ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER POLA KEMITRAAN INTI PLASMA (Studi Kasus Plasma Agus Suhendar di Desa Patambran,
Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor)
SKRIPSI
JULIARTI SETYO MURTI KARMIDI H34076084
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
RINGKASAN
JULIARTI SETYO MURTI KARMIDI. Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan Inti Plasma (Studi Kasus Plasma Agus Suhendar di Desa Patambran, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor). Skripsi.
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan ANITA RISTIANINGRUM)
Peternakan merupakan sektor yang memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penyedia lapangan pekerjaan, sumber devisa negara dan penyedia bahan pangan. Peranan penting peternakan menyebabkan peternakan menjadi sektor yang diminati pengusaha untuk dijadikan bisnis sumber penghasilan utama maupun sampingan.
Usaha peternakan yang banyak diminati adalah peternakan ayam broiler karena memiliki permintaan yang tinggi. Bogor merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki permintaan ayam broiler tinggi karena jumlah penduduknya yang mencapai 5 juta jiwa dan harga daging ayam di tingkat konsumen lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi, kambing dan domba, sehingga ayam broiler memiliki potensi pasar di Bogor.
Usaha peternakan ayam broiler juga memiliki masalah-masalah yaitu: (1) Persaingan pemasaran produk; (2) Kenaikan harga input dan; (3) Penurunan harga produk. Permasalahan-permasalahan tersebut sering membuat peternakan ayam broiler terutama peternakan ayam broiler rakyat mengalami kerugian bahkan kebangkrutan.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu kerjasama kemitraan. Kemitraan adalah suatu kerjasama bisnis antara peternak dan pengusaha untuk mencapai tujuan bersama, namun dalam kerjasama kemitraan terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi kedua belah pihak.
Usaha peternakan Agus Suhendar adalah peternakan ayam broiler rakyat di Bogor yang memiliki kapasitas 9.000 ekor ayam per periodenya. Peternakan Agus Suhendar bergabung dengan kemitraan CV. Tunas Mekar Farm untuk mengatasi permasalahan persaingan pemasaran produk, kenaikan harga input dan penurunan harga produk. Pada sistem kemitraannya, peternakan Agus Suhendar mendapat sistem harga kontrak tetap penjualan ayam. Harga tersebut menghindarkan peternakan Agus Suhendar dari penurunan penerimaan akibat jatuhnya harga di pasar tetapi juga menyebabkan penerimaan tetap. Sementara itu, biaya DOC dan pakan terus meningkat setiap periodenya. Penerimaan tetap tetapi harus menutpi biaya yang terus meningkat setiap periodenya menyebabkan pendapatan peternakan Agus Suhendar menurun. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan pada peternakan Agus Suhendar untuk melihat apakah kerjasama kemitraan yang dilakukan usaha peternakan layak dilanjutkan atau harus dilakukan evaluasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis kelayakan usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar sistem kemitraan pola inti plasma. (2) Menganalisis sensitivitas usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar terhadap kemungkinan terjadinya peningkatan harga input DOC dan pakan serta penurunan harga jual.
Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan Agus Suhendar, Desa Patambran RT 02/04 Semplak Barat, Kemang utara, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor, plasma dari CV. Tunas Mekar Farm (TMF). Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2011.
Metode pengumpulan data menggunakan metode study case.
Respondennya adalah manajer CV. TMF, pemilik peternakan Agus Suhendar dan karyawan peternakan.
Penelitian mengkaji aspek non finansial dan aspek finansial. Kriteria aspek non finansial berdasarkan aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan produksi, aspek hukum, aspek manajemen dan organisasi, dan aspek ekonomi dan sosial.
Kriteria aspek finansial yang digunakan adalah net present value (NPV), internal rate of return (IRR), net benefit cost ratio (Net B/C), payback period, dan analisis sensitivitas deskriptif menggunakan switching value .
Analisis kelayakan non finansial usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar layak dijalankan. Aspek pasar layak karena peternakan Agus Suhendar aman dari kerugian akibat jatuhnya harga, memiliki pasar, tidak menghadapi masalah distribusi produk, dan menghasilkan produk yang berkualitas. Aspek teknis dan produksi layak karena peternakan Agus Suhendar memiliki lahan dan kandang yang memenuhi kualifikasi, pengadaan bibit dan pakan yang tepat waktu dan berkualitas, pengadaan dan manajemen kesehatan yang disiplin dan teratur, ketersediaan bahan-bahan penunjang yang terbaik dan tepat waktu, memiliki tenaga kerja yang berpengalaman, jujur dan pekerja keras, dan proses produksi yang sistematis. Aspek manajemen dan organisasi layak karena memiliki pembagian tugas yang jelas, terperinci dan tertulis, sehingga manajemen usaha berjalan dengan baik. Aspek hukum layak karena memiliki ketentuan kerjasama tertulis yang jelas dan saling memuaskan kedua belah pihak, dan mendapatkan izin pendirian dari RT/RW. Aspek ekonomi dan sosial layak karena tidak merugikan lingkungan sekitar.
Hasil analisis kelayakan finansial usaha peternakan Agus Suhendar layak dijalankan. Nilai NPV positif yaitu sebesar Rp 45.021.751,00, Net B/C lebih besar dari 1 yaitu 1,99, IRR lebih besar dari discount rate (6,5 persen) yaitu sebesar 41,46 persen, dan payback period 1,98627 atau satu tahun 11 bulan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan usaha rentan terhadap kenaikan harga DOC lebih dari 16,6 persen dan kenaikan harga pakan lebih dari 6,1 persen dan penurunan harga jual ayam lebih dari 1,2 persen.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER POLA KEMITRAAN INTI PLASMA (Studi kasus plasma Agus Suhendar di Desa Patambran,
Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor)
JULIARTI SETYO MURTI KARMIDI H34076084
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
Judul Skripsi : Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan Inti Plasma (Studi Kasus Plasma Agus Suhendar di Desa Patambran, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor).
Nama : Juliarti Setyo Murti Karmidi NIM : H34076084
Disetujui, Pembimbing
Ir. Anita Ristianingrum, MSi NIP 19671024 199302 2 001
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kursnadi, MS NIP 19580908 198403 1 002
Tanggal Lulus :
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan Inti Plasma (Studi Kasus Plasma Agus Suhendar di Desa Patambran, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor)” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, April 2012
Juliarti Setyo Murti Karmidi H34076084
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ambarawa 04 Juli 1986. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Karmidi dan Ibunda Sunaryati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Sasana Wiyata II Bogor pada tahun 1998 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2001 di SLTPN 2 Bogor. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMUN 3 Bogor diselesaikan pada tahun 2004.
Penulis diterima pada Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan Jurusan Agribisnis Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan Inti Plasma (Studi Kasus Plasma Agus Suhendar di Desa Patambran, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor)”.
Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan usaha secara non finansial dan finansial peternakan ayam broiler pola kemitraan inti plasma, studi kasus plasma Agus Suhendar.
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik yang membangun ke arah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, April 2012 Juliarti Setyo Murti Karmidi
UCAPAN TERIMAKASIH
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. Ir. Anita Ristianingrum, MSi., selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
2. Ir. Burhanuddin, MM., yang telah menjadi pembimbing akademik dan seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.
3. Orangtua dan adik tercinta Letda Infanteri Deddy Setya Wijaya untuk setiap dukungan cinta kasih dan doa yang diberikan. Semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.
4. Pihak CV. Tunas Mekar Farm dan Agus Suhendar Farm, terutama Pak Agus atas waktu, kesempatan, informasi, dan dukungan yang diberikan.
5. Fazriah dan Bima, Ima, Ipop, Indra, Choy, Citay, Derry, Intan, Fitria, Ayu dan Saud atas semangat, motivasi dan bantuan yang sangat berarti selama penyusunan skripsi.
