69 A. Gambaran Umum Kota Cirebon
Kota Cirebon adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon- Semarang-Surabaya.
Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban (carub dalam bahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab, agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon.
Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan kata Cirebon juga dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam bahasa Cirebon disebut (belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi Cirebon.
Gambaran umum kota Cirebon selanjutnya di klasifikasikan dalam beberapa bagian yaitu, sebagai berikut:
1. Geografi
Kota Cirebon terletak pada 6°41′LU 108°33′BT pantai Utara Pulau Jawa, bagian timur Jawa Barat, memanjang dari barat ke timur 8 kilometer, Utara ke Selatan 11 kilometer dengan ketinggian dari permukaan laut 5 meter (termasuk dataran rendah). Kota Cirebon dapat
ditempuh melalui jalan darat sejauh 130 km dari arah Kota Bandung dan 258 km dari arah Kota Jakarta.
Kota Cirebon terletak pada lokasi yang strategis dan menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Letaknya yang berada di wilayah pantai menjadikan Kota Cirebon memiliki wilayah dataran yang lebih luas dibandingkan dengan wilayah perbukitannya. Luas Kota Cirebon adalah 37,54 km2 dengan dominasi penggunaan lahan untuk perumahan (32%) dan tanah pertanian (38%).
Wilayah Kotamadya Cirebon dilalui oleh beberapa sungai di antaranya Sungai Kedung Pane, Sungai Sukalila, Sungai Kesunean, dan Sungai Kalijaga. Sebelah Utara dibatasi Sungai Kedung Pane, Sebelah Barat dibatasi Sungai Banjir Kanal, Kabupaten Cirebon, Sebelah Selatan dibatasi Sungai Kalijaga, Sebelah Timur dibatasi Laut Jawa.
Sebagian besar wilayah merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-2000 dpl, sementara kemiringan lereng antara 0-40 % di mana 0-3 % merupakan daerah berkarateristik kota, 3-25 % daerah transmisi dan 25-40 % merupakan pinggiran.
2. Iklim
Tabel 3.1. Curah Hujan dan Temperatur Kota Cirebon
Bulan Curah Hujan (mm) 2014
Bulan Temperatur 2014
Januari 710.40 Januari 27.45
Februari 319.70 Februari 26.15
Maret 243.40 Maret 28.85
April 216 April 27.50
Mei 85 Mei 28.75
Juni 169.50 Juni 28.35
Juli 62 Juli 27.10
Agustus 0 Agustus 26.95
September 0 September 27.15
Oktober 37 Oktober 27.60
November 66.70 November 28.25
Desember 459.40 Desember 27.75
Tahunan 2369.10 Tahunan 27.65
Kota Cirebon termasuk daerah iklim tropis, Rata-rata curah hujan tahunan di kota Cirebon ± 2369.10 mm/tahun. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, iklim di kota Cirebon termasuk dalam tipe iklim C dengan nilai Q ± 37,5% (persentase antara bulan kering dan bulan basah). Musim hujan jatuh pada bulan Oktober-April, dan musim kemarau jatuh pada bulan Juni-September. Rata-rata Temperatur tahunan di kota Cirebon ± 27.65 derajat celcius/tahun.
Keadaan angin terdapat tiga macam angin :
a. Angin Musim Barat : antara Desember sampai Maret b. Angin Pancaroba : antara April sampai November c. Angin Musim Timur : antara Mei sampai Oktober 3. Etimologi
Cirebon dikenal dengan nama Kota Udang dan Kota Wali. Selain itu kota Cirebon disebut juga sebagai Caruban Nagari (penanda gunung Ceremai) dan Grage (Negeri Gede dalam bahasa Cirebon berarti kerajaan yang luas). Sebagai daerah pertemuan budaya antara Suku Jawa, Suku Sunda, Bangsa Arab, Bangsa China dan para pendatang dari Eropa sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon dalam berbahasa biasa menyerap kosakata bahasa-bahasa tersebut kedalam bahasa Cirebon.
misalkan saja, kata Murad yang artinya bersusun (serapan dari bahasa arab), kata taocang yang berarti kucir (serapan dari bahasa cina), serta kata sonder yang berarti tanpa (serapan dari bahasa eropa).
4. Sejarah
Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad 15 di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati.
Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran).
Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang.
Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat permukiman ke tempat permukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki
bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala permukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh karena itu Raja Galuh mengirimkan utusan ke Cirebon Untuk menanyakan upeti rebon terasi ke Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon berhasil meyakinkan para utusan atas kemerdekaan wilayah Cirebon.
Dengan demikian berdirilah daerah otonomi baru di Cirebon dengan Pangeran yang menjabat sebagai adipati dengan gelar Cakrabuana. Berdirinya daerah Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara Kemudian pada tanggal 7 Januari 1681 Cirebon secara politik dan ekonomi berada dalam pengawasan pihak VOC, setelah penguasa Cirebon waktu itu menandatangani perjanjian dengan VOC.
Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.
Pada masa kolonial pemerintah Hindia Belanda, tahun 1906 Cirebon disahkan menjadi Gemeente Cheribon dengan luas 1.100 ha dan berpenduduk 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370).
Kemudian pada tahun 1942, Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 ha dan tahun 1957 status pemerintahannya menjadi Kotapraja dengan luas 3.300 ha, setelah ditetapkan menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 ha.
5. Pemerintahan
Setelah berstatus Gemeente Cirebon pada tahun 1906, kota ini baru dipimpin oleh seorang Burgermeester (wali kota) pada tahun 1920 dengan wali kota pertamanya adalah J.H. Johan. Kemudian dilanjutkan oleh R.A. Scotman pada tahun 1925. Pada tahun 1926 Gemeente Cirebon ditingkatkan statusnya oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi stadgemeente, dengan otonomi yang lebih luas untuk mengatur pengembangan kotanya. Selanjutnya pada tahun 1928 dipilih J.M. van Oostrom Soede sebagai wali kota berikutnya.
Pada masa pendudukan tentara Jepang ditunjuk Asikin Nataatmaja sebagai Shitjo (wali kota) yang memerintah antara tahun 1942-1943.
Kemudian dilanjutkan oleh Muhiran Suria sampai tahun 1949, sebelum digantikan oleh Prinata Kusuma.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah Kota Cirebon berusaha mengubah citra Kota Cirebon yang telah terbentuk pada masa kolonial Belanda dengan simbol dan identitas kota yang baru, berbeda dari sebelumnya. di mana kota ini dikenal dengan semboyannya per aspera ad astra (dari duri onak dan lumpur menuju bintang), kemudian diganti dengan motto yang digunakan saat ini.
Pada tahun 2010 berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh Transparency International Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia bersama dengan Kota Pekanbaru, hal ini dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia) 2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia, kota ini sama-sama mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10, 0 berarti dipersepsikan sangat korup, sedangkan 10 sangat bersih. Total responden yang diwawancarai dalam survei yang dilakukan antara Mei dan Oktober 2010 adalah 9237 responden, yang terdiri dari para pelaku bisnis.
6. Pembagian Wilayah
Kecamatan di Kota Cirebon adalah:
a. Harjamukti b. Kejaksan c. Kesambi
d. Lemahwungkuk e. Pekalipan
Wilayah administrasi Pemerintah Kota Cirebon berluas 38,10 km2, pada tahun 2014 terdiri dari 5 wilayah kecamatan, 22 kelurahan, 247 Rukun Warga (RW), dan 1.352 Rukun Tetangga (RT). Harjamukti merupakan kecamatan terluas (47%), kemudian berturut-turut Kesambi (22%), Lemahwungkuk (17%), Kejaksan (10%) dan Pekalipan (4%).
