• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH KHAIRUN NISA PASARIBU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH KHAIRUN NISA PASARIBU"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

“Analisis Pengaruh Citra Merek, Harga dan Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah (Studi Kasus Pada Wardah Beauty

House Iskandar Muda Medan).”

OLEH

KHAIRUN NISA PASARIBU 110502088

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERITAS SUMATERA UTARA

2016

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan karunia-Nya kepada penulis serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang kewajiban dan salah satu syarat dalam memenuhi dan melengkapi Program Studi Strata Satu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen.

Penulis mempersembahkan skripsi ini kepada orang tua tercinta serta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda tercinta Khidman Pasaribu dan Ibunda tercinta Erti Rumiati Aritonang yang telah memberikan cinta, kasih sayangnya, serta dukungan materi dan non materi, serta do’a yang tiada hentinya kepada penulis, serta segala nasihat yang menjadi penyemangat dan dorongan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis juga menyadari bahwa segala kegiatan ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menghanturkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian hingga penulisan skripsi ini, kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E, M.E, dan Ibu Dra. Marhayanie M.Si, selaku Ketua dan Sekertaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(3)

3. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E, M.Si, dan Ibu Dra. Friska Sipayung, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara .

4. Bapak Syafrizal Helmi Situmorang, SE, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan, ilmu pengetahuan, motivasi, masukan dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Dr. Beby Karina Fawzeea S, S.E, M.M selaku dosen pembaca penilai saya yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

6. Kepada Bapak dan Ibu dosen serta seluruh staf dan pegawai atas segala jasa-jasanya.

7. Kepada yang terkasih dan tersayang yaitu kakak dan adik penulis Dini Rumanti Pasaribu, Maisarah Pasaribu dan Khairul Hamdi Pasaribu serta keluarga besar yang selalu mendoakan dan mendukung penulis.

8. Teman-teman terbaik penulis Elfaida, Relita dan Nanda terima kasih buat do’a, dukungan dan bantuannya serta seluruh teman-teman di Departemen Manajemen Stambuk 2011 yang telah membantu dan memberikan banyak dukungan.

Medan, 8 September 2016 Penulis,

Khairunnisa Pasaribu

(4)

DAFTAR ISI

. Halaman

KATA PENGANTAR... ... i

DAFTAR ISI... ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN... ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Landasan Teori ... 8

2.1.1 Keputusan Pembelian ... 8

2.2 Citra Merek ... 14

2.3 Harga ... 17

2.4 Label Halal ... 19

2.5 Penelitian Terdahulu ... 24

2.6 Kerangka Konseptual ... 25

2.7 Hipotesis ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

3.1 Jenis Penelitian ... 29

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 29

3.3 Batasan Operasional ... 29

3.4 Definisi Operasional ... 30

3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 31

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1 Populasi ... 31

3.6.2 Sampel ... 32

3.7 Tekhnik Pengumpulan Data ... 33

3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 34

3.8.1 Uji Validitas ... 34

3.8.2 Uji Reliabilitas ... 36

3.9 Tekhnik Analisis Data ... 36

3.10 Metode Analisis Data ... 37

3.10.1 Analisis Deskriptif ... 37

3.10.2 Uji Asumsi Klasik ... 37

3.10.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 38

3.10.4 Uji Hipotesis ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... ... 42

4.1 Gambaran Umum Perusahaan. ... 42

4.1.1 Sejarah PT. Paragon Technology and Innovation ... 42

(5)

4.1.2 Visi dan Misi PT. Paragon Technology and Innovation ... 45

4.2 Hasil dan Pembahasan ... 46

4.3 Analisis Deskriptif Responden ... 46

4.3.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 46

4.3.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 48

4.3.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kosmetik ... 49

4.4 Deskriptif Variabel Penelitian ... 50

4.4.1 Citra Merek ... 50

4.4.2 Harga ... 51

4.4.3 Label Halal ... 53

4.4.4 Keputusan Pembelian ... 54

4.5 Hasil Analisis Data ... 56

4.5.1 Hasil Uji Asumsi Klasis ... 56

4.5.1.1 Hasil Uji Normalitas ... 57

4.5.1.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 59

4.5.1.3 Hasil Uji Multikolinearitas ... 61

4.5.1.4 Persamaan Regresi Linear Berganda ... 62

4.5.2 Hasil Uji Hipotesis ... 62

4.5.2.1 Hasil Uji F ... 62

4.5.2.2 Hasil Uji t ... 63

4.5.2.3 Hasil Uji R ... 65

4.6 Pembahasan ... 66

4.6.1 Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian ... 66

4.6.2 Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian ... 67

4.6.3 Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN ... 75

(6)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 24

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 30

3.2 Instrumen Skala Likert ... 31

3.3 Uji Validitas ... 35

3.4 Uji Reliabilitas ... 36

4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 46

4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 48

4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kosmetik ... 49

4.4 Distribusi Jawaban Responden Variabel Citra Merek ... 50

4.5 Distribusi Jawaban Responden Variabel Harga ... 52

4.6 Distribusi Jawaban Responden Variabel Label Halal ... 53

4.7 Distribusi Jawaban Responden Variabel Keputusan Pembelian ... 54

4.8 Uji Normalitas ... 59

4.9 Uji Heteroskedastisitas ... 60

4.10 Uji Multikolinearitas ... 61

4.11 Uji Simultan (Uji-F) ... 63

4.12 Uji Parsial (Uji-t) ... 63

4.13 Uji Koefisien Determinasi (R) ... 65

(7)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Perilaku Membeli Konsumen ... 11

2.2 Kerangka Konseptual ... 28

4.1 Grafik Lingkar Responden Berdasarkan Umur ... 47

4.2 Grafik Lingkar Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 49

4.3 Grafik Lingkar Responden Berdasarkan Jenis Kosmetik ... 50

4.4 Histogram ... 57

4.5 Pengujian Normalitas P-P Plot ... 58

4.6 Regression Standardized Predicted Value ... 60

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Kuesioner Penelitian ... 75

(9)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia memiliki banyak kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Kebutuhan manusia dapat diartikan sebagai suatu keadaan perasaan kekurangan akan kepuasan atas dasar tertentu. Manusia membutuhkan sandang, pangan, rumah, rasa aman, dicintai, harga diri dan aktualisasi diri untuk hidup.

