1
A. Latar Belakang
Pekerjaan merupakan salah satu cara individu dalam mencapai tujuannya, maka dari itu pekerjaan selalu erat hubungannya dengan nilai status sosial yang mendasari pandangan individu terhadap pekerjaan itu sendiri. Pekerjaan dalam instansi, perusahaan atau organisasi memiliki karakteristik dan teknis yang berbeda-beda, salah satunya adalah pekerjaan di Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya akan disebut LAPAS. Bekerja di Lembaga Pemasyarakatan adalah pekerjaan yang dilakukan seseorang atau individu di tempat yang penuh dengan individu-individu yang melakukan kesalahan atau tindak pidana hukum yang menjadikan pekerjaan di Lembaga Pemasyarakatan menjadi begitu beresiko dan penting. Petugas atau karyawan yang bekerja di Lembaga Pemasyarakatan memiliki tugas yang harus dipenuhi yaitu pembinaan dan perawatan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan.
Fungsi dan peran petugas LAPAS lebih memfokuskan pada rehabilitasi dan resosialisasi atau proses pembelajaran bagi setiap narapidana berdasarkan nilai-nilai yang sesuai dengan hukum negara dan ketentuan formal sebagai bahan acuan dan fungsi dalam pola pembinaan narapidana. Tugas ini mengacu pada pembinaan, maka perlu perlakuan yang melihat pada kebutuhan dan kondisi sesungguhnya dari setiap narapidana. Petugas LAPAS memaparkan bahwa tidak hanya membina dan rehabilitas narapidana, melainkan banyak tugas lain yang
memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawab besar ini menuntut petugas LAPAS untuk memiliki nilai kerja yang baik dan berkomitmen dalam tugas dan pekerjaannya. Mengingat petugas LAPAS juga memiliki kode etik dalam pekerjaannya. Kode etik adalah aturan tertulis secara otomatis yang sengaja di buat berdasarkan prinsip – prinsip moral yang ada dan sewaktu – waktu dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang menyimpang norma – norma yang menyimpang kode etik (Gajalba dalam Manalu, 2014). LAPAS memiliki kode etik yang harus dilaksanakan oleh setiap petugas LAPAS dimana kode etik itu sendiri selaras dengan nilai kerja yang harus dimiliki oleh Petugas LAPAS.
Pekerjaan di Lembaga Pemasyarakatan memiliki peran penting sebagai pembina bagi narapidana dan tahanan dalam bentuk sosialisasi kesehatan, pengajian rutin, pemeriksaan sel-sel dan pembinaan lainnya serta bertugas memberikan perawatan berupa perawatan kesehatan jasmani maupun rohani dan pemberian obat-obatan pada narapidana dan tahanan atau yang saat ini disebut Warga Binaan Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut dengan WBP. Petugas LAPAS dalam melakukan tugasnya akan memiliki tanggung jawab dan keyakinan individu dalam melakukan pekerjaannya sehingga memunculkan kinerja yang memiliki unsur nilai atau keyakinan yang ada di dalam diri individu.
Rokeach (dalam Daryanto, 2013) mendefinisikan nilai kerja adalah keyakinan individu atau latar belakang individu dalam bertingkah laku yang dipilih dan yang diinginkan setelahnnya dibawa ke dalam situasi kerja. Sistem nilai dapat dilihat dari kepentingan yang relatif dan diberikan kepada nilai-nilai
seperti kepatuhan, kesamaan, hormat-diri, kejujuran, kebebasan, dan kesenangan.
Lingkungan kerja memiliki nilai dan kerja yang mempunyai hubungan yang rapat dan erat. Menurut Samad (dalam Daryanto, 2013) Nilai yang positif dapat mempengaruhi sikap dan pandangan individu terhadap sesuatu tindakan. Nilai kerja juga merujuk pada sikap individu terhadap kerja dan berkaitan dengan makna yang diberikan oleh individu terhadap kerja.
