• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMODELAN RANTAI PASOK BALIK (REVERSE SUPPLY CHAIN) PADA PERUSAHAAN PRODUSEN KARPET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMODELAN RANTAI PASOK BALIK (REVERSE SUPPLY CHAIN) PADA PERUSAHAAN PRODUSEN KARPET"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PEMODELAN RANTAI PASOK BALIK (REVERSE SUPPLY CHAIN) PADA PERUSAHAAN PRODUSEN KARPET

Maulida Butar Butar

Universitas Gunadarma Jalan Margonda Raya No. 100 ([email protected])

ABSTRAK

Perhatian terhadap rantai pasok balik meningkat dikarenakan peningkatan nilai produk dan teknologi pada akhir rantai pasok serta dampak lansung dari undang-undang lingkungan yang baru. Strategi desain untuk rantai pasok balik masih relatif belum dieksplorasi dan terbelakang.

Sementara itu, mengukur kinerja rantai pasok juga menjadi penting karena pemahaman, kolaborasi, dan integrasi telah meningkat di antara anggota rantai pasok. Ini juga membantu perusahaan untuk menargetkan segmen pasar yang menguntungkan atau mengidentifikasi area untuk peningkatan. Makalah ini akan fokus pada pengukuran kinerja rantai pasok balik di perusahaan yang memproduksi karpet. Kerangka umum sederhana perusahaan akan disajikan serta model matematisnya. Model umum sederhana ini dianggap dapat diterapkan oleh usaha kecil menengah untuk mengoptimalkan sistem rantai pasok balik mereka.

Kata Kunci: rantai pasok balik, pemodelan sistem, perusahaan karpet

Increasing attention has been given to the reverse supply chain because of the increasing value of products and technology at the end of direct supply chains as well as the impact of new green legislation. Design strategies for reverse supply chains have remained relatively unexplored and underdeveloped. Meanwhile measuring supply chain performance has also become impo rtant as understanding, collaboration and integration has increased between supply chain members. It has also helped companies to target profitable market segments or identify areas for service improvement. This paper will focused on measuring performance of reverse supply chain in carpet companies. A simple general framework of the company will be presented as well as the mathematical models. This simple general model considered able to be applied by small medium enterprise to optimise their reverse supply chain systems.

Keywords; reverse supply chain; carpet companies; modeling system

PENDAHULUAN

Rantai pasok balik menangani aliran balik dari produk yang dikembalikan oleh konsumen. Secara luas sering diartikan sebagai proses perencanaan, implementasi dan pengawasan dari aliran kembali baik itu bahan baku, barang setengah jadi, barang in-process inventory, kemasan dan produk akhir dari mulai proses manufaktur hingga proses pembuangan yang tepat. Berkembangnya rantai pasok balik erat disebabkan oleh bertumbuhnya kesadaran akan isu-isu lingkungan serta dampak negatif kelangkaan sumber daya

alam. Rantai pasok balik mejadi kebutuhan ketika produk memiliki umur hidup yang semakin pendek tuntutan dari konsumen yang semakin beragam dan cepat berubah serta semakin menjamurnya toko retail dengan katalog seperti layaknya e-commerce atau yang biasa disebut toko online. Dimana persentase pengembalian produk yang telah dibeli lebih besar kemungkinannya.

Di Indonesia konsep rantai pasok balik masil relatif baru untuk pada akademisi dan praktisi industri. Hal ini dikarenakan di Indonesia penambahan nilai barang

(2)

oleh isu lingkungan sangat kecil, kepuasan pelanggan (customer service) sering dilakukan seminimum mungkin oleh para pelaku industri. Pemberian masa garansi telah banyak dilakukan oleh pelaku industri di Indonesia termasuk pelaksana usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Fokus penanganan produk kembali pada konsumen masih sebatas produk-produk yang dikembalikan pada masa garansi produk.

Tanpa adanya kesadaran ataupun ketertarikan akan rantai pasok balik.

