• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI BENCANA GEMPA BUMI SELAT SUNDA DAN MITIGASI NYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POTENSI BENCANA GEMPA BUMI SELAT SUNDA DAN MITIGASI NYA"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI BENCANA GEMPA BUMI SELAT SUNDA DAN MITIGASI NYA

Dipresentasikan via Webinar Dalam Rangka

100 Tahun Pemantauan Gunungapi Indonesia di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Bandung, 14 Juli 2020

Oleh :

Dr. Ir. Gede Suantika, MSc.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN GEOLOGI

PUSAT SURVEY GEOLOGI

Jln. Diponegoro no. 57 Bandung 40122

(2)

I. LATAR BELAKANG

EKONOMI

(3)

• Jalur Laut: Selat Sunda merupakan jalur pelayaran niaga dan militer yang menghubungkan antara Laut Cina Selatan dan Lautan Hindia. Jalur pelayaran kapal niaga sangat

ramai baik lingkup nasional maupun internasional.

• Kawasan Industri: Selat Sunda secara administratif masuk ke dalam Provinsi Banten (P. Jawa) dan Provinsi Lampung (P. Sumatera). Wilayah pantai di kedua provinsi telah

berkembang menjadi kawasan pelabuhan, pabrik, dan industri berat.

• Kawasan Wisata: Industri wisata juga telah berkembang pesat di kedua pantai wilayah provinsi ini.

NILAI STRATEGIS SELAT SUNDA

(4)

II. ASPEK GEOLOGI

REGIONAL

(5)

TATAAN TEKTONIK ASIA TENGARA DAN INDONESIA

(6)

Halmahera Arc Maluku

Trench Fault Movement Direction Volcanoes

Legend:

TATAAN TEKTONIK DAN VULKANIK INDONESIA

(Modified from Katili,1973)

EURASIAN PLATE

PACIPIC PLATE PHILIPPINE

PLATE

INDIAN - AUSTRALIAN PLATE

North Sulawesi Arc

(7)
(8)

SUMBER GEMPA BUMI INDONESIA

(9)

III. ASPEK GEOLOGI

SELAT SUNDA

(10)

Zhu et al., 2005 dan Hall,1997: Sejak 50 juta tahun lalu menyebutkan bahwa terjadi konvergensi/tubrukan antara Lempeng India dan

Lempeng Eurasia menyebabkan perubahan arah konvergensi

Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia di busur muka Sumatra ke arah baratlaut. Akibatnya terbentuk Sesar Sumatra dan bukaan Selat Sunda.

Huchon& Le Pichon, 1984 dan Malod drr., 1995 serta Harjono, dkk, 1991: Pola atau arah tumbukan lempeng di Jawa normal membentuk Trench Jawa (N100o E) dan di Sumatera oblique membentuk Trench Sumatra (N 140o E) menyebabkan terbentuk Sesar Semangko dan Sesar Mentawai. Sesar ini berakhir di bukaan Selat Sunda. Akibat ada gaya ekstensi arah barat laut–tenggara maka di Selat Sunda terbentuk sesar normal atau graben dan volcanic line (Panaitan, Krakatau,

Sebuku, dan Rajabasa).

PEMBENTUKAN SELAT SUNDA

(11)

SEISMOTEKTONIK SELAT SUNDA

Pada umumnya, struktur yang terdapat di Selat Sunda berarah baratlaut- tenggara dan litologi di wilayah pesisir tersusun oleh batuan Kuarter.

(12)

TATAAN TEKTONIK SELAT SUNDA

(13)

UPWELLING DI SELAT SUNDA

(14)

KEGEMPAAN SELAT SUNDA 2005-2020

(15)

KEGEMPAAN

SELAT SUNDA

(16)

IV. POTENSI BENCANA GEMPA

BUMI SELAT SUNDA

(17)

KATALOG GEMPA BUMI MERUSAK SELAT SUNDA DAN SEKITARNYA TAHUN 1800-2020

(18)

ANALISIS PROBABILISTIK BAHAYA GEMPA BUMI SELAT SUNDA

(19)

ANALISIS DETERMINISTIK BAHAYA GEMPA BUMI

SELAT SUNDA

(20)

ANALISIS BAHAYA GEMPA BUMI SELAT SUNDA DAN SEKITARNYA

Asdani, dkk (PSHA)

