Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dr. Alwi Mujahit Hasibuan, M.Kes
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
(SATKER DEKONSENTRASI 05)
DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA UTARA
2020
rahmat-Nya, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dapat disusun dengan baik. LAKIP Program Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara disusun untuk memenuhi Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan LAKIP ini berpedoman kepada Peraturan Menteri PAN/RB no 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Tujuan dari penyusunan LAKIP adalah melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan dan program kerja yang diselenggarakan sebagai wujud pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi serta kewenangan dan kebijakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu laporan ini disusun dalam rangka menyampaikan hasil evaluasi dan analisis realisasi kinerja kegiatan dari pelaksanaan kebijakan dan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara serta hambatan dan permasalahan yang dihadapi dalam Tahun Anggaran 2020
Penyusunan LAKIP ini diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas publik dan meningkatkan kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
Medan, 26 Februari 2021
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
dr. Alwi Mujahit Hasibuan, M.Kes NIP. 19651119 199003 1 001
kinerja dan realisasi anggaran yang diperjanjikan antara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengencalian Penyakit. Dari 7 Indikator Kinerja yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020 yang dijanjikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan Direktur Jenderal P2P, terdapat 2 indikator kinerja kegiatan yang mencapai atau melebihi target dan 5 indikator tidak mencapai target yaitu:
1. Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV, tercapai 47%
dari target 77%, dengan capaian kinerja 61,03%
2. Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC, tercapai 35,2% dari target 65%
sehingga capaian kinerja 54,15%
3. Persentase anak usia 0 sampai 11 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap tercapai 75,5% dari target 92,9%, dengan capaian kinerja 75,34%.
4. Persentase kasus kusta baru tanpa cacat tercapai 62% dari target 87%, dengan capaian kinerja 71,26%.
5. Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar tercapai 100% dari target 95% sehingga capaian kinerja 105,26%
6. Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker dari target 15 Kab/Kota tercapai 5 Kab/Kota dengan capaian 33,33%
7. Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan tercapai 56,7% dari target 10%
sehingga capaian kinerja 567%
8. Nilai kinerja pengangggaran tercapai 85% dari target >80% sehingga capaian kinerja sebesar 106,25%
9. Rata rata kinerja capaian indikator Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara adalah 95,6%
10. Untuk kinerja keuangan pada tahun 2020, data per 1 Februari 2021 berdasarkan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN), realisasi anggaran semua jenis belanja mencapai 96% atau sebesar Rp 2.129.409.330 dari total pagu sebesar Rp 2.228.315.000.
KATA PENGANTAR ... ii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Visi dan Misi ... 3
1.3 Tugas Pokok dan Fungsi ...4
1.4 Sumber Daya Manusia ... 7
1.5 Sistematika Penulisan ... 8
BAB 2 PERENCANAAN KINERJA ... 10
2.1 Perencanaan Kinerja ... 10
2.2 Perjanjian Kinerja ... 15
BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA ... 17
3.1 Capaian kinerja ... 17
3.2 Realisasi Anggaran ... 35
BAB 4 PENUTUP ... 3736
4.1 Kesimpulan ... 3736
4.2 Tindak Lanjut ... 3837
Tabel 2.1. Cascading Indikator RAP. RAK dan Dana Dekonsentrasi Tahun 2020 ... 11 Tabel 2.2. Perjanjian Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020 . 15 Tabel 3.1. Realisasi Anggaran Dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020 ... 35
Gambar 1.1. Struktur Ogranisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara ... 6 Gambar 1.2. Struktur Organisasi Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara ... 7 Gambar 1.3. Grafik Distribusi Pegawai Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Jabatan Fungsional ... 8 Gambar 3.1. Grafik Persentase Kasus HIV yang Diobati di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ... 16 Gambar 3.2. Grafik Persentase Kasus TB yang Ditatalaksana Sesuai Standar di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ... 19 Gambar 3.3. Grafik Persentase Anak Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ... 22 Gambar 3.4. Grafik Persentase Cakupan Penemuan Kasus Baru Kusta Tanpa Cacat di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ……...…. 24 Gambar 3.5. Grafik Persentase Kasus Malaria Positif yang Diobati Sesuai Standar di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ...……. 25 Gambar 3.6. Grafik Persentase puskesmas dan Kab./Kota yang melaksanakan kegiatan deteksi dini kanker di Prov. Sumatera Utara tahun 2016-2020 ... 28 Gambar 3.7. Grafik Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2016-2020 ... 30 Gambar 3.8. Grafik Nilai Kinerja Penganggaran Pada Satker Dekonsentrasi Prov.
Sumatera Utara Tahun 2016-2020 ... 33
Lampiran 1. Perjanjian Kinerja TA 2020
Lampiran 2. SK Pembentukan Tim Penyusun Lakip Tahun 2020 Lampiran 3. Surat Penyusunan Data Pendukung Lakip Tahun 2020 Lampiran 4. SOP Pengukuran Kinerja Tahun 2020
Lampiran 5 Data Pendukung Lakip 2020
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Dana Dekonsentrasi 05) Tahun 2020
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program dan sektor, serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan oleh periode sebelumnya.
Periode tahun 2020-2024 merupakan tahapan terakhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, sehingga merupakan periode pembangunan jangka menengah yang sangat penting dan strategis. RPJMN 2020-2024 akan memengaruhi pencapaian target pembangunan dalam RPJPN, dimana pendapatan perkapita Indonesia akan mencapai tingkat kesejahteraan setara dengan negara-negara berpenghasilan menengah atas (Upper-Middle Income Country) yang memiliki kondisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik, serta kesejahteraan rakyat yang lebih baik. Sesuai dengan RPJPN 2005-2025, sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai bidang yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.
Isu-isu strategis yang dilaksanakan dalam bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2020, antara lain pengendalian penyakit menular, khususnya tuberculosis, HIV/AIDS, dan malaria, serta
pengendalian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) khususnya difteria, pertussis; pengendalian penyakit yang menyebabkan kedarutan kesehatan masyarakat (PIE) khususnya penyakit akibat Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), dan penyakit- penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical diseases).
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menerima dana dekonsentrasi salah satunya dekonsentrasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan sejak tahun 2017 telah dilakukan Penandatangan Perjanjian Kinerja (PK) antara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan Direktur Jenderal P2P terhadap indikator dan target kinerja atas pemanfaatan dana dekonsentrasi. Dalam perjanjian disampaikan bahwa Ditjen P2P akan memberikan supervisi yang diperlukan serta akan melakukan evaluasi terhadap capaian kinerja dari perjanjian ini dan mengambil tindakan yang diperlukan dalam rangka pemberian penghargaan dan sanksi.