Keadaan dan kodrat manusia menjadikan setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan anak-anak berbeda dengan kebutuhan orang tua, begitu juga dengan kebutuhan wanita berbeda dengan kebutuhan pria.

Penampilan fisik merupakan hal penting yang begitu diperhatikan bagi semua kalangan terutama wanita, karena secara alamiah wanita ingin selalu tampil cantik di setiap kesempatan. Kosmetik sebagai suatu bahan atau alat yang digunakan untuk mempercantik, memperindah, bahkan untuk menyehatkan tubuh yang diinginkan. Kebutuhan wanita untuk tampil cantik seperti yang diinginkan menciptakan potensi pasar yang sangat besar di industri kosmetik.

Disadari atau tidak, dalam sehari-hari kehidupan wanita tidak bisa terlepas dari kosmetik, produk perawatan tubuh ini digunakan oleh sebagian besar wanita mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang berusaha memenuhi kebutuhan akan kosmetik dengan berbagai macam inovasi produk.

(10)

Inovasi produk kosmetik dilakukan oleh produsen untuk memperoleh kepercayaan konsumen terhadap produk seiring banyak beredarnya kosmetik palsu dipasaran. Dalam upaya pemenuhan kebutuhannya, orang akan memilih produk yang dapat memberikan kepuasaan tertinggi. Kepuasan tertinggi dapat dirasakan tidak hanya secara lahir saja namun juga secara batin sampai dengan ketenangan hati.

Banyak cara dilakukan dalam upaya pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya dengan mencari informasi yang terdapat pada atribut produk. Atribut produk menjadi unsur-unsur yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan membeli. Melalui atribut produk,konsumen dapat memperoleh jawaban apakah produk yang akan dibeli sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan sehingga memperoleh kepuasan secara lahir dan batin.

Atribut yang dimaksud sebagai media informasi konsumen untuk memperoleh kepercayaan terhadap produk secara lahir batin adalah label halal.

Produk kosmetik yang beredar dipasaran nyatanya masih banyak yang belum mencantumkan label halal dalam kemasan produknya. Padahal kebutuhan akan jaminan halal pada kosmetik menjadi penting khususnya di Indonesia.

Perkara halal-haram merupakan wacana yang mudah sekali bergulir di Indonesia. Alasan yang mendasarinya dikarenakan penduduk Indonesia yang sebagian besar merupakan umat muslim. Kosmetik yang tidak halal berarti dalam proses pembuatannya menggunakan zat-zat yang diharamkan secara Islam. Bagi umat Islam yang menyadari hal tersebut akan menciptakan perasaan tidak tenang

(11)

dan keraguan saat menggunakannya, apalagi saat beribadah. Dalam Islam kesucian diri adalah mutlak ketika seorang muslim melaksanakan ibadah.

Keraguan dalam beribadah terutama dalam sholat tidak dibenarkan secara Islam.

Selain keraguan yang timbul akibat kesalahan pemilihan kosmetik masalah- masalah kesehatan juga menjadi ancaman bagi konsumen.

Kosmetik halal menjadi jawaban bagi wanita Islam yang ingin tampil cantik namun tidak melanggar ajaran agama. Wardah merupakan perusahaan kosmetik Indonesia yang seluruh produknya telah mendapat sertifikasi halal yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Wardah sebagai pionir kosmetik yang mengusung tema “Kosmetik Halal”, tentu saja sudah jelas mencantumkan label halal pada setiap produk yang dipasarkan ke konsumen. Adanya label halal pada suatu produk tentunya dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen tentunya konsumen beragama Islam.

Selain adanya label halal, harga juga turut dapat menentukan ketertarikan seorang konsumen terhadap keputusan pembelian. Harga merupakan instrumen pemasaran yang paling fleksibel dan memiliki kekuatan tersendiri untuk menjadi bagian dari nilai suatu produk.

Harga akan cenderung menjelaskan kualitas produk barang tersebut. Kini konsumen cenderung menuntut harga yang sesuai dengan kualitas produk, terutama para konsumen wanita yang lebih memperhatikan unsur harga dan kualitas produk.

(12)

Kemampuan pengetahuan konsumen pun sekarang ini semakin berkembang.

Konsumen akan tetap mempertimbangkan manfaat terbesar yang akan diterimanya dan selanjutnya bersedia untuk membayar lebih dari kenyamanan, penampilan, kehandalan serta prestise yang didapatkan dan dirasakan dari kualitas produk yang akan dibeli nanti.

Dari pengamatan sehari-hari dapat diketahui bahwa kaum wanita mendominasi konsumsi produk kosmetik, walaupun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria tidak turut mengkonsumsi kosmetik sama sekali. Kaum wanita adalah pembeli potensial dalam produk kosmetik kecantikan Wardah.

Citra merek adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleksi memori konsumen akan asosiasinya pada merek tersebut Pen 2008 : (Ferrinadewi, 2008:165). Pengaruh Produk Harga, Promosi dan Distribusi Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen ( Hariadi dan Martoadmodjo, 2012:6), Keputusan pembelian adalah tahap proses keputusan pembelian oleh konsumen dimana konsumen secara actual melakukan pembelian ada dua faktor yang muncul diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian yaitu faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak terduga.

Jika konsumen tidak memiliki pengalaman dengan suatu produk, maka mereka cenderung untuk mempercayai merek yang disukai atau yang terkenal (Schiffman dan Kanuk, 2008:173). Alasan inilah yang mendorong perusahaan agar dapat memperkuat posisi mereknya sehingga tercipta citra merek yang positif dan menancap kuat di benak konsumen karena hanya dengan melalui citra merek, konsumen mampu mengenali suatu produk, mengevaluasi kualitas, mengurangi

(13)

resiko pembelian, dan kepuasan dari diferensiasi produk tertentu (Lin dkk, 2007:122).

Kosmetik menjadi bagian terpenting bagi wnaita untuk menyempurnakan penampilan agar terlihat cantik. Namun sekedar cantik saja tidaklah cukup, hal ini dikarenakan kosmetik juga harus menciptakan rasa aman secara lahir batin bagi pemakainya, terutama bagi konsumen wanita Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Citra merek yang dimiliki oleh Wardah selama ini sudah sangat positif dikalangan masyarakat karena adanya label halal, harga yang cukup terjangkau, serta manfaat lain yang dapat membuat konsumen melakukan pembelian.

Berdasarkan uraian dan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis Pengaruh Citra Merek, Harga dan Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah (Studi Kasus Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan).”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah Terdapat Pengaruh Antara Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan ?

