• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. commit to user 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "I. PENDAHULUAN. commit to user 1"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang penyelenggaraan terkait pangan diatur dalam Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012.

Pangan menjadi kebutuhan dasar yang utama untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemanfaatan pangan akan mencerminkan status gizi individu dan kemudian berdampak pada kesejahteraan yaitu produktivitas seseorang dalam menghasilkan pendapatan. Pangan yang cukup bagi penduduk menjadi sangat diperhatikan dalam pembangunan nasional. Masalah pangan di tingkat nasional berkaitan dengan stabilitas ekonomi bagi penduduk dan keamanan nasional. Oleh karena itu, ketahanan pangan penting untuk diwujudkan dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan untuk keberlangsungan hidup penduduk.

World Food Summit menyatakan ketahanan pangan terjadi apabila semua orang secara terus-menerus, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai atau cukup, bergizi, dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup secara aktif dan sehat (Dewan Ketahanan Pangan RI, 2009:3). Menurut Kusharto dan Hardinsyah (2012: 59) usaha untuk mewujudkan ketahanan pangan sampai individu dapat ditempuh melalui efektivitas dan efisiensi distribusi pangan, peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan kemampuan penyediaan pangan, peningkatan pembentukan cadangan pangan, dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi. Ketahanan pangan individu dipengaruhi oleh ketahanan pangan rumah tangga, daerah, nasional, dan global. Secara keseluruhan hal itu ditentukan oleh produksi dan ketersediaan pangan serta daya beli setiap orang atau rumah tangga. Ketahanan pangan diarahkan sampai pemenuhan kebutuhan pangan setiap individu setiap saat untuk hidup aktif dan sehat, bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga.

commit to user

(2)

Upaya pemerintah melalui berbagai kebijakan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan sampai saat ini belum sepenuhnya tercapai.

Masalah ketahanan pangan tidak hanya sekedar aspek ketersediaan pangan, justru kerap terjadi karena ketiadaan akses atas pangan (pendapatan, kesempatan kerja, sumberdaya ekonomi lainnya) bahkan ketika produksi pangan berlimpah (Lassa, 2009:35). Menurut Nugrayasa (2013) situasi kualitas konsumsi pangan di tengah masyarakat Indonesia masih dirasakan kurang beragam dan kurang bergizi seimbang. Volume dan kualitas konsumsi pangan dan gizi di dalam rumah tangga merupakan faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia. Jenis bahan pangan yang berkualitas adalah bahan pangan yang mampu mencukupi kebutuhan energi dan gizi individu. Pemahaman yang kurang akan pentingnya kualitas bahan pangan yang dikonsumsi dipengaruhi oleh kondisi ekonomi rumah tangga, pengetahuan, dan budaya masyarakat. Aspek kuantitas bahan pangan yang dikonsumsi masih menjadi prioritas dalam konsumsi pangan masyarakat.

Hal ini sangat dipengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga.

Pendapatan rumah tangga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan. Proporsi pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total rumah tangga dapat dijadikan indikator tingkat ketahanan pangan dan kesejahteraan rumah tangga. Proporsi rumah tangga rawan pangan di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan pembangunan antara daerah perkotaan dan perdesaan (Rachman dan Ariningsih, 2008:242). BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat pada tahun 2011 rata-rata pengeluaran di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan, yakni 531.600 rupiah berbanding 386.510 rupiah. Dengan kata lain, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di perdesaan 72,71% dari pengeluaran di daerah perkotaan. Tahun 2011, sebesar 46% pengeluaran per kapita di perkotaan digunakan untuk kebutuhan makanan, sedangkan di perdesaan sebesar 54,53%. Persentase pengeluaran rata-rata per kapita per bulan untuk kebutuhan makan dan bukan makanan penduduk perdesaan Provinsi Jawa Tengah tahun 1999 sampai tahun 2011 disajikan pada Tabel 1.

commit to user

(3)

Tabel 1. Persentase Pengeluaran Rata-Rata per Kapita Tiap Bulan untuk Makanan dan Bukan Makanan Daerah Perdesaan dan Perkotaan di Jawa Tengah Tahun 2011

No Kelompok Barang Persentase Pengeluaran Rata-Rata per Kapita Tiap Bulan Tahun 2011 Perdesaan Perkotaan