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di Pemerintahan Kota Cirebon pada tahun 2015 mencapai 6.197 orang.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Cirebon pada tahun 2015 sebanyak 36 orang, yang terdiri 26 laki-laki dan 10 perempuan. Anggota DPRD tersebut terbagi kedalam 9 fraksi, Anggota fraksi terbanyak adalah Fraksi PDIP dengan 7 anggota, Fraksi Golkar 6 anggota,Fraksi Partai Nasdem 4 anggota, Fraksi Partai Gerindra 3 anggota, Fraksi Partai Demokrat 3 anggota, Fraksi PAN 3 anggota, Fraksi PKS 3, Fraksi Partai Hanura 3 dan Fraksi Bangkit Persatuan 3 anggota.
7. Wali Kota
Saat ini Kota Cirebon dipimpin oleh Drs.Nasrudin Azis, SH untuk periode 2013-2018 menghabiskan sisa jabatan sepeninggal wafatnya Wali Kota Cirebon Alm. Drs. H Ano Sutrisno, MM.
Zaman Belanda Bergelar Burger Meester:
a. J.H. Johan (1920-1925)
b. Roelof Adriaan Sc Hotman (1925-1928) c. Jan Marie van Gostrom Slede (1928-1933) d. Mr. H.E. Boissevain (1935)
e. Mr. Carl Erich Eberhard Kuntze (1936-1938) f. H. Scheffer (1939-1942)
Zaman Jepang Bergelar SHITO:
a. Asikin Nataatmadja (1942-1943) b. Moeniran Soerianegara (1943-1949)
Zaman Awal Kemerdekaan Bernama Wakil Kota:
a. Prinata Koesoema (1949-1950) b. Moestafa Soerjadi (1950-1954) Zaman Indonesia Bernama Wali Kota:
a. Hardian Kartaatmadja (1954-1957) b. Prawira Amidjaja (1957-1959) c. Moh. Safei (1959-1960) d. RSA. Prabowo (1960-1965) e. R. Sukardi (1965-1966) f. Tatang Suwardi (1966-1974) g. H. Aboeng Koesman (1974-1981) h. Drs. H. Achmad Endang (1981-1983) i. Drs. Moh. Dasawarsa (1983-1988)
j. Drs. H. Kumaedhi Syafrudin (1988-1993) k. Drs. H. Kumaedhi Syafrudin (1993-1998) l. Drs. H. Lasmana Suriaatmadja (1998-2003) m. Subardi, S.Pd. (2003-2013)
n. Drs. H. Ano Sutrisno, M.M. (2013-2015) o. Drs. Nasrudin Azis, SH (2015-2018) 8. Penduduk
Menurut hasil Suseda Jawa Barat Tahun 2010 jumlah penduduk Kota Cirebon telah mencapai jumlah 298 ribu jiwa. Dengan komposisi penduduk laki-laki sekitar 145 ribu jiwa dan perempuan sekitar 153 ribu jiwa, dan rasio jenis kelamin sekitar 94,85.
Penduduk Kota Cirebon tersebar di lima kecamatan, kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Pekalipan sebesar 21,5 ribu jiwa/km², terpadat kedua adalah Kecamatan Kejaksan 11,8 ribu jiwa/km², kemudian Kecamatan Kesambi 8,8 ribu
jiwa/km², Kecamatan Lemahwungkuk 8,45 ribu jiwa/km², dan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Harjamukti hampir 5,48 ribu jiwa/km².
Pada akhir tahun 2014, kota Cirebon berpenduduk 384.000 jiwa, naik dari 300.434 jiwa pada Tahun 2012. PDRB per kapita kota ini pada tahun 2012 sebesar Rp43,65 juta (menurut harga berlaku) atau Rp19,78 juta (menurut harga konstan 2000). Menurut BPS Kota Cirebon, secara riil daya beli penduduk kota ini pada tahun 2012 tumbuh 5,2%
dibandingkan tahun 2011. Pertumbuhan ini terpantau terus meningkat dalam empat tahun terakhir.
9. Perhubungan
Kota Cirebon terletak di wilayah strategis, yakni titik bertemunya jalur tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Semua jenis transportasi itu baik transportasi darat, laut, dan udara saling berintegrasi mendukung pembangunan di kota Cirebon.
Kota Cirebon memiliki dua stasiun kereta api, yakni Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Prujakan. Stasiun Kejaksan berarsitektur khas kolonial Belanda, stasiun ini melayani hampir semua tujuan kota - kota lainnya baik itu kota besar maupun kota kecil di pulau Jawa.
Terminal angkutan darat di Kota Cirebon di antaranya terminal besar Harjamukti, letaknya di jalan By Pass Kota Cirebon.
Pelabuhan Cirebon saat ini hanya digunakan untuk pengangkutan batu bara dan kebutuhan pokok dari pulau-pulau lain di Indonesia.
Bandar Udara Cakrabuana merupakan bandar udara di Kota Cirebon saat ini hanya dijadikan sebagai bandara khusus sekolah penerbangan dan militer.
Di kota ini masih terdapat Becak khas Cirebon sebagai sarana transportasi rakyat sekaligus sarana untuk wisata keliling kota.
10. Pengangkutan dan Komunikasi
Menurut catatan Dinas Kimpraswil Kota Cirebon, panjang jalan di Kota Cirebon pada tahun 2009, tercatat panjangnya mencapai 166,686 km. Dari panjang jalan tersebut, sebagian besar (99%) merupakan jalan yang sudah diaspal yaitu sepanjang 165,217 km; dan sepanjang 1,448 km
(1%) merupakan jalan berkerikil. Dilihat dari kondisi jalan, sepanjang 161,439 km kondisinya baik, dan sekitar 4,141 km kondisi sedang, serta sebanyak 1,08 km kondisinya rusak, baik rusak berat maupun ringan.
Jumlah sepeda motor, mobil penumpang, dan mobil barang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2006 jumlah sepeda motor tercatat sebanyak 80.714 buah dan pada tahun 2008 jumlahnya meningkat menjadi 109.961 buah.
Kegiatan di pelabuhan laut Cirebon sepanjang tahun 2006-2009 mengalami penurunan dari 1.809 kapal yang berlabuh pada tahun 2006 menjadi 1.630 kapal yang berlabuh pada tahun 2009. Dari sejumlah kapal tersebut 40 kapal merupakan jenis pelayaran luar negeri, sebanyak 1.488 kapal merupakan jenis kapal pelayaran dalam negeri, 132 kapal merupakan pelayaran rakyat. Arus barang berdasarkan perdagangan di pelabuhan Cirebon di dominasi oleh bongkar muatan antar pulau.
Lalu lintas penerbangan melalui Bandara Penggung Cirebon mengalami peningkatan dari sebanyak 899 pesawat pada tahun 2009 menjadi 1.110 pesawat pada tahun 2010. Pada tahun 2010 juga terjadi peningkatan volume keberangkatan pesawat, karena pada 2010 terdapat 1.117 pesawat yang berangkat dari bandara Penggung.
Penumpang yang diangkut melalui stasiun kereta Cirebon pada tahun 2009 telah mencapai 683.912 orang. Bulan Juni merupakan jumlah penumpang kereta api terbanyak yaitu mencapai 70.145 orang, sedangkan yang terendah terjadi di bulan Februari yang mencapai 40.914 orang.