Laporan kinerja ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban Dinas Kesehatan provinsi Sumatera Utara atas pelaksanaan tugas dan fungsi selama Tahun 2020 dengan menggunakan anggaran Dekonsentrasi. Laporan kinerja ini merupakan pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 28 menyatakan bahwa Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi kepada gubernur dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Selain itu Peraturan Menteri PAN/RB No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah yang mengamanatkan bahwa Pimpinan Satuan Kerja menyusun dan menyampaikan Laporan Kinerja kepada Pimpinan Unit Kerja. Pimpinan unit kerja menyusun laporan kinerja tahunan tingkat unit kerja berdasarkan perjanjian kinerja yang disepakatidan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga.
1.2 Visi dan Misi
Visi dan Misi Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024 mengikuti Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong”. Upaya untuk mewujudkan visi ini dilaksanakan melalui 9 misi pembangunan yaitu:
1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia;
2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.
3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan 4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.
5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.
6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan tepercaya.
7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.
8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan tepercaya.
9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.
10. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Peran Ditjen P2P dalam mendukung pencapaian indikator Kementerian Kesehatan yakni menyelenggarakan pencegahan dan pengendalian peyakit secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam mendukung pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya melalui kegiatan surveilans dan karantina kesehatan, pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung, pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonotik, pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular, pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program P2P.
Visi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara adalah “Terwujudnya Provinsi Sumatera Utara yang Sehat. Mandiri dan Berdaya Saing.”
Yang dimaksud dengan:
1. Sehat adalah suatu kondisi dimana penduduk Sumatera Utara sehat baik fisik, mental dan spritual sehingga mampu untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
2. Mandiri yaitu suatu kondisi dimana masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk untuk mempertahankan kualitas kesehatannya.
3. Berdaya saing (competitiveness) yaitu suatu kondisi dimana penduduk Sumatera Utara memiliki kemampuan, serta keunggulan sehingga mampu melangsungkan kehidupan dalam persaingan masyarakat.
Dalam rangka mewujudkan Visi tersebut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menetapkan 2 (dua) Misi yang dilaksanakan secara konsisten. yaitu:
1. Meningkatkan ketersediaan pelayanan kesehatan bermutu. merata dan terjangkau.
2. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan.
1.3 Tugas Pokok dan Fungsi
1. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mempunyai tugas membantu Gubernur Sumatera Utara melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan yang menjadi kewenangan provinsi/daerah dan tugas pembantuan. yang ditugaskan kepada daerah provinsi dalam lingkup kebijakan teknis. koordinasi.
advokasi. pembinaan. monitoring. evaluasi. pengendalian. sinkronisasi dan sinergitas dibidang Kesehatan Masyarakat, bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, bidang Pelayanan Kesehatan, bidang Sumber Daya Kesehatan dan tugas pembantuan.
Untuk melaksanakan tugas Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi:
- Perumusan kebijakan teknis, koordinasi, advokasi, pembinaan, monitoring, evaluasi, pengendalian, sinkronisasi dan sinergitas dibidang Kesehatan Masyarakat, bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, bidang Pelayanan Kesehatan, bidang Sumber Daya Kesehatan dan tugas pembantuan tingkat provinsi;
- Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan masyarakat. bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, bidang pelayanan kesehatan, serta bidang sumber daya kesehatan tingkat provinsi;
- Pelaksanaan administrasi dinas sesuai dengan lingkup tugasnya;
- Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan;
- Pelaksanaan tugas pembantuan di bidang kesehatan;
- Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya;
Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Bidang P2P menyelenggarakan fungsi :
1) Penyelenggaraan pembinaan pegawai pada lingkup Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit;
2) Penyelenggaraan arahan dan bimbingan kepada pejabat struktural pada lingkup Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit;
3) Penyelenggaran inventarisasi, pembinaan, pengendalian, pengawasan, penyempurnaan dan penerapan/pelaksanaan pedoman, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis, tata laksana,Standard Operating Procedure (SOP), kebijakan, regulasi, perda/ranperda, norma, kriteria ataupun ketentuan lainnya dalam penanganan urusan bidangnya;
4) Penyelenggaraan penyusanan. penyempurnaan dan pengendalian penerapan/pelakasanaan dokumen teknis rincian tugas pokok dan fungsi jabatan struktural dan staf, standar teknis tata hubungan kerja organisasi dan indikator kinerja bidangnya;
5) Penyelenggaraan analisis, pemetaan, penelitian, kajian-kajian dan studi ilmiah manajemen pembangunaan dan kebijakan kesehatan terkait urusan bidangnya dan pengintegrasian sistem teknologi informasi dan penangganan urusan bidangnya;
6) Penyelenggaran pembinaan, koordinasi, pengawasan, evaluasi, dan fasilitasi peningkatan kapasitas, kompetensi dan kemandirian kabupaten/kota dalam penangan urusan bidangnya;
7) Penyelenggaran penyusunan perencanaan jangka menegah dan rencana tahunan, dan koordinasi penyusunan program, anggaran, penyediaan data, informasi dan mensinkronisasikan perencanaan kabupaten/kota terhadap perencanaan tingkat provinsi dan penanganan urusan bidangnya;
8) Penyelenggaran pembinaan pegawai pada lingkup bidangnya dan penyelenggaran arahan dan bimbingan pada pejabat stuktural di bidangnya;
9) Penyelenggaran tugas lain yang diberikan Kepala Dinas sesuai dengan bidang tugas dan pungsinya serta pemberian masukan yang perlu kepada Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya;
10) Penyelenggaran pelaporan pertanggungjawaban dan pelaporan atas pelaksanaan tugas dari fungsinya kepada Kepala Dinas sesuai dengan ketentuan yang ditetepkan;
11) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mempunyai uraian tugas;
12) Melaksanakan pengendalian. pencegahan dan penanggulangan penyakit menular langsung. bersumber binatang dan penyakit tidak menular;
13) Melaksanakan upaya pencegahan dan penggulangan penyakit menular yang menimbulkan epidemi;
14) Melaksanakan imunisasi dan pencapaian UCI (Universal Child Immunization);
15) Melaksanakan promosi kesehatan masyarakat dengan penggunaan metode.
sarana dan teknologi promosi kesehatan;
16) Melaksanakan upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan serta peningkatan upaya fasilitas dan pendampingan masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat;
17) Melaksanakan survelians epidemiologi dan penyelidikan kejadian luar biasa;
18) Melaksanakan pengendalian wabah dan rencana yang meliputi kesiap-siagaan.
mitigasi dan kesiap-siagaan, tanggap darurat dan pemulihan;
19) Melaksanakan pengendalian operasional penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan wabah;
20) Melaksanakan upaya kesehatan matra dan kesetan haji;
21) Melaksanakan pencegahan dan penanggulangan pencemaran. penyehatan air.
pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi makanaan dan bahan pangan serta pengamanan limbah;
22) Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.
2. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
Gambar 1.1. Struktur Ogranisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
3. Struktur Organisasi Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
Gambar 1.2. Struktur Organisasi Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
1.4 Sumber Daya Manusia
Pada tahun 2020, jumlah pegawai di Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara sebanyak 83pegawai dengan distribusi pegawai di Seksi Surveilans dan Imunisasi sebanyak 22pegawai, Seksi Pengendalian Penyakit Menular 43pegawai, dan Seksi Penyakit Tidak Menular dan Keswa sebanyak 18pegawai.