SNI

1726&PUPR 2017

(PSHA)

Amalfi, dkk (DSHA)

PGA 0,20-0,60 g 0,30-0,80 g 0,65 g

PSA, T=0,2 s 0,15-0,50 g 0,50-2,00 g 1,75 g

PSA, T=0,5 s - - 1,83 g

PSA, T=1,0 s 0,04-0,10 g 0,30-1,20 g 1,36 g

Catatan: PSHA=Probabilistic Seismic Hazard Analysis DSHA=Deterministic Seismic Hazard Analysis PSA=Probabilistic Safety Assessment

Probabilitas 2% terlampaui dalam 50 tahun

(21)

V. LANDASAN HUKUM

MITIGASI BENCANA DI INDONESIA

(22)

Landasan Hukum Mitigasi Bencana Di Indonesia

1. UU RI no. 24 Tahun 2007 tentang

”Penanggulangan Bencana”

2. UU RI no. 26 Tahun 2007 tentang

”Penataan Ruang”

(23)

UU no. 24 Tahun 2007 menegaskan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana guna memberikan

perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana

BAB II Pasal 4 tentang Landasan, Azas, dan Tujuan Penanggulangan bencana bertujuan untuk :

a. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana;

b. Menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;

c. Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana;

terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh;

d. Menghargai budaya lokal;

e. Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;

f. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan; dan

g. Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

BAB III Pasal 5 tentang Tanggung Jawab dan Wewenang

Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

(24)

UU no. 26 Tahun 2007 parameter kebencanaan menjadi basis pada Perencanaan Penataan Ruang.

Pasal 6 ayat 1:

Perencanaan penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ”rentan”

terhadap bencana.

Pasal 20, 23 dan 26 :

Rencana tata ruang wilayah pada tingkat nasional, propinsi dan atau kabupaten/ kota dapat ditinjau kembali lebih dari 1 kali dalam 5 tahun

apabila berkaitan dengan bencana alam skala besar.

Pasal 28 huruf c :

“Rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ”ruang evakuasi

bencana”, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah”.

Bab XI Ketentuan pidana mulai pasal 69 hingga pasal 75 :

Denda berupa kurungan penjara berkisar dari 3 hingga 15 tahun dengan denda berkisar antara Rp. 500.000.000,- hingga Rp. 5.000.000.000,- ,

pencabutan ijin usaha bila tidak didahului Analisa Risiko

(25)

• Bencana : Rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan/hilangnya harta benda, merusak

lingkungan, mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat

• Bencana Geologi : Bencana yang disebabkan oleh dinamika geologi dalam pencapaian keseimbangannya terdiri dari letusan gunungapi, gempabumi, tsunami dan gerakan tanah/tanah longsor.

• Mitigasi : Upaya/ langkah-langkah memperkecil dampak bencana

BENCANA, MITIGASI, DAN RISIKO

(26)

Risiko bencana : Kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat

berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan

gangguan kegiatan masyarakat. (UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana).

Risiko bencana geologi : potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana geologi pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

(27)

VI. MITIGASI BENCANA GEMPA

BUMI SELAT SUNDA

(28)

Tsunami Dampak/Bahaya Gempa Bumi

Likuifaksi

(29)

• Mitigasi Struktural: Membuat bangunan tahan gempa berdasarkan aturan bangunan tahan gempa. Bangunan tahan gempa artinya bangunan bila terkena goncangan hebat, minimal masih memberikan kesempatan kepada

penghuninya keluar untuk menyelamatkan diri. Membangun jalur evakuasi sesuai rencana tata ruang dan bangunan

permanen untuk penampungan pengungsi.

• Mitigasi Non-Struktural: Mitigasi ini meliputi

penelitian/riset/analisis bahaya gempa bumi, monitoring dan peringatan dini kegempaan, membuat peraturan bangunan tahan gempa dan pengawasannya, peningkatan kapasitas masyarakat menghadapi bencana gempa bumi, membuat analisa risiko/kerugian, dan perencanaan tata ruang

wilayah yang mempertimbangkan potensi/ancaman goncangan gempa bumi.