I Makanan 54,53 46,90

Padi-padian 10,88 7,17

Umbi-umbian 0,32 0,20

Ikan 2,00 1,97

Daging 1,51 1,72

Telur dan susu 2,76 3,13

Sayur-sayuran 5,04 3,46

Kacang-kacangan 2,41 1,78

Buah-buahan 2,30 2,41

Minyak dan lemak 2,41 1,71

Bahan minuman 2,49 1,84

Bumbu-bumbuan 1,34 0,98

Konsumsi lainnya 1,35 1,02

Makanan dan minuman jadi 13,75 14,96

Minuman yang mengandung alkohol 0,01 0,02

Tembakau, sirih 5,96 4,54

II Bukan Makanan 45,47 53,10

Perumahan dan fasilitas rumah tangga 15,42 19,05

Barang dan jasa 16,49 19,69

Pakaian, alas kaki dan tutup kepala 3,39 3,10

Barang-barang yang tahan lama 6,80 7,05

Pajak dan asuransi 1,38 1,77

Keperluan pesta dan upacara 1,98 2,43

Jumlah I dan II 100 100

Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka, 2012

Secara rasional rumah tangga akan memprioritaskan penggunaan pendapatannya untuk konsumsi pangan daripada konsumsi non pangan.

Tingkat kesejahteraan rumah tangga ditunjukkan dari besarnya pangsa konsumsi pangan dan pangsa konsumsi non pangan. Kesejahteraan menurun saat pangsa pengeluaran pangan lebih besar dari pangsa pengeluaran non pangan. Menurut Agustin dan Sasana (2012:8) rumah tangga dengan pangsa konsumsi pangan yang besar menunjukkan bahwa kemampuan rumah tangga tersebut hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Rumah tangga dengan pangsa konsumsi non pangan yang besar menunjukkan bahwa rumah tangga tersebut dapat mencukupi kebutuhan makan anggota keluarganya, sehingga dapat membeli kebutuhan lainnya yang tergolong non pangan.

commit to user

(4)

Penduduk miskin didefinisikan sebagai penduduk yang pendapatannya lebih kecil dari pendapatan yang dibutuhkan untuk hidup secara layak di wilayah tempat tinggalnya di mana kebutuhan untuk hidup layak diterjemahkan sebagai suatu jumlah rupiah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi makanan setara 2.200 kalori sehari. Jumlah uang tersebut kemudian disebut sebagai garis kemiskinan. Kemiskinan dan ketahanan pangan merupakan dua fenomena yang saling terkait, bahkan dapat dipandang memiliki hubungan sebab akibat. Dalam hal ini, kondisi ketahanan pangan yang rentan menjadi sumber kemiskinan atau sebaliknya, kemiskinan menyebabkan penduduk tidak memiliki ketahanan pangan (Mulyani dan Mandamdari, 2012:59).

Masalah kurang pangan dan gizi terutama dijumpai pada rumah tangga miskin. Smith (2003) dalam Tanziha dkk (2010:41) menyatakan bahwa pada keluarga berpendapatan tinggi, proporsi pengeluaran pangan tidak lebih dari 30% dari total pengeluaran, sedangkan pada rumah tangga miskin pengeluaran untuk pangan dapat mencapai lebih dari 70%. Menurut Handayani dan Amaliyah (2011:110) rendahnya pendapatan keluarga akan berdampak pada berkurangnya kesempatan untuk mendapatkan pangan dengan kualitas baik.

Tingginya pendapatan suatu rumah tangga berarti semakin besar tingkat aksesibilitas dalam mendapatkan pangan yang baik. Pendapatan yang rendah akan mengakibatkan buruknya kondisi pangan rumah tangga.

Suryana (2003:187) mengungkapkan bahwa ketidakcukupan konsumsi energi dan protein erat kaitannya dengan kemiskinan. Bagian terbesar dari penduduk yang mengalami defisit kalori dan protein adalah penduduk miskin.