6. Teman-teman seperjuangan dan teman-teman Agribisnis angkatan tiga atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terimakasih atas bantuannya.
Bogor, April 2012
Juliarti Setyo Murti Karmidi
i
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Kegunaan Penelitian ... 8
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 9
II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Gambaran Umum Usaha Peternakan Ayam Broiler ... 10
2.1.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler ... 10
2.1.2. Kemitraan ... 10
2.1.3. Karakteristik Ayam Broiler ... 12
2.2. Faktor-faktor Produksi ... 13
2.2.1. Bibit Ayam (Day Old Chick) ... 13
2.2.2. Pakan ... 14
2.2.3. Obat-obatan, Vaksin dan Vitamin ... 14
2.2.4. Tenaga Kerja ... 15
2.2.5. Bahan Penunjang (sekam, listrik dan bahan Bakar) ... 15
2.3. Hasil Penelitian Terdahulu ... 16
2.3.1. Kemitraan ... 16
2.3.2. Analisis Kelayakan Usaha ... 19
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 23
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 23
3.1.1. Studi Kelayakan Proyek ... 23
3.1.2. Analisis Biaya dan Manfaat ... 23
3.1.3. Laba Rugi ... 24
3.1.4. Aspek-aspek Analisis Kelayakan ... 25
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 30
IV METODE PENELITIAN ... 33
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33
4.2. Jenis dan Sumber Data ... 33
4.3. Metode Pengumpulan Data dan Analisis Data ... 33
4.3.1. Analisis Kualitatif ... 34
4.3.2. Analisis Kuantitatif ... 35
4.4. Asumsi-asumsi Dasar ... 38
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 40
5.1. CV. Tunas Mekar Farm ... 40
ii
5.1.1. Sejarah CV. Tunas Mekar Farm ... 40
5.1.2. Visi dan Misi CV. Tunas Mekar Farm ... 41
5.1.3. Struktur Organisasi CV. Tunas Mekar Farm .... 41
5.2. Peternakan Agus Suhendar ... 44
5.2.1. Sejarah Peternakan Agus Suhendar ... 44
5.2.2. Lokasi Peternakan Agus Suhendar ... 45
5.2.3. Sumber Daya Manusia ... 45
5.3. Pola Kemitraan antara CV. Tunas Mekar Farm dan Peternakan Agus Suhendar ... 46
5.3.1. Prosedur Penerimaan Plasma ... 46
5.3.2. Isi Kontrak Perjanjian ... 46
VI ANALISIS NON FINANSIAL ... 49
6.1. Aspek Pasar dan Pemasaran ... 49
6.1.1. Permintaan dan Penawaran ... 49
6.1.2. Harga ... 51
6.1.3. Produk ... 52
6.2. Aspek Teknis dan Produksi ... 53
6.2.1. Lahan dan Kandang ... 53
6.2.2. Bibit (DOC) ... 55
6.2.3. Pakan ... 56
6.2.4. Obat-obatan, Vitamin dan Vaksin ... 57
6.2.5. Bahan Penunjang Lainnya (Sekam, Listrik dan Gas) ... 59
6.2.6. Tenaga Kerja ... 59
6.2.7. Proses Produksi ... 60
6.3. Aspek Manajemen dan Organisasi ... 63
6.4. Aspek Hukum ... 64
6.5. Aspek Ekonomi dan Sosial ... 64
VII ANALISIS FINANSIAL ... 66
7.1. Inflow (Arus Manfaat) ... 66
7.1.1. Penerimaan Penjualan Ayam ... 66
7.1.2. Penerimaan Penjualan Kotoran Ayam ... 68
7.1.3. Penerimaan Insentif ... 68
7.1.4. Nilai Sisa ... 70
7.2. Outflow (Arus Biaya) ... 70
7.2.1. Biaya Investasi ... 70
7.2.2. Biaya Operasional ... 72
7.2.3. Analisis Laba Rugi ... 75
7.3. Analisis Kelayakan Finansial ... 75
7.4. Analisis Sensitivitas (Switching Value) ... 77
VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 79
8.1. Kesimpulan ... 79
8.2. Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 81
LAMPIRAN ... 83
iii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan
Pekerjaan Tahun 2011 ... 1
2. Ekspor Pertanian Indonesia Menurut Sektor pada Bulan Oktober 2011 ... 2
3. Produksi Pangan Nasional Tahun 2009 ... 2
4. Populasi Peternakan Nasional Berdasarkan Komoditi- komoditinya Tahun 2008-2010 ... 3
5. Permintaan Rata-rata Daging di Kota Bogor pada Tahun 2009 . 4 6. Harga Rata-rata Daging di Kota Bogor ... 4
7. Peningkatan Harga DOC dan Pakan Peternakan Agus Suhendar 2009 ... 6
8. Biaya dan Pendapatan Peternakan Agus Suhendar 2009 ... 7
9. Hak dan Kewajiban CV. Tunas Mekar Farm dan Peternakan Agus Suhendar ... 47
10. Penetapan Harga Tetap CV. Tunas Mekar Farm 2009 ... 48
11. Keperluan Temperatur DOC ... 61
12. Penerimaan Penjualan Ayam Broiler Hidup ... 67
13. Penerimaan Penjualan Kotoran Ayam ... 68
14. Penerimaan Insentif Mortalitas ... 69
15. Penerimaan Insentif FCR ... 69
16. Biaya Investasi, Nilai Sisa dan Penyusutan ... 71
17. Biaya Tetap yang Dikeluarkan Peternakan Agus Suhendar ... 72
18. Harga dan Biaya Variabel pada Peternakan Agus Suhendar ... 73
19. Total Biaya Variabel per Tahun Peternakan Agus Suhendar ... 74
20. Hasil Perhitungan Laba Rugi Peternakan Agus Suhendar ... 75
21. Hasil Analisis Kelayakan Finansial Peternakan Agus Suhendar ... 76
22. Hasil Analisis Switching Value Peternakan Agus Suhendar ... 77
iv
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Kerangka Pemikiran Operasional ... 32
2. Struktur Organisasi CV. Tunas Mekar Farm ... 43
3. DOC (Day Old Chick) ... 56
4. Pemberian Pakan pada Fase Starter ... 57
5. Pemberian Pakan pada Fase Finisher ... 57
6. Vaksinasi ND Perlakuan Tetes Mata ... 58
7. Vaksinasi ND Perlakuan Suntik Subcutaneous ... 58
8. Vaksinasi Gumboro Melalui Air Minum ... 58
9. Struktur Organisasi Peternakan Agus Suhendar ... 63
v
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Tabel FCR Peternakan Peternakan Agus Suhendar ... 84
2. Program Vaksin dan Vitamin Peternakan Agus Suhendar ... 86
3. Program Pemeliharaan Peternakan Agus Suhendar ... 87
4. Laporan Laba Rugi Peternakan Agus Suhendar ... 89
5. Cashflow Peternakan Agus Suhendar ... 90
6. Hasil Analisis Switching Value Kenaikan Harga DOC 16,6 Persen ... 92
7. Hasil Analisis Switching Value Kenaikan Harga Pakan 6,1 Persen ... 94
8. Hasil Analisis Switching Value Penurunan Harga Jual Ayam 1,2 persen ... 96
9. Kuesioner Penelitian ... 98
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peternakan adalah kegiatan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi. Peternakan merupakan sektor yang memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penyedia lapangan pekerjaan, sumber devisa negara dan penyedia bahan pangan.
Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011
No. Lapangan Pekerjaan 2011 Persentase (%)
1. Peternakan dan pertanian 39.328.915 36
2. Pertambangan 1.465.376 1,5
3. Industri pengolahan 14.542.081 13
4. Listrik, gas dan air 239.636 0,7
5. Bangunan 6.339.811 5
6. Perdagangan dan perhotelan 23.396.537 21
7. Transportasi dan komunikasi 5.078.822 5
8. Keuangan 2.633.362 3
9. Jasa Kemasyarakatan dan sosial 16.645.859 15
Total 109.670.399
Sumber: BPS Indonesia (2011)
Tabel 1 menunjukkan tenaga kerja yang bekerja di bidang peternakan dan pertanian pada tahun 2011 berjumlah 39.328.915 jiwa atau 36 persen dari total tenaga kerja yang bekerja di bidang lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa peternakan merupakan salah satu bidang penyedia lapangan pekerjaan di Indonesia.
Peternakan juga memiliki peranan dalam penyumbang devisa bagi negara Indonesia. Data ekspor pertanian dapat dilihat pada Tabel 2.
2 Tabel 2. Ekspor Pertanian Indonesia Menurut Sektor pada Bulan Oktober 2011
No. Sektor Oktober 2011
Volume (Kg) Nilai (US$)
1. Tanaman Pangan 53.275.710 55.301.104
2. Holtikultura 40.277.942 48.836.472
3. Perkebunan 2.257.739.662 3.183.129.268
4. Peternakan 91.725.895 147.386.267
5. Pertanian 2.443.019.209 3.434.653.111
Sumber: BPS Indonesia (2011)
Indonesia melakukan ekspor peternakan pada Oktober 2011 sebesar 91.725.895 kg yang bernilai US$ 147.386.267,00. Nilai tersebut menunjukkan peternakan merupakan salah satu sektor sumber devisa negara yang menghasilkan pemasukan cukup besar bagi Indonesia.
Peternakan juga berperan sebagai penghasil produk pangan sumber protein hewani yang berperan dalam pembangunan sumber daya manusia dari pemenuhan kebutuhan gizi rakyat Indonesia. Jumlah produksi peternakan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Produksi Pangan Nasional Tahun 2009
No. Jenis Komoditi Produksi
(ton)
Persentase (%)
1. Perikanan 556.123 1,7
2. Sayur-sayuran 11.863.919 35
3. Buah-buahan 16.672.519 50
4. Peternakan
(daging, telur, susu) 4.627.060 13,3
Total 33.719.621
Sumber: Deptan dan BPS (2009)
Berdasarkan data produksi pangan pada tahun 2009, peternakan menghasilkan produk sebanyak 13,3 persen dari total keseluruhan produksi pangan dan merupakan penghasil protein hewani tertinggi jika dibandingkan dengan produk perikanan. Hal tersebut menunjukkan peternakan adalah salah satu sektor yang berperan penting dalam penyediaan pangan.
3 Peranan penting peternakan seperti yang disebutkan di atas menyebabkan peternakan menjadi salah satu sektor yang diminati pengusaha untuk dijadikan bisnis sumber penghasilan utama maupun sampingan. Hal tersebut terlihat dari jumlah populasi ternak yang terus meningkat setiap tahunnya (Tabel 4).
Tabel 4. Populasi Peternakan Nasional Berdasarkan Komoditi-komoditinya Tahun 2008-2010
No. Komoditi 2008
(ekor)
2009 (ekor)
2010 (ekor)
1. Ayam buras 243.432.000 249.963.400 257.544.000
2. Ayam broiler 902.052.400 1.206.378.500 1.386.872.000
3. Ayam petelur 107.955.100 111.417.600 105.210.000
4. Babi 6.837.529 6.974.732 7.477.000
5. Domba 9.605.338 10.198.766 10.725.000
6. Itik 39.839.500 40.679.500 44.302.000
7. Kambing 15.147.433 15.815.317 16.620.000
8. Kerbau 1.930.716 1.932.927 2.000.000
9. Kuda 392.864 398.758 419.000
10. Sapi perah 457.577 474.701 488.000
11. Sapi potong 12.256.604 12.759.838 13.582.000
Jumlah 1.339.907.061 1.656.994.039 1.845.239.000 Sumber: Departemen Pertanian (2011)
Berdasarkan data di atas dapat dilihat jumlah populasi ternak tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 terus meningkat. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kegiatan dalam bisnis peternakan.
Salah satu komoditi peternakan yang terus meningkat dan memiliki populasi terbanyak berdasarkan data di atas adalah ayam broiler. Hal tersebut dikarenakan permintaan masyarakat akan ayam broiler cukup tinggi di setiap daerahnya.
Kota Bogor sebagai daerah yang berpenduduk terbanyak di Jawa Barat menurut data Badan Pusat Statistik Jawa Barat yang mencapai kurang lebih 5 juta merupakan salah satu daerah yang memiliki permintaan rata-rata akan ayam
4 broiler yang tinggi. Permintaan rata-rata daging kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Permintaan Rata-rata Daging di Kota Bogor pada Tahun 2009
No. Daging Jumlah Permintaan (kg/bulan)
1. Sapi 150.000
2. Kerbau 20.000
3. Kambing 275.000
4. Domba 250.000
5. Ayam broiler 550.000
Sumber: Dinas Perikanan dan Peternakan Kota Bogor 2009
Dinas Perikanan dan Peternakan kota Bogor pada tahun 2009 mencatat permintaan rata-rata daging ayam broiler adalah 550.000 kg/bulan. Harga daging ayam broiler di Bogor juga lebih rendah dari harga daging lainnya (Tabel 6).
Tabel 6. Harga Rata-rata Daging di Kota Bogor
Daging
Harga Konsumen (Rp/Kg)
2007 2008 2009
Sapi 50.200,00 51.600,00 52.500,00
Kerbau 50.200,00 51.600,00 52.500,00
Kambing 39.700,00 40.100,00 30.000,00
Domba 39.700,00 40.100,00 30.000,00
Ayam Broiler 15.000,00 16.000,00 17.000,00
Sumber: Dinas Perikanan dan Peternakan Kota Bogor Tahun 2007-2009
Berdasarkan data diatas ayam broiler memiliki harga yang lebih rendah dibandingkan daging lainnya. Harga yang lebih rendah, permintaan rata-rata yang tinggi dan jumlah penduduk yang tinggi, menyebabkan usaha peternakan ayam broiler memiliki potensi pasar di Bogor. Faktor-faktor tersebut menyebabkan Bogor merupakan daerah yang memiliki potensi bagi berkembangnya usaha ayam broiler.
5 Usaha peternakan ayam broiler juga memiliki permasalahan.
Permasalahan dalam usaha peternakan ayam broiler yaitu : (1) Persaingan pemasaran produk; (2) Kenaikan harga input; (3) Penurunan harga produk.
Permasalahan-permasalahan di atas sering membuat usaha peternakan terutama peternakan rakyat yaitu peternakan dengan modal kecil yang memiliki populasi ternak sampai dengan 15.000 ekor mengalami kebangkrutan. Melihat kondisi ini pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan-kebijakan, salah satunya adalah kebijakan mengenai kerjasama kemitraan. Kemitraan adalah suatu kerjasama bisnis antara peternak dan pengusaha untuk mencapai tujuan bersama.
Kerjasama tersebut harus dilakukan secara adil sehingga masing-masing pihak yang terlibat harus mempunyai posisi dan kepentingan yang sama (Suharno, 1999).
Kerjasama dalam perusahaan kemitraan dibagi menjadi tiga jenis menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.
472/Kpts/TN/330/6/1996 yaitu Perusahaan Inti Rakyat (PIR) atau pola inti plasma, perusahaan pengelola dan perusahaan penghela.
Peternak dapat memilih salah satu jenis pola kemitraan yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menghindari kerugian dan kebangkutan. Namun apakah peternak yang bekerjasama dengan perusahaan kemitraan dapat tetap mendapatkan laba yang diinginkan, mengingat dalam kerjasama kemitraan terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi kedua belah pihak. Contohnya, harga kontrak tetap penjualan ayam yang menyebabkan penerimaan menjadi tetap, sementara harus menutupi biaya yang meningkat akibat harga input yang meningkat. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan usaha suatu peternakan yang bekerja sama dengan perusahaan kemitraan untuk melihat apakah kerjasama kemitraan yang dilakukan usaha peternakan layak dilanjutkan kerjasamanya atau harus dilakukan evaluasi kontrak atau melakukan kemitraan mandiri.