MITIGASI GEMPA BUMI

(30)

Pemetaan Kawasan Rawan Tsunami identifikasi

Tsunamigenic Sosialisasi Tanggap darurat

tsunami

Penyelidikan / riset Pemantauan

Gunungapi

Peingatan Dini Letusan gunungapi Sosialisasi

Pemetaan Kawasan Rawan Bencana

Pemetaan Kawasan Rawan Gempabumi Pemantauan sesar aktif dan

mikrozonasi gempabumi Sosialisasi Tanggap darurat

gempabumi

Pemantauan Kawasan Longsor Pemetaan Zona Kerentanan

Gerakan Tanah

Peringatan Dini Gerakan Tanah

Sosialisasi Tanggap Darurat

Gerakan Tanah

Sebelum Kejadian Gunungapi Setelah Kejadian

Gempabumi

Tsunami

Gerakan Tanah

Strategi Mitigasi Bencana geologi

(31)

MANAGEMEN

PENANGGULANGAN BENCANA

(32)

Sektor lain/

Daerah

Kegeologian

Penelitian/

Pemetaan

Peringatan dini Pemantauan

Informasi kerentanan dan kapasitas

(Non geologi)

Rekomendasi pemanfaatan

kawasan

Evakuasi

Penataan Ruang

Pengurangan Risiko

Bencana

Potensi Bahaya

KEGEOLOGIAN DALAM PEMBANGUNAN SEKTOR KEBENCANAAN DAN PENATAAN RUANG

Risiko Bencana

(33)

P

ARAMETER

A

NALISIS

R

ISIKO

Bahaya (Hazard) bencana geologi adalah potensi dinamika geologi (gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan gunungapi) yang dapat mengancam jiwa manusia dan lingkungannya.

Kerentanan (Vulnerability) bencana geologi meliputi kondisi

geografis, demografi, sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi di suatu wilayah pada jangka waktu tertentu yang dapat

meningkatkan potensi bencana dalam suatu wilayah.

Kapasitas (Capacity) obyek bencana geologi adalah perpaduan

kekuatan, karakter, dan sumber daya yang tersedia di masyarakat, komunitas atau organisasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menurunkan risiko bencana.

Risk = ___________________ Hazard X Vulnerability

Capacity

(34)

BAHAYA/HAZARD GEMPA BUMI

(35)

KERENTANAN

Kepadatan penduduk

Sarana dan Prasarana

Tataguna lahan

Permukiman sawah,

kebun/ladang/perairan hutan

Bangunan strategis Bangunan Umum Jalan, Jembatan, dll Sangat Padat

Padat Jarang

(36)

KAPASITAS: PERINGATAN DINI

(37)

Sosialisasi

- Rencana

Kontijensi - Top Table

Exercise - Gladi

Posko

Pelatihan/Drill

KAPASITAS: PENGETAHUAN KEBENCANAAN

(38)

KAPASITAS: INFRASTRUKTUR

Engineering /mengurangi dampak

Penataan Kota berbasis kebencanaan

Membangun pemecah gelombang

(39)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

( Saya suka menggambar mbak, tapi saya tidak percaya diri jika harus menunjukkan kepada teman-teman. Saya malu gambarnya agak jelek, saya merasa gambarnya kurang bagus.

Profil spektra FTIR minyak ikan patin yang diperoleh dari bagian kepala, belly flap, dan isi perut umumnya sama, namun ada perbedaan dalam ketajaman penyerapan FTIR khususnya pada

Aplikasi Pendaftaran Wajib Pajak Masal (PWPM) adalah program aplikasi yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memproses pemberian NPWP Orang Pribadi

Arah kebijakan yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan 5 pada sasaran 4 antara lain: (1) Peningkatan koordinasi dan harmonisasi setiap kebijakan berperspektif

Semua kemungkinan hasil evaluasi tidak akan memberi konsekwensi, selama keputusan yang diambil tidak harus dipertanggungjawabkan kepada pihak lain?. Atau selama proses

DAFTAR PESERTA PRAKTIK MENGAJAR 2 JURUSAN TARBIYAH STAIN PAMEKASAN DAN PENEMPATANNYA DI SEKOLAH/MADRASAH MITRA. TAHUN AKADEMIK 2015/2016

Penggunaan konsep Event-based Spatiotemporal Data Model (ESTDM) yang digunakan untuk pengembangan spatiotemporal data model pada data hotspot dapat menjawab kebutuhan