2. Apakah Terdapat Pengaruh Antara Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan ?

(14)

3. Apakah Terdapat Pengaruh Antara Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk Menganalisis Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan.

2. Untuk Menganalisis Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan.

3. Untuk Menganalisis Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan.

(15)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:

1. Bagi Penulis

Diharapkan penelitian ini dapat memperluas pengetahuan serta dapat menambah wawasan penulis dan dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya.

2. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pihak manajemen perusahaan dalam menentukan strategi pemasaran agar berdampak pada tingkat keputusan pembelian konsumen.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan digunakan sebagai masukan dalam pengembangan ilmu pemasaran dan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian merupakan muara akhir dari penilitian ini. Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli menggunakan dan bagaimana barang,jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka (Kotler, 2009:107).

Menurut definisi Kotler (2009:123), pengertian keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan dimana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan.

Perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan dalam (Kotler, 2009:167).

1. Faktor Budaya

Kelas budaya, sub budaya sosial dan sosial sangat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen. Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Setiap budaya terdiri dari beberapa subbudaya (subculture) yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota mereka. Sub budaya meliputi kebangsaan, agama, kelompok ras

(17)

dan wilayah geografis. Dan kelas sosial yang merupakan divisi yang relative homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, tersusun secara hierarki dan memiliki anggota dengan berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama.

2. Faktor Sosial

Selain factor budaya, factor sosial seperti kelompok refeerensi, keluarga, serta peran sosial dan status mempengaruhi perilaku pembelian. Kelompok referensi (reference group) seseorang adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut. Keluarga adalah organisasi pembeli konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan anggota keluarga merepresentasikan kelompok referensi utama yang paling berpengaruh. Kita dapat mendefinisikan posisi seseorang dalam tiap kelompok dimana dia menjadi anggota berdasarkan peran dan status.

Peran (role) terdiri dari kegiatan yang diharapkan dapat dilakukan seseorang.

Setiap peran menyandang status. Orang biasanya memilih produk yang mencerminkan dan mengkomunikasikan peran mereka serta status aktual atau status yang diinginkan dalam masyarakat. Jadi pemasar harus menyadari potensi symbol status dari produk dan merek.

3. Faktor Pribadi

Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerja dan keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai. Orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya menurut usia dan dipengaruhi juga oleh tahap siklus hidupnya. Pekerjaan dan lingkungan juga

(18)

mempengaruhi pada konsumsinya karena berkaitan juga dengan penghasilan yang dapat dibelanjakan. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap dari aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan kepribadian adalah cirri bawaan psikologi manusia yang membedakan dan menghasilkan tanggapan yang relative konsisten dan bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Dan semua itu merupakan faktor pribadi yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli suatu produk/jasa.

Menurut Kotler dan Amstrong (2009:54) ada empat tipe dalam perilaku pembelian konsumen, yaitu:

a. Perilaku membeli yang kompleks

Konsumen menjalankan perilaku membeli yang kompleks ketika mereka benar-benar terlibat dalam pembelian dan mempunyai pandangan yang berbeda antar merek yang satu dengan yang lain.

b. Perilaku membeli yang mengurangi ketidakcocokan

Perilaku membeli mengurangi ketidakcocokan terjadi ketika konsumen sangat terlibat dalam pembelian yang mahal, jarang, atau yang berisiko tetapi hanya melihat sedikit perbedaan di antara merek-merek yang ada.

(19)

c. Perilaku membeli yang mencari variasi

Perilaku membeli konsumen dalam situasi ini bercirikan keterlibatan konsumen yang rendah dan kecilnya perbedaan antar merek, contohnya dalam pembelian garam.

d. Perilaku membeli yang mencari variasi

Perilaku membeli konsumen dalam situasi ini bercirikan rendahnya keterlibatan konsumen namun perbedaan merek cukup berarti.

e. Perilaku membeli karena kebiasaan

Perilaku membeli konsumen dalam situasi ini bercirikan keterlibatan konsumen yang rendah dan kecilnya perbedaan antar merek, contohnya dalam pembelian garam.

f. Perilaku membeli yang mencari variasi

Perilaku membeli konsumen dalam situasi ini bercirikan rendahnya keterlibatan konsumen namun perbedaan merek dianggap cukup berarti.

Menurut Kotler (2009:235), proses pengambilan keputusan pembelian yang akan dilakukan oleh konsumen akan melalui lima tahap dalam pembelian produk mungkin konsumen ada yang melewati atau membalik beberapa tahap, diantaranya sebagai berikut:

Sumber: Kotler (2009)

Gambar 2.1 Pengenalan

Masalah

Pencarian Informasi

Evaluasi Alternatif

Keputusan Pembelian

Perilaku Pasca Pembelian

(20)

1. Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Para pemasar perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu kebutuhan tertentu, dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, para pemasar dapat mengidentifikasika pemasar yang paling sering membangkitkan minat akan kategori produk tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dan sejumlah konsumen mereka kemudian dapat menyusun strategi pemasar yang mampu memicu minat konsumen.

2. Pencarian Informasi

Para konsumen yang merasa membutuhkan terhadap suatu produk akan terdorong untuk mencari tahu informasi yang lebih banyak mengenai produk tersebut. Yang menjadi perhatian utama pemasar adalah sumber- sumber informasi utama yang menjadi acuan konsumen dan pengaruh relative tiap sumber tersebut terhadap keputusan pembelian selanjutnya.

Sumber informasi konsumen digolongkan menjadi empat kelompok dibawah ini:

a. Pribadi: keluarga, teman, tetangga, rekan.

b. Komersial: iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.

c. Public: media massa, organisasi pemeringkat konsumen.

d. Eksperimental: penanganan, pemeriksaan, dan penggunaan produk.

Jumlah dan pengaruh relative sumber-sumber informasi itu berbeda-beda bergantung pada kategori produk dan karakteristik pembeli. Secara umum

(21)

konsumen mendapatkan sebagian informasi tentang produk tertentu dari sumber komersial yaitu sumber yang didominasi oleh pemasar. Namun, informasi yang paling efektif berasal dari sumber pribadi atau sumber publik yang merupakan otoritas independen.

3. Evaluasi Alternatif

Evaluasi alternatif merupakan proses dimana konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada dalam kumpulan alternatif.