6 1.2. Perumusan Masalah
Peternakan Agus Suhendar adalah usaha peternakan rakyat yang didirikan pada tahun 2004 awal oleh Agus Suhendar di Bogor. Pada awal mulanya peternakan Agus Suhendar berdiri sendiri dengan kapasitas produksi peternakan 9.000 ekor ayam. Setelah beberapa periode, di tahun yang sama dengan berdirinya usaha peternakan, peternakan Agus Suhendar mengalami permasalahan persaingan pemasaran. Sebagai usaha peternakan rakyat yang baru merintis, peternakan Agus Suhendar belum memiliki tujuan pasar sasaran yang tetap.
Modalnya yang terbatas menyebabkan pemilik kesulitan dalam memasarkan produknya, beliau tidak memiliki tujuan pasar tetap dan tidak memiliki alokasi dana untuk mendistribusikan produknya ke pasar yang jauh dari area peternakan.
Akibatnya, pemilik mengalami kerugian penurunan kualitas, karena ayam broilernya tidak dapat segera dipasarkan. Pemilik akhirnya menjual ayam broiler dengan harga yang murah untuk menghindari kerugian yang lebih besar kepada pengumpul.
Masalah juga timbul dari harga input utama yaitu DOC dan pakan yang terus meningkat, dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Peningkatan Harga DOC dan Pakan Peternakan Agus Suhendar 2009
Input Periode Rata-
rata kenaik-
an
Rata- rata Harga
(Rp)
1 2 3 4 5
DOC
(Rp/ekor) 3.100,00 3.300,00 3.310,00 3.500,00 3.500,00 4.3 % 3.303,00 Pakan
(Rp/kg) 4.400,00 4.500,00 4.650,00 4.710,00 4.710,00 2 % 4.565,00 Sumber: Peternakan Agus Suhendar (2009)
Setelah beberapa periode berjalan dan menghadapi permasalahan di atas, peternakan Agus Suhendar memutuskan untuk bergabung dengan CV. Tunas Mekar Farm. CV. TMF adalah perusahaan peternakan pola kemitraan inti plasma yang melakukan fungsi perencanaan, bimbingan dan pelayanan sarana produksi, kredit, pengolahan dan pemasaran hasil tani dan bimbingan peternakan sambil menjalankan usahatani yang memiliki dan dikelola sendiri. CV. Tunas Mekar
7 Farm juga menetapkan sistem harga kontrak tetap, sehingga peternakan Agus Suhendar tidak perlu mengkhawatirkan penurunan harga jual di pasar.
Pada tahun 2009, peternakan Agus Suhendar mulai merasakan penurunan pendapatan. Penetapan sistem harga kontrak tetap pada Rp 12.350,00- 13.230,00/kg yang mencegah usaha peternakan Agus Suhendar mengalami kerugian akibat penurunan harga pasar, seringkali menjadi halangan bagi pemilik untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal saat harga pasar ayam broiler meningkat (Tabel 6).
Harga input DOC dan pakan yang terus mengalami peningkatan dan harga kontrak tetap menyebabkan penurunan pendapatan peternakan Agus Suhendar, kenyataan yang cukup membuat pemilik mulai mengkhawatirkan bagaimana kelangsungan usahanya di masa yang akan datang dengan sistem kemitraan inti plasma bersama CV. Tunas Mekar Farm (Tabel 8).
Tabel 8. Biaya dan Pendapatan Peternakan Agus Suhendar 2009
No
. Keterangan Periode Rata-
rata
Persen (%) 1
(000)
2 (000)
3 (000)
4 (000)
5 (000)
Jumlah
(000) (000) Biaya
variabel 8.800 9.000 9.000 9.000 5000
1 DOC 27.280 29.700 29.790 31.500 17.500 135.770 27.154 18,3
2 Pakan 137.000 116.500 137.250 116.000 64.325 571.075 114.215 74
3 Obat-obatan 485 628,1 2.170 818 370,2 4.471,8 894 0,6
4 Sekam 1.760 1.800 1.800 1.800 1.000 8.160 1.632 1
5 Gas 3.080 3.150 3.150 3.150 1.750 14.280 2.856 1,8
Biaya tetap 1 Gaji kepala
karyawan 675 675 675 675 675 3.375 675 0,4
2 Gaji
karyawan 5.400 5.400 5.400 5.400 5.400 27.000 5.400 3,5
3 Listrik 500 500 500 500 500 2.500 500 0,3
4 Sewa lahan 167 167 167 167 167 835 167 0,1
Total
pendapatan 40.225 33.894 39.353 30.146 11.601 767.466 Sumber: CV. TMF 2009
Untuk mengetahui seberapa besar sensitivitas usaha peternakan Agus Suhendar terhadap kenaikan harga DOC dan pakan perlu dilakukan analisis
8 sensitivitas terhadap variabel kenaikan harga DOC dan pakan karena variabel tersebut merupakan biaya terbesar dari keseluruhan biaya operasional yaitu biaya DOC sebesar 18,3 persen dan pakan pakan sebesar 74 persen (Tabel 8) serta penurunan harga jual ayam.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :
1) Bagaimana kelayakan usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar sistem kemitraan pola inti plasma dilihat dari aspek-aspek dalam studi kelayakan yaitu aspek non finansial yang terdiri dari aspek pasar dan pemasaran, aspek teknik dan produksi, aspek manajemen dan organisasi, aspek hukum serta ekonomi dan sosial serta aspek finansial ?
2) Bagaimana sensitivitas usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar terhadap kemungkinan terjadinya peningkatan harga input DOC dan pakan serta penurunan harga jual ayam?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka tujuan penelitian ini adalah :
1) Menganalisis kelayakan usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar sistem kemitraan pola inti plasma.
2) Menganalisis sensitivitas usaha peternakan ayam broiler Agus Suhendar terhadap kemungkinan terjadinya peningkatan harga input DOC dan pakan serta penurunan harga jual.
1.4. Kegunaan Penelitian
Penelitian mengenai analisis kelayakan usaha ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak :
1) Perusahaan : sebagai bahan masukan bagi peternakan untuk mengadakan evaluasi dan bahan pertimbangan untuk melanjutkan kerjasama pola kemitraan atau mandiri.
2) Perusahaan inti : agar tercipta kerjasama yang lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak.
3) Investor : sebagai bahan pertimbangan untuk menanamkan modal dan investasi ke usaha peternakan ayam broiler.
9 4) Penulis : sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan
dalam usaha peternakan ayam broiler.
5) Peneliti selanjutnya : sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya untuk penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi hanya mengkaji analisis kelayakan non finansial dan finansial peternakan Agus Suhendar sejak tahun 2009 dan perkiraan 5 tahun ke depan untuk mengetahui apakah kerjasama pola inti plasma yang dilakukan dengan perusahaan kemitraan CV. Tunas Mekar Farm yang memberlakukan harga kontrak tetap penjualan ayam layak untuk dilanjutkan mengingat harga input utama DOC dan pakan yang terus meningkat.
10
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum Usaha Peternakan Ayam Broiler 2.1.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler
Menurut Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.
940/Kpts/OT.210/10/97, usaha peternakan adalah suatu usaha pembibitan atau budidaya peternakan dalam bentuk perusahaan peternakan atau peternakan rakyat, yang dilakukan secara terus-menerus pada suatu tempat dan dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan komersial atau sebagai usaha sampingan untuk menghasilkan bibit/ternak potong, telur, susu, serta menggemukkan suatu jenis ternak termasuk mengumpulkan, mengedarkan dan memasarkan.
