surabaya as a Tourist Destination Beside Bali and Jogjakarta Nationally and Internationally” atau dengan kata lain untuk mempromosikan Surabaya sebagai tujuan wisata di samping Bali dan Jogjakarta secara nasional dan internasional.

Dengan adanya slogan “Sparkling Surabaya”, pemerintah kota juga mulai membenahi tata kota sehingga kota Surabaya terlihat lebih menarik dengan adanya pembenahan berbagai fasilitas kota, antara lain revitalisasi ruang publik seperti Taman Bungkul dan trotoar bagi pejalan kaki di beberapa ruas jalan, transportasi publik, penerangan lampu di berbagai sudut kota. Kemudian adanya situs sparklingsurabaya.com, logo “Sparkling Surabaya” yang terdapat di kemasan sebuah produk air mineral serta free magazine “Surabaya City Guide”

membuktikan bahwa pemerintah kota Surabaya sedang gencar dalam mempromosikan Surabaya.

“Sparkling Surabaya” adalah visualisasi komunikasi kepada masyarakat bahwa Surabaya adalah kota wisata dengan menawarkan kemeriahan suasana kota. Pada gambar slogan “Sparkling Surabaya” terdapat lima bintang yang berwarna warni yang menggambarkan pemetaan wilayah Surabaya pada lima bagian, dan gemerlap dari lima bintang ini menunjukkan kesan eksotika wisata.

Warna dasar hijau mengkomunikasikan kesan “natural” dan kehidupan yang harmoni di kota Surabaya. Kenyamanan dan kegairahan juga ditunjukkan dari warna dasar hijau ini. (www.surabaya.go.id). Di dalam gambar slogan “Sparkling Surabaya” terdapat elemen-elemen yang mewakili potensi wisata Surabaya yaitu bintang warna emas melambangkan kawasan Surabaya Selatan. Sebagai salah satu pintu masuk yang paling padat dan daerah industri di Surabaya, atraksi wisata yang ditawarkan di Surabaya Selatan diantaranya Kebun Binatang. Bintang warna biru menyimbolkan kawasan Surabaya Utara yang berdekatan dengan laut.

Kawasan ini kental dengan nuansa kebudayaan, diantaranya bangunan-bangunan

(3)

Ampel, Masjid Cheng Ho.Bintang warna kuning menunjukkan kawasan Surabaya Timur dimana matahari mulai menampakkan diri setiap hari. Di sana berada Pantai Kenjeran, Taman Hiburan Rakyat (THR), nuansa Budha (Patung Empat Wajah, Patung Dewi Kwan Im).Bintang warna oranye merepresentasikan matahari terbenam yang menandakan kawasan Surabaya Barat. Tempat tinggal yang nyaman, perumahan mewah, lapangan golf, pusat perbelanjaan, Water Park dan Area Go Cart marak berada di sini. Pusat kota dan Central business District dilambangkan dengan bintang warna merah berarti jantung kota Surabaya. Di antara ikon kota Surabaya lainnya, yang paling menonjol pada kawasan ini adalah Sungai Kalimas dan Balai Pemuda (kegiatan seni-budaya). (Sparkling Surabaya, Pariwisata Dengan Huruf L, 2008:xvii).

Jadi dengan adanya slogan “Sparkling Surabaya”, diharapkan Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota bisnis saja tetapi juga sebagai kota untuk berwisata yang menarik sehingga wisatawan domestik maupun wisatawan internasional yang berkunjung ke Surabaya mendapatkan pengalaman berwisata yang tidak terlupakan.

Sebagai upaya mewujudkan kota Surabaya sebagai destinasi wisata, selain memugar dan memperindah tata kota Surabaya, pemerintah kota Surabaya juga merevitalisasi beberapa titik wisata di Surabaya seperti merenovasi Gedung Balai Pemuda, Jembatan Jagir dan revitalisasi Kalimas serta banyak rencana pembangunan lain yang akan dilakukan oleh pemerintah Surabaya. Semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya ini untuk meningkatkan brand kota Surabaya, dan menjadikan kota Surabaya sebagai kota tujuan wisata.