Pendapatan yang rendah pada penduduk miskin menjadi salah satu penyebab keterbatasan akses bahan pangan. Handajani (1994:34-51) menjelaskan pada umumnya protein hewani mempunyai mutu lebih tinggi daripada protein nabati karena lebih mirip dengan protein manusia, dengan kandungan asam amino essensial yang lebih banyak. Pada umumnya protein hewani harganya lebih mahal daripada protein nabati dan seringkali tidak terjangkau oleh masyarakat yang berpendapatan rendah. Penduduk dengan pendapatan yang

commit to user

(5)

sangat minim hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan pokoknya berupa sumber karbohidrat yang merupakan pangan prioritas pertama. Apabila tingkat pendapatan meningkat maka pangan prioritas kedua berupa sumber protein yang murah dapat dipenuhi. Hasil penelitian Rahayu (2010:124) menyatakan bahwa pada keluarga pra sejahtera pengeluaran untuk beras menempati porsi yang besar dibanding jenis pangan lain.

Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks. Penanggulangan kemiskinan masih merupakan prioritas penting dalam pembangunan nasional.

Berbagai kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan diarahkan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan penduduk miskin. Salah satu fokus kebijakan pembangunan untuk menanggulangi kemiskinan adalah penanganan masalah gizi kurang dan rawan pangan (Bappenas, 2012). Bagian dari program pengentasan kemiskinan adalah program beras untuk masyarakat miskin atau raskin. Keberadaan raskin hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam pemenuhan kebutuhan pangan penduduk miskin.

Upaya untuk mencapai ketahanan pangan tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan pangan pokok berupa beras. Terdapat faktor lain yang menyebabkan penduduk miskin tidak mampu menjangkau pangan, terutama dari segi ekonomi dan fisik. Tidak tercukupinya kebutuhan pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, distribusi, dan akses terhadap pangan (Rachman dan Ariningsih, 2008:240).

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendefinisikan penduduk miskin berdasarkan konsep atau pendekatan kesejahteraan keluarga, yaitu dengan membagi kriteria keluarga ke dalam lima tahapan, yaitu keluarga pra sejahtera (KPS), keluarga sejahtera I (KS‐I), keluarga sejahtera II (KS‐II), keluarga sejahtera III (KS‐III), dan keluarga sejahtera III plus (KS‐III Plus). Kelompok yang dikategorikan penduduk miskin oleh BKKBN adalah keluarga pra sejahtera (KPS) dan keluarga sejahtera KS‐I. Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan pokok (pangan), sandang, papan, kesehatan, dan pengajaran agama. Badan Pusat

commit to user

(6)

Statistik (BPS) menggunakan konsep kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar (basic need approach) untuk mengukur kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar.

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Grobogan 2011 menyatakan tingkat pengangguran masih relatif tinggi yaitu 77,61%

pada tahun 2009. Hal ini berkontribusi pada banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan berdasarkan BPS Kabupaten Grobogan tahun 2011 adalah Rp 269.707,00 per orang per bulan. Garis kemiskinan merupakan nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar (pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan). Penduduk dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan digolongkan sebagai penduduk miskin. Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk pra sejahtera tertinggi di Provinsi Jawa Tengah menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 35 kabupaten. Tabel 2 menyajikan sepuluh kabupaten dengan persentase keluarga pra sejahtera tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Grobogan menempati posisi pertama dalam jumlah dan persentase keluarga pra sejahtera terbanyak yaitu sebesar 62,95%.

commit to user

(7)

Tabel 2. Keluarga Pra Sejahtera menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2011

No Kabupaten/Kota Jumlah Kepala Keluarga (KK)

Keluarga Pra Sejahtera Jumlah Persentase

1 Kab. Grobogan 428.413 269.707 62,95

2 Kab. Rembang 188.574 96.998 51,44

3 Kab. Blora 268.815 120.532 44,84

4 Kab. Demak 327.856 128.950 39,33

5 Kab. Sragen 273.590 105.173 38,44

6 Kab. Batang 217.335 80.303 36,95

7 Kab. Kendal 276.878 101.488 36,65

8 Kab. Boyolali 292.517 106.410 36,38

9 Kab. Pati 398.990 144.515 36,22

10 Kab. Pemalang 377.718 126.650 33,53

Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka, 2012

Berdasarkan Tabel 2 maka penelitian berjudul Analisis Ketahanan Pangan pada Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan layak dilakukan untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan pada rumah tangga miskin. Kondisi ketahanan pangan ditinjau dari segi ekonomi yaitu proporsi pengeluaran pangan dan segi pemenuhan zat gizi berupa kecukupan energi rumah tangga. Masalah ekonomi rumah tangga miskin yaitu minimnya tingkat pendapatan menyebabkan daya beli terhadap sejumlah bahan pangan seperti beras, daging, buah-buahan, dan kacang-kacangan menjadi terbatas. Jenis bahan pangan yang dikonsumsi penduduk dapat menentukan tingkat kecukupan energi dan protein. Kecukupan energi dan protein dapat mempengaruhi kondisi kesehatan individu dalam rumah tangga.

