• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Bank sebagai lembaga keuangan memiliki fungsi utama yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana dari masyarakat untuk masyarakat yang tercantum dalam UU RI No.7 Tahun 1992 pada Pasal 3 UU Perbankan. Bank sendiri merupakan perantara antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana (Rifka et al., 2016:3). Salah satu unsur yang sangat diperhatikan oleh bank adalah tingkat kesehatannya. Kesehatan suatu bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter.

Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan bank dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan (Nur, 2015:1).

Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 berdampak terhadap semua sektor termasuk sektor perbankan dimana banyak bank yang mengalami kesulitan likuiditas dikarenakan nilai tukar rupiah yang semakin turun. Sektor perbankan Indonesia kembali mengalami krisis pada tahun 2008 dimana tingkat suku bunga terpaksa diturunkan agar konsumsi dan investasi masyarakat meningkat. Dua kondisi ini menunjukkan bahwa bank sangat rentan terhadap penarikan secara besar-besaran oleh nasabah. Karena itu pengawasan Bank Indonesia dilakukan untuk mengetahui kinerja dan tingkat kesehatan bank (Yusnita dan Evelyn,2019:2). Penilaian tingkat kesehatan bank juga dapat menjadi tolak ukur untuk memulai merger atau

(2)

penggabungan, dimana merger tersebut dilakukan untuk mempereoleh pertumbuhan yang cepat baik dalam ukuran pasar saham maupun diversifikasi usaha.

Pada tahun 2016 terdapat bank yang melakukan merger yang membentuk Bank Sinhan yaitu PT Bank Metro Express dengan PT Centratama Nasional Bank. Bank Shinhan Indonesia tercatat mempunyai 60 kantor di seluruh Indonesia dengan karyawan sebanyak 800 orang. Sebagai catatan, Bank Shinhan di Korea Selatan adalah salah satu dari bank terbesar dengan total asset sebesar Rp 3,159 triliun. Untuk Bank Shinhan Indonesia kedepannya memungkinkan akan ada tambahan modal inti yang dihasilkan. Pada tahun 2017 juga terdapat bank yang melakukan merger yaitu Bank HSBC dengan PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, nilai buku dan asset akan bertambah karena melakukan merger atau penggabungan. Yang kedepannya ingin memfokuskan pada usaha mikro, kecil, dan menengah. Selain itu, juga terdapat bank yang melakukan merger di tahun 2018 yaitu PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).

Selama sepuluh tahun terakhir ini banyak sejumlah bisnis baru pun dikembangkan , termasuk melahirkan inovasi produk dan layanan berbasis digital seperti Jenius dan BTPN Wow! Serta BLU. Sementara itu, SMBCI juga aktif berpartisipasi dalam pembiayaan sindikasi khususnya proyek infrastruktur dan industri pendukung. Hingga akhir Maret 2018, SMBCI telah menyalurkan kredit senilai Rp 64,3 triliun. Untuk tahun berikutnya pada tahun 2019 yaitu terdapat PT Bank Danamon Indonesia Tbk menyatakan akan memprioritaskan para karyawan selama proses penggabungan usaha dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BNP). Kedua entitas yang merupakan bagian dari Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc (MUFG) tersebut akan digabungkan, dimana Bank Danamon menjadi bank penerima penggabungan.

MUFG sebagai salah satu grup keuangan terbesar di dunia yakin bahwa investasinya di Bank Danamon akan memberikan nilai tambah bagi seluruh nasabah dan franchise Danamon. Untuk Bank Danamon sendiri akan mengakses kekuatan, keahlian dan jaringan MUFG untuk memfasilitasi

(3)

pertumbuhan Bank Danamon dalam mewujudkan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Area kolaborasi dan sinergi tersebut meliputi pembiayaan untuk rantai pasok otomotif, perbankan ritel, inovasi digital dan kemampuan manajemen risiko.

Sepanjang tahun 2020 terjadi peritiwa terkait dengan perencanaan penggabungan perusahaan publik di tanah air yang saat ini ramai diperbincangkan di sosial media dan di perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satunya adalah PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) yang merupakan anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (sri PetrochemicalBBRI) yang akan digabungkan dengan PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Mandiri Syariah (BSM). Dengan adanya penggabungan maka asset dari ketiga bank syariah tersebut bisa melesat, per Agustus 2020 Bank Syariah Mandiri mencatatkan asset Rp 112,1 triliun, BNI Syariah Rp 49,97 triliun, dan BRI Syariah Rp 51,8 triliun. Penggabungan tersebut akan menciptakan syariah dengan asset mencapai Rp 390 triliun dengan target pembiayaan bisa menembus Rp 272 triliun, dan pendanaan sekitar Rp 335 triliun.