Dalam rangka membantu mewujudkan tujuan komersil dari usaha peternakan, pemerintah mengeluarkan Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Usaha Peternakan Ayam Broiler dalam bentuk SK Menteri Pertanian No.
472/Kpts/TN.330/6/96, yang isinya antara lain tentang pengelompokan usaha peternakan menjadi tiga kategori yaitu peternakan rakyat, pengusaha kecil peternakan, dan pengusaha peternakan. Peternakan rakyat yaitu usaha peternakan ayam yang jumlahnya tidak melebihi 15.000 ekor ayam pedaging per siklus.
Pengusaha kecil peternakan adalah usaha budidaya ayam ras yang jumlahnya tidak melebihi dari 65.000 per siklus. Pengusaha peternakan adalah perusahaan budidaya ayam pedaging yang jumlahnya lebih besar dari 65.000 ekor per siklus.
2.1.2. Kemitraan
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa terdapat permasalahan- permasalahan yang seringkali muncul dalam menjalankan usaha peternakan ayam broiler seperti persaingan pemasaran produk, kenaikan harga input, penurunan harga produk yang menyebabkan usaha peternakan mengalami kerugian bahkan kebangkrutan, pemerintah banyak mengeluarkan program dan kebijakan- kebijakan yang isinya mengenai peraturan-peraturan untuk melindungi para peternak terutama peternak usaha kecil. Salah satu program yang telah dikeluarkan pemerintah adalah program pengembangan kemitraan pada usaha perunggasan dan sapi potong. Selain untuk mengatasi permasalahan, program pengembangan kemitraan juga dirancang untuk membantu peternak dalam
11 meningkatkan produksi ternak atau daging dan meningkatkan pendapatan peternak.
Program tersebut tertuang dalam Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor 9 tahun 1995 yaitu : “Kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.”1
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 472/Ktps/TN.330/6/1996 membagi tiga jenis perusahaan kemitraan yaitu:
1) Perusahaan Inti Rakyat (PIR) atau pola inti plasma yaitu perusahaan yang melakukan fungsi perencanaan, bimbingan dan pelayanan sarana produksi, kredit, pengolahan dan pemasaran hasil tani yang dibimbing sambil menjalankan usahatani yang memiliki dan dikelola sendiri.
2) Perusahaan pengelola, yaitu perusahaan yang melakukan fungsi perencanaan bimbingan dan pelayanan sarana produksi, kredit, pengelolaan dan pemasaran hasil usahatani yang dibimbingnya tetapi tidak menyelenggarakan usahatani sendiri.
3) Perusahaan penghela yaitu perusahaan yang hanya melakukan fungsi perencanaan, bimbingan dan pemasaran hasil.
Fadilah (2007) mengartikan kemitraan sebagai usaha beternak ayam dengan cara menjalin kerjasama baik dengan pemodal, perusahaan pakan, maupun perusahaan pembibitan. Beberapa pola kemitraan yang sering dilakukan sebagai berikut :
1) Pola simpan pinjam yaitu peternak meminjam sejumlah modal untuk usaha budidaya ayam kepada pihak pemodal seperi bank. Pada akhir periode jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan tambahan persentase bunga atau persentase keuntungan yang besarnya telah disepakati lebih dahulu.
---
1Penjelasan Undang-undang No. 9 tahun 1995
12 2) Pola kemitraan dengan perusahaan pakan yaitu pola kemitraan dimana peternak hanya bermitra sebatas suplai pakan untuk usaha ayam tersebut.
Selebihnya peternak yang menyediakan. Peternak memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengelola usahanya, tetapi biasanya peternak memberikan jaminan kepada perusahaan pakan senilai pakan yang digunakan.
3) Pola kemitraan bagi hasil yaitu pola kemitraan yang terjadi antara peternak dan pihak lain, seperti pemodal atau perusahaan peternakan dengan sistem sharing. Contohnya peternak hanya memiliki sejumlah kandang, semua biaya operasional dan sarana produksi ternak disuplai dari pemodal atau perusahaan peternakan.
4) Pola kemitraan inti plasma yaitu pola kemitraan dimana peternak bermitra dengan perusahaan peternakan selaku inti. Banyak pola kerjasama yang ditawarkan, seperti bagi hasil atau sistem harga kontrak. Namun, prinsipnya semua sama, yaitu perusahaan peternakan berperan sebagai inti untuk membina peternak yang menjadi plasmanya agar lebih maju dan bisa mandiri.
Suharno (1999) menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu kerjasama bisnis antara peternak dan pengusaha untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut harus dilakukan secara adil sehingga masing-masing pihak yang terlibat harus mempunyai posisi dan kepentingan yang sama. Saragih (1998) mengemukakan syarat yang harus dipenuhi dalam pola kemitraan, yaitu syarat keharusan yang menginvestsasikan dalam wujud kebiasaan yang kuat antara mereka yang bermitra dan bersyarat kecukupan berupa adanya peluang saling menguntungkan bagi pihak-pihak yang bermitra melalui pelaksanaan kemitraan.
2.1.3. Karakteristik Ayam Broiler
Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal dalam masyarakat kita dengan sebutan ayam broiler, dewasa ini telah banyak diusahakan dan dikembangkan.
Menurut Rasyaf (2004), ayam ras pedaging adalah ayam jantan dan betina muda yang berumur di bawah 8 minggu ketika dijual, dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Di Indonesia, ayam broiler sudah dapat dipasarkan pada umur 5-6 minggu dengan bobot hidup antara 1,4-1,7 kg walaupun laju pertumbuhan belum mencapai maksimum, karena ayam broiler yang terlalu berat
13 sulit dijual. Ciri khas ayam broiler adalah: (a) Rasanya khas dan enak; (b) dagingnya empuk dan banyak; dan (c) Pengolahannya mudah tetapi cepat hancur dalam perebusan terlalu lama. Selain itu, Fadillah (2004) menyatakan bahwa keunggulan ayam ras pedaging (broiler) terlihat dari pertumbuhan berat badan yang cepat. Pertumbuhan berat badan yang cepat tersebut didukung oleh: (a) Temperatur udara di lokasi peternakan stabil dan ideal untuk ayam (23-26˚C); (b) Kuantitas dan kualitas pakan terjamin sepanjang tahun; (c) Teknik pemeliharaan yang tepat guna (dihasilkan produk yang memberikan keuntungan maksimal); dan (d) Kawasan peternakan terbebas dari penyakit.
2.2. Faktor-faktor Produksi
Fadilah (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usaha peternakan ayam ras pedaging adalah bibit ayam, pakan, tenaga kerja, obat-obatan, vaksin, dan vitamin serta bahan penunjang (sekam, listrik, dan bahan bakar).
2.2.1. Bibit Ayam (Day Old Chick)
Abidin (2002), menyatakan bahwa ayam ras pedaging merupakan hasil perkawinan silang dan sistem yang berkelanjutan sehingga mutu genetiknya bisa dikatakan baik. Mutu genetik yang baik akan muncul secara maksimal sebagai penampilan produksi jika ternak tersebut diberi faktor lingkungan yang mendukung, misalnya pakan yang berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Cahyono (2004) menyatakan bahwa umumnya jenis-jenis ayam ras yang banyak beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang merupakan turunan terakhir hasil perkawinan silang dari pejantan ras White cornish yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang berasal dari Amerika. Hasil perkawinan silang yang dikembangbiakan dari kedua ras tersebut menghasilkan DOC yang mempunyai daya tumbuh dan produksi yang tinggi terutama dalam hal kemampuannya mengubah ransum menjadi daging dengan sangat cepat dan hemat.