Kepala Bidang P2P Teguh Supriyadi, SKM, MPH
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular
SUHADI, SKM, M.Kes dr. YULIA MARYANI, M.Kes SYOFWIN HAMDANI DAULAY, SKM
Penjab Program Imunisasi Penjab Program Rabies Penjab Program Narkotika dan Zat Adiktif
Hetty Sulistiowaty, SKM Afriani, SKM Flora Kaban, SKM
Penjab Program Surveilanas Penjab Program Malaria Penjab Program Kesehatan Jiwa
dr. Bangun Lumban Gaol Ani Erawati, B Jubilate Winrina Purba, S.Kep, Ners
Penjab Program Kesehatan Haji Penjab Program DBD Penjab Program Gangguan Indera Fungsional
drg. Andy Kusmawan Veralina Sembiring, SKM dr. Martina M. Silalahi
Penjab Program Filariasi Penjab Program Hipertensi
Junita Pandia, SKM dr. Dewi Silvia Peronica Ginting S
Penjab Program Vektor Penjab Program Diabetes Militus
Saemah, SKM dr. Ronika Sihaloho
Penjab Program HIV/AIDS Penjab Program Penyakit Paru Obstruktif Kronis
dr. Yanda Ardanta, M.Kes Hj. Nurhayati Solin, SKM
Penjab Program TB Penjab Program Kanker
dr. Hendry Iskandar Pane, M.Kes dr. Syahriani Panjaitan
Penjab Program Kusta Akhmad Rivai, SKM
Penjab Program ISPA/Pneumonia Sufiah Sholin, SKM
Penjab Program Hepatitis/Diare/ISP dr. Fakhriani
Penjab Program Kecacingan dr. Windy Maidesi, M.Kes
a. Grafik Distribusi Pegawai berdasarkan jabatan fungsional.
Gambar 1.3. Grafik Distribusi Pegawai Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Jabatan Fungsional
Distribusi pegawai berdasarkan jabatan fungsional yang tertinggi adalah fungsional umum yaitu 68 orang (82%), dan terendah adalah fungsional Entomolog Kesehatan yaitu 1 orang (1%)
1.5 Sistematika Penulisan 1. Bab I Pendahuluan
Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issue) yang sedang dihadapi organisasi.
2. Bab II Perencanaan Kinerja
Bab ini menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2020.
68 orang, 82%
10 orang, 12%
2 orang, 3% 2 orang, 2% 1 orang, 1%
Grafik Distribusi Pegawai Bidang P2P Dinkes Prov.
Sumatera Utara Berdasarkan Jabatan Fungsional
Umum Epid Adminkes Sanitarian Promkes
3. Bab III Akuntabilitas Kinerja a. Capaian Kinerja Organisasi
Sub bab ini menyajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi.
b. Realisasi Anggaran
Sub bab ini menguraikan tentang realisasi anggaran yang digunakan dan telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja
4. Bab IV Penutup
Bab ini menguraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Dana Dekonsentrasi 05)
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
2.1. Perencanaan Kinerja
Perencanaan kinerja merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu satu sampai dengan lima tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. Perencanaan kinerja Dinas Kesehatan Provinsi mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024, Rencana Aksi Program Direktorat Jenderal P2P dan RKPD Dinas Kesehatan Provinsi.
Sasaran Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2020-2024 adalah menurunnya penyakit menular, penyakit tidak menular serta meningkatnya kesehatan jiwa. Indikator pencapaian sasaran tersebut adalah:
1. Persentase Orang dengan HIV-AIDS yang menjalani Terapi ARV (ODHA on ART) sebesar 60% pada akhir tahun 2024;
2. Persentase angka keberhasilan pengobatan TBC (TBC succes rate) sebesar 90%
pada akhir tahun 2024;
3. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai eliminasi malaria sebanyak 405 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
4. Jumlah kabupaten/kota dengan eliminasi kusta sebanyak 514 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
5. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi sebanyak 190 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
6. Jumlah kabupaten/kota yang melakukan pencegahanperokok usia < 18 tahun sebanyak 350 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
7. Jumlah kabupaten/kota yang melakukan pencegahan dan pengendalian PTM sebanyak 514 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
8. Persentase kabupaten/kota yang mencapai 80% imunisasi dasar lengkap anak usia 0-11 bulan sebesar 95% pada akhir tahun 2024;
9. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dan penyalahgunaan napza sebanyak 514 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
10. Persentase kabupaten/kota yang mempunyai kapasitas dalam pencegahan dan pengendalian KKM sebesar 86% pada akhir tahun 2024;
11. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai eliminasi penyakit infeksi tropis terabaikan sebanyak 472 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024;
12. Persentase faktor resiko penyakit di pintu masuk yang dikendalikan sebesar 100%
pada akhir tahun 2024;
13. Persentase rekomendasi hasil surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan sebesar 100% pada akhir tahun 2024.