Rantai pasok balik juga dapat dilihat dari penanganan masalah lingkungan di Indonesia, praktiknya sudah berlangsung sangat lama. Dengan cara (tidak resmi) seperti pengumpulan dan daur ulang sampah telah dilakukan terutama untuk sampah kemasan (produk) baik plastik maupun kertas, sampah kertas, dan sebagian sampah elektronik (baik produk maupun bagiannya). Hal ini melibatkan banyak pihak seperti pemilah sampah, penampung, pengelola, hingga ke pembeli. Hanya saja sistem ini memiliki banyak kekurangan; sistem berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan akibat dekat dengan pemukiman; adanya kemungkinan material dari suatu produk yang masih bisa digunakan dibuang akibat pengetahuan dan alat yang minim;

bahan-bahan berbahaya dari suatu produk yang dibuang dengan bebas. Lebih jauh sistem ini hanya dapat mengelola produk- produk akhir rumah tangga dan hampir tidak dapat menangani produk-produk akhir dari industri terutama elektronik.

Meningkatnya perhatian yang diberikan pada area studi Rantai Pasok Balik atau Reverse Supply Chain (RSC) tidak terlepas dari semakin jelas bagi perusahaan bahwa produk balik merupakan salah satu cara untuk memperoleh peningkatan keuntungan jika produk balik ini dikelola dengan baik.

Rantai pasok balik merupakan rantai pasok yang menangani arus balik produk dari pengguna. Penggunaan RSC

meningkat pesat di banyak industri seperti automobile, elektronik, penerbit buku, katalog retail dan lainnya [1]. Tingginya tingkat pengembalian di industri juga salah satu yang menjadi pendorong meningkatnya studi tentang rantai pasok balik [2]. Tingkat pengembalian cukup tinggi pada industri seperti pakaian, internet retails dan computer manufacture [3].

Berbeda dari rantai pasok (maju), strategi umtuk rantai pasok balik cenderung kurang digali dan kurang berkembang [4].

Tetapi, produk balik dan sistem rantai pasok balik memberikan kesempatan untuk mendapat keuntungan yang lebih.

Oleh karena itu, rantai pasok balik sudah seharusnya di atur sebagai proses bisnis yang dapat menciptakan keuntungan untuk perusahaan. Rantai pasok balik merupakan area yang masih belum tereksplorasi. Terlebih lagi bagaimana optimasi rantai pasok balik dapat dilakukan sebagai panduan manager perusahaan dalam melihat sistem rantai pasok balik di perusahaan.

Tulisan ini akan menitikberatkan pada optimasi rantai pasok balik pada industri daur ulang karpet. Tulisan ini akan menjelaskan:

1. Model aliran produk balik pada industri karpet.

2. Model matematik dan penggunaan biaya sebagai matrik kinerja.

3. Area yang dimungkinkan untuk diperbaiki sebagai bagian dari optimasi rantai pasok balik.

TELAAHPUSTAKA Rantai Pasok Balik

Rantai pasok balik atau reverse supply chain (RSC) merupakan serangkaian aktivitas yang dibutuhkan untuk mengembalikan produk akhir atau produk yang sudah tidak digunakan entah itu dibuang, digunakan kembali atau dijual kembali [5].

(3)

Suatu perusahaan memiliki pilihan untuk membuka atau menutup RSC. Jika sistem dibuka, artinya produk dalam rantai pasok balik akan menuju tujuan yang berbeda- beda dari rantai pasok awal. Jika ditutup, artinya produk akan menuju dan terhubung pada rantai pasok awal dan menciptakan rantai tertutup [6]. Guide and Wassenhove [7] menyatakan bahwa perusahaan dapat berhasil mengatur rantai pasok balik mereka jika, rantai pasok balik dan rantai pasok (maju) dikoordinasi dan dicipkakan sistem tertutup atau closed loop supply chain.