Rasyaf (2004) menyatakan bahwa pedoman untuk memilih DOC yaitu anak ayam berasal dari induk yang sehat agar tidak membawa penyakit bawaan,
14 ukuran atau bobot ayam yaitu bobot normal DOC sekitar 35-40 gram, mata cerah dan bercahaya, aktif dan tampak segar, DOC tidak memperlihatkan cacat fisik seperti kaki bengkok, mata buta atau kelainan fisik lainnya yang mudah dilihat serta tidak ada lekatan tinja di duburnya. Adapun keuntungan yang diperoleh apabila bibit yang digunakan berkualitas baik adalah tingkat mortalitas dan morbiditas yang rendah, lebih mudah dikelola, menghemat biaya pengobatan, dan keuntungan yang diperoleh akan baik.
Menurut Fadillah (2004), ada beberapa ciri bibit ayam ras pedaging yang berkualitas, yaitu : (a) Anak ayam yang sehat dan bebas dari penyakit; (b) Berasal dari induk yang matang umur; (c) Anak ayam yang terlihat aktif, mata cerah dan lincah; (d) Anak ayam memiliki kekebalan dari induk yang tinggi; (e) Bulu cerah, tidak kusam dan penuh; (f) Anus bersih, tidak ada kotoran atau pasta putih; (g) Keadaan tubuh ayam normal; dan (h) Berat anak ayam sesuai dengan standar strain, biasanya di atas 37 g/ekor. (Rasyaf, 2004).
2.2.2. Pakan
Menurut North dan Bell (1990), pakan ayam ras pedaging terdiri dari tiga bentuk, yaitu : (a) mash atau tepung, biasanya diberikan kurang dari dua minggu;
(b) crumble atau butiran halus, diberikan untuk ayam ras pedaging saat masa awal sampai masa pertumbuhan; dan (c) pellet, pakan untuk ayam ras pedaging masa akhir (4 minggu) digunakan pellet finisher.
2.2.3. Obat-obatan, Vaksin, dan Vitamin
Antibiotika adalah jenis obat-obatan yang merupakan bahan kimia, dihasilkan dari bakteri, yang berfungsi mencegah datangnya penyakit dan sebagai pemacu pertumbuhan ayam (Ensminger, 1992). Adapun cara penggunaan obat- obatan yaitu melalui air minum, pakan dan suntikan (Rasyaf, 2004).
Abidin (2002) menyatakan bahwa untuk lebih spesifik meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap bibit penyakit yang lebih spesifik, terutama penyakit yang disebabkan virus perlu dilakukan vaksinasi. Vaksinasi adalah proses memasukkan bibit penyakit yang sudah mati (disebut vaksinasi pasif) atau bibit penyakit yang sudah dilemahkan (disebut vaksinasi aktif) ke dalam tubuh ayam baik melalui injeksi (suntikan), campuran air minum, maupun tetes mata. Pada
15 peternakan ayam ras pedaging, jenis vaksin yang sering dipakai hanya new castle disease (ND) atau tetelo atau gumboro (Fadilah, 2004).
2.2.4. Tenaga Kerja
Rasyaf (2004) menyatakan bahwa peternakan ayam ras pedaging mempunyai kesibukan yang temporer terutama pagi hari dan pada saat ada tugas khusus seperti vaksinasi. Oleh karena itu, di suatu peternakan dikenal beberapa jenis tenaga kerja, antara lain : tenaga kerja tetap, tenaga kerja harian, dan tenaga kerja harian lepas dan kontrak. Umumnya tenaga kerja tetap adalah staf teknis atau peternak itu sendiri, karena sifatnya sebagai tenaga kerja atau karyawan bulanan, maka gaji mereka dimasukkan ke dalam biaya tetap peternakan dan bukan biaya variabel. Tenaga kerja harian dibayar harian atau sejumlah hari yang ditekuni, sedangkan tenaga kerja harian lepas dan kontrak bekerja hanya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan setelah itu tidak ada ikatan lagi. Menurut Fadillah (2004), untuk peternakan dengan skala 4.000 ekor diperlukan tenaga kerja berilmu peternakan dan terampil (terbiasa bekerja di peternakan) dan satu tenaga kerja kasar harian untuk pekerjaan seperti vaksinasi, tangkap ayam, membersihkan brooder (tempat indukan), menjual ayam dan sebagainya.
2.2.5. Bahan Penunjang (sekam, listrik, dan bahan bakar)
Menurut Abidin (2002), cahaya terbaik bagi pertumbuhan ayam adalah bersumber dari cahaya matahari, yang secara langsung membantu membentuk vitamin D di dalam tubuh ayam dan secara tidak langsung membantu ayam dalam menemukan pakan dan minum di dalam kandang. Pada malam hari atau jika cuaca sedang gelap, dibutuhkan sumber cahaya buatan baik berupa listrik maupun lampu minyak. Selanjutnya, Fadillah (2004), mengatakan bahwa intensitas cahaya pada malam hari yang diperlukan dari lampu harus setara dengan satu lampu bohlam 150 watt untuk luas lantai 93 m². Selama masa pemeliharaan awal (21 hari) per 1.000 ekor bibit ayam dibutuhkan gas LPG 50 kg sebanyak 5-7 tabung, minyak tanah 100-120 liter dan batubara 100-130 kg.
Menurut Fadillah (2004), sekam berperan penting dalam pemeliharaan ayam ras pedaging, terutama ayam yang dipelihara di dalam kandang postal (sistem liter), sekam berfungsi sebagai tempat tidur, tempat istirahat, dan tempat
16 beraktifitas ayam serta tempat menampung kotoran yang dikeluarkan ayam.
Sekam harus selalu dijaga agar tetap kering, tidak basah dan menggumpal.
2.3. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut adalah hasil penelitian terdahulu mengenai kemitraan untuk mengetahui bagaimana pola kemitraan pada usaha-usaha lain dan analisis kelayakan usaha, selanjutnya dibandingkan untuk melihat apa saja metode analisis yang digunakan oleh peneliti-peneliti dalam usaha yang berbeda dan bagaimana hasil penelitian terhadap kelayakan usaha yang telah diteliti dilihat dari aspek- aspek studi kelayakan untuk menjadi referensi dalam penelitian. Selain itu juga menekankan penelitian yang akan dilakukan memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya.
2.3.1. Kemitraan
Yustiarni (2011) dalam Evaluasi Kemitraan dan Analisis Pendapatan Usahatani Penangkaran Padi bersertifikat (Kasus Kemitraan: PT. Sang Hyang Seri Regional Manajer I Sukamandi, Kabupaten Subang), menggunakan metode IPA dan analisis pendapatan usahatani. Kerjasama kemitraan yang dilakukan pola inti plasma, PT Sang Hyang Seri (SHS) menyediakan lahan sewa untuk digarap oleh petani dengan luas 2 hektar, memberikan modal biaya panen, pinjaman sarana produksi dan benih sedangkan petani berhak mengelola lahan yang disediakan dan berkewajiban menyerahkan hasil panennya kepada PT. SHS, manfaat yang diperoleh bagi inti PT.SHS adalah pemenuhan kebutuhan bahan baku dan tenaga kerja. Manfaat yang diperoleh petani mitra mendapatkan bantuan modal dalam panen, mendapatkan jaminan pasar, meningkatkan pendapatan petani serta mendapatkan tambahan pengetahuan, ketrampilan serta teknologi dalam budidaya.
Mekanisme pelaksananaan kemitraan antara PT. SHS dengan petani mitra ditandai dengan penandatanganan Surat Perjanjian Kerkasama yang dapat diperbaharui setiap musim. Untuk memulai kemitraan, petani mengajukan surat permohonan usulan penggarapan, PT. SHS melakukan evaluasi apakah petani layak, jika layak PT. SHS akan mengeluarkan surat pengabulan yang harus ditandatangani kepala desa. Kemudian dilakukan penandatangan kerjasama antara PT. SHS dan petani mitra.