Petugas LAPAS memasuki suatu organisasi atau instansi yang disebut Lembaga Pemasyarakatan dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang hal-hal yang seharusnya dan yang tidak seharusnya terjadi. Tugas-tugas yang dilakukan petugas LAPAS ini berkaitan dengan keyakinan diri untuk melangkah atau memilih sesuatu dengan hati yang ikhlas. Semua yang dilakukan oleh individu di dalam atau di luar instansi memiliki norma dan aturan tertentu disesuaikan dengan tempat petugas berkumpul, hal ini bisa disebut juga dengan nilai. Nilai adalah hal yang berkaitan dengan sikap, dalam arti bahwa sebuah nilai berguna untuk mengorganisasi sejumlah sikap (Winardi, 2004).
Petugas LAPAS memiliki tugas yang erat hubungannya dengan pembinaan warga binaan dengan jadwal penyuluhan atau perawatan non fisik yang membutuhkan tanggung jawab besar dan memiliki resiko yang tinggi.
Semua jenis pekerjaab yang dilakukan petugas LAPAS berbentuk perilaku dalam melakukan pekerjaannya. Resiko pekerjaan yang dimiliki oleh petugas LAPAS dapat dikatakan tinggi karena pekerjaan yang petugas lakukan merupakan pekerjaan yang dapat dikatakan mengancam nyawa. Dikatakan mengancam nyawa karena petugas tidak mengetahui apa yang akan dilakukan para narapidana
di dalam LAPAS, sehingga petugas dalam melakukan pekerjaannya harus dengan siaga. Kesiapsiagaan ini harus dimiliki setiap petugas sehingga memunculkan tekanan psikologis. Perilaku tidak terduga yang dapat dilakukan WBP terhadap petugas dipicu oleh beberapa hal yaitu kelebihan kapasitas atau overload didalam LAPAS yang memang menjadi permasalahan bagi LAPAS di Indonesia. Pemicu lainnya adalah cara membina petugas yang tidak segan untuk memukul, menendang dan kontak fisik untuk membina warga binaan yang melakukan kesalahan atau melanggar aturan di dalam LAPAS.
Petugas LAPAS yang bekerja sehari-hari di dalam lingkungan yang tak ada penghargaannya dan membosankan, pada akhirnya sepenuhnya bergantung pada teman sekerja untuk mecukupi kebutuhan akan keselamatan (Grossi & Berg, 1991). Bekerja dalam keadaan atau suasana yang beresiko atau penuh tekanan dapat mengakibatkan melemahanya kondisi fisik, termasuk tekanan, kelelahan kronis, penyakit secara fisik, dan dapay menyebabkan Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) sehingga berpengaruh terhadap kinerja petugas. Misalnya, hal
ini juga dipaparkan oleh beberapa petugas yang mengaku jenuh dengan pekerjaan yang setiap harinya memiliki rutinitas yang sama dan membuat fisik lelah hingga berpengaruh terhadap pekerjaan yang petugas jalankan.
Beberapa masalah dipaparkan dan menunjukkan bahwa lingkungan mempengaruhi kinerja petugas LAPAS dalam bertugas, dan work value pada beberapa petugas LAPAS dapat dikatakan rendah ketika banyak pemicu yang ada dalam pekerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa jika petugas tersebut memiliki work value yang baik maka dia akan bekerja dengan penuh tanggung jawab dan
merasa puas akan pekerjaan yang dilakukannya, karena dalam pekerjaan petugas LAPAS memang memiliki karakteristik pekerjaan yang membina WBP. Keadaan tersebut menimbulkan konsekuensi kerja yang semakin tinggi dan tuntutan terhadap pekerjaan petugas juga mengikutinya. Konsekuensi atau resiko yang semakin tinggi membuat tidak nyaman dan akan berdampak pada kinerja petugas LAPAS. Tekanan psikologis yang dialami oleh individu ketika melakukan pekerjaannya secara tidak langsung akan berdampak pada aspek psikologis pada individu yang menyebabkan stress atau psikosomatis (menurut Chaplin, 1989).