Untuk membuat struktur rantai pasok balik yang baik , Guide and van Wassenhove [8] mengatakan bahwa yang paling baik adalah membagi rantai menjadi lima kunci dan baru kemudian di analisa. Untuk memahami kesuluruhan konsep rantai pasok, beberapa kriteria diilustrasikan pada gambar 1.

Gambar 1. Kriteria RSC [8]

Pengembalian produk dari konsumen atau pengguna biasanya dikarenakan beberapa hal [9]. Beberapa klasifikasi kategori produk yang dikembalikan oleh beberapa

penulis dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel I. Klasifikasi Produk Kembali

Salah satu faktor dalam mencapi kinerja rantai pasok balik yang efektif adalah adanya penjadwalan. transportasi dan jaringan yang efisien [12]. Fleischmann et al [13] menggambarkan model jaringan untuk perbaikan , beberapa fasilitas yang terkait:

 disassembly center,

 perusahaan untuk produksi ulang,

 dan gudang distribusi untuk menyimpan produk yang belum diproses dan yang dikembalikan untuk diproses.

Pada rantai pasok balik, ada beberapa tambahan proses jika dibandingkan dengan rantai pasok (maju). Proses itu tergantung dari kondisi (kualitas) dari produk kembali. Berdasarkan hal tersebut proses yang cocok dipilih dan pilihan penggunaan kembali dilakukan [14].

Thierry et al [15] menyatakan bahwa ada lima bagian penting dari proses re- manufaktur: repairing; refurbishing;

remanufacturing; cannibalisation (dalam konteks ) and recycling.

Rantai Pasok Balik pada Industri Karpet

Di US lebih dari 4.7 milyar pounds sampah karpet dibuang konsumen. Dan 95% dari itu dibuang ke pembuangan akhir disetiap tahunnya [16].

Kekhawatiran meningkat dikarenakan kapasitas pembuangan dan tumpukan karpet yang sangat sulit dan mahal untuk di tangani. Oleh karena itu proses recovery karpet sangat diperlukan. Tidak hanya dapat menghemat proses produksi

Authors Categories of Product Returns

Rogers and Tibben- Lembke [10]

Reverse flow of products Reverse flow of packaging De Brito and Dekker

[11]

Manufacturing phase Distribution phase Customer use returns

(4)

dan meningkatkan keuntungan tapi lebih jauh lagi dapat meningkatkan kepedulian akan lingkungan. Faktor kunci dari penanganan karpet yaitu; pengumpulan, pensortiran dan pengunaan kembali.

Gambar 2 memperlihatkan diagram alir dari proses recycling karpet.

Product Collection

Test/Sort Resale/Reuse

Product

Disassembly

Size Reduction

Separation by Materials

Resale/Reuse part

Disposal

Market

Gambar 2. Diagram alir dari proses recycling karpet

Dalam tulisan ini, re-manufaktur produk merupakan salah satu cara untuk mengurangi biaya produksi dibandingkan dengan memproduksi baru. Artinya dibutuhkan lebih sedikit bahan baku dan proses serta pada saat bersamaan dapat mengurangi biaya lingkungan.

Dari literatur yang ada maka prototype pertama tentang rantai pasok balik pada industri karpet di buat. Gambar 3 memperlihatkan bagaimana produk dari konsumen mebali dan aktifitas-aktifitas apa saja yang dilalui oleh produk balik tersebut.

Gambar 3. Prototype pertama rantai pasok balik perusahaan karpet

LATAR BELAKANG PERUSAHAAN

Perusahaan merupakan studi kasus pada tahun 2004 [17] . Perusahaan bergerak pada industri karpet dan mengkhususkan pada daur ulang karpet. Tulisan ini membahas proses daur ulang dari karpet yang dikembalikan.