Konsumen juga dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai. Terdapat beberapa proses evaluasi konsumen sebagai proses berorientasi kognitif, yaitu, model tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk dengan sangat sadar dan rasional.Beberapa konsep dasar yang dapat membantu memahami proses evaluasi konsumen yaitu pertama, konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk.

Ketiga, konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memandang berbagai atribut yang dianggap relevan dan penting. Mereka akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicari. Kebanyakan pembeli mempertimbangkan beberapa atribut dalam keputusan pembelian mereka.

4. Keputusan Pembelian

(22)

Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan persepsi konsumen tentang merek yang dipilih. Konsumen cenderung akan membeli merek yang disukai. Sedangkan faktor eksternal adalah sikap orang lain dan situasi yang tak terduga. Konsumen yang akan melaksanakan keinginannya untuk membeli sesuatu akan membuat lima macam sub keputusan pembelian, antara lain keputusan tentang merek, keputusan membeli tentang siapa, keputusan tentang jumlah, keputusan tentang waktu pembelian, dan keputusan tentang cara pembayaran.

5. Perilaku Pasca Pembelian

Setelah konsumen melakukan pembelian, konsumen mungkin mengalami level kepuasan atau tidak kepuasan. Kepuasan atau tidak kepuasan terhadap produk akan mempengaruhi perilaku konsumen selanjutnya. Jika konsumen tersebut puas, ia mungkin ingin membeli produk itu kembali.

Pelanggan yang puas cenderung mengatakan hal-hal baik tentang merek kepada orang lain. Di pihak lain, konsumen yang kecewa mungkin mengabaikan atau mengembalikan produk. Mungkin mereka mencari informasi yang memastikan nilai produk yang tinggi.

2.2 Citra Merek

Menurut Kotler dan Keller (2009:38) menyatakan bahwa citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang tertanam dalam ingatan konsumen, yang selalu diingat pertama kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak konsumennya. Keller dalam Ferrinadewi (2008:56) menyatakan bahwa citra merek atau brand image adalah persepsi tentang merek yang

(23)

merupakan refleksi memori konsumen akan asosiasinya pada merek tersebut. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap citra merek. Citra merek atau brand image adalah konsep yang diciptakan konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadi.

Menurut Susanto dalam Nugroho (2011:11) citra merek adalah apa yang dipersepsikan oleh konsumen mengenai sebuah merek. Pembangunan sebuah citra merek, terutama citra yang positif menjadi salah satu hal yang penting. Sebab tanpa citra kuat dan positif, sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan yang sudah ada, dan pada saat yang sama meminta mereka membayar harga yang tinggi.

Menurutkotler dan Keller(2009:42) bahwa pengukuran citra merek dapat dilakukan pada aspek sebuah merek, yaitu:

a. Strength

Mengarah pada berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki merek bersangkutan yang bersifat fisik, dan tidak ditemukan pada merek lainnya. Keunggulan merek ini mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek bersangkutan sehingga bisa dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingkkan merek lainnya.

b. Uniqueness

Yaitu kemampuan untuk membedakan sebuah merek diantara merek-merek lainnya. Kesan ini muncul dari atribut produk, kesan unik berarti terdapat diferensiasi antara produk satu dengan produk lainnya. Termasuk dalam kelompok unik ini antara lain: variasi layanan, dan harga serta differensiasi.

(24)

c. Favourable

Mengarah pada kemampuan merek tersebut untuk mudah diingat oleh pelanggan.

Termasuk dalam kelompok favourable ini antara lain : kemudahan merek untuk diucapkan, kemampuan mereka untuk tetap diingat pelanggan, maupun kesesuaian antara kesan mereka dibenak pelanggan dengan citra yang diinginkan perusahaan atas merek bersangkutan.

Schiffman dan Kanuk (2011:33) menyebutkan faktor faktor pembentuk citra merek sebagai berikut:

1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang atau jasa yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.

2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.

3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang atau jasa yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.

4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani.

5. Resiko, berkaitan dengan besar-kecilnya akibat atau untung-rugi yang mungkin dialami oleh konsumen.

6. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi-rendahnya atau banyak- sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.

(25)

7. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan, kesepakatan, dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu.

Citra merek sering terkonseptualisasi sebagai sebuah koleksi dari semua asosiasi yang berhubungan dengan sebuah merek yang terdiri dari:

1. Faktor fisik berupa karakteristik fisik dari merek tersebut, seperti desain kemasan, logo, nama merek, fungsi, dan kegunaan produk dari merek itu.

2. Faktor psikologis yang dibentuk oleh emosi, kepercayaan, nilai, kepribadian yang dianggap oleh konsumen menggambarkan produk dari merek tersebut.

Citra merek sangat erat kaitannya dengan apa yang orang pikirkan, rasakan terhadap suatu merek tertentu, sehingga dalam citra merek faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan faktor fisik dari merek tersebut.

2.3 Harga

Dengan semakin banyaknya produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, menyebabkan setiap perusahaan harus dapatteliti dalam menetapkan harga. Menetapkan harga suatu produk tidaklah semudah yang kita bayangkan, ada beberapa proses yang harus dilakukan dalam penetapan harga suatu produk.

Menurut Monroe (2005:172) harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan untuk memperoleh produk atau jasa. Selain itu harga

(26)

salah satu faktor penting konsumen dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak (Sukotjo dan Radix, 2010:219).

Faktor-Faktor dalam Menentukan Kebijakan Penetapan HargaDalam menetapkan harga perusahaan harus mempertimbangkan faktor dalam menentukan kebijakan penetapan harganya, sehingga harga yang nantinya diterapkan dapat diterima oleh konsumen. Faktor-faktor yang berpengaruh dalampenetapan harga tersebut adalah (Kotler dan Keller, 2009:83) :

1. Biaya menjadi batas bawah.

2. Harga pesaing dan harga barang pengganti menjadi titik orientasi yang perlu dipertimbangkan perusahaan.

3. Penilaian pelanggan terhadap fitur-fitur produk yang unik dari penawaran perusahaan menjadi batas atas harga.

MenurutKotler dan Armstrong (2009:42) ada empat indikator yangmencirikanharga yaitu:Keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitasproduk, daya saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.

Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran atau marketing mix (4P = product, price, place, promotionatau produk, harga,

distribusi, promosi). Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa. Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan

(27)

penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan.

