PENINGKATAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI POKOK BAHASAN NILAI DAN NORMA SOSIAL (NIKAH SIRIH) MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
Teks penuh
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8) Tiada kesuksesan yang datang Secara kebetulan dan Karena warisan nenek moyang Tapi kesuksesan ada Jika usaha dan doa sebagai penopangnya. Perahu dibuat oleh para amatir dan Titanic oleh para ahli Jangan menunggu para ahli untuk menjadi sempurna. Kupersembahkan Karya Sederhana Ini Untuk: Ayahanda dan Ibunda Tercinta, Saudara-saudaraku Serta Orang-orang Yang Selalu Memberi Nasehat, Yang Senantiasa Mendoakan, Memberikan Motivasi dan Menyayangiku Selamanya...
(9) ABSTRAK Rosdiana. 2013. Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Bahasan Nilai dan Norma Sosial ( Nikah Sirih ) melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sunnguminasa Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Syahribulan K dan Hidayah Quraisy. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action) yang terdiri dari dua siklus dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa sebanyak 35 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I yang tuntas secara individual dari 35 siswa hanya 18 siswa atau 33,33% yang memenuhi criteria ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori rendah. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 62,58. Sedangkan pada siklus II dimana dari 35 siswa terdapat 30 orang atau 85,71% telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 87,29 atau berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas dapat disimpulkan Hasil belajar Sosiologi siswa kelas kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning mengalami peningkatan.. Kata kunci : hasil belajar, Contextual Teaching and Learning.
(10) KATA PENGANTAR. Allah Maha Penyayang dan Pengasih demikian kata untuk mewakili segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan dan rasio padaMu, Sang Khaik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu. Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang . kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan. Khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua Sultan dan Rusniati, atas segala pengorbanan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil sampai sekarang ini. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat. Demikian pula penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi , kepada Dra.Hj.Syahribulan K, M.Pd dan Dra. Hidayah Quraisy, M. Pd.,.
(11) selaku pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini. Tidak. lupa. juga. penulis. mengucapkan terima. Dr. H. Irwan Akib, M. Pd., Rektor Universitas. kasih. kepada. Muhammadiyah. Makassar.. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum., Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. H. Nursalam, M. Si., Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Muhammad Akhir, M. Pd., Sekretaris Jurusan Pendidkan Sosiologi serta seluruh dosen dan para pegawai dalam lingkup Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Ucapan terima kasih. yang. sebesar-besarnya. juga. penulis ucapkan. kepada Dra. Fauziah Kepala SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa, Drs. M. Tahir K. guru sosiologi, beserta guru-guru dan staf yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat seperjuanganku yang selalu menemaniku dalam suka dan duka serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar khususnya angkatan 09 kelas K terima kasih atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku. Seluruh pihak yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu-persatu. Hal ini tidak mengurangi rasa terima kasihku atas segala bantuannya..
(12) Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanyalah Allah SWT dan tiada manusia yang luput dari salah dan khilaf. oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan Skripsi ini. Semoga saran dan kritik tersebut menjadi motivasi kepada Penulis untuk lebih tekun lagi belajar. Amin.. Makassar, Desember 2013. Penulis.
(13) DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i. HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii. LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... iii. PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................. iv. SURAT PERNYATAN ................................................................................ v. SURAT PERJANJIAN ................................................................................. vi. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................ vii. ABSTRAK .................................................................................................... viii. KATA PENGANTAR .................................................................................. ix. DAFTAR ISI ................................................................................................. xii. DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiv. DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xv. BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1. A. Latar Belakang .................................................................................. 1. B. Identifikasi Masalah .......................................................................... 5. C. Alternatif Pemecahanan Masalah ...................................................... 6. D. Rumusan Masalah ............................................................................. 6. E. Tujuan Penelitian .............................................................................. 6. F. Manfaat Penelitian ............................................................................ 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS ..... 8. A. Kajian Pustaka ................................................................................... 8. 1. Pengertian Belajar ...................................................................... 8. 2. Hasil Belajar ................................................................................ 9. xii.
(14) 3. Pengertian Sosiologi ................................................................... 12. 4. Nilai dan Norma Sosial ............................................................... 16. 5. Nikah Sirih.................................................................................... 28 6. Pendekatan Contextual Teaching and Learning ........................ 42. B. Kerangka Pikir .................................................................................. 48. C. Hipotesis ........................................................................................... 50. BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 51. A. Jenis Penelitian .................................................................................. 51. B. Waktu Penelitian dan Tempat Penelitian .......................................... 51. C. Subyek Penelitian .............................................................................. 51. D. Prosedur Penelitian ............................................................................ 51. E. Instrumen Penelitian .......................................................................... 56. F. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 56. G. Teknik Analisis Data ......................................................................... 57. H. Indikator Keberhasilan ...................................................................... 59. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 60. A. Hasil Penelitian ................................................................................. 60. 1. Paparan Data Siklus I .................................................................. 60. 2. Paparan Data Siklus II ................................................................ 71. B. Pembahasan ....................................................................................... 84. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 86. A. Kesimpulan ....................................................................................... 86. B. Saran .................................................................................................. 87. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 89. LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP.
(15) DAFTAR TABEL. Tabel. Halaman. 3.2. Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan DEPDIKNAS ........ 58. 4.1. Keaktifan Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus I ...................................................................................65. 4.2. Statistik Skor Hasil Tes Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus I ........................................ 66. 4.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus I ................................................................. 67. 4.4. Deskripsi Ketuntasan Belajar Siwa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus I ........................................ 67. 4.5. Keaktifan Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus I........................................................ .......... 76. 4.6. Statistik Skor Hasil Tes Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus II ....................................... 77. 4.7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus II ................................................................ 78. 4.8. Deskripsi Ketuntasan Belajar Siwa Kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada Siklus II ....................................... 79.
(16) DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1. Halaman. Bagan Kerangka Pikir ................................................................................... 50. 3.1 Bagan Alur Penelitian ................................................................................... 52 4.1 Diagram batang ketuntasan hasil belajar sosiologi siswa kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada siklus I .................... 68. 4.2 Diagram batang ketuntasan hasil belajar sosiologi siswa kelas X IPA I SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa pada siklus II ................... 79.
(17) BAB I PENDAHULUAN A.. Latar Belakang Sosiologi merupakan ilmu sosial yang mempelajari interaksi antara. masyarakat, perilaku masyarakat dan kebiasaan masyarakat. Sosiologi merupakan mata pelajaran yang banyak berguna dalam kehidupan bermasyarakat dan pelajaran sosiologi merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan pada ujian akhir nasional khususnya siswa jurusan IPS. Ini berarti sosiologi merupakan sarana berpikir logis untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sosiologi perlu disajikan pada setiap jenjang pendidikan. Model pembelajaran sosiologi yang terdapat dalam buku pelajaran sosiologi perlu diperkaya dengan model-model lain yang memberi nuansa baru, sehingga dapat. meningkatkan. kompetensi. komunikasi. siswa. Selama ini. model. pembelajaran kurang menantang siswa, terutama gaya belajar yang monoton sehingga tidak membangkitkan kreativitas siswa, masalah yang paling menonjol dikalangan siswa khususnya pada pelajaran sosiologi, yang terasa sulit untuk dimengerti yakni. menyangkut. konsep yang terdapat di dalam. penguasaan materi sosiologi tentang konsepilmu sosiologi. Kenyataan ini menunjukkan. adanya suatu komponen belajar mengajar yang belum sesuai yang diharapkan dalam pencapaian proses pembelajaran. Berdasarkan kenyataan di atas juga mengharuskan bahwa pembelajaran sosiologi harus dilakukan secara intensif, sehingga kesan yang berkembang di masyarakat bahwa mata pelajaran sosiologi merupakan mata pelajaran yang.