Penilaian tingkat kesehatan bank sendiri dapat diukur melalui metode RGEC (Risk Profile, Good Governance,Earnings dan Capital) dan metode CAMELS, namun dalam peraturan Bank Indonesia terbaru dalam menilai tingkat kesehatan bank menggunakan metode RGEC dikarenakan metode RGEC tersebut penyempurna dari metode sebelumnya yaitu CAMELS.

Banyak penelitian terdahulu tentang penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan model RGEC. Penelitian terkait mengenai penilaian tingkat kesehatan bank : analisis peniliaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Central Asia, Tbk berdasarkan metode RGEC pada tahun 2012-2014, yang dilakukan oleh Dewa dan I Ketut (2017) menunjukkan bahwa hasil penelitiannya sehat. Fokus penelitian ini Risk Profile yang terdiri dari risiko pembiayaan (NPL), dan likuiditas (LDR), untuk Good Corporate Governance (GCG) diukur dengan self assesment dikatakan sangat sehat, sedangkan Earning diukur dengan menggunakan ROA dan NIM, dan Capital

(4)

(permodalan) diukur dengan menggunakan rasio CAR. Hasil penelitian ini adalah PT. Bank Central Asia, Tbk periode 2012-2014 berada di peringkat komposit 1 yang artinya bank secara umum sangat sehat dan dinilai sangat mampu untuk menghadapi pengaruh negatif signifikan yang berasal dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya.

Sementara itu penelitian Ana dan Husnul (2020) melakukan penelitian menegenai analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode RGEC pada Bank BJB menunjukkan bahwa penelitiannya mengalami penurunan untuk faktor Risk profile. Bisa dilihat dari faktor Risk profile dengan menggunakan rasio ROA periode 2015-2017 mengalami penurunan, pada tahun 2015 sebesar 1,86% dalam kondisi sangat sehat, tahun 2016 sebesar 1,37% dalam kondisi sehat, dan tahun 2017 sebesar 0,88% dalam kondisi cukup sehat. Kemudian dilihat dari faktor Earning dalam kondisi stabil dengan menggunakan rasio NIM periode 2015-2017, pada tahun 2015 sebesar 6,24% dalam kondisi sangat sehat, tahun 2016 sebesar 5,94% dalam kondisi sangat sehat, dan tahun 2017 sebesar 7,98% dalam kondisi sangat sehat. Kemudian untuk penelitian yang dilakukan oleh Zeze dan Dewi (2019) melakukan penelitian mengenai analisis tingkat kesehatan bank pada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dengan menggunakan metode RGEC periode 2013- 2017 fokus terhadap Risk profile yang terdiri dari risiko pembiayaan (NPF), dan likuiditas (FDR), sedangkan Earning diukur dengan menggunakan rasio ROA,ROE dan BOPO, dan Capital diukur dengan menggunakan rasio CAR.

Hasil penelitian ini adalah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk periode 2013- 2017 berada di peringkat komposit 4 yang artinya bank secara umum kurang sehat dan dinilai kurang mampu untuk menghadapi pengatuh negatif signifikan yang berasal dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Hadi dan Nurul (2020) melakukan penelitian dengan judul analisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC pada PT Bank BRI Syariah (Persero) 2013-2018 dengan menggunakan metode RGEC dan perhitungan nilai komposit akhir yang rata-

(5)

rata 65,71% atau PK > 61%, maka dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi cukup sehat memperoleh peringkat komposit akhir 3, dan dapat dijadikan penilaian bagi nasabah bank dalam memilih dan memutuskan untuk menggunakan jasa perbankan, selain itu PT Bank BRI Syariah dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya.

Berdasarkan uraian diatas dan hasil penelitian sebelumnya, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Konvensional dengan Metode RGEC ( Risk Profile, Good Governance, Earnings, Capital ) Periode 2015-2020”.

1.2 Rumusan Masalah

Peringkat komposit merupakan sebuah nilai akhir dari hasil penilaian tingkat kesehatan bank. Peringkat komposit sendiri ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat setiap faktor- faktor tingkat kesehatan bank yang meliputi Profil Risiko (Risk Profile), Good Corporate Governance, Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital) dengan memperhatikan signifikansi masing-masing faktor serta mempertimbangkan kemampuan bank dalam menghadapi perubahan kondisi di luar atau eksternal yang signifikan. (www.ojk.go.id). Kesadaran perusahaan dalam menilai tingkat kesehatan bank perlu dilakukan untuk mengetahui kesehatan bank.

Beberapa peneliti sebelumnya telah melakukan penelitian terkait dengan penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode RGEC.

Komang dan Luh (2016) menemukan bahwa penilaiannya mendapat peringkat sangat sehat dan Risk Profile berpengaruh signifikan terhadap peringkat komposit. Tata pengelolaan perusahaan yang baik juga diterapkan dengan menggunakan prinsip GCG (Good Corporate Governance) yang memiliki hubungan signifikan terhadap peringkat komposit (Hadi dan Nurul, 2020).