Data pengiriman surat dalam negeri melalui kantor pos. Tercatat pengiriman surat dalam negeri tahun 2009 tercatat sebanyak 541.912 surat. Untuk jenis pengiriman surat yang terbanyak masih pengiriman surat biasa, kemudian pengiriman surat kilat khusus dan pengiriman surat kilat.
11. Perekonomian
Perekonomi Kota Cirebon dipengaruhi oleh letak geografis yang strategis dan karakteristik sumber daya alam sehingga struktur perekonomiannya didominasi oleh sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa. Tomé Pires dalam Suma Orientalnya sekitar tahun 1513 menyebutkan Cirebon merupakan salah satu sentra perdagangan di Pulau Jawa. Setelah Cirebon diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1859, pelabuhan Cirebon ditetapkan sebagai transit barang ekspor-impor dan pusat pengendalian politik untuk kawasan di pedalaman Jawa.
Sampai tahun 2001 kontribusi perekonomian untuk Kota Cirebon adalah industri pengolahan (41,32%), kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (29,8%), sektor pengangkutan dan komunikasi (13,56%), sektor jasa-jasa (6,06%). Sedangkan sektor lainnya (9,26%) meliputi sektor pertambangan, pertanian, bangunan, listrik, dan gas rata-rata 2-3%.
Salah satu wujud usaha di sektor informal adalah pedagang kaki lima, Kota Cirebon yang sering menjadi sasaran urbanisasi memiliki jumlah PKL yang cukup signifikan pada setiap tahunnya. Fenomena ini di satu sisi menggembirakan karena menunjukan dinamika ekonomi akar rumput, tetapi di sisi lain jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan persoalan yang serius di sektor ketertiban dan tata ruang.
Perusahaan rokok multinasional, British American Tobacco (BAT), merupakan salah satu produsen rokok yang pernah berdiri di Kota Cirebon. Namun pada tahun 2010, guna mengefisiensikan produksinya, merelokasi pabrik di Kota Cirebon ke Kota Malang.
Kota Cirebon memiliki 12 kompleks ruko, 13 bangunan plaza dan mall serta 12 pasar tradisional. Kota Cirebon memiliki beberapa pusat perbelanjaan di antaranya Cirebon Mall daerah Kota Tua (BAT) di Jalan Syarief Abdurahman, CSB Mall (Cirebon Super Block) berlokasi di pusat Kota Cirebon Jalan DR. Cipto Mangunkusumo dengan luas 6.2 ha,
Grage Mall bertempat di Jalan Tentara Pelajar, Giant Hypermarket terletak di sekitar area Stadion Bima Jalan Brigjen Dharsono (By-Pass), dan di sekitar Jalan Rajawali, Plaza Yogya Siliwangi di Jalan Siliwangi, Plaza Yogya Grand Center di Jalan Karanggetas, Pusat Grosir Cirebon (PGC), Asia Plaza, Surya Plaza, Carrefour SuperStore Jl. Cipto, Gunung Sari Trade Center (GTC), Balong Indah Plaza, Grage City Mall dan Plaza Index "Ace Hardware".
Pada triwulan I 2010, Kota Cirebon mengalami laju inflasi tertinggi dibandingkan dengan kota lainnya di Jawa Barat. Faktor pendorong kenaikan laju inflasi terutama berasal dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa, keuangan serta pendidikan, Pariwisata, dan olahraga.
Table 3.2. Inflasi Kota Cirebon Bulan Inflasi (Persen)
2014
Januari 0.68
Februari 0.37
Maret 0.47
April 0.26
Mei 0.02
Juni 0.33
Juli 0.53
Agustus 0.91
September 0.39
Oktober 0.81
November 1
Desember 1.78
Tahunan 7.08
Kelompok transpor Kota Cirebon mengalami laju inflasi yang cukup tinggi karena kenaikan harga BBM nonsubsidi serta tarif jasa keuangan. Sementara itu, tarif kursus/pelatihan di Kota Cirebon relatif tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya, sehingga mendorong tingginya inflasi kelompok pendidikan.
12. Keuangan dan Harga
Pada tahun anggaran 2007 penerimaan mencapai 510,2 miliar rupiah, sementara itu pada tahun anggaran 2010 meningkat menjadi 758,7 miliar rupiah.
Pos penerimaan terbesar masih diperoleh dari bagian Dana Perimbangan yaitu sebesar 489,3 miliar rupiah atau sekitar 64,5 persen dari seluruh penerimaan daerah, penerimaan terbesar kedua berasal dari Bagian Pendapatan Asli Daerah yaitu sebesar 115,2 miliar rupiah atau sebesar 15,2 persen dari seluruh penerimaan daerah.
Besarnya Dana Perimbangan ini, terutama merupakan kontribusi dari dana alokasi umum (DAU) kepada pemerintah daerah Kota Cirebon yang pada tahun 2010 jumlahnya mencapai 412 miliar rupiah atau sebesar 84,2 persen dari total penerimaan. Pada tahun anggaran 2010 ini untuk realisasi belanja tidak langsung dan belanja langsung, tercatat belanja tidak langsung langsung sebesar 419,4 miliar rupiah dan belanja langsung sebesar 350,7 miliar rupiah. Dari sejumlah belanja tidak langsung, yang menggunakan keuangan terbesar adalah untuk pos belanja pegawai yaitu sebesar 347 miliar rupiah. Sementara itu untuk belanja langsung, pos terbesar adalah untuk belanja barang dan jasa yaitu sebesar 118,2 miliar.
Jumlah Koperasi di kota Cirebon tahun 2010 sebanyak 244 buah koperasi dengan anggota aktif sebanyak 29.089 orang. Angka tersebut menurun dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 271 buah koperasi.
13. Pelayanan umum a. Listrik
Listrik selain untuk menunjang kegiatan ekonomi seperti industri, juga untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dengan cara membuat kemudahan penduduk beraktifitas.
Dari data kelistrikan yang disajikan, tercatat jumlah pelanggan pengguna listrik mencapai pelanggan pada tahun 2010, dengan rincian sekitar 89,04 persen adalah pelanggan rumah tangga (R) dan
7,73 persen pelanggan bisnis (B), pelanggan golongan tarif sosial (S) sekitar 2,05 persen. Pelanggan industri hanya 0,16 persen. Daya terpasang pada tahun 2008 ini sebesar 133.655.500 KVA.
b. Air Minum
Penyedian sumber air minum sangat penting untuk sebuah kota seperti Kota Cirebon yang merupakan sebagian wilayahnya berbatasan dengan pantai, yang cenderung sebagian besar sumber airnya tidak layak untuk air minum. Oleh karena itu, ketersedian air oleh PDAM menjadi sangat penting.
Produksi air oleh PDAM Kota Cirebon, dalam kurun 2006- 2009 jumlah produksi air minum cenderung berfluktuasi, pada tahun 2006 produksi air mencapai 23.425.965 m3, kemudian menjadi 26.245.072 m3 (2007) dan turun pada tahun 2008 menjadi 25.432.691 m3, dan naik kembali menjadi 25.455.687 m3 pada tahun 2008. Untuk air yang disalurkan pada tahun 2009 mencapai 18.682.035 m3. Dengan rincian, air minum yang disalurkan pada rumah tangga sebesar 13.554.294 m3 ; hotel, objek wisata dan industri sebesar 2.552.822 m3 ; Badan Sosial/Rumah Sakit sebesar 733.357 m3.