17 Peraturan terdiri dari peraturan tertulis dan tidak tertulis. Peraturan tertulis tercantum pada Surat Perjanjian kerjasama, yaitu:
1) Pembinaan dan pengawalan teknis yaitu PT. SHS diwajibkan untuk melakukan pembinaan dan pengawalan teknis produksi tiap hari.
2) Pembayaran benih pokok dimana petani diwajibkan membeli benih pokok 25 kg per hektar per musim dari PT. SHS.
3) Pembayaran bagi hasil dimana petani mitra diwajibkan untuk membayar bagi hasil sebesar 1.200 kg per hektar per musim sebagai biaya sewa atas lahan yang digunakan.
4) Pembayaran biaya operasional yang terdiri dari roguing, sanitasi, materai dan PHT, jumlahnya sebesar Rp 130.000,00 per hektar per musim dibayarkan setelah panen.
5) Penjualan hasil panen yaitu petani diharuskan menjual hasil tani pada PT.
SHS sesuai kebutuhan PT. SHS.
6) Pengelolaan areal lahan oleh petani mitra tidak boleh dipindah tangankan tanpa prosedur dan harus sepengetahuan PT. SHS.
7) Sanksi terhadap pelanggaran aturan bagi petani adalah diberhentikan kerjasama.
Peraturan tidak tertulis yaitu kesepakatan antara PT. SHS dan petani mitra yang tidak tercantum di Surat Perjanjian Kerjasama terdiri dari :
1) Penerapan jadwal tebar, tanam dan panen semuanya ditetapkan oleh PT. SHS.
2) PT. SHS menyediakan sarana produksi selain bibit seperti pupuk dan obat- obatan dalam bentuk pinjaman.
3) Kerjasama pembasmian tikus yang dilakukan 2 kali seminggu.
4) Pembagian resiko budidaya, resiko yang diakibatkan bencana alam, iklim, cuaca dan serangan hama ditanggung bersama.
Berdasarkan matriks evaluasi kemitraan terdapat enam poin yang masih menimbulkan masalah yaitu: 1) Penjualan hasil panen; 2) Penyediaan sarana produksi; 3) Kegiatan pembasmian tikus; 4) Respon terhadap keluhan; 5) Pengangkutan hasil panen; 6) Pembayaran hasil panen. Terdapat enam atribut yang harus menjadi prioritas utama yaitu harga sarana produksi, ketersediaan dan kemudahan dalam memperoleh sarana produksi, respon inti terhadap keluhan,
18 penyediaan sarana transportasi panen, harga beli hasil panen dan dan ketepatan waktu pembayaran hasil panen. Secara umum diketahui bahwa petani merasa cukup puas, karena nilai CSI yang diperoleh adalah 62,08. Analisis pendapatan usahatani menunjukkan usahatani sudah layak untuk dijalankan karena nilai R/C petani mitra maupun non mitra lebih besar dari 1.
Putra (2011) dalam Pola Kemitraan antara Petani dengan UBH-KPWN dalam Usaha Hutan Rakyat Jati Unggul Nusantara di Desa Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis kelayakan non finansial menganalisis aspek ekonomi, teknis dan sosial, dan finansial dengan alat analisis NPV.
Pola kemitraan yang diterapkan UBH-KPWN dengan petani yaitu pola yang dilaksanakan melalui kerjasama antara investor, pemilik lahan, petani penggarap, perangkat desa dan UBH-KPWN yang bertindak sebagai lembaga fasilitator dan lembaga penjamin, dengan pembagian hasil panen secara proporsional dan menguntungkan para pihak.
UBH-KPWN memiliki hak bagi hasil panen 15 persen dari total pohon yang ditanam, kewajibannya adalah melakukan inventarisasi dan identifikasi calon lokasi dan pemilik lahan serta petani penggarap peserta budidaya JUN, merencanakan dan melaksanakan kegiatan budidaya JUN, melaksanakan pendampingan kepada petani penggarap, menarik calon investor, mengelola dana, memasarkan pohon jati siap panen, melaksanakan pembagian hasil.
Investor memiliki hak bagi hasil panen 40 persen dari total pohon yang ditanam, tidak menanggung resiko jika ada tanaman yang mati karena kelalaian.
Kewajibannya adalah menanamkan modal minimal 100 pohon.
Pemilik lahan memiliki hak bagi hasil 10 persen dari total pohon yang ditanam, tidak menanggung resiko jika ada tanaman yang mati karena kelalaian.
Kewajibannya adalah memberikan ijin lahannya untuk dikelola selama enam tahun dan turut mengawasi tanaman dari gangguan.
Petani penggarap memiliki hak bagi hasil 25 persen dari total jumlah pohon yang ditanam, mendapat bimbingan dan pelatihan. Kewajibannya adalah melaksanakan budidaya JUN, bila terjadi kematian/kehilangan keuntungan petani
19 dikurangi 0,5 persen per tanaman yang mati atau hilang. Pemerintah desa memiliki hak bagi hasil 10 persen dari total pohon yang ditanam.
Hasil penelitiannya adalah usaha JUN yang dilaksanakan oleh petani dan UBH-KPWN layak, dengan nilai NPV Rp 1.678.390.947,00 dan hubungan kemitraannya termasuk kemitraan prima madya.
Saputra (2011) dalam Analisis Kepuasan Peternak Plasma Terhadap Pola kemitraan Ayam Broiler Studi Kasus Kemitraan Dramaga Unggas Farm di Kabupaten Bogor, analisis kepuasan menggunakan importance performance analysis (IPA) dan costumer satisfaction index (CSI).
Mekanisme pelaksanaan kemitraan, perusahaan inti menyeleksi petani berdasarkan lokasi kandang, kondisi, serta kelengkapan kandang dengan kapasitas minimal 1.500 ekor, milik sendiri atau pinjaman, peternak diharuskan memiliki pengalaman dan menyerahkan jaminan berupa bukti kepemilikan tanah, BPKB atau uang tunai.
Pihak inti memiliki hak menentukan harga sapronak dan hasil panen ayam, jadwal pengiriman DOC, pakan dan panen ayam. Kewajiban inti adalah menentukan dan menyusun program pemeliharaan, memberikan bimbingan teknis, dan memberikan pelayanan kesehatan ternak.
Pihak plasma yaitu peternak memiliki hak bantuan modal berupa sapronak, mendapatkan bimbingan teknis dan pelayanan ternak. Kewajiban peternak adalah mengelola usaha ternaknya dengan baik.
Peternak tidak diperbolehkan menggunakan sapronak yang berasal dari pihak lain dan juga dilarang menjual hasil panen ke pihak lain, sehingga keuntungan yang diperoleh peternak adalah selisih antara penjualan ayam dengan pengeluaran sapronak dari perusahaan inti. Harga jual ayam adalah harga kontrak tetap yaitu Rp 15.000,00/kg.
Hasil penelitian menunjukkan peternak merasa puas dengan pola kemitraan Dramaga Unggas Farm.
2.3.2. Analisis Kelayakan Usaha
Setiawan (2010) dalam Analisis Kelayakan Finansial Peternak Ayam Broiler Pola Kemitraan Inti-Plasma Cikahuripan PS, Kabupaten Ciamis, menggunakan dua metode analisis yaitu pendapatan dan R/C ratio. Hasil dari
20 penelitiannya adalah pola kemitraan Cikahuripan sudah cukup baik, namun tidak tertulis sehingga kekuatan hukumnya lemah. Karakteristik peternak terbanyak berumur 25-45 tahun (74,07 persen), dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah lulusan SD (44,44 persen), pengalaman beternak selama 5-10 tahun (74,07 persen) dan usaha peternakan dijalankan sebagai usaha sampingan (77,78 persen).
Kemitraan yang dijalankan berhasil, karena hasil analisis pendapatan menunjukkan bahwa keuntungan peternak yang berproduksi pada bulan September-Oktober Rp 3.111,92/ekor atau Rp 1.618,34/kg.