Karpet yang dikembalikan (dari perseorangan maupun organisasi) dikirim ke recovery centre dan diterima pada gudang recovery centre. Di recovery centre, karpet di proses berdasarkan kondisi karpet. Proses kimia dan mekanik akan mengubah karpet menjadi bahan baku. Proses konversi ini merupakan proses disassembly dan refurbishment, dimana polimer nilon di karpet diubah menjadi unit monomer yang dapat digunakan sebagai bahan baku pada manufaktur karpet. Proses ini disebut depolymerisation. Tiga material utama pada iproduksi karpet adalah nilon;

produk-produk kimia seperti polypropylene dan polyester; dan kemasan [17].

Rantai pasok balik pada industri karpet memiliki tantangan diantaranya tidak adanya kepastian permintaan dan penawarannya. Waktu kedatangan serta

(5)

jumlah dari karpet yang dikembalikan juga tidak diketahui secara pasti. Lebih lanjut biasanya peramalan juga sulit dilakukan.

METODOLOGI PENELITIAN

Pada penelitian kali ini akan dilakukan beberapa langkah yang dapat dilihat pada gambar 4

Gambar 4. Alur Penelitian

Pada kegiatan pertama akan dilakukan studi pustaka mengenai rantai pasok balik, pemodelan dan pengukuran kinerjanya.

Langkah berikutnya adalah melakukan pengumpulan data yang berupa proses produk kembali pada perusahaan karpet dan data-data apa saja yang terlibat didalamnya.

Setelah seluruh data terkumpul, maka akan dibuat model umum proses dari produk kembali pada perusahaan tersebut.

Selanjutnya model matematika akan dibuat berdasarkan model umum yang ada. Model matematika akan menghitung seluruh biaya yang terlibat dalam rantai pasok balik. Pengukuran kinerja akan menggunakan model matematika dengan tujuan minimasi biaya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model Rantai Pasok Balik

Dalam model ini, gudang di recovery centre menerima keseluruhan karpet yang dikembalikan oleh konsumen. Karpet di disassembly dan diproses hingga menjadi bahan baku dan dikirimkan ke manufaktur plant. Semua kegiatan ini berlangsung di Recovery Centre. Karpet akan diproses hingga menjadi bahan baku dan dikirim ke manufaktur plant sesuai dengan permintaan.

Untuk karpet yang diproses, hanya nilon yang digunakan kembali sedangkan yang lainnya akan di dispose. Nantinya manufaktur akan membeli bahan-bhan lain untuk produksi karpet dari supplier.

Dan proses produksi berjalan hingga barang jadi akan dikirim ke distributor sebelum akhirnya sampai ditangan konsumen.

Karpet yang dikembalikan mengalami beberapa tingkatan proses disassembly.

Pada tingkat pertama proses disassembly, karpet mengalami pengurangan ukuran.

Karpet-karpet yang tebal dan besar di hancurkan hingga menjadi kecil.

Selanjutnya proses kimia dilakukan untuk memisahkan nilon dari komponen lainnya. Nilon yang sidah dipisahkan ini akan digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan karpet baru [17]. Gambar 5 menunjukkan bagaimana tinggkatan proses disassembly pada recovery centre.

Bahan baku yang sudah di-refurbished akan digunakan kembali, sedangkan material lain akan dikirim ke tempat pembuangan. Seluruh bahan baku yang diperoleh dari proses di recovery centre akan digunakan kembali dalam proses produksi di manufaktur plant.

Pada manufaktur plant, bahan baku dari recovery centre berupa nilon akan

(6)

digunakan bersama bahan baku baku baru dari supplier untuk menghasilkan karpet baru. Karpet baru ini akan akan disimpan kemudian di kirimkan ke distributor untuk penjualan ke konsumen. Gambar 6 memperlihatkan model umum untuk aliran produk.

Returned Carpet

Size Reduction

Mechanical separation of carpet components

Solvent extraction of nylon from carpet

Depolymerization of nylon

Nylon as Raw Materials

Gambar 5. Tingkatan proses disassembly Tujuan dari model ini adalah meminimalkan biaya denga batasan, kapasitas gudang di recovery centre;

gudang di manufacture plant; pekerja

tersedia; kapasitas produksi; dan permintaan akan produk baru.