Rencana Aksi Program tersebut selanjutnya diturunkan dalam indikator untuk Direktorat dan Dinas Kesehatan Provinsi dengan penjabaran sebagai berikut. Indikator kinerja Dinas Kesehatan Provinsi yakni:
1. Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ART 2. Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC
3. Persentase anak 0-11 bulan yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap 4. Persentase kasus kusta baru tanpa cacat
5. Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar 6. Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker 7. Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan
8. Nilai kinerja penganggaran
Secara lengkap cascading indikator Program Pencegahan dan Pengendalian adalah sebagai berikut :
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Dana Dekonsentrasi 05) Tabel 2.1
Cascading Indikator RAP, RAK dan Dana Dekonsentrasi Tahun 2020
Indikator Kinerja Program P2P Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat/Setditjen P2P
Indikator Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Provinsi 1. Persentase Orang Dengan HIV-
AIDS yang menjalani Terapi ARV (ODHA on ART)
1. Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ART
1. Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ART
2. Persentase angka keberhasilan pengobatan TBC (TBC succes rate)
2. Cakupan pengemuan dan pengobatan TBC (TBC treatment coverage)
2. Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC
3. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai eliminasi malaria
3. Jumlah Kab/Kota yang mencapai API<1/1.000 penduduk
3. Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar
4. Jumlah kabupaten/kota dengan eliminasi kusta
4. Proporsi kasus kusta baru tanpa cacat 4. Persentase kasus kusta baru tanpa cacat 5. Jumlah kabupaten/kota endemis
filariasis yang mencapai eliminasi
5. Jumlah Kab/Kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria
<1%
-
6. Jumlah kabupaten/kota yang melakukan pencegahan perokok usia < 18 tahun
6. Jumlah Kab/Kota yang menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
7. Jumlah Kab/Kota yang menyelenggarakan Layanan Upaya Berhenti merokok (UBM)
-
7. Jumlah kabupaten/kota yang melakukan pencegahan dan pengendalian PTM
8. Jumlah Kab/Kota yang melakukan deteksi dini faktor risiko PTM ≥80% populasi usia ≥ 15 tahun
5. Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker
Indikator Kinerja Program P2P Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat/Setditjen P2P
Indikator Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Provinsi 9. Jumlah Kab/Kota yang melakukan deteksi
dini penyakit kanker di ≥80% populasi usia 30-50 tahun
10. Jumlah Kab/Kota yang melaksanakan deteksi dini gangguan indera pada ≥ 40%
populasi 8. Persentase kabupaten/kota yang
mencapai 80% imunisasi dasar lengkap anak usia 0-11 bulan
11. Persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap 12. Persentase anak usai bulan yang
mendapat imunisasi lanjutan campak rubella
13. Persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap di Papua dan Papua Barat
6. Persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
9. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dan penyalahgunaan napza
7. Persentase ODGJ berat yang mendapatkan layanan
8. Penyalahguna Napza yang mendapatkan pelayanan rehabilitasi medis
9. Presentase penderita Depresi pada penduduk ≥ 15 tahun yang mendapat layanan
10. Presentase penderita Gangguan Mental Emosional pada penduduk ≥ 15 tahun yang mendapat layanan
7. Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan
10. Persentase kabupaten/kota yang mempunyai kapasitas dalam
8. Persentase Kab/Kota yang memiliki Pelabuhan/Bandar Udara/PLBDN yang
-
Indikator Kinerja Program P2P Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat/Setditjen P2P
Indikator Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Provinsi pencegahan dan pengendalian
KKM
mempunyai kapasitas sesuai standar dalam pencegaham dan pengendalian kedaruratan kesehatan masyarakat
11. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai eliminasi penyakit infeksi tropis terabaikan
9. Jumlah Kab/kota dengan eradikasi frambusia
-
12. Persentase faktor resiko penyakit di pintu masuk yang
dikendalikan
10. Persentase faktor resiko penyakit di pintu masuk yang dikendalikan
-
13. Persentase rekomendasi hasil surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan
11. Persentase rekomendasi hasil surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan
-
2.2 Perjanjian Kinerja
Perjanjian Kinerja merupakan wujud nyata komitmen antara penerima dan pemberi amanah untuk meningkatkan integritas, akuntabilitas, transparansi, dan kinerja Aparatur. Perjanjian Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan Ditjen P2P telah ditandatangani dan didokumentasikan sebagai berikut :
Tabel 1.2. Perjanjian Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
NO Sasaran NO Indikator Kinerja TARGET
1
Menurunnya penyakit menular, penyakit tidak menular, serta
meningkatnya kesehatan jiwa
1. Persentase ODHA baru ditemukan yang
memulai pengobatan ARV 77%
2. Persentase cakupan penemuan dan
pengobatan TBC 65%
3. Persentase anak 0-11 tahun yang
mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap 92,9%
4. Persentase kasus kusta baru tanpa cacat 87%
5. Persentase kasus malaria positif yang
diobati sesuai standar 95%
6. Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker
15 kab/kota 7. Persentase ODGJ yang mendapatkan
pelayanan 10%
2 Terkelolanya anggaran pencegahan dan pengendalian penyakit yang efisien dan akuntabel
8. Nilai kinerja penganggaran >80%
No Kegiatan Anggaran
1. Surveilans dan Karantina Kesehatan Rp. 1.057.439.000
2. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik
Rp. 1.310.000.000
3. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Rp. 1.601.500.000 4.
5.
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA
Rp.
Rp.
262.760.000 140.000.000 4. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis
Lainnya pada Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Rp. 444.000.000
TOTAL Rp. 4.815.699.000
Dana yang awalnya Rp. 4.815.699.000.- terjadi revisi menjadi Rp.2.228.315.000.-
BAB 3
AKUNTABILITAS KINERJA
3.1. Capaian kinerja
Pada bab ini disajikan disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja per setiap indikator :
1. Indikator: Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV
a. Definisi Operasional : Persentase ODHA yang baru ditemukan masuk dalam layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP), yang memulai terapi Anti Retro Virus.
b. Rumus/Cara perhitungan: Jumlah ODHA yang baru ditemukan masuk dalam layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP), yang memulai terapi Anti Retro Virus (ODHA yang inisiasi ART), dibagi dengan jumlah ODHA yang baru ditemukan masuk dalam layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP), dalam kurun waktu tertentu, dikali 100 persen.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.1. Grafik ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020
52 52 52 55
77
44.4 45.4 49.6
61.7
47 85.3846153887.31 95.38
112.18
61.04
0 20 40 60 80 100 120
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
Berdasarkan gambar 3.1 diketahui bahwa realisasi indikator persentase kasus HIV yang diobati dari tahun 2016-2018 belum mencapai target yang ditetapkan, walaupun demikian cakupan setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2019, cakupan persentase kasus HIV yang diobati telah melebihi target yang ditetapkan (112%). Pada tahun 2020 target indicator % ODHA baru ditemukan yang memulai ARV tidak tercapai dimana target sebesar 77% sedangkan capaian 47%.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
Untuk mencapai indikator, program HIV Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara telah melakukan beberapa upaya seperti :
- Meningkatkan layanan Konseling dan Tes HIV di Kab./Kota
- Melatih petugas kesehatan kab./kota dalam hal program Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) ODHA
- Memperbanyak jumlah Layanan PDP di Kab./Kota
- Melakulan pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM Layanan HIV di Kab/Kota seperti refresh konselor yang bertujuan meningkatkan kemampuan konseling petugas kesehatan agar kepatuhan minum
obat pada ODHA meningkat.
- Memantau ketersediaan obat ARV di Kab./Kota dan mendistribusikan obat ARV ke Kab./Kota
- Melakukan pertemuan validasi data agar tersedianya data yang akurat.
- Melakukan kegiatan mentoring layanan PDP ke kab./kota e. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan
Penyebab kegagalan dalam mencapai target indikator :
- Jumlah kunjungan ODHA yang berkurang karena pandemi COVID-19 - Terbatasnya layanan PDP melakukan pelayanan pengobatan ODHA
karena beberapa petugas ada yang terinfeksi Covid 19, bahkan ada beberapa layanan yang lockdown.
- Pencatatan yang kurang valid dan tidak lengkap karena ada beberapa layanan yang tidak mengirimkan laporan. Dan tahun ini juga Pertemuan Validasi Data diefisiensi karena pandemic Covid 19.
- Kurangnya komitmen ODHA untuk ARV.
- Keterbatasan Konselor yang terlatih dalam menginisiasi ODHA untuk minum ARV.
- Efisiensi anggaran HIV pada tahun 2020 disebabkan pandemic covid 19
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Masih tingginya angka Loss to Follow Up
- Petugas kesehatan yang sudah dilatih dipindah tugaskan
- Masih kurangnya dukungan dari pemerintah kab./kota terhadap program HIV-AIDS, bahkan masih ada beberapa kab./kota yang sama sekali tidak menyediakan anggaran untuk program HIV-AIDS
g. Pemecahan Masalah
- Meningkatkan kemampuan Konselor dalam hal konseling kepatuhan minum obat
- Melakukan On the job training - Melakukan advokasi ke kab/kota h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Bila dibandingkan capaian indikator kegiatan (61,04%) dengan capaian anggaran (98.74%) maka penggunaan sumber daya tidak efisien.
2. Indikator: Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC a. Definisi Operasional :
Persentase semua kasus TB baru dan kambuh (termasuk TB resistan obat) yang diobati dan dilaporkan diantara perkiraan insiden TB.
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah semua kasus TB baru dan kambuh (termasuk TB resistan obat) yang diobati dan dilaporkan dibagi perkiraan insiden TB dikali 100 persen.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.2. Grafik Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020
Berdasarkan gambar 3.2 diketahui bahwa realisasi persentase kasus TB yang ditatalaksana sesuai standar selama 4 tahun terakhir telah melampaui target yang ditetapkan, namun pada tahun 2020 target tidak tercapai karena adanya revisi anggaran.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indicator
- Adanya RAD Prov.Sumatera Utara tahun 2019 (Pergub Sumut No.22 tahun 2019)
- Menemukan pasien secara aktif terintegrasi PIS PK
- Meningkatkan penemuan TBC melalui penguatan kolaborasi layanan (HIV, DM, gizi, KIA dan PAL) dini TBC
- Koordinasi dengan organisasi profesi dan penyedia di tingkat kabupaten - Pertemuan koordinasi lintas program di tingkat kabupaten
- Supervisi dan monitoring berkala untuk notifikasi kasus TB di semua penyedia layanan kesehatan oleh Tim TB Provinsi dan Kabupaten/kota - Penggunaan TCM sebagai alat diagnosis TB
- Memperkuat jejaring internal dan eksternal di Fasyankes (DPPM) - Meningkatkan Keterlibatan Faskes Swasta untuk Penanggulangan TB (
penemuan sampai Pelaporan )
- Melakukan IK kepada semua kasus TB dengan menggunakan sumberdaya yang ada
75 77 79 79
65
100 97.9
83 81
35.2 133.33
127.14
105.06 102.53
54.15
0 20 40 60 80 100 120 140 160
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
- Meningkatkan promosi dan pengendalian faktor risiko (perilaku dan lingkungan)
- Melakukan pelatihan kepada dokter dan petugas TB ditingkat fasyankes - Melakukan sinkronisasi program dengan BPJS
e. Analisa penyebab kegagalan
- Ketakutan pasien datang ke fasyankes (kekhawatiran tertular covid 19) - Adanya refokusing dana dari dana dekon dan untuk dana APBD Provinsi
tahun 2020 semuanya diefisiensi. Dana APBD kabupaten/kota juga di refocusing
- Adanya pergantian petugas di fasyankes baik di pemerintah dan swasta - KIE kepada masyarakat kurang optimal
- Peran aktif multisektor belum maksimal
- Pencatatan dan pelaporan belum optimal (belum semua faskes belum menggunakan aplikasi SITB)
- Faskes swasta belum melaporkan kasus TB secara rutin - Peran aktif multisektor belum maksimal
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Angka penemuan kasus TB belum mencapai target dan belum merata diseluruh kabupaten/kota
- Ketakutan pasien datang ke fasyankes (kekhawatiran tertular covid 19) - Adanya pergantian petugas cukup tinggi
- Pencatatan dan pelaporan belum optimal
- Pelaksanaan kolaborasi TB HIV belum maksimal
- Belum semua kabupaten/kota mempunyai layanan TB RO - Ketergantungan pendanaan program TB dari dana donor - Peran aktif multisektor belum maksimal
- KIE kepada masyarakat kurang optimal g. Pemecahan Masalah
- Melakukan surveilans aktif secara aktif dan pasif kepada semua pihak yang terlibat
- Menemukan pasien secara aktif terintegrasi PIS PK
- Meningkatkan penemuan TBC melalui penguatan kolaborasi layanan (HIV, DM, gizi, KIA dan PAL) dini TBC
- Koordinasi dengan organisasi profesi dan penyedia di tingkat kabupaten - Memberikan informasi standar penetapan diagnosis Covid 19
- OJT kepada petugas menunggu adanya pelatihan dari provinsi - Pertemuan koordinasi lintas program di tingkat kabupaten
- Supervisi dan monitoring berkala untuk notifikasi kasus TB di semua penyedia layanan kesehatan oleh Tim TB Provinsi dan Kabupaten/kota.
- Penggunaan TCM sebagai alat diagnosis TB
- Memperkuat jejaring internal dan eksternal di Fasyankes (DPPM) - Meningkatkan Keterlibatan Faskes Swasta untuk Penanggulangan TB (
penemuan sampai Pelaporan )
- Melakukan IK kepada semua kasus TB dengan menggunakan sumberdaya yang ada
- Meningkatkan promosi dan pengendalian faktor risiko (perilaku dan lingkungan)
- Melakukan pelatihan kepada dokter dan petugas TB ditingkat fasyankes - Melakukan sinkronisasi program dengan BPJS
- Membuka layanan TB RO bagi kab/kota yang belum ada layanan TB RO - Advocacy dengan pemegang kebijakan
- Melakukan identifikasi dana potensial lain mis dana Csr h. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Dana Dekon Tahun 2020 : Rp. 308.500.000 Ada 3 kegiatan yang didanai yaitu :
1. Orientasi tatalaksana TBC di FKTP dan FKRTL : Rp. 138.015.000 2. Orientasi tatalaksana TB Ro : Rp. 137.845.000
3. Surveilans aktif TBC : Rp. 32.640.000
Ada 1 kegiatan yang diefisiensi yaitu orientasi tatalaksana TB RO : Rp.
137.845.000, yang 2 kegiatan lagi sudah terlaksana. Realisasi APBN Tahun 2020 : 99%. Bila dilihat dari dana keseluruhan APBN yang tersedia capaian realisasi 55%.
Kinerja indikator cakupan penemuan kasus TB (CDR) tahun 2020 : 35,2%
dicapai dengan anggaran layanan TB menggunakan dana dekon sebesar 55%, sehingga capaian indikator ini tidak efisien dengan efisiensi sebesar 45%, karena capaian kinerja lebih kecil dari realisasi anggaran.
3. Indikator : Persentase anak 0-11 tahun yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap a. Definisi Operasional :
Persentasi anak usia 0-11 bulan yang mendapat 1 dosis Hep B, 1 dosis BCG, 4 dosis polio tetes, 1 dosis IPV, 3 dosis DPT-HB-Hib serta 1 dosis campak/MR di suatu wilayah pada kurun waktu 1 tahun,
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah anak usia 0-11 bulan yang mendapat 1 dosis Hep B, 1 dosis BCG, 4 dosis polio tetes, 1 dosis IPV, 3 dosis DPT-HB-Hib serta 1 dosis campak/MR di suatu wilayah pada kurun waktu 1 tahun dibagi dengan jumlah seluruh bayi yang bertahan hidup di suatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikali 100 persen.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.3. Grafik Persentase anak 0-11 tahun yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016-2020
Cakupan imunisasi di Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2016 – 2020 fluktuatif, hal ini karena pada periode 2016 – 2020 selain kegiatan imunisasi rutin juga dilaksanakan Pergantian vaksin tOPV menjadi bOPV, introduksi vaksin IPV dan palaksanaan kampanye dan introduksi vaksin Campak Rubella (MR). Disamping padatnya kegiatan imunisasi tambahan, ketersediaan vaksin terutama vaksin baru juga mengalami keterlambatan/keterbatasan jumlah (IPV) dan penolakan dari sebagian masyarakat (Campak Rubella).
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indicator
- Mengupayakan pelaksanaan imunisasi rutin lengkap pada anak usia 0 – 11 bulan di Posyandu, Puskesmas dan faskes yang lain sesuai jadwal setiap bulan.
- Melaksanakan imunisasi rutin selama pandemi sesuai petunjuk teknis pelaksanaan imunisasi pada masa pandemi Covid 19.
- Melakukan pelacakan anak yang belum lengkap imunisasinya.
- Supervisi supportive dan bimbingan teknis imunisasi untuk Kab/Kota baik dengan mekanisme offline/virtual maupun kunjungan ke Kab/Kota.
91.5 92.0 92.5 93.0 92.9
79.4 82.5
84.0 86.2
75.5
86.8 89.7 90.8 92.7
81.3
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
- Monitoring Kualitas Data Imunisasi dan Efektivitas Pengelolaan Vaksin di 28 Kab/Kota.
- Pelaksanaan Data Quality Self Assessment (Penilaian Kualitas Data) di 11 Kab/Kota
e. Analisa Penyebab Kegagalan
- Posyandu tutup dalam beberapa waktu diawal masa pandemic.
- Keenganan orang tua untuk membawa anaknya untuk diimunisasi karena takut tertular Covid 19.
- Biaya operasional untuk imunisasi dan sumber daya manusia imunisasi dialihkan untuk mendukung pengendalian pandemi Covid 19 se beberapa Kabupaten/Kota.
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Banyak anak tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai waktu berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (KLB PD3I).
- Mewaspadai daerah-daerah kantong dengan cakupan imunisasi rendah.
g. Pemecahan Masalah
- Membuat rencana imunisasi kejar (catch up immunization) bagi anak yang belum lengkap imunisasinya bersamaan dengan jadwal imunisasi rutin.
- Penggerakan masyarakat melalui berbagai media KIE.
h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Bila dibandingkan capaian indikator kegiatan (80,73%) dengan capaian anggaran (99,5%) maka penggunaan sumber daya termasuk tidak efisien
4. Indikator : Persentase kasus kusta baru tanpa cacat a. Definisi Operasional :
Persentase kasus kusta baru yang ditemukan tanpa cacat (cacat tingkat 0) diantara kasus kusta baru
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah kasus kusta baru tanpa cacat (cacat tingkat 0) dibagi total jumlah kasus kusta baru dikali 100 persen.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.4. Grafik Persentase kasus kusta baru tanpa cacat di Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020
Berdasarkan gambar 3.4 diketahui bahwa realisasi persentase cakupan penemuan kasus baru kusta tanpa cacat di Provinsi Sumatera Utara selama 5 tahun terakhir tidak memenuhi target.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
Kegiatan deteksi dini pend.kusta di desa ato intensif case fainding e. Analisa Penyebab Kegagalan
- Kegiatan ICF hanya di 2 kab dari 33 kab - SDM blm terlatih
- Anggaran keg. Utk ICF tdk ada f. Kendala/masalah yang dihadapi
Dukungan dana kab/kota tdk ada g. Pemecahan Masalah
Mengupayakan anggaran kegiatan ICF di setiap daerah Kab/kota h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Kinerja indikator kegiatan Persentase kasus kusta baru tanpa cacat sebesar 62%. Jika dibandingkan antara kinerja dengan capaian realisasi anggaran kinerja indikator output Intensifikasi penemuan kasus kusta sebesar 87,78%, sehingga capaian indikator ini tidak efisiensi dengan efisiensi sebesar -25,78%, karena
91 91 91 91
87
71 75 75
70 62
78.0219780282.4175824282.42
76.92
71.26
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
capaian kinerja lebih kecil dari realisasi anggaran. Sehubungan dengan situasi pandemi covid-19 adanya refocusing anggaran yang harus di efisiensi sebesar 63,58% kegiatan prioritas, yang diambil dari indikator kinerja kegiatan intensifikasi penemuan kasus kusta.
5. Indikator : Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar a. Definisi Operasional :
Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar program
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah kasus positif malaria yang diobati sesuai standar program dibagi dengan jumlah seluruh kasus positif malaria dikali 100 persen
c. Capaian Indikator
Gambar 3.5. Grafik Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016-2020
Berdasarkan gambar 3.5. diketahui bahwa realisasi indikator persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar di Provinsi Sumatera Utara sejak tahun 2016-2018 tidak memenuhi target, namun demikian cakupan indikator tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2019-2020, persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar telah memenuhi target (100%).
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
Semua kasus positif yang ditemukan diberikan panduan waktu serta dosis obat yang akan diminum dan semuanya dilakukan Follow-up pengobatan dengan melakukan pengambilan slide darah penderita.
e. Analisa Penyebab Keberhasilan/Kegagalan - Keberhasilan
1. Setiap pasien malaria dilakukan follow-up pengobatan serta dilakukan kunjungan kerumah untuk memantau sipenderita dalam meminum obat.
2. Bidan desa memberikan langsung kepada pasien malaria untuk mengkonsumsi obat malaria dengan meminta kepada sipenderita datang ke rumah bidan desa sesuai jadwal yang sudah diberikan sampai selesai.
- Kegagalan
1. Walaupun sudah dilakukan kunjungan rumah oleh bidan desa ke rumah sipenderita masih saja ada kesulitan yang ditemukan petugas dalam pemantauan pengobatan.
2. Tidak patuhnya Pasien malaria dalam mengkonsumsi obat malaria waktu serta dosis yang sudah ditentukan.
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Sebagian pasien malaria berada di wilayah sulit sehingga susah untuk dijangkau dalam pemantauan pengobatan.
- Situasi Covid_19 yang berpengaruh besar bagi petugas dalam melakukan pemantauan pengobatan malaria.
- Peran serta LS yang kurang mendukung dalam pelaksanaan pencegahan dan pengendalian program malaria.
g. Pemecahan Masalah
- Peran serta perangkat daerah dalam hal pencegahan dan pengendalian penyakit program malaria sangat dibutuhkan.
- Peran Lintas Sektor dan Lintas Program yang masih kurang
- Wilayah sulit malaria masih banyak dan kader yang masih banyak tidak terlatih.
h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Bila dibandingkan capaian indikator kegiatan (105,26%) dengan capaian anggaran (83,3%) maka penggunaan sumber daya termasuk efisien.
- Perlunya dilakukan pelatihan bagi tenaga kader agar mampu dalam penatalaksanaan kasus malaria.
- Perlunya dilakukan pelatihan tenaga dokter
- Ke aktifan perangkat daerah dlm mendukung program malaria di setiap daerah
6. Indikator : Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker a. Definisi Operasional :
Kab/kota yang menyelenggarakan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks paling kurang pada 80% populasi wanita usia 30-59 tahun atau wanita yang memiliki riwayat sexual aktif.
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah Kabupaten/Kota yang memiliki cakupan deteksi dini kanker payudara paling kurang 80% populasi wanita usia 30-59 tahun atau wanita yang memiliki riwayat sexual aktif.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.6. Grafik Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker di Prov. Sumatera Utara tahun 2016-2020
5 10 20 30
0 10 15
34
64.3
5 0
100.00
170.00
214.33
33.33 0
50 100 150 200 250
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
Berdasarkan gambar 3.65 diketahui bahwa realisasi persentase puskesmas yang melaksanakan deteksi dini dan rujukan kasus katarak di Sumatera Utara sejak tahun 2016-2019 telah melampaui target yang ditetapkan, namun pada tahun 2020 persentase indikator berubah dari puskesmas menjadi kab./kota. Sehingga berdasarkan indikator tersebut persentase kab./kota yang melakukan deteksi dini kanker berjumlah 5kab./kota dan tidak mencapai target.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
- Melakukan pelatihan bagi dokter dan bidan di puskesmas di tiap kabupaten/kota.
- Memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya wanita usia 30-50 tahun tetang pentingnya pemeriksaan IVA dan CBE.
- Berkoordinasi dengan program promosi kesehatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara dan leher rahim
e. Analisa Penyebab Kegagalan
- Seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara ikut ambil bagian dalam melaksanakan pelatihan SDM IVA dan CBE bagi dokter dan bidan di puskesmas di daerah masing-masing.
- Integrasi kegiatan dengan sumber dana APBD - Koordinasi dengan program promosi kesehatan
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Sarana dan prasarana (BHP) dalam pelaksanaan deteksi dini masih belum memadai.
- Sebagian besar masyarakat masih belum memeriksakan diri ke petugas kesehatan dikarenakan kekurangtahuan tentang pentingnya deteksi dini kanker leher rahim dan payudara
g. Pemecahan Masalah
- Koordinasi dengan kepala puskesmas agar BHP dalam deteksi dini kanker leher rahim dan payudara dapat ditanggulangi dari dana BOK puskesmas.
- Koordinasi dengan program promosi kesehatan dalam melakukan sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kanker leher rahim dan payudara bagi wanita usia 30-50 tahun yang sudah menikah dan aktif melakukan hubungan seksual.
h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Bila dibandingkan capaian indikator kegiatan (33,33%) dengan capaian anggaran (100%) maka penggunaan sumber daya tidak efisien.
7. Indikator : Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan a. Definisi Operasional :
ODGJ berat yang mendapat pelayanan sesuai standar di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, berupa: pemeriksaan kesehatan jiwa (wawancara psikiatrik dan pemeriksaan status mental), memberikan informasi dan edukasi, tatalaksana awal, meberikan pengobatan dasar dan atau melakukan rujukan bila diperlukan. Standar Pelayanan: Pelayanan Kesehatan dilakukan oleh minimal 1 orang Dokter Umum/ Spesialis Kedokteran Jiwa dan 1 orang Perawat/ Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa.
Penderita ODGJ yang dimaksud adalah penderita Skizofrenia dan Psikotik Akut yang didiagnosis oleh dokter, psikolog klinis dan psikiater.
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah penderita ODGJ Berat yang mendapat layanan dibagi Jumlah sasaran penderita ODGJ dikali 100 %.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.7. Grafik Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2016-2020
Berdasarkan gambar 3.7 diketahui bahwa realisasi persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2016-2019 sudah mencapai 50% dari target.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
- Advokasi Program P2M Kesehatan Jiwa ke stake holder dan lintas sektor - Peningkatan Kapasitas Dokter dan Perawat Puskesmas serta pengelola
Program P2M Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kab/Kota.
- Pengadaan psikofarmaka .
- Mendorong pembentukan TPKJM di Kabupaten/Kota - Bimtek dan Monev
e. Analisa Penyebab Keberhasilan
Penyebab keberhasilan melebihi target capaian karena Pelayanan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Berat sesuai standar adalah merupakan indikator SPM Bidang Kesehatan yang harus dicapai oleh Kabupaten Kota dimana target capaian 100%.
0 0 0
19696 20541
0 0 0
11202 11657
5000 10001500 20002500 30003500 40004500 50005500 60006500 70007500 80008500 90009500 10000 10500 11000 11500 12000 12500 13000 13500 14000 14500 15000 15500 16000 16500 17000 17500 18000 18500 19000 19500 20000 20500
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
f. Kendala/masalah yang dihadapi
- Kesehatan jiwa masih belum menjadi agenda prioritas:
• Investasi pemerintah di bidang kesehatan jiwa masih kurang.
Jumlah SDM : - Psikiater : 63 orang (Mayoritas di Kota Medan) - dokter umum terlatih jiwa : 105 orang
- perawat terlatih : 105 orang
- Pembiayaan kesehatan jiwa masih sangat minim. Bahkan ada beberapa kab/kota yang tidak mengalokasikan anggaran untuk program kesehatan jiwa.
- Layanan kesehatan jiwa belum secara merata terintegrasi di layanan primer sehingga akses dan kontinuitas layanan kesehatan jiwa masih terbatas.
- Kurangnya kapasitas petugas kesehatan. Dari 608 Puskesmas hanya 105 Puskesmas yang memiliki dokter dan perawat terlatih jiwa terakreditasi PPSDM. Sehingga kemampuan dalam melakukan deteksi dini dan penatalaksanaan kasus gangguan jiwa serta perencanaa kebutuhan obat di puskesmas masih kurang.
- Ketersediaan obat baik jenis dan jumlah masih kurang.
- Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa masih kurang.
- Banyak penderita ODGJ Berat yang terlantar dan menggelandang tanpa identitas dan tidak diketahui dari mana asalnya.
- Kerja sama lintas sektor dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masih kurang.
- Kesadaran masyarakat untuk melaporkkan diri ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan atau melaporkan keluhan-keluhan yang dialami masih sangat rendah.
g. Pemecahan Masalah
- Agar Kabupaten Kota Melakukan pendataan dan penjaringan secara menyeluruh disetiap kecamatan.
- Mengalokasikan Anggaran Untuk Pelatihan dokter dan perawat.