Nilai penjualan air minum pada tahun 2009 mencapai 27.994 juta rupiah, turun sebesar 2,07 persen dibandingkan dengan tahun 2008. Nilai penjualan terbesar dihasilkan dari penjualan kepada golongan pelanggan rumah tangga dengan nilai sebesar 17.793 juta rupiah atau 63,56 persen dari total penjualan.
Hampir 93 % penduduknya telah terlayani oleh layanan air bersih dari PDAM Cirebon, mayoritas pelanggan air bersih di kota ini adalah rumah tangga (90,37% atau sebanyak 59.006) dari jumlah total sambungan yang ada (65.287).
c. Kesehatan
Sejak pemerintah Hindia Belanda, Kota Cirebon telah memiliki rumah sakit yang bernama Oranje, yang diresmikan
penggunaannya pada 31 Agustus 1921 dan mulai beroperasi sejak tanggal 1 September 1921.
Pada tahun 2009 di Kota Cirebon telah tersedia sekitar 6 rumah sakit umum, 4 rumah sakit bersalin, 21 Puskesmas, 15 Puskemas Pembantu, 20 Puskesmas Keliling, serta 85 Apotik, dan 31 Toko Obat. Dengan jumlah tenaga medis seperti dokter spesialist sekitar 94 orang, dan 118 dokter umum, 45 dokter gigi, 847 perawat, serta 278 bidan.
d. Pendidikan
1) Institut Studi Islam Fahmina (ISIF)
2) Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) 3) Universitas Swadaya Gunung Jati
4) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cirebon 5) Cirebon Institute of Computer (CIC)
6) IAIN Syekh Nurjati Cirebon
7) Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon (UNTAG) 8) STMIK IKMI Cirebon
9) STIKOM Poltek Cirebon
10) Universitas Muhammadiyah Cirebon 11) STMIK Catur Insan Cendekia Cirebon
12) Akademi Perdagangan Catur Insan Cendekia Cirebon 13) Stikes Mahardika Cirebon (STIKma)
14) Akademi Keperawatan (akper) Dharma Husada cirebon 15) Akademi Kebidanan (akbid) Isma Husada cirebon 16) WIT Institute Cirebon
17) Akademic Maritime Of Cirebon 18) LP3I Business College
19) Telkom PDC
20) Politeknik Kesehatan Negeri Tasikmalaya Cirebon
Table 3.3. Jumlah instansi pendidikan di Kota Cirebon Pendidikan
formal
SD atau
MI negeri
dan swasta
SMP atau MTs negeri
dan swasta
SMA atau MA negeri
dan swasta
SMK negeri
dan swasta
Perguruan tinggi
Jumlah satuan
160 52 58 19 14
Data sekolah di Kota Cirebon 14. Pariwisata
Bangunan Mande Karesmen pada kompleks keraton Kasepuhan terlihat para Wiyaga (penabuh gamelan) sedang berdiskusi disela-sela prosesi penabuhan gong Sekati pada Idul Fitri 2014, dari jajaran Wiyaga terlihat Ki Waryo (anak dari Ki Empek) duduk paling kanan, Ki Adnani dan kemudian Ki Encu Sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam, kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid At Taqwa, kelenteng kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam kuliner khas Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan serta batik.
Cirebon terdapat beberapa keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda.
Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di taman atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah piring porselen asli Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh dari Eropa saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.
Kota Cirebon memiliki beberapa kawasan taman di antaranya Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani. Taman Air Sunyaragi memiliki teknologi pengaliran air yang canggih pada masanya, air mengalir di antara teras-teras tempat para putri raja bersolek, halaman rumput hijau tempat para ksatria berlatih, ditambah menara dan kamar istimewa yang pintunya terbuat dari tirai air. Sementara beberapa masakan khas kota ini sebagai bagian dari wisata kuliner antara lain:
Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber, Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur ayam Cirebon, Kerupuk Udang dan sebagainya.
15. Seni dan Budaya
Kebudayaan yang melekat pada masyarakat Kota Cirebon merupakan perpaduan berbagai budaya yang datang dan membentuk ciri khas tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung dan Sandiwara Cirebonan.
Kota ini juga memiliki beberapa kerajinan tangan di antaranya Topeng Cirebon, Lukisan Kaca, Bunga Rotan dan Batik. Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang dicirebon, batik motif mega mendung telah banyak digunakan berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga motif-motif batik yang disesuaikan dengan ciri khas penduduk pesisir.
16. Pers dan Media
Kota Cirebon sejak pemerintah Hindia Belanda telah menjadi pusat penerbitan beberapa surat kabar, di antaranya Kepentingan Ra’jat,
Poesaka Tjirebon, Koemandang Masjarakat. Setelah kemerdekaan Indonesia muncul Repoeblik. Saat ini beberapa surat kabar yang masih terbit diantaranya : Radar Cirebon dan Kabar Cirebon serta Fajar Cirebon.
Seluruh media televisi nasional saat ini telah disiarkan di Cirebon.
Selain itu terdapat beberapa stasiun televisi lokal seperti CIREBON TV,Citra Nusantara Televisi (CITV) dan Radar Cirebon Televisi (RCTV).
Kota Cirebon memiliki 17 stasiun radio, di antaranya:
a. Cirebon Radio 89.2 FM b. DAIRI 87.6 FM
c. Ci Radio 90.2 FM d. Radio Simpati FM 88.3 e. Kita FM 105.6
f. Prima Sonata FM
g. Radio Assunnah FM 92.3 h. DB Radio 90,8
i. PilaRADIO 88,6 j. RRI Pro 1 FM 94,8 k. RRI Pro 2 FM 97,5 l. RRI Pro 3 FM 99,6 m. RRI Pro 4 FM 93,7
n. MNC Trijaya FM Cirebon 96.5 FM o. Nuansa FM 104,2
p. Gita Suara FM 99,1
q. Swara Mulya Afrindo Rekatama FM 95,9 r. Ramanda 92,9 FM
s. Sindang Kasih 103,6 FM t. Malala Radio 105,2 FM u. Suara Gratia 95,9 FM
17. Galeri kuliner
a. Tahu Gejrot, tahu goreng dengan kuah b. Usus sapi rebus, "Sup Empal Gentong"
c. Sega Jamblang ("Nasi Jamblang"), hidangan-hidangan untuk menemani nasi yang disajikan di daun jati
d. Sega Lengko ("Nasi Lengko"), nasi vegetarian dengan tahu dan tauge
e. Tempe mendoan, tempe dilapisi adonan yang digoreng f. Intip (makanan ringan manis dari beras)
g. Kerupuk Mlarat (harfiah "kerupuk miskin"). Keripik yang terbuat dari tepung tapioka dan digoreng dengan pasir panas (bukan minyak).
h. Emping berukuran besar (kerupuk dari melinjo)
i. Siroop Tjampolay minuman legendaris asal Cirebon, Pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936.
j. Es doger adalah minuman khas yang berasal dari Cirebon.