Model Matematika

Dari model matematika ini, akan dilihat bagaimana pengaruh produk balik pada keseluruhan biaya. Ini merupakan langkah pertama pada pengukuran kinerja.

Permintaan akan produk baru di gunakan

Customer A

Organisation B

Disassembly Warehouse

Raw materials

Disposal

Distributor

Recovery

Shop/retail

other

Warehouse

Manufacture

Useful material

Supplier (for parts and materials)

Refurbish

Manufacture Plant

Gambar 6. Model umum untuk aliran produk

(7)

untuk melihat pengaruh produk balik.

Gambar 7 menunjukan grafik permintaan.

Gambar 8 menunjukkan total biaya jika rata-rata produk balik tinggi dan gambar 9 jika rata-rata rendah.

Gambar 7. Permintaan Produk

Gambar 8. Total biaya untuk produk balik tinggi

Ga mbar 9. Total biaya untuk produk balik rendah

Ga mbar 10. Perbandingan Biaya

KESIMPULAN

Dengan permintaan akan produk baru yang sama terdapat perbedaan akan jumlah biaya. Hal ini menunjukkan bahwa produk balik mempengaruhi secara signifikan total biaya produksi.

Dari total biaya secara keseluruhan dapat dilihat bagaimana perbedaan total biaya untuk rata-rata produk balik rendah lebih sedikit dari produk balik tinggi. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada perusahaa n karpet ini produk balik penting untuk diamati dan dikelola dengan baik sebagai salah satu keran keuntungan perusahaan.

Di period-period berikutnya dapat dilihat bahwa total biaya jika rata-rata produk balik tinggi lebih rendah daripada jika rata-rata produk balik rendah. Dengan adanya material yang dapat digunakan dari proses yang berlangsung di Recovery Centre, pembelian material baru dapat dikurangi. Itu mengakibatkan turunnya biaya dan meningkatnya kinerja perusahaan.

Dari gambar 10 dapat dilihat bahwa biaya pada manufaktur plant jauh lebih banyak dari biaya yang dikeluarkan di recovery centre. Hal ini menunjukan bahwa diperlukan lebih banyak produk balik untuk menekan biaya di manufaktur plant.

Sehingga diharapkan nantinya diperoleh optimum jumlah produk balik agar biaya

(8)

manufaktur menjadi lebuh sedikit. Akan tetapi, hal ini sulit dipenuhi dlam rangkaian sistem rantai pasok dikarenakan tidak adanya kepastian akan jumlah produk balik dan kapan porduk tersebut kembali.

Studi yang sebagian besar fokus kepada matrik dari rantai pasok balik, dan tidak ada yang menyebutkan bagaimana rantai pasok balik ini diukur. Lebih jauh studi yang ada jarang yang memperhatikan proses re-manufacturing dan hanya fokus kepada apa yang terjadi di recovery centre. Pada tulisan ini diperlihatkan suatu model matematika sederhana yang juga memperhatikan proses re- manufacturing. Lebih jauh tulisan ini juga menmberikan langkah pertama yang dapat dilakukan untuk optimasi sistem rantai pasok balik di perusahaan produsen karpet.

Kedepannya diharapkan dapat lebih dipelajari proses apa saja yang paling mempengaruihi seluruh kinerja sistem.

Proses mana pada manufaktur plant yang paling memakan biaya. Dan berapa jumlah produk balik yang diharapkan agar sistem menjadi optimum.

DAFTARPUSTAKA

1. Shear, H., T. Speh, and J. Stock, Many happy (product) returns. Harvard business review, 2002. 80(7): p. 16-17.

2. Campbell, D., 10 Red Hot BI Trends.

Information Management, 2009.

3. Rogers, D.S., R.S. Tibben-Lembke, and R.L.E. Council, Going backwards:

reverse logistics trends and practices.