(18) sangat susah karena apabila tidak dapat dihilangkan maka hasil belajar sosiologi akan terus mengalami penurunan, seperti yang dialami oleh siswa kelas X Sma Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa. Kehidupan dalam sekolah tidak terlepas dari norma dan nilai-nilai sosial yang menjadi perilaku individu antara pengajar dengan siswa, antar guru, antar siswa dan antara pembimbing belajar dengan warga. Nilai dan norma sosial di sekolah harus diwujudkan sehingga interaksi dalam proses belajar mengajar berlangsung lancar dan tujuan pendidikan dapat tercapai. Dengan demikian perlunya pemberian materi nilai dan norma sosial disekolah.Nilai dan norma sosial berisikan tentang nilai-nilai dan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat.Pengenalan dan pemberian pengetahuan tentang nilai dan norma sosial sejak dini sangat diperlukan oleh siswa khususya siswa SMA. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru bidang studi sosiologi pada sekolah tersebut diperoleh informasi bahwa hasil belajar sosiologi siswa di kelas tersebut tergolong rendah yaitu dengan rata-rata 60 pada tahun ajaran 2012/2013. Sedangkan kriteria ketuntasan minimalnya (KKM) yaitu 70. Presentase ketuntasan siswa sebesar 41,30 % yaitu 19 dari 46 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 58,90 % yaitu 27 dari 46 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari 46 siswa sebagian besar belum tuntas dan memerlukan perbaikan dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan karena siswa kurang mampu menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan kondisi yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penurunan hasil belajar sosiologi juga.
(19) dikarenakan penyajian materi sosiologi selama ini masih monoton sehingga siswa kurang berminat belajar sosiologi, dengan demikian siswa tidak berkonsentrasi dalam pembelajaran sosiologi karena tidak adanya dinamika, inovasi, kreativitas, dan siswa belum dilibatkan secara aktif sehingga guru sulit mengembangkan atau meningkatkan pembelajaran agar benar-benar berkualitas. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual juga menjadikan pengalaman menjadi relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pendekatan pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuathubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Berdasarkan konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya, mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian, mereka memposisikan diri sebagai dirinya sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk masa depannya. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual diharapkan akan mempermudah dalam memahami dan memperdalam sosiologi serta meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Sehingga pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang cocok.
(20) diterapkan dalam mengatasi masalah rendahnya hasil belajar sosiologi siswa dalam proses belajar sosiologi. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Secara garis besarnya tujuan mempelajari keuntungan dan kerugian nikah sirih agar dapat memahami ketentuan nikah yang sebenarnya dan kedudukan nikah sirih serta mensosialisasikan kepada siswa tentang aturan – aturan atau ketentuan baik dalam undang – undang maupun dalam hukum agama mengenai pernikahan.Pengenalan secara dini tentang nikah siri terhadap siswa, agar siswa dapat mengetahui dampak yang ditimbulkan dalam pernikahan sirih. Karna dalam pernikahan sirih tidak terdaftar dalam KUA yang berarti anak hasil nikah sirih tidak terdaftar dalam catatan sipil ini berarti anak tidak bisa memperoleh akte kelahiran. Yang dimana anak tersebut tidak dapat bersekolah tanpa adanya akte kelahiran. Salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan di atas, maka seorang guru harus berusaha memilih dan memberikan pengajaran yang tepat kepada siswa. Salah satu strategi belajar sosiologi hendaknya diusahakan dengan segala upaya agar menggunakan pendekatan melalui pemahaman konsep yang mendalam, supaya konsep yang diberikan benar-benar bermakna bagi siswa sehingga mempermudah menggunakannya dalam menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat Khususnya masalah nikah sirih yang marak terjadi.Agar siswa dapat terhindar dari pernikahan sirih..
(21) Contextual Teaching and Learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Dengan pendekatan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep Sosiologi siswa sehingga secara signifikan hasil belajar Sosiologi siswa pun meningkat. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti merasa tertarik melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi pada Pokok Bahasan Nilai dan. Norma Sosial (Nikah Sirih) melalui Pendekatan. Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa ” B.. Masalah Penelitian. 1.. Identifikasi Masalah. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalahnya adalah: a.. Metode dan model pembelajaran yang digunakan masih didominasi oleh guru.. b.. Masih kurangnya tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sosiologi..
(22) c.. Masih rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi.. 2.. Alternatif Pemecahan Masalah Metode pemecahan masalah yang akan digunakan yaitu. pendekatan. Contextual Teaching and Learning. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil belajar sosiologi siswa dapat meningkat dari nilai rata-rata 60 menjadi nilai diatas KKM 70 sebanyak 75 %. 3.. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan. masalah pada penelitian ini adalah: Apakah dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatan hasil belajar sosiologi pada pokok bahasan nilai dan norma Sosial (Nikah Sirih) pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa dari nilai rata-rata 60 menjadi nilai diatas KKM 70 sebanyak 75 % ? C.. Tujuan Penelitian. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan. hasil belajar sosiologi pada pokok bahasan nilai dan norma sosial (Nikah Sirih) melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Sungguminasa Kabupaten Gowa dari dari nilai rata-rata 60 menjadi nilai diatas KKM 70 sebanyak 75 %..
(23) D.. Manfaat Penelitian Hasil dari pelaksanaan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat. yang berarti antara lain: 1) Bagi Siswa Siswa lebih termotifasi belajar lebih aktif dan giat dalam pembelajaran sosiologi. 2) Bagi Guru Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran dengan tujuan agar dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. 3) Bagi Sekolah Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat bermanfaat bagi sekolah dalam peningkatan nilai-nilai siswa khusunya pelajaran sosiologi..
(24) BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. A.. Kajian Pustaka. 1.. Pengertian Belajar Sardiman (2010:20) mendefenisikan belajar sebagai usaha penguasaan. materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Selanjutnya Slameto (2010:2) menyatakan dalam bukunya bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Selain itu Sardiman (2010: 20) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan seseorang yang dapat memberikan perubahan tingkah laku dalam dirinya sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Jadi, belajar disini diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham,.
(25) dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri. Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli sebagai berikut: ( Muh.Natsir Hamdat,2011:1-2). a.. Crow & Crow : “ Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.. b.. Burton : “Belajar merupakan perubahan diri seseorang yang disebabkan oleh interaksi antara dia dengan lingkungannya”.. c.. Hanggard : “Belajar adalah perubahan perilaku sebagai akibat terjadinya suatu pengalaman”.. d.. Gagne : “Belajar adalah perubahan disposisi atau kapabili tas manusia yang dapat dijaga/dipertahankan dan bukan semata-mata disebabkan oleh proses perkembangan”.. e.. Hilgard & Bower : “Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah sebuah aktifitas dengan mendorong seseorang bereaksi terhadap suatu situasi,namun karakteristik perubahan itu bukanlah disebabakan oleh tendensi respons asli,kedewasaan atau kondisi sesaat (temporer) dari organisme tersebut misalnya kelelahan,efek sampingan dari obat yang diminum, dan sebagainya.. 2.. Hasil Belajar.
(26) Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Oemar Hamalik. 2008:30).. a.. Pengertian Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250-251), hasil belajar merupakan. hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Howard Kingsley (dalam Nana Sudjana.2005:15) membagi 3 macam hasil belajar: 1). Keterampilan dan kebiasaan. 2). Pengetahuan dan pengertian. 3). Sikap dan cita-cita Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari. semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi.