(Wikipedia.org)
B. Objek Pariwisata Kota Cirebon
Gambaran Situs Sejarah, Pariwisata, Wisata Kesenian, Wisata Kerajnan dan Wisata Kuliner
1. Situs Sejarah
a. Bangunan Cagar Budaya (SK Walikota Cirebon)
Balai kota Cirebon, Gedung Kerisidenan, Pendopo Kebupaten Cirebon, Gedung Bank Indonesia, Gedung Bank Mandiri (Bank Dagang Negara), Gedung Eks. Kantor Pangkalan TNI AL, Mesjid Al- Athyah (Masjid Abang), Mesjid Agung sang Ciptarasa, Masjid Baitul Karim (Pesambangan), Klenteng Talang, Klenteng Winaon, Vihara Dewi Welas Asih, Gereja Bala Keselamatan, Gereja Santo Yosep, Stasiun Kereta Api Kejaksan, Stasiun Kerata Api Perujakan, Gedung PT. BAT Company, Pabrik Tenun Parujakan, Menara PDAM Perujakan, Bangunan Riel Ade Irma Suryani, Rumah Sakit Umum Gunung Jati, SD Negeri Pulasaren, Gudang PT. VTP Yala
Githa Tama, Gudang Bank BNI (Bank Syariah), Gudang Bank Exim, Gudang Bea Cukai, Gudang Jalan Benteng, Petilasan Sunan Kalijaga, Makam Syekh Maulana Maghribi, Makan Wiracula (Sam Cay Kong), Gedung Tjipta Niaga (Persero), Gedung PT. DPC Gapenci, Gedung PT. AVON, Gedung Eks. Hotel Grand, Gedung Kantor Pt. Pos Indonesia, SMP Negeri 1 Cirebon, SMP Negeri 15 Cirebon, SMP Negeri 16 Cirebon, SPK dan AKPER Dept.
Kesehatan, Gudang PT. VTP Banda Ghana Reksa, Gudang Jalan Kesunean, Gudang Jalan Sisimangaraja, Makam Syekh Lemah Abang, Menara PDAM Tuparev, Mesjid Agung At Taqwa, Hotel Gadjah, SD Negeri Kebon Baru, SMP Negeri 1 Cirebon, Tugu Kemerdekaan, LP Klas I Cirebon.
b. Diduga Situs atau Benda Cagar Budaya
Makam Pangeran Suryanegara atau Wanacala, Sumur Kramat dan Makam Pangeran Makdum, Makam Panjang, Pangeran Drajat, Bong Cina (Tan An Sin) Th. 1863 Kutiong Wanacala, Kantor Eks.
Residen (Rumah Dinas), Makam dan Masjid Syekh Birawa, Masjid Pangeran Kejaksan, Sumur Ketandan, Makam Kramat Suradinaya (www.cirebonkota.go.id)
2. Pariwisata, Wisata Religi dan Peninggalan Sejarah
a. Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalam Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
b. Keraton Kanoman didirikan oleh Sultan Kanoman I (Sultan Badridin) turunan ke VII dari Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) pada tahun 510 tahun Saka atau tahun 1588 Masehi, Adapun prasasti tahun berdirinya Keraton Kanoman terdapat pada pintu Pandopa Jinem yang menuju keruangan Perbayaksa, dipintu tersebut terpahat gambar angka Surya Sangkala & Chandra.
c. Keraton Kecirebonan dibangun pada tahun 1800, Keraton ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan sejarah seperti Keris Wayang perlengkapan Perang, Gamelan dan lain-lain. Seperti halnya Keraton Kesepuhan dan Keraton Kanoman, Keraton Kecirebonan pun tetap menjaga, melestarikan serta melaksanakan kebiasaan dan upacara adat seperti Upacara Pajang Jimat dan sebagainya
d. Gua Sunyaragi lebih kurang 5 Km ke arah barat dari jantung kota Cirebon, tepatnya di kelurahan Graksan, terhampar bangunan yang unik. Areal bangunan ini dikenal sebagai Tamansari Gua Sunyaragi.
Petilasan dengan arsitektur estetik bernilai historis, serta mengungkap nilai-nilai spritual yang merupakan salah satu warisan budaya masa lalu yang terdapat di wilayah Cirebon, Pembangunannya dilakukan pada tahun 1703, sedangkan gagasannya berasal dari benak Sang Patih Keraton Kasepuhan yang bernama Pangeran Arya Cirebon. Tokoh ini dikenal sebagai peminta sejarah dan kebudayaan. Karya legendaris lainnya yaitu kitab sejarah
“Purwaka Caruban” yang berhasil disusunnya pada tahun 1720.
Sunya berarti sepi, dan Raga atau Ragi berarti jasman.
e. Taman Kalijaga tempat ini pada zaman dahulunya adalah sebuah hutan pada saat penyebaran agama Islam dilaksanakan di Cirebon, salah satu tempat yang dipakai oleh Sunan Kalijaga malakukan khotbahnya sampai sekarang dikenal oreng sebagai petilasan Sunan Kalijaga.
f. Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 M oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya
dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Mesjid ini dinamai Sang Cipta Rasa karena merupakan pengejawantahan dari rasa dan kepercayaan. Penduduk Cirebon pada masa itu menamai mesjid ini Mesjid Pakungwati karena dulu terletak dalam komplek Keraton Pakungwati.
g. Cirebon Waterland yang dahulu bernama Taman Ade Irma Suryani terletak berdampingan dengan pelabuhan Cirebon dengan lokasi di pinggir laut pantai utara Cirebon memiliki area 2,5 Ha. Taman hiburan ini merupakan satu-satunya tempat hiburan dan rekreasi keluarga dekat pantai kota Cirebon yang menyediakan fasilitas permainan anak-anak, kebun binatang, wisata bahari/pantai dan sarana penunjang lainnya, acara rutin pada tiap hari Minggu berupa hiburan acara musik dengan didukung oleh artis-artis yang terkenal termasuk acara dalam bentuk perlombaan bagi anak-anak sekolah menjelang libur. Kawasan wisata Ade Irma Nasution bisa dikembangkan baik oleh investor dalam negeri maupun dari luar negeri karena dapat menyedot wisatawan baik dari Jawa Tengah maupun dari Jawa timur. (Sumber : www.cirebonkota.go.id)
h. Masjid merah panjunan masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, dimana terdapat banyak pengrajin tembikar atau jun. Masjid Panjunan semula bernama Mushala Al-Athya. Namun karena pagarnya terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa. Pangeran Panjunan berinisiatif membangun mushola
tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu-Budha. Masjid Merah Panjunan ini telah dimasukkan sebagai benda cagar budaya dan hingga kini kondisinya terawat dengan baik.
i. Gereja Santo Yusuf di kota Cirebon adalah salah satu dari sekian banyak gedung tua yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Kota Cirebon. Gereja Santo Yusuf Cirebon merupakan bangunan gereja katolik yang tertua di Jawa Barat, yang berdiri terlebih dahulu sebelum dibangunnya gereja di wilayah Bandung dan Jawa Barat. Bangunan aslinya kini hanya tinggal pada bagian depan gereja saja, sedangkan bagian lainnya merupakan bangunan lebih baru yang ditambahkan kemudian. Menara Gereja Santo Yusuf Cirebon yang tak begitu tinggi berada dibagian tengah belakang bangunan, dengan sebuah lonceng tergantung di dalam ruangan cungkup yang ada puncaknya. Diatas menara terdapat batang penangkal petir, karena merupakan bagian tertinggi digereja ini, badan menara tertutup kayu yang dibuat bersusun seperti sisik.