2.4 Label Halal

Label adalah sejumlah keterangan pada kemasan produk. Secara umum,label minimal harus berisi nama atau merek produk, bahan baku, bahan tambahan komposisi, informasi gizi, tanggal kedaluwarsa, isiproduk, dan keterangan legalitas. Label juga bagian dari sebuah barang yang berupa keterangan (kata-kata) tentang barang tersebut ataupenjualannya.Adapun sejumlah keterangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui apakah produk yang dibelimengandung unsur-unsur yang diharamkan atau membahayakan bagi kesehatan adalah sebagai berikut:

a. Keterangan bahan tambahan

Kebanyakan produsen tidak merinci jenis bahan tambahan yang digunakan.

Biasanya digunakan istilah-istilah umum kelompok seperti: emulsifier, stabilizer, pewarna, flavor, enzim, anti foaming atau gelling agent atau hanya menyantumkan kode internasional E untuk bahan tambahan makanan. Padahal, bahan-bahan tersebut rawan haram. Kode E sendiri adalah kode internasional (Eropa) untuk bahan tambahan makanan yang diikuti dengan tiga angka dibelakangnya yang berfungsi sebagai identitas dan pembeda jenis. Beberapa yang harus diwaspadai misalnya : E252 (bias berasal dari limbah hewan atau tumbuhan), E334 (berasal dari limbah pembuatan minuman anggur/wine), E335,E336,E337 dan E353( turunan asam tartarat yang dapat berasal dari limbah pengolahan minuman anggur).

(28)

b. Komposisi dan nilai gizi

Secara umum informasi gizi yang diberikan adalah kadar air, kadar protein, kadar lemak, vitamin dan mineral. Yang perlu dicermati oleh konsumen terutama adalah iklan yang bombastis atau berlebihan mengenai manfaat maupun khasiat produk padahal seringkali kondisi sebenarnya tidak seperti yang diiklankan.

c. Batas kedaluwarsa

Sebuah produk harus dilengkapi dengan tanggal kedaluwarsa yang menyatakan umur pemakaian dan kelayakan pemakaian atau penggunaan produk. Menurut PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan Pasal 27 Ayat 2 berbunyi: “Baik digunakan sebelum tanggal sesuai dengan jenis dan daya tahan produk yang bersangkutan”. Sedangkan Ayat 3 berbunyi “Dalam hal produk pangan yang kedaluwarsa lebih dari tiga bulan dibolehkan hanya mencantumkan bulan dan tahun kedaluwarsa saja”.

d. Keterangan legalitas

Keterangan legalitas memberikan informasi bahwa produk telah terdaftar di badan pengawasan obat dan makanan (Badan POM), berupa kode nomor registrasi. Kode MD dan SP adalah untuk makanan lokal dan ML untuk makanan impor. Namun masih banyak produk yang berlabel halal, akan tetapi tidak terdaftar sebagai produk yang telah disertifikasi halal,al ini khususnya produk yang berkode SP atau tidak berkode sama sekali.Untuk produk-produk yang demikian, maka pengetahuan konsumen yang menentukan apakah diragukan kehalalanya atau tidak, jika ragu-ragu maka sikap yang terbaik

(29)

adalah tidak membeli produk yang diragukan kehalalanya.Di samping itu ada beberapa macam label secara spesifik yang mempunyai pengertian berbeda antara lain:

1. Label produk (product label) adalah bagian dari pengemasan sebuah produk yang mengandung informasi mengenai produk atau penjualan produk.

2. Label merek (brand label) adalah nama merek yang diletakkan pada pengemasan produk.

3. Label tingkat (grade label) mengidentifikasi mutu produk, label ini bisa terdiri dari huruf, angka atau metode lainnya untuk menunjukkan tingkat kualitas dari produk itu sendiri.

4. Label deskriptif (descriptive label) mendaftar isi, menggambarkan pemakaian dan mendaftar ciri-ciri produk yang lainnya. Pemberian label (labeling) merupakan elemen produk yang sangat penting yang patut memperoleh perhatian seksama dengan tujuan untuk menarik para konsumen.

Halal dalam bahasa Arab berasal dari kata halla, yahillu, hillan, yang berarti membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan dan membolehkan.Sedangkan secara etimologi halal berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya.

Adapun syarat-syarat produk halal menurut syari’at Islam antara lain adalah sebagai berikut:

1. Halal zatnya artinya halal dari hukum asalnya misalkan sayuran.

(30)

2. Halal cara memperolehnya artinya cara memperolehnya sesuai dengan syari’a Islam misalkan tidak dengan mencuri.bagaimana Wardah selalu berinovasi serta berkreasi menjawab setiap kebutuhan. Mulai dari serangkaian kosmetik yang efektif membingkai wajah dengan warna-warna segar hingga produk perawatan kulit berkualitas tinggi.

3. Halal dalam memprosesnya, misalkan proses menyembelih binatang dengan syari’at Islam misalkan dengan membaca basmalah.

4. Halal dalam penyimpananya, tempat penyimpananya tidak mengandung barang yang diharamkan seperti, babi dan anjing (binatang yang diharamkan oleh Allah).

5. Halal dalam pengangkutanya misalkan binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, tidak boleh ikut disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.

6. Halal dalam penyajianya artinya dalam penyajian tidak mengandung barang yang diharamkan menurut syari’at Islam.

7. Halal manfaatnya artinya kotoran hewan yang semula najis karena manfaatnya diperbolehkan seperti kotoran sapi, domba.

Labelisasi Halal adalah pencantuman tulisan atau pernyataan halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai produkhalal.

Produk halal adalah produk pangan, obat, kosmetika dan produk lain yang tidak mengandung unsur atau barang haram dalam proses pembuatanya serta dilarang untukdikonsumsi umat Islam baik yang menyangkut bahan baku, bahan tambahan, bahan pembantu lainnya termasuk bahan produksi yang diolah melalui proses rekayasa genetika

(31)

dan iradiasi yang pengolahanya dilakukan sesuai dengan syari’at Islam serta memberikan manfaat yang lebih dari padamadharat (efek).

2.5 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

(32)

Nama Peneliti

Judul Penelitian Tekhnik Analisis Hasil Penelitian Desi

Retno Ekawati (2014)

Analaisis Pengaruh Kualitas Produk, Persepsi Harga dan Citra Merek

Terhadap Keputusan Pembelian Olive Fried Chicken Tembalang Semarang.