Hal ini sesuai dengan penelitian (Nur’Aini, 2009) yang mengungkapan bahwa profesi atau jenis pekerjaan yang memiliki resiko tinggi, situasi pekerjaan dan beban kerja tinggi menimbulkan stress kerja terlebih pada tempat kerja yang memiliki banyak stressor, salah satunya adalah bekerja sebagai perawat. Nur’Aini (2009) menjelaskan bahwa perawat merupakan profesi yang membutuhkan keterampilan tinggi dan membutuhkan kerja team dalam berbagai situasi. Hal ini menunjukkan perawat memiliki beban kerja serta situasi pekerjaan yang memiliki banyak stressor, sehingga profesi perawat dikatakan memiliki resiko tinggi dan menimbulkan stress kerja yang berdampak buruk bagi kinerja atau kinerja menjadi kurang optimal.
Konsekuensi dari tindakan yang dilakukan petugas saat menjalankan tugas adalah tidak dapat memprediksi ada kericuhan atau bahkan mengancam nyawa petugas dengan bentuk penyandraan atau penikaman. Kejadian tersebut terlihat oleh peneliti dari observasi di LAPAS terjadi kericuhan antar narapidana yang mana itu tidak diketahui oleh petugas dan menimbulkan konflik berkepanjangan.
Konflik yang terjadi akibat kericuhan di dalam LAPAS juga dapat mengancam petugas jika tidak melakukan pengusutan kasus dengan benar. Supaya tidak terlalu beresiko maka dibutuhkan penyesuaian diri, karena pekerjaan di lakukan pada situasi atau lingkungan yang berbada dan berhubungan dengan individu yang melakuan tindak pidana hukum. Fungsi penyesuaian diri pada petugas LAPAS adalah untuk memenuhi tuntutan dan tantangan sekaligus menciptakan kesejahteraan dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan. Penyesuaian diri yang dilakukan dapat berawal dari sikap petugas dan nilai kerja yang dimilikinya.
Artinya, petugas LAPAS yang memiliki resiko pekerjaan tinggi harus memiliki nilai kerja yang baik.
Kejadian-kejadian yang telah dipaparkan petugas menunjukkan pekerjaan petugas LAPAS sangat berbeda dengan karyawan instansi lain, hal ini dapat dilihat dari tanggung jawab dan resiko yang dijalani oleh petugas LAPAS.
Mempelajari dari tugas-tugas yang berat, penting untuk petugas LAPAS memiliki rasa tanggungjawab, komitmen, dan rasa ikhlas dalam melakukan pekerjaan yang besar, hal ini membicarakan tentang dedikasi petugas LAPAS yang seharusnya sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam diri petugas masing-masing. Pekerjaan yang dilakukan harus sesuai dengan diri petugas sehingga dapat bekerja dengan dedikasi yang sangat tinggi.
Rokeach (dalam Daryanto, 2013) mendefinisikan nilai kerja adalah keyakinan individu atau latar belakang individu dalam bertingkah laku yang dipilih dan yang diinginkan setelahnnya dibawa ke dalam situasi kerja. Sedangkan kode etik pemasyarakatan yang digunakan sebagai acuan petugas dalam bekerja,
sesuai dengan Undang-Undang nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan diantaranya menjalin hubungan kerja yang baik dengan semua rekan kerja baik bawahan maupun atasan, melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab. Taat dan disiplin pada aturan organisasi, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Tegas, adil, dan sopan dalam berinteraksi dengan masyarakat. Namun kenyataannya banyak petugas yang tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya. Menurut Wolack (1971) Individu dapat dikatakan memiliki nilai kerja adalah individu yang dapat merasakan kepuasan kerja dan dapat membuat dirinya terlibat lebih sibuk serta dapat meningkatkan prestasi dalam pekerjaannya. Diluar pekerjaannya individu dapat dikatakan memiliki nilai kerja yang baik ketika memiliki keinginan meningkatkan karier dalam pekerjaannya dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Seluruh kegiatan petugas LAPAS merupakan suatu perilaku yang dimunculkan dalam pekerjaan dapat dikatakan sebagai kinerja yang dilatar belakangi oleh nilai dalam pekerjaannya atau nilai kerja.