Vol. 2. 1999: Reverse Logistics Executive Council Pittsburgh, PA.

4. Blackburn, J.D., et al., Reverse supply chains for commercial returns.

California management review, 2004.

46(2): p. 6-22.

5. Guide, V.D.R., T.P. Harrison, and L.N.

Van Wassenhove, The challenge of closed-loop supply chains. Interfaces, 2003. 33(6): p. 3-6.

6. Blumberg, D.F., Introduction to management of reverse logistics and closed loop supply chain processes.

2004: CRC Press.

7. Van Wassenhove, L.N. and V. Guide, Closed-loop supply chains. 2003:

Pittsburgh.

8. Guide, V.D.R. and L.N. Van Wassenhove, Closed-loop supply chains:

practice and potential. Interfaces, 2003.

33(6): p. 1-2.

9. Rogers, D.S. and R. Tibben‐Lembke, An examination of reverse logistics practices. Journal of business Logistics, 2001. 22(2): p. 129-148.

10. De Brito, M.P. and R. Dekker, A framework for reverse logistics. 2004:

Springer.

11. Patterson, K.A., C.M. Grimm, and T.M.

Corsi, Adopting new technologies for

supply chain management.

Transportation Research Part E:

Logistics and Transportation Review, 2003. 39(2): p. 95-121.

12. Moore, R., Reverse Logistics–the least used differentiator. A UPS Supply Chain Solutions White Paper, Alpharetta, 2005.

13. Fleischmann, M., et al., Quantitative models for reverse logistics: a review.

European journal of operational research, 1997. 103(1): p. 1-17.

14. Rahimifard, A., S. Newman, and S.

Rahimifard, A web-based information system to support end-of-life product recovery. Proceedings of the Institution of Mechanical Engineers, Part B: Journal of Engineering Manufacture, 2004.

218(9): p. 1047-1057.

15. Thierry, M., et al., Strategic issues in product recovery management.

California management review, 1995.

37(2).

16. Stock, J.R. and J.P. Mulki, Product returns processing: an examination of practices of manufacturers, wholesalers/distributors, and retailers.

Journal of business Logistics, 2009.

30(1): p. 33-62.

17. Wang, Y., Carpet recycling technologies. Recycling in textiles, 2006:

p. 58-70.

Gambar

Gambar  2  memperlihatkan  diagram  alir  dari proses recycling karpet.
Gambar 4. Alur Penelitian
Gambar 6. Model umum untuk aliran produk
Gambar  8  menunjukkan  total  biaya  jika  rata-rata produk balik tinggi dan gambar 9  jika rata-rata rendah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Pabrik Beras Sukoreno Makmur telah melakukan aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi dalam sistem manajemen rantai pasok padi

Pengukuran kinerja rantai pasok ikan bandeng beku dapat dilakukan melalui pendekatan SCOR dengan menggunakan metrik kinerja yang telah ditetapkan dalam supply

Green Supply Chain Management (GSCM) atau manajemen rantai pasok hijau adalah pengintegrasian pemikiran yang terkait dengan lingkungan ke dalam manajemen rantai

Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Komoditas Cabai Merah Besar Di Kabupaten Jember.. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen

1) Kinerja Rantai Pasok PT Alas Indah Remaja dapat dikategorikan sebagai “Baik”. 2) Peningkatan Kinerja Rantai Pasok perusahaan diprioritaskan pada proses Source karena

Salah satu aspek yang berpengaruh dalam manajemen perusahaan adalah manajemen rantai pasok (Supply Chain Management), di dalam manajemen rantai pasok terdapat strategi

Supply Chain Operations Reference Model, SCOR Version 8.0 Overview menjelaskan pemetaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran model yang jelas mengenai aliran material,

Dimensi dengan bobot tertinggi dari rantai pasok AGS1 adalah fleksibilitas,yang berarti jenis rantai pasok ini lebih leksibel dalam melakukan proses-proses inti, seperti