Menurut Bedrock Brand Consultant (2007), destination branding pada intinya adalah membangun image positif sehingga bisa diingat, memiliki kesan berbeda dengan tempat lainnya, atau dengan kata lain membuat pengalaman dari Surabaya sebagai pengalaman yang positif, mengesankan, berbeda, luar biasa dan realistis. Untuk membangun sebuah image, maka diperlukan penciptaan persepsi pada wisatawan tentang Surabaya sebagai kota wisata yang bisa dibentuk melalui berbagai stimulus atau rangsangan. Berbagai obyek wisata di Surabaya bisa menjadi stimulus, seperti Kebun binatang Surabaya, Taman Bungkul, House of

(4)

Sampoerna, Kampung Arab, Masjid Ampel dan Masjid Cheng Ho, Pantai Kenjeran, water park, lapangan golf dan juga Shopping Center.

Joan C. Henderson (2000) melakukan riset terhadap wisatawan dan masyarakat lokal mengenai brand dari negara Singapore, di mana riset tersebut menganalisa usaha yang dilakukan oleh Singapore Tourism Board untuk menggambarkan dan menerapkan brand “New Asia-Singapore”, yang hasilnya menunjukkan bahwa pada saat itu terdapat kurangnya awareness dari kedua belah pihak, dan kesulitan yang dihadapi Singapore Tourism Board di dalam usaha mereka untuk melakukan branding dan untuk memastikan kesesuaian antara kenyataan dengan image. Berdasarkan pengalaman negara Singapore serta visi dan misi pemerintah kota Surabaya yang ingin mempromosikan Surabaya sebagai kota wisata, maka perlu diketahui bagaimana persepsi wisatawan domestik atas kota Surabaya, serta destination branding Surabaya sebagai kota wisata melalui slogan “ Sparkling Surabaya”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan penelitian adalah:

a. Apakah Surabaya sudah dapat dikatakan sebagai kota wisata?

b. Bagaimana persepsi wisatawan atas destination branding Surabaya sebagai kota wisata?

c. Apakah persepsi wisatawan tentang Surabaya sebagai kota wisata dapat dipahami melalui slogan “Sparkling Surabaya”?

1.3. Tujuan Penelitian

Atas dasar perumusan masalah diatas, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui apakah Surabaya sudah dapat dikatakan sebagai kota wisata.

b. Untuk mengetahui bagaimana persepsi wisatawan atas destination branding Surabaya sebagai kota wisata.

(5)

c. Untuk mengetahui apakah persepsi wisatawan tentang Surabaya sebagai kota wisata dapat dipahami melalui slogan “Sparkling Surabaya”.

1.4. Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini bermanfaat bagi :

a. Pemerintah kota Surabaya untuk menjadi bahan masukan dan informasi serta bahan evaluasi bagi pihak pemerintah kota Surabaya untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan destination branding kota Surabaya serta bahan evaluasi untuk memajukan dunia pariwisata di Surabaya.

b. Bagi pihak mahasiswa yang ingin melakukan penelitian berikutnya, khususnya penelitian pada masalah yang sama.

1.5. Ruang Lingkup

Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian terhadap wisatawan domestik yang sedang melakukan kunjungan ke Surabaya. Selain itu peneliti juga memberi batasan terhadap usia yaitu 17 tahun keatas. Peneliti memilih usia tersebut karena usia tersebut merupakan usia dimana seseorang sudah dianggap dewasa dan dapat mengambil keputusan sendiri.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan MAGIX 3D Maker anda dapat lebih mudah menciptakan segala sesuatu dari tombol dan logo untuk animasi skala penuh dan tayangan slide, dalam beberapa langkah sederhana, tanpa

penambang emas yang berada di Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan. Hutabargot, Kabupaten

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan pendapatan usahatani padi antara usahatani dengan rice transplanter dengan konvensional di

Analisis Qard } u H } asan terdapat Faktor pendukung dalam melakukan praktik dana kebajikan (Qard } u H } asan) adalah keinginan perusahaan BPRS Artha Mas Abadi untuk

Kandungan Bahan Kimia Dalam Masker Spirulina Tiens Apakah Memiliki Efek Samping Bahaya Bagi Kesehatan Wajah?. Simak Ulasannya

Upaya – upaya terwujudnya keberhasilan reformasi hukum telah dimulai dengan perubahan paradigma politik hukum yang diawali dengan struktur hukum, termasuk penegakan

Pelayanan nifas oleh tenaga 100% 100% 25% 25% 19,1% 19,1% Belum tercapai Belum tercapai Secara Secara estimasi estimasi belum belum Data Data sasaran sasaran BPJS

Bila ditinjau dari sudut pandang perusahaan, salah satu cara yang efektif dalam melakukan diferensiasi adalah melalui jasa atau pelayanan yang diberikan. Hal ini membawa