Kinerja merupakan hasil kerja individu yang diperoleh selama waktu tertentu dalam menjalankan tugasnya dan sesuai dengan standart yang dimiliki atau ditentukan atau disepakati oleh organisasi menurut Colquitt et al (dalam Nur’Aini, 2019). Pada sisi Sumber Daya Manusia (SDM) kinerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lainnya, seperti kenyamanan kerja, motivasi, kompensasi, budaya, nilai kerja dsb. Kinerja petugas didalam LAPAS seharusnya sesuai dengan peraturan dan ketetapan yang sudah ditentukan oleh pusat atau Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KEMENKUMHAM), sehingga
petugas LAPAS yang memiliki tanggung jawab besar dengan selalu melakukan pengawasan, keamanan dan keselamatan individu-individu yang ada di Lembaga Pemasyarakatan, tanggung jawab besar ini diharapkan dapat bekerja maksimal dan minim akan pelanggaran yang dilakukan oleh petugas LAPAS.
Pada petugas LAPAS Kelas II A Jember peneliti melakukan asesmen yaitu dengan wawancara dan observasi beberapa subjek di tempat. Dari hasil observasi yang dilakukan, terlihat beberapa petugas LAPAS masih banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sering dilakukan seperti keterlambatan datang ke kantor, ditemukan beberapa petugas pulang sebelum jam kerja usai, ada beberapa petugas juga melakukan pungli (seperti meminta rokok pada warga binaan).
Ketika jam kerja petugas masih banyak yang terlihat santai-santai dan menyerahkan pekerjaan kepada tahanan pendamping atau yang biasa disebut TAMPING. Situasi tersebut juga mengakibatkan tidak optimalnya pekerjaan para petugas LAPAS, diperjelas ketika terjadi kecolongan seperti masuknya minumam oplosan, obat-obatan terlarang dan terjadinya pengeroyokan atau bentrok didalam sel. Permasalahan-permasalahan yang terjadi menunjukkan bahwa work value pada petugas LAPAS kurang begitu terlihat karena permasalahan yang terjadi menunjukkan petugas LAPAS pada aspek instrinsic work value yaitu tanggungjawab dan ketelibatan pekerjaan petugas masih kurang tergambar.
mengakibatkan petugas LAPAS ditegur oleh Ketua Lembaga Pemasyarakatan (Ka. LAPAS). Teguran-teguran dari Ka. LAPAS juga menyebutkan menurunnya kinerja petugas dan menyebutkan pelanggaran-pelanggaran yang diketahui Ka.LAPAS seperti terlambat dan pulang sebelum waktunya.
Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan dengan beberapa petugas LAPAS, salah satu petugas juga menceritakan bahwa sangatlah tidak nyaman ketika bekerja di lapas karena menurut petugas tersebut bekerja di lapas itu bukan dunia yang fair (adil). Beberapa petugas juga menyatakan sebenarnya ingin keluar dan berbicara dengan keluarga untuk menyampaikan keinginan berhenti menjadi petugas LAPAS, namun sebagian besar keluarga memberikan nasihat bahwasannya PNS memiliki gaji yang tidak seberapa, namun pekerjaanya tersebut adalah pekerjaan yang mulia karena yang dilakukan sangatlah bermanfaat bagi orang lain. Beberapa petugas sadar akan nasihat orang tuanya untuk tidak berhenti menjadi pegawai LAPAS. Petugas tersebut lambat laun mencoba bekerja dengan ikhlas petugas merasa ada kecocokan dengan pekerjaannya dan merasa bahwa pekerjaanya sangat bermanfaat bagi orang lain dengan membina orang yang bermasalah.
Beberapa petugas juga mengeluh dengan pekerjaan yang dijalaninya, dikarenakan masih adanya rekan kerja yang santai-santai dan tidak bekerja sesuai dengan jadwal maupun jam yang telah ditentukan sehingga terlihat juga bagaimana sikap dan keyakinan atau nilai kerja dari petugas LAPAS belum begitu tinggi atau bahkan cenderung rendah. Hal ini dikarenakan didalamnya tidak terlihat kerjasama yang baik, dan masih banyak indikator-indikator didalam nilai kerja yang belum terlihat dan muncul pada petugas LAPAS kelas II A Jember.