Jayanti (2015) melakukan analisis kinerja keuangan dengan pendekatan metode RGEC pada bank BUMN memiliki hubungan yang signifikan antara

(6)

Earnings terhadap peringkat komposit. Selain penelitian tersebut, Lubis (2017) juga meneliti mengenai pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba pada BPR di Indonesia yang memiliki hubungan signifikan antara Capital terhadap peringkat komposit.

Penilaian tingkat kesehatan bank pada umumnya dilakukan karena ingin mengetahui kondisi bank tersebut sehat atau tidak. Namun, dengan terbatasnya sample bank yang dilakukan penelitian terdahulu. Selanjutnya dapat dilakukan penelitian lagi karena ingin mengetahui tingkat kesehatan bank konvensional dengan menggunakan sampel 7 bank. Yang terdiri dari Bank BUMN dan Bank Swasta, untuk Bank BUMN peneliti mengambil sampel Bank BRI, Bank BNI dan Bank Mandiri sedangkan dari Bank Swasta peneliti mengambil sampel Bank BCA, Bank Permata, Bank OCBC NISP dan Bank Panin dengan mengambil laporan keuangan tahunan pada tahun 2016- 2020.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang akan diuji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Risk Profile berpengaruh secara signifikan terhadap Peringkat Komposit ?

2. Apakah Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh signifikan terhadap peringkat Komposit ?

3. Apakah Earnings berpengaruh signifikan terhadap peringkat komposit?

4. Apakah Capital berpengaruh signifikan terhadap peringkat komposit?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka penelitian ini bertujuan :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari Risk Profile terhadap penilaian Peringkat Komposit.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari Good Corporate Governance terhadap penilaian Peringkat Komposit.

(7)

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari Earnings terhadap penilaian Peringkat Komposit.

4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari Capital terhadap penilaian Peringkat Komposit

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat atau kegunaan penelitian ini bagi peneliti pada khususnya dan bagi pihak lain umumnya yaitu, sebagai berikut :

1. Secara Teoritis

Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memperluas dan memperkuat teori manajemen keuangan khususnya tentang bahasan analisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC dalam menilai tingkat kesehatan bank konvensional di Indonesia serta sebagai referensi bagi penelitian lain yang ingin melakukan penelitian berkaitan dengan tema peneliti.

2. Secara Praktis

Semoga hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi tambahan yang bermanfaat tentang bahasan analisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC dalam menilai tingkat kesehatan bank konvensional di Indonesia dan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para khalayak umum yang membaca hasil karya ilmiah.

1.5 Sistematika Penulisan Karya Ilmiah

Berdasarkan sistematika yang ditetapkan oleh Program Studi Sarjana Manajamen Fakultas Ekonomi Bisnis dan Ilmu Sosial Universitas Pelita Bangsa terdapat 5 sistematika dalam penulisan karya ilmiah yaitu sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

(8)

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan mengenai landasan teori yang meliputi menegenai beberapa variabel-variabel yang diteliti, penelitian terdahulu yang relevan, hipotesis dan model penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan mengenai jenis dan desain penelitian, variabel- variabel penelitian, definisi operasional dan pengukuran variabel, populasi dan metode pengambilan sampel, jenis, sumber dan metode pengambilan sampel, jenis, sumber dan metode pengumpulan data serta metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan mengenai tentang isi penelitian yang berisi deskripsi penelitian dan analisis data serta pembahasannya yang dapat diketahui hasil analisa yang diteliti mengenai hasil penelitian hipotesis dengan pengaruh variabel-variabel lainnya.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Referensi

Dokumen terkait

Dalam memahami proses fotodegradasi dan produk hasil degradasi pestisida diazinon, studi kinetika degradasi berperan penting di mana dengan adanya data tetapan laju,

Mayo (1994:73) memberikan beberapa catatan bagaimana memaksimalkan aset dengan melibatkan warga dengan pengelolaan model intervensi dalam sebuah komunitas. Dalam

Perubahan orientasi tentang kajian linguistik dari diakronis menuju ke sinkronis terjadi pada abad ke 19 yang merupakan tonggak dari sejarah linguistik

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

mental emosional yang mempunyai literasi kesehatan mental tinggi mempunyai peluang memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa dua kali dibandingkan dengan masyarakat yang

Pada hari ini Senin tanggal Dua Puluh Tujuh bulan Agustus Tahun Dua Ribu Dua Belas , kami selaku Pokja Pengadaan Barang/Jasa Satker MAN 8 Jakarta Kementerian Agama Provinsi

The bioplastic was produced from sorghum starch as a matrix and combined with filler (sorghum stalk), fiber (E. spinosum) , and plasticizer (glycerol).. Sorghum grain as a raw

Selama ini pungutan Daerah diatur dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun