14
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Di era yang serba modern ini, pendidikan tidak bisa terlepas dari kemajuan teknologi. Kualitas sumber daya manusia yang akan menjadi penerus tergantung oleh kualitas pendidikan yang dijalankan oleh sebuah negara. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kualitas pendidikan akan berbanding lurus dengan kondisi maupun kemajuan teknologi dari negara tersebut.
Mengutip Fuad Ikhsan dalam bukunya berjudul “Dasar-Dasar Kependidikan”, ia mengemukakan, pendidikan adalah proses yang berisikan berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat budaya dan serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi.
Dengan begitu pendidikan memiliki arti kegiatan dalam membantu individu untuk mampu bermasyarakat dengan baik, dalam artian mampu merubah sikap atau perilaku yang negatif menjadikan perilaku yang lebih produktif dan positif.
Terdapat banyak permasalahan yang dapat menyebabkan menurunnya karakter dari peserta didik. Salah satunya adalah melalui tontonan yang sebenarnya tidak memiliki faedah dan manfaat kepada para siswa/santri. Hal ini dibuktikan pada penelitian dari salah seorang dosen PGSD Universitas Ahmad Dahlan bahwa salah satu penyebab terjadinya degradasi moral adalah akibat terciptanya rasa
“kecanduan” dalam menggunakan teknologi modern yang salah satunya adalah melalui tontonan (Indriani, 2014). Sebenarnya, tontonan adalah sebuah media pemberian informasi yang jika digunakan akan mengarahkan personalia yang menonton menuju kepada arah yang positif, namun selama tontonan tersebut adalah jenis tontonan yang efektif dan edukatif atau dalam kategori hiburan yang relevan dengan kehidupan agar nilai-nilai dari tontonan baik dalam tontonan tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari (Setyaningsih, 2017).
15
Penurunan sensitivitas terhadap nilai moral utamanya pada nilai keagamaan yang disebabkan oleh tontonan yang terjadi pada Kabupaten Malang, terkhusus pada pedesaan yang masih menganut kebudayaan yang sangat kental seperti di Desa Tulus Besar selain karena kecanduan oleh alat-alat teknologi, juga karena faktor tontonan yang tidak memiliki relevansi dengan karakter religius siswa seperti tontonan “Jaran Kepang” yaitu kuda lumping dan juga tontonan “Adu Bantengan”
yang meski dua tontonan ini menurut (Adriansyah, 2016) adalah tontonan yang kental dengan budaya di tanah Jawa, namun tetap saja dua jenis tontonan ini tidak memiliki hubungan terhadap karakter, utamanya karakter religius siswa di sekolah Madrasah Diniyah Nuril Hidayah. Bukti bahwa tidak adanya relevansi dari dua jenis tontonan tersebut adalah dengan melihat fenomena bahwa pemain dari pertunjukan Jaran Kepang ataupun Adu Bantengan mengalami kesurupan saat bermain sangat dalam dengan permainan dan pertunjukan tersebut yang termasuk kedalam salah satu sifat kemusyrikan yang nyata dan jauh dari kata pendidikan karakter religius terhadap siswa/santri (Adriansyah, 2016).
Selain karena permasalahan yang diakibatkan perilaku menyimpang dari peserta didik yang salah satunya diakibatkan kurangnya pendidikan karakter akibat tontonan yang tidak memiliki relevansi terhadap peningkatan dan pembentukan karakter religius siswa, permasalahan dalam dunia pendidikan juga dialami oleh bagian sekolah atau birokrasi dari sekolah itu sendiri khususnya pada bagian pemimpin di sekolah dan juga tenaga pendidik di sekolah itu. Saat kini banyak permasalahan pendidikan yang terjadi, mulai dari masalah kurikulum, kualitas, kompetensi, bahkan kompetensi kepemimpinan baik itu pada jajaran atas maupun tingkat bawah. Berbagai keluhan terjadi di lapangan, baik pemimpin sekolah maupun para guru yang menyayangkan dimensi kepemimpinan seperti soal manajemen, disiplin, birokrasi dan administrasi yang kurang terorganisir dengan baik.
Dari itu, terdapat salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam menjalankan pendidikan karakter di sekolah yaitu dengan mengoptimalkan pembelajaran materi pendidikan agama, utamanya pada negara Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Peran pendidikan agama khususnya pendidikan
16
agama Islam dinyatakan sebagai salah satu cara efektif dalam mewujudkan pembentukan karakter religius siswa. Pendidikan agama adalah sarana perubahan norma maupun nilai moral untuk membentuk aspek afektif, yang berperan dalam mengendalikan aspek psikomotorik sehingga tercipta kepribadian manusia yang baik bukan hanya menilai dari segi kompetisi kognitif saja.
Selain itu, peran seorang guru dalam mengontrol, atau mengarahkan peserta didik untuk meningkatkan nilai karakter religius sangatlah penting. Peran guru di bidang pendidikan termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Tidak hanya menentukan keberhasilan dari sisi kognitif, guru juga berperan kuat dalam pendidikan karakter siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari suatu literature yang mengatakan bahwa peran guru sangat besar dalam memberikan pengaruh positif dalam membentuk karakter siswa. Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa dalam membangun karakter siswa, guru harus menjadi role model yang menularkan sikap positif kepada siswanya (Sachar, Gaurav. Jain, 2015).
Perlu diperhatikan pentingnya peran guru untuk memiliki kemampuan yang dapat membangun karakter religius bagi peserta didik. Karakter religius dalam islam identik dengan sebutan akhlak. Akhlak adalah kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil pengaruh kebaikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap atau bertindak. Karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, prilaku personalitas, sifat, tabiat, temperamen watak. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ mengemukakan bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Zubaedi, 2011).
Namun, patut untuk diketahui bahwa membangun karakter tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan (pendidikan formal), tetapi perlu juga bimbingan dari pendidikan nonformal (orang tua, teman, dan organisasi). Orang tua adalah pendidik pertama bagi siswa, sehingga mereka perlu melakukan pembinaan karakter yang lebih baik dengan memastikan anak-anaknya dapat akur dan berkomunikasi dengan lingkungan yang positif. Siswa menghabiskan lebih banyak
17
waktu untuk berkomunikasi di pendidikan non formal (orang tua, teman, organisasi dan lingkungan) daripada di pendidikan formal (lembaga pendidikan). Untuk itu diperlukan pendidikan nonformal untuk memberikan pengembangan karakter yang lebih baik dan juga perlu perhatian khusus dari seluruh pemangku kepentingan yang diberi kewenangan untuk memperkuat karakter peserta didik guna mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional di Indonesia (Anwar, Chairul. Saregar, Antomi. Hasanah, 2018).
Dari keseluruhan pemaparan yang telah disampaikan melalui studi kepustakaan atau literatur, maka peneliti dapat menghimpun dan mengidentifikasi masalah terkait pendidikan karakter khususnya karakter religius dari guru oleh siswa di sekolah. Suatu masalah yang sangat penting untuk diketahui bersama bahwa pendidikan karakter religius hanya ditemukan hadir pada sekolah yang berbasis islami layaknya sekolah Madrasah juga pada pesantren atau jika dalam jenjang universitas adalah pada Sekolah Tinggi Ilmu Agama, Universitas Islam saja. Padahal, menilik dari pemaparan sebelumnya bahwa pendidikan karakter khususnya karakter religius sangatlah penting dihadirkan dalam setiap jenjang pendidikan, baik kepada sekolah berbasis islam maupun pada sekolah umum negeri dan swasta.
Dengan penerapan pendidikan karakter religius maka akan menciptakan peserta didik yang memiliki integritas, memiliki moral dan akhlak yang baik, dan tutur bahasa dan gaya yang sopan. Hal ini juga dibuktikan bahwa dengan diciptakannya pendidikan karakter di sekolah, hal tersebut akan membentuk karakter baru siswa sesuai dengan karakter yang diinginkan oleh sekolah dan yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan masa kini (Rohmadi. Ariadi, 2019).