Dalam permasalahan seperti ini indikator nilai kerja instrinsic value belum terlihat pada beberapa petugas karena meninggalkan tanggung jawab yang sudah diberikan dan memilih untuk bersantai-santai dan merokok di luar LAPAS.
Beberapa aspek work value yang belum muncul adalah perasaan puas akan pekerjaan yang dilakukan beberapa petugas yang belum terlihat, petugas mengaku bahwa masih banyak petugas mengalami kejenuhan dalam bekerja dan mengganggu aktifitas pekerjaannya, seperti halnya emosi atau kondisi psikologis yang dapat berpengaruh pada kinerja yang sedang dilakukan, hal ini dipaparkan oleh beberapa petugas dan sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai kerja individu yaitu lingkungan pekerjaan dan tujuan personal individu. Seperti pada beberapa petugas pelayanan kunjungan yang langsung mengahadapi keluarga tahanan atau narapidana yang sering merasa emosi dengan perilaku pengunjung yang menjengkelkan, petugas langsung meninggalkan tempat pelayanan dan menonton film untuk menenangkan diri, hal ini mengganggu kelangsungan kegiatan yang ada.
Beberapa petugas LAPAS yang cukup lama bekerja di LAPAS kelas IIA Jember juga menuturkan untuk beberapa pekerjaan khusus memerlukan gaji yang sesuai, mengingat pada LAPAS kelas IIA Jember ada perbedaan yang signifikan pada sisi sistem, sehingga petugas merasa kurang adil dengan beban tugas yang diberikan dan gaji yang diterima. Hal ini juga mengganggu kinerja petugas, secara psikologis pun sangat mengganggu. Kejadian seperti itu menyebabkan petugas berkeinginan untuk cepat selesai bertugas dan pensiun karena melihat petugas yang pensiun sudah lepas tanggung jawab.
Fenomena yang terjadi pada LAPAS kelas II A Jember yang telah di paparkan penulis merupakan fenomena yang menggambarkan petugas LAPAS kurang memiliki work value atau work value yang rendah, mengingat ada
beberapa aspek work value belum muncul seperti aspek instrinsic dimana petugas masih belum bertanggung jawab atas pekerjaannya dan belum merasa puas akan pekerjaan yang dilakukan petugas. Selanjutnya semua petugas bekerja menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi petugas dalam pekerjaannya adalah lingkungan tempat kerja seperti beberapa petugas kesehatan yang mengeluhkan lingkungan fisik yang kurang memadahi sehingga keluhan datang dan berpengaruh pada kinerja petugas LAPAS. Untuk keinginan berprestasi dan meraih pekerjaan yang meningkatkan standart hidup ada beberapa petugas yang melakukannya dengan melanjutkan studi dan melakukan workshop atau pelatihan yang diadakan secara berkala oleh KEMENKUMHAM. Semua yang dilakukan petugas dalam pekerjaannya dilatarbelakangi oleh keyakinan dalam memunculkan kinerjanya. Petugas LAPAS dapat dikatakan memiliki work value yang tinggi adalah petugas yang memiliki tanggungjawab besar, terlibat aktif dalam pekerjaannya dan tidak meninggalkan pekerjaan yang sudah diberikan sebelumnya. Fenomena yang tergambar dapat mempengaruhi kinerja petugas atau kinerja yang dilakukan tidak optimal.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi petugas LAPAS salam melakukan kinerjanya adalah faktor lingkungan, seperti lingkungan fisik dll.
Selanjutnya faktor kepuasan dapat mempengaruhi kinerja petugas LAPAS, karena semakin petugas merasa puas terhadap pekerjaannya maka nilai kerja akan terpengaruh juga. Semua yang berkaitan dengan nilai kerja atau work value terbukti sangat penting dimiliki oleh petugas LAPAS. Berhubung nilai dapat mempengaruhi beberapa perilaku dan kinerja individu, maka diperlukan penelitian
tentang nilai kerja yang mempunyai latar belakang berbeda dengan latar belakang data demografi yang berbeda-beda. Khususnya pada penelitian ini ingin membahas tentang nilai kerja pada petugas LAPAS kelas II A Jember. Petugas memiliki keyakinan yang berbeda satu sama lain berdasarkan nilai kerjanya.