Resiko rawan pangan terjadi apabila kandungan energi dan protein jenis bahan pangan yang dikonsumsi penduduk yang tidak sesuai dengan anjuran kecukupan gizi. Masalah rawan pangan dan gizi kurang pada umumnya terjadi karena kekurangan pangan, kemiskinan, dan pengetahuan yang kurang akan zat gizi.

commit to user

(8)

B. Rumusan Masalah

Ketahanan pembangunan ketahanan pangan yang mengarah pada kemandirian pangan perlu memperhatikan aspek ketersediaan pangan, distribusi pangan, penyediaan cadangan pangan, penganekaragaman konsumsi pangan, dan penanganan keamanan pangan. Ketahanan pangan telah menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Grobogan dalam menciptakan kondisi sosial ekonomi yang kondusif. Banyaknya penduduk miskin di Kabupaten Grobogan menjadi perhatian dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Kemiskinan adalah indikator ketidakmampuan untuk mendapatkan cukup pangan karena rendahnya kemampuan daya beli dan keterbatasan akses pangan.

Kecamatan Ngaringan memiliki jumlah persentase keluarga pra sejahtera terbanyak dibanding 18 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Grobogan.

Kepala keluarga pra sejahtera Kecamatan Ngaringan mencapai 18.713 KK.

Kecamatan Ngaringan pada tahun 2012 merupakan kecamatan dengan persentase terbesar Rumah Tangga Miskin Penerima Raskin. Total beras untuk masyarakat miskin (raskin) di Kecamatan Ngaringan pada tahun 2012 mencapai 1.603.185 kg. Peranan komoditas yang mempengaruhi garis kemiskinan paling besar adalah beras yang merupakan pangan pokok.

Program raskin yang dijalankan pemerintah merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial (Sudarsana, 2009:59-60). Kecamatan Ngaringan dengan jumlah keluarga pra sejahtera terbanyak, memperoleh raskin untuk didistribusikan. Adanya program beras untuk keluarga miskin atau raskin belum tentu dapat menjamin ketahanan pangan pada rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan. Kuantitas raskin yang didistribusikan di Kecamatan Ngaringan dinilai masih kurang bijaksana, waktu penyaluran yang tidak tentu, dan harga tebus raskin dan kuantitas yang tidak sesuai rekomendasi Bulog, dan pemilihan rumah tangga miskin sasaran yang tidak tepat, sehingga dapat mengurangi manfaat raskin dalam mendukung tercapainya kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin.

commit to user

(9)

Adanya program raskin belum mampu mengentaskan masalah ekonomi penduduk miskin Kecamatan Ngaringan. Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks. Kemiskinan menjadi penyebab rumah tangga di Kecamatan Ngaringan mengalami kendala dalam mencapai kondisi tahan pangan dari segi ekonomi maupun pemenuhan zat gizi. Pendapatan yang rendah mengharuskan terpenuhinya kebutuhan pangan sebagai prioritas utama pada rumah tangga miskin. Pangan yang kurang beragam akan beresiko kekurangan zat gizi tertentu karena setiap bahan pangan mengandung zat gizi dengan jenis dan kadar yang berbeda dengan bahan pangan lain. Bahan pangan yang dikonsumsi perlu mengandung energi, protein, lemak, vitamin dan mineral untuk dapat beraktifitas dan sehat secara psikologis maupun fisiologis.

Seluruh wilayah di Kecamatan Ngaringan merupakan wilayah rawan kekeringan berdasarkan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Grobogan. Tanah kering di Kecamatan Ngaringan mencapai 7.568,78 ha, sedangkan tanah sawah hanya 4.103,30 ha. Sebagian besar penduduk yang bekerja di sektor pertanian beresiko mengalami ketidakpastian dalam memperoleh pendapatan. Penduduk tidak dapat melakukan budidaya dan membiarkan sawah menjadi bero saat musim kemarau. Pekerjaan di luar sektor pertanian yang mampu diakses penduduk sangat terbatas karena rendahnya pendidikan yang dimiliki penduduk miskin. Hal ini berpengaruh pada pendapatan yang dihasilkan dan perilaku penduduk miskin dalam mengalokasikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan. Ketidakmampuan penduduk miskin dalam memaksimalkan pendapatan menyebabkan alokasi pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan terlebih dahulu. Besarnya proporsi pengeluaran pangan menunjukkan kesejahteraan yang rendah dan beresiko mengalami kondisi tidak tahan pangan. Proporsi pengeluaran pangan yang lebih besar dari proporsi pengeluaran non pangan bukan berarti banyaknya bahan pangan yang dikonsumsi mampu memenuhi gizi rumah tangga miskin. Pendapatan akan menentukan kuantitas dan kualitas bahan pangan yang mampu dibeli oleh rumah tangga miskin. Oleh karena itu, ketahanan pangan pada rumah tangga

commit to user

(10)

miskin perlu ditinjau kembali dari segi pemenuhan zat gizi berupa energi dan segi ekonomi yaitu pengeluaran pangan rumah tangga.

Berdasarkan uraian tersebut maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Berapa besarnya proporsi pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan?

2. Bagaimana konsumsi energi dan protein pada rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan?

3. Bagaimana hubungan antara proporsi pengeluaran pangan dengan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan ?

4. Bagaimana kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan berdasarkan indikator proporsi pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui proporsi pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan.

2. Mengetahui konsumsi energi dan protein pada rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan.

3. Menganalisis hubungan antara proporsi pengeluaran pangan dengan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan.

4. Mengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan berdasarkan indikator proporsi pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi.

D. Kegunaan Penelitian

1. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta pengaplikasian materi-materi yang telah diperoleh di bangku perkuliahan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakulatas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

commit to user

(11)

2. Bagi pemerintah daerah Kabupaten Grobogan, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan pangan yang dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk dan kecukupan konsumsi energi serta kecukupan konsumsi protein dalam mewujudkan ketahanan pangan pada rumah tangga miskin.

3. Bagi masyarakat di Kabupaten Grobogan, khususnya Kecamatan Ngaringan diharapkan hasil penelitian memberikan pengetahuan tentang jenis zat gizi bahan pangan yang dikonsumsi dalam memenuhi kecukupan energi dan protein guna mencapai ketahanan pangan.

4. Bagi pembaca, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan dijadikan referensi dalam penyusunan penelitian selanjutnya atau penelitian-penelitian sejenis.

commit to user

Gambar

Tabel  1.  Persentase  Pengeluaran  Rata-Rata  per  Kapita  Tiap  Bulan  untuk  Makanan dan Bukan Makanan Daerah Perdesaan  dan Perkotaan di  Jawa Tengah Tahun 2011
Tabel  2.  Keluarga  Pra  Sejahtera  menurut  Kabupaten/Kota  di  Jawa  Tengah  Tahun 2011

Referensi

Dokumen terkait

Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu dan informasi bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum sehingga keberadaan perpustakaan di lingkungan

Berdasarkan jawaban responden adanya pendapat, saran, bimbingan, dan kesempatan yang diberikan pimpinan kepada pegawai untuk mengembangkan kreativitasnya dalam

Berdasarkan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP),

berbasis konservasi, sehingga dapat memberikan informasi kepada wisatawan yang bersifat edukasi; (2) Tourist Information yang merupakan sub unit kerja Dinas

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif signifikan antara konsep diri dan penyesuaian diri dengan

Adapun dari ke empat kategori karakteristik budaya Melayu tersebut, yang mendominasi adalah kategori identitas etnis.Pada penelitian ditemukan identitas etnis berupa bahasa

Menurut Kaaro(2003), pertumbuhan total aktiva cenderung berdampak positif pada leverage , dengan 2 argumentasi : Pertama, pertumbuhan penjualan dari setiap upaya