(27) sehingga akan mengubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.. b.. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi yang ingin. kami jelaskan di sini adalah faktor yang mempengaruhi belajar dari sisi sekolah yakni : 1). Metode mengajar. Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar itu sendiri menurut Ign. S. Ulih B.Karo ( dalam M. Joko, S.2006 :82) adalah menyajikan bahan pelajaran kepada orang lain itu diterima, dikuasai dan dikembangkan. Dari uraian di atas jelaslah bahwa metode mengajar itu mempengaruhi belajar. metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.. 2). Kurikulum. Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. kegiatan ini sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi tidak baik terhadap belajar..
(28) 3). Relasi guru dengan siswa. Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Di dalam relasi ( guru dengan siswa ) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya, hal demikian dapat terjadi sebaliknya.. 4). Relasi siswa dengan siswa. Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari kelompok. akibatnya makin parah dan dapat minggu belajarnya.. 5). Disiplin sekolah. Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah juga dalam belajar.hal ini mencakup segala aspek baik kedisiplinan guru dalam mengajar karena kedisiplinan pendidik juga dapat memberi contoh bagi siswa atau peserta didik.. 3.. Pengertian Sosiologi Untuk memahami pengertian sosiologi kiranya perlu dikemukakan. pengertian sosiologi. sosiologi secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa latin: sosius dan logos. Sosiul artinya teman, perikatan; dan logos artinya ilmu. jadi, secara etimologi sosiologi berarti ilmu berteman, sedangkan pengertian sosiologi terminologi adalah adalah ilmu yang mempelajari interaksi (hubungan.
(29) timbal-balik) antara seorang individu yang satu dengan yang lain, baik seorang sebagai pribadi (individu) maupun sebagai anggota kelompok orang (masyarakat). Sukar untuk merumuskan suatu definisi (batasan makna) yang dapat mengemukakan keseluruhan pengertian. Oleh sebab itu, suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Untuk patokan sementara, beberapa definisi sosiologi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Auguste Comte ”. (Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:3). mengemukakan pengertian sosiologi.“Soiologi merupakan ilmu positif tentang masyarakat, artinya sosiologi merupakan suatu studi ilmiah tentang masyarakat”. Kemudian Emile Durkheim (Niniek Sri wahyuni, Yusniati,2007:3) mengemukakan pengertian sosiologi adalah sebagai berikut.“Sosiologi merupakan ilmu-ilmu yang mempelajari lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses proses sosial”. Pitirin A. Sorokin menjelaskan tentang pengertian sosiologi: (Niniek Sri wahyuni, Yusniati,2007:3). Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal berikut. a). Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial, misalnya antara ekonomi dan agama serta keluarga dan moral.. b). Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala-gejal nonsosial. Misalnya, antara gejala sosial dan biologis atau geografis.. c). Ciri-ciri umum dari semua jenis gejala-gejala sosial..
(30) Kemudian Soerjono Soekanto memberikan pengertian sosiologi ”(Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:4) adalah. “sosiologi merupakan ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum dari padanya”. J. A. A Van Doorn dan C. j. Lammers (Soerjono Soekanto, 2007:18 ) berpendapat tentang pengertian sosiologi. “sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat stabil”. Sedangkan. SeloSoemarjan. dan. Soelaeman. soemardi:. ”(Soerjono. Soekanto,2007:18) menjelaskan tentang pengertian sosiologi adalah. “sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial”. Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi sosial, srtuktur-struktur sosial dan kemasyarakatan. Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi sebagai berikut: 1. Sosiologi sebagai ilmu dan metode 2. Interaksi sosial 3. Sosialisasi 4. Struktur sosial 5. Kebudayaan 6. Perubahan sosial budaya.
(31) Saint-Simon lebih tua dari Auguste Comte. Comte sendiri adalah murid dan pernah menjadi sekretaris Saint-Simon. Sangat banyak kesamaan gagasan kedua pemikir ini namun tak jarang berkembang perdebatan sengit antar keduanya yang akhirnya menyebabkan keduanya berpisah (Pickering, 1993; Thompson, 1975). Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi. Pengaruhnya besar sekali terhadap para teoritisi sosiologi selanjutnya (terutama Herbert Spencer dan Emile Durkheim). Ia yakin bahwa studi sosiologi akan menjadi ilmiah sebagaimana keyakinan teoritisi klasik dan kebanyakan sosiolog kontemporer (Lenzer, 1975). Comte mengembangkan fisika sosial atau yang pada 1839 disebutnya sosiologi (Pickering, 2000). Penggunaan istilah fisika sosial jelas menunjukkan bahwa Comte berupaya agar sosiologi meniru model hard science. Ilmu baru ini, yang menurut pandangannya akhirnya akan menjadi ilmu dominan, adalah ilmu yang mempelajari social statics (statistika sosial atau struktur sosial yang ada) dan social dinamycs (dinamika sosial atau perubahan sosial). Meski keduanya dimaksudkan untuk menemukan hukum-hukum kehidupan sosial, ia merasa bahwa dinamika sosial lebih penting ketimbang statika sosial. Tekanan pada perubahan sosial ini mencerminkan perhatiannya yang sangat besar terhadap reformasi sosial, terutama pada penyakit-penyakit sosial yang diciptakan oleh Revolusi Perancis dan Pencerahan. Comte tidak menginginkan perubahan revolusioner karena ia merasa evolusi masyarakat secara alamiah akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik..
(32) Hubungan Durkheim dengan Pencerahan jauh lebih mendua ketimbang Comte. Durkheim dipandang sebagai pewaris tradisi Pencerahan karena penekanannya pada sains dan reformasi sosial. Akan tetapi, Durkheim juga dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif, khususnya seperti tercermin dalam karya Comte. Bedanya, sementara Comte tetap berada di luar dunia akademi, Durkheim mengembangkan basis akademi yang kokoh untuk kemajuan karirnya. Durkheim melegitimasi sosiologi di Perancis dan karyanya akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan perkembangan teori sosiologi pada khususnya (R. Jones, 2000). 4.. Pengertian Nilai Dan Norma. a.. Pengertian Nilai Nilai adalah konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang di. anggap baik dan apa yang di anggap buruk, benar-salah,patut-tidak patut, dan penting atau tidak penting. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik, sedangkan mencuri bernilai buruk. Satu bagian penting dari kebudayaan atau suatu masyarakat adalah nilai sosial. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti secara moral diterima, kalau tindakan tersebut harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan. Dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kasalehan beribadah, maka apabila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan, cercaan, celaan, cemoohan, atau bahkan makian. Sebaliknya, kepada orang-orang yang rajin beribadah,.
(33) dermawan, dan seterusnya, akan dinilai sebagai orang yang pantas, layak, atau bahkan harus dihormati dan diteladani. Dalam Kamus Sosiologi yang disusun oleh Soerjono Soekanto disebutkan bahwa nilai (value) adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Horton dan Hunt (1987) menyatakan bahwa nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti apa tidak berarti. Dalam rumusan lain, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu hal, apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, penting atau tidak penting, mulia ataukah hina. Sesuatu itu dapat berupa benda, orang, tindakan, pengalaman, dan seterusnya. Beberapa pendapat tentang pengertian nilai (Herimanto, 2010 : 126) dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Robert M. Z. Lawang, Nilai adalah gambaran mengenai apa yang di inginkan, yang pantas, yang berharga, dan yang mempengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai itu. 2) Menurut Bambang Daroeso, nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang. 3) Menurut Darji Darmodiharjo, nilai adalah kualitas atau keadaan yang bermanfaat bagi manusia baik lahir maupun batin. Dibawah ini adalah beberapa pengertian nilai sosialmenurut para ahli sebagai berikut:(Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:23) 1). AWG.Green.
(34) Nilai sosial adalah kesadaran yang secara relative berlangsung disertai emosi terhadap objek yang dituju. 2). Woods Nilai sosial adalah petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama dan bertujuan mengarahkan tingkah laku dan kepuasan manusia dalam kehidupan sehari-hari.. 3). Kimball Young Nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.. 4). D.Hendropuspito Nilai sosial adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena terbukti mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan hidup bersama. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa nilai sosial dapat. diartikan sebagai konsep abstrak mengenai segala sesuatu yang baik, dicitacitakan, yang penting, dan yang berguna bagi kehidupan manusia menurut ukuran masyarakat dimana nilai tersebut dijunjung tinggi. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk menentukan apa yang benar dan penting. Menurut Notonegoro,dalam Herimanto (2010 : 128) menyatakan ada tiga macam nilai, yaitu : 1) Nilai materil, yakni sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia..
(35) 2) Nilai vital, yakni sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melaksanakan kegiatan. 3) Nilai kerohanian, yakni segala sesuatu yang berguna bagi kebutuhan rohani manusia,seperti: a. Nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber pada akal manusia (cipta); b. Nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber pada unsur perasaan (estetika); c. Nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada unsure kehendak (karsa); dan d. Nilai keagamaan (religiositas), yaitu nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan. Adapun jenis-jenis nilai dibedakan sebagai berikut: :(Idianto M, 2004:110) 1). Nilai etika adalah semua nilai yang diterapkan oleh masyarakat dalam wujud moral, kesusilaan, benar salah, baik buruk, dan sebagainya.. 2). Nilai ekonomis adalah semua nilai yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomis.. 3). Nilai watak adalah nilai-nilai yang berwujud keadilan tolong-menolong, intropeksi, kesalehan pribadi, dan sebagainya.. 4). Nilai kejasmanian adalah nilai-nilai yang meliputi pencarian kebenaran, pengetahuan, dan sebagainya.. 5). Nilai rekreasi adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan permainan pada waktu senggang untuk memberikan kesegaran jasmani dan rohani..
(36) 6). Nilai perserikatan adalah nilai yang berbentuk perserikatan atau asosiasi manusia untuk saling bekerjasama.. 7). Nilai relegius adalah nilai yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan uraian diatas maka nilai sosial dapat diartikan sebagai konsep. abstrak mengenai segala sesuatu yang baik, dicita-citakan, yang penting, dan yang berguna bagi kehidupan manusia menurut ukuran masyarakat dimana nilai tersebut dijunjung tinggi. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk menentukan apa yang benar dan penting. Macam-macam Nilai Sosial Menurut Prof. Notonegoro dalam (Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:24) membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu: (1) Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia, (2) Nilai vital, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas, dan (3) Nilai kerohanian, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia: nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta), nilai keindahan, yakni yang bersumber pada unsur perasaan (estetika), nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa), dan nilai keagamaan (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan. Ciri-Ciri Nilai Sosial.
(37) Nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat mempunyai beberapa ciri.Ciri-ciri dari nilai sosial adalah sebagai berikut ini: 1). Merupakan hasil interaksi antarwarga masyarakat. 2). Nilai sosial diimbaskan dan ditularkan dari pihak lain. 3). Terbentuknya melalui proes belajar. 4). Mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang. 5). Melibatkan emosi dan perasaan seseorang Fungsi nilai sosial antara lain sebagai berikut: a. Sebagai faktor pendorong, berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan. b. Sebagai petunjuk arah dari cara berfikir, berperasaan, dan bertindak; penentu dalam memenuhi peran sosial; dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial. c. Sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai sosial mendorong, menuntun, dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai sosial menimbulkan perasaan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya. d. Sebagai alat solidaritas kelompok atau masyarakat. e. Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.. Kerangka Nilai Sosial.
(38) Antara masyarakat yang satu dengan yang lain dimungkinkan memiliki nilai yang sama atau pun berbeda. Cobalah ingat pepatah lama dalam Bahasa Indonesia: “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, atau pepatah dalam bahasa Jawa: “desa mawa cara, negara mawa tata”. Pepatah-pepatah ini menunjukkan kepada kita tentang adanya perbedaan nilai di antara masyarakat atau kelompok yang satu dengan yang lainnya. Mengetahui sistem nilai yang dianut oleh sekelompok orang atau suatu masyarakat tidaklah mudah, karena nilai merupakan konsep asbtrak yang hidup di alam pikiran para warga masyarakat atau kelompok. Namun lima kerangka nilai dari Cluckhohn yang di Indonesia banyak dipublikasikan oleh antropolog Koentjaraningrat berikut ini dapat dijadikan acuan untuk mengenali nilai macam apa yang dianut oleh suatu kelompok atau masyarakat. Lima kerangka nilai yang dimaksud adalah:. 1) Tanggapan mengenai hakekat hidup (MH), variasinya: ada individu, kelompok atau masyarakat yang memiliki pandangan bahwa “hidup itu baik” atau “hidup itu buruk”, 2). Tanggapan mengenai hakikat karya (MK), variasinya: ada orang yang menganggap karya itu sebagai status, tetapi ada juga yang menganggap karya itu sebagai fungsi,. 3). Tanggapan mengenai hakikat waktu(MW), variasinya: ada kelompok yang berorientasi ke masa lalu, sekarang atau masa depan,.
(39) 4). Tanggapan mengenai hakikat alam (MA), Variainya: masyarakat Industri memiliki pandangan bahwa manusia itu berada di atas alam, sedangkan masyarakat agraris memiliki pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam. Dengan pandangannya terhadap alam tersebut, masyarakat industri memiliki pandangan bahwa manusia harus menguasai alam untuk kepentingan hidupnya, sedangkan masyarakat agraris berupaya untuk selalu menyerasikan kehidupannya dengan alam,. 5). Tanggapan mengenai. hakikat manusia (MM),. variasi: masyarakat. tradisional atau feodal memandang orang lain secara vertikal, sehingga dalam masyarakat tradisional terdapat perbedaan harga diri (prestige) yang tajam antara para pemimpin (bangsawan) dengan rakyat jelata. Sedangkan masyarakat industrial memandang manusia yang satu dengan yang lain secara horizontal (sejajar).. b.. Pengertian Norma Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan. untuk mendorong, bahkan menekan anggota masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial. Dengan kata lain, nilai dan norma sosial saling berkaitan dalam mendorong dan menekan anggota masyarakat untuk memenuhi atau mencapai hal-hal yang dianggap baik dalam masyarakat. Atik Catur Budiati (2009), mengemukakan beberapa pengertian norma sebagai berikut :.
(40) 1. Norma adalah sesuatu yang berada di luar individu, membatasi mereka, dan mengendalikan tingkah laku mereka 2. Norma merupakan suatu pedoman untuk hidup dan berinteraksi 3. Norma sebagai suatu standar tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Norma adalah petunjuk atau patokan untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan dan anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas, untuk menciptakan ketertiban, keteraturan, kedamaian dalam bermasyarakat. Norma dibentuk di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Oleh karena itu nilai dan norma merupakan hal yang berkaitan. Ada beberapa syarat agar norma sosial dipatuhi dan dilaksankan oleh anggota masyarakat, diantaranya ; a) Norma sosial harus diketahui oleh masyarakat. b) Norma sosial harus dipahami dan dimengerti. c) Norma sosial dihargai karena bermanfaat. d) Norma sosial harus ditaati dan dilaksanakan. Apabila syarat berlakunya norma sosial telah dilaksanakan sesuai dengan tahapannya, maka norma sosial akan berfungsi sebagai berikut; a. Sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat. b. Sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. c. Sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat..