Berbicara tentang nilai kerja di Indonesia, terutama pada petugas LAPAS selama ini penelitian-penelitian di Indonesia belum banyak yang meneliti tentang work value khususnya pada petugas LAPAS yang memiliki tanggungjawab dan
resiko yang tinggi dalam bekerja, tetapi penelitian yang dilakukan di LAPAS sebagian besar subjek penelitian adalah narapidana/warga binaan. Penelitian terdahulu mengenai nilai kerja di Indonesia antara lain, pengaruh nilai-nilai kerja terhadap stres petugas rumah tahanan negara: studi pada rumah tahanan negara kelas IIB Rangkasbitung (Usman, 2005) dimana hal ini menjelaskan tentang adanya pengaruh antara nilai kerja dan stress kerja, dimana menunjukkan bahwa kinerja petugas bisa menurun apabila menghindari stress dengan cara yang salah atau negatif, selanjutnya pengaruh nilai kerja terhadap kinerja lingkungan di bandara (Tadjoedin et al. 2009) berdasarkan penelitian ini karyawan bekerja hanya dengan beberapa beberapa nilai kerja, sehingga nilai kerja tidak berpengaruh kuat pada pekerjaannya dilingkungan bandara, pengaruh nilai-nilai kerja, kemampuan komunikasi dan penanganan keluhan terhadap kepuasaan masyarakat dalam pelayanan RSUD Serang (Arenawati 2010).
Berdasarkan uraian mengenai work value atau nilai kerja dan penelitian- penelitian nilai kerja, peneliti ingin mendapatkan hasil yang komprehensif dan ilmiah tentang bagaimana nilai kerja pada petugas yang memiliki tanggung jawab
penting sebagai petugas LAPAS. Work value adalah hal yang melatarbelakangi individu untuk melakukan pekerjaan atau berperilaku di tempat kerja Penulis merasa sangat penting untuk melakukan penelitian gambaran work value pada petugas LAPAS kelas II A Jember karena tugas petugas LAPAS yang memiliki resiko tinggi dan harus memiliki work value didalamnya. Manfaat penelitian yang dilakukan untuk petugas LAPAS juga memberikan informasi pentingnya memiliki work value untuk melakukan pekerjaan di LAPAS dan menghasilkan kinerja yang
baik. Petugas LAPAS jika memiliki work value yang tinggi akan lebih meningkatkan kinerja dan bekerja dengan tanggung jawab besar, memiliki keterlibatan aktif dalam pekerjaannya, merasa puas akan pekerjaan yang dimiliki dan dapat memiliki status sosial yang baik Gambaran nilai kerja (work value) pada petugas LAPAS kelas II A Jember menjadi penting untuk diteliti, karena dari penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya belum banyak yang mengkaji terkait dengan nilai kerja (work value) petugas LAPAS, jika penelitian ini dilakukan maka akan sangat membantu instansi atau LAPAS kelas IIA Jember dalam mengidentifikasi petugas-petugas mana yang memiliki work value yang tinggi dan dapat menerima tanggungjawab yang penting. Maka dari itu peneliti lebih tertarik dan ingin mengkaji lebih dalam terkait gambaran work value pada petugas LAPAS kelas II A Jember.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah yang dirumuskan oleh peneliti yaitu bagaimana gambaran work value pada petugas LAPAS Kelas II A Jember?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dituliskan dapat ditentukan tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui gambaran work value pada petugas LAPAS dengan memperdalam data demografi dengan subjek yang telah ditentukan yaitu petugas LAPAS kelas IIA Jember.
D. Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian gambaran work value pada petugas LAPAS adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat mengembangkan kajian ilmiah dan menambah wawasan terkait dengan pengetahuan dibidang ilmu psikologi khususnya psikologi industry dan organisasi mengenai gambaran work value pada petugas LAPAS Kelas II-A Jember.
