BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kelahiran prematur, yakni sebelum masa 37 minggu kehamilan menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan kondisi BBLR. Bayi dengan kondisi prematur tidak memiliki waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan bertambah berat badannya di rahim ibu (Dewi, 2020).
Bayi dengan BBLR ini memiliki resiko kematian 20 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan normal. BBLR dapat disebabkan oleh persalinan prematur atau karena Intrauterin Growth Resytriction (IUG). Selain meningkatkan resiko kematian dan komplikasi perinatal, bayi BBLR memiliki resiko yang lebih besar terhadap kelainan kongenital, gangguan perilaku, gangguan tumbuh kembang, serta neurodevelopmental disosrders di masa yang akan datang (Septira & Angraini, 2016).
Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan angka kematian bayi (AKB) di seluruh dunia adalah sebesar 2,7 juta, faktor faktor resiko kematian bayi dikaitkan dengan faktor dari bayi, ibu dan kehamilan, faktor dari bayi seperti sepsis, kelainan kongenital, BBLR dan prematur (BPS, 2016) dalam (Rachmadiani, 2018).
Bayi baru lahir sangat rentang terkena penyakit lain ataupun infeksi yang disebabkan oleh beberapa masalah contohnya hiperbilirubin. Dimana hiperbilirubinemia yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan komplikasi berupa kerusakan otak pada bayi atau kernikterus dan menjadi enselopati bilirubin akut (Harismi, 2019).
Widagdo (2012) mengatakan keterkaitan antara peningkatan bilirubin indirek dengan faktor resiko seperti bayi kurang bulan, etnik Asia, menyusui ibu, dan penurunan berat
badan. Kejadian ikterus pada bayi kurang bulan dapat terjadi karena tubuh mereka kurang siap untuk mengeluarkan bilirubin secara efektif (Mendri & Prayogi, 2017).
Kebanyakan bayi baru lahir, hiperbilirubinemia tak terkonjugasi merupakan fenomena transisional yang normal tetapi pada beberapa bayi akan terjadi peningkatan bilirubin secara berlebihan sehingga bilirubin berpotensi menjadi toksik. Hal ini akan menyebabkan kematian bayi baru lahir dan apabila bayi bertahan hidup dalam jangka panjang akan menyebabkan sekuele neurologis (Kosim, 2012).
Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskerdas, 2015) juga menunjukkan angka kejadian hiperbilirubin pada bayi baru lahir di Indonesia sebesar 51,47% dengan faktor penyebabnya adalah asfiksia 51%, BBLR 42,9%, Sectio Caesaria 18,9%, prematur 33,3%, kelainan kongenital 2,8% dan sepsis 12%.
Dampak yang terjadi apabila ikterus tidak dapat ditangani salah satunya kernikterus.
Kernikterus ini menimbulkan gejala kerusakan otak berupa mata berputar, letargi, kejang, tak mau menghisap, tonus otot meningkat, leher kaku, epistotonus dan sianosis, serta dapat diikuti dengan ketulian, gangguan bicara, retardasi mental di kemudian hari (Maryati, Sujianti & Budiarti, 2011).
Kemudian, salah satu infeksi yang sering terjadi pada bayi baru lahir prematur atau BBLR yaitu karena tali pusat yang bermasalah. Tali pusat merupakan memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. Ketika sudah dilahirkan tali pusat sudah tidak dibutuhkan lagi. Itu sebabnya tindakan yang paling sering dilakukan adalah memotong dan mengikat tali pusat hingga akhirnya beberapa hari setelah itu tali pusat akan mengering dan lepas dengan sendirinya (Riksani, 2012).
Telah dilaporkan 460.000 bayi meninggal karena infeksi berat dengan infeksi tali pusat (omfalitis) sebagai salah satu predisposisi penting. Angka infeksi tali pusat di
negara berkembang bervariasi dari 2 per 1000 hingga 54 per 1000 kelahiran hidup dengan case fatality rate 0-15% (Pediatri, 2010).
Dampak dari omfalitis dapat terjadi sepsis, yang dapat berkembang menjadi syok septik, disseminated intravascular coagulation (DIC), dan gagal multi organ. Infeksi pada intra abdomen menimbulkan eviserasi spontan, peritonitis, obstruksis usus, dan abses.