Permasalahan selanjutnya yang berhasil peneliti temukan adalah perihal penggunaan pendidikan karakter religius hanya sebatas pada mata pelajaran tertentu seperti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sehingga mengakibatkan peserta didik semakin sempit dalam memahami dan mengimplementasikan nilai religius tersebut. Seolah-olah, peserta didik hanya akan mengetahui nilai religius hanya ketika bertemu mata pelajaran agama atau mengimplementasikan nilai religius hanya jika bertemu guru agama. Hal tersebut
18
perlu diluruskan, terlebih kepada penggunaan kurikulum yang pada saat ini keseluruhan sekolah menerapkan kurikulum 2013 yang tidak hanya membahas tentang penilaian kognitif siswa namun juga perilaku, kesopanan dan tutur bahasa (aspek afektif) sudah sangat diperhatikan. Seperti yang diketahui bahwa kurikulum 2013 memiliki konten salah satunya adalah kompetensi inti (KI) yang terbagi menjadi 4 ranah yaitu kompetensi inti 1 membahas mengenai Ketuhanan, kompetensi inti 2 membahas mengenai perilaku kehidupan bermasyarakat, kompetensi inti 3 membahas mengenai materi atau teori pembelajaran dan kompetensi inti 4 membahas mengenai praktek dari teori atau materi dari sebuah pelajaran tersebut.
Dengan memerhatikan kompetensi inti pada kurikulum 2013 terutama pada kompetensi inti 1 untuk pendidikan karakter religius, idealnya guru langsung menyadari perannya yang membangun pendidikan karakter religius, bukan hanya kepada mata pelajaran agama Islam, namun juga kepada seluruh mata pelajaran dengan mengaitkan materi dengan ingatan siswa kepada kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam semesta dan menciptakan manusia-manusia yang mampu menuangkan inovasi, teori, hukum, postulat untuk kepentingan kehidupan bersama.
Hal ini yang masih kurang dilakukan oleh guru, bukan hanya sebatas pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam namun juga kepada mata pelajaran lainnya.
Dari itu, peneliti ingin melihat fenomena dari permasalahan yang telah diidentifikasi pada latar belakang penelitian yaitu melihat peran dari guru dalam membangun pendidikan karakter religius pada mata pelajaran di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang. Batasan pada penelitian yang akan diterapkan adalah dalam segi aspek religius yang akan diteliti adalah pada agama Islam sesuai pada sekolah yang akan dituju untuk melakukan penelitian.
Batasan penelitian kedua adalah aspek yang diperhatikan dalam pendidikan karakter religius adalah aspek integritas/moral/akhlak yang akan dituangkan melalui instrument kuesioner. Batasan penelitian ketiga adalah mengenai perihal peran guru dalam membangun pendidikan karakter religius pada mata pelajaran di sekolah yang dituangkan pada instrument lembar wawancara yang akan disebarkan kepada pihak siswa maupun guru. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul
19
penelitian yaitu “Pembentukan Karakter Religius Pada Peserta Didik di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian, peneliti dapat merumuskan masalah- masalah penilitian sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana peran guru dalam pembentukan karakter pendidikan religius peserta didik Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang?
1.2.2 Apa saja program pembentukan karakter relegius terhadap peserta didik di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang dalam membentuk pendidikan karakter religius dalam proses pembelajaran di sekolah?
1.2.3 Apakah pembentukan karakter religius terhadap peserta didik di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang memeiliki pengaruh terhadap akhlak peserta didik?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui peran guru Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang dalam membangun pendidikan karakter religius pada proses pembelajaran.
1.3.2 Untuk apa saja program pembentukan karakter relegius terhadap peserta didik di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang dalam membentuk pendidikan karakter religius dalam proses pembelajaran di sekolah
1.3.3 Untuk mengetahui apakah pembentukan karakter religius terhadap peserta didik di Madrasah Nurul Hidayah Desa Tulus Besar Kecamatan Tumpang memeiliki pengaruh terhadap akhlak peserta didik.
20
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penemuan dari penelitian ini, secara teori, diharapkan untuk meningkatkan karakter islami peserta didik di madrasah Nurul Hidayah desa Tulus Besar kecamatan Tumpang.
Secara praktek, hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan pedoman atau petunjuk untuk menambah sudut pandang peran seorang guru dalam meningkatkan karakter peserta didik. Selain itu, peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi sebuah referensi bagi guru untuk menambah ilmu pengetahuan dalam mengajar karakter peserta didik. Khususnya penelitian ini diharapkan untuk guru pendidikan islam sebagai bekal untuk membangun karakter islami peserta didik.
Peneliti juga mengharapkan penelitian ini mampu menjadi pengetahuan tambahan peserta didik dalam memahami karakter religius sebagai seorang peserta didik yang beragama khususnya pada sekolah madrasah yang keseluruhan siswanya memeluk agama islam.
1.5 Defenisi Istilah-Istilah
Untuk mengurangi kesalah pahaman maksud atau makna, peneliti memberikan definisi istilah-istilah dalam judul sebagi berikut:
1.5.1 Peran Guru
Dapat didefinisikan sebagai guru yang mengontrol peserta didik untuk melakukan hal-hal yang ditentukan oleh guru di dalam kelas ataupun di luar kelas supaya situasi kelas yang interaktif dapat tercipta. Selain itu guru sebagai pengarah dalam proses belajar mengajar untuk mengarahkan peserta didik sesuai pembelajaran. Agar proses belajar mengajar berjalan efektif guru juga berperan sebagi pemimpin dalam mengolah proses belajar mengajar. Guru sebagai tenaga pendidik selalu memainkan peran penting dalam dunia nya yaitu dunia kependidikan. Peran seorang guru berkaitan dengan apa yang sebenarnya dilakukan individu (perilakunya) sebagai role model, yang akan diterapkan oleh siswa mereka dalam kehidupan sehari-hari baik didalam sekolah juga pada lingkungan rumah peserta didik (Adams & Adams, n.d.).
21
Faktor yang memengaruhi peran guru terbagi menjadi dua yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru tentang perannya sendiri dalam menyampaikan pelajaran. Faktor eksternal meliputi pandangan dan harapan dari peran guru, yang muncul dalam pemangku kepentingan lainnya, seperti siswa, orang tua, kolega, pimpinan sekolah, dan masyarakat. Kedua jenis faktor tersebut juga merupakan bagian penting dari identitas profesional seorang guru. Faktor internal yang mempengaruhi pemahaman tentang peran guru dibuat oleh guru itu sendiri dan dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori: keyakinan guru sendiri tentang peran mana yang penting dan harapan guru untuk perannya (Makovec, 2016).
1.5.2 Karakter Religius
Didalam agama Islam identik dengan sebutan akhlak. Akhlak adalah kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil pengaruh kebaikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap atau bertindak. Karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, prilaku personalitas, sifat, tabiat, temperamen watak (Zubaedi, 2011). Pelaksanaan penguatan pendidikan karakter agama membutuhkan peran dan partisipasi berbagai pihak(Victorynie et al., 2020). Dalam hal ini, salah satu pihak yang berperan penting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter agama bagi peserta didik adalah keluarga(Sukendar, A., Usman, H., & Jabar, 2019). Keluarga dianggap sebagai salah satu elemen yang mendukung keberhasilan proses pendidikan karakter agama, karena keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan siswa. Selain itu, intensitas kebersamaan antara siswa dan keluarganya jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah. Pendidikan karakter yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar harus mendapat porsi yang lebih besar dari pada pendidikan pengetahuan. Pendidikan karakter di sekolah dasar diberikan sebesar tujuh puluh persen, sedangkan di sekolah menengah pertama diberikan sebanyak enam puluh persen (B Singh, 2019).
1.5.3 Peserta Didik
Dapat juga didefinisikan sebagai anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar untuk mendapatkan ilmu yang masih memerlukan bimbingan dan arahan
22
dalam membentuk kepribadian. Dikutip dari referensi yang terkait penelitian ini bahwa peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan (Dalimunthe, 2017).