2. Manfaat Praktis a. Bagi pembaca
Bagi Pembaca penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu reference dalam memahami atau menambah wawasan terkait dengan gambaran nilai kerja yang ada pada petugas LAPAS.
b. Bagi Instansi
Penelitian ini dapat di gunakan sebagai panduan untuk membuat peraturan dan dapat digunakan untuk membuat program pembianaan
yang berbasis budaya atau mengembangkan peraturan guna optimalisasi kinerja petugas LAPAS.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan penelitian ini sebagai informasi tambahan atau dapat dijadikan rujukan dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan penelitian.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu work value berikut ini adalah pemaparan dari beberapa penelitian terdahulu yang
relevan dengan permasalahan yang akan dibahas, yaitu nilai kerja atau work value.
Ucanok (2008) The Effect of Work Values, Work-Value Congruence and Work Centrality on Organizational Citizenship Behavior. Vol: 2, No: 10, 2008.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana individu dalam melakukan pekerjaannya. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perempuan lebih mementingkan nilai-nilai universal daripada laki-laki yang lebih mementingkan nilai normatif. Karena nilai kerja normatif adalah terdiri dari hal-hal yang berorientasi pada keagamanan.
Ying Liu (2012) berjudul “The Connotation of Work Values: A Preliminary Review”. Vol. 8, No. 1; January 2012. Asian Social Science. Hasil dari penelitian ini adalah Nilai-nilai kerja dapat didefinisikan dari persperktif kecenderungan pilihan karir dan komitmen belajar dan bekerja, keyakinan tentang
keinginann nekerja, sikap dan pendapat, antisipasi hasil pekerjaan , mewakili aspek motivasi.
Daryanto (2013) meneliti terkait dengan “Dinamika Nilai Kerja: Studi Indigenous Pada Karyawan Yang Bersuku Jawa Di Pulau Jawa”. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui dinamika nilai kerja karyawan yang bersuku Jawa di pulau Jawa. Subjek dalam penelitian ini adalah 700 orang, yang berasal dari karyawan bersuku Jawa di pulau Jawa. Pulau Jawa sendiri terdiri dari lima provinsi, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Partisipan dalam penelitian ini adalah karyawan bersuku Jawa di pulau Jawa. Berdasarkan hasil dari penelitian ini adalah nilai kerja (work vaue) yang dianggap paling penting menurut karyawan Jawa, antara lain: disiplin,
loyalitas, jujur, tanggung jawab, totalitas, membina hubungan baik, motivasi, ekonomi, dan ibadah.
Peran Nilai Kerja Empat Faktor Dan Kepemimpinan Dengan Kontrak Psikologis Sebagai Mediator Terhadap Tim Kerja Efektif. Jurnal HUMANITAS Vol. 13 No. 1 . 62-71. Hasil penelitian menunjukkan ada peran nilai kerja faktor ekstrinsik, faktor instrinsik, faktor sosial, dan kepemimpinan tipe transformasional, tipe transaksional dengan mediator kontrak psikologis terhadap tim kerja efektif. Kontrak psikologis memiliki peran terbesar terhadap tim kerja efektif sehingga kontrak psikologis dapat digunakan sebagai alat prediktor terhadap tim kerja efektif.
Empat penelitian yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan dengan judul ”Gambaran Work Value pada Petugas LAPAS Kelas IIA Jember” adalah penelitian replikasi dimana
pembahasan dari setiap penelitian hampir sama. Perberbedaan dengan penelitian- penelitian sebelumnya terletak pada tema penelitian yang lebih mengeksplore tentang gambaran work value, selanjutnya adalah penelitian work value pada petugas LAPAS kelas IIA Jember belum pernah dilakukan mengingat juga petugas LAPAS kelas IIA Jember yang memiliki budaya Pandhalungan. Sasaran penelitian menggunakan seluruh petugas LAPAS karena petugas LAPAS memiliki pekerjaan yang berbeda dengan yang lainnya atau memiliki pekerjaan yang beresiko tinggi seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Metode pada penelitian kali ini menggunakan deskriptif kuantitatif yang tujuannya lebih pada memperdalam data demografis yang ada.