Analisis Regresi Linear Berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas Produk, Persepsi Harga dan Citra Merek

berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Olive Fried Chicken Tembalang Semarang.

M. Faris Naufal (2014)

Analisis Pengaruh Brand Awareness, Norma Subyektif, Keyakinan Label Halal Terhadap Brand Attitude untuk

Meningkatkan Minat Beli Ulang Kosmetik Merek Wardah di Semarang.

Analisi Regresi Linear Sederhana dan Berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brand Awareness, Norma Subyektif, Keyakinan Label Halal berpengaruh terhadap Brand Attitude untuk Meningkatkan Minat Beli Ulang Kosmetik Merek Wardah di Semarang.

Wahyu Budi Utami (2013)

Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian (studi pada Pembeli Produk Kosmetik Wardah di Outlet Wardah Griya Muslim An-nisa).

Korelasi Product Moment

Hasil Penelitian menujukkan bahwa Label Halal

berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosmetik

Wardah di Yogyakarta).

Lanjutan Tabel 2.1 Nama

Peneliti

Judul Penelitian Tekhnik Analisis Hasil Penelitian Ikanita

Novirina Sulistyari

Analisi Pengaruh Citra Merek, dan Harga Terhadap

Analisis Regresi Linear Berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Citra Merek,

(33)

(2012) Keputusan

Pembelian Produk Oriflame (studi Kasus Mahasiswa Fakultas

Ekonomika dan Bisnis Jurusan Manjamen Universitas Diponegoro Semarang).

dan Harga berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Produk Oriflame di Undip Semarang.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual atau disebut juga kerangka teoritis menurut Erlina (2011:214) kerangka konseptual adalah “suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka teoritis akan menghubungkan secara teoritis antar variabel-variabel penelitian, yaitu antara variabel bebas dengan variabel terikat”.

Keputusan pembelian merupakan muara akhir dari penilitian ini. Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli menggunakan dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka (Kotler, 2009:236).

Menurut definisi Kotler (2009:163), pengertian keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan dimana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara

(34)

langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan.

Konsumen merupakan individu dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Penilaian yang dirasakan setiap konsumen terhadap suatu produk yang mereka terima tidak sama. Persepsi konsumen terhadap Citra Merek, Harga dan Label Halal dapat mempengaruhi keputusannya dalam membeli suatu produk sehingga suatu perusahaan harus mampu memberikan yang terbaik terhadap produk yang mereka jual.

Menurut Susanto dalam Nugroho (2011:11) citra merek adalah apa yang dipersepsikan oleh konsumen mengenai sebuah merek. Pembangunan sebuah citra merek, terutama citra yang positif menjadi salah satu hal yang penting.Konsumen cenderung membeli merek yang sudah di kenal karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan memiliki anggapan bahwa kemungkinan merek yang mereka kenal tersebut juga memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diandalkan.

Indikator penilaian harga dapat dilihat dari kesesuaian antara suatu pengorbanan dari konsumen terhadap nilai yang diterimanya setelah melakukan pembelian. Apabila persepsi Harga pada suatu produk telah sesuai dengan harapan dan manfaat produk, maka akan meningkatkan kepuasan dan menimbulkan keputusan untuk membeli.

Selain Citra Merek dan Harga, dewasa ini keyakinan Label Halal pada suatu produk juga menentukan keputusan pembelian bagi konsumen. Banyak cara dilakukan dalam upaya pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan, salah

(35)

satunya dengan mencari informasi yang terdapat pada atribut produk. Atribut yang dimaksud sebagai media informasi konsumen untuk memperoleh kepercayaan terhadap produk secara lahir batin adalah label halal.

Produk kosmetik yang beredar dipasaran nyatanya masih banyak yang belum mencantumkan label halal dalam kemasan produknya. Padahal kebutuhan akan jaminan halal pada kosmetik menjadi penting khususnya di Indonesia.

Melalui atribut produk konsumen dapat memperoleh jawaban apakah produk yang akan dibeli sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan sehingga memperoleh kepuasan secara lahir dan batin dan merasa yakin dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa terdapat pengaruh Citra Merek, Harga dan Label Halal terhadap keputusan pembelian kosmetik wardah.

Maka kerangka konseptual untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:

(36)

Gambar 2.2: Kerangka Konseptual

2.7 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Citra Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah (Studi Kasus Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan)

2. Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah (Studi Kasus Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan).

3. Label Halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah (Studi Kasus Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan).

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Label Halal

(X3) Harga

(X2)

Keputusan Pembelian (Y)

(37)

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanasi assosiatif, yaitu penelitian yang menjelaskan tentang seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, menurut Situmorang dan Ginting (2008:57).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada konsumen yang akan melakukan pembelian produk wardah pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2016.

3.3 Batasan Operasional

Untuk menghindari pembahasan yang tidak terarah dan mengakibatkan tidak tepatnya sasaran yang diharapkan, maka peneliti membatasi masalah hanya pada :

a. Variabel Bebas (X) (Independent Variable) X1 = Citra Merek

X2 = Harga X3 = Label Halal

b. Variabel Terikat (Y) (Dependent Variable) = Keputusan Pembelian

3.4 Definisi Operasional

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala

Citra Merek Citra Merek adalah deskripsi

1. Mudah diingat

2. Mudah diucapkan Likert

(38)

(X1) tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu, Sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat dibenak konsumen.

3. Memiliki kesan dibenak pelanggan

Harga (X2) Harga adalah persepsi dari sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.

1. Keterjangkauan harga produk 2. Kesesuaian harga

dengan kualitas produk

3. Daya saing harga produk

4. Kesesuaian dengan manfaat produk Label Halal

(X3)

Label adalah sejumlah keterangan pada kemasan produk. Secara umum label halal minimal harus berisi sejumlah keterangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui apakah produk yang dibeli mengandung unsure-unsur yang

diharamkan/membahayakan bagi kesehatan.

1. Keterangan bahan tambahan

2. Komposisi dan nilai gizi

3. Batas kadaluwarsa 4. Keterangan legalitas

Keputusan Pembelian (Y)

Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses

pengambilan keputusan dimana konsumen benar- benar membeli.