(41) Dengan adanya norma sosial maka seseorang bisa mengerti apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Jadi, norma sosial adalah petunjuk atau patokan untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan dan anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas untuk menciptakan ketertiban, keteraturan, kedamaian dalam bermasyarakat. Dalam. bahasa. latin,. norma. berarti”siku-siku”. (yang. dipakai. untukmengukur), aturan, dan pedoman dasar. :(Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:25) Kata sifatnya adalah normalis yang berarti menyelaraskan dengan ukuran,menyesuaikan menurut TH.L.Vanhoeven, (Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:25).Berdasarkan arti kata norma menurut asal katanya kita dapat menggunakan padanan kata untuk norma,yang kaidah(patokan, standar, dan ukuran). Menurut Robert M.Z.Lawang(Niniek Sri wahyuni, Yusniati, 2007:2526),norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu.. Norma sosial dibuat oleh manusia agar nilai-nilai yang ada dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua warga msyarakat namun sebagimana nilai dapat berubah, demikian pula norma yang lebih mudah berubah karena bersifat situasional artinya ia diterapkan dalam linhkungan dan kondisi tertantu (Suteng 2007)..
(42) Dilihat dari sudut pandang teori Fungsional structural, perubahan norma dalam masyarakat terjadi karena perubahan nilai dalam masyarakat karena norma merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai, maka bila nilai dalam masyarkat berubah maka diikuti pula oleh perubahan norma, sedangkan menurut pandangan teori Interaksi simbolik perubahan norma dalam masyarakat terjadi karena interaksi yang mereka saling belajar mengenai norma yang mengatur kehidupan keseharian mereka (Soerjono Soekanto, 1982). Supaya hubungan manusia dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana di harapkan, maka diaturlah norma-norma sosial yang mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Untuk dapat membedakan kekuatan terhadap norma tersebut, secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian yang mempunyai dasar yang sama untuk memberikan petunjuk bagi perilaku seseorang yang hidup di dalam masyarakat.. Jenis-jenis Norma Sosial 1) Norma sosial dilihat dari sanksinya Dilihat dari sanksi atau kekuatan mengikatnya, terdapat beberapa jenis norma,yaitu sebagai beriut: a). Tata cara ( usage ) Tata cara merupakan norma yang menunjuk kepada satu bentuk perbuatan dengan sanksi yang sangat ringan terhadap pelanggarnya. b). Kebiasaan ( folkways ).
(43) Kebiasaan atau folways merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga berulang-ulang. c). Tata kelakuan Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama, atau ideologi yang di anut oleh masyarakat. d). Adat ( custom ) Adat merupakan norma yang tidak tertulis, namun sangat kuat mengikat sehingga anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan menderita karena sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. e). Hukum ( Laws ) Hukum merupakan norma yang bersifat normal dan berupa aturan tertulis. 2. Norma soaial dilihat dari sumbernya Dilihat dari sumbernya, norma sosial terdiri dari 4 macam yaitu : ( a ) Norma agama ( b ) Norma kesopanan ( c ) Norma kesusilaan ( d ) Norma hukum Fungsi norma sosial Fungsi norma sosial antara lain sebagai beriut : 1) Sebagai pedoman atau patokan perilaku dalam masyarakat 2) Merupaan wujud konkrit dari nilai yang ada di masyarakat.
(44) 3) Suatu standar atau skala dari berbagai kategori tingkah laku suatu masyarakat. Hubungan antara nilai dengan norma sosial Di dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan ataupun tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat. Di wilayah perdesaan, sejak berbagai siaran dan tayangan telivisi swasta mulai dikenal, perlahan-lahan terlihat bahwa di dalam masyarakat itu mulai terjadi pergesaran nilai, misalnya tentang kesopanan. Tayangan-tayangan yang didominasi oleh sinetron-sinetron mutakhir yang acapkali memperlihatkan artis-artis yang berpakaian relatif terbuka, sedikit banyak menyebabkan batas-batas toleransi masyarakat menjadi semakin longgar. Berbagai kalangan semakin permisif terhadap kaum remaja yang pada mulanya berpakaian normal, menjadi ikut latah berpakaian minim dan terkesan makin berani. Model rambut panjang kehitaman yang dulu menjadi kebanggaan gadis-gadis desa, mungkin sekarang telah dianggap sebagai simbol ketertinggalan. Sebagai gantinya, yang sekarang dianggap trendy dan sesuai dengan konteks zaman sekarang (modern) adalah model rambut pendek dengan warna pirang atau kocoklat-coklatan. Jadi berubahnya nilai akan berpengaruh terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat..
(45) 5.. Materi Nikah Sirih. A.. Pengertian Nikah Secara etimologi, nikah berarti berkumpul, seperti perkataan orang Arab. berikut ini: اﻟﺘﻒ ﺑﻌﻀﮭﺎ ﺑﺒﻌﺾ ّ إذا، ﺗﻨﺎﻛﺤﺖ اﻷﺷﺠﺎرartinya: Pohon-pohon itu menikah, yakni ketika telah bertemu dan berkumpul sebagian cabang dengan lainnya (telah rindang dan saling membelit dengan cabang-cabang lainnya). Pernikahan adalah Miitsaaqon Gholiidhan ; ikatan suci, perjanjian agung, berat, kuat, tebal, keras, kokoh. (Mualy Basith, 2011 : 1). Sedangkan menurut Syara’, berikut ini pendapat beberapa ulama: a). Taqiyudin Abu Bakar Muhammad Al-Husainy Al-Damasyqy dalam kitab. Kifayat Al-Akhyar juz’ 2, nikah adalah aqad yang sudah dikenal yang meliputi rukun-rukun dan syarat. b). Dr. Wahbah Al-Zuhayly, dalam kitab Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh juz’ 7. mengatakan bahwa nikah adalah, aqad yang dapat membolehkan bersenangsenang dengan wanita, seperti bersetubuh, bertemu kulit, berciuman, berpelukan dan sebagainya dengan catatan bukan muhrimnya sebab susuan atau mushaharah. Definisi lain dari Dr. Wahbah adalah aqad yang telah ditetapkan syari’, yang telah memberi pengertian kuasa laki-laki untuk bersenang-senang dengan perempuan dan halalnya istimta’ antara perempuan dan laki-laki. c). Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdy Al-Irbily, mendefinisikan sebagai aqad. yang di dalamnya terkandung kebolehan bersetubuh dengan lafadh nikah, zawaj.
(46) atau terjemahannya. Kesimpulannya, nikah adalah aqad yang dapat menghalalkan istimta’ seorang laki-laki dengan perempuan dengan rukun dan syarat tertentu. Definisi penulis ini kiranya telah mencakup semua definisi di atas. Alfarisi mengatakan, bahwa kata nikah dapat berarti aqad sebagaimana definisi di atas dan dapat pula berarti bersetubuh dalam arti dua tubuh menjadi satu. Orang Arab membedakan makna keduanya dengan meneliti susunan kalimatnya. Contoh, bila dikatakan si fulan telah menikahi putri sifulan, maka yang dimaksudkan adalah aqadnya. Bila dikatakan dia telah menikahi istrinya atau perempuannya, maka yang dimaksudkan tiada lain kecuali bersetubuh. Adapun dasar-dasar nikah antara lain adalah : 1.. Al-Qur’an surat An-Nur ayat 32 yang berbunyi :. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian (laki-laki atau perempuan yang masih belum kawin) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamda sahayamu yang perempuan..” 2.. Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 3 yang berbunyi :. “.. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.. .” 3.. Hadits riwayat Bukhori dari Ibnu Mas’ud, ra. Nabi bersabda, “Wahai para.