- Optimalisasi dokter dan perawat yang sudah dilatih.
- Pengadaan psikofarmaka
- Membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat Sebagai Wadah Koordinasi Lintas Sektor Dalam Mendukung Upaya Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa.
h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Anggaran indikator ini tidak tertampung dalam dana dekonsentrasi tahun 2020.
8. Indikator : Nilai Kinerja Penganggaran a. Definisi Operasional :
Adalah capaian perbandingan antara realisasi anggaran dengan pagu anggaran
b. Rumus/Cara perhitungan :
Jumlah realisasi anggaran dibagi dengan pagu anggaran yang ada.
c. Capaian Indikator
Gambar 3.8. Grafik Nilai Kinerja Penganggaran Pada Satker Dekonsentrasi Prov. Sumatera Utara Tahun 2016-2020
9,424,809,000
7,645,296,000
6,089,512,000
15,341,851,000
2,228,315,000 8,565,346,615
7,085,751,651
5,499,528,890 11,772,672,880
2,129,409,330 0
2,000,000,000 4,000,000,000 6,000,000,000 8,000,000,000 10,000,000,000 12,000,000,000 14,000,000,000 16,000,000,000 18,000,000,000
2016 2017 2018 2019 2020
Target Realisasi cakupan
Linear (cakupan)
Berdasarkan gambar 3.8 diketahui bahwa realisasi capaian kinerja untuk indikator nilai kinerja penganggaran satker dekonsentrasi di Sumatera Utara tahun 2016-2020 sudah mencapai hampir 100%, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.228.315.000,- dan realisasi sebesar Rp. 2.129.409.330,- (95,56%), sedangkan sisanya merupakan sisa frekwensi kegiatan yang tidak terlaksana dan sisa dari pagu standar biaya masukan yang berlaku.
d. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator - Penyusunan e-planning tahun 2020
- Penyusunan dokumen RKAKL tahun 2020 - Reviu usulan perencanaan dan penganggaran - Pemantauan kegiatan satker ke daerah - Konsultasi pelaksanaan anggaran ke pusat - Penyusunan laporan pelaksanaan program
- Penyusunan laporan e-monev DJA dan Bappenas - Pertemuan evaluasi pelaksanaan program
- Verifikasi dan rekonsiliasi laporan keuangan satker
e. Analisa Penyebab Keberhasilan
Kegiatan ini dapat terlaksana atas kerja sama yang baik antar pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara khususnya Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
f. Kendala/masalah yang dihadapi
Kurangnya sumber daya yang kompeten dalam menyusun laporan terutama laporan yang bersifat elektronik sehingga petugas rangkap kerja.
Kurangnya komitmen dalam menyerahkan laporan dari program ke koordinator data di Bidang P2P
g. Pemecahan Masalah
- Diperlukan pelatihan bagi sumber daya penyusun laporan
- Diperlukan adanya sanksi tegas kepada pengelola program agar lebih tepat waktu dalam menyerahkan laporan kinerja per bulannya.
h. Efisiensi penggunaan sumber daya
Bila dibandingkan capaian indikator kegiatan (100%) dengan capaian anggaran (85%) maka penggunaan sumber daya termasuk efisien.
3.2. Realisasi Anggaran
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2020 mendapat dana Dekon pada Satker (05) sebesesar Rp. 4.815.699.000 (empat milyard delapan ratus lima belas juta enam ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah). Awal tahun 2020 terjadi masalah kesehatan di dunia dengan munculnya pandemi Covid-19.
Keadaan pandemi yang terjadi mengakibatkan dampak pada anggaran yang telah ada, dimana dana yang sudah dialokasikan untuk tiap program mengalami pengurangan. Dana tersebut diperuntukkan untuk penanganan pandemi Covid-19, pengurangan yang terjadi pada dana dekon satker (05) Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara adalah sebesar 54% sehingga dana yg tersedia adalah Rp.
2.228.315.000.-
Pencapaian kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020.
No Indikator Perjanjian Kinerja Total Pagu (Rp.)
Total Realisasi
(Rp.) %
1 Persentase anak 0-11 tahun yang
mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap 327.460.000 325.976.000 99,55 2 Persentase kasus malaria positif yang
diobati sesuai standar 131.390.000 109.564.800 83,39 3 Persentase ODHA baru ditemukan yang
memulai pengobatan ARV 95.862.000 94.657.000 98,74 4 Persentase cakupan penemuan dan
pengobatan TBC 167.303.000 161.533.000 96,55
5 Persentase kasus kusta baru tanpa cacat 186.696.000 163.889.000 87,78
6 Jumlah kabupaten/kota melaksanakan
deteksi dini kanker 132.641.000 132.641.000 100,00 7 Persentase ODGJ yang mendapatkan
pelayanan 0 0 0
8 Nilai kinerja penganggaran 288.239.000 244.365.290 84,78
Total 2.228.315.000 2.129.409.330 95,56
Tabel 3.1 Realisasi Anggaran Dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020
Berdasarkan tabel diatas, angaran pada setiap indikator yang diperjanjikan terealisasi dengan baik. Sehingga dari seluruh dana yang ada terealisasi 95,56%.
BAB 4 PENUTUP 4.1. Kesimpulan
1. Pencapaian kinerja Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020 belum berjalan baik tidak sesuai dengan Perjanjian Kinerja yang telah ditetapkan dengan rata –rata capaian kinerja sebesar 58%
2. Berdasarkan pengukuran indikator kinerja Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020, dari Indikator kinerja sasaran Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2020, sebanyak 2 indikator telah melebihi target yang ditetapkan yaitu Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar target 95% tercapai 100% dan Persentase ODGJ yang mendapatkan pelayanan target 10% tercapai 56,7%, 1 indikator telah mencapai target yang ditetapkan (>80%) yaitu Nilai kinerja penganggaran dengan capaian 85%, sedangkan 5 indikator tidak mencapai target dengan pencapaian Persentase anak 0-11 tahun yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap targer 92,9% tercapai 75,5, Persentase ODHA baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV target 77% tercapa 47%, Persentase cakupan penemuan dan pengobatan TBC target 65% tercapai 53,20%, Persentase kasus kusta baru tanpa cacat target 87% tercapai 62% dan Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker target 15k/k tercapai 5k/k.
3. Berdasarkan penyerapan dan pengukuran kinerja anggaran Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2020 diketahui bahwa kinerja anggaran Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sebesar 95,56%, dengan realisasi tertinggi pada indkator Jumlah kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini kanker sebesar 100% dan realisasi paling rendah pada dana dekonsentrasi yakni pada indikator Persentase kasus malaria positif yang diobati sesuai standar sebesar 83,39%.
4. Berdasarkan pengukuran efisiensi sumber daya, dari 7 indikator, terdapat 1 indikator telah berjalan dengan efisien dimana capaian kinerja dapat mencapai atau melebihi target dengan anggaran yang lebih rendah dan semua kegiatan telah dilaksanakan dengan baik.