1. Pengenalan Masalah 2. Pencarian Informasi 3. Evaluasi Alternatif 4. Keputusan Membeli 5. Perilaku Pasca

Pembelian

3.5 Skala Pengukuran Variabel

Penelitian ini menggunakan skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena

(39)

sosial (Sugiyono, 2012:132). Untuk keperluan kuantitatif penelitian maka peneliti memberikan lima alternatif jawaban untuk dijawab oleh para responden dengan menggunakan skor 1 sampai dengan 5, dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut ini:

Tabel 3.2

Instrumen Skala Likert

Keterangan Skor

Sangat Setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Ragu-ragu (RG) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Sumber: Sugiyono (2012) 3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1 Populasi

Sugiyono (2012:115) menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Kriteria dalam penelitian ini adalah konsumen yang akan melakukan pembelian produk wardah Pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan.

3.6.2 Sampel

(40)

Sampel menurut Erlina (2011:75) adalah “bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi”. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus (Supramono, 2003:65) sebagai berikut :

𝑛 =(Zα)2(p)(q) d2 Dimana:

n = Jumlah Sampel

Zα = Nilai standar normal yang besarnya tergantung kepada α Bila α = 0,05 maka Z = 1,67

Bila α = 0,1 maka Z = 1,96 p = Estimasi proporsi populasi q = 1-p

d = Penyimpangan yang ditolelir

Berhubung p belum diketahui, maka peneliti mengadakan pra survey terhadap sekitar 20 Konsumen pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan. Para konsumen yang memenuhi kriteria pernah membeli kosmetik Wardah adalah sekitar 14 orang yang jika di persentasikan 70%. Dengan demikian jumlah sampel yang mewakili populasi adalah :

𝑛 =(1,96)2(0,7)(0,3) 0,12 𝑛 =0,80674

0,01 n = 80,67 dibulatkan menjadi 81 orang.

(41)

Dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan atau berdasarkan kuota tertentu (Sugiyono, 2012:214). Kriteria dalam penelitian ini adalah konsumen yang akan melakukan pembelian produk wardah pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan.

3.7 Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan wawancaralangsung kepada informan untuk memperoleh informasi berkenaan denganyang diteliti.

2. Daftar Pertanyaan (Kuesioner)

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan cara memberikan pertanyaan secara tertulis kepada responden atau objek yang diteliti untuk dijawab sehingga kita dapat memperoleh data yang diharapkan.

3. Studi Pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan buku-buku, jurnal dan internet yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

3.8Uji Validitas dan Realibilitas 3.8.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan oleh peneliti untuk mengukur data yang telah didapat setelah penelitian yang merupakan data valid dengan menggunakan

(42)

kuisioner sebagai alat ukur. Uji validitas dilakukan pada 30 orang responden diluar dari sampel dan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sampel yang digunakan yaitu Keputusan Pembelian Kosmetik Wardah pada konsumen pada Wardah Beauty House di Iskandar Muda Medan. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan antara nilai korelasi atau r hitung dengan variabel penelitian r tabel. Pengujian validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan software SPSS. Kriteria dalam menentukan validitas suatu kuesioner adalah sebagai berikut:

1. Jika r hitung > r tabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan valid 2. Jika r hitung < r tabel, maka pernyataantersebut dinyatakan tidak valid 3. Korelasi tiap faktor positif.

4. Nilai korelasi tiap faktor melebihi 0,361.

Tabel 3.3 Uji Validitas Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item

Deleted

Keterangan

(43)

P1 62,60 44,800 ,660 ,915 Valid

P2 62,60 42,938 ,604 ,917 Valid

P3 62,70 42,493 ,665 ,915 Valid

P4 62,57 42,875 ,740 ,912 Valid

P5 62,60 43,076 ,740 ,912 Valid

P6 62,57 44,530 ,667 ,915 Valid

P7 62,57 43,564 ,564 ,918 Valid

P8 62,53 42,326 ,784 ,911 Valid

P9 62,43 44,185 ,574 ,917 Valid

P10 62,50 42,810 ,658 ,915 Valid

P11 62,47 43,706 ,643 ,915 Valid

P12 62,43 45,289 ,625 ,916 Valid

P13 62,47 45,430 ,488 ,919 Valid

P14 62,57 45,771 ,497 ,919 Valid

P15 62,53 46,533 ,508 ,919 Valid

P16 62,37 45,689 ,621 ,917 Valid

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS, 2016 (Data Diolah)

Tabel 3.3 menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan telah valid karena r hitung > r tabel. Pernyataan yang memiliki nilai tertinggi adalah pernyataan 8 (0,784) dan nilai terendah adalah pernyataan 13 (0,488). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan tersebut valid dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian.

(44)

3.8.2 Uji Reliabititas

Reliabilitas digunakan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan menunjukkan konsistensi didalam mengukur gejala yang sama. Pernyataan yang telah dinyatakan valid dalam uji validitas, maka akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:

Jika r alpha >r tabel maka pernyataan tersebut dinyatakan valid Jika r alpha <r tabel maka pernyataan tersebut dinyatakan tidak valid

Tabel 3.4 Uji Reliabilitas Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,921 16

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS, 2015 (Data Diolah)

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa pada 26 pernyataan diketahui koefisien alpha (Cronbach’s Alpha) adalah sebesar 0,921, ini berarti 0,921 > 0,80 sehingga dapat dinyataan bahwa kuesioner tersebut telah reliabel dan layak dijadikan sebagai instrument penelitian.

(45)

3.9 Teknik analisis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden yang telah ditentukan. Data primer diperoleh dengan memberikan daftar pertanyaan atau kuesioner.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka dengan mempelajari berbagai tulisan melalui buku, jurnal dan internet untuk mendukung penelitian.

3.10 Metode Analisis Data 3.10.1 Analisis Deskriptif

Salah satu metode analisis dengan cara data yang disusun, dikelompokkan, kemudian dianalisis sehingga diperoleh gambaran tentang masalah yang dihadapi.

3.10.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan sebelum melakukan analisis regresi, agar didapat perkiraan yang tidak bias dan efisien, maka dilakukan pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kolmogorov Smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5% maka jika nilai Asymp.sig (2-tailed) diatas, nilai signifikansi 5% artinya variabel residual berdistribusi

(46)

2. Uji Heteroskedastisitas

Situmorang dkk (2015) menyatakan bahwa uji heteroskedastisitas pada prinsipnya juga ingin menguji apakah sebuah grup mempunyai varians yang sama diantara anggota grup tersebut. Jika varians sama, dan ini yang seharusnya terjadi maka dikatakan ada homoskedastisitas. Sedangkan jika varians tidak sama dikatan terjadi heterokedastisitas.

3. Uji Multikolinearitas

Variabel independent yang satu dengan yang lain dalam model regresi berganda tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya nilai tolerance. Nilai umum yang biasa dipakai adalah nilai tolerance > 1, atau nilai VIF < 5, maka tidak terjadi multikolinearitas.

3.10.3 Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menganalisi pengaruh antara variabel independen yang terdiri dari : Citra Merek (X1),Harga (X2), dan Label Halal (X3) terhadap variabel dependen yaitu Keputusan

(47)

Pembelian (Y). Rumus matematis dari regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3+ e

Keterangan:

Y = Keputusan Pembelian

a = Konstanta

b1b2b3 = Koefisien regresi berganda

X1 = Citra Merek

X2 = Harga

X3 = Label Halal

e = Standar error

3.10.4 Uji Hipotesis

Suatu perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistik berada dalam daerah kritis (daerah dimana H0 ditolak). Sebaliknya, disebut tidak signifikan bila nilai uji statistik berada dalam daerah dimana H0

diterima. Dalam analisis regresi ada 3 jenis kriteria ketepatan yang harus dilakukan, yaitu:

(48)

1. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)

Uji – F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

H0 : b1 = b2 = b3 = 0

Artinya secara bersama-sama tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu variabel Citra Merek (X1), Harga (X2) dan Label Halal (X3) terhadap variabel terikat yaitu Keputusan Pembelian (Y).

H0 : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0

Artinya secara bersama-sama terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu vaiabel Citra Merek (X1), Harga (X2) dan Label Halal (X3) terhadap variabel terikat yaitu Keputusan Pembelian (Y).

H0 diterima jika Fhitung < Ftabel pada α = 5%

Ha ditolak jika Fhitung > Ftabel pada α = 5%

2. Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)

Uji – t menentukan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.

H0 = b1 = b2 = b3 = 0

Artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu vaiabel Citra Merek (X1), Harga (X2)danLabel Halal (X3) terhadap variabel terikat yaitu Keputusan Pembelian (Y).

(49)

H0 = b1,b2,b3 ≠ 0

Artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu variabel Citra Merek (X1), Harga (X2)danLabel Halal (X3) terhadap variabel terikat yaitu Keputusan Pembelian (Y).

Kriteria pengambilan keputusan :

H0 diterima jika thitung < ttabel pada α = 5%

Ha ditolak jika thitung > ttabel pada α = 5%

3. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2)bertujuan untuk mengetahui signifikansi variabel. Koefisien determinasi melihat seberapa besar pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent. Jika R2semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1, X2dan X3) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika R2semakin mengecil (mendekati nol) maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1, X2 dan X3) terhadap variabel terikat (Y) semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah PT.Paragon Technology And Innovation (PTI)

PT. Paragon Technology And Innovation (PTI)adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksikosmetika. Pada awal berdirinya dengan nama PT.

PusakaTradisi Ibu, dan kemudian pada bulan Mei 2012 bergantinama menjadi PT.Paragon Technology And Innovation.Wardah adalah salah satu kosmetik yang di

(51)

produksi olehPTI. Perusahaan ini didirikan oleh Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. pada tanggal 28 Februari 1985.

Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. adalah Sarjana Farmasi yang juga lulusan ITB yang lulus pada tahun 1975, dan memperoleh gelar Apoteker pada tahun 1976, serta memiliki pengalaman kerja di Wella Cosmetics pada bagian pengendalian mutu. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja dibidang farmasi melandasi keberanian Dra.

Hj. Nurhayati Subakat, Apt. dalam mendirikan perusahaan yang memproduksi kosmetik.

Wardah adalah kosmetik bernafaskan Islami yang diproduksi oleh PTI.

Wardah adalah kosmetika suci dan aman. Sucikarena produknya telah memiliki sertifikat halal dari

lembaga LP POM MUI dan Aman karena memakai bahanbaku bermutu tinggi dan tentunya telah memiliki nomorregistrasi yang dikeluarkan oleh DepKes.

Pada tahun 1995, PTI meluncurkan produk terbarunya kosmetika kecantikan berlabel halal dengan merek wardah. Namun, belum bisa berjalan dengan baik dikarenakan rekanan manajemen yang kurang baik. PTI kembali mencoba mengembangkan wardah pada tahun 1996 dengan tetap bekerja sama dengan agen dalam pemasarannya. Sejak itu penjualannya mulai menanjak dan PT Pusaka Tradisi Ibu memasuki pasar tata rias (decorative). Ketika krisis ekonomi 1998, banyak perusahaan sejenis yang tutup. Daya beli masyarakat anjlok sementara harga bahan baku naik sampai empat kali lipat. PTI mengambil reaksi cepat menyikapi krisis tersebut di saat pesaing- pesaing lain tidak berproduksi. Setelah melewati masa krisis selama empat bulan, PTI justru mengembangkan pasar. Ide untuk membuat kosmetik khusus untuk komunitas muslimah baru munsul sepuluh tahun kemudian. Munculnya produk ini didasari atas kesadaran pemilik perusahaan terkait produk kosmetik yang mengandung bahan-bahan

Gambar

Gambar 2.2: Kerangka Konseptual
Tabel 3.3  Uji Validitas  Item-Total Statistics  Scale Mean if  Item Deleted  Scale Variance  if Item Deleted  Corrected  Item-Total  Correlation  Cronbach's  Alpha if Item Deleted  Keterangan
Tabel  3.3  menunjukkan  bahwa  seluruh  butir  pernyataan  telah  valid  karena  r  hitung &gt; r tabel
Tabel 3.4  Uji Reliabilitas  Reliability Statistics
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini kami menilai tesis tersebut dapat disetujui untuk diajukan dalam Sidang Ujian Tesis pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah

[r]

Bapak dan Ibu dosen yang telah membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMS.. Teman-

[r]

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rl Nomor: 82 Tahun 2014, tentang Organisasi danTata Kerja Universitas Sebelas Maret;b. Keputusan Menteri Pendidikan

Akan tetapi, di sekolah dasar (SD), sangat disayangkan pelajaran matematika belum mendapat perhatian yang sepenuhnya dari guru. Ini terbukti, menurut pengamatan

[r]

Zainal Washad, verifikasi (kritik terhadap data), interpretasi (penafsiran), serta historiografi (cara penulisan sejarah). Teori yang digunakan dalam penulisan skripsi