Tulisan pada dinding depan Gereja Santo Yusuf Cirebon berbunyi
“Ludovicus Theodores Gonzales, Commendator Ordinis Equestris S.Gregorii Magni, Hoc Templum Dei Aedificcavit, Anno DNI MDCCCLXXX”.
j. Gedung Bank Indonesia Cirebon di Jl. Yos Sudarso merupakan salah satu gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda yang sampai sekarang masih berdiri dengan megah, cantik dan anggun di Kota Cirebon. Lokasi Gedung Bank Indonesia Cirebon ini sangat dekat dengan lokasi beberapa gedung tua lainnya yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah daerah. Gedung Bank Indonesia Cirebon sebelumnya merupakan kantor cabang ke-5 dari De Javasche Bank (DJB), yang dibuka pada 31 Juli 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon, namun baru beroperasi pada 6 Agustus 1866. Kantor cabang DJB yang telah
lebih dulu dibuka adalah kantor DJB di Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar.
k. Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon (Kelenteng Tiao Kak Sie) letaknya berada di Jl. Kantor No. 2, Kampung Kamiran, Cirebon, di sebelah kiri Gedung Bank Mandiri, atau di seberang kanan Gedung BAT Cirebon. Kelenteng Dewi Welas Asih ini merupakan salah satu kelenteng tertua di Cirebon, selain Kelenteng Talang dan Vihara Pemancar Keselamatan. Bangun simetris Kelenteng Dewi Welas Asih dalam ornament naga dalam posisi ekor di atas seperti tengah menari di wuwungan. Sepasang singa (Ciok say) berjaga di samping menara pendek tempat pembakaran kertas uang untuk leluhur, dan ornament lingkaran-lingkaran bulat di dinding kiri kanan.
Wuwungan Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon yang berbentuk melengkung seperti pelana, khas bangunan Tionghoa. Di bagian tengahnya terdapat ornament binatang berkaki empat, bertanduk dan bercula, badan bersisik, ekor bergerigi, dan di punggungnya terdapat semacam cakra api, yang sepertinya adalah Kilin. Ada pula empat ornamen berjajar di bagian bawah wuwungan yang bentuknya menyerupai benteng bertingkat, dengan balkon berpagar bambu dan di bagian di kiri kanannya terdapat masing-masing dua menara bersusun.
l. Gedung Kantor Pos Cirebon, dibangun pada tahun 1906 oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk mempermudah pengiriman informasi dari pusat pemerintahan di Batavia (Jakarta) ke seluruh pelosok Jawa. Gedung tersebut merupakan Kantor Pos kedua yang di bangun Belanda setelah Kantor Pos di Jakarta. Di depan gedung ini terdapat tugu nol kilometer Cirebon yang merupakan titik pengukuran jarak dari kota ke kota. Gedung Kantor Pos cirebon merupakan saksi sejarah komunikasi antar kota dan alur distribusi surat menyurat sejak jaman kolonial. Hingga kini Gedung Kantor Pos masih bisa dinikmati arsitekturnya, terutama dari bagian luar dan
lobi. Sebab, dalam tentu digunakan untuk aktivitas perkantoran yang tertutup bagi masyarakat umum.
m. Gedung BAT sejak semula memang sebuah pabrik rokok. Namun, bukan pabrik rokok sembarangan. Sebab, berdasarkan arsip sejarah milik Disporbudpar Kota Cirebon, di era 1930an BAT merupakan pabrik rokok besar. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 17,5 juta batang rokok per hari. Kini gedung yang dibangun pada tahun 1924 itu termasuk salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kota Cirebon milik PT Bentoel International Investama. Namun, rokok sudah tidak diproduksi lagi digedung besar. Gedung BAT direkomendasikan untuk dikunjungi sore hari, karena lokasinya mendapat pencahayaan matahari sore yang bila cuaca cerah berwarna keemasan. Hal inilah yang menjadikan kawasan BAT ini diburu para pecinta fotografi ataupun masyarakat yang sekedar ingin berfoto dengan latar gedung berarsitektur art deco.
n. Pantai Kejawanan dan Pantai Kesenden merupakan pusat wisata pantai di Cirebon. Pantai Kejawanan sangat ramai dikunjungi apalagi keka weekend, para pengunjung berbondong-bondong berwisata ke tempat ini. Berlokasi di Jalan Yos Sudarso Kota Cirebon, dan berada di dalam kompleks Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan. Kawasan ini menjadi lokasi untuk bersandarnya perahu- perahu nelayan berukuran besar. Menariknya, Pantai Kejawanan yang menghadap timur merupakan lokasi yang cocok untuk mengabadikan matahari terbenam. Untuk sore hari, pemandangan matahari tenggelam juga begitu indah karena mendapat latar Gunung Ciremai. Yang tidak kalah menarik ialah Pantai Kesenden.
Lokasinya di Jl. Diponegoro dan sekelilingnya terdapat tambak juga perkampungan nelayan. Lokasi ini dijadikan area untuk konservasi mangrove. Pemandangan Pantai Kesenden juga menarik dinikmati di pagi dan sore hari. Masyarakat lokal biasa menghabiskan waktu untuk nyenyore di kawasan ini.
o. Pedati Gede Pekalangan merupakan satu dari dua kereta besar pengangkut barang yang sisa kerangkanya masih bisa terlihat. Sistem rakitan yang digunakan pada Pedati Gede Pekalangan adalah sistem bongkar pasang sehingga ukuran panjang pedati bisa disesuaikan dengan kebutuhan daya angkut barang. Pada tahun 1993 Herman De Vost (mantan direktur museum kereta-kereta istana di Ledein, Belanda) melakukan konservasi terhadap Pedati Gede Pekalangan, menurut Herman De Vost, dari hasil penelitiannya panjang Pedati Gede Pekalangan adalah 15 meter, lebar 2,5 dan tinggi 3 meter, pedati menggunakan roda sebagai alat geraknya dengan jumlah 12 roda (6 pasang), 6 roda berdiameter 2 meter dan 6 roda yang lainnya yang berukuran lebih kecil berdiameter 1,5 meter, roda pedati dihubungkan oleh semacam as yang terbuat dari kayu bulat berdiameter 15 cm, as ini kemudian dimasukkan kedalam poros roda yang terbuat dari kayu, menurut almarhum bapak Sudjana (budayawan Cirebon) untuk memperlancar perputaran diporosnya maka digunakanlah getah damar sebagai pelumas. Herman De Vost mengakui bahwa Pedati Gede Pekalangan adalah maha karya asli dari kebudayaan Cirebon. (Disporbudpar Kota Cirebon)
3. Wisata Kesenian
a. Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Jatibarang, Indramayu, Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "Tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya popular. Awal tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan
"tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama. Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak.
Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Sekarang, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.
b. Sintren salah satu tradisi lama rakyat pesisiran Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, tepatnya di Cirebon. Kesenian ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri. Sintren dalam perkembangannya kini, paling-paling hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara kelautan selain nadran, atau pada hajatan-hajatan orang gedean. Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an, nama sintren sendiri tidak jelas berasal dari mana, namun katanya sintren adalah nama penari yang masih gadis yang menjadi staring dalam pertunjukan ini.
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal
tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
c. Tari Topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
d. Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Untuk pastinya kapan kesenian ini mulai berkembang di Cirebon tak ada yang tahu pasti. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut. Gembyung merupakan jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra.
Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet. (Sumber : www.cirebonkota.go.id)
e. Upacara Nadran adalah upacara adat masyarakat pesisir Cirebon dalam bentuk melarungkan persembahan bagi penguasa laut agar diberi kelimpahan rezeki.
f. Muludan adalah sebuah event yang dirayakan setiap Maulud Nabi Muhammad SAW. Pada Event ini terdapat pasar rakyat yang sangat ramai. Dan puncaknya dirayakan dengan upacara pencucian pusaka keraton. (Disporbudpar Kota Cirebon)
4. Wisata Kerajinan
a. Kaca Dekorasi adalah salah satu seni dekorasi khas Cirebon dengan media kaca. Tema kaca dekorasi Cirebon umumnya berupa tema- tema natural seperti binatang dan bunga. (Disporbudpar Kota Cirebon)
b. Kerajinan Relief Logam merupakan produk khas yang dihasilkan oleh seniman-seniman Cirebon. Berbagai pilihan bentuk relief dan ukuran akan mempercantik tampilan dekorasi ruangan anda. Di antara bentuk relief yang paling banyak digemari oleh para wisatawan domestik muapun mancanegara adalah relief bangunan bersejarah, relief hewan (ikan arwana, naga, dan lain sebagainya), dan relief pemandangan alam. (jabarprov.go.id)
5. Wisata Kuliner
a. Nasi Jamblang sangat terkenal di wilayah Cirebon, sebuah hidangan unik khas Cirebon berupa nasi putih yang di bungkus oleh daun jati dengan berbagai aneka pilihan lauk seperti, tempe goreng, tempe oreg, dan berbagai pilihan menarik lainnya.
b. Sega lengko atau Nasi lengko adalah masakan khas Cirebon berupa racikan nasi putih dengan irisan tempe goreng, irisan tahu goreng, cacahan ketimun, cacahan daun kucai dan toge kacang hijau, kemudian dilumuri kuah bumbu kacang dan kecap manis ditaburi bawang goreng dan di tambah sambal.
c. Empal Gentong adalah irisan daging, jeroan, hati sapi/kambing di tambah kuah kuning menyerupai kuah soto, ditaburi irisan daun kucai dan sambal cabai kering disantap sebagai teman nasi atau
lontong dan disajikan diatas sebuah mangkok adalah tampilan dari salah satu kuliner khas Cirebon yaitu Empal Gentong, Gentong adalah anglo tanah, dinamakan Empal Gentong, karena masakan ini dimasak dalam anglo (Gentong) menggunakan kayu bakar.
d. Emping Melinjo adalah makanan ringan terbuat dari biji melinjo disajikan dengan berbagai rasa, ada manis, asin dan pedas.
e. Terasi merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari teknik pengolahan udang yang dimiliki masyarakat Cirebon. Terasi adalah bumbu rahasia dari kelezatan yang dimiliki masakan-masakan Khas Cirebon.
f. Sirup Tjampolay adalah produk asli Cirebon yang terkenal memiliki kekhasan dan kesegaran di setiap pilihan rasanya. Keunggulan Sirup Tjampolay dibandingkan dengan sirup-sirup lainnya adalah pilihan rasa yang menarik. Sirup Tjampolay tidak menggunakan pemanis buatan.
g. Kerupuk Rambak, cemilan yang satu ini berbahan baku kulit sapi atau kerbau sebagai salah satu cemilan khas Cirebon kering dan gurih adalah citarasa dari kerupuk ini.
h. Bubur Sop Ayam adalah masakan khas Cirebon ini terdiri dari bubur sebagai bahan utama, kuah bening, kuah kaldu ayam bening, soun, irisan kol, tauco, kacang kedelai, kentang dan remukan kerupuk.
i. Ikan Asin, sebagai kota yang memiliki potensi kekayaan bahari yang melimpah, Cirebon dikenal memiliki produk-produk bahari yang komplit dan menarik. Ikan Asin adalah contoh produk home industry yang paling banyak digemari masyarakat Cirebon.
j. Krupuk Mlarat merupakan produk home industry di Cirebon yang menjadi salah satu oleh-oleh khas Cirebon. Terbuat dari tepung sagu yang kaya dengan kandungan karbohidrat. Yang unik dari kerupuk mlarat ini adalah proses memasaknya tidak digoreng menggunakan minyak sayur seperti kerupuk lazimnya, tetapi menggunakan media pasir yang telah disterilkan dan dipanaskan diatas wajan tanah liat, sehingga kandungan kolesterolnya rendah.
k. Mie Koclok adalah masakan khas Cirebon. Resep dan penyajiannya berbeda, perbedaan yang paling mencolok adalah kuahnya yang lebih kental. Mie Koclok Cirebon terdiri dari, mie basah, kuah kaldu yang kental, dengan dilengkapi aneka sayuran sebagai pelengkap yang direbus, irisan telur rebus serta ditaburi bawang goreng dan suiran ayam.
l. Tahu Gejrot, tahu ini disajikan denngan kuah manis gula merah yang dicampur dengan tumbukan bawang merah mentah dan cabe rawit sehingga rasa pedas manis menjadi kekhasan rasa tahu ini, semakin unik karena Tahu Gejrot ini disajikan diatas piring tembikar sehingga nuansa tradisionalnya semakin menambah cita rasa Cirebon. (Disporbudpar Kota Cirebon)
m. Docang adalah makanan khas Cirebon yang berbahan lontong dicampur daun singkong, tauge, parutan kelapa, kerupuk, dan sambal docang yang khas. Campuran makanan kemudian disiramkan kuah panas yang diolah dari bumbu rempah pillihan, dan tempe bungkil atau oncom.
n. Empal Asam, berbeda dengan Empal Gentong yang berkuah kuning, dengan menggunakan santan dan rempah, Empal asam justru berkuah bening, dengan bahan utamanya belimbing wuluh.
Belimbing wuluh itulah yang menghasilkan rasa asam yang khas.
Menyantapnya dalam kondisi hangat amat menyegarkan, dengan rasa asam yang pas. (kompas.com)
o. Sate Kalong adalah makanan khas Cirebon. Sate ini terbuat dari daging kerbau yang dihaluskan dengan cara ditumbuk. Rasany manis, hampir seperti dendeng. Disebut sate kalong karena, penjual sate ini hanya keluar pada sore hari (seperti kalong yang keluar pada saat matahari hampir tenggelam) dan berjualan sepanjang malam.
Kekhasan penjualnya juga, mereka menggantungkan genta (klenengan) sapi pada pikulannya. Sehingga bila mereka berjalan akan terdengar bunyi genta sapi itu. (Wikipedia.org)
C. Wisata Sejarah Utama Kota Cirebon 1. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri. Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta tersebut saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan. Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja (wikipedia.org).
a. Sejarah
Keraton Kasepuhan berisi dua komplek bangunan bersejarah yaitu Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana dan komplek keraton Pakungwati (sekarang disebut keraton Kasepuhan) yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 M. Pangeran Cakrabuana bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama 'Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama dia diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
b. Tata letak dan Arsitektur
Keraton Kasepuhan merupakan salah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terawat dengan baik, seperti halnya keraton-keraton yang ada di wilayah Cirebon,
bangunan keraton Kasepuhan menghadap ke arah utara. Di depan keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan dan juga sebagai titik pusat tata letak kompleks pemerintahan keraton. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan juga pentas perayaan kesultanan lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar.
Sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya.
Model bentuk keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model tata letak keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun- alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
1) Gerbang Depan Keraton
Keraton Kasepuhan memiliki dua buah pintu gerbang, pintu gerbang utama keraton Kasepuhan terletak di sebelah utara dan pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit (bahasa Indonesia: jembatan kecil) berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut Lawang sanga (bahasa Indonesia : pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton, di bagian ini terdapat dua bangunan yaitu Pancaratna dan Pancaniti.