Sugiarti (2008) dalam Analisis Kelayakan Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Abdul Djawad Farm, di Desa Banu Resmi, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor menggunakan metode analisis kelayakan NPV, IRR, BCR, PBP, dan Analisis sensitivitas. Hasil penelitiannya adalah usaha peternakan Abdul Djawad Farm tahun 2007-2017 bahwa dengan menggunakan modal sendiri (tingkat suku bunga 6,25 persen) maka didapat NPV sebesar Rp 931.398.142,05, BCR 1,04, dan payback period 3 tahun 6 bulan, serta IRR 29,27 persen. Jika menggunakan modal pinjaman (tingkat suku bunga 14,5 persen) maka didapat NPV sebesar Rp 438.192.975,74 dan BCR 1,03 dan payback period 4 tahun 4 bulan, serta IRR sebesar 29,27 persen. Berdasarkan kriteria kelayakan, dimana NPV bernilai positif, BCR lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka usaha peternakan Abdul Djawad Farm layak dijalankan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan Abdul Djawad Farm rentan terhadap peningkatan harga DOC cateris paribus lebih dari 19,50 persen (modal sendiri) dan lebih dari 13,04 persen (modal pinjaman), peningkatan harga pakan cateris paribus lebih dari 7,00 persen (modal sendiri) dan lebih dari 4,68 persen (modal pinjaman) serta penurunan harga jual ayam broiler cateris paribus lebih dari 4,34 persen (modal sendiri) dan lebih dari 2,90 persen (modal pinjaman) akan menyebabkan kerugian.
Sulaiman (2010) dalam Analisis Kelayakan Pengusaha Ikan Kerapu Macan di Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta, menggunakan metode NPV, IRR, Net B/C, PBP dan Analisis Sensitivitas pada 3 skenario penelitian dengan tingkat suku bunga 6,5 persen dan umur proyek 5 tahun. Skenario 1 (pendederan) adalah benih ikan kerapu macan yang berukuran 13-15 cm dari benih yang
21 berukuran 3-5 cm dengan harga jual Rp 13.300,00/ekor, NPV sebesar Rp 1.395.344,00, IRR 94 persen, Net B/C 1,06, dan PBP 5 tahun, berdasarkan kriteria kelayakan dimana NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, Net B/C lebih dari satu, usaha tersebut layak secara finansial dan non-finansial. Skenario 2 (pembesaran) produk yang dihasilkan adalah ikan kerapu macan ukuran 0,5 kg (ukuran konsumsi) dari benih yang berukuran 3-5 cm dengan harga jual Rp 110.000,00/kg berdasarkan harga yang berlaku pada saat penelitian, NPV sebesar Rp 11.755.487,00, IRR 54 persen, Net B/C 1,58 dan PBP 3,17, berdasarkan kriteria kelayakan dimana NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, Net B/C lebih dari satu usaha tersebut layak secara finansial dan non-finansial. Skenario 3 adalah pendederan dan pembesaran ikan kerapu macan, NPV sebesar Rp 17.012.251,00, IRR 72 persen, Net B/C 2,02 dan PBP 2,48, berdasarkan kriteria kelayakan dimana NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, usaha tersebut layak secara finansial dan non-finansial. Hasil analisis sensitivitas skenario 1 rentan terhadap penurunan harga jual di bawah 21,08 persen, kenaikan harga bibit di atas 32,44 persen dan penurunan SR di bawah 31,61 persen. Hasil analisis sensitivitas skenario 2 rentan terhadap penurunan harga jual di bawah 3,43 persen, kenaikan harga bibit di atas 50 persen, dan penurunan SR di bawah 3,5 persen. Hasil analisis sensitivitas skenario 3 rentan terhadap penurunan harga jual di bawah 4,96 persen, kenaikan harga bibit di atas 38,28 persen dan penurunan SR 4,09 persen.
Zulfah (2010) dalam Analisis Kelayakan Usaha Pupuk Organik Kelompok Tani Bhineka I, Desa Blendung, Kabupaten Subang menggunakan metode NPV, IRR, Net B/C, PBP dan Analisis Sensitivitas pada 2 skenario umur proyek 10 tahun. Skenario 1 tanpa penambahan kapasitas produksi 25 ton/bulan, modal menggunakan modal sendiri ditambah bantuan pemerintah Rp 32.000.000,00, suku bunga deposito 7 persen, NPV Rp 156.197.316,00, IRR 65 persen, PBP 2,7, Berdasarkan kriteria kelayakan dimana NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku usaha tersebut layak secara finansial dan non- finansial. Skenario 2 dengan kondisi usaha peningkatan kapasitas produksi menjadi dua kali lipat dari 25 ton menjadi 50 ton/bulan dan penambahan luas
22 bangunan pengomposan dan alat produksi, modal pinjaman dengan suku bunga kredit 16 persen, NPV Rp 164.690.803,00, Net B/C 4,09, IRR 68 persen PBP 3,18, berdasarkan kriteria kelayakan dimana NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku usaha tersebut layak secara finansial dan non-finansial. Hasil analisis sensitivitas skenario 1 rentan terhadap kenaikan harga biaya bahan baku/tahun di atas 4,41 persen, kenaikan upah kerja/tahun di atas 19,2 persen dan penurunan harga jual di bawah 14,4 persen. Hasil analisis sensitivitas skenario 2 rentan terhadap kenaikan harga biaya bahan baku/tahun di atas 4,16 persen, kenaikan upah kerja/tahun di atas 17,85 persen dan penurunan harga jual di bawah 11,25 persen.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah analisis kelayakan dilakukan pada usaha peternakan ayam broiler yang melakukan kerjasama kemitraan pola inti plasma yang memberlakukan harga tetap kontrak. Penelitian dilakukan pada usaha yang sedang berjalan untuk memproyeksi kelayakan usaha lima tahun ke depan sejak tahun 2009 untuk mengetahui apakah kerjasama kemitraan yang dilakukan layak untuk dilanjutkan. Laba rugi dan cashflow diproyeksikan menggunakan harga DOC dan pakan yang meningkat pada tiap tahunnya masing-masing 4,3 persen dan 2 persen, persentase kenaikan berdasarkan data keuangan usaha pada tahun 2009. Analisis sensitivitas switching value menggunakan variabel kenaikan harga DOC dan pakan dan penurunan harga jual ayam.
23
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek
Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumber daya untuk mendapatkan benefit. Proyek juga berarti kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumberdaya-sumberdaya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Rangkaian dasar dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek adalah siklus proyek yang terdiri dari identifikasi, persiapan, dan analisis penilaian, pelaksanaan dan evaluasi (Gittingger, 1986). Evaluasi proyek sangat penting, evaluasi ini dapat dilakukan beberapa kali selama pelaksanaan proyek.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil. Studi kelayakan proyek merupakan suatu analisis yang dapat menunjukkan apakah suatu proyek pembangunan yang direncanakan atau yang sedang berjalan layak untuk dilaksanakan atau dipertahankan kelangsungan hidupnya. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh bisnis atau proyek pembangunan tersebut.
Tujuan analisis proyek adalah untuk mengetahui tingkat keuntungan yang dapat dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, menghindari pemborosan sumber-sumber yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan, mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada sehingga kita dapat memilih alternatif proyek yang paling menguntungkan, dan menentukan prioritas investasi. Untuk mengetahui tingkat keuntungan suatu calon proyek perlu dihitung benefit dan biaya yang diperlukan sepanjang umur proyek (Gray, et. al,. 1999).
3.1.2. Analisis Biaya dan Manfaat
Menurut Gittingger (1986), tujuan analisis dalam suatu proyek harus disertai dengan definisi mengenai biaya dan manfaat. Biaya adalah suatu yang mengurangi tujuan. Biaya yang umumnya dimasukkan dalam analisis proyek