(47) pemuda, siapa diantara kamu yang sudah mampu memberikan nafkah lahir dan batin maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya (nikah itu) lebih dapat menutup mata dan menjaga farji. Dan sesungguhnya puasa dapat menjadi penahan keinginan untuk bersetubuh.” 4.. Dan lain-lain yang tidak perlu kiranya ditulis semua. Nikah termasuk diantara syari’at-syari’at qodimah (terdahulu), dimana nikah. ini telah disyari’atkan mulai dari bapak manusia yang pertama yaitu Adam as. yang akan terus berlaku hingga di surga kelak, di tempat yang tiada larangan lagi untuk mengawini muhrimnya sendiri kecuali muhrim yang dalam urutan garis vertikal, yakni ibu ke atas dan anak ke bawah. Mereka tidak boleh dikawini walau disurga sudah tiada berlaku lagi syari’at dengan arti Allah SWT tidak akan mengabulkan keinginan salah seorang penduduk surga untuk mengawini ibunya sendiri atau anak-anaknya sendiri. Demikian diterangkan dalam kitab I’anat AlTholobin juz’ 3 bab nikah.. B.. Pengertian Nikah Siri. Kata “siri” dalam istilah nikah siri berasal dari Bahasa Arab, yaitu “sirrun” juga berarti rahasia. Nikah siri bisa didefinisikan sebagai “bentuk pernikahan yang dilakukan hanya berdasarkan aturan (hukum) agama dan atau adat istiadat, tetapi tidak diumumkan kepada khalayak umum dan juga tidak dicatatkan secara resmi pada kantor pegawai pencatat nikah. Dalam pasal 1 UU Pokok perkawinan No. 1 tahun 1974, disebutkan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara.
(48) seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha esa.. Kata siri berasal dari bahasa Arab yang berarti sembunyi-sembunyi dan dapat disimpulkan bahwa nikah siri merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha esa yang dilakukan dengan sembunyisembunyi / dirahasiakan yaitu dengan tidak mencatatkan perkawinan tersebut kepada dinas catatan sipil yang ada. Pernikahan siri juga digolongkan menjadi dua : Pernikahan yang dilakukan tanpa wali (belum meninggal dunia) dan pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan terpenuhinya syarat-syarat lainnya tetapi tidak dicatat KUA setempat. Perlu pertegas lagi nikah siri.. C. Perbedaan Antara Pernikahan Siri dengan Pernikahan pada Umumnya. Perbedaan yang paling nampak antara pernikahan siri dengan pernikahan pada umumnya yaitu menyangkut pencatatan perkawinan kepada pencatat sipil. Hal lain selain tentang pencatatan perkawinan yaitu menyangkut keabsahan perkawinan tersebut. Apabila dalam pernikahan siri keabsahannya hanya menyoal menyangkut agama saja (sah dimata agama) dan tidak sah dalam hukum positif Sedangkan perkawinan umum sah baik agama maupun hukum positif Indonesia. Tentang walimah juga menjadi pembeda dimana pernikahan umum adanya walimah untuk memberi tahukan berita bahagia kepada masyarakat. Sedangkan dalam perkawinan siri walimah bersifat rahasia karena pada esensinya dari perkawinan siri itu sendiri adalah kerahasiaan atas perkawinan yang dimaksud..
(49) D. Dampak Adanya Nikah Siri. Pernikahan siri memang memiliki berbagai dampak yang berpengaruh pada masyarakat kita dimana. Dampak negatif dari pernikahan siri antara lain :. 1.. Tidak kejelasan status hukum istri dan anak didepan hukum. 2.. Poligami akan meningkat. 3.. Perselingkuhan merupakan hal yang wajar dan pelecehan seksual terhadap. kaum hawa akan meningkat. 4.. Istri tidak dapat menuntut suami untuk memberikan nafkah baik lahir. maupun batin. 5.. Tanggung jawab seorang ayah kepada anak tidak ada. Contohnya. pengurusan akta lahir. 6.. Dalam hal perkawinan, anak-anak yang lahir dari pernikahan siri akan sulit. untuk menuntut hak dalam pewarisan. Karena tidak kejelasan statusnya.. Dampak positif dari pernikahan siri sebagai berikut :. 1.. Mememinimalisi sex bebas, penyakit HIV / AIDS, maupun penyakit. kelamin lainnya. 2.. Mengurangi beban dan tanggung jawab seorang wanita yang menjadi tulang. punggung keluarga.
(50) Atas hal yang telah disebutkan diatas, pernikahan siri lebih mendatangkan dampak negatif dan pada dampak positif.. E.. Hukum Nikah Sirih dalam Islam Nikah siri bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Nikah. siri dalam presepsi masyarakat dipahami dengan 2 bentuk pernikahan : Pertama, Nikah tanpa wali yang sah dari pihak wanita. Kedua, Nikah di bawah tangan, artinya tanpa adanya pencatatan dari lembaga resmi negara (KUA). Nikah siri dengan pemahaman yang pertama, statusnya tidak sah, sebagaimana yang ditegaskan mayoritas ulama. Karena di antara syarat sah nikah adalah adanya wali dari pihak wanita. Di antara dalil yang menegaskan haramnya nikah tanpa wali adalah: Pertama, hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ِﺎح إِ ﱠﻻ ﺑِ َﻮﻟِ ﱟﻲ َﻻ ﻧ َ َﻜ “Tidak ada nikah (batal), kecuali dengan wali.” (HR. Abu Daud, turmudzi, Ibn Majah, Ad-Darimi, Ibn Abi Syaibah, thabrani, dsb.) Kedua, hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ﺎط ٌﻞ أَﯾﱡ َﻤﺎ ِ َﺎﺣﮭَﺎ ﺑ ُ ﻓَﻨِ َﻜ،ﺖ ﺑِ َﻐ ْﯿ ِﺮ إِ ْذ ِن َﻣ َﻮاﻟِﯿﮭَﺎ ْ اﻣ َﺮأَ ٍة ﻧَ َﻜ َﺤ ْ “Wanita manapun yang menikah tanpa izin wali, maka nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan baihaqi) Dan masih banyak riwayat lainnya yang senada dengan keterangan di atas, sampai Al-Hafidz Ibn Hajar menyebutkan.
(51) sekitar 30 sahabat yang meriwayatkan hadis semacam ini. (At-Talkhis Al-Habir, 3:156). Kemudian, termasuk kategori nikah tanpa wali adalah pernikahan dengan menggunakan wali yang sejatinya tidak berhak menjadi wali. Beberapa fenomena yang terjadi, banyak di antara wanita yang menggunakan wali kiyai gadungan atau pegawai KUA, bukan atas nama lembaga, tapi murni atas nama pribadi. Sang Kyai dalam waktu hitungan menit, didaulat untuk menjadi wali si wanita, dan dilangsungkanlah pernikahan, sementara pihak wanita masih memiliki wali yang sebenarnya. Jika nikah siri dipahami sebagaimana di atas, maka pernikahan ini statusnya batal dan wajib dipisahkan. Kemudian, jika keduanya menghendaki untuk kembali berumah tangga, maka harus melalui proses pernikahan normal, dengan memenuhi. semua syarat. dan. rukun. yang ditetapkan. syariah.. Selanjutnya, jika yang dimaksud nikah siri adalah nikah di bawah tangan, dalam arti tidak dilaporkan dan dicatat di lembaga resmi yang mengatur pernikahan, yaitu KUA maka status hukumnya sah, selama memenuhi syarat dan rukun nikah. Sehingga nikah siri dengan pemahaman ini tetap mempersyaratkan adanya wali yang sah, saksi, ijab-qabul akad nikah, dan seterusnya. Hanya saja, pernikahan semacam. ini. sangat. tidak. dianjurkan,. karena. beberapa. alasan:. Pertama, pemerintah telah menetapkan aturan agar semua bentuk pernikahan dicatat oleh lembaga resmi, KUA. Sementara kita sebagai kaum muslimin, diperintahkan oleh Allah untuk menaati pemerintah selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman,.