Komplikasi jangka panjang yang bisa terjadi transformasi atau trombosis vena porta, hipertensi porta ekstrahepatik, dan obstruksi bilier (Yahya, 2018).
Perawatan BBLR diruang NICU juga merupakan kejadian yang tidak diharapkan orangtua dan dapat menimbulkan kecemasan serta perpisahan orangtua dengan bayinya yang baru lahir, ketidakmampuan orangtua untuk menjaga dan merawat bayi, ketidakmampuan melindungi bayi dari nyeri, penggunaan teknologi serta alat alat di ruang intensif dan kritisnya kondisi bayi menyebabkan orangtua menjadi stres (Mundy, 2010).
Peran perawat dalam perawatan BBLR adalah memberikan asuhan keperawatan dengan memperhatikan upaya mempertahankan dan mendukung perkembangan normal BBLR. Salah satu peran paling penting perawat adalah pendidik. Pendidikan kesehatan yang diberikan oleh perawat diharapkan dapat mengubah pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu dalam memberikan perawatan pada bayi baru lahir terutama untuk mengurangi angka kejadian hiperbilirubinemia (Deswita, 2014). Serta, peran perawat sebagai caring adalah dengan memberikan asuhan keperawatan pada bayi di rumah sakit maupun setelah pulang dengan pendekatan model perawatan topikal air susu ibu (ASI).
Model asuhan perawatan topikal ASI pada tali pusat pada bayi dapat mencegah omfalitis dan mempercepat pelepasan tali pusat bada bayi baru lahir (Santoso dkk, 2013).
Dan, penatalaksanaan pada hiperbilirubinemia neonatus, bblr dan omfalitis yaitu dengan terapi cahaya (fototerapi), pemberian ASI, mengatasi infeksi, transfusi tukar, dan
untuk penatalaksanaan di rumah yaitu sinar matahari yang sangat membantu untuk mencegah bilirubin indirek agar hepar dapat memprosesnya lebih mudah. (Santoso dkk, 2013).
Mengingat belum banyaknya pengetahuan tentang hiperbilirubin, bblr dan omfalitis maka berdasarkan hal hal di atas penulis melakukan telaah kasus yang mendalam pada By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, didapat rumusan masalah dari kasus tersebut adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Bayi Ny, TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis”.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan dengan cara pendekatan proses keperawatan secara langsung dan komprehensif, yang meliputi aspek biopsikososiospiritual pada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis diharapkan penulis mampu:
a. Melakukan pengkajian kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
b. Melakukan rencana asuhan keperawatan kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
c. Menyusun rencana tidakan asuhan keperawatan pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
d. Menyusun rencana evaluasi tindakan dan pendokumentasian asuhan keperawatan kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
D. Metode Telaah dan Teknik Pengambilan Data
Metode telaah yang digunakan dengan metode deskriptif yang berbentuk studi kasus.
Adapun teknik pengambilan data yang digunakan kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis yaitu:
1. Studi Dokumentasi
Membaca catatan perkembangan dan catatan medis yang berhubungan dengan pasien selama berada di rumah sakit.
2. Studi Kepustakaan
Mengumpulkan informasi dari bahan bahan bacaan sebagai literatur yang relevan dengan kasus yang diambil sebagai bahan dalam pembuatan karya tulis.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan karya tulis ini dibagi menjadi empat bab, yaitu:
1. Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, dan sistematika.
2. Bab II Tinjauan Pustaka
Mengemukaan teori dan askep dari penyakit berdasarkan masalah yang ditemukan pada klien dan konsep asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi pada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
3. Bab III Tinjauan Kasus dan Pembahasan
Bagian pertama berisi tentang laporan kasus klien yang dirawat, sistematika dokumentasi proses keperawatan yang dimulai dari pengkajian, perencanaan, implementasi, evaluasi dan catatan perkembangan pada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
Bagian kedua merupakan pembahasan yang berisi analisan terhadap kesenjangan antara konsep dasar dengan pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.
4. Bab IV Kesimpulan dan Saran
Bagian ini berisi kesimpulan yang diambil penulis setelah melakukan asuhan keperawatan serta mengemukakan saran dari seluruh proses kegiatan keperawatan yang telah dilakukan kepada pasien By. Ny. TE usia 4 hari lahir BBLR dengan Hiperbilirubin dan Omfalitis.