Bangunan Pancaratna berada di kiri depan kompleks arah barat berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar terali besi.
Pancaniti berarti jalan atasan, merupakan pendopo sebelah timur yang merupakan tempat para perwira keraton melatih para prajurit ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun dan sebagai tempat pengadilan. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah mendukung atap sirap. Bangunan ini memiliki pagar terali besi
2) Area Siti Inggil
Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh di sekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi dengan ukuran 3,70 x 1,30 x 5 m sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng dengan ukuran 4,50 x 9 m, pada sisi sebelah timurnya
terdapat bentuk banteng. Pada bagian bawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.
Saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M.
Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri.
a) Mande Malang Semirang, bangunan utama yang terletak di tengah dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.
b) Mande Pendawa Lima, bangunan di sebelah kiri bangunan utama dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.
c) Mande Semar Tinandu, bangunan di sebelah kanan bangunan utama dengan 2 buah tiang yang melambangkan dua kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu.
d) Mande Pengiring, bangunan di belakang bangunan utama yang merupakan tempat para pengiring Sultan.
e) Mande Karasemen, bangunan disebelah mande pangiring, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan.
Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini
hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang berasal dari budaya Hindu bernama Lingga Yoni yang merupakan lambang dari kesuburan (Lingga berarti laki- laki dan Yoni berarti perempuan) dan bangunan Pengada yang berada tepat di depan gerbang Pengada dengan ukuran 17 x 9,5 m yang berfungsi sebagai tempat membagikan berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.
3) Area Tajug Agung
Tajug Agung (mushola agung) Keraton Kasepuhan dengan pos Bedug Samogiri di sebelah kiri Pada batas antara area siti inggil dengan halaman tajug agung (bahasa Indonesia : mushola agung) dibatasi oleh tembok bata. Pada tembok bata bagian utara terdapat dua gerbang yaitu Regol Pengada dan gapura lonceng.
Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk ke halaman selanjutnya dengan ukuran panjang dasar 5 x 6,5 m.
Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun pintunya dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah timur Gerbang Pangada dengan ukuran panjang dasar 3,10 x 5 x 3 m. Gerbang ini berbenduk kori agung (gapura beratap) menggunakan bahan bata. Area Tajug Agung ini terbagi dua yaitu halaman Pengada dan halaman Tajug Agung yang keduanya dipisahkan dengan tembok yang rendah. Halaman Pengada berukuran 37 x 37 m, berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda pada masa lalu. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda. Halaman Tajug Agung berukuran 37 x 17 m, merupakan halaman di mana
terdapat bangunan Tajug Agung. Bangunan Tajug Agung menghadap ke arah timur.
Bangunan utama Tajug Agung berukuran 6 x 6 m dengan luas teras 8 x 2,5 m. Bagian terasnya berdinding kayu setengah dari permukaan lantai sementara setengah bagiannya lagi diberi terali kayu. Dinding bangunan utama merupakan dinding tembok, mihrabnya berbentuk melengkung berukuran 5 x 3 x 3 m. Di dalam mihrab terdapat mimbar terbuat dari kayu berukuran 0,90 x 0,70 x 2 m. Atap Tajug Agung merupakan atap tumpang dua dengan menggunakan sirap (bahasa Cirebon:
Tiritisan). Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Tajug Agung ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Tajug Agung dilengkapi pula dengan Pos / tempat bedug Samogiri.
Pos bedug Samogiri yang berada di depan Tajug Agung dan menghadap ke timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug. Pos bedug ini dibangun tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.
4) Area utama keraton Kasepuhan
Area utama keraton Kasepuhan merupakan area yang berisikan bangunan induk keraton Kasepuhan serta bangunan penunjang lainnya, antara area utama keraton dengan area Tajug Agung dibatasi tembok dengan gerbang berukuran 4x 6,5 x 4 m.
Gerbang tersebut dilengkapi dua daun pintu terbuat dari kayu, jika dibuka dan ditutup akan berbunyi maka disebut pintu gledeg (bahasa Indonesia : guntur). Di dalam area utama keraton ini terdapat beberapa bangunan di antaranya ;
a) Taman Dewandaru, berukuran 20 m2, Taman ini dikenal dengan nama taman Bunderan Dewandaru karena bentuknya yang melingkar, filosofi dari taman ini adalah bentuknya yang bulat melingkar tanpa terputus mengartikan
keseluruhan, nama Dewandaru / Dewadaru yang merupakan bahasa Cirebon dapat diartikan sebagai Pinus Dewadaru dalam bahasa Indonesia, pohon Pinus Dewadaru sendiri terkait dengan kisah Rahwana yang menculik dewi Shinta dan bersembunyi di dalam hutan-hutan gelap yang banyak ditumbuhi pohon Lodra, Padmaka dan Dewadaru. Di dalam tradisi hindu, hutan yang banyak ditumbuhi pohon Dewadaru biasa digunakan para petapa untuk memohon berkah Siwa. Namun dalam persfektif Cirebon makna Taman Dewandaru yang berbentuk lingkaran adalah sebagai sebuah pangeling (bahasa Indonesia : pengingat) agar manusia selalu mencari mereka yang masih tinggal di dalam kegelapan lalu membawanya keluar dari sana menuju jalan yang terang yang diberkahi Allah swt. Pada taman ini juga terdapat pohon Soko (lambang suka hati), dua buah patung macan putih (lambang keluarga besar Pajajaran), meja dan dua buah bangku serta sepasang meriam yang dinamakan meriam Ki Santomo dan Nyi Santoni
b) Museum Benda Kuno, berbentuk huruf "E" dan berada di sebelah barat taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno kesultanan Kasepuhan
c) Museum Kereta, berukuran 13,5 x 11 m dan berada di sebelah timur taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan kereta kencana kesultanan Kasepuhan
d) Tugu Manunggal, batu berukuran pendek sekitar 50 cm, dikelilingi pot bunga melambangkan Allah swt yang satu.
e) Lunjuk, berukuran 10 x 7 m, berada di sebelah Tugu Manunggal berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.
f) Sri Manganti, berbentuk bujursangkar, berada di sebelah tugu manunggal. Bangunan ini terbuka tanpa dinding, atap berbentuk joglo dengan genteng dan didukung dengan 4
tiang saka guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langit- langit dipenuhi ukiran-ukiran yang berwarna putih dan coklat. Bangunan ini berfungsi sesuai dengan namanya yaitu sebagai tempat menunggu keputusan raja.
g) Bangunan induk keraton, merupakan tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan.
5) Bangunan induk keraton
Bangunan Induk keraton, Bangunan induk keraton merupakan tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan, di dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, di antarannya :
a) Kutagara Wadasan, berukuran lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m, dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678. Kutagara Wadasan adalah gapura yang bercat putih dengan gaya khas Cirebon, gaya Cirebon tampak pada bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung.
Arti ukiran tersebut seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.
b) Kuncung, berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678 yang digunakan parkir kendaraan sultan.
c) Jinem Pangrawit, berfungsi sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu, nama Jinem Pangrawit berasal dari kata jinem (bahasa Indonesia : tempat tugas) dan Pangrawit / Rawit (bahasa Indonesia : kecil dan bagus), berlantai marmer, dinding tembok berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa. Atap didukung 4 tiang saka guru kayu dengan umpak beton.
d) Gajah Nguling, dibangun oleh Sultan Sepuh IX Radja Sulaeman pada tahun 1845, yaitu ruangan tanpa dinding dan