(52) ﻮل َوأُوﻟِﻲ ْاﻷَ ْﻣ ِﺮ ِﻣ ْﻨ ُﻜ ْﻢ َ اﻟﺮ ُﺳ ﯿﻌﻮا ﱠ ُ ﷲَ َوأَ ِط ﯿﻌﻮا ﱠ ُ آﻣﻨُﻮا أَ ِط َ ﯾﻦ َ ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟ ﱠ ِﺬ “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa: 59). Sementara kita semua paham, pencatatan nikah sama sekali tidak bertentangan dengan aturan Islam atau hukum Allah. Kedua, adanya pencatatan di KUA akan semakin mengikat kuat kedua belah pihak. Dalam Alquran, Allah menyebut akad nikah dengan perjanjian yang kuat (ﯿﻈﺎ ً ِ) ِﻣﯿﺜَﺎﻗًﺎ َﻏﻠ, sebagaimana yang Allah tegaskan di surat An-Nisa: 21. Nah, surat nikah ditujukan untuk semakin mewujudkan hal ini. Dimana pasangan suami-istri setelah akad nikah akan lebih terikat dengan perjanjian yang bentuknya tertulis. Terlebih kita hidup di zaman yang penuh dengan penipuan dan maraknya kezhaliman. Dengan ikatan semacam ini, masing-masing pasangan akan semakin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami atau sebagai istri. Ketiga, pencatatan surat nikah memberi jaminan perlindungan kepada pihak wanita. Dalam aturan nikah, wewenang cerai ada pada pihak suami. Sementara pihak istri hanya bisa melakukan gugat cerai ke suami atau ke pengadilan. Yang menjadi masalah, terkadang beberapa suami menzhalimi istrinya berlebihan, namun di pihak lain dia sama sekali tidak mau menceraikan istrinya. Dia hanya ingin merusak istrinya. Sementara sang istri tidak mungkin mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama, karena secara administrasi tidak memenuhi persyaratan.. Dus, jadilah sang istri terkatung-katung, menunggu belas kasihan dari suami yang.
(53) tidak bertanggung jawab itu. Beberapa pertanyaan tentang kasus semacam ini telah disampaikan kepada kami. Artinya, itu benar-benar terjadi dan mungkin banyak terjadi. Anda sebagai wanita atau pihak wali wanita, selayaknya perlu mawas diri. Bisa jadi saat di awal pernikahan Anda sangat menaruh harapan kepada sang suami. Tapi ingat, cinta kasih juga ada batasnya. Sekarang bilang sayang,. Keempat,. besok. tidak. memudahkan. bisa. kita. pastikan.. pengurusan. Karena. administrasi. itu,. negara. waspadalah... yang. lain.. Sebagai warga negera yang baik, kita perlu tertib administrasi. Baik KTP, KK, SIM dst. Bagi Anda mungkin semua itu terpenuhi, selama status Anda masih mengikuti orang tua dan bukan KK sendiri. Lalu bagaimana dengan keturunan Anda. Bisa jadi anak Anda akan menjumpai banyak kesulitan, ketika harus mengurus ijazah sekolah, gara-gara tidak memiliki akta kelahiran. Di saat itulah, seolah-olah anak Anda tidak diakui sebagai warga negara yang sempurna. Dan kami sangat yakin, Anda tidak menginginkan hal ini terjadi pada keluarga Anda. Allahu a’lam. Sumber: konsultasisyariah.com Tags: yang terkait dengan hukum nikah siri, hukum nikah siri tanpa wali, syarat nikah siri,hukum nikah siri dengan wali hakim, dasar hukum nikah siri, hukum nikah siri dalam islam, makalah hukum nikah siri, hukum nikah siri menurut Negara, hukum nikah siri dalam pandangan islam. F. Nikah Siri dalam Prespektif Hukum Islam.
(54) Pernikahan dalam hukum islam biasanya dikenal dengan istilah “Fiqh Pernikahan”. Kedudukan dan keabsahan nikah siri dalam prespektif hukum islam, tidak lepas dari pembahasan mengenai syarat dan rukun suatu pernikahan dalam islam. Syarat merupakan segala sesuatu yang kepadanya menyangkut sah / tidaknya sesuatu hal yang lain, tapi bukan merupakan bagian dari perbuatan itu. Adapun syarat-syarat yang harus terpenuhi agar suatu perkawinan dikatakan sah sebagai berikut :. 1.. Syarat umum, terikat larangan perkawinan : . Tidak diperkenankan / larangan perkawinan berbeda agama (Q.S. Al Baqarah (2) : 21 ). . Larangan perkawinan karena hubungan darah, semenda dan saudara susunan (Q.S. an-Nisa (4) : 22, 23, 24). 2.. Syarat khusus meliputi . Ada calon mempelai dimana adanya mempelai laki-laki dan wanita dan keridhaan dari masing-masing calon mempelai. . Adanya wali pernikahan. Salah satu rukun pernikahan yang menjadi titik perdebatan tentang nikah siri adalah masalah perwalian pentingnya posisi wali tidak bisa ditawar-tawar lagi hadits Nabi menyebut “Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw besabda. ” Siapapun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil (HR. Empat Imam Hadits, kecuali An-Nasai).“ Tidak sah sebuah pernikahan kecuali.
(55) dengan wali (HR. Ahmad dan Imam Empat) dan pada hadits yang berbunyi “Tidak sah pernikahan tanpa wali dan dua saksi yang adil)” (HR. Ahmad). Namun ada pula beberapa ulama yang cenderung membedakan mempelai perempuan tanpa menggunakan wali.. “ Janganlah kamu (hai para wali) mengahalangi mereka (wanita yang telah bercerai) untuk kawin (lagi) dengan bakal suaminya, jika terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf “ (Al-Baqarah : 232).. Ulama-ulama seperti Abu Hanifah, Zutar, dan Az-Zuhri cenderung berpendapat bahwa apabila seorang perempuan menikah tanpa wali maka nikahnya selama pasangan yang dikawininya sekufu (setara) dengannya. “Al Quran menyatakan bahwa” Apabila telah habis masa iddahnya (wanita-wanita yang suaminya meninggal), maka tiada dosa bagi kamu (hai para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut (AlBaqarah : 234).. Dewasa ini sejumlah kasus lain, nikah siri dilakukan melalu wali hakim. Wali hakim diperbolehkan asalkan wali nasabnya tidak ada / tidak memenuhi syarat. Dalam nikah siri yang dicatatkan tentu wali hakim biasanya para ulama, kyai atau tokoh masyarakat. . Saksi pernikahan. Mengkaji persoalan hukum nikah siri di samping perlu menilik syarat adanya wali juga perlu menilik syarat adanya dua orang saksi karena kedua syarat.
(56) tersebut adalah bagian dari rukun yang menentukan sah / tidaknya. Disini kita perlu menegaskan kembali bahwa nikah siri, disamping harus ada wali juga diharuskan ada dua orang saksi laki-laki yang adil. Jadi boleh tidaknya nikah siri perlu mengukur rukun yang satu ini. Untuk menilik hukum nikah siri ini sebenarnya disamping memperhatikan rukun pernikahan seperti wali dan saksi dan pengumuman (berita) pernikahan kepada khalayak umum. . Ada mahar atau sadaq sebagai bentuk kewajiban yang harus dibayar calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Q.S An-Nissa (4) : 4, 25. . Ada ijab kabul sebagai suatu bentuk penegasan kehendak untuk mengingatkan diri satu sama lain. Dalam beberapa definisi nikah siri yang telah dijelaskan pada bagian pertama, kesemuanya tidak menunjukkan suatu indikasi melanggar syarat suatu perkawinan dan memenuhi rukunnya. Pada definisi pertama dikatakan bahwa nikah siri merupakan pernikahan tanpa wali nisab. Pada prinsipnya sepenjang pernikahan tersebut tetap dihadiri wali lainnya dan tidak menyalahi ketentuan atau memenuhi syarat sebagaimana yang telah disebutkan diatas, maka pernikahan tersebut adalah sah menurut islam. Hanya saja pernikahan siri yang mengandung unsur kerahasiaan tersebut bertentangan dengan perintah Nabi Saw., yang menganjurkan agar perkawinan itu terbuka dan diumumkan kepada orang lain agar tidak menjadi fitnah-tuduhan buruk dari masyarakat. Bukankah salah satu perbedaan perzinaan dengan perkawinan dalam hal diumumkan dan terang-.
(57) terangannya. Orang berzina tentu takut diketahui orang karena perbuatan keji, sedang perkawinan ingin diketahui orang karena perbuatan mulia.. Sedangkan terkait kedudukan nikah siri dalam perspektif hukum islam, pernikahan dalam islam memiliki kedudukan yang mulia, karena tujuannya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala dengan memperbanyak keturunan, menjaga kehormatan, dan sebagai sarana untuk menyempurnakan agama seseorang. Oleh karena itu islam mengatur dengan sebaik-baiknya masalah pernikahan dalam syariatnya, sehingga dapat menghantarkan kepada tujuan yang sesungguhnya. Pernikahan yang sah secara hukum islam adalah yang telah sempurna rukunrukunnya dan terpenuhi syarat-syaratnya.. G.. Nikah Siri dalam Pandangan Hukum Positif Indonesia. Secara umum, dalam perspektif hukum islam, nikah siri cenderung diperbolehkan asalkan memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Sebaliknya dalam hukum positif nasional, nikah siri telah ditegaskan sebagai pernikahan yang ilegal. Bahkan dalam perundang-undangan nasional tentang pernikahan, baik dalam UU perkawinan maupun dalam KHI, tidak ada satu katapun yang menyebut nikah siri. Yang dibahas adalah pernikahan secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa nikah siri tidak dianggap dalam hukum pernikahan nasional.. a.. Undang-undang Perkawinan.
(58) Menurut UU Perkawinan, pernikahan yang sah adalah pernikahan yang dicatatkan. Pasal 2 ayat 2 menyatakan bahwa “tiap-tiap pernikahan dicatat menurut peraturan-peraturan yang berlaku” UU Perkawinan pasal 2 ayat 1 menegaskan “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaan itu”. Pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan menegaskan bahwa “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku artinya pernikahan yang tidak dicatatkan adalah tidak sah.”. b.. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Bab tentang perkawinan diatur dalam buku satu tentang orang bab empat, mulai pasal 26 hingga 102. Secara umum, peraturan tentang perkawinan dalam kuhper memiliki kesamaan pandangan dengan UU Perkawinan.. Setiap orang yang akan menikah diwajibkan untuk memberitahukan kehendaknya kepada pencatat sipil, sebagaimana diatur dalam pasal 50. “Semua orang yang hendak kawin harus memberitahukan kehendak itu kepada pegawai pencatat sipil tempat tinggal salah satu dari kedua pihak.” Kegiatan pencatatan pernikahan adalah sebagai bukti bahwa pernikahan tersebut sah secara hukum nasional dan akan mendapatkan akta nikah. Akta nikah berfungsi memperkarakan permasalahan rumah tangga pasangan suami istri di pengadilan agama.. Nikah siri yang dicatatkan tentu tidak bisa diperkarakan persoalan rumah tangga pasangan pengantin secara hukum di pengadilan agama..
(59) c.. Kompilasi Hukum Islam. Status Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam tata hukum positif nasional telah diakui dan diterapkan dalam sejumlah putusan hukum peradilan agama. KHI dapat dipergunakan sebagai pegangan / pedoman dalam membahas pernikahan dalam sudut pandang hukum positif nasional.. KHI menyebut bahwa pentingnya pencatatan adalah untuk menjamin ketertiban pernikahan yaitu dalam pasal 5 ayat 1 “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat islam setiap perkawinan harus dicatat”.Pada prinsipnya KHI mengharamkan pernikahan siri. Meskipun istilah nikah siri disebut sama sekali dalam KHI berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diatur didalamnya maka dengan jelas sekali menunjuk ketidakbolehan nikah siri.. 6.. Contextual Teaching and Learning Kontekstual merupakan istilah yang dimotori oleh Amerika Serikat,. pertama-tama diusulkan oleh John Dewey pada tahun 1916. Dewey mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa.Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan. penerapannya. Riyanto,2010:159 ). dalam. kehidupan. mereka. sehari-hari.(Yatim.
(60) Nurhadi (2002:9) mengemukakan bahwa Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksi atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Dalam pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting yaitu mengaitkan (relating), mengalami (eksperencing), menerapkan (applying), kerjasama (cooperating) dan menstransfer (transfering), antara lain: a). Mengaitkan adalah startegi yang paling hebat dan merupakan inti kontrutivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika ia mengaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi siswa.. b). Mengalami merupakan inti belajar konteks dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.. c). Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistic dan relevan..
(61) d). Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang kompleks dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan saja tetapi konsisten dengan dunia nyata.. e). Mentransfer. Peran guru memberi bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan harapan. Tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas yaitu:. a.. Constructivisme (Kontruktivisme) Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL,. yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyongkoyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui ketertiban aktif dalam proses belajar mengajar. b.. Inquiry (Menemukan) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran pengetahuan. dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat tetapi hasil dari menemukan. Kata kunci dan strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri..
(62) Siklus Inquiry terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan. dugaan. (hyphotesis),. pengumpulan. data. (datagathering),. penyimpulan (conclussion) Siklus inquiry langkah-langkahnya sebagai berikut: 1). Merumuskan masalah;. 2). Mengumpulkan data melalui observasi;. 3). Menganalisis dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan bagan, tabel, dan karya ilmiah;. 4). Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembelajaran, teman sekelas atau audiens yang lain.. c.. Question (Bertanya) Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis konstektual.. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: 1). Menggali informasi, baik administrasi maupun akademik. 2). Mengecek pemahaman siswa. 3). Membangkitkan respon kepada siswa. 4). Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa. 5). Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa. 6). Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru. 7). Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa. d.. Learning Community (Masyarakat Belajar).
(63) Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperolah dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat yang terlibat dalam masyarakat belajar akan memberikan informasi yang diperlukan oleh teman belajarnya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Oleh karena itu, dalam kelas kontekstual guru disarankan selalu melakukan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Metode pembelajaran dengan teknik masyarakat belajar sangat membantu proses pembelajaran di kelas, prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan masyarakat. e.. Modeling (Pemodelan) Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada. model yang biasa ditiru. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, misalnya seorang siswa bisa ditunjuk memberikan contoh temannya. Dalam pendekatan kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat memberikan contoh kepada temannya. f.. Reflection (Refleksi) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir. kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Refleksi merupakan proses terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima..
Dokumen terkait
KEPERCAYAAN DIRI DAN KERJA KERAS SISWA DALAM MENGERJAKAN SOAL MATEMATIKA POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS MELALUI PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (PTK kelas
Pengaruh Penggunaan Metode E-Learning Berbasis MOODLE dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Kimia Materi Pokok Larutan Elektrolit dan
Rahmayani.2007.Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning) dalam meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Ekonomi Pokok Bahasan
Rahmayani.2007.Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning) dalam meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Ekonomi Pokok Bahasan
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) yang disertai Lembar
Dalam skripsi ini penulis mengambil judul Peningkatan Hasil Belajar Biologi Pokok Materi Saling Ketergantungan Melalui Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching and
PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI.. POKOK MAKHLUK HIDUP DAN LINGKUNGANNYA DI KELAS IV SD SWASTA
Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil penelitian mengenai peningkatan hasil belajar sosiologi pada pokok bahasan kelompok sosial